Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Rektor USU Dianggap Tidak Paham Kedudukan Karya Sastra


Kegiatan bedah cerpen, Kamis (4/4).

Cirebon, Setaranews.com – Lembaga Pers Mahasiswa Fatsoen (LPM Fatsoen) IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengadakan acara Bedah Cerpen “Ketika Semua Menolak Kehadiranku di Dekatnya” karya Yael Stefani Sinaga, LPM Suara Realitas USU yang dibredel pihak Rektorat Universitas Sumatera Utara (USU). Acara tersebut diadakan Kamis, 4 April 2019 di Gedung Lantai 2 (FITK) Kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Terkait masalah pemecatan para anggota Lembaga Pers Mahasiswa USU yang dilakukan oleh pihak Rektorat USU. Omen Sandriyanie selaku Direktur Eksekutif SOFI Institut memberikan tanggapannya bahwasanya ada ketidaktahuan pihak Rektor terkait kedudukan sebuah karya sastra. “Terjadinya pemecatan karena pihak Rektor tidak paham bagaimana kedudukan sebuah karya sastra dan apa itu LGBT.”

Lebih lanjut, menurut Omen, bahwa sebuah karya sastra harus dibantah dengan karya sastra, bukan restorasi. “Bicara kedudukan karya sastra seharusnya Rektor juga melihat bahwa namanya karya sastra, harus dibantah juga dengan karya sastra. Bukan sampai  melakukan restorasi dalam satu perubahan strukur dan sampai di bubarkan dan lain lain, itu kalau saya lihat sih kaya suatu bentuk penyalahguna kekuasaan.” Tuturnya ketika diwawancarai langsung.

Adapun advokasi bisa dilakukan terkait masalah yang terjadi di USU. “Dengan melaporkan tindakan Rektor ke Dewan Pengawas di Kampus, tapi tentu saja tugas besarnya Lembaga Pers Mahasiswa adalah mengumpulkan semua dokumentasi kasus dan membuat suatu argumentasi yang kuat ke Bapak Rektor yang melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Jadi kalau dilihat dari argumentasi sementara yang bisa di pegang yaitu tadi tidak seharusnya karya sastra di balas dengan pembredelan, karena itu sebuah bentuk ekspresi si penulis.” Tutupnya.

Kemudian, Sinta Ridwan pun menanggapi bahwasanya apresiasi butuh diberikan kepada si pengarang cerpen karena sudah mengangkat isu-isu sensitif ke dalam sebuah karya sastra. “Secara individu, ada beberapa dukungan tersendiri untuk kasus ini. Meski karya sastranya terbilang masih belajar, tapi patut diapresiasi karena berani mengangkat isu-isu sensitif.” Ujarnya.

Acara tersebut selain dihadiri oleh anggota LPM Fatsoen, pun dihadiri oleh LPM Setara UGJ, dan mahasiswa Cirebon lainnya. Yang dipantik oleh Sinta Ridwan dan Omen Sandriyanie.

Reporter Magang: Dodo Pangestu, Rizky Maulana

Editor: Fiqih Dwi Hidayah

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews