Responsive Ad Slot

Daun Katuk, Daun 1000 Manfaat

Tidak ada komentar

Jumat, 20 Januari 2017

Kesehatan, Setaranews.com - Daun Katuk atau Sauropus androgynus dalam bahasa latin adalah daun sayuran yang banyak tumbuh di Asia tenggara. Tumbuhan ini termasuk dalam suku menir-meniran (phyllantheae), dan masih berkerabat dengan tumbuhan menteng, buni, dan cermai namun masyarakat Indonesia lebih menganal daun ini sebagai sayur-sayuran. Sebelum melihat lebih jauh tentang khasiat daun katuk untuk kesehatan, mari kita ketahui dulu apa saja kandungan dalam daun katuk, sehingga daun ini demikian bermanfaatnya untuk kesehatan, terutama kesehatan ibu hamil.

Sebagaimana dikutip dari wikipedia, bahwa daun katuk mengandung hampir 7% protein dan serat kasar sampai 19%. Daun katuk kaya akan vitamin K, selain pro-vitamin A (beta-karotena), vitamin B, dan vitamin C. Selain itu daun katuk juga mengandung kalsium (hingga 2,8%), besi, kalium, fosfor, dan magnesium. Daun katuk yang berwarna hijau adalah bukti kalau daun ini banyak mengandung klorofil di dalamnya.

Daun katuk mengandung sejumlah manfaat sayur-sayuran yang baik untuk tubuh, berikut ini beberapa diantaranya:

  1. Daun katuk dapat mencegah osteoporosis, kalsium yang terdapat di dalamnya cukup baik, cocok untuk dikonsumsi oleh kaum perempuan yang tidak ingin terkena osteoporosis. Kandungan Kalsiumnya hingga 2,8%.

  2. Efektif untuk melancarkan ASI bagi ibu yang tengah menyusui. Senyawa minyak esensial (saponin, flavooid, tanin, triterpenoid) sejumlah asam amino, vitamin a, b, dan c, mineral (kalsium, fosfor, zat besi) serta tujuh senyawa aktif lainnya.

  3. Mengandung efedrin yang sangat baik bagi penderita influenza. Kandungan zat besi yang cukup tinggi tentunya dapat mengatasi gejala pemyakit anemia.

  4. Terdapat tujuh senyawa aktif yang merangsang produksi hormon-hormon steroid dan senyawa eiksonoid.

  5. Sebagai sumber manfaat vitamin A yang diperlukan untuk mencegah penyakit mata, pertumbuhan sel, sistem kekebalan tubuh, dan reproduksi.

  6. Daun katuk dapat mengandung hampir 7% protein dan serat kasar sampai 19%. Daun ini juga kaya akan vitamin K. Selain pro-vitamin a (beta karoneta), b, dan c.

  7. Kandungan kalori, protein dan karbohidrat daun katuk hampir setara dengan manfaat daun pepayadan manfaat daun singkong. Sedangkan kandungan zat besi dan proteinnya lebih tinggi dari pada kedua jenis daun tadi.

  8. Daun katuk juga kaya akan vitamin a, b1 dan c. Senyawa fitokimianya seperti tanin, saponin, dan alkaloid papaverin berpotensi sebagai bahan obat alami.

  9. Menyehatkan mata, kandungan betakarotin yang tinggi dan vitamin a yang dipercaya membantu mencegah gangguan mata.

  10. Baik untuk kesehatan pria. Dalam katuk terdapat zat aktif yang mampu merangsang sintesis hormon steroid seperti progestron, dan testoteron sehingga membangkitkan vitaslitas seksual, dan memacu kualitas dan kuantitas sperma.

  11. Kalsium yang sangat rendah dapat menyebabkan naikknya tekanan darah tinggi. Untuk mengatasinya, cobalah mengkonsumsi daun katuk yang cukup baik kadar kalsiumnya.


Namun hati-hati! dibalik manfaatnya yang begitu banyak, ternyata apabila kita terlalu banyak mengkonsumsi daun katuk ada beberapa kendala bahaya seperti: “Apabila kita mengkonsumsi 150g jus daun katuk mentah selama 2 minggu sampai 7 bulan, maka akan terjadi sulit tidur, tidak enak makan bahkan sampai sesak nafas”. Untuk itu dianjurkan untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi daun katuk. Bahkan menurut beberapa penelitian bahwa terlalu banyak mengkonsumsi daun katuk dapat terjadi kelainan paru-paru seperti bronkiolitis yang permanen.

Sebelum Anda mengonsumsi daun katuk alangkah lebih baik direbus terlebih dahulu untuk menghilangkan sifat anti protozoa yang artinya adalah membunuh racun yang terkandung di daun katuk tersebut. Sedangkan  maksimal mengkonsumi daun katuk ini adalah  50 gr per hari. Nah itulah manfaat dari daun katuk dan efek smping dalam mengkonsumsi daun katuk secara berlebih. (Felisa)

Sah Dilantik, BEM-FE Telah Siapkan Proker

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM-FE) Unswagati yang telah sah dipimpin oleh Azis Saleh dan wakilnya Didin Ijudin telah menyiapkan sejumlah Program Kerja (Proker) yang akan dijalankan selama satu tahun kepengurusan kedepan.

Sejumlah program kerja tersebut, diakui Azis ada tiga proker utama yang diunggulkan, ketiga proker tersebut diantaranya, Payung FE, Minat dan Bakat, dan desa dampingan.

Payung FE sendiri merupakan wadah aspirasi mahasiswa Fakultas Ekonomi mengenai permasalahan internal yang ada di dalam lingkup fakultas terkait permasalahan di dalam ruang kelas, dosen hingga fasilitas yang disediakan fakultas. BEM FE sebagai organisasi mahasiswa, melalui Payung FE ini dapat menjadi penyalur aspirasi mahasiswa kepada pimpinan fakultas untuk diadakannya perbaikan-perbaikan.

“Nantinya saya dan teman-teman dari BEM-FE akan masuk ke kelas-kelas untuk membagikan kuesioner terkait permasalahan di dalam Fakultas Ekonomi. Nah, hasil kuesioer tersebut selanjutnya akan kita kaji bersama yang mana akan kita bawa hasil kajian tersebut kepada dekanat dan mengadakan audiensi,” ujar Azis, Ketua BEM-FE Peride 2017-2018 pada Jumat (19/1).

Program kerja utama yang kedua adalah minat bakat. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dapat menyalurkan minat dan bakatnya di bidang olahraga dan kesenian melalui kegiatan-kegiatan yang akan diadakan BEM-FE.

Terakhir, ada desa dampingan yang menjadi proker utama ketiga. Sebagai pengaplikasian salah satu tri dharma perguruan tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat. BEM-FE mengadakan desa dampingan yang tujuannya untuk memberantas buta teknologi di suatu desa yang belum tersentuh teknologi. Teknologi yang dimaksud bisa dilihat dari sistem manajemen dan sistem akuntansi yang belum teraplikasikan di desa tersebut, sehingga dirasa perlu dibantu.

Gali Budaya Cirebon, ADP 2017 Ambil Tema Local Wisdom

Tidak ada komentar

Kamis, 19 Januari 2017

Unswagati, Setaranews.comESA (English Student Association) kembali adakan Annual Drama Performance (ADP) yang dilaksanakan selama dua hari, Selasa-Rabu (17-18/1), di Gedung FKIP Kampus III Unswagati. Pada tahun ini ADP mengambil tema “Reviving Cultural Awarenessand The Value of Cireboness Local Wisdom” dengan tujuan menggali budaya Cirebon yang belum banyak diketahui orang.

“Karena local wisdom Cirebon ini belum banyak orang tahu, belum banyak digali jadi dari pihak dosen meminta untuk memilih tema itu, karena Cirebon sendiri memiliki banyak sejarah dan kebudayaan, jadi setiap kelas menceritakan dari judul yang berbeda-beda berdasarkan tema tersebut,” ujar Mega Larasati selaku Ketua Pelaksana ADP saat ditemui disela-sela acara pementasan drama, Selasa (17/1).

Ada delapan penampilan yang masing-masing dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris, mulai dari kelas 3A hingga 3H. Adapun judul penampilan dalam ADP 2017 yaitu Simbar Kencana, Ki Patih Manik, Nyi Mas Gendasari, Arum Sari, Ong Tien, Kedondong War, Baridin dan Ratminah, danWalangsungsang. Setiap kelompok diberi waktu untuk menampilkan drama selama 100 menit.

Tidak hanya sekadar berperan, tetapi juga ada penghargaan yang akan diberikan kepada pemain dengan kategori Best Actress, Best Actor, dan Best Drama of theYear. Proses Penilaian ditentukan oleh dua dosen mata kuliah drama dan tiga orang juri.

“Yang melakukan penilaian memang dosen drama tetapi kita menghadirkan juri dengan tujuan memberikan reward kepada tingkat tiga yang telah menampilkan  dramanya, akan ada kategori Best Actress, Best Actor, dan Best Drama oftheYear yang akan diberikan tropi dan sertifikat.” Pungkasnya kepada setaranews.com

Opini: Bicara 'Sastra' Sebagai Kritik Sosial

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com – Apa yang membuat sebuah karya sastra bertahan puluhan hingga ratusan tahun? Jawabannya adalah sebuah karya sastra yang mampu menggambarkan realita sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Karena pada dasarnya, permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat tidak pernah berubah. Berkutat seputar ketimpangan, ketidakadilan dan lain sebagainya. Karena kaitan sastra dan realita sosial yang terjadi cukup erat, maka sastra pun bisa dijadikan sebagai kritik sosial. Seiring tentunya hal tersebut diharapkan mampu membawa berubahan ke arah yang lebih baik.

Kata sastra diadaptasi dari bahasa sansekerta yang memiliki makna teks yang mengandung intruksi. Intruksi disini bisa bermakna sebagai ajaran dan karya sastra mempunyai dua bentuk yakni fiksi dan non-fiksi, bisa puisi, prosa, novel, drama, biografi, esai dan lain sebagainya. Bicara tentang sastra sebenarnya mencakup banyak aspek seperti seni, budaya dan sosial. Maka tidak heran apabila kandungan di dalam karya sastra sangatlah kaya dengan berbagai macam pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca.

Karya sastra tercipta dari berbagai macam latar belakang yang dipengaruhi oleh pengalaman penulis dan disesuaikan dengan kondisi zamannya. Semisalnya saja novel Student Hidjo karya Marco Kartodikromo yang diterbitkan pada tahun 1918—rentang tahun yang cukup lebar sebelum Indonesia merdeka. Memakai gaya bahasa yang sederhana, Marco menitipkan pesan yang amat luas agar masyarakat Indonesia bisa meraih kemerdekaan dan kedudukan sosial dari penjajah. Atau pada era reformasi, Wiji Thukul lewat puisi-puisinya yang menggugah, mengkritisi rezim Soeharto yang dianggap menyengsarakan Rakyat Indonesia.

Dari kedua contoh tersebut, bisa diasumsikan bahwa karya sastra adalah refleksi atau cerminan dari realita sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Jadi, sangatlah dangkal apabila seseorang memiliki persepsi bahwa karya sastra seolah-olah hanya lahir dari kesunyian dan lamunan. Terdapat proses yang panjang sebelum sebuah karya sastra dihasilkan, dan seorang penulis butuh bersentuhan langsung untuk melihat dan merasakan realita sosial yang terjadi di dalam masyarakat, dan lalu menuangkannya ke dalam tulisan.

Di era-modern, media berkembang dengan sangat pesat—cetak ataupun online. Keduanya bisa dengan mudah menampung berbagai kreatifitas tulisan dari banyak orang untuk dipublikasikan. Tapi sekarang fenomena yang terjadi, cukup sulit menemukan karya sastra yang bisa kembali merefleksikan kondisi sosial yang terjadi. Penulis mainstream lebih senang mengikuti selera pasar yang arahnya lebih condong ke roman picisan. Hal tersebut cukup membuktikan bahwa seorang penulis menghasilkan sebuah karya semata-mata hanya untuk eksistensi dan keuntungan dirinya sendiri. Tidak dibarengi dengan kepekaan terhadap kondisi sosial yang terjadi dan kesadaran untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Padahal, penulis-penulis besar yang karya-karyanya abadi berawal dari sana, seperti Buya Hamka, Pramudya Ananta Toer, Chairil Anwar dan lain sebagainya.

Novel dengan nuansa percintaan seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck milik Buya Hamka atau Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono saja masih dengan lihai menyisipkan permasalahan sosial di dalamnya. Keduanya mengangkat permasalahan yang hampir sama yaitu tentang perbedaan ras, budaya, adat, tradisi hingga agama. Realita sosial yang disuguhkan Hamka dan Sapardi di atas, hingga sekarang pun masih menjadi sesuatu yang sensitif ketika diperdebatkan di dalam masyarakat Indonesia. Sekaligus membuktikan bahwa karya sastra dengan nuansa percintaan bisa dikemas sedemikian rupa dengan nilai-nilai sosial di dalamnya.

Sebenarnya sah-sah saja. Toh, tidak ada aturan terikat bagaimana cara menghasilkan sebuah karya sastra. Apapun ide yang ingin dituangkan, menulislah. Tapi, bukankah sastra yang berhasil ialah yang mampu mempengaruhi pembaca, sementara sastra yang baik ialah yang mampu membawa perubahan ke dalam masyarakat? Karena sebenarnya esensi karya sastra sangatlah besar, karya sastra dianggap sebagai tanggungjawab sosial yang diharapkan bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik di dalam masyarakat.

Wadek II FE Tegaskan Informasi Terkait Biaya Skripsi

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) Unswagati tingkat empat pertanyakan perihal dispensasi untuk pembayaran biaya skripsi, DPP (DPP) dan SKS (Satuan Kredit Semester) dalam forum perkumpulan mahasiswa FE dengan pihak Fakultas terkait rincian pembayaran skripsi, di Ruang kelas 119 Gedung Manajemen.

Andri, salah satu Mahasiswa FE mempertanyakan kepada Wakil Dekan II yang juga menghadiri forum tersebut. "Saya mendapat informasi terkait pembayaran administrasi skripsi termasuk pembayaran DPP dan SKS katanya harus terbayarkan tepat waktu tanpa adanya dispensasi," tanyanya dalam forum, Rabu (18/1).

Terkait pertanyaan tersebut, Moh. Yudi Mahadianto selaku Wakil Dekan II FE menegaskan bahwasanya informasi terkait administrasi di Fakultas Ekonomi tersebut atas kendalinya. Lebih lanjut, pembayaran tersebut di lakukan paling lambat pada tanggal 18 Februari 2017, dan bagi yang belum melunasi sesuai waktu yang telah ditentukan bisa mendapatkan dispensasi melalui Bidang II, kecuali untuk dana SKS.

"Pembayaran dana SKS itu harus dibayar tepat waktu, karena SKS termasuk rumah bagi mahasiswa, dan semua informasi terkait administrasi tersebut atas kendali saya, jadi kalian yang mendapat informasi dari pihak lain diharapkan untuk melakukan kroscek terlebih dahulu," ungkapnya dihadapan para mahasiswa tingkat empat yang menghadiri forum, Rabu (18/1).

Forum Perkumpulan Mahasiswa Fakultas Ekonomi tingkat empat tersebut berlangsung mulai pukul 11.00 – 12.00 WIB di Ruang 119, Gedung Manajememen.

Mahasiswa FE Minta Kejelasan SK dan Rincian Biaya Skripsi

Tidak ada komentar

Rabu, 18 Januari 2017

Unswagati, Setaranews.com - Mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) tingkat empat hadiri forum perkumpulan antara mahasiswa dengan pihak fakultas terkait pembahasan biaya skripsi yang simpang siur, pada Rabu (18/1) di Ruang kelas 119, Gedung Manajemen.

Mahasiswa FE tingkat empat merasa bahwasanya informasi yang disebar oleh fakultas tidak terperinci secara jelas terkait poin-poin administrasi yang harus dibayar oleh mahasiswa.

Jaka Bambang Gunawan, salah satu mahasiswa fakultas ekonomi tingkat empat, menanyakan akan kejelasan administrasi skripsi,"Terkait biaya SKS, Bimbingan skripsi dan biaya operasional itu diperuntukan untuk apa, dan kami ingin tahu rincian-rinciannya dan apakah ada SK nya terkait pembayaran tersebut ?," ungkapnya dalam forum, Rabu (18/1).

Mendengar pertanyaan tersebut, Yudi selaku Wakil Dekan II FE menanggapi, bahwasanya semua administrasi yang dikeluarkan itu telah terperinci dan terdapat SK, "Kami tidak asal menentukan nominal yang harus kalian tempuh saja, melainkan semua pembayaran ada rinciannya dan SK nya, untuk penjelasan biaya SKS itu masuk ke universitas sebagai cadangan apabila nantinya biaya skripsi yang kalian bayar mengalami kekurangan, sedangkan biaya operasional diperuntukan untuk kebutuhan kalian dan pembimbing  juga yang nantinya untuk makan setelah melakukan bimbingan, dan untuk SK dan rincian-rinciannya, bisa perwakilan dari kalian minta nanti setelah selesai rapat senat, karena pukul satu akan ada rapat senat," paparnya, Rabu (18/1).

Dalam forum yang sama pula, Jamaludin mahasiswa Program Studi Akuntansi, mengusulkan kepada fakultas untuk mengumumkan rincian biaya skripsi melalui papan pengumuman atau melalui Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang ada di FE.

"Menurut saya agar informasi itu jelas, pihak fakultas mengumumkan melalui papan pengumuman yang tersedia di FE, atau bisa menyampaikannya lewat Organisasi Mahasiswa FE, dan juga untuk pengumumanya pihak fakultas harus menjelaskan juga rincian-rincian yang tertera dalam poin-poin yang harus dibayar oleh mahasiswa, agar mahasiswa FE khususnya mahasiswa tingkat empat mengerti betul dan tidak bertanya-tanya akan itu," Usulnya, Rabu (18/1).

Forum perkumpulan ini dihadiri oleh 18 mahasiswa tingkat empat, serta Wakil Dekan satu dan dua fakultas ekonomi.

LIDI Bersihkan Budaya Malas Diskusi

Tidak ada komentar

Selasa, 17 Januari 2017

Profil, Setaranews.com – Dibekukannya Ormawa (Organisasi Mahasiswa) di Fakultas Hukum, tidak menghentikan langkah LIDI (Law Independet Discussion) untuk tetap menghidupkan kegiatan organisasi di lingkungan Fakultas Hukum. LIDI adalah sebuah organisasi yang mempunyai tujuan untuk menghidupkan kembali budaya diskusi.

LIDI pada awalnya berada dibawah naungan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Hukum, namun semenjak BEM Fakultas Hukum dibekukan, LIDI berdiri secara independen. “LIDI awal adalah naungannya BEM Hukum, namun saat ini BEM dibekukan jadi LIDI kini berdiri secara independen. Dari awal ketika ormawa hukum masih aktif, LIDI sudah ada tapi masih belum punya sekre sendiri,” tutur Dicky Candra Arifin selaku Ketua LIDI saat ditemui di sekretariat LIDI, Kamis (12/1).

Tahun terbentuknya LIDI sampai saat ini ternyata masih menjadi perdebatan. Dicky menjelaskan, jika ada dua pendapat yang mengatakan tentang tahun berdirinya LIDI yaitu tahun 2000-an dan ada pula yang mengatakan jika LIDI berdiri tiga tahun lalu. “Sampai saat ini masih menjadi perdebatan, ada yang bilang bahwasanya LIDI berdiri saat senior-senior tahun 2000an, tapi diulas lagi ternyata LIDI baru berdiri tiga tahun yang lalu," tambahnya.

Kata LIDI terinsiparasi dari sapu lidi, dengan harapan jika organisasi ini mampu untuk membersihkan mahasiswa-mahasiswa yang malas berdiskusi, mengajak mahasiswa untuk kembali membudayakan diskusi di lingkungan kampus.

Dalam satu bulan, LIDI minimal mengadakan diskusi satu kali, dengan target 10 diskusi setiap tahunnya. Menurut Dicky, pemilihan tempat diskusi di lingkungan kampus dikarenakan  fasilitas yang sudah tersedia, satu hal yang menjadi kekhawatiran Ketua LIDI jika diskusi diadakan di luar kampus adalah jumlah peserta diskusi yang akan semakin berkurang.

Ketua LIDI yang kini menempuh semester lima, menilai jika mahasiswa sekarang ini sangat malas untuk berdiskusi. Jika dilihat dari jumlah peserta diskusi yang hadir selama ini justru mengalami penurunan, bahkan langkah untuk mengajak diskusi dilakukan tidak hanya melalui media seperti pamflet ataupun postingan di media sosial, tetapi juga ajakan secara langsung, yaitu mendatangi kelas-kelas.

“Dari awal kami mengadakan diskusi tidak lebih dari 50 orang. sekarang malah menyusut, yang ikut diskusi hanya 20-30 orang. Dari banyaknya mahasiswa, hanya sekian persen yang ikut berarti dari situ mulai menyusut. Nah kami juga agak bingung nih, diadakannya suatu diskusi, mahasiswanya tidak datang, tidak diadakan diskusi bilangnya tidak ada kegiatan. Apalagi LIDI ini kan sistemnya gratis tapi tetap sulit untuk mengajak mahasiswa,” pungkasnya.

Vakumnya kegiatan organisasi di lingkungan Fakultas Hukum, membuat LIDI terus melakukan usaha untuk terus mengajak mahasiswa ikut terlibat dalam setiap kegiatan organisasi, yaitu salah satunya dengan agenda diskusi yang rutin dilaksanakan. “Kami akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik, soalnya kita fakultas hukum tidak punya lab hukum, tidak punya BEM, kami organisasi cuma satu di sini, kalau tidak melakukan tindakan-tindakan untuk mahasiswanya sendiri kami akan tenggelam,” tutupnya.

SMK AL-Jabbar Juarai Unswagati Cup 2017

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - SMK Al-Jabbar sukses menjadi juara Unswagati Cup 2017 yang diselenggarakan di Stadion Bima pada Senin (16/1), setelah berhasil mengalahkan SMAN 1 Jamblang dipartai final dengan skor tipis 1-0.

Dengan materi pemain besutan Piala Soeratin 2016, Al-Jabbar tampil percaya diri menghadapi SMAN 1 Jamblang. Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Team asuhan Ujang Johanes ini langsung menguasai jalannya pertandingan di babak pertama. Dengan strategi menyerang cepat diawal kick-off babak pertama para pemain Al-Jabbar langsung menyerang dan terbukti pada menit ke-30 pemain dengan nomer punggung 10, Saeful Anam berhasil menjebol gawang dari SMAN 1 Jamblang. Skor 1-0 bertahan hinggs babak pertama selesai.

Dibabak kedua SMK Al-Jabbar semakin menyerang, beberapa peluang diciptakan oleh para pemain Al-Jabbar, namun proses finising yang kurang maksimal menyebabkan beberapa peluang tidak bisa dikonfersikan menjadi gol. Skor 1-0 pun bertahan hingga laga usai.

“Secara keseluruhan pemain kita sudah bermain cukup bagus, secara teknis mereka sudah mampu melaksanakan strategi yang sudah diberikan, terbukti dengan mereka tampil mendominasi dari awal kick-off babak pertama, namun sayang ada beberapa kekurangan saat proses finishing yang terburu-buru sehingga banyak peluang yang tidak bisa dikonfersikan menjadi gol.” Ujar Ujang selaku pelatih Al-Jabbar.

Unswagati Cup 2017 ini diadakan dalam rangka Diesnatalies Unswagati ke-55 yang diikuti oleh pelajar SMU/SMK Sewilayah Cirebon, dan diadakan sejak 12-16 Januari 2017.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews