Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Jenny von Westphalen: Aristokrat yang Memberontak

Selasa, 12 Februari 2019

/ by Lembaga Pers Mahasiswa Setara
Potret Jenny von Westphalen dan Karl Marx. Sumber Foto: http://www.milliyetsanat.com

Setaranews.com - 
Olive Schreiner—novelis Afrika Selatan pernah berkata bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang satu "tali hidup" yang artinya perjuangan laki-laki tidak akan maju dan subur jika tidak dibarengi kemajuan dan kemakmuran kaum perempuan. Sejak dahulu, perempuan telah berperan mengantarkan tokoh-tokoh besar menuju perjuangan yang penuh gairah. Sebut saja Marry Burns yang menarik Friedrich Engels semakin dalam ke perjuangan kaum buruh, atau sisi "Don Juan" milik Soekarno menjadikan ia salah satu Presiden Indonesia yang cukup feminis, dan atau semangat perjuangan Karl Marx yang semakin membara ketika ia banyak berdiskusi sambil minum teh bersama istrinya, Jenny von Westphalen.

Diantara ketiga tokoh besar tersebut nampaknya Karl Marx selalu lebih seksi menjadi bahan perdiskusian. Ketika sosok Marx dikenal dan dikenang di seluruh dunia. Berbanding terbalik dengan sosok Jenny. Ketika Marxisme dipuji sekaligus dihujat. Ia sekedar dikenal sebagai istri Karl Marx. Eksistensinya tidak digubris segemilang pemikiran suaminya. Setidaknya bagi Marx—Jenny jelas istri yang mumpuni; cerdas, kritis, cakap, dan cantik. Terlebih ia mendukung penuh gagasan-gagasan Marx. Pun Jenny mencintai kecintaan Marx pada kebebasan, perlawanan, perjuangan dan kesederhanaan hidup. Membuat keduanya merasa lebih dari cukup untuk saling memiliki dan bahu-membahu dalam perjuangan hidup.

Kembali ke Kota Trier pada abad ke 8, ketika Jenny digadang-gadang sebagai perempuan paling popular di masanya. Perempuan kelahiran Salzwedel (yang pada tahun 1701 menjadi bagian Kerajaan Prussia dan kini Jerman) pada 12 Februari 1814 atau kalau Jenny masih hidup ia sudah berusia 205 tahun, adalah seorang aristokrat Protestan dari Prussia. Sementara Marx adalah seorang Yahudi yakni warga Negara kelas dua di Jerman. Sekat yang terbentuk dalam masyarakat lantas tidak menjadikan romansa keduanya seperti gubahan serial televisi yang menjengkelkan.

Marx yang empat tahun lebih muda nyatanya tidak butuh cemas meminang kekasihnya. Barangkali untuk urusan asmara Marx terdengar amat realis. Dalam bukunya Privat Property and Communism, 1844 atau setahun setelah ia menikah dengan Jenny. Marx menulis begini, "Jika kau mencintai seseorang tanpa menuntut perasaan yang sama, maka kau gagal menjadi orang yang dicintai, maka cintamu impoten, malang!”

Romansa keduanya bermula dari bapaknya si Jenny yakni Ludwig von Westphalen yang berkawan dekat dengan bapaknya si Marx. Kemudian menular ke anak-anaknya; Jenny dan Marx yang menjadi akrab sejak kanak-kanak. Kebetulan, Edgar von Westphalen, adik laki-laki Jenny adalah karib dekat Marx di bangku sekolah. Keduanya mulai terlibat asmara ketika beranjak remaja.

Pada tahun 1836, Jenny dan Marx memutuskan bertunangan. Konon Marx sempat menunggu restu keluarga besar Jenny selama 7 tahun untuk bisa menikahinya. Mereka pun sempat memadu kasih jarak jauh karena Marx harus merampungkan studi. Untungnya, Ludwig bukan tipikal orangtua yang konvensional. Ia membebaskan putrinya menikahi siapa saja—bukan hanya pria dari kalangan bangsawan. Layaknya mertua dan menantu yang akur, Ludwig dan Marx banyak berdiskusi mengenai politik, filsafat dan sastra Inggris. Setelah menikah, Jenny dan Marx pindah ke Rue Vaneau di Paris. Perancis yang merupakan jantungnya politik Eropa menjadi napak tilas kehidupan awal keduanya.

Kesetiaan Jenny tergambar jelas dalam film "The Young Karl Marx" besutan Jerman. Ia mendampingi Marx dalam kondisi suka-duka dan sering terlibat dalam kehidupan politik Marx. Jenny meski digambarkan bertanggungjawab mengatur rumah; memasak, mengurusi suami dan anak-anak. Ia jauh dari segala konstruksi sosial yang membentuk citra perempuan, ia berjasa besar membantu Marx merealisasikan gagasan-gagasannya. Jenny turut mempengaruhi League of the Justice—organisasi perjuangan terbesar pada masanya agar bergabung dengan Komite Korespondensi Komunis untuk membentuk Liga Komunis. Kemudian organisasi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya karya The Communist Manifesto (1848) yang dirumuskan oleh Marx, Jenny, Friedrich Engels beserta istrinya, Marry Burns. Bahkan dedikasinya ia tuangkan pula dengan menulis salinan semua artikel dan manuskrip Marx dengan tangannya sendiri.

Ia adalah salah satu perempuan yang berpikiran maju pada masanya. Sejak di lingkungan aristokrat ia dikenal sebagai sosok "Putri" berhati baik sekaligus pemberontak yang ulung. Ia secara terang-terangan mengaku bahwa kehidupan bangsawan begitu monoton, membosankan dan membuatnya tidak bahagia. Jiwanya tidak senang dikungkung meskipun di dalam sangkar emas, ia senang keluar dan mendapat tantangan. Maka ia sependapat dengan Marx ketika realita berbicara padanya. Bahwa segala penindasan terhadap kaum proletar (buruh) harus segara dihapuskan.

Berangkat dari sanalah ia jelas merasa beruntung menikah dengan Marx. Suaminya membawanya pada kebebasan, dan perjuangan yang Jenny anggap sebagai tantangan dengan idealisme yang berangkat dari realita. Pernikahan mereka ibarat perwujudan dari pergerakan. Ia dengan penuh suka cita melenggang meninggalkan segala kemewahan dan kenyamanan bangsawan. Satu-satunya kemewahan yang Jenny dapat dari Marx adalah pemikiran-pemikiran suaminya. Ia mendampingi Marx dan menjadi istrinya hingga maut memisahkan. Jenny meninggal dunia pada 2 Desember 1881, disusul suaminya pada 1883. Dalam suratnya pada tahun 1856 Jenny pernah menulis begini, "Dunia adalah milik orang-orang yang nekat."

Reporter
Fiqih Dwi Hidayah

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews