Responsive Ad Slot

Pemkot Cirebon Dapatkan 3 Gugatan Mega Proyek DAK 96 M

Tidak ada komentar

Kamis, 19 Juli 2018

Regional, Cirebon, Setaranews.com – Pemerintah Kota (Pemkot Cirebon) terseret kedalam persidangan lantaran menuai gugatan dari pihak ketiga yaitu kontraktor mega proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai 96 miliar, Pasalnya hingga saat ini penyelesaian pembayaran proyek tersebut (DAK 96 M) tak kunjung dibayarkan 100 persen.

Pemkot Cirebon mendapatkan 3 Gugatan sekaligus, Gugatan pertama yaitu berasal dari PT. Ratu Karya, dengan nomor register 23/Pdt.G/2018/PN CBN, Kedua atas nama PT. Sentra Multikarya Infrastruktur dengan nomor registrasi 24/Pdt.G/2018/PN CBN, kemudian gugatan Ketiga atas nama PT. Mustika Mirah Makmur dengan nomor registrasi 25/Pdt.G/2018/PN CBN.

Agus Fatah.,SH, Selaku Panitera Muda Perdata Pengadilan Negeri (PN) Cirebon mengatakan sudah ditetapkannya jadwal sidang perkara gugatan proyek DAK 96 M, pasalnya ketiga gugatan tersebut sudah dilakukan mediasi. “Perkara ini sudah memasuki sidang yang pertama karena pada tahap mediasi mengalami kebuntuan, maka sidang harus dijalankan."katanya, Rabu, (18/07).

Ketiga Gugatan tersebut didaftarkan secara bersamaan sejak 30 April 2018 lalu, Pemkot Cirebon dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) yang menangani Mega Proyek DAK 96 M tersebut sebagai pihak yang tergugat.

Ketiga PT tersebut menggugat keras Pemkot harus menyelesaikan sisa pembayaran Proyek DAK 96 M. Kepala Bina marga DPUPR, Hanry David juga membenarkan soal gugatan tersebut, dia mengatakan serah terima pekerjaan DAK 96 M masih dalam proses menunggu putusan pengadilan.

“Perkaranya menjadi urusan perdata, karena penyelesaiannya masih menunggu putusan pengadilan” katanya.

Lebih lanjut, “Kontraktor juga mestinya harus bertanggung jawab atas kinerja yang tak sampai di angka 70 persen,”pungkasnya.

Baca Juga : Mega Proyek DAK 96 M Kembali Menuai Polemik Baru

Mega Proyek DAK 96 M Kembali Menuai Polemik Baru

1 komentar

Rabu, 18 Juli 2018

Regional, Cirebon, Setaranews.com - Proyek Dana Alokasi Khusun (DAK) Rp 96 Miliyar tahun 2016 silam kembali tercium, Pasalnya Mega Proyek tersebut menuai banyak sekali polemik yang terjadi dimasa penggarapannya, mulai dari proses lelang hingga Perhitungan Hasil Pekerjaanya, sehingga diduga adanya indikasi korupsi Proyek DAK 96 M.

Kali ini muncul perkara Mega Proyek DAK 96 Miliyar, yaitu soal pembayaran terhadap pihak ketiga (Kontraktor) yang sampai saat ini belum dibayarkan, sehingga 3 kontraktor Proyek DAK 96 M melakukan Gugatan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon.

Usut demi usut, hal tersebut dipicu karena terdapat perbedaan data hasil pekerjaan yang dilaporkan dengan pembayaran dari Pemerintah Kota Cirebon. Pasalnya sebanyak 3 kontraktor yang melakukan gugatan tersebut mengakui kinerjanya melebihi progres 75 persen, sementara itu berbeda dari  hasil perhitungan tim konsultan yang diterjunkan oleh Pemkot Cirebon, termasuk Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) dari internal DPUPR, yang hasilnya tak sampai pada angka 70 persen.

Hanry David, selaku Pejabat baru Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) mengatakan kontraktor harus bertanggungjawab atas kinerjanya, "Seharusnya mereka harus bertanggungjawab atas kinerjanya hingga saat ini, termasuk jika terdapat kerusakan atas hasil kinerjanya, karena sampai saat ini  penyelesaian proyek DAK Rp 96 M, termasuk serah terima pekerjaan sendiri hingga kini masih dalam tahapan menunggu putusan pengadilan,"katanya, Senin (16/17).

Disisi lain, Sukirman selaku Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Cirebon sekaligus juru bayar proyek DAK 96 M membenarkan atas penjelasan yang di sampaikan oleh Kepala Bina Marga DPUPR, menurutnya penyerapan anggaran DAK 96 M 2016 baru diangka 52 persen.

"Yang jelas masih jauh dari progres dan belum 100 persen dan nominal yang akan dibayarkan pun diluar wewenang instansi kami."pungkasnya.

Hingga saat ini penyelesaian Proyek Dak 96 M masih dalam proses sidang di pengadilan dan gugatan kontraktor masih di tahap negosiasi. Pihak DPUPR mengharapkan putusan pengadilan tak sampai proses banding atau kasasi, "Dari anggaran keseluruhan sebesar 96 M itu terdapat anggaran yang tidak dibakukan karena untuk biaya pemeliharaan, baik digunakan untuk jalan raya ataupun trotoar."Harapnya.

Masih Soal Larangan Rambut Panjang, Aksi Jilid #2 Berujung Audiensi

1 komentar

Selasa, 17 Juli 2018

Cirebon, Unswagati, setaranews.com - Sekurumunan mahasiswa Fakultas Teknik adakan aksi Jilid #2 pada Senin,16 juli 2018 di depan Gedung Fakultasnya sendiri guna untuk mendapatkan hasil dari aksi kemarin(13/07) namun faktanya aksi yang dimulai pada pukul 13:00 WIB itu akhirnya hanya sebatas audiensi dan konsolidasi yang tak menemui kata "Sepakat". (16/07)

Dekan Fakultas Teknik Fatur menuturkan hatinya merasa terkikis lantaran anak didiknya berkelakuan layaknya preman
" Hati saya nih sakit melihat kalian (Mahasiswa Fakultas Teknik) teriak-teriak dan berkata kasar kaya kemarin, (keluarlah dekan Fakultas Teknik) Saya merasa sakit hati, karena saya dan rekan-rekan dekanat disini hanya untuk ibadah, bukan rupiah, kami mengabdi sudah lama sekali, tapi baru kali ini saya merasakan di demo kaya gini" katanya sambil mengelus dada.

Aksi yang berujung Audiensi Fakultas Teknik ini meluruskan perkara perihal 2 orang Mahasiswa Fakultas Teknik yang tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) oleh Indah selaku Ketua Prodi Teknik Sipil, Dia mengatakan Hari Rabu dirinya mendapatkan laporan dari pengawas bahwasannya mahasiswa tingkat 1 yang diketahui namanya Rezki dan Prio memiliki rambut panjang alias gondrong, padahal sebelumnya sudah tersebar Surat Edaran untuk tidak memanjangkan rambut. "Rabu nih Saya dapet laporan dari pengawas kalo Reski sama Prio masih gondrong, padahal kemarin-kemarin sudah saya ingatkan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Teknik untuk memotong rambut bagi yang rambut nya panjang." Katanya

Dirinya pun menjelaskan bahwa kebijakan mahasiswa berambut gondrong tidak boleh mengisi daftar hadir Ujian Akhir Semester (UAS) bukan tidak boleh mengikuti UAS.
"Setelah semuanya potong rambut, tinggal mereka berdua ajah yang belum potong rambut, karena sebelumnya ada kesepakatan bahwa mahasiswa berambut panjang tidak boleh mengisi daftar hadir UAS bukan ga boleh ikut UAS, ini salah paham " jelasnya yang saat itu menggunakan baju berwarna ungu.

Setelah perkara rambut panjang selesai, Audiensi berlajut membahas point 2, Yaitu melibatkan mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Teknik dalam merumuskan setiap kebijakan di Fakultas Teknik, serta point 3 yaitu menghapuskan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan aturan UU No 12 Tahun 2012, Sempat beradu argumentasi antara Mahasiswa dan Dosen Fakultas Teknik karena dinilai belum terdapat keterbukaan aturan dari pihak Dekanat pada Mahasiswa.

Suharto salah satu audiens mengatakan "mahasiswa perlu dilibatkan dalam perumusan aturan di Fakultas Teknik".

Edik, salah satu Dosen mengatakan jika perumusan aturan bersama mahasiswa itu salah, mahasiswa hanya sebatas sosialisasi tapi dirinya setuju jika adanya keterbukaan perumusan aturan di Fakultas Teknik namun dirinya pun menjelaskan banyak kelemahan dan kekurangan nya. "Kalo kemahasiswaan sih itu hanya sebatas sosialisasi, kalo perumusannya kita akan rumuskan bersama steakholder dari mahasiswa yaitu orang tua, namun di Teknik ini kita belum punya wadah untuk menampung itu semua, mungkin nanti kedepannya akan ada forum orangtua untuk merumuskan aturan di Fakultas Teknik." jelasnya sambil berdiri dekat pintu.

Terakhir tuntunan mahasiswa terkait pemenuhan sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar di Fakultas Teknik, Pihak dekanat menjelaskan bahwa proposal terkait sarana dan prasarana sudah masuk ke pihak Universitas namun hingga detik ini belum ada jawaban. " Kami sudah buat Rancangan Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan 4 ruangan yaitu untuk Ruang Arsip, Ruang Kelas 2, dan Ruang Dosen, selain itu juga lahan kosong yang disebelah kanan itu, rencananya mau bikin RTH (Ruang Terbuka Hijau) untuk kegiatan mahasiswa, namun proposal itu mandeg di tingkat Universitas, belum ada jawaban apa-apa, dan bahkan demi menunjang sarana dan prasarana honor kami rela dapat potongan, agar kebutuhan mahasiswa Fakultas Teknik ini terpenuhi" katanya sambil merengut.

Penjelasan terkait 3 point tuntutan Masa Aksi tersebut telah di rundingkan namun tak ada kata sepakat antar mahasiswa dan dekanat Fakultas Teknik, Akhirnya Dwi Algi, selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) mengatakan "Audiensi akan kembali di gelar, guna untuk menemukan titik terang". tutupnya.

(Felisa Dwi Pujianti).

Unswagati Gandeng RRI Cirebon Gelar Nobar Final Piala Dunia 2018

Tidak ada komentar
Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Rektorat Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon mengadakan Nonton Bareng (Nobar) final piala dunia 2018 di haalaman Parkir Kampus Utama Unswagati Cirebon, Minggu 15 Juli 2018.

Dalam acara nonton bareng tersebut tampak terlihat jajaran Rektorat beserta Yayasan Pendidikan Sunan Gunung Jati (YPSGJ) beserta mahasiswa menjadi satu berkumpul dilesehan halaman parkir sembari menyaksikan Partai Pinal Piala Dunia 2018 yang mempertemukan antara Prancis melawan Kroasia yang digelar di Stadion megah Luzniky, Moskow, Russia.

Unswagati juga turut menggandeng Radio Republik Indonesi (RII) Cirebon guna untuk mensukseskan acara Pesta Bola Nobar final kejuaraan sepak bola tingkat dunia tersebut.

M. Nasir yang mewakili Rektor Unswagati sekaligus Ketua Pelaksana acara tersebut memberikan sambutan bahwasanya pada acara ini merupakan ajang untuk berkumpul dalam satu tempat antara Mahasiswa, Rektorat beserta Yayasan.

"Kami sampaikan terimakasih kepada pihak RRI cirebon yang mau bekerja sama dan menjadi sukssesi acara ini, selain sebagai ajang berkumpul nya civitas akademika unswagati ini, kita juga turut meramaikan piala dunia di tahun ini, siapa tahu nanti Tim Nasional Garuda Indonesia dapat berkiprah di Piala Dunia di tahun-tahun selanjutnya," ujarnya memberikan sambutan di acara Pesta Bola Nobar Final Diala Dunia 2018.

Pesta Bola Nonton Bareng tersebut juga didukung oleh beberapa produk ternama di Indonesia, diantaranya Indihome Wifi, Antangin, Anget Sari, Hydro Coco, dan juga didukung oleh Teh Pucuk yang masing-masingnya turut memberikan berbagai hadiah sepanjang acara nonton bareng final piala dunia 2018 berlangsung.

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews