Responsive Ad Slot

Himakom Gelar Diskusi Publik Sebagai Alat Pendekatan Terhadap Mahasiswa Unswagati

Tidak ada komentar

Sabtu, 10 Februari 2018

Unswagati. setaranews.com - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Swadaya Gunung Jati (Himakom Unswagati) adakan Diskusi Publik dengan memutar 2 film karya anak bangsa sebagai pemantik diskusi. Diskusi Publik kali ini bertajuk "Pesan Komunikasi Melalui Media Audio Visual" yang dibawakan oleh wakil ketua Himakom, Fiqri J. Pranoto diruang serbaguna Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISIP), hari ini, Jumat (9/2).

Acara yang dimulai pada pukul 10.00 WIB itu dihadiri oleh kurang lebih 10 mahasiswa yang mayoritas dari prodi Ilmu Komunikasi. ketika ditanya kenapa memilih film sebagai pemantik diskusi Fiqri menyebutkan "Untuk menarik minat mahasiswa untuk berdiskusi, dan saya pikir dengan menggunakan film bisa menjadi daya tarik bagi mahasiswa untuk hadir dan berdiskusi bersama".

Senada dengan Fiqri, Ketua Himakom yang dilantik 5 Februari 2018 kemarin, Royhan Haidar Diskusi Publik ini akan dijadikan alat untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa unswagati seluruhnya, "ini (diskusi publik.red) untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa unswagati dan kita disini mau berbagi atas pencapaian yang telah kami mahasiswa ilmu komunikasi pelajari selama kuliah" tegasnya.

Meski belum menjadi program resmi Himakom, Diskusi Publik ini akan menjadi program rutin Himakom, melanjutkann program yang belum terealisasi ketika masa kepemimpinan sebelumnya, perlu diketahui diskusi kali ini adalah Diskusi Publik kedua yang dilaksanakan Himakom yang sebelumnya Diskusi Publik ini dibawakan oleh Ketua Umum Himakom dengan tema "Psikologi Komunikator" pada tempat yang sama.

Ketika disentil terkait kondisi mahasiswa yang sedang mengalami krisis moral, Royhan mengatakan prihatin dan berharap bisa berbagi serta mengetahui satu sama lain. "saya prihatin sih melihat kondisi mahasiswa sekarang, dan saya berharap setalah kita berdiskusi, kita bisa saling mengetahui satu sama lain, kita bisa berbagi karena menurut saya untuk melakukan perubahan yang besar itu dimulai dari satu atau dua orang cukup" tutupnya. (Felisa/Reporter LPM SETARA)

DPM-U Dilantik, Jangan Pentingkan Kelompok

Tidak ada komentar

Kamis, 08 Februari 2018

Unswagati, setaranews.com - Aula Kampus I Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) ditata sedemikian rupa dengan penataan kursi membentuk huruf U. Di jajaran kursi tengah, terdapat 23 mahasiswa yang menggunakan jas almamater universitas dengan rapih. Merekalah para anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa tingkat Universitas (DPM-U) masa bakti 2018/2019 yang akan dilantik hari ini, Rabu (7/2).

Pada bagian kiri, berjejer para undangan dari Universitas dan Fakultas, terdapat di antaranya Dr. Ipik Permana, S.IP,.M.Si selaku Wakil Rektor III yang mewakili ketidakhadiran Rektor Unswagati, Dr. H. Mukarto Siswoyo, M.Si. Sementara di bagian kanan merupakan mahasiswa undangan dari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat fakultas maupun universitas yang dapat terhitung dengan jari.

Tingkat partisipasi Ormawa yang dinilai kurang ini dikatakan Ipik, menjadi tantangan besar yang harus diurai oleh Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas (BEM-U) dan DPM-U.

“Tugas BEM-U dan DPM-U lah untuk mengguyubkan kembali Ormawa di Unswagati ini.” Ujar Ipik dalam sambutannya mewakili Rektor Unswagati.

Selain merangkul Ormawa se-Unswagati, DPM-U sendiri memiliki kewajiban untuk menyatukan anggotanya yang datang dari berbagai partai. Seperti yang telah diketahui, anggota DPM-U merupakan kader partai yang sebelumnya bertarung di Pemilihan Raya (Pemira). Menyikapi hal tersebut, Suharto, ketua DPM-U secara gamblang menegaskan bahwa sudah ada komitmen sebelumnya terhadap anggota DPM-U agar melepaskan embel-embel partainya ketika sudah menjadi anggota DPM-U.

“Ini yang paling berat sebenarnya. Tapi sudah ada komitmen sebelumnya dari awal bahwa ketika kita sudah masuk DPM-U kita sudah melepas dan tidak membawa nama partai. Yang dibutuhkan hanya komitmen, silakan anggota dewan berjalan dengan perannya masing-masing.” Ujarnya yang ditemui setelah acara pelantikan DPM-U.

Ini sejalan dengan pesan yang disampaikan Ipik secara tegas kepada anggota DPM-U agar selalu mengedepankan kepentingan bersama.

“Jangan mementingkan diri sendiri maupun sekelompok orang saja. Hal itu dapat menghambat tujuan organisasi yang kedepannya akan tidak sejalan dengan Universitas.” Tutup Ipik.

Ini Pesan Rektor Unswagati untuk Mahasiswa yang KKN di Tahun Politik

Tidak ada komentar

Rabu, 07 Februari 2018

Unswagati, Setaranews.com - Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unswagati gelombang ke-2 telah dilaksanakan pada Selasa 6 Februari 2018 di Kampus Utama Unswagati.

KKN kali ini diikuti oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran. Setelah sebelumnya di gelombang ke-1 pada tahun lalu diikuti oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian.

Dengan mengambil tema "Peningkatan Peran Serta Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa" mahasiswa peserta KKN yang berjumlah 1054 segera dikirim ke lima kecamatan dan 52 desa di Kabupaten Cirebon.

Menurut Mukarto Siswoyo selaku Rektor Unswagati, dipilihnya Kabupaten Cirebon sebagai lokasi KKN mahasiswa diharapkan mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Karena begini kabupaten Cirebon ini wilayahnya luas, tergolong pedesaan ya, dan juga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih rendah. Ingin membantu Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk meningkatkan IPM, daya beli, tingkat kesehatan, dan pendidikannya kalau bisa. Setidaknya dalam rangka membangun motivasi dan membangkitkan potensi di desa, yang bahkan mungkin selama ini tidak disadari oleh masyarakat pedesaannya sendiri," ujarnya.

Menurutnya untuk kebijakan Unswagati di masa depan akan diupayakan adanya KKN yang berkelanjutan di satu daerah dalam kurun waktu lima periode. "Desanya akan kita jadikan desa binaan, seperti laboratorium, jadi tidak pindah-pindah tetap di desa itu. Nanti ada kontinuitas penanganan permasalahan di desa dan kontinuitas upaya-upaya peningkatan kesejahteraan oleh mahasiswa," ungkapnya.

Selain itu, ia berpesan kepada mahasiswa peserta KKN untuk tidak terjebak di tahun politik.

"Ini kan massa, artinya ribuan mahasiswa ini massa. Kalau ini ada pihak-pihak yang mengelola mereka, tanda petik ya, untuk menjadi mortir, corong, foot-gater ini kan luar biasa. Makanya saya tekankan jangan sampai terjebak kesana, karena nanti tidak akan murni lagi. Unswagati nanti menjadi sorotan bahwa lembaga afiliasi kesana, itu yang saya tidak mau. Murni pengabdian, itu yang harus dijaga mereka, itu juga yang saya tekankan ke DPL (Dosen Pembimbing Lapangan)," tutupnya. (Syahru/Fiqih)

Komunitas Cirebon adakan Roadshow Diskusi Anti Korupsi

Tidak ada komentar

Minggu, 04 Februari 2018

Regional, Setaranews.com – Maraknya kasus korupsi di Indonesia mengundang keperihatinan sejumlah masyarakat, menimbang akan hal tersebut, Kota Cirebon lewat Rumah Inspirasi dan didukung oleh beberapa komunitas lokal mengadakan sebuah roadshow diskusi anti-korupsi yang diberi tajuk Kita Muda, Kita Anti-Korupsi.

Roadshow diskusi anti-korupsi tersebut meliputi sejumlah tempat di kawasan Cirebon yakni dimulai dari SD N 2 Karangmekar, SMK Bina Cendekia dan yang terakhir berlabuh di Mubtada Kopi pada Sabtu (03/02) lalu akan dilanjut pada Minggu (04/02) di CFD Jl. Siliwangi pukul 06.00-09.00 WIB dan Gedung Kesenian Rarasantang 13.00-selesai.

Diskusi kali ini diadakan di Mubtada Kopi pada sore hari, di tengah guyuran hujan diskusi berjalan kondusif. Kegiatannya ialah berupa bedah buku “Kata Tidak Sekedar Melawan” karya Nanang Farid Syam yang kemudian menjadi pembicara inti bersama Ide Bagus Arief Setiawan selaku Ketua Lakpesdam NU Kota Cirebon dan Sacandra Aji Rivaldi selaku Peneliti Analisis Wacana Kritis.

Dalam bedah bukunya pria yang kerap disapa Uda Nanang yang juga bagian dari Kerjasama Spesialis KPK tersebut memaparkan lahirnya buku “Kata Tidak Sekedar Melawan” bermula dari Konferensi Nasional Gerakan Puisi Menolak Korupsi.

Buku ini mencoba memberikan corak terhadap gerakan anti-korupsi yang dibungkus lewat sastra dan keuntungan penjualan buku pun akan disumbangkan untuk gerakan penyair anti-korupsi. “Buku ini membahas seluk-beluk korupsi dari segi literasi puisi, royalti pun akan diberikan untuk gerakan penyair anti korupsi,” ujarnya.

Kemudian, menimpali akan hal tersebut, Ide Bagus Arief Setiawan atau yang kerap disapa Kang Ibas berpendapat hadirnya puisi anti-korupsi di tengah-tengah masyarakat menjadi bukti kritisnya kondisi Indonesia tentang praktek-praktek korupsi yang terjadi.

“Adanya puisi melawan korupsi dianggap satu bentuk daruratnya keadaan, kita mengalami degradasi yang parah, artinya ketika puisi tidak lagi berbicara tentang romantisme, tapi justru berbicara tentang korupsi, sesuatu yang dianggap lebih darurat untuk dikemukakan.” ungkapnya.

Menurut Kang Ibas pun untuk memberantas korupsi tidak semena-mena berlangsung dalam waktu yang singkat, dibutuhkan proses, strategi dan sinergitas antar golongan.

“Karena untuk memberantas korupsi butuh waktu, sekali, dua kali, tiga kali aksi, tidak bakal membuat pelaku korupsi jera. Perlu adanya sinergitas antar golongan untuk beramai-ramai memikirkan strategi yang tepat dan cermat.” lanjutnya. (Fiqih)
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews