Resensi Film: 'Dilarang Masuk!' Film Horror dengan Balutan Komedi yang Tangkas

Tidak ada komentar

Kamis, 18 Februari 2016

Setaranews.com - Lisa seorang murid baru yang memiliki tipikal pendiam baru saja menjadi siswa sekolah baru di sekolah Adit (pemeran utama di film tersebut) Akan tetapi pada suatu ketika Lisa hilang entah kemana. Kejadian ini membuat semua orang panik. Termasuk orang tua, guru dan siswa lain yang akhirnya kebingungan. Nah, yang terakhir kali melihat Lisa adalah Adit. Ia melihat Lisa di lantai atas sekolahnya.

Adit yang penasaran dengan hilangnya Lisa berinisiatif untuk mencari si anak baru tersebut bersama ke lima teman lain. Mereka ke tempat dimana Lisa terakhir di lihat. Pada suatu malam mereka nekat mencari Lisa di sekolah. Tujuanya sudah tentu lantai atas sekolah mereka. Dilantai atas itu mereka menemukan rambu Dilarang Masuk! Karena penasaran, Adit dan lima kawanya justru melanggar rambu yang sudah dipatri disana. Namun, yang didapat adalah sosok hantu menyeramkan.

Nah, setelah pencarian itulah Adit dan teman-teman justru menemukan kejadian-kejadian aneh. Adit dan lima temanya dihantui di kehidupan mereka. Merekapun merasa dihantui setelah mencari Lisa di lantai atas gedung sekolah. Akhirnya Adit dan lima temanya berinisiatif kembali ke lantai atas sekolah untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.  Tapi kemanakah Lisa? Benarkah Lisa disana? Berhasilkah Adit dan teman temanya bertemu dengan Lisa?

Film Dilarang Masuk adalah film yang di produksi oleh Digital Film Media. Film ini akan membawa penonton menjerit tetapi juga akan membuat penonton terbahak. Ya, penempatan komedi dan horror sangat tangkas dipadukan padu di film ini. Akan tetapi, film ini jauh dari kesan sensual yang kadung di cap oleh masyarakat Indonesia.

Dibintangi oleh Sahila Hisyam, Maxime Bouttier, Jordy Onsu dan banyak bintang muda lainya film ini rencananya akan rilis di seluruh bioskop Indonesia pada 24 Maret 2016 mendatang, akan tetapi pada Rabu 17 Februari ini. Film Dilarang Masuk menyambangi Kota Cirebon, untuk menggelar roadshow. bertempat di bioskop 21 grage film ini berhasil menyedot banyak animo masyarakat kota udang tersebut.

Bagaimana penasaran dengan film Dilarang Masuk? Nantikan di bioskop 24 Maret Mendatang!

 

Cami Berkomentar Soal Unswagati

Tidak ada komentar

Minggu, 14 Februari 2016

Unswagati, Setaranews.com- Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon telah membuka penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan pada awal Februari. Ini tanggapan dari salah satu calon mahasiswi (Cami) terhadap Unswagati.

"Unswagati merupakan universitas terbaik sewilayah ciayumajakuning, selain itu letak Unswagati sangat strategis dan dari segi bangunan sudah banyak perubahan sehingga membuat Unswagati terlihat rapih," ujar Della Sovia saat ditemui Setaranews pada (11/02).

"Saya memilih Unswagati karena saya ingin melanjutkan pendidikan dengan memilih jurusan Agribisnis," tutupnya.

Ini Kata Wakil Rektor I Soal Dibukanya PMB 2016/2017

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Pada 1 Februari 2016, Universitas Swadaya Gunung Jati telah membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2016/2017. Dikutip dari situs resmi Unswagati untuk PMB, rencananya PMB tahun ini akan terbagi menjadi II Gelombang.

Ditemui di ruangannya pada Kamis (11/02), Wakil Rektor I Unswagati, Dr. Alfandi, M.Si memaparkan sejumlah hal mengenai dibukanya PMB tahun ini, "Sistemnya tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin, hanya perbedaannya yang pertama ada batasan kuota, lalu yang kedua dengan bertambahnya dosen, akhirnya biaya operasional sangat meningkat, sehingga mau tidak mau akan ada kenaikan biaya bagi mahasiswa."

Lalu, ia menambahkan, kenaikan biaya tersebut berlaku hanya untuk mahasiswa baru, tapi untuk mahasiswa lama kedepannya dibebani registrasi atas persyaratan dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), karena mahasiswa harus diregistrasi secara online. Sementara hal tersebut sifatnya masih uji coba, dan telah diterapkan pada mahasiswa tingkat satu kemarin.

Terakhir, Wakil Rektor I Unswagati juga memberikan harapan untuk PMB tahun ini, "Kita kan sekarang berupaya meningkatkan semua kualitas ya, tetap kita berharap agar masyarakat memberikan kepercayaan kepada lembaga kita karena kita kan benar-benar yang diutamakan adalah kualitas." ujarnya.

Tangkal Radikalisme dengan Pramuka

Tidak ada komentar
Jakarta, Setaranews.com- Ikut dalam gerakan Pramuka menjadi salah satu cara untuk melatih dan mendidik anak-anak dan remaja agar dijauhkan dari radikalisme atau ekstremisme. Melalui Pramuka, generasi muda dilatih menjadi pemimpin dan mengamalkan Dasa Dharma Pramuka.

Hal itu yang disampaikan oleh Adhyaksa Dault selaku Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka di Kantor Presiden, Jakarta (5/2). Menurutnya, gerakan pramuka memberikan solusi di tengah paham radikalisme yang menjadi sorotan saat ini di masyarakat. Gerakan Pramuka mengagendakan jambore nasioal di Cibubur pada Agustus mendatang.

“Ini gelaran besar di tengah kegaulan banyak orang terhadap banyak aliran sesat. Saya kira pramuka ini yang paling penting untuk garda terdepan bagi bangsa ini kalau kita mau baik,” ujarnya.

Dalam kegiatan jambore nasional, para anggota Pramuka akan diberikan penjelasan tentang deradikalisme dan teknologi informasi dan dunia siber, “Anak-anak kelak akan jadi pemimpin, pramuka akan berperan dalam proses menjadikan anak-anak sebagai pemimpin yang tidak terpengaruh aliran ekstrem, untuk menangkal radikalisme dan paham ekstrem kiri dan kanan itu penting sekali dimasukkan pramuka,” tambahnya.

Kegiataan tersebut bertepatan dengan 55 tahun usia gerakan Pramuka. Pramuka ingin para anggotanya menyesuaikan diri dengan perkembangan informasi zaman sekarang, mengingat banyaknya paham radikal yang tersebar di media teknologi.

Selesai Dicetak, KTM Sudah Bisa Diambil

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) Universitas Swadaya Gunung Jati Gelombang 1 dan 2 sudah selesai dicetak. Mahasiswa dapat mengambil KTM di ruang Teknologi Informasi dan Kominikasi yang berada di kampus utama.

Pengambilan KTM sendiri bisa dilakukan secara individu maupun kelompok. Untuk pengambilan secara kelompok dapat dilakukan oleh ketua kelas dan menandatangani surat serah terima sebagai bukti pengambilan, namun bagi mahasiswa pendaftar gelombang 3, KTM belum selesai dicetak. Pihaknya pun belum mengetahui pasti keputusan dari pihak percetakan

"Untuk gelombang 3 belum selesai dicetak, pihak percetakan belum kesini lagi," ujar seorang staf.

 

 

 

Kartu Perpus Mahasiswa Tingkat Satu Siap Diambil

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Bagi mahasiswa tingkat satu yang belum memperoleh kartu anggota perpustakaan Universitas Swadaya Gunung Jati dapat mengambilnya di fakultas masing-masing.

Pihak perpustakaan universitas telah membenarkan hal tersebut dengan dikeluarkannya informasi berbentuk selembaran yang ditempel didepan pintu perpustakaan universitas, "Untuk mahasiswa tingkat satu kartu anggota perpustakaan universitas bisa diambil di fakultas masing-masing. Terimakasih!".

Setelah dibagikannya kartu keanggotaan perpustakaan universitas tersebut, diharapkan bisa meningkatkan budaya membaca dikalangan mahasiswa tingkat satu.

Studi Banding Ke Jogja, BEM Unswagati Cari Ilmu Sistem Organisasi

Tidak ada komentar

Sabtu, 13 Februari 2016

Unswagati, Setaranews,com- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)Unswagati baru-baru ini telah melangsungkan perjalanan studi banding mereka ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Adalah Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII) yang BEM Unswagati singgahi. Ihsan Amala Presiden Mahasiswa Unswagati mengatakan ke pada setara jika studi banding ini adalah bagian dari program kerja BEM.

Lebih lanjut Ihsan juga memaparkan bahwa dalam studi banding ini BEM Unswagati coba mencari ilmu tentang sistem organisasi

“Selasa 9 Februari 2016 BEM Unsawagati melaksanakan study banding ke UII dan UGM. Di UII pukul 09.00-12.30 di UGM Pukul 14.00-16.00. study banding kita coba cari ilmu  tentang sistem organisasi di kampus swasta dan negeri, sharing program kerja dan gerakan mahasiswa di Kota Yogyakarta. Studi banding ini bagian dari program kerja dari kementrian Pendidikan BEM Unswagati” sebut Ihsan

Presma periode 2015-2016 itu juga mengungkapkan jika sambutan dari UGM dan UII sangat baik. Ihsan juga menyebut akan membangun koordinasi dengan BEM-BEM lain di Indonesia.

“Alhamdulillah baik UII maupun UGM menyambut baik kehadiran BEM Unswagati. Kebetulan kalo UGM sudah pernah ketemu sebelumnya di munas BEM SI jadi koordinasinya juga sudah lumayan intens Harapan kedepan BEM Unswagati terus bisa membangun koordinasi dengan BEM-BEM lain di Indonesia, ini sekalan dengan misi yang ingin di capai BEM Unswagati” Kata mahasiswa Fakultas Ekonomi tersebut.

Terakhir Ihsan menyebut jika kedepan Proker Unswagati yang akan dijalankan adalah pembentukan aliansi BEM se wilayah tiga Cirebon, bina desa dan Porseni.

“Ada pembentukan aliansi BEM se-wilayah tiga Cirebon. Bina desa sama porseni Unswagati, insya allah Maret sampai April terlaksana, untuk porseni agendanya akhir Mei” tandasnya

KIAT – KIAT KULIAH SINGKAT, CEPAT KERJA

Tidak ada komentar
Sebuah kabar yang terdengar dramatis, hinggap di telinga menyampaikan sebuah pesan, dimana pesan tersebut mengisaratkan kepada seluruh penghuninya agar segera berlomba – lomba menjadi suatu sosok yang mengerikan, robot barangkali, atau binatang bisa jadi, dan apapun itu yang memiliki makna sama. Anehnya, kabar dan titah itu dikeluarkan dari dan oleh sebuah lembaga yang memiliki peran, fungsi dan tanggung jawab terhadap peradaban.  Sebut saja lembaga itu Kementrian Riset dan Perguruan Tinggi, sebuah kiblat yang menjadi patokan beribu kampus dari sabang sampai merauke.

Melalui sosial media seperti Facebook, saya melihat seorang teman memposting sebuah kabar berupa daftar urut (rangking) kampus – kampus di Nusantara. Dengan senonoh dan rasa bangganya ia berujar “Alhamdulilah, kampus saya ada di posisi 3, pertahankan dan terus tingkatkan.” Kebetulan teman saya itu kuliah di Institut Pertanian Bogor. Rasa penasaran terhadap kabar tersebut  tak terelakan, dengan hati yang menggebu saya ingin tahu diurutan berapakah Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati) Cirebon – kampus biru tempat saya mandi, makan, ee, gosok gigi, sampai berstudi?

Ketika saya melihat daftar urut dari Kementrian ternyata Unswagati bertengger diposisi ke 652.  Tak luput, Alhamdulilah pun saya ucapkan seraya mengurut dada, dan memegangi kepala. Urutan tersebut dinilai melalui segi  kualitas (1)manajemen,(2) manusia, (3) kegiatan mahasiswa, (4)penelitian dan publikasi. Thri Dharma PT  - terutama poin pengabdian pada masyarakat- tidak menjadi tolak ukur penilaian, aneh.

Memang, dari penilaian diatas sangat jelas corak perbedaan yang begitu menganga  antara IPB dan Unswagati. Saya pun bertanya – tanya, apa yang menjadi tolak ukur, pendidikan  seperti apa yang bisa dijadikan acuan agar memenuhi kualitas standar, sehingga menciptakan manusia – manusia baru, beradab, sebagai manusia Indoneisa. Terlintaslah dalam benak saya, apakah kita harus mengikuti pola yang sama seperti di IPB, ketika ingin bertengger diurutan teratas dan brsaing dengan ratusan bahkan ribuan kampus  lain.

Akhrinya saya memutuskan untuk main ke salah seorang teman saya di IPB, yang dulunya sempat mengetahui dunia kampus di Cirebon seperti apa – bukan yang upload di FB.  Sederhana tujuannya sih, main sambil belajar, ingin mengetahui seperi apa pengelolaan manajemen, pembangunan manusianya, organisasinya, kemudian penelitiannya.  Karna saya masih belum puas dengan yang saya dapatkan dari kampus, siapa tahu saya pun bisa mendapat referensi untuk pengembangan kampus saya.

Singkat cerita, saya bertemu dengan teman saya tersebut. Pembicaraan pembuka pun dimulai, kopi dan rokok tetap menemani,  obrolan dari mulai saling sapa, tanya kabar dll. Kemudian masuk kedalam pembicaraan inti, “Kumaha kahirupan kampus dan Mahasiswana lur (Gimana kehidupan atau dinamika kampus dan mahasiswanya).” Dengan nada lemas teman saya menjawab. “Aya perbedaan mah, ngan saeutik. Intinamah sarua, lamun henteuna na oge moal jauh beda, (Ada perbedaan, cuman sedikit. Intinya sih sama. Kalau tidaknya pun, gak jauh berbeda)

 

Saya pun tak lantas langsung percaya dengan apa yang disamapaikan teman saya, justru rasa penasaran makin bertambah. Tak terasa obrolan pun hanyut didalamnya, rasa kantuk datang, kemudin tertidur. Ketika terbangun teman saya itu sudah tidak ada. Lupa, kalau Ia ada kuliah dari jam 07:00 – 17:00 WIB bahkan ada yang sampai jam 20:00. Setelah datang ke tempat kos, dengan nada bergurau saya bicara kepada teman “Pekerja keras, berangkat pagi pulang petang, ditambah penampilanya yang mendukung (Celana bahan, seragam Program Keahlian), hahaha.) “ teman saya menjawab, “Seperti inilah, disiapkan untuk pekerja, ready stock,” pungkasnya.

Keyakinan saya masih belum bulat, saya pun keluar dari kamar kos untuk sekedar membeli rokok dan kopi sambil melihat pemandanga sekeliling area kampus. Wanita cantik, pria tampan terlihat sedang asik berbincang, ada yang di warungg kopi, makanan, minuman dll. Setiap kelompok yang sedang asik tersebut memakai pakaian yang sama – sesuai jurusannya masing – masing - , makan yang sama, obrolannya pun sama, jangan – jangan sikap, cara hidup, pola pikir, cara pandang  pun sama, DISERAGAMKAN.

Sesampainya dikosan, “Ngobbrol tiap kelompok dengan atributnya masing – masing, bisa – bisa tawuran antar jurusan, karena yang diajarkannya menekankan ege sektoral (kelompk), kemudian primordial (rasa bangga berlebihan), gimana mau bersatu, kalau dari sitem saja sudah di pecah – pecah, tidak melihat bahwa Indonesia itu heterogen. Terjadi dikampus negri dan unggulan di Indoneisa. Unswgatai perasaan gak gitu – gitu amat, hahahaha,” ledek saya.

Teman saya pun menjawab dengan lurus, terasa suara itu seperti suara jangkrik di sunyi malam, atau percikan api yang keluar dari kerasnya benturan,” Emang gini, kalau diibaratkan kampus disinii replika suatu perusahaan. Direkturnya ada, divisi – diivisinya ada, terlihat dari seragam PK yang dipakai, manajernya ada yaitu dosen (dibayar) yang menjejal tugas kepada mahasiswanya. Tugasnya pun seperti tugas kerja, bukan tugas kuliah. Pegawainya berlomba – lomba kerja keras untuk mendapat apresiasi. Kalau buruh dapat uang, kalau kita mahasiswa dapat nilai. Jauh pisan ka Thri Dharma mah, konmo ngarubah peradaban mah. Teu aneh lamun antar jurusan tawuran oge, (Jauh sekali untuk mencapai pengabdian. Apalagi merubah kondisi. Tawuran sesama mahasiswa pun tak aneh)

Tak sampai disitu saya merasa puas, ingin lebih tahu jauh, jauh dan jauh lagi. Sore hari, sambil menikmati suasana kampus- yang bebas asap rokok-, saya diajak berkeliling kampus. Teman saya menunjuk salah satu ruangan yang dijadikan sebagai sekretariat Keluarga Mahasiswa. Menurut saya, tak pantas dan tak layak apabila ruangan tersebut dijadikan sebagai wadah mahasiswa. Dari situ saya bisa menyimpulkan, bagaimana memperjuangkan nasib mahasiswa pada umumnya – apalagi masyarakat – memperjuangkan tempatnya sendiri pun tak mampu. Malang sekali!

Kampus sekarang, terdapat aturan yang mewajibkan setiap kampusnya menciptakan komisi disiplin (Komdis). Setiap mahasiswa yang rambutnya gondrong, merokok di aera kampus, celana sobek, telat masuk uas, tidak mengenakan seragam PK, maka lembaga tersebut bertugas dan berkewajiban melakukan rajia. Mirip kaya BK atau BP seperti di sekolah – sekolah, atau polisi yang nilang pelanggar lalin. Bukan suatu alasan logis, apabila untuk mendisplinkan manusia dengan cara diseragamkan.  Apabila dipaksakan apa hasilnya? Penakut, apatis, pragmatis, hedonis sudah pasti terjadi!

 

Terdapat mahasiswa yang dikarenakan tak sanggup membayar biaya kuliah di IPB harus mengajukan cuti, dan cutinya pun bayar. Untuk masalah pembayaran, faktanya kampus – kampus negri lebih mahal, dan tidak dibarengi dengan fasilitas yang harus didapat.  “Pengen kesini belajar susah payah dengan membeli buku – buku panduan agar lulus SNMPTN yang diproduksi perusahaan, pas masuk bayaran mahal. Bayaran tiap tahun naik, praktikum bayar, modul bayar, telat SPP didenda 10%, tapi fasilitas yang digunakan tidak pernah di upgrade, katanya negri.  Uangnya saya kemana dan untuk apa? Cuman dapat nilai dan kencing dikampus doang. Pilihannya dua, kalau mau bayar , enggak silahkan pergi,” ketus teman saya.

Melihat fenome kampus saat ini, bagaimana negara menghisap dan menindas warga negaranya terlihat jelas. Pendidikan di perjual belikan, kampus berubah menjadi replika sebuah perusahaan, dan akhirnya kerja diperusahaan juga. Jelas bahwa sistem pendidikan di Indonesia menguntungkan kapitalisme yang memiliki modal besar, sekaligus merangkap sebagai pejabat negara. Dunia pendidikan dijadikan ajang menciptakan robot – robot yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan produksi. Mahasiswa dijadikan objek, bukan subjek sebagai manusia. Lagi – lagi, aturan main di negara ini lebih menguntamakan dan menguntungkan kapitalisme.

Organisasi kemahasiswaa tak berfungsi, karena hanya menjadi kumpulan orang – orang penakut, tumpul, kalah dengan aturan main yang membodohi. Bicara sosial, politik, ekonomi dan budaya, apa lagi pengabdian, jauh panggang dari api.  Saya merasa beruntung ketika kampus saya tak menjadi Negri. Setidaknya di kampus saya masih bisa menunut hak sebagai mahasiswa dan warga negara  dengan susah payah dan berbondong – bondong.

Setidaknya masih ada pula,  mahasiswanya yang memperjuangkan mahasiswa lain dan lingkungan masyarakat sekitar (walaupun kecil). Kalau Sistemnya bagaiaman? Sama, mau negri ataupun swatsta tetap menciptakan robot dan kerumunan hewan. Kuliah sesingkat – singkatnya, kerja secepat – cepatnya.  Harmoni progresio, membangung keselarasan dengan kebersamaan, sedikit demi sedikit akan hilang. Lupa, kalau kedepannya kitalah yang akan memegang arah tonggak peradaban. Dibuat amnesia, akhirnya jadi robot - robot juga, hewan - hewan juga.

Kesimpulan saya, tolak ukur kampus yang baik yaitu kampus yang bisa mengeluarkan output berupa robot dan kerumunan hewan. Ketika kampus saya ingin mengejar IPB, maka harus menggunakan aturan yang outputnya menghasilkan robot dan kerumunan hewan pula. Padahal, kampus merupakan kawah candradimuka, tempat tumbuh kembangnya suatu peradaban bangsa. Ketika melihat kampus saat ini sebagai replika sebuah perusahaan, suatu kemunduran zaman di era ilmu pengetahuan dan teknologi semakin menjamur. Modernitas sejatinya bicara sikap, pola pikir, prilaku dan hati nurani.

Apakah kiranya yang tidak dijual oleh bangsa ini? Alam, budaya, tradisi, kehormatan, harga diri, dan sekarang sumber daya manusia (MAHASISWA) pun telah dijual. Mau dibawa kemana Indonesia? Satu keyakinan saya, selama kita menjadi bangsa penakut yang dibodohi, selama itu pula kita dalam keterpurukan.  Menjadi sebuah negri budak, budak diantara bangsa, dan budak bangsa lain. // hidup di negeri yang lahap memakan nasi//dari padi yang tidak di produksinya//. Berbanggalah.

 

Jika hanya belajar, hewan pun belajar.

Jika hanya tidur, hewan pun tidur.

Jika hanya ‘kawin’, hewan pun kawin.

Jika hanya bekerja, hewan pun bekerja.

Jika hanya makan, hewan pun makan.

Jika hanya berkerumun, hewan pun berkerumun.

Kami putra dan putri indoneseia bersumpah,

berbahasa satu, bahasa kapitalisme .

Bangsa satu, bangsa kapitalisme.

Tanah air satu, tanah air kapitalisme.

Jayalah sendiri Indonesia.

(Epri Fahmi Aziz,Bogor, 12 Februari 2016)

Opini : Mimpi Buruk, Mahasiswa Tak Kenal Baca!

Tidak ada komentar

Jumat, 12 Februari 2016

Opini-setaranews.com Mimpi buruk ketika mahasiswa tak suka membaca! Mimpi buruk bagi saya sebab saya adalah bagian dari mahasiswa tapi ini juga adalah mimpi buruk bagi Negara.

Kasus pertama, Beberapa waktu lalu saya ditugaskan menyebarkan newslatter di kampus. Ketika saya bertanya kepada mahasiswa yang lewat “apa mau membaca newslatter ini atau tidak”, dia dengan yakin dan mantapnya menjawab TIDAK! Tanpa bertanya terlebih dahulu newslatter itu tentang apa atau sekedar basi-basi menghargai teman sendiri. Penulis dibuat geleng-geleng kepala ketika memikirkan nasib Negara yang akan berada ditangan mahasiswa seperti tadi.

Sering mendengar selentingan obrolan dari mahasiswa yang suka mengatakan “lebih suka baca novel daripada buku matakuliah” lalu penulis simpulkan seperti ini, mahasiswa hanya tahu materi dari slide powerpoint (PPT) dosen. PPT inilah satu-satunya yang menjadi sumber bacaan mereka dan itu pun dilakukan ketika menjelang ujian. Ini adalah kasus kedua yang sering penulis jumpai.

Kasus ketiga, kadang ada beberapa mahasiswa yang suka mengomel dan ngedumel tentang perihal tidak diberitahukannya jika ada pengumuman beasiswa. Kalau mahasiswa itu peka dan rajin ngecek pembaharuan tulisan di mading pastilah tidak akan ada kasus ngedumel seperti tadi. Apa salahnya ketika jalan tengokan sedikit kepalamu ke samping untuk melihat mading, atau yang jauh lebih baik berhenti sebentar untuk melihat informasi terbaru apa yang ada disana, jika malu untuk berdiri sendirian maka ajaklah temanmu, tapi jika temanmu tidak mau dikarenakan akan membuang-buang waktu maka penulis sudah tidak tahu harus berkata apalagi. Pekalah sedikit jangan hanya peka mengenai urusan cinta-cintaan.

Ini yang sering dijumpai tidak hanya mahasiswa tapi bisa jadi dikalangan seluruh pelajar. Makalah yang mereka buat tidak sedikit copy-paste dari internet, dan parahnya lagi apa yang mereka copas dari internet untuk bahan makalahnya tak dibaca terlebih dahulu. Hanya cukup mengetikan key word di kotak google setelah itu pilah pilih sebentar lalu langsung pindahkan ke word dan print dengan cover yang terpampang jelas namanya, menunjukan kepada dosen bahwa itulah hasil karyanya. Tapi saya ragu, ketika ada yang meminta menjelaskan isi makalah itu tentang apa maka dia akan diam seribu bahasa. Dalam hati akan berkata "saya kan belum baca, bagaiman saya bisa tahu" mungkin kurang lebih seperti itu.

Penulis, mengatakan ini semua bukan semata merasa sempurna karena tidak pernah melakukan salah satu dari hal-hal tersebut. Penulis memaparkan ini semua karena berkaca dari diri sendiri, dan memang dari fenomena yang sebenarnya terjadi dikalangan mahasiswa terutama di kampus tercinta kita Unswagati.

Mahasiswa adalah harapan masyarakat, atau bisa penulis katakan mahasiswa itu layaknya seorangpahlawan yang kedatangannya tengah ditunggu oleh masyarakat, jika mahasiswanya benar!

Mahasiswa begitu disanjung oleh masyarakat, karena masyarakat menganggap satu-satunya yang mereka percaya untuk membantu memecahkan masalah yang tengah dihadapi mereka adalah mahasiswa, masyarakat tak begitu bergantung kepada pemerintah. Jika seperti ini akankah kita selaku mahasiswa akan mengecewakan masyarakat, kalau untuk budayakan membaca saja masih enggan, dengan buku saja masih phobia bagaimana mungkin mahasiswa yang diagungkan ini akan mampu memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.Perpustakaan punmasih berupa bangunan simbolik yang ada dalam lembaga pendidikan.

Negara ini sudah mengoleksi begitu banyak pengangguran. Lalu apa yang akan kita ajukan ketika masuk dalam dunia kerja jika membaca dan diskusi masih belum menjadi budaya dikalangan mahasiswa. Negara ini sudah memiliki selusin permasalahan, jangan ditambah dengan kualitas mahasiswa yang abal-abal yang hanya berputar dalam lingkaran hedonisme.

Penulis : Tuti Andriyani

Mahasiswa Unswagati Semester 6

FISIP

Dikti Rilis Peringkat Perguruan tinggi, Unswagati Peringkat 656

Tidak ada komentar

Jumat, 05 Februari 2016

Unswagati,Setaranews.com- Rabu 3 Februari 2016, Kemenristek Dikti (Kementrian riset, teknologi dan direktorat pendidikan tinggi) secara resmi mengumumkan peringkat universitas terbaru edisi 2015. Kemendikti dalam hal ini menilai Perguruan tinggi dari kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas Manajemen, Kualitas kegiatan mahasiswa serta kualitas penelitian dan publikasi.

Di urutan pertama Dikti merilis  Institut Teknologi Bandung yang bercokol dengan skor kumulatif 3,743 di susul dengan Universitas Gajah Mada dengan skor kumulatif 3,690 lalu di ikuti Institut Pertanian Bogor dengan skor kumulatif 3,490. Universitas Indonesia ada di posisi empat dengan skor kumulatif 3,412 dan posisi lima di isi Institut Teknologi Surabaya yang mengumpulkan skor kumulatif 3,289. Lalu diperingkat berapakah Universitas Swadaya Gunung Jati?

Nyatanya Unswagati harus puas berada di posisi 656 dengan skor kumulatif 1,057. Jika di tilik dari masing-masing sub penilaian. Untuk kualitas SDM Unswagati mendapat nilai 1,69. Kualitas manajemen Unswagati diberi nilai 1.5. Kualitas penelitian dan publikasi mendapat nilai 0.3. Serta Unswagati di hadiahi nilai 0 untuk kualitas kegiatan mahasiswa.

Dari rilis peringkat diatas, ternyata di wilayah tiga Cirebon Unswagati tak lagi menjadi perguruan tinggi paling unggul. Sebab, setidaknya ada tiga Perguruan tinggi di wilayah Tiga Cirebon lain yang menduduki peringkat lebih tinggi dari Unswagati. Perguruan tinggi tersebut adalah Akademi Kebidanan Muhamadiyah Cirebon di posisi 292, Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon di posisi 305 dan Universitas Muhamadiyah Cirebon di posisi 517.

Kemendikti total menilai 3320 perguruan tinggi di Indonesia  baik negeri maupun swasta. Bersama SK menteri, peringkat ini di rilis di web kemendikti

Cirebon Bukan Kota Tilang

Tidak ada komentar
Opini-setaranews.com Akhir akhir ini media sosial di riuhkan dengan tagar Cirebon Kota Tilang. Kota yang sebelumnya dikenal sebagai kota udang ini tiba-tiba jadi sorotan publik. Hal ini terjadi lantaran tagar Cirebon Kota Tilang merangsek menjadi salah satu topik perbincangan yang betul betul marak di perbincangkan di modial sosial. Hal ini tentu menjadi pro kontra di kalangan publik. Termasuk publik Cirebon sendiri.

Sebetulnya ramai tagar Cirebon Kota Tilang ini dimunculkan oleh para pendatang yang kebetulan melintas kota udang ini, dan apesnya para pendatang ini menemui razia polisi yang banyak orang bilang ‘tidak wajar’. Loh kenapa tidak wajar? Sejumlah tagar di media sosial seperti twitter dan instagram menyebutkan bahwa, ada masyarakat  yang kena tilang lantaran platnya bernomer luar Cirebon, ada yang kena tilang sebab menaruh tas diantara kaki di motor matic. Ada juga yang kena tilang lantara menggendong tas dengan berat 4 kilo. Ada lagi yang karena barang bawaanya di ikat di jok bagian belakang lalu kena tilang. Dan sederet kasus lain yang membuat banyak netizen tergelitik.

Nah, ramainya tagar kota tilang kemudian sedikit banyak mengapungkan nama Cirebon ke permukaan. Banyak orang yang kemudian bertanya apa betul sebegitunya polisi di Cirebon? Sampai tutup pentil yang tidak ada atau karena tengok kanan kiri saat lampu merah dianggap kesalahan lalu lintas?

Sejumlah pertanyaan ini yang akhirnya harus di jawab segenap jajaran kepolisian di Cirebon entah Kota maupun Kabupaten. Atau mungkin Satlantas polres Cirebon Kota dan Kabupaten yang harus benar-benar mengklarifikasi. Apa sudah benar dan sesuai perundang-undangan kah yang dilakukan oknum polisi tersebut? Atau memang itu sebuah tindakan yang salah, yang dilakukan si oknum untuk menambah uang rokok?

Seperti yang penulis ungkapkan diatas, ketika tagar Cirebon Kota Tilang mencuat, polemik antara yang pro dan kontra pun juga ikut melambung, sebagian yang kontra beralasan, bahwa  terlalu jahat jika hanya karena oknum polisi yang menilang dengan konyol membuat satu kota di cap sebagai kota yang identik dengan tilang. Padahal sejak dari dulu Cirebon sudah kadung diketahui publik se-Indonesia dengan julukan Kota Udang ataupun Kota Wali, masyarakat Cirebon  sedari dulu juga sangat akrab dengan sebutan Cirebon Kota Berintan. Jangan hanya karena segelintir oknum membuat image yang sudah di bangun ini hilang begitu saja, berganti dengan julukan yang negatif.

Sedangkan yang pro degan tagar tersebut biasanya datang dari para korban yang punya pengalaman ‘dikerjai’ oleh oknum-oknum polisi tersebut. Mereka yang pro sampai membuat meme yang akhirnya meramaikan tagar Cirebon Kota Tilang.

Melihat ini penulis rasa ada sesuatu yang bagus dalam dinamika kebabsan berpendapat di masyarakat. Sebelum ini penulis tahu betul bagaimana banyak sekali orang terutama masyarakat Cirebon yang ingin menggaris bawahi kinerja kepolisian dalam hal razia kendaraan. Ini terbukti dengan besarnya arus di media sosial yang seakan ingin menunjukan bahwa banyak orang yang prihatin dengan situasi Cirebon saat ini.

Begini, penulis sebagai wagra Cirebon tahu betul di setiap harinya ada saja razia entah itu resmi, gabungan atau terkait tema-tema tertentu yang ada di wilayah Cirebon baik kotamadya maupun kabupaten. Tidak salah memang menggelar razia semacam itu, namun yang penulis sesalkan adalah mengapa dibanyak razia justru menyebabkan kemacetan? Di daerah pegambiran Kota Cirebon misalnya, jika ada razia kendaraan di daerah itu dan itu dilakukan pada pagi hari, maka sudah hal lumrah jika ruas jalan pegambiran menjadi macet. Padahal itu terjadi di jam rawan, artinya di jam yang sedang ramai-ramainya dilewati anak sekolah dan para pegawai. Pada akhirnya timbulah pertanyaan dari penulis, bukan kah tugas Polantas salah satunya melerai kemacetan? Mengapa justru membuat kemacetan?

Beberapa pihak menyatakan bahwa banyaknya gelar operasi razia adaah sebuah bentuk antisipasi dari maraknya teror geng motor yang kerap terjadi beberapa waktu belakangan. Ada juga yang bilang sebab Cirebon tengah di sorot karena belakangan banyak pelaku terorisme yang berasal dari daerah paling barat di Jawa Barat tersebut. Jika memang alasanya begitu, penulis rasa geng motor selama ini lebih bertindak di malam hari, sedangkan razia biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. Ini berarti polisi dan geng motor tidak berjodoh, dan soal terorisme, penulis rasa pelaku terorisme tidak akan banyak bepergian, fakta yang didapat dimasyarakat juga demikian. Selama ini rata-rata terduga atau tersangka teroris di kenal di masyarakat sebagai orang yang tertutup. Jadi, penulis rasa dua hal diatas tidak terlalu kuat untuk jadi alasan maraknya razia, ingat masyarakat juga punya hak kenyamanan untuk berkendara. Penulis berani bertaruh sekalipun pengendara memiliki surat lengkap dan memenuhi tatacara berkendara yang benar, tetap saja tidak nyaman ketika harus diberentikan apalagi dengan intensitas yang sering.

Lalu yang membuat penulis tidak habis pikir adalah, mengapa orang yang menggendong tas seberat empat kiloditilang, menaruhnya di antara kaki juga ditilang, dan mengikatnya di jok motor belakang juga ditilang? Jika begitu berarti perundang-undagan kita tidak membolehkan seseorang membawa tas dengan posisi ditaruh dimana pun. Lalu bagaimana dengan tukang pos yang setiap hari membawa gembolan besar di jok belakang? Kena tilang juga kah?

Ini kita belum bicara soal polantas yang terkadang mahir bermain’petak umpet’ untuk kemudian tiba-tiba hadir di depan pelanggar. Belum bicara juga soal pos-pos polisi yang dibanyak sudut kota tidak berpenghuni. Atau kita juga belum bicara soal aksi suap yang pastinya selalu mewarnai operasi lalulintas. Bukan kah aksi suap atau istilah bapak polisinya ‘titip’ itu bukan lagi sebuah hal yang tabu untuk di bicarakan gamblang di masyarakat. Penulis yakin Kapolres, Kapolda sampai Kapolri pasti tahu soal ada oknum polantas yang kerap menjadi ‘tempat penitipan uang tilang’, lalu kenapa tidak di tindak padahal aksi ini sudah menjadi lumrah dimasyarakat. Jika tidak tahu, maka patut dipertanyakan ada tidaknya evaluasi di tubuh kepolisian kita. jika alasanya tidak ada laporan dari masyarakat, berarti kepolisian kita menunggu bola untuk sebuah penilaian terhadap instansi sendiri. pun kalau ada laporan penulis ragu apakah si oknum benar-benar ditindak atau tidak.

Penulis rasa semua ini memang tidak melulu salah sang penegak hukum. Pengguna jalan juga nakal. Masih banyak pengendara yang tak punya SIM dan STNK, banyak pula yang tak pakai helm sampai melawan arus. Ini tentu harus ditindak. Hanya saja yang ingin penulis tekankan disini adalah tindaklah pengendara sesuai perundang-undangan. Kita semua tidak tahu ada di pasal berapa tak punya tutup pentil adalah sebuah pelanggaran lalu lintas, kita juga tidak mengerti berapa berat maksimal barang yang boleh dbawa oleh pengendara sepeda motor. Itu artinya perlu ada edukasi semisal penyuluhan pada masyarakat agar paham dan kemudian patuh pada aturan lalu lintas. Karena dewasa ini banyak orang bisa berkendara tapi tak banyak yang bisa berlalulintas. penyuluhan juga dapat menjadi sebuah pencegahan tindak kekerasan yang dilakukan geng motor yang makin hari makin alay. Ini yang harus di galakan sekarang. Agar tidak ada lagi tagar-tagar yang bersifat negatif pada institusi kepolisian kita.

Akhirnya apakah tepat sebutan Cirebon Kota Tilang? Teman penulis pernah bercerita, ketika dirinya mudik dari Jakarta menuju Kabupaten Cirebon sepanjang jalan dirinya sama sekali tidak bertemu dengan operasi razia kendaraan bermotor. Hingga ia masuk Kabupaten Cirebon dari mulai masuk gapura selamat datang Kabupaten sampai berhenti di rumah, terhitung ada empat gelaran razia operasi kendaraan bermotor yang ia lintasi sepanjang Kabupaten dan Kota Cirebon! (Cirebon memiliki Kota dan Kabupaten. Kota Cirebon terletak di tengah-tengah Kabupaten Cirebon)

Dengan cerita dari teman penulis tadi, biar pembaca yang menyimpulkan bagaimana maraknya operasi razia di wilayah Cirebon. Penulis harap dengan maraknya tagar Ciebon Kota Tilang seharusnya bisa jadi bahan evaluasi untuk segenap instansi dan masyarakat agar pandangan masyarakat luar Cirebon menjadi kembali baik, Kota Bekasi ketika mendapat bully di media sosial beberapa waktu lalu kini mulai berbenah, Cirebon?

Jika semua sudah ter evaluasi dengan baik. Lalu ada perubahan yang nyata yang dirasakan oleh masyarakat Cirebon maupun luar Cirebon, barulah kita bisa bilang bahwa memang Cirebon bukan kota tilang.

 

Penulis Muhamad Wildan (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Tingkat empat Unswagati)

Ini Alasan Kenapa Jalan Terusan Pemuda Kerap Banjir

Tidak ada komentar

Kamis, 04 Februari 2016

Cirebon, Setaranews.com- Banjir yang kerap kali terjadi di jalan terusan pemuda bila hujan deras melanda wilayah Cirebon disebabkan karena ruang saluran air yang berada di bawah jalan by pass terlalu sempit dan perlu dilakukan pelebaran saluran air. Pemerintah Kota Cirebon telah mengupayakan untuk membenahi saluran air tersebut namun saat ini masih dalam proses perizinan kepada Pemerintah Pusat.

Menurut Tri Sunu, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Kota Cirebon, pelebaran saluran air di bawah jalan by pass menjadi agenda prioritas tahun ini, namun masih terkendala izin dari Pemerintah Pusat karena dana yang dibutuhkan sangat besar yaitu diperkirakan mencapai 1,5 miliar, “Crossing jalan by pass yang jadi masalah, crossing-nya kecil jadi harus diperbesar, cuma masalahnya diperizinan, tapi tahun ini lagi proses,” jelasnya.

Dana yang dianggarkan tersebut dibutuhkan untuk koordinasi dengan pihak yang terlibat dalam proyek ini, “Untuk renovasi butuh izin ke pusat untuk bongkar jalan, kaitannya banyak, dengan polisi, karena itu kan memutus jalan negara yang merupakan lintas perekonomian nasional makanya dibutuhkan dana yang besar untuk koordinasi yang panjang,” tambahnya.

Pembenahan ini sudah lama diupayakan namun selalu diundur karena proses perijinan yang lama sehingga menangani permasalahan di tempat yang lain terlebih dahulu, “Proses perizinan lama jadi mengurus yang lain dulu, kemarin menangani yang lebih prioritas dulu, menangani Perumnas, alhamdulillah sekarang Perumnas sudah aman,” ujarnya.

Selain terkait saluran air yang sempit, penyebab genangan air di jalan terusan pemuda yaitu sampah, kurangnya resapan air, dan penyempitan sungai akibat pembangunan.

 

Jika Terbukti, Dekan FE Bakal Tindak Tegas Oknum Pengawas yang Terima Suap

Tidak ada komentar

Rabu, 03 Februari 2016

Unswagati, Setaranews.com- Isu suap pengawas yang terjadi di Fakultas Ekonomi baru-baru ini membuat dekan ekonomi Ida Rosida angkat bicara, di temui di ruanganya Ida menuturkan bahwa baru tahu jika di fakultas yang ia pimpin ada kasus suap pengawas seperti itu.

“Ini saya juga baru tau ada kejadian seperti ini, saya terima kasih sekali ada yang kasih tau ini. nanti ini akan kami evaluasi” ungkap Dekan FE

Lebih lanjut dirinya ingin menelusuri lebih lanjut. Apakah kejadian ini melibatkan semua pengawas atau hanya oknum-oknum saja. dirinya juga ingin tahu sejak kapan praktek suap ini berlangsung.

“Tapi, saya kan mesti tau apakah kejadian sep[erti ini hanya di semester ini atau kah sudah sejak lama ada yang seperti ini” katanya

Ida menuturkan jika terbukti pihaknya akan menindak tegas oknum-oknum pengawas yang menerima suap ini. Dirinya akan memberhintak mereka yang terlibat.

“Kalau memang  terbukti akan kita berentikan sebagai pengawas” tegas Ida

Terakhir, Dekan FE juga ingin menuturkan bahwa dia percaya jika masih banyak pengawas-pengawas yang menjalankan amanah dengan baik. Sambil menyodorkan berita acara UTS Ia menunjukan laporan pengawas yang menulis peserta ujian yang mencontek.

“Tapi yang jelas mereka mereka yang mengawas dengan jujur ya tidak bakal kita berentikan, karena memang maksud dia ingin mengabdi ke fakultas” tandasnya

 

 

 

Dies Natalis PPMI Ke-23 Ajang Pers Mahasiswa Berhimpun Lawan Penindasan

Tidak ada komentar

Selasa, 02 Februari 2016

Semarang, Setaranews.com-Rangkaian acara dies natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang ke 23 tahun berakhir hari ini, Senin (1/2) dengan agenda fieldtrip Semarang.

Acara yang dihelat di Universitas Muhamadiyah Semarang ini dimulai pada Jumat (29/1) dengan agenda pembukaan acara dan diskusi bersama seputar kebebasan berekspresi di kalangan pers mahasiswa.

Hari berikutnya, Sabtu (30/1) acara dilanjut Seminar Nasional dengan tema "Pembungkaman Pers di Era Demokrasi" dan evaluasi PPMI kota dan nasional selama tiga bulan. Selanjutnya ada acara yang diisi dengan hiburan musik oleh peserta. ini merupakan kegiatan kedua setelah kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada pagi hingga sore.

Terdapat empat pelatihan pada pagi tadi yakni media, advokasi, investigasi dan journalism. Acara yang diikuti sebanyak kurang lebih 300 peserta dari seluruh Indonesia ini menumbuhkan harapan untuk para aktivis pers mahasiswa untuk bersatu melawan ketidakadilan, pengekangan dan pembungkaman yang terjadi kepada pers mahasiswa.

"Ini adalah ajang untuk berhimpun, berjejaring dan menyatukan kekuatan perlawanan untuk melawan segala penindasan yang terjadi contohnya pengekangan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat oleh mahasiswa dan khususnya pers mahasiswa. Selain itu wadah  ini kita sebagai pers selain mengawal isu dalam kampus juga mengawal isu-isu kerakyatan baik itu gerakan buruh, petani dan gerkan mahasiswa." Ujar Adlun salah satu peserta acara dari Ambon.

Wisata Kuliner : Sate Kalong

Tidak ada komentar

Senin, 01 Februari 2016

Cirebon, Setaranews.com- Siapa yang tidak kenal dengan istilah “sate kalong”, hampir semua orang mengetahui sate ini namun sebagian orang salah mengartikan karena kalong sendiri yang berarti hewan kelelawar sehingga orang-orang berfikir bahwa sate kalong adalah sate kelelawar padahal sate kalong merupakan daging kerbau. Dinamakan sate kalong karena berjualan sore hingga malam hari seperti kalong (red: kelelawar).

Seperti yang diungkapkan oleh Didi, penjual sate kalong, “Sebenarnya ini bukan dari kelelawar tapi karena bukanya dari sore sampai malam, jadi kaya kalong” ujarnya.

Sate kalong terdiri dari 2 rasa ada rasa manis dan asin. Rasa asin diperoleh menggunakan dengkil dan otot daging kerbau, sementara rasa manis diperoleh dengan menggunakan daging kerbau. Bumbu yang digunakan adalah campuran antara oncom dan kacang yang dipadukan dengan kuah kari dari dengkil kerbau. Sebelum dijadikan sate, baik sate kalong yang manis dan yang asin direbus selama dua jam sehingga tercipta sate kalong dengan tekstur yang empuk.

Harga yang terjangkau dengan lokasi penjualan yang strategis (red: pasar kanoman) membuat sate kalong ini cepat habis sebelum tengah malam, “Biasanya sih buka sekitar jam 17:00 sampai tengah malem, tapi kadang jam 19:00 juga udah habis” tutupnya.

LDK, Proker Terdekat BEM FE

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Kepengurusan BEM Fakultas Ekonomi tahun 2016 dimulai dengan diadakannya open recruitment yang saat ini baru sampai pada tahap seleksi yang tak lama lagi akan diumumkan, lalu dilanjutkan dengan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

Jamaludin selaku Gubernur BEM FE menjelaskan mengenai Proker (Program Kerja) dan memaparkan tentang visi misi yang kedepannya akan diambil untuk Proker, “Sebelum ke program kerja kami punya visi misi, visi kami yaitu untuk menciptakan banyaknya mahasiswa yang unggul dengan mengedepankan tri darma perguruan tinggi  jadi ada tiga item yang dominan, artinya menjadikan BEM FE yang unggul, mengedepankan tri darma perguruan tinggi dan pengabdian terhadap Fakultas Ekonomi dan disitu kami jabarkan  ke misi yang merupakan perwujudan dari visi kami" tuturnya.

"Adapun program kerja, karena program kerja kami berbasis perguruan tinggi seperti  pengabdian masyarakat, penelitian dan pendidikan, kami juga mengadakan program kerja yang mencangkup hal itu, contohnya seperti seminar-seminar nasional dan penelitian seperti saat ini di Cirebon sendiri banyak sekali pembangunan gedung seperti hotel dan dampaknya untuk masyarakat itu apa,” tambahnya.

Program kerja terdekat yang akan diadakan yaitu LDK yang akan dilaksanakan pada awal Februari. Sementara untuk Proker andalannya untuk saat ini adalah seminar nasional.

Jamaludin mengharapkan program kerja yang telah disusun dapat bermanfaat untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi.

Hal Biasa Banjir Depan Kampus III

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Setiap kali hujan deras turun, jalan terusan pemuda yang merupakan jalan depan Kampus III Unswagati selalu terjadi banjir yang cukup tinggi. Hal ini seperti sudah menjadi sesuatu yang biasa. Banjir yang ada bisa sampai menenggelamkan ban sepeda motor.

Menurut salah satu dosen prodi Bahasa Inggris yang ditemui pada Kamis (27/01) oleh Setaranews, “Namanya juga lagi musim hujan, bukan hanya banjir di jalan depan kampus saja kan,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai harapannya kepada Pemerintah beliau menyatakan, “Ya harapannya sih jangan sampai ada banjir, dulu pernah kalau banjir sampai motor engga kelihatan, itu banjir di depan fakultas kedokteran, tapi masalah banjir kan masalah pembangunan, kita mau protes juga ke pemerintah, engga bisa protes ke universitas," tutupnya.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews