Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Suara Rakyat

berita

UGJ

UGJ

Cirebon

cirebon

Sastra

sastra

Opini

opini

Infografis

VIDEO

Video

News By Picture

mahasiswa

Teknologi

Lomba Hadroh 2019 Memeriahkan Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan Cirebon

Tidak ada komentar
Penampilan Hadroh oleh Grup Laskar El-Akhdan. Foto : Anisa Puse

Cirebon, Setaranews.com - Lomba Hadroh yang digelar oleh Keraton Kasepuhan Cirebon pada 5-9 November 2019 adalah salah satu acara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H. Dimana ada 16 grup hadroh yang lolos seleksi dan finalnya dilaksanakan malam tadi (9/11) di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon. 

Ratu Alexandra W. sebagai yang mewakili Sultan Kasepuhan sangat mengapresiasi bakat dan kreativitas para peserta Lomba Hadroh 2019, ia menuturkan bahwa lomba ini menjadi salah satu rangkaian acara Festival Tajug 2019 yang akan dibuka pada 22 november nanti. "Saya berharap para generasi muda mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti mengembangkan minat dan bakatnya" tutup beliau. 

Peserta Lomba Hadroh berasal dari berbagai wilayah di Cirebon Indramayu Majalengka Kuningan (Ciayumajakuning) dan dari berbagai kalangan dari pelajar hingga remaja masjid. "Kami ikut lomba hadroh ini untuk berpartisipasi dan mensyiarkan shalawat, dan berharap keraton kasepuhan bisa menggelar acara yang lebih meriah lagi" tutur Diki Lesmana sebagain salah satu perserta lomba asal Kedawung.

Reporter : Anisa Puse

Aksi Lawan Korupsi di Hari Sumpah Pemuda

Tidak ada komentar



Cirebon, Setaranews.com – Tepat pada momentum hari sumpah pemuda 28 oktober 2019 Aliansi Pemuda Melawan (APEM) menggelar aksi demonstrasi di depan gedung Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cirebon. Aksi tersebut berlangsung dikarenakan banyaknya kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di kota Cirebon yang mangkrak dalam penangananya.

APEM menilai bahwasaanya kejari kota Cirebon kurang progresiv dalam penanganan kasus korupsi yang terjadi di Kota Cirebon. Ginanjar, Juru Bicara (Jubir) aksi mengatakan banyaknya kasus dugaan korupsi yang mangkrak ditangani oleh lembaga yudikatif (Kejaksaan Negeri) Kota Cirebon, “Terdapat beberapa kasus yang tak kunjung selesai diantaranya yaitu kasus sengketa tanah cipto, Dana Alokasi Khusus (DAK 96 Milyar), Pembangunan gedung Sekretariat Daerah (Setda) 86 Milyar, semuanya tak kunjung selesai penangannaya”katanya saat ditanya setaranews.com disela-sela aksi berlangsung, Senin (28/10).

Lebih lanjut, Ginanjar juga menekankan akan terus mengawal kasus-kasus korupsi tersebut, “Kami akan tetap melawan dan terus turun kejalan untuk menyoroti tindak pidana korupsi, karena korupsi dapat merusak moral pemuda hari ini dan menjadi akar permasalahan bangsa kita Indonesia ini”, tegasnya pada setaranews.com.

Adapun tututan yang disampaikan oleh Aliansi Pemuda Melawan (APEM) pada aksi demonstrasi tersebut yaitu mendorong Kejari Kota Cirebon untuk menyelesaikan kasus dugaan Tipikor yang mangkrak dalam penanganannya, Menanyakan progress yang dilakukan Kejari dalam mengusut tuntas dugaan kasus Tipikor yang mangkrak, dan yang terakhir yaitu mendesak kejari untuk segera menangkap dan mengadili koruptor di Kota Cirebon.

Aksi tersebut berlangsung dengan damai dan penuh semangat, massa aksi juga membakar ban bekas sebagai semangat APEM dalam mengawal kasus korupsi di Kota Cirebon yang kemudian ditemui oleh Agung SH MH (Kasi Intel Kejari Kota Cirebon) dan Sidrotul Akbar SH MH (Kasi Pidana Khusus Kejari Kota Cirebon).

Sidratul yang mewakili Kajari Kota Cirebon menjawab beberapa hal yang menjadi tuntutan massa aksi, “kasus jalan cipto kita semua bisa mengikuti dan kami telah menetapkan tersangka dan telah melakukan proses dalam penangananya, yaitu dalam penanganan di tahap satu yang menemui kerugian negara sebesar 2,3 miliyar, kemudian terkait kasus DAK 96 Milyar sedang menempuh jalur perdata yang saat ini masih dalam tahap upaya banding yang kemudian akan ditingkatkan kejalur selanjutnya. Oleh karena itu penyelesaiannya menggunakan mekanisme perdata, adapun secara pidana tentunya tidak akan didiamkan oleh pihak penyidik,”jelasnya dihadapan massa aksi.

Aksi Bule Menampilkan Tari Topeng Membuat Pengunjung JiAF #8 Terpesona

Tidak ada komentar
Amanda (USA) menampilkan Tari Topeng Priangan di acara puncak JiAF #8 

Cirebon, Setaranews.com - Acara puncak Jagakali International Art Festival (JiAF) #8 pada 25-27 Oktober 2019 di Cadas Ngampar, Harjamukti Kota Cirebon telah resmi dibuka oleh Sultan Kanoman Cirebon malam tadi (25/10). 

Tidak hanya mengkampanyekan kebersihan lingkungan, JiAF #8 juga mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya daerah dengan menampilkan kesenian-kesenian lokal. Salah satu penampilan yang menarik perhatian pengunjung tadi malam adalah Amanda, warga negara Amerika Serikat yang ikut berpartisipasi dalam JiAF #8 mempersembahkan penampilan Tari Topeng Priangan lengkap dengan kostumnya. 

Selain mengajak masyarakat untuk melestarikan alam dan mengurangi sampah plastik, Amanda juga mengingatkan para pengunjung untuk melestarikan budaya Indonesia yang sangat beragam. "the reason I performed the priangan mask dance was to help Indonesians find strength in their own culture and to preserve this very special cultural diversity." (alasan saya menampilkan tari topeng priangan adalah membantu orang indonesia menemukan kekuatan dalam budaya mereka sendiri dan melestarikan keragaman budaya yang sangat istimewa ini.) ujarnya saat diwawancarai tim Setaranews.com. 

Para pengunjung terpana menyaksikan penampilan Amanda dan mengaku bangga ada orang luar negeri yang mau belajar budaya Indonesia. "Harapan saya dengan adanya acara jiaf ini masyarakat Cirebon semakin bangga akan budaya Indonesia dan terus mewariskannya, serta selalu menjaga kebersihan dan keseimbangan lingkungan" ucap Nuril salah satu pengunjung. 

JiAF #8 kali ini mengusung tema Cinta Sejati. Filosofinya adalah bukan tentang cinta antara dua insan, melainkan cinta hamba dengan Tuhannya. Acara bertajuk peduli lingkungan ini diikuti oleh lebih dari seratus komunitas di Indonesia juga 24 negara lain.

Kelompok Studi Mahasiswa Fakultas Pertanian Adakan Diskusi Terkait UU SBPB

Tidak ada komentar


UGJ, Setaranews.com - Disahkannya Rancangan undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (RUU SBPB) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) 2014-2019 pada 24 September 2019 lalu Menjadi undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (UU SBPB) mendapat banyak reaksi dari berbagai kalangan masyarakat mulai dari para pegiat pertanian, masyarakat sipil biasa dan juga tidak terlepas dari kelopok studi Mahasiswa Fakultas Pertanian (kelompok studi MaFPerta) Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon (UGJ). Yang dimana pada hari rabu, 16 Oktober 2019 pihaknya mengadakan diskusi mengenai UU SBPB di halaman parkir UGJ Cirebon.

Adapun tujuan dilaksanakannya diskusi ini dikarenakan secara substansi UU SBPB membatasi ruang gerak petani kecil, dan dirasa merugikan petani bahkan, berpotensi mengkriminalisasi petani. Galih selaku Mahasiswa Fakultas Pertanian sekaligus ketua pelaksana kegiatan diskusi mengatakan beberapa pasal dalam UU SBPB ini mengdeskreditkan para petani di Indonesia.

“Pasal yang kontroversial diantaranya pasal 21, 23, 29, dan pasal 108. pasal-pasal tersebut dirasa sangat mendeskreditkan para petani terutama petani kecil, yang hanya bisa menghidupi diri nya sendiri juga ada beberapa pasal yang memang berpihak kepada korporat dan para mafia di bidang pertanian, maka dari itu saya selaku mahasiswa fakultas pertanian merasa resah dan geram terhadap UU SBPB ini, dengan diskusi ini diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa dengan adanya UU SBPB ini sangat merugikan para petani”. Tutur galih selaku ketua pelaksana kegiatan diskusi (16/10/2019). 

Sejumlah pasal bermasalah dalam UU SBPB ini mewajibkan para petani kecil untuk melapor atau mengajukan ijin kepada pemerintah daerah yang berwenang, dan dilanjutkan ke pemerintah pusat dalam melakukan pencarian, pengumpulan, dan pelestarian sumber daya genetik. Dimana pada seharusnya pemerintah bisa lebih bersifat proaktif terhadap petani, dan UU SBPB di duga memberikan karpet merah bagi para korporasi multinasional untuk mengancam merampas sumber daya hayati dan benih-benih lokal. 

Kegiatan diskusi ini berlangsung pukul 19.00 WIB dengan di pantik oleh Bung Bahrul, Bung Wiki, dan Bung Ginanjar. Serta di hadiri oleh masyarakat umum dan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Cirebon.

Tidak hanya diskusi, peserta diskusi pun di manjakan dengan hidangan jagung, umbi-umbian dan kopi lokal secara gratis oleh panitia sebagai bentuk dari hasil kekayaan pertanian bumi Indonesia. 

Acara ini dilakukan dengan media panggung bebas karya, masyarakat yang hadir bisa menyalurkan kritik nya lewat musik dan lukisan.


Reporter : Narayana

HIMAKOM Gelar Malam Puncak Comfestjeh 2019

Tidak ada komentar

Penampilan dari Nadin Amizah dimalam puncak Comfestjeh 2019 / Foto by Fajar


Penampilan dari Fiersa Besari dimalam puncak Comfestjeh 2019 / Foto by Fajar

UGJ, Setaranews.com – Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) menggelar malam puncak Communication Festival Jeh (Comfestjeh) ke-3 yang diisi dengan bazzar dan festival music yang kemarin malam (11/10/2019) di Halaman Parkir Utama Kampus 1 UGJ. 

Menurut Mujib selaku ketua pelaksana, beliau menyampaikan bahwa selain karena acara ini merupakan acara tahunan acara ini juga sebagai wadah untuk berkreasinya para Masyarakat dan Mahasiswa di Cirebon terutama Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UGJ. “Acara ini sebagai wadah untuk teman-teman berkreasi di Wilayah Cirebon khususnya bagi para Mahasiswa Ilmu Komunikasi khususnya.” Ujarnya. 

Adapun tanggapan dari Gilang selaku Presiden Mahasiswa UGJ yang mengapresiasi acara ini dan berharap bahwa acara ini dapat lebih ditingkatkan lagi serta mampu memotivasi Ormawa UGJ untuk membuat acara yang menghasilkan output yang bagus. “Alhamdulillah acaranya lancar, meriah juga dan mungkin bisa ditingkatkan lagi kedepannya. Untuk Ormawa yang ada di UGJ juga semoga dapat termotivasi untuk membuat acara yang menghasilkan output bagus seperti ini.” Tuturnya saat diwawancarai oleh tim setaranews.com 

Acara ini sendiri diisi oleh dua pengisi acara utama yakni Fiersa Besari dan Nadin Amizah serta beberapa pengisi acara lain seperti Komunitas BMX, Semenjak Kemarin, MnB, Komunitas Grafkology, Balai Kampus, Alvies Project dan DJ Della. 

Acara ini juga mendapat sambutan yang luar biasa mengingat tiket yang disediakan telah terjual habis pada pukul 16.00 satu jam setelah acara tersebut dimulai dan pengunjung pun mengaku saat puas datang ke acara ini dan menantikan Comfestjeh ke-4 pada tahun 2020.


Reporter : Nabila dan Fajar

Pembangunan Gedung, UGJ Letakkan Batu Pertama

Tidak ada komentar
Peletakkan Batu oleh Ketua Yayasan UGJ.

UGJ, Setaranews.com - Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) pada hari Rabu 09 Oktober 2019 melaksanakan acara peletakan batu pertama sebagai simbol dimulainya pembangunan gedung-gedung secara serentak sebagai peningkatan sarana prasarana. Adapun gedung-gedung yang akan di bangun dan diperluas yaitu gedung perpustakaan yang akan menjadi lima lantai dan perluasan gedung auditorium yang akan menampung 3000 orang, serta membangun blok khusus untuk sekretariat organisasi mahasiswa sebagai pusat kegiatan mahasiswa. 

Pembangunan yang akan direalisasikan ini sebagai bukti komitmen pihak Universitas kepada peningkatan sarana prasana untuk kualitas tridarma perguruan tinggi seperti halnya tanggapan dari rektor UGJ, Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si., beliau menanggapi ”bahwa pada akhirnya apa yang selama ini kita usulkan ke yayasan alhamdulilah terwujud dengan dimulainya pembangunan tiga unit bangunan yang merupakan bukti komitmen kita kepada peningkatan sarana prasarana kualitas penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi baik bagi dosen maupun mahasiswa, kita tahu kegiatan-kegiatan mahasiswa cukup banyak posistif dan saya bangga akan itu mereka perlu sarana atau prasarana” tuturnya.

Isam selaku anggota BEM Fakultas Hukum mendukung terkait pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pihak Universitas karena dapat meningkartkan mutu pendididikan ”menurut saya itu harus didukung juga karena untuk meningkatkan mutu kualitas pendidikan, kalau sarana prasarananya lengkap bisa menunjang kedepannya lebih baik lagi”. 
Pembangunan ini diperkirakan rampung antara 6 sampai 10 bulan dan mengeluarkan biaya sampai 20 milyar lebih. 

© all rights reserved
made with by setaranews