Responsive Ad Slot

Kelompok Studi Mahasiswa Fakultas Pertanian Adakan Diskusi Terkait UU SBPB

Tidak ada komentar

Kamis, 17 Oktober 2019



UGJ, Setaranews.com - Disahkannya Rancangan undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (RUU SBPB) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) 2014-2019 pada 24 September 2019 lalu Menjadi undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (UU SBPB) mendapat banyak reaksi dari berbagai kalangan masyarakat mulai dari para pegiat pertanian, masyarakat sipil biasa dan juga tidak terlepas dari kelopok studi Mahasiswa Fakultas Pertanian (kelompok studi MaFPerta) Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon (UGJ). Yang dimana pada hari rabu, 16 Oktober 2019 pihaknya mengadakan diskusi mengenai UU SBPB di halaman parkir UGJ Cirebon.

Adapun tujuan dilaksanakannya diskusi ini dikarenakan secara substansi UU SBPB membatasi ruang gerak petani kecil, dan dirasa merugikan petani bahkan, berpotensi mengkriminalisasi petani. Galih selaku Mahasiswa Fakultas Pertanian sekaligus ketua pelaksana kegiatan diskusi mengatakan beberapa pasal dalam UU SBPB ini mengdeskreditkan para petani di Indonesia.

“Pasal yang kontroversial diantaranya pasal 21, 23, 29, dan pasal 108. pasal-pasal tersebut dirasa sangat mendeskreditkan para petani terutama petani kecil, yang hanya bisa menghidupi diri nya sendiri juga ada beberapa pasal yang memang berpihak kepada korporat dan para mafia di bidang pertanian, maka dari itu saya selaku mahasiswa fakultas pertanian merasa resah dan geram terhadap UU SBPB ini, dengan diskusi ini diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa dengan adanya UU SBPB ini sangat merugikan para petani”. Tutur galih selaku ketua pelaksana kegiatan diskusi (16/10/2019). 

Sejumlah pasal bermasalah dalam UU SBPB ini mewajibkan para petani kecil untuk melapor atau mengajukan ijin kepada pemerintah daerah yang berwenang, dan dilanjutkan ke pemerintah pusat dalam melakukan pencarian, pengumpulan, dan pelestarian sumber daya genetik. Dimana pada seharusnya pemerintah bisa lebih bersifat proaktif terhadap petani, dan UU SBPB di duga memberikan karpet merah bagi para korporasi multinasional untuk mengancam merampas sumber daya hayati dan benih-benih lokal. 

Kegiatan diskusi ini berlangsung pukul 19.00 WIB dengan di pantik oleh Bung Bahrul, Bung Wiki, dan Bung Ginanjar. Serta di hadiri oleh masyarakat umum dan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Cirebon.

Tidak hanya diskusi, peserta diskusi pun di manjakan dengan hidangan jagung, umbi-umbian dan kopi lokal secara gratis oleh panitia sebagai bentuk dari hasil kekayaan pertanian bumi Indonesia. 

Acara ini dilakukan dengan media panggung bebas karya, masyarakat yang hadir bisa menyalurkan kritik nya lewat musik dan lukisan.


Reporter : Narayana
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews