Responsive Ad Slot

Istilah Food Porn dan Budaya Makan di Korea Selatan

Tidak ada komentar

Kamis, 04 Juli 2019


Setaranews.comPyororong! Sapaan khas Hari Jisun di Youtube. Ia adalah satu dari sekian food-vlogger asal Korea Selatan yang pandai berbahasa Indonesia dan telah mencicipi ragam kuliner lokal. Bersama adik laki-lakinya, Junsu dan ibunya, ia amat menikmati makanan Indonesia. Jisun mengaku senang makan Semur Jengkol dan Junsu senang makan Mie Ayam. Tiap berkunjung ke Indonesia, Junsu harus menyempatkan diri makan Mie Ayam. Lalu ia akan pesan tiga hingga empat porsi. Baginya satu porsi tidak cukup untuk takaran orang Korea yang terbiasa makan dengan porsi besar.

Masih ingat dengan istilah mukbang yang sempat ramai menjadi buah bibir? Diambil dari kata "meokneun" yang artinya makan dan "bangsong" yang artinya siaran. Pelaku mukbang biasa disebut BJ (Broadcast Jockeys). Jelas terdapat perbedaan antara mukbang dan food-vlogger. Porsi yang dimakan para BJ melampaui orang normal. Mereka dapat menghabiskan lebih dari tiga porsi pada jenis makanan yang sama. Porsi makan yang besar dan reaksi nikmat yang ditimbulkan dari mukbang membuatnya ditandai sebagai aktivitas food-porn.

Di Korea, mukbang mempunyai makna khusus yakni sebagai sarana teman makan. Masyarakat Asia, termasuk Indonesia dan Korea mempunyai tradisi makan bersama keluarga. Jadi ketika jauh dari keluarga dan tidak bisa makan bersama-sama, mukbang hadir sebagai "keluarga" yang seolah-olah hadir menemani makan. Professor Park Sung Hee dari Universitas Ehwa berujar, bahwa kata "keluarga" dalam bahasa Korea mempunyai makna "mereka yang makan bersama"

Apakah porsi makan orang Korea besar?

Di tempat makan tradisional Korea, ada budaya unik yang dapat menjelaskan kebiasaan makan orang-orangnya. Untuk menu porsi personal (persatu orang) akan disajikan dengan tiga hingga empat jenis banchan (lauk-pauk) yang di letakkan di pising (piring kecil). Lauk-pauk paling umum di Korea adalah aneka kimchi (yang terbuat dari sawi putih, lobak atau timun), sup, jeon (panekuk goreng isi sayur) dan rumput laut. Banchan biasanya disajikan secara gratis dan bisa refill. Bagi orang Korea menghabiskan makanan adalah salah satu bentuk penghormatan kepada yang sudah memberi makan (yang memasak). Jadi mereka terbiasa makan hingga kenyang ketika terdapat perjamuan makan malam di rumah kerabat.

Selain hal di atas, Korea mempunyai musim dingin yang dapat mencapai minus enam hingga empat derajat celsius. Menurut pakar kesehatan, Lisa Young, Ph.D. R.D, tinggal di suhu udara yang dingin dapat mempengaruhi nafsu makan seseorang. Tubuh akan cenderung mempertahankan suhu agar tetap hangat dengan cara mengkonsumsi banyak makanan, khususnya makanan hangat. Pantas saja masyarakat Korea senang menyantap makanan yang masih panas. Misalnya memakan mie instan (ramyeon) di panci agar tetap panas.

Tingkat obesitas Korea Selatan yang rendah

Para pelaku mukbang tampil dengan penampilan yang menawan, meski makan dengan porsi besar, tubuh mereka tetap ramping dan sehat. Ternyata sebagian dari mereka senang menghabiskan waktu untuk berolahraga. Karakter orang Korea yang paling terkenal adalah disiplin dan pekerja keras. Karena mereka mempunyai pola makan yang teratur, maka orang Korea jarang terkena berbagai penyakit seperti maag, sakit jantung dan obesitas. Tidak heran jika Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan tingkat obesitas yang rendah bersama Jepang, Italia, Norwegia dan Swedia.

Selain tingkat kesadaran akan kesehatan dan kebugaran, Korea mempunyai olahan makanan yang sehat. Misalnya Kimchi yang dinobatkan sebagai makanan tersehat di dunia. Kimchi kaya akan kandungan antioksidan, vitamin (A, B dan C) serta bakteri probiotik yang baik untuk kesehatan yang dapat mencegah penyakit jantung dan diabetes.
Selain Kimchi, Korea menjadi negara dengan tingkat konsumsi bawang putih terbanyak di dunia. Orang Korea yang terkenal gemar makan daging panggang tidak butuh merasa khawatir terkena obesitas, mengingat mereka memakannya bersama dengan bawang putih serta selada mentah yang dapat mencegah kolestrol.

Konon, orang Korea takut mengkonsumsi nasi putih karena dianggap kurang sehat, meski sangat bergantung dengan beras. Maka biasanya para ibu di Korea memasak nasi dengan campuran nasi merah, nasi hitam dan biji-bijian agar lebih sehat. Dan jangan berharap menjumpai olahan makanan yang digoreng dengan minyak di Korea, karena mereka biasa mengolah makanan dengan cara merebus, mengukus dan memanggang. Karena budaya mengkonsumsi makanan sehat, harapan hidup di Korea jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Mereka rata-rata mempunyai angka hidup hingga usia 83 tahun.

Reporter: Fiqih Dwi Hidayah

MAPALA GUNATI Mengajak Para Mahasiswa Menjadi Pahlawan

Tidak ada komentar

Selasa, 02 Juli 2019

Mahasiswa berpartisipasi mendonorkan darahnya. / foto: Anisa Puse

UGJ, Setaranews.com - Donor Darah menjadi salah satu rangakaian acara Diesnatalis ke - 24 Mahasiswa Pecinta Alam Gunung Jati ( MAPALA GUNATI) dengan slogan Siapapun Bisa Jadi Pahlawan, dilaksanakan pada 02 Juli 2019 di halaman parkir kampus utama dan 03 Juli 2019 di halaman parkir kampus 3 Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ). 

Dimiyati selaku Ketua Umum MAPALA GUNATI menuturkan bahwa tujuan dari donor darah ini adalah silaturahmi antar mahasiswa dan menumbuhkan kepedulian sesama manusia, dengan mendonorkan darah kita bisa menolong jutaan manusia yang membutuhkan. "Semoga para mahasiswa bisa berpartisipasi di rangakaian acara MAPALA GUNATI sebagai Agen of chage yang manusiakan manusia dengan target sebanyak-banyaknya" tutupnya.

"Harapan saya semoga kegiatan baik seperti ini bisa terus dilanjutkan dan nama baik MAPALA GUNATI semakin dikenal didalam maupun diluar kampus" ucap Dika mahasiswa Fakultas Ekonomi selaku pendonor. Acara ini juga menggandeng KSR UGJ dan PMI Kota Cirebon sebagai partner

Reporter : Anisa Puse


Sosok Inspirasi, Mari Mengenal Diah Agustina

Tidak ada komentar

Foto Tari Kalang Sunda Diah Agustina / by Fajar

Cirebon, setaranews.com – Berbagai penampilan memeriahkan malam puncak Festival Budaya Sunyaragi (FBS) Minggu Malam (30/06), salah satu yang menarik banyak perhatian yakni penampilan Seni Tari Kalang Sunda oleh Diah Agustina. Diah merupakan penari asal Cirebon berusia 17 tahun penderita tuna rungu dan albino. Ia bersekolah di SLB Negeri Kabupaten Cirebon yang ber-alamat di Sindanglaut. Ia mulai menjadi penari saat dirinya duduk di bangku sekolah SMP kelas 2. Ia dilatih oleh pelatih tari tradisional sekaligus guru sekolahnya Bapak Wawan Darsa, S.Pd. 

Bapak Wawan mengungkapkan bahwa saat pertama kali melatih Diah menari Ia harus ekstra hati-hati karena Diah sangat peka. Diah juga dilatih dengan kode yang diberikan oleh beliau. “Saya mengajar harus hati-hati. Nggak boleh marah, atau menunjuk-nunjuk karena Diah sangat peka. Diah dilatih dengan kode, sekarang Dia sudah mengerti akan kode yang saya sampaikan. Setiap manggung Saya didepan karena Diah tidak dapat mendengar musik secara total, jadi Saya mengarahkan ketukan musiknya. Fokus dia kalau manggung pasti ke Saya.” Tutur beliau. 

Berkenaan dengan Tari Kalang Sunda yang ditampilkan oleh Diah, Pak Wawan menjelaskan bahwa tarian tersebut berarti bahwa hidup itu harus tidak boleh melebihi batas agar tidak terbawa kearah yang negatif. Beliau juga berharap di FBS tahun depan yang rencananya akan dilaksanakan pada 03-05 Juli tahun 2020 panitia berkenan untuk mengundang SLB se-Jawa Barat.



Reporter : Nabila Devia

Malam Puncak, Sangggar Tari Dewatasenca Tampilkan Tari Putri Batik Caruban

Tidak ada komentar

Senin, 01 Juli 2019


Foto Tari Batik / by Irfan

Cirebon, setaranews.com – Festival Budaya Sunyaragi (FBS) 2019 telah resmi berakhir. Pada malam puncak FBS Semalam (30/06) sukses dimeriahkan oleh beberapa penampilan, salah satunya adalah penampilan Tari Batik dari Sanggar Dewatasenca yang sukses menjadi penampilan pembuka. Tari Batik sendiri nama sebenarnya adalah Tari Putri Batik Caruban yang merupakan tari daerah Cirebon. 

Menurut Irfan Handrian, Pelatih Sanggar Dewata Senca sekaligus Alumni dari SMK Pakungwati beliau mengatakan bahwa Tari Batik merupakan tari yang menggabungkan dari budaya yang ada di Cirebon dan Jawa Barat sendiri seperti Topeng, Jaipong, dan tentu saja Batik dan hal itu dapat dilihat pada koreo Tari Batik sendiri. “Di Indonesia kan tidak hanya seni tari saja, jadi kita gabungkan dari topeng di Cirebon, Batik di Cirebon, dan Jaipong. Keunikannya bisa dilihat dari koreo. Ada koreo membatiknya, topengnya, da nada gerakan jaipong. Itu bisa dilihat kalau kita ini pengamat koreo ya.” Terangnya saat di wawancarai oleh tim Setaranews. 

Kain batik Cirebon yang digunakan dalam tari ini antara lain, Batik Mega mendung, Singa Barong Payung, dan Kangkungan. Sanggar Dewatasenca sendiri merupakan sanggar tari yang berada dalam yayasan Kasepuhan Cirebon dan baru-baru ini mengikuti ajang hari tari dunia di Kota Solo.


Reporter : Nabila Devia

"A" Konsep Tari Bermacam Makna

Tidak ada komentar

Minggu, 30 Juni 2019


foto tari kontemporer / by Puse

Cirebon, setaranews.com - Festival Budaya Sunyaragi (FBS) telah berlangsung selama empat hari. Dihari keempat FBS, Rivai Kontemporer ikut memeriahkan FBS dengan pertunjukan tari kontemporer “A” dan berhasil memukau para penonton. Konsep tarian “A” sendiri bermakna penyampaian berbagai emosi seperti marah dan kecewa. 

Ahmad Rivai atau Rivai kontemporer mengungkapkan bahwa beliau mempersiapkan konsep tarian “A” di H-2 sebelum waktu pertunjukkan. “Persiapannya H-2 pentas. Sebelumnya saya sempat menolak saat dihubungi untuk tampil di acara FBS karena belum ada kesiapan konsep. Karena tidak tau mau memakai konsep apalagi jadi yasudah saya tampilkan konsep “A” saja”. Ujarnya saat diwawancarai oleh tim setaranews. 

Rivai sendiri mengaku telah berkecimpung di dunia tari kontemporer selama 8 tahun. Rivai sendiri merupakan lulusan SMK Pakungwati yaitu sekolah seni yang berada dibawah Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon. Saat ini, ia tengah menjalankan studinya dengan menjadi Mahasiswa ISI di Jogjakarta. 

Selain Rivai Kontemporer, Hari keempat FBS juga dimeriahkan oleh Tari Topeng Ayu Tumenggung, Sanggar Hasta Kencana, Tari Putra Binangkit, dan Tari Jaipong Cikeruhan.


Reporter : Nabila
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews