Responsive Ad Slot

Puisi : Yu Sarti

Tidak ada komentar

Sabtu, 28 April 2018

Yu Sarti
Dijanjikan Kerja di Abu Dhabi
Sampai sana, tak cuma kerja tapi juga dipukuli
Melayani nafsu bejat sang majikan
Sering pula terima teriakan dan hantaman

Yu Sarti
Bertahun-tahun kirim duit ke kampung
Khayalnya, bisa berdagang punya warung
Hidup berkecukupan dengan anak suami
Eh... sampai Indonesia hanya bisa gigit jari

Oh... Yu Sarti
Air mata sudah beku
Keringatmu telah menguap
Kala mendapati suami lari tunggang-langgang
meninggalkan setumpuk hutang
bersama selingkuhan

Penulis : Anisa
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unswagati

Himakom Akan Gelar Workshop Citizen Journalism

Tidak ada komentar

Jumat, 27 April 2018

Unswagati,Setaranews.com - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Unswagati akan mengadakan Workshop Citizen Journalism dengan tema "Implementasi Komunikasi di Era Milenial" pada Senin, 30 April 2018 mendatang di Auditorium Kampus Utama Unswagati.


Diadakannya workshop tersebut Himakom ingin agar mahasiswa Ilmu Komunikasi terkhusus di Unswagati bisa mendapatkan praktek seputar bidang Jurnalistik yang tidak didapatkan dalam perkuliahan.


"Sebenarnya acara ini untuk mengasah kemampuan mahasiswa Ilmu Komunikasi terhadap bidang Jurnalistik. Soalnya di dalam kelas, kita hanya dapat teori saja, tidak ada prakteknya." Ujar Tri Septiani selaku Ketua Pelaksana pada Setaranews.com, Jumat (26/4) di Kampus III Unswagati.


Selain itu, ini sebagai ajang pengetahuan mahasiswa maupun masyarakat bahwa semua bisa jadi Jurnalis di era serba modern. "Kenapa Citizen Journalism? Karena setiap orang bisa jadi Jurnalis dengan memanfaatkan  nya masing-masing. Daripada smartphone nya dipakai untuk yang enggak-enggak." Lanjutnya dengan nada bercanda.


Pemateri sendiri akan didatangkan dari Cirebon dan Bandung. Sebut saja dari Cirebon ada media terkenal yakni Radar Cirebon diwakilkan Yuda Sanjaya yang akan mengisi materi tentang fotografi. Selanjutnya ada media dari Bandung yakni Wibawanews.net yang diwakilkan oleh owner-nya langsung yakni Darajat Wibawa yang akan mengisi materi tentang kepenulisan.


Bagi Ketua Pelaksana sendiri ia berharap peserta yang akan datang ke workshop nantinya tidak hanya sekedar duduk dan mendengarkan, tapi juga bisa menyerap ilmu dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.


"Harapannya peserta gak hanya datang, duduk lalu dengerin, tapi juga bisa dapat ilmu dan ilmunya bisa dipakai di kehidupan sehari-hari. Daripada mereka mengkonsumsi berita, lebih baik bisa buat berita sendiri yang jauh lebih positif." Tutupnya.


Selain mahasiswa, acara ini pun terbuka untuk umum. Dengan dipatok harga tiket masuk sebesar Rp. 15000 (pre-sale) dan Rp. 20.000 (on the spot) materi tentang Citizen Journalism akan bisa didapatkan.(Fiqih Dwi /LPM Setara)

Tergerak Oleh Nurani, Ketua DPM FH Siap Bersinergi

Tidak ada komentar

Rabu, 25 April 2018

Unswagati, Setaranews.com- Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung  Jati (Unswagati) telah adakan Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) meski melalui sistem ambang batas, dengan 5 kandidat, yakni Rafie Husaen M, Hadi Utomo, M.Ridwan, Andi Gholib dan Faisal Muhammad yang di selenggarakan pada hari Kamis, 12 April 2018, di Kampus Tiga Unswagati.

Meski melalui hawa politik yang panas akhirnya terpilih sudah Ketua DPM FH periode baru yakni saudara Hadi Utomo. laki-laki yang sempat menjadi Ketua Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) tingkat Universitas itu dilantik pada Hari Jum'at, 13 April 2018 dengan membawa visi mewujudkan DPM-FH yang inspiratif, kredibel, dan progresif. “Saya ingin mewujudkan DPM-FH ini dekat dengan mahasiswa ketika mahasiswa mempunyai aspirasi yang nantinya akan di tampung oleh DPM-FH”.  paparnya.

Setelah di wawancarai lebih lanjut Hadi menjelaskan alasan pencalonannya menjadi Ketua DPM FH adalah keinginan yang datang dari hati. "Keinginan yang datang nya dari hati, yang artinya ingin berpartisipasi dan mengabdi kepada Fakultas Hukum Unswagati." jelasnya kepada setaranews.com.

Untuk menunjang visi yang dia bawa, laki-laki yang ketika diwawancarai memakai kemeja warna biru muda itu memiliki misi yaitu membuat DPM-FH lebih akuntabel, transparan, dan aspiratif. Terakhir Hadi berharap supaya antara DPM-FH dan BEM-FH menjadi mitra yang strategis untuk menampung, membawa suara Mahasiswa, dan menaruh besar harapannya agar BEM-FH dan DPM-FH ini bisa bersinergis.(Ramadhan Abdullah Praja/anggota magang LPM Setara)

Lewati Politik Panas, BEM FH Memiliki Ketua Baru

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Fakultas hukum Universitas Swadaya Gunung  Jati mengadakan Pemilu untuk posisi Ketua BEM Fakultas yang di selenggarakan pada hari Kamis 12 April 2018 dengan kandidat Rita Anggraeni dan Karto M Saputra hingga pada akhirnya perhitungan suara yang selesai hingga larut malam tersebut terpilihlah Rita Anggraeni sebagai Ketua BEM Fakultas Hukum. (24/4).

Rita yang dilantik pada 13 April 2018 tersebut memaparkan visi dan misinya sebagai Ketua BEM Fakultas yang baru terpilih “Saya mempunyai visi membangun Fakultas Hukum lebih baik lagi untuk misi saya akan  membangun silaturahmi mahasiswa dengan mahasiswa melalui tukar buku, mahasiswa dengan lembaga, mahasiswa dengan mahasiswa seluruh Indonesia melalui acara ISMAI yang telah di ikuti oleh dimisioner BEM tahun lalu yaitu Yoga Yustiadi dia sebagai koordinator di ISMAHI ( Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia ).” Paparnya.

Selain itu wanita yang ketika di wawancarai mengunakan kemeja kotak-kotak berwarna pink tersebut menjelaskan tujuan dirinya menjadi Ketua BEM Fakultas Hukum “Saya ingin memperbaiki BEM yang kemarin, ke arah yang lebih baik lagi, mempertahankan apa yang kemarin menurut saya bagus.” Ujarnya.

Ketika di tanya terkait panasnya politik yang terjadi kala itu hingga mengorbankan sarana dan prasarana Fakultas Hukum. Rita menyatakan “Memang dalam Fakultas Hukum sendiri kebanyakan orang berfikir normatif  terlalu banyak argumen dan berfikirnya terlalu banyak politik jadi akhirnya terjadilah hal kemarin yang tidak di inginkan, saya pribadi kemarin sebagai calon menyesalkan hal itu terjadi karena memang bukan suatu solusi untuk kemajuan ini.”

Sebagai penutup Rita menyatakan upgrading anggota menjadi awal progam kerjanya sebagai ketua dengan harapan menjadikan Fakultas Hukum lebih baik untuk mahasiswa yang sadar akan hukum. (Obi Robiansyah/LPM Setara).

 

Ampuh : Memaafkan Bukan Berarti Melupakan

Tidak ada komentar

Senin, 23 April 2018

Unswagati, setaranews.com - Aliansi Mahasiswa Peduli Unswagati Bersih (Ampuh) tidak akan melupakan segala bentuk tindakan penghinaan kepada manusia oleh manusia lainnya. Hal ini berkaitan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Djati (YPSGJ) pada saat menemui aksi solidaritas mahasiswa.

Juru bicara Ampuh, Epri Fahmi menyampaikan, persoalan bangsa Indonesia hari ini yaitu berkaitan dengan mentalitas. Sebagai lembaga pendidikan yang juga memiliki tanggung jawab terhadap konstitusi untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, Unswagati ataupun Yayasan seharusnya memberikan contoh pendidikan mentalitas yang baik kepada mahasiswanya juga masyarakat pada umumnya.

"Ini yang terjadi sebaliknya, penghinaan. Memaafkan bukan berarti melupakan. Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan kita dengan tegas dan jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan sejatinya yaitu untuk memanusiakan," pungkasnya kepada setaranews, Sabtu (21/04).

Lanjut Epri, apa yang sudah menimpa mahasiswa saat melakukan aksi solidaritas didepan halaman Kampus I Unswagati merupakan bentuk perlawanan atas sikap Yayasan atau Universitas yang sudah gegabah memanggil orang tua mahasiswa lantaran aksi yang menuntut soal transparansi. Ironisnya, mahasiswa yang menyampaikan aspirasi justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusia, dan tindakan tersebut lebih parahnya dilakukan Ketua Yayasan Unswagati itu sendiri.

Lanjut Epri, Ketua Yayasan itu bisa dibilang orang nomor satu di lingkungan Yayasan dan Civitas Akademik, pucuk pimpinan yang seharusnya bisa memberikan contoh yang baik sebagaimana layaknya seorang akademisi atau intelektual.

"Ini seperti orang yang tidak mengenyam pendidikan saja. Gayanya seperti preman, so jagoan, jumawa, takabur. Miris kami sebagai keluarga Unswagati melihat kejadian tersbut," tukasnya.

Epri menambahkan, kejadian tersebut merupakan sejarah bagi Unswagati dan juga sejarah bagi dirinya sendiri yang menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat perkataan kasar dari Ketua Yayasan.

Menurutnya, selama dia ada di Unswagati, demostrasi di kampus biru ini bukan lagi hal yang aneh, pasalnya memang mahasiswa Unswagati memiliki nalar berfikir yang sudah cakap, daya kritis mahasiswanya juga sudah tak diragukan lagi. Seharusnya Universitas atau Yayasan bangga memiliki mahasiswa yang peduli atas persoalan baik diinternal kampus maupun diluar kampus.

"Anak cucu kami harus tahu, ini sejarah, bahwa ayahnya pernah diperlakuan tidak manusiawi. Terutama, agar kejadian serupa tidak menimpa mahasiswa lain nantinya. Terutama membuat oknum yg tidak memiliki rasa hormat dan penghargaan kepada kemanusiaan itu jera. Supaya tidak sombong, bahwa mahasiswa tidak takut, dan menentang segala bentuk penghinaan dan penindasan" tukasnya. (Mumu Sobar Muklis/LPM Setara)

Opini: Esensi hari kartini dalam Tradisi

Tidak ada komentar

Minggu, 22 April 2018

Opini, Setaranews.com - Hari kartini yang jatuh pada tanggal 21 april  selalu identik diperingati sebagai hari pahlawan nasional ’’ habis gelap terbitlah terang’’ kartini berjuang agar mendapatkan berbagai hak dalam ranah kehidupan, pendidikan dan perjuangan kodrat kewanitaannya.

Peringatan Hari Kartini yang sudah turun-temurun seperti sekarang, tentu boleh-boleh saja, dan tidak ada yang melarang. Sayangnya, peringatan Hari Kartini yang ada sekarang hanya mempertegas sifat-sifat kewanitaan semata. Pakaian adat, lomba masak, lomba busana, tanpa ada Hari Kartini juga sudah menjadi ciri khas seorang wanita.

Esensi kartini

Membaca sejarah hidup kartini dan pemikiran-pemikiran kartini, lantas penulis berfikir dan berusaha merefleksikan pada peranan perempuan di masa kini, mungkin penulis melihat dalam sisi dunia pendidikan khususnya yaitu dalam skala perguruan tinggi. Karena zaman kita berbeda dengan zaman kartini pada saat itu, penulis melihat tidak ada kungkungan dalam kehidupan sekarang. Tetapi ini yang membuat saya tertarik melihat kondisi yang diperjuangkan kartini hanya sekedar tradisi untuk diperingati saja.

Kecintaan kartini pada ilmu pengetahuan sangatlah jelas bahwa dia (Kartini) menginginkan atau mendapatkan pendidikan secara formal atau nonformal baik buku buku bacaan  dan literature yang dia baca dirumah. Kartinipun berfikir kritis menyampaikan pemikiran dan pertanyaan baik secara lisan ataupun tulisan kepada keluarga, teman-temannya menunjukan pada guru bahwasannya dia berfikir kritis.

Kartini juga mempunyai kemampuan mengemukakan pemikirannya secara sitematis, bukan hanya berfikir kritis dalam surat suratnya yang ditulis dan didukung oleh media yang ada pada masa itu sehingga muncul beberapa pemkiran yang iya sampaikan ke dunia luar. Salah satu kelebihan kartini adalah teman-temannya yang berasal dari kalanggan ningrat dan terpelajar, serta memiliki relasi yang cukup luas.

Kalau penulis perhatikan, kondisi mahasiswa khususnya mahasiswa perempuan dikalangannya hanya sebagian kecil yang menjadikan ilmu sebagai bentuk perubahan, melainkan hanya sekedar formalitas untuk mendapatkan pendidikan saja, apalagi untuk berfikir kritis baik terhadap lembaga pedidikan maupun terhadap pemerintah.

Esensi peringatan haru kartini menurut penulis lebih terhadap peringatan sebuah tradisi yang terjadi dikalangan pendidikan saat inisaat ini, bukan bagaimana esensi kartini yang semestinya dimliki oleh kalangan kaum hawa di Indonesia khususnya mahasiswi dikalangan pendidikan dengan esensi kartini yang berfikir kritis berani mengemukakan fikirannya dalam kondisi dan situasi apapun secara sisitematis bersandang niat yang baik, tak hanya soal kesetaraaan, melainkan juga dalam tuajuan mualia lainnya.

 

Penulis: Sutarno (Mahasiswa Fakultas Hukum Unswagati Cirebon)

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews