Responsive Ad Slot

Pesona Ambulu

Tidak ada komentar

Sabtu, 31 Januari 2015

Setaranews.com- Amis itu bau, dan sawah itu kotor. Mungkin, begitulah alam pikiran yang tertanam pada masyarakat modern. Bersamaan dengan itu berdalil bahwa melakukan semua pembangunan harus seperti kota-kota besar, yaitu membangun sistem transportasi dan produksi dengan beton dan baja besar. Tempat bermukim dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi, dan jalan raya dihiasa deretan reklame perusahaan multinasional dan internasional dan berjejernya gemerlap lampu. Lalu dengan arogan, penguni kebudayaan modern itu memvonis bahwa, inilah hasil dari kebudayaan tertinggi umat manusia. Tesis inilah yang kemudian hendak diperiksa melalui suasana di Ambulu sesungguhnya.

Tulisan ini adalah pengalaman penulis ketika berkunjung ke Ambulu. Dimana sebagian masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Nelayan yang hanya menggunakan perahu kayu, dengan mesin kecil yang mengandalkan bahan bakar solar, dan  jala dianyam dengan tangannya sendiri. Sungguh terlihat mandiri dan sederhana.

Dipinggiran laut terdapat tanaman mangrove, dengan pandangan laut yang tak terbatas. Ada ratusan burung bangau terbang mencium air laut, lalu singgah di dataran pantai. Terkadang juga hinggap dipucuk batang pohon, seperti bercakap dengan daun mangrove. Tak hanya keindahan, tapi Ambulu juga menyimpan kekayaan ekosistem.

Dari sudut lain, ada hamparan tambak ikan dan garam yang luas,  dengan beberapa bangunan gubuk kayu dan rentetan kincir angin. Terlihat juga sekumpulan anak-anak bermain sepak bola di pinggiran tambak. Berlari kesana-kemari dengan telanjang dada dan tertawa lepas. Sangat ceria dan bebas.

Disore hari senja pun tiba , nampak memerah. Cahayanya memantul melalui air laut, dengan beratap birunya langit. Dibarengi suara gemuruh dari rentetan kincir angin yang tertiup angin.  Demikianlah  suasana Ambulu  yang  masyarkatnya hidup menyatu bersama alam.

Tapi, lihatlah suasana kota, sungguh kontras. Macetnya kendaran pagi dan sore hari. Barisan manusia berseragam menjalankan mesin produksi, manusia seperti sama, seragam, hanya nomor urut yang membedakannya .Waktu diisi hanya untuk berhadapan dengan mesin, pekerjaan dan rutinitas yang sama, manusia bekerja seperti mesin. Bosan, tak ada interaksi sosial, apa lagi dengan alam, yang ada melulu transaksi demi produksi.

Belum lagi deretan tembok yang berlapis baja dan kaca,  membuat suasana menjadi pengap. Jumlah  kendaran yang terus meningkat membuat kualitas udara memburuk. Ruang publik habis disulap menjadi mall dan deretan hotel. Dan lalu-lintas manusia seperti robot, yang keseharinya menjalani sistem yang dibuat. Jam berangkat dan pulang beraktifitas sudah ditentukan, bahkan tidur sekalipun. Tak lagi terihat keunikan dan kelucuan manusia, otentitas  manusia direduksi oleh sistem. Semua nampak seragam dan sama.

Apa iya begini pembangunan kota, yang kemajuan masyarakanyat dihitung hanya melalui statistik ekonomi. Yaitu, seberapa besar jumlah produksi, bagaimana memperbesar  akumulasi modal, dan seberapa besar surplusnya untuk pemodal. Seolah menegaskan bahwa uang adalah tujuan, sah saja walau kita mengeksplotasi manusia. Betul, inikah arah pembangunan kita?

Karena ada rencana, Ambulu akan dibangun daerah perindustrian. Dan berita ini membua kegilisahan bagi masyarakat Ambulu. Sosialisasi perencanan itu sudah dilakukan setahun yang lalu. Tersiar juga kabar, bahwa  pembebasaan lahan itu mengakibatkan masyarakat Ambulu terpecah. Ada  yang setuju lahannya dijual dan ada yang tidak, terjadi pro dan kontra.

Tapi, menurut salah satu warga sekitar, sosialisasi pembangunan industri sudah sampai dengan janji-janji. Dan salah satu janjinnya adalah,  masyarakat sekitar akan diberikan pekerjaan hingga anak dan cucu. Resah itu semakin membara, ketika orang asing datang ke Ambulu untuk memberi informasi bahwa pembebasaan lahan akan segera dieksekusi. oleh karenanya, bagi yang memiliki lahan agar segera mempersiapkan surat-suratnya. Karena harga permeter tanah sudah ditentukan, ini jelas membuat masyarakat panik.

Semestinya, varibel rencana  pembangunan tak cukup hanya dilihat dari segi potensi ekonomi. Aspek antropologis, sosilogis, dan kebudayaan sekitar perlu menjadi tinjuan utama. Dan presfektif  merawat kelestarian- kebudayaan sekitar adalah prosedur pertama yang harus dilewati. Mengapa,  karena dalam sejarah  eksistensi kebudayaan dan kelestarian setempat tak bisa disuntik dengan statistik ekonomi. Malah sebaliknya, dalam sejarah peradaban  manusia pembangunan yang berpondasi ekonomi itu rapuh, cepat  runtuh dan membawa bencana. Presfektif itulah yang mesti membuat pemangku kebijakan berpikir ulang soal rencana pembangunan, yang kini sudah menuai protes maha dasyat dari masyrakat sekitar.

Oleh sebab itu harus ada presfektif baru untuk melakukan pembangunan di era moderen. Karena sebetunya pembangunan di era moderen tak ditentukan oleh  kumpulan besi-besi yang nampak seperti rumah besar (pabrik) dan juga hasil produksinya. Dengan barisan manusia berseragam bekerja dengan rutinitas, setiap pagi berangkat dan sore hari pulang ke rumah. Dan hanya memiliki libur dihari minggu, jika ingin pengasilan tambahan disediakan lembur dihari libur.

Jika konsep pembangunan demikian,  manusia hidup seperti mesin, dan tercerabut dari kehidupan sosial dan alamnya. Waktu terisi hanya untuk berhadapan dengan mesin, bukan dengan manusia. Tak  lagi mengenal alam sebagai bagian dari hidupnya. Alam dilihat hanya entitas produsen konsumsi, bukan sebagai relasi.  Dan yang terjadi, manusia menjadi terasing dari ruang sosial dan alamnya.

Pembangunan mestinya berefek pada kebudayaan yang beradab. Manusia mampu hidup bersama dengan alamnya. Yang artinya, membiarkan masyarakat Ambulu hidup bersama kebudayaan otentikanya. Mampu hidup dan menghidupi alam yang memberikan kehidupan bagi  anak-cucunya nanti. Karena dengan merawat ekosistem  lingkungan sama halnya dengan memperpanjang masa peradaban manusia. Manusia ada karena lingkungan, yaitu alam.

Dengan harapan kelak, masih melihat burung berterbangan dan bukan asep pabrik. Masih merasakan jernihnya air laut, yang tak tercemari limbah pabrik. Masih ada tumbuhnya pohon mangruv, bukan beton-beton pabrik penyanggah pabrik.  Masih  memelihara tambak ikan dan garam, bukan gelondongan pipa dan besi karat. Karena kita spesies manusia masih perlu hidup dengan alam yang sesungguhnya. Untuk itu, jangan rusak ketentraman, kekayaan dan keindahan alam Ambulu.

 

Oleh : Kris Herwandi

Tak Kunjung Dapat Penjelasan, Gemsos Datangi Kepolisian

Tidak ada komentar

Kamis, 29 Januari 2015

Cirebon, Setaranews.com- Kasus Mobil dinas (mobdin) yang hingga kini masih belum terselesaikan tidak membuat para mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) Cirebon berhenti untuk mengkaji permasalahan tersebut.

Pagi tadi Gemsos mendatang kantor polisi kota cirebon untuk meminta penjelasan proses hukum dugaan penyalahgunaan wewenang mengenai mobdin, karena sebelumnya gemsos sudah memberikan laporan baik lisan maupun tertulis.

Unjuk rasa dilakukan karena mereka merasa instansi pemerintah berjalan lamban, baik keterangan kejaksaan maupun dari pihak kepolisisan setelah lebih dari tiga bulan mereka diberikan laporan.

"Seharusnya ada tindak lanjut, tapi kami sama sekali tidak mendapat kejelasan informasi mengenai proggres penyelidikan sampai dimana "seru salah satu anggota Gemsos dalam orasinya.

Dari pihak kepolisian sendiri menanggapi unjuk rasa ini setelah para mahasiswa berorasi. Pihak kepolisian melalui Kasat Reskrim Polres Cirebon Kota AKP Hidayatullah menjelaskan bahwa tahap penyelidikan masih berjalan dan sudah memeriksa lima orang, namun masih belum memiliki alat bukti yang kuat.

"Sejauh ini masih dalam tahap penyelidikan dan sudah lima saksi kami panggil, dan kemungkinan kami akan kembali memriksa pak walikota namun setelah beliau sehat" Tutur Hidayat.

Setelah berdiskusi dengan para mahasiswa akhirnya kedua pihak pun sepakat agar bersama- sama berkomitmen mengawal kasus mobdin ini hingga menemui titik terang.

"

 

Tanpa Menjadi Negeri, Unswagati Tetap Bisa Menjadi Universitas Sehat

Tidak ada komentar

Minggu, 25 Januari 2015

UNSWAGATI, SETARANEWS.COM – Dalam orasi ilmiahnya Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso membahas mengenai standarisasi dalam sebuah perguruan tinggi. Standar kualifikasi nasional serta UU No.12/2012 oleh Dikti merupakan sebuah acuan dalam standar perguruan tinggi yang digunakan. Perguruan tinggi harus memiliki statuta, apabila ingin menambah fakultas atau program studi sebaiknya ada distatuta. Statuta PTS ditetapkan oleh Badan Penyelenggara, dan harus memenuhi standar sehingga mendapat pengakuan. Pokok – pokok yang harus dipenuhi yakni sebuah keharmonisan dalam universitas misalnya tidak ada rektor tandingan (lebih dari satu) dan tidak ada konflik internal, modal insani yang memadadai, infrastruktur memadai, program berkualitas serta terkelola dalam akuntabel.

Akreditasi juga termasuk elemen penting, karena apabila universitas tidak memiliki akreditas yang jelas maka tidak mempunyai hak mengeluarkan ijazah. Untuk mengecek nama mahasiswa dapat diakses di PDPT Dikti.

“Bisa juga dari APBD, jadi Pak Wali Kota bantu Unswagati boleh, Undang-undang yang berlaku bukan saya, Bila ingin membuat perguruan tinggi harus janji akan bermutu dengan standar minimum”. Ujar Djoko Santoso pada saat orasi ilmiahnya pada (24/01) di Hotel Apita.

Selain yang disebutkan diatas kriteria sebuah PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang sehat terdiri atas tidak melakukan pembelajaran diluar domisili, tidak ada yayasan tandingan, memeniuhi statuta, membuat PTS yang harmonis, memahami standar perguruan tinggi khususnya sumber daya, mencari keunggulan PTS dibanding dengan lainnya, dan menjadikan universitas sebagai tempat yang nyaman.

 

Ketua APTISI : “Jika Unswagati Tidak Negeri, Itu Takdir”

Tidak ada komentar
UNSWAGATI, SETARANEWS.COM – Membahas persoalan proses Unswagati menjadi PTN, dalam orasi ilmiah dengan mengusung tema “Kesiapan Perguruan Tinggi Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Prospek Penegerian Unswagati” Dr. Ir. H. Budi Djatmiko, M.Sc. selaku Ketua APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) Jabar – Banten juga menyampaikan orasinya tentang usaha serta ikhtiar insan Unswagati dalam pemenuhan syarat PTN.

Ketua APTISI menilai Unswagati sudah berusaha merubah statusnya menjadi PTN walaupun sampai kini masih tertunda . “Ikhtiar sekuat tenaga bila tidak jadi negeri, itu takdir”. Ujar Budi Djatmiko dalam pidato sambutannya pada (24/01).

Perluasan lahan yang belum terpenuhi harus mencapai 30 hektar masih menjadi kendala, menjadi kesedihan bila Unswagati tidak jadi PTN. Namun kembali lagi beliau mengatakan itu semua merupakan takdir  yang tak bisa ditolak.

“Menjadi orang pintar tapi tidak bermanfaat itu percuma, sama seperti negeri atau tidak yang penting bermanfaat”. Tambah Budi Djatmiko.

Usaha penegerian universitas sudah maksimal namun kebijakan pemerintah baru mengatakan tidak ada proses penegerian itu juga merupakan sebuah takdir.

“Bila usaha penegerian sudah mati-matian namun Jokowi bilang tidak ada penegerian itu takdir”. Tandasnya.

 

Unswagati Negeri atau Tidak, Tantangan MEA Harus Dihadapi

Tidak ada komentar
UNSWAGATI, SETARANEWS.COM -  Masih dalam suasana Orasi Ilmiah yang diadakan Unswagati Cirebon pada (24/01) Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso selaku Ketua Dewan Pertimbangan Badan Asosiasi Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta, juga sebagai pembicara menjelaskan tentang apa keterkaitan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dengan prospek penegerian Unswagati.

“Temanya menarik tentang kesiapan menghadapi MEA, tapi kok ujungnya penegerian Unswagati, saya sendiri juga bingung ini gimana nyambungnya”. Ujar Djoko Santoso pun tertawa saat memulai orasi ilmiahnya.

Direncanakan awal oktober 2014 lalu Unswagati sudah menjadi negeri namun nyatanya tidak. Kerjasama global ekonomi ASEAN bermula pada tahun 2010, dan tahun 2015 inilah MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dimulai. Standar nasional perguruan tinggi dalam MEA harus memenuhi SOP (Standar Operasional Prosedur) yakni profesional dan tenaga terampil tanpa mempedulikan PTN atau PTS. Peta jalan perguruan tinggi bermula pada harmonisasi pada tahun 2008/2009 sampai perluasan penyiapan dan pelaksanaan bidang profesi sampai 2014. Bidang profesi yang berdasarkan MRA seperti insinyur, arsitek, akuntan, survei pertahanan, dokter, dokter gigi, ners dan pariwisata. MEA dalam penerapannya semua yang terkait dalam keprofesian harus berstandar.

Standar nasional Dikti dimasing-masing negara sebagai acuan dalam membuat standar Perguruan Tinggi yang digunakan. Serta berlandaskan pada UU No. 12/2012 oleh Dikti yaitu otonomi, perluasan dan jaminan akses, juga perkembangan Tridharma perguruan tinggi secara menyeluruh. Selain berkompetisi di Indonesia Unswagati juga harus bekerjasama dengan perguruan tinggi dinegara lain.

“Bagaimana bila nanti ada dari Myanmar datang ke Indonesia untuk melamar kerja, dan sudah memenuhi standar mau apa kita? Nah ini adalah tantangan kita. Tidak melihat lagi PTN atau PTS. Kita harus meningkatkan mutu”. Tambah Djoko Santoso.

Indonesia sudah terlebih dahulu memiliki kualifikasi nasional dibanding negara Malaysia, untuk penjaminan mutu internal dan eksternal. Perguruan tinggi dituntut membentuk mahasiwa mempunyai pemikiran baru, inovasi baru, budaya baru, ilmu pengetahuan baru sehingga terciptalah pakar bidang tertentu.

”Bila ada yang kuliah di Unswagati tidak ingin menjadi pakar tertentu, Pak Rektor keluarkan saja. Cuma dapat selembar kertas, mending Bapak kasihnya sekarang saja tapi bukan pakai tandatangan tapi pakai cap jempol”. Cetus Djoko Santoso dalam orasinya.

Kesimpulan pada acara tersebut menyebutkan bahwa ikhtiar Unswagati Cirebon dalam memenuhi syarat PTN sudah maksimal, namun PTN atau PTS yang penting kita bisa berkarya. Orasi ilmiah pun selesai pada pukul 13.00 WIB di Hotel Apita Tower Lantai 6.

Unswagati Siapkan Diri Menghadapi MEA 2015

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com – Memasuki tahun 2015 Unswagati (Universitas Swadaya Gunung Jati) tengah siapkan upaya untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan dimulai pada tahun ini. Melalui misi Unswagati yang menjadikan Unswagati sebagai Perguruan tinggi yang bereputasi nasional dan berjejaring global, maka akan mampu untuk menghadapi persaingan global terutama dalam sektor pendidikan.

“Misi ini diharapkan dapat mengakomodasi kebijakan pemerintah Jawa Barat melalui bapak gubernur yang meminta Unswagati untuk alih status menjadi PTN dan dengan mulai diberlakukannnya forum masyarakat ekonomi ASEAN” ujar Rektor Unswagati dalam sambutan acara orasi ilmiah yang diadakan di Hotel Apita kemarin (24/1). Upaya yang dilakukan untuk menghadapi MEA kali ini seperti peningkatan komponen pendidikan dan pembelajaran, melakukan perencanaan  akreditasi institusi Unswagati, menjalin kerjasama dengan universitas ternama baik di dalam negeri maupun di luar negeri, meningkatkan komponen sistem perkuliahan, dan meningkatkan rasio tenaga pengajar yang berkompeten dalam bidangnya.

“Kompetisi pada peguruan tinggi tidak lagi hanya dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia namun sudah meliputi perguruan tinggi sekurang-kurangnya di wilayah regional ASEAN, maka dari itu kami menyadari bahwa Unswagati perlu melakukan banyak upaya agar bisa tetap eksis” tutur Rochanda Wiradinata selaku Rektor Unswagati Cirebon.

MEA menjadi cita-cita bagi negara yang bergabung dalam organisasi regional ASEAN guna membentuk masyarakat yang damai, harmonis, makmur, sejahtera dan terintegrasi di  wilayah ASEAN. Konsep dari Masyarakat Economic Community dalam menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal diharapkan mampu untuk mengurangi kemiskinan yang terjadi diantara negara-negara anggotanya  melalui kerjasama antar negara.

Proses Penegerian Unswagati Temui Kendala Baru

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com – Proses penegerian Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) kini diperkirakan akan semakin lama. Kendala dalam penegerian ini dari awal yaitu kurangnya lahan 9 hektar, tetapi saat ini muncul kendala baru lagi yaitu dengan adanya pergantian pimpinan negara. Pergantian presiden ini maka secara pasti akan berganti pula susunan kabinetnya. “Dengan adanya pergantian pimpinan negeri, apakah kebijakan terkait penegerian Unswagati masih tetap akan dilanjutkan atau tidak” ujar Rochanda Wiradinata dalam sambutannya di Hotel Apita dalam rangka orasi ilmiah yang mengusung tema ‘Kesiapan Perguran Tinggi Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Prospek Penegerian Unswagati’.

Dimulai pada tanggal 9 agustus 2009 pemerintah Jawa Barat meminta kepada Rektor Unswagati yang saat itu masih dipegang oleh  Djakaria Machmud agar Unswagati beralih status menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), supaya mampu mengurangi beban kota Bandung. Alih status inilah yang akhirnya menjadi keputusan final bagi yayasan beserta civitas akademi Unswagati.

“Dari sudut pandang Unswagati sendiri bahwa ketidakpastian proses penegerian ini akan menjadi penghambat Unswagati  sendiri terutama dalam upaya mengembangkan lembaga, baik akademik maupun non akademik lainnya, tentunya untuk menambah program studi baik di program sarjana maupun di magister” tutur Rektor Unswagati saat memberikan sambutannya kemarin (24/1)

Penegerian Unswagati Terhambat, Ajukan Hibah Jadi Alternatif

Tidak ada komentar
UNSWAGATI, SETARANEWS.COM – Pada orasi ilmiah bertema “Kesiapan Perguruan Tinggi Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Prospek Penegerian Unswagati” di Hotel Apita Tower, Rektor Unswagati membahas mengenai prospek Unswagati mendatang. Beliau menjelaskan proses perkembangan terakhir Unswagati dengan Dirjen PTN (Perguruan Tinggi Negeri).

Sejak tahun 2009 Unswagati mulai berusaha melakukan persyaratan menuju PTN, pada tanggal 5 Januari 2013 proses PTN pun masih berlanjut. Kemudian pada 10-14 Juni 2013 mengadakan auditorium, Dirjen Dikti telah mendatangi Unswagati Cirebon sebagai entri status PTN agar terwujud, tentunya melihat bagaimana kualitas serta prasarana kampus ini.

Terkait masalah penggandaan lahan harus mencapai 30 hektar sebagai syarat sebuah PTN, sementara Unswagati masih terhambat sembilan hektar lagi. Sebagai alternatif Djoko Santoso selaku Dirjen Dikti pada saat itu mengusulkan agar Unswagati mengajukan hibah ke pemerintah kabupaten Kota Cirebon. Tim penegerian pun telah menemui Bupati dan DPRD Kota Cirebon. Namun surat rekomendasi tersebut menjadi dilema.

“Rekomendasi ke DPRD dan Bupati tidak jelas kelanjutannya, suratnya juga ngga puguh”. Ujar Rektor Unswagati atau akrab disapa Prof. Johan ini pada pidato sambutannya.

Selain terhambat kurangnya lahan serta surat rekomendasi, ketidakpastian penegerian Unswagati juga terkait kebijakan pemerintah pusat yang baru pada kabinet kerja Jokowi apakah proses PTN dilanjutkan atau tidak.

“Target prospek penegerian tentu akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah provinsi, konsistensi penggandaan lahan, kebijakan pemerintah pusat dalam hal ini kementerian ristek dan Dikti”. Tambah Rektor Unswagati saat ditemui SetaraNews pada (24/01).

Sementara itu saat Unswagati akan mengajukan program studi baru yaitu PGSD dan Magister Manajemen, Dirjen Dikti juga menundanya. “Jawaban dari Dirjen Dikti nanti kalau proses Unswagati jadi negeri”. Tutupnya.

 

Lahan 9 Hektar Gagalkan Penegerian Unswagati

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com – Pemerintah Kabupaten Cirebon gagal melakukan sertifikasi lahan sembilan hektar yang akan digunakan oleh Unswagati (Universitas Swadaya Gunung Jati) sebagai pemenuhan syarat untuk menuju PTN (Perguruan Tinggi Negeri).  Unswagati meminta program hibah kepada Pemkab Cirebon atas arahan dari Ir. Djoko Santoso selaku Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) saat bertemu pada awal bulan Maret 2014 lalu. Dari 11 persyaratan yang diajukan untuk menjadi PTN hanya satu yang belum terpenuhi yaitu kekurangan sembilan hektar tanah, yang sejatinya persoalan tanah ini merupakan kewenangan Pemprov dan Pemkot.

Atas saran dari Dirjen Dikti, maka Unswagati menemui Bupati, Wakil Bupati, dan ketua DPRD Kabupaten Cirebon. Ketua DPRD memberikan surat rekomendasi tentang persetujuan hibah kepada Bupati dengan tembusannya kepada Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).  Dengan begitu maka setidaknya proses sertifikasi harus selesai sebelum bulan Oktober tahun lalu.

“Dalam perkembangannya, kami terus menerus mempertanyakan bagaimana proses sertifikasi itu dilakukan dan pada akhirnya Pemkab Cirebon tidak berhasil mensertifikasikan tanah itu, bahkan surat rekomendasi dari DPRD itu pun tidak jelas kelanjutannya sampai sekarang” tutur Rochanda Wiradinata dalam sambutannya kemarin (24/1) di Hotel Apita dalam rangka orasi ilmiah, yang mengusung tema ‘Kesiapan Perguran Tinggi Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Prospek Penegerian Unswagati’.

Rektor : "Unswagati Yang Penting Sebagai Perguruan Tinggi Bermutu"

Tidak ada komentar
UNSWAGATI, SETARANEWS.COM – Masih dalam rangka memperingati Dies Natalies (Ulang Tahun) ke-54, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon usai menyelenggarakan acara Orasi Ilmiah bertema “Kesiapan Perguruan Tinggi Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Prospek Penegerian Unswagati”. Bertempat di Hotel Apita Tower Lantai 6. Acara tersebut dimulai pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB. Dengan mendatangkan Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso selaku Ketua Dewan Pertimbangan Badan Asosiasi Penyelenggara PTS sebagai pembicara/narasumber. Selain itu dalam kegiatan orasi ilmiah pagi tadi dihadiri oleh Ketua APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) Jabar – Banten, Wali Kota Cirebon (Perwakilan), DPRD Kota Cirebon, Ketua Yayasan Unswagati, serta mahasiswa Unswagati. Orasi Ilmiah ini dibagi menjadi dua sesi acara yakni Diskusi Monolog dan Diskusi Panel. Dengan Dr. Ir. Alfandi M.Si sebagai Ketua Penyelenggara.

Dalam orasi ilmiah membahas bagaimana persiapan Unswagati Cirebon sebagai Universitas yang digadang-gadang akan menjadi PTN dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Konsep dari ASEAN Komoditi sendiri yaitu Free and Flow diharap dapat mengurangi kemiskinan. Akibat dari adanya pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN sangat berpengaruh bagi sektor pendidikan teruatama pada bidang SDM (Sumebr Daya Manusia).

“Standar nasional dan internasional menjadi alat seleksi menentukan eksistensi Unswagati. Menjadikan Unswagati sebagai PTN bereputasi nasional, berkontribusi serta bermartabat.” Ujar Rektor Unswagati Cirebon dalam pidato sambutannya.

Kompetisi perguruan tinggi pun tidak hanya di Indonesia. Untuk itu Unswagati dituntut agar terus meningkatkan kualitas dari berbagai aspek, termasuk juga berusaha memenuhi tuntutan rasio melalui Dirjen Dikti. Jumlah mahasiswa aktif saat ini sekitar 14.200 mahasiswa.

Orasi ilmiah tadi juga membahas persoalan ketidakpastian Unswagati Cirebon akan menjadi PTN terkait kurangnya lahan, kebijakan pemerintah pusat serta kementerian. “Unswagati tidak harus memikirkan negeri atau swasta yang penting sebagai perguruan tinggi bermutu”. Tambah Rektor Unswagati saat ditemui SetaraNews pada (24/01) tadi.

Setelah diselenggarakannya acara tersebut diharapkan mahasiswa Unswagati Cirebon dapat membuka wawasan serta bersaing didunia global. “Jelas, mahasiswa itu harus membuka wawasan fenomena cakrawala berpikir tidak hanya di Unswagati tetapi juga menghadapi tantangan global”. Tandasnya.

 

Adakan Orasi Ilmiah, Namun MEA atau PTN?

Tidak ada komentar
Cirebon, SetaraNews.com – Dalam rangkaian acara Dies natalis ke-54 Universitas Swadaya Gunung jati (Unswagati) Cirebon, mengadakan Orasi Ilmiah dengan tema “Kesiapan Perguruan Tinggi memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Prospek Penegerian Unswagati” dengan pembicara Prof.Dr.Ir.Djoko Santosa M,sc selaku Ketua Dewan Pertimbangan Badan Asosiasi Penyelenggaraan Perguruan Tinggi swasta.
Acara yang dimulai pukul 09:00 hingga selesai dan bertempat di hotel Apita. Serta dihadiri oleh koordinator aptisi, beberapa petinggi unswagati, para dosen dan para mahasiswa dari berbagai fakultas.

Dari sambutan yang disampaikan hanya sedikit yang menyinggung tentang MEA, begitu pun dengan pembicara.
“Hanya kejelasan masalah prospek penegerian unswagati, tetapi tentang tema itu sendiri hanya sedikit dan pemateri lebih membahas PTN” Ujar salah satu Mahasiswa Fakultas Pertanian yang hadir dalam acara tersebut

Sangat disayangkan karena pembahasan lebih ke arah proses penegerian unswagati dibandingkan dengan tema.
Saat diadakan Sesi Diskusi Panel oleh pihak panitia, serta dimoderatori oleh Dekan Fakultas Ekonomi, Kebanyakan dari peserta bertanya tentang status PTN.

Bisa tidak proses penegerian cuti dulu, dan lebih fokus ke penambahan prodi (program studi) serta tentang mutasi dosen, salah satu contoh pertanyaan dari peserta orasi ilmiah yang juga Dekan Teknik Sipil.

Meski begitu acara orasi ilmiah berjalan sesuai rencana dan lancar, acara ini diakhiri dengan makan siang bersama.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews