Responsive Ad Slot

Mahasiswa Cirebon: Hilangnya Patriotisme Aparat Penegak Hukum

Tidak ada komentar

Sabtu, 11 November 2017

Cirebon, Setaranews.com – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) Cirebon melakukan aksi refkleksi Hari Pahlawan yang dimulai dari depan Kampus Utama Unswagati menuju kantor Kejaksaan Negeri Cirebon.

Aksi tersebut dilakukan karena Gemsos Cirebon menilai aparatur penegak hukum telah kehilangan jiwa patriotnya dalam menegakan hukum, terlebih menyangkut persoalan publik seperti korupsi dan represifitas aparat.

Tessa Nur Maulana, Jubir dalam aksi tersebut mengatakan aparat sudah kehilangan keberanian dalam menegakkan hukum. Ia juga menilai pada kasus DAK 96 M aparat penegak hukum sampai saat ini belum ada kejelasan.

"Aparat penegak hukum sudah lemah syahwat, kehilangan keberanian untuk membela kepentingan rakyat," ungkap Tessa Nur Maulana, yang juga mahasiswa FISIP Unswagati, Jumat (10/11/2017).

Selain itu, dalam aksinya Gemsos Cirebon menuntut kepada penegak hukum dalam tiga tuntuan yakni, pertama usut tuntas kasus-kasus korupsi di Kota Cirebon. Kedua, usut aparatur yang bertindak arogan dan represif terhadap mahasiswa. Ketiga, patriotisme sebagai jenderal dan penegakan hukum sebagai panglimanya.

Opini: Mahasiswa yang Kehilangan Semangat Kepahlawanan

Tidak ada komentar

Jumat, 10 November 2017

Opini, Setaranews.com - Momentum 10 November memiliki makna berarti bagi Bangsa Indonesia. Tanggal itu adalah waktu dimana babak peristiwa bersejarah dimulai. Tepatnya tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Sebuah pertempuran sengit antara rakyat Surabaya melawan Sekutu dan kroni-kroninya sedang digelar. Pertempuran yang mengorbankan beribu nyawa terutama dari rakyat Surabaya yang digempur dari darat, laut, dan udara, merupakan peristiwa besar yang terjadi di negri ini. Nyawa yang melayang, jiwa yang hilang, adalah bukti kegigihan rakyat Surabaya berjuang mempertahankan Kemerdekaan RI dari rong-rongan penjajah. Sebuah prestasi yang sungguh tak mampu digantikan dengan apapun. Hanya untaian doa yang mampu kita haturkan bagi para pejuang.

Itulah peristiwa 10 November 1945 yang saat ini kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Kali ini peringatan Hari Pahlawan kembali menyapa Rakyat Indonesia terutama para generasi penerus bangsa. Hari Pahlawan adalah sebuah momentum reflektif bagi para generasi penerus bangsa untuk kembali memikirkan Bangsa Indonesia. Para generasi penerus bangsa yang selama ini disibukkan dengan berbagai hal ditegur kembali dengan sapaan hangat dari para pahlawan kusuma bangsa lewat momentum Hari Pahlawan ini. Itulah sesungguhnya makna yang hendak disampaikan oleh Hari Pahlawan. Hanya saja kita tak mampu menangkap makna-makna itu. Kita telah lama terkurung oleh budaya materialisme, hedonisme, pragmatisme, bahkan egoisme. Sehingga celah kesadaran kita semakin tertutup. Kita hanya memikirkan hal-hal yang serba material-fisikal saja. Jabatan, kedudukan, uang, harta, dan segala sesuatu yang mendatangkan kesenangan diri, itulah yang menjadi fokus dan perhatian kita.

Mahasiswa sebagai salah satu tonggak penerus bangsapun, tidak luput dari pertanyaan di momentum Hari Pahlawan ini. Siapakah mahasiswa? Kalimat itu sudah tidak lagi asing ditelinga kita bahkan kata mahasiswa diumpamakan sebagai sosok yang diagungkan oleh beberapa orang, sebab mahasiswa digambarkan sebagai sosok pemuda yang berintelektul, kritis dan berani. Namun akhir-akhir ini muncul banyak pertanyaan masikah mahasiswa memiliki sosok tersebut di tengah kehidupan mahasiswa yang syarat akan hedonisme, pragmatisme, bahkan cenderung egoisme?

Mahasiswa saat ini seakan sedang mengalami amnesia atau lupa ingatan siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan tulang punggung pembangunan bangsa untuk menuju perubahan yang lebih baik dan memerdekakan bangsa selayaknya bangsa yang sudah merdeka. Mahasiswa merupakan lokomotif penggerak utama perubahan bangsa, sejarah mencatat kemerdekaan bangsa Indonesia tidak luput dari peran kaum muda dan mahasiswa, runtuhnya kekuasaan orde baru tahun 1998 adalah buah dari semangat pergerakan pemuda dan mahasiswa. Namun pola pikir seperti ini terkadang menjadi sebuah pola pikir yang asing dibenak mahasiswa jaman sekarang bahkan mereka lebih memilih berada pada posisi aman karena mereka takut dirinya akan menuai kesengsaraan dan kemiskinan apabila mereka sibuk memikirkan hal seperti ini.

Diri kita saat ini memang betul-betul diambang ke-chaos-an. Berbagai problematika bangsa dari kemiskinan, anak-anak terlantar, pengangguran, korupsi, aksi penggusuran, serta berbagai problematika lain, sungguh semakin meresahkan bangsa. Tetapi kita masih sibuk membangun kemewahan dan kejayaan diri (self glory). Kita semakin lalai akan kepentingan rakyat, namun semakin sibuk dengan kepentingan diri sendiri. Rakyat semakin semrawud karena semakin banyaknya problematika kehidupan, mereka semakin sesak dengan zaman sekarang yang tidak memberikan kenyamanan. Sementara para perwakilan rakyat sedang sibuk mempersoalkan gaji, kepentingan politik, jabatan yang tak kunjung naik, sibuk membagi hasil sisa proyek, dan korupsi yang ditutup-tutupi, kemanakah kalian wahai, Mahasiswa?

Kita patut bersyukur dan bangga jika dapat menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa dan gelar sarjana, doktor, profesor bahkan guru besar sekalipun, karena hanya 4,3 juta orang atau sekitar 5% dari jumlah penduduk Indonesia yang bisa merasakan pendidikan tinggi. Hal ini semakin diperkeruh dengan fenomena lembaga pendidikan yang menjelma menjadi pasar. Tawar menawar dengan para dosen untuk mendapatkan nilai yang tinggi menjadi budaya dan tradisi, menjadi pertanda bahwa pendidikan hanya untuk berburu gelar. Berbagai cara dilakukan bahkan menjadi penjilat pun menjadi salah satu cara. Wajar saja kalo output yang dihasilkan mahasiswa bukan orang-orang yang memiliki mental intelektual tetapi mental orang-orang serakah. Lunturnya idealisme mahasiswa dan hilangnya budaya-budaya ilmiah seperti diskusi, membaca, mengkaji dan menulis menjadikan pergerakan mahasiswa hari ini sedang mati suri.

Sebagai kaum intelektual mahasiswa harus menjadi kelompok sosial (collective sosial) yang berperan aktif, menjadi problem solving di tengah himpitan dan problematika sosial yang begitu kompleks. Ia harus berdiri paling depan, mempropogandakan tatanan sosial yang bebas dari najis dan pemerkosaan hak-hak rakyat. Menendang jauh-jauh bentuk pembodohaan yang semakin canggih dengan wajah baru!

Jejak Mukarto Sang Rektor Baru di Unswagati

Tidak ada komentar

Kamis, 09 November 2017

Profil, Setaranews.com – Pria berusia 52 tahun ini bernama lengkap Mukarto Siswoyo. Lahir di Desa Budur, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Ia besar pula di tanah Cirebon.

Sekonyong-konyong pada penghujung tahun 2017 ini namanya tercantum sebagai Rektor baru salah satu universitas swasta kenamaan di Cirebon. Kampus yang identik dengan cat warna birunya yang digadang-gadang segera dinegerikan, yakni Universitas Swadaya Gunung Jati.

Beberapa waktu lalu tepat di penghujung bulan Oktober, ia secara aklamasi terpilih sebagai Rektor baru. Kala itu setelah usai Sidang Senat Terbuka dengan agenda khusus Pemilihan Rektor. Sebagian hadirin mengambil hidangan yang disuguhkan. Sementara Mukarto masih berdiri meladeni ucapan selamat segelintir orang. Tatkala dimintai waktu untuk diwawancara, tanpa pikir panjang ia langsung menyetujui. Sembari duduk Mukarto berkisah tentang riwayat hidupnya.

Setelah bermukim di Unswagati selama 14 tahun, kini Mukarto mencapai puncak tertinggi jabatan dalam ranah universitas. Namanya menjadi perbincangan kalangan mahasiswa yang mengenalnya.

Agaknya pria yang lahir pada 6 Juli 1965 ini sudah sejak dahulu merantau untuk memperoleh pendidikan. Katakanlah Mukarto kecil mengenyam bangku Sekolah Dasar di kampung halamannya. Setelah beranjak remaja ia mencoba mandiri dengan singgah ke Majalengka merasakan Sekolah Menengah Pertama di tanah yang masyarakatnya dominan berbahasa Sunda.

Setelah usai ia kembali bergerak mendekati kampung halamannya untuk menghabiskan masa Sekolah Menengah Atas di Palimanan. Lantas jiwa mudanya sebagai mahasiswa dihabiskan di Bandung dan Jakarta. Gelar Sarjana dan Doktornya diraih di Universitas Pasundan. Sementara gelar Magisternya diraih di Universitas Indonesia.

Perawakannya tidak terlalu tinggi dengan kulit kuning langsat, khas Indonesia. Ternyata, Mukarto muda telah menggeluti profesi Dosen. Ia berkecimpung di ranah ilmu sosial. Pria berkumis ini sebelum pindah mengajar ke FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) Unswagati pada tahun 2003 pernah menjadi Dosen di STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) Bandung sejak tahun 1989. STKS adalah sebuah sekolah tinggi dibawah naungan Kementerian Sosial.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya di Unswagati. Pada tahun 2005, pengalamannya membawa Mukarto menjadi Sekertaris Jurusan Ilmu Komunikasi.  Setelah dua tahun, ia langsung berganti jabatan menjadi Kabag Kerjasama Universitas. Jabatan itu hanya ia pegang selama satu tahun.

Kemudian pada tahun 2009-2010, Mukarto menjadi Sekertaris Kepala Biro Kerjasama. Jabatannya terus meningkat, ia didapuk menjadi Wakil Dekan I FISIP pada tahun 2011-2012, lalu Kepala Badan Penjamin Mutu pada tahun 2014-2015 dan menjadi Dekan FISIP pada Agustus 2015 hingga sekarang. Lantas yang terbaru ia akan mengemban tugas sebagai Rektor Unswagati menggantikan Rochanda Wiradhinata. Jabatan Rektor akan dijalaninya terhitung sejak tahun 2018-2022.

Wajar apabila namanya tidak asing di kalangan mahasiswa FISIP ya? Sekarang namanya akan tidak asing di kalangan mahasiswa umum Unswagati. Selamat bekerja, Pak Rektor!


 Infografis kursi jabatan yang pernah diduduki Mukarto Siswoyo selama di Unswagati

FKIP Bahasa Inggris Unswagati Gelar Konferensi Internasional Pertama di Kota Cirebon

Tidak ada komentar

Rabu, 08 November 2017

Cirebon, Setaranews.com - Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Swadaya Gunung Jati adakan acara The 1st International Conference on Linguistics and English Teaching (ICLET) pada Selasa, 7 November 2017 yang bertempat di hotel Luxton and Convention Cirebon. Acara ini merupakan Konferensi Internasional pertama di kota Cirebon.

Kegiatan ICLET 2017 mengangkat tema Empowering Language Educators and Practitioners to Confront The 21st Century Challenges. Acara ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan di awali sambutan-sambutan dari Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd, Ketua Asia CALL Prof. Andrew Lian dan terakhir oleh Rektor Unswagati Prof. Dr. H. Rochanda Wiradinata., M.Pd.

ICLET 2017 ini menghadirkan para ahli di bidang pendidikan bahasa Inggris dari Prof. Dr. Endang Fauzianti (Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo ), Dr. Azlina Abdul Aziz (Universiti Kebangsaan Malaysia), Prof. Dr. Andrew Lian (Asia CALL Thailand), Paulus Kuswandono, Ph.D. (Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta), Prof. Fuad Abdul Hamied, Ph.D. (ASIA TEFL), TEFLIN Indonesia dan Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung), Dr. Ania Lian (Charles Darwin University) dan APBSI (Assosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Seluruh Indonesia).

Para peserta dan presenter sebanyak 360 orang berasal dari berbagai universitas dan sekolah dari penjuru tanah air, serta perwakilan dari negara tetangga, Malaysia dan Australia. Mereka berbagi pengalaman, penelitian, dan hasil pemikiran inovatif yang dapat bermanfaat pada peningkatan profesionalisme pendidik dan pembuat kebijakan (sebagai masukan/ rekomendasi).

Pada kesempatan ini juga, telah dilaksanakan penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) antara Unswagati dengan asosiasi TEFLIN dan Asia CALL guna peningkatan kualitas pengajaran Bahasa Inggris yang berbasis Teknologi Informasi (Computer-Assisted Language Learning), penelitian, dan penyelenggaraan international coference. "Insyaallah international conference ini akan menjadi anggeda rutin tiap 2 tahun sekali yang nantinya di pegang oleh mahasiswa, mulai dari panitianya pokoknya pure acara dari mahasiswa," tegas Nurani Hartini selaku Ketua Pelaksana acara tersebut.

Kegiatan yang bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Djati, pihak universitas, FKIP, dan prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu para pendidik dan praktisi pendidikan serta sebagai bukti Bhakti Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selain itu juga acara yang dipandu oleh Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Ratna Andika S.Pd.M.Hum mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, seperti Wonderful Indonesia, Indocement, Language Center FKIP, Lembaga Bahasa Unswagati, Vinotel, BRI, BJB, Apotek Pemuda Farma, Batik Trusmi, Batik Paksi Naga Liman, Diana Education, Hanamahira, Rajjas Batik, dan Funwatches.

Resensi Film: 'Hujan Bulan Juni' Suguhkan Keindahan Kata-Kata dan Latar

Tidak ada komentar

Senin, 06 November 2017

Judul Film    :    Hujan Bulan Juni

Sutradara    :    Reni Nurcahyo dan Hestu Saputro

Penulis Naskah    :    Titien Wattimena

Produser    :    Chand Parwez Servia dan Avesina Soebli

Pemeran    :    Velove Vexia (sebagai Pingkan), Adipati Dolken (sebagai Sarwono)

Tanggal Rilis    :    2 November 2017

Produksi    :    Sinema Imaji dan Starvision

Resentator      :    Fiqih Dwi Hidayah

“Aku musafir yang sedang mencari air, kamu sungai yang melata dibawah padang pasir.”
–Sarwono pada Pingkan–


Resensi Film, Setaranews.com - Novel Hujan Bulan Juni disajikan ke dalam bentuk film dengan plot yang cukup ringan. Tidak tertinggal dihujani puisi-puisi romantis ala sang penulis novel kawakan, Sapardi Djoko Damono. Sebelum merambah layar lebar, kepopularan Hujan Bulan Juni sudah terlebih dahulu hadir dalam bentuk musikalisasi puisi, lagu dan komik.

Film tersebut disutradarai oleh Reni Nurcahyo dan Hestu Saputro dengan latar yang indah di Manado dan Jepang. Jika ditelisik dari segi tema tidak banyak yang menarik. Sarwono hanyalah seorang pria yang merasa gelisah akan ditinggal Pingkan, sang pujaan hati yang tidak pernah lepas darinya, untuk belajar ke Jepang selama 2 tahun.

Pingkan adalah dosen muda Sastra Jepang sementara Sarwono adalah dosen Antropologi. Mereka mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono digambarkan sebagai pria dewasa yang senang memberikan Pingkan puisi-puisi romantis. Sementara Pingkan digambarkan sebagai wanita ceria dengan senyum manis yang memikat Sarwono dan beberapa pria lainnya.

Sebelum keberangkatan Pingkan ke Negeri sakura itu, Sarwono memintanya untuk menemani dalam tugas presentasi kerjasama ke Universitas Sam Ratulangi, Manado. Sementara, Manado sendiri adalah tanah kelahiran ayah Pingkan yang telah lama meninggal. Disanalah Sarwono bertemu keluarga besar Pingkan, dan mulai dipojokkan karena ia orang Solo, bukan Manado.

Penonton memang disuguhkan konflik perbedaan suku dan agama antara Sarwono dan Pingkan, tapi sejatinya kisah ini mengalir pada sepasang kekasih yang saling mencintai dengan sederhana, dan saling menghargai perbedaan. Bahkan keduanya melakukan perjalanan menyenangkan ke pelosok-pelosok indah Manado seperti pantai, sungai dan bangunan bersejarah. Sembari Sarwono menjadikan Pingkan inspirasi puisi-puisi yang lahir dari jemari-jemarinya.

Kemudian, dengan berat hati Pingkan berangkat ke Jepang. Selama di Jepang, ia ditemani oleh pria di masa lalunya, Katsuo. Pingkan menyaksikan bunga sakura yang selama ini ingin dilihatnya bermekaran, seiring kebimbangannya diantara dua pilihan Sarwono ataukah Katsuo.

Pingkan diperankan oleh Velove Vexia, ia berhasil menyampaikan rasa dari puisi-puisi Sarwono dengan cukup apik. Sayangnya, Sarwono yang diperankan oleh Adipati Dolken terdengar kaku tatkala bernarasi membacakan puisi-puisinya sendiri, sehingga rasa yang ingin disampaikan kurang menyentuh penonton. Tapi untuk pembawaan karakter Sarwono, ia boleh juga.

Kemudian yang menjadi kebingungan amat mencolok adalah terkait setting waktu dalam film. Dalam novel, setting waktu diambil pada era yang terbilang modern yang otomatis disesuaikan pada penggambaran suasana dan tokoh. Sementara dalam film ada semacam kesaruan, beberapa adegan yang menampilkan pakaian, latar, hingga suasana seolah-olah digambarkan agak Indonesia tempo dahulu. Entah ini ketidaksengajaan atau kesengajaan, rupanya film ini ingin mempunyai dunianya sendiri.

Tapi yang jelas, dalam film, kalian tidak menemukan ending yang sama seperti di novel. Apapun itu, film yang sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 2 November 2017 ini, agaknya cocok ditonton dengan orang-orang terkasih, ya?
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews