Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Sandiwara Akreditasi

Kampus Utama Unswagati. Sumber dari unswagati.ac.id

Opini, Setaranews.com - Tiga program studi (prodi) Unswagati lolos akreditasi A oleh BAN-PT. Ilmu Hukum, Ilmu Administrasi Negara dan yang terbaru Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam proses huru-hara akreditasi ada "sandiwara" menarik yang luput dari khalayak mahasiswa. Bukan roman picisan ala sinetron atau komedi gagal ala slapstick. Tapi sandiwara akreditasi ala kampus yang sah-sah saja disebut berunsur manipulasi.

Memang sebelumnya sedang ramai menyoal akreditasi. Barangkali sebuah pencapaian yang membanggakan—setidaknya bagi lembaga dan Pak Rektor yang mempunyai cita-cita ingin menjadikan Unswagati sebagai "Harvard" dari Cirebon. Tapi sebagai mahasiswi yang sedang memasuki semester sembilan dan telah malang melintang terjebak di Kampus, rasa-rasanya adalah sebuah "kejanggalan" jikalau Kampus dapat meloloskan tiga prodinya tersebut. Harvard terlalu jauh untuk mimpi Pak Rektor—sebab kampus tersebut jelas nampak lebih "manusiawi" untuk para penghuninya. Perpustakaan, akses informasi, lahan, ruang terbuka hijau dan suasana akademik yang nyaman adalah bagian terkecil dari Kampus yang seharusnya menjadi "perhatian" bersama.

Tahun lalu dalam portal universitas, Prof. Ibnu—dekan Fakultas Hukum, ketika prodinya menerima akreditasi A. Ia sempat mengakui bahwa masih banyak visitasi yang "belum" maksimal seperti sarana, prasarana perkuliahan, kemahasiswaan, dukungan biaya riset dan pengabdian kepada masyarakat. Konon prodi Ilmu Hukum hanya unggul menyoal tenaga pengajar, dengan memiliki satu guru besar dan 12 doktor yang menjabat sebagai Lektor Kepala, Lektor dan Asisten Ahli. Dengan jumlah SDM demikian, dianggap lebih dari cukup oleh BAN-PT. Padahal semua yang "belum" maksimal menurut Pak Dekan memegang komposisi penilaian yang cukup besar pula, jika mengacu dari standar BAN-PT.

Jika ditelisik terdapat sekitar tujuh standar instrumen yang harus dipenuhi oleh prodi yang ingin melakukan akreditasi, yakni disebutkan sebagai berikut Standar I (Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi Pencapaian) yang berperan sebesar 2,62% dalam penilaian. Standar II (Tatapamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan, dan Penjamin Mutu) yang berperan sebesar 26,32%. Standar III (Mahasiswa dan Lulusan) sebesar 13,16%. Standar IV (SDM) sebesar 18,42%. Standar V (Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik) sebesar 7,89%. Standar VI (Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi) sebesar 18,42% dan terakhir Standar. VII (Penelitian, Pelayanan/Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama) sebesar 13,16%. Lebih jelas link sebagai berikut https://www.banpt.or.id/download_instrumen

Keriuhan akreditasi muncul kembali ketika prodi Pendidikan Bahasa Inggris berhasil menyusul Ilmu Hukum dan Ilmu Administrasi Negara. Gedung FKIP Bahasa Inggris misalnya, dalam proses menuju akreditasi, kalang kabut memperbaiki "fisik" gedung dengan cara mengecat ulang dan menghias tampilannya semenarik mungkin.

Lobi yang biasanya berantakan pun ditata dengan berbagai pot tumbuhan, dan di dekat pintu masuk dipasang sebuah screen televisi. Papan nomor ruangan kelas yang sudah memudar diganti baru; lebih jelas dan bagus. Tampak rapih, bersih, dan luar biasa berbeda. Sebab biasanya tiga tanaman di pelataran gedung saja sampai kering kerontang seperti tidak pernah dirawat dan disiram. Lantas, dari mana asalnya semua barang-barang "penghias" akreditasi tersebut?

Sekitar dua minggu sebelum penilaian akreditasi, mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris dihimbau untuk tidak datang ke Kampus—mencegah ditanya yang "macam-macam" oleh tim asesor. Pesan tersebut sempat beredar lama di whatsapp grup-grup kelas. Proses akreditasi nampaknya menyita semua unsur di prodi, walhasil jadwal PLP II (Pengenalan Lapangan Persekolahan) untuk mahasiswa tingkat tiga harus mundur jauh ke awal Agustus. Selama empat tahun menjadi mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris rasanya sudah kenyang menyaksikan semua "realitas" yang suram.

Bahkan di tengah gembar-gembor para dosen yang ingin menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Tapi menikmati wifi di Gedung FKIP Bahasa Inggris saja merupakan sesuatu yang langka. Rebutan proyektor acap kali jadi permasalahan yang menyebalkan, sementara sedikit sekali ruang kelas yang terpasang proyektor ketika semua dosen "menuntut" ingin menggunakannya. Ditambah fungsi perpustakaan hanya menjadi tempat "ngadem" dan "menyepi" tanpa dibarengi sumber belajar yang mumpuni.

Barangkali mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris masih lebih beruntung ketimbang mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Ekonomi dan Matematika yang nyumpel di Kampus II yang gedungnya tidak terlalu layak disebut "universitas" bahkan gedung sekolah dasar saja tidak sesempit dan sesumpek tersebut. Meskipun begitu rumornya Pendidikan Bahasa Indonesia percaya diri ingin menyusul Pendidikan Bahasa Inggris untuk meraih akreditasi A dari BAN-PT.

Setelah penilaian akreditasi usai, kampus berjalan semestinya, semua kembali pada realitasnya. Termasuk berbagai pot tanaman yang sempat terpasang di seluruh penjuru gedung, dan screen televisi di dinding. Semuanya menghilang 'bak sihir satu malam. Apakah hiasan-hiasan tersebut hanya "disewa" untuk sementara waktu? Jika memang demikian. Ciamik benar sandiwara akreditasi ala kampus—kampus biru yang konon kata Pak Rektor tidak usah ribut ingin jadi negeri, cukup menjadi swasta yang "berkualitas" saja.

Penulis: Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews