Memberi Sumbangan pada Pengemis, Layak atau Tidak?

Tidak ada komentar

Minggu, 31 Januari 2016

Apa yang ada dipikiran Anda ketika melihat pengemis dan gelandangan dititik keramaian jalan raya? Apa yang Anda lakukan saat para pengemis berusaha meminta-minta beberapa rupiah dari saku Anda? Bagaimana perasaan Anda saat menatap pengemis tersebut? Apakah Anda akan langsung memberinya atau menghiraukannya?

Mendengar kata pengemis, yang terlintas dipikiran kita tidak lain adalah seorang fakir miskin, namun fakir miskin tidak semuanya pengemis dan gelandangan. Fakir miskin disini maksudnya seorang yang luar biasa tidak mampu baik fisik maupun materi apalagi pendidikan, tidak berpenghasilan, serta tak cukup memiliki tempat tinggal. Sebagian besar pengemis dan gelandangan mereka hanya tinggal beralaskan tanah dan beratapkan langit. Dibawah kolong jembatan atau didepan emperan toko saat malam dan terkadang hidup mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sambil terus mengemis menyusuri jalan. Pengemis sering sekali mudah kita temui di pasar, rumah ibadah, sekolah, kampus, tempat wisata, terminal, sepanjang jalan lampu lalu lintas, terutama di pusat keramaian. Usia pengemis pun beragam, mulai dari anak kecil sampai lanjut usia yang sudah tua renta, bahkan anak bayi pun sering diajak orang tuanya saat mengemis, sebagai modus untuk mengharap belas kasihan, selain itu kekurangan fisik yang cacat juga sering dijadikan tameng agar diberi sumbangan berupa uang. Terkadang seorang yang mempunyai fisik sehat bugar, usia produktif tak malu untuk mengemis di jalanan. Alasan mereka mengemis agar dapat menyambung hidup mereka juga memenuhi kebutuhan, bisa dikatakan orang yang mengemis yang sering kita lihat merupakan orang yang perlu dibantu.

Namun bagaimana jadinya apabila pengemis ini malah dijadikan sebuah profesi? Lebih parah lagi dijadikan sebuah bisnis baru yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung-jawab. Masih layak kah mereka diberi sumbangan? Dewasa ini banyak sekali berita yang mengabarkan mengenai modus penipuan sebagai pengemis. Memang, memberi sumbangan pada seorang yang membutuhkan merupakan sebuah kebaikan, lebih baik tangan diatas daripada dibawah. Tapi bagaimana jadinya apabila kita memberi kebaikan pada pengemis yang justru menipu kita? Dizaman sekarang untuk dapat bertahan hidup tidak lah mudah, sulitnya mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan menjadi alasan untuk berprofesi sebagai pengemis ditengah masyarakat yang kompleks. Namun menjadi pengemis juga disebabkan mental rapuh karena malas dan lebih enak meminta-minta. Seorang yang dengan sengaja berprofesi sebagai pengemis nyatanya mereka bukanlah fakir miskin, mereka memiliki rumah layak huni. Bahkan ada disuatu desa masih di pulau Jawa, desa tersebut terkenal dengan sebutan ‘Desa Pengemis’. Karena sebagian besar penduduk disana tiap keluarga berprofesi pengemis, biasanya mereka berangkat dari desa saat pagi dan mengemis di keramaian sudut kota hingga malam lalu kembali ke desa. Profesi pengemis dianggap sebuah pekerjaan karena penghasilan dari mengemis kadang sangat mencukupi, mereka tidak perlu capek bekerja keras tapi mendapatkan uang yang relatif banyak.

Lebih ironisnya lagi pengemis selain dijadikan sebuah profesi, bahkan dijadikan lahan bisnis. Banyak oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan anak-anak jalanan yang masih kecil menyuruh mereka untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari hasil mengemis, kemudian uang tersebut diserahkan pada boss mereka yang nantinya akan dibagi hasil. Mereka dipaksa melakukan itu tiap hari kalau tidak akan diancam.

Lalu bagaimana peran pemerintah? Bagaimana dengan pasal 34 ayat 1 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”? Apakah sejauh ini mereka sudah cukup baik mengatasi permasalahan tersebut? Ada baiknya dalam hal ini pemerintah berperan aktif mencari solusi mengatasi pengemis dan gelandangan ini. Bukan hanya menangkap mereka di jalanan lalu menggiringnya ke panti sosial, tetapi juga memberikan pendidikan pada mereka agar berhenti mengemis, dan mengajarkan keterampilan agar setelah mereka keluar memiliki skill yang nantinya bisa bermanfaat entah sebagai pekerja atau berwirausaha.

Banyak yang berpendapat bahwa sebaiknya kita tak usah memberi sumbangan pada pengemis, karena itu akan semakin memanjakan mental mereka. Seharusnya mereka berupaya mencari nafkah bukan dengan mengemis. Setelah tahu bahwa banyak modus penipuan pengemis, tapi tak bisa membedakan mana pengemis sungguhan dan yang tidak. Kita juga harus cerdas mengamati agar tidak menjadi korban modus, semakin kita sering memanjakan mereka dengan memberi uang akan semakin banyak pengemis berkeliaran. Sebenarnya ada cara lain untuk kita bisa beramal, tak hanya memberi sumbangan pada pengemis. Bisa saja melakukan kebaikan pada orang terdekat terlebih dahulu. Atau memberi santunan pada yang terkena musibah.

Namun disisi lain masih banyak pengemis yang benar-benar tidak berdaya yang sangat butuh uluran tangan dan bantuan kita. Terkadang disinilah dilema kita sedang diuji. Apakah kita akan memberinya atau tidak. Lalu apakah masih layak memberi sumbangan pada pengemis?

 

Oleh :

REIVA NOVIANTI

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unswagati - Semester 7

Suap Pengawas, BEM FE Bakal Lapor Ke Jurusan

Tidak ada komentar

Sabtu, 30 Januari 2016

Unswagati, setaranews.com - Isu mengenai Penyuapan pengawas ujian oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, baik pada ujian tengah semester maupun ujian akhir semester mendapat tanggapan dari Jamaludin selaku gubernur BEM FE.

Ia mengatakan baru mendengar isu tersebut, tetapi BEM FE  selalu terbuka untuk mahasiswa FE jika ingin menyampaikan keluh kesahnya serta aspirasinya mengenai perkuliahan dan segala hal yang menyangkut didalamnya.

"Kami sendiri belum mendapat keluhan ataupun aspirasi dari mahasiswa ekonomi tentang penyuapan kepada pengawas, tanggapan kami jika memang benar terjadi maka kami akan mengambil tindakan dengan melapor ke jurusan agar di tindak lanjuti persoalan itu" ujar Jamaludin pada kamis (28/1).

Jamaludin pun menambahkan bahwa harapannya setiap pelaksanaan ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester pengawasnya dari pihak dosen, “berharap pengawasnya dari pihak dosen, walaupun tidak dipungkiri memang agak susah untuk diwujudkan karena kurang sebanding antara jumlah mahasiswa fakultas ekonomi dengan dosen yang ada.” Ucapnya saat ditemui setaranews.com

Puisi : Vandalisme

Tidak ada komentar
Oleh : AdrianN

Kemana rumput-rumput basah?

Kemana embun-embun pergi?

Kemana para petani di sawah?

Kemana tanah-tanah suburku di gali?

 

Vandalisme terhadap alam menggila

Pohonku ditelan gedung serbaguna

Kota ku dihiasi beton-beton raksasa

Tempat bermain ku dirampas setan istana

 

Ini aku yang berpikir dengan nurani

Merasakan dengan kepala

Atas nama diriku sendiri, aku ingin semuanya kembali

tapi atas nama pembangunan semuanya percuma

Belum Ada Laporan, WR I Belum Bisa Tanggapi Kasus Suap Pengawas

Tidak ada komentar

Jumat, 29 Januari 2016

Cirebon, Setaranews.com – Terkait dengan adanya aksi suap oleh mahasiswa fakultas ekonomi terhadap pengawas ujian. Wakil rektor I selaku bidang akademik belum bisa memberikan taanggapan, karena belum adanya laporan dari fakultas ekonomi sendiri.

“Kebetulan saya belum dapat laporan ya, itu harus ada laporan dari fakults ekonomi secara tertulis, baru saya bisa menanggapi. Jadi kalau saya belum tau beritanya tiba-tiba saya menanggapi darimana saya menanggapi” ujar alfandi saat ditemui diruangannya (28/01)

Belum adanya laporan yang masuk ke bagian akademik membuat Alfandi belum bisa berkomentar, akan tetapi Alfandi baru bisa memberikan gambaran secara umum.

“Secara umum saja, seandainya ada yang demikian sudah melanggar kode etik baik sebagai dosen, kalau dia sebagai pengawas bukan sebagai dosen, nah kan ada pengawas bukan dosen sebagai karyawan dia melaggar kode etik sebagai karyawan unswagati” ujarnya

Meski begitu Alfandi mengatakan jika yang namanya penyuapan tidak wajar Pihaknya pun tak bisa berandai-andai, karena ingin mengetahui terlebih dahulu laporan dari fakultas ekonomi.

“Saya tidak bisa berandai-andai dulu lah, saya ingin mengetahui dulu bagaimana laporan.Melihat dulu laporannya bagaimana kronologisny siapa dan sebagainya gituloh” tambahnya

SK Blacklist Pengurus BEM-U Tahun Lalu Tak Kunjung Turun

Tidak ada komentar
Pada pergantian kepengurusan BEM dan DPM Unswagati tahun 2015 ke 2016 terjadi pem-blacklist-an, namun hal tersebut masih terkendala karena belum beredarnya surat dari Wakil Rektor III.

Taufiq Kurrahman selaku presidium I membenarkan adanya hal tersebut saat ditemui pada Selasa (26/1).  Semua berawal dari BEM dan DPM yang tidak bisa melaksanakan Pemilu Raya dan LPJ tahun 2015, hingga akhirnya dibentuklah Presidium. Tugas presidium ada tiga yaitu meminta LPJ, melaksakan mabim dan Pemira. Dari ketiga tugas tersebut, terkendala pada LPJ BEM dan DPM.

"Kita sudah meminta beberapa kali cuma tetap mereka tidak mau LPJ lalu masalah ini diforumkan bersama Ormawa, disitu keputusanya adalah memberikan satu kesempatan lagi kepada BEM dan DPM untuk melaksanakan LPJ, ketika poin satunya tidak terlaksana maka intinya adalah pem-blacklist-an,” tuturnya.

Pem-blacklist-an berlaku untuk semua pengurus, mulai dari SK pertama sampai SK terakhir tidak boleh mengikuti organisasi lagi selama masih berkuliah di Unswagati. Pem-blacklist-an berdasarkan kesepakatan bersama Ormawa akibat tidak ada niat baik untuk menyelesaikan LPJ.

Pihak presidium sudah berusaha dengan berbagai macam cara menagih dan menyampaikan surat tersebut kepada Wakil Rektor III yang nantinya akan di sebar, namun sampai saat ini surat tersebut tak kunjung turun. Presidium sendiri masih menyimpan arsip surat pem-blacklist-an tersebut.

Borang Akreditasi Rampung Tahun Ini

Tidak ada komentar

Kamis, 28 Januari 2016

Unswagati, SetaraNews.com – Target yang belum tercapai pada tahun 2015 seperti penyerahan borang akreditasi Institut Perguruan Tinggi (IPT) dan renovasi gedung kampus satu Unswagati dipastikan selesai pada bulan – bulan awal tahun 2016 ini akan rampung.

Seperti yang diungkapkan oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Dr. H. Mukarto Siswoyo, M.SI kedua program tersebut akan rampung pada tahun 2016. Menurutnya, untuk akreditasi apabila dipaksakan dan hasil tidak memuaskan maka tidak akan sesuai harapan.

“Mundur itu lebih baik daripada menyerahkan borang akreditasi dipaksakan apa adanya lalu kemudian kita mendapatkan peringkat yang tidak sesuai harapan,”, ujarnya kepada setaranews, Senin (25/01).

Lebih lanjut Ia mengungkapkan, Target Unswagati pada tahun 2016 yaitu terselesaikannya borang akreditasi IPT dan proyek pembangunan gedung kampus satu yang direnovasi selesai dalam beberapa bulan kedepan. Selain itu, Mukarto menyatakan bahwa sarana dan prasarana harus dilengkapi.

“Banyak mengalami kendala dalam berbagai hal, sebagian sudah tercapai dan sebagian belum tercapai. 2016 di pastikan selesai, tentunya perbaikan sarana dan prasarana pun akan diutamakan.” Ungkapnya. (HSB)

 

SK Pengurus Turun, BEM Unswagati Berharap Lebih Baik

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Pada Rabu (27/1) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas menyebarkan Surat Keputusan (SK) Presiden BEM Unswagati.

Inilah beberapa susunan pengurus BEM Universitas Swadaya Gunung Jati sesuai Nomor: SKEP/001/BEM-U/XI/2015 tentang Pengangkatan Sekertaris Kabinet, Sekertaris Umum, Bendahara Umum dan Menteri dalam Kabinet Pahlawan BEM Unswagati Masa Bakti 2015-2016.

Melalui surat yang ditetapkan pada 10 November 2015:

1. Yogi Pangestu, prodi Ilmu Hukum sebagai Sekertaris Kabinet

2. Firdayanti Agustin, prodi Ilmu Komunikasi sebagai Sekertaris Umum

3. Arina Listiyani, prodi Akuntansi sebagai Bendahara Umum

4. Hasan Basri, prodi Ilmu Hukum sebagai Menteri Koordinasi Internal

5. Fiqri Taufik, prodi Pendidikan Bahasa Inggris sebagai Menteri Koordinasi Eksternal

6. Ade Fitri Awaliyah, prodi Manajemen sebagai Menteri Ekonomi

7. Angga Triana Dwi P, prodi Manajemen sebagai Menteri Olahraga, Seni dan Budaya

8. Deni Dwianto, prodi Ilmu Komunikasi sebagai Menteri Sosial Masyarakat

9. Lia Dahlia, prodi Pendidikan Bahasa Inggris sebagai Menteri Pendidikan

10. Rizky Trisnika, prodi Ilmu Hukum sebagai Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa

11. Riski Surazat N., prodi Manajemen sebagai Menteri Teknologi, Komunikasi dan Informasi

 

Sedangkan Surat Keputusan Ketua BEM-U, Nomor: 002/SKTP/BEM-U/XI/2015 yang ditetapkan pada tanggal 22 Desember 2015 tentang Pengangkatan Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon Masa Bakti 2015/2016:

  1. Raka Achmad Fauzan, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Menkominfo

  2. Egi Arfiani Gunawan, Fakultas Hukum sebagai Staff Menkominfo

  3. Mohammad Faisal, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Menkominfo

  4. Kartika Dwi Ningtyas, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkominfo

  5. Humaedi Yahya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkominfo

  6. Neng Sela Jatri, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Advokasi

  7. Tika Rosita, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Advokasi

  8. Hanif Maulana, Fakultas Hukum sebagai Staff Advokasi

  9. Anton Gilang Prakasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff  Advokasi

  10. Nazmudin, Fakultas Hukum sebagai Staff Advokasi

  11. Awwaliya Fajrin Yang, Fakultas Ekonomi sebagai Staff  Pendidikan

  12. Rizky Nugraha Kusnadi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff  Pendidikan

  13. Sahrial Fauzian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff  Pendidikan

  14. Melsa Farensi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff  Pendidikan

  15. Sena Okta Suherman, Fakultas Hukum sebagai Staff Menorsenbud

  16. Muhammad Iqbal L, Fakultas Hukum sebagai Staff Menorsenbud

  17. Muhammad Aji M, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Menorsenbud

  18. Ahmad Manarul Huda, FISIP sebagai Staff Menorsenbud

  19. Lisa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menorsenbud

  20. Putri Rahmatika, FISIP sebagai Staff Sosmas

  21. Ana Agustina Silviana, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Sosmas

  22. Pandu Cahya Ramadhan, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Sosmas

  23. Shelvy Nujuliani, Fakultas Hukum sebagai Staff Sosmas

  24. M. Fahmi, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Sosmas

  25. Andini Ismayasari, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Menkorin

  26. Tria Nugroho, Fakultas Hukum sebagai Menkorin

  27. Anggie Dea Anggraeni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkorin

  28. Ficky Faturrachman, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Menkorin

  29. Muhammad Sabiq Arief, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkorek

  30. Rafi Jalaludin Fadilah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkorek

  31. Sadam Sugiarto, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Menkorek

  32. Khotman Dhua, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkorek

  33. Ence Muhamad Sodikin, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Menkorek

  34. Siti Maemunah Afriani, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Ekonomi

  35. Muhamad Fajar Yanuar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Ekonomi

  36. Dwiky Subandi, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Ekonomi

  37. Angga Vidia, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Ekonomi

  38. Zaenal Mutakin, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Ekonomi

  39. Gina Sakinah Permata Sari, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Sekjen

  40. Uvi Iftinaeni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai Staff Seskab

  41. Fikriyyah, Fakultas Ekonomi sebagai Staff Bendahara


 

Ketika ditanya mengenai harapan BEM Unswagati kedepannya Presiden Mahasiswa, Ahmad Ihsan Amala berujar, "Sederhana saja, saya berharap di 2016 ini BEM UNSWAGATI semakin menginspirasi, semakin keren dalam berkarya dan lebih luas menabar kebermanfaatan”.

Agar Leluasa Nyontek, Mahasiswa FE Ramai-Ramai Suap Pengawas

Tidak ada komentar

Rabu, 27 Januari 2016

Unswagati-Setaranews.com, Penyuapan pengawas ujian oleh mahasiswa kerap terjadi di Fakultas Ekonomi, baik pada ujian tengah semester maupun ujian akhir semester.diakui oleh salah seorang mahasiswi jurusan akuntansi yang enggan disebutkan namanya ini bahwa pada ujian akhir semester akhir tahun lalu, ia dan teman teman sekelasnya membayar pengawas agar bisa leluasa dalam ujian.

“sempet pernah ngebayar sih cuma sekarang udah engga karena ada pertentangan di kelas yang pro dan kontra jadi agar tidak menimbulkan perpecahan kita udah ga bayar lagi” ujarnya

Praktik ini sendiri sudah berlangsung lama dan berjalan dari mulut ke mulut. Pengawas yang dibayar biasanya merupakan mahasiswa tingkat akhir yang sudah lulus dengan bayaran per mahasiswa mencapai Rp. 3000 sampai Rp. 5000 setiap mata kuliah

“waktu itu pengawsnya temen sih dia udah lulus dan sekarang udah kerja” tutur mahasiswa yang juga engggan disebutkan namanya.

Selain dengan nominal uang, ada pengawas yang meminta hal lain seperti kopi starbucks dan pulsa.

“waktu UAS semester dua pernah ada yang nawarin sih. Dia mintanya dibeliin starbucks sama pulsa lima puluh ribu rupia, tapi setelah musyawarah kelas akhirmya ga jadi karena kemahalan “ ujar M mahasiswa ekonomi yang kini menempuh semester empat.

Pengawas bayaran ini biasanya merupakan teman atau kenalan mahasiswa. Sampai UAS kemarin praktik ini nampaknya masih berlangsung.

Meriah, ADP Prodi Bahasa Inggris Sukses Besar

Tidak ada komentar
Unswagati-Setaranews.com, Prodi pendidikan bahasa inggris kembali mengadakan Annual Drama Performance (ADP). Tahun ini acara yang bertajuk, “Let’s Shake The World With Our Local Wisdom” ini menampilkan beberapa cerita tradisional diantaranya Roro Jonggrang, Keong Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Ande – Ande Lumut dan The Lost Princess, Sangkuriang, Jaka Tarub dan 7 Angels. ADP ini merupakan aktualisasi dari mata kuliah Drama khusus untuk tingkat 3. Acara yang berlangsung selama dua hari dari tanggal 20-21 Januari 2016 ini menampilkan drama dari 6 kelas dengan waktu setiap penampilan selama 100 menit. Dalam acara ini ada dukungan financial dari pihak prodi, fakultas dan sumbangan dari masing-masing kelas di tingkat 3. Dukungan lain pun datang dari salah satu channel tv lokal dan tabloid.

Erlin pemenang the best favourite actress mengungkapkan kebanggaannya, “bangga, karena latihan selama satu bulan terbayar dengan totalitas dan segala kekurangan alhamdulillah bisa tertutupi dengan adanya teamwork”, ujar mahasiswi tingkat 3 kelas KL ini.

“Ada harapan semoga tahun depan bisa difasilitasi dengan tempat yang lebih besar dan nyaman, karena keadaan yang panas. Acara ini juga bisa dijadikan project unggulan, yaa wadahnya ada di sini”, ujar Lisa sebagai ketua pelaksana.

Ketika ditemui di akhir acara ketua umum English Student Association (ESA) periode 2015/2016 juga mengungkapkan tentang kebanggaannya terhadap penyelenggaraan ADP tahun ini.” Luar biasa, kerjasama antar panitia dan prodi, tingkat 3 berani mandiri, alhamdulillah bias ng-press dana sekitar 10 jutaan. Dukungan prodi dan panitia ESA tahun sekarang keren banget. Alhamdulillah semua undangan yang terdiri dari dekan, wakil dekan dan para wali dosen juga hadir semua”. (21/1)

Rencana Proker HMJ-M Sudah Ada

Tidak ada komentar

Senin, 25 Januari 2016

Unswagati, Setaranews.com- Ketua umum HMJ-M (Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen) Universitas Swadaya Gunung Jati telah membuat beberapa rencana program kerja (Proker) untuk kepengurusan satu tahun kedepan, tetapi proker tersebut belum bisa dipublikasikan karena HMJ-M belum melaksanakan rapat umum anggota.

“Proker bisa dipublikasikan mungkin seminggu setelah UAS berakhir dan setelah rapat umum pengurus,” ujar Muhammad Rical Abuzar selaku Ketua HMJ Manajemen saat ditemui Setaranews pada Sabtu (23/01).

“Saya sudah punya planning program kerja untuk kepengurusan satu tahun kedepan, tetapi rencana tersebut harus dirapatkan dengan anggota HMJ-M yang lain” tutupnya.

Pendaftaran BEM-FP Diundur

Tidak ada komentar

Unswagati, Setaranews.com- Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) Fakultas Pertanian menunda agenda pendaftaran bagi calon Gubernur dan Wakil Gubernur BEM-FP dikarenakan adanya kendala internal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, serta kurangnya proses sosialisasi juga respon dari mahasiswa Fakultas Pertaniannya itu sendiri.


"Pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur BEM-FP diundur , kemungkinan akan dilaksanakan bulan depan, kami membuka untuk calon ketuanya dulu, baru setelah itu open recruitment untuk pengurusnya," ujar Yanti damayanti selaku Sekertaris PPUM saat ditemui Setaranews pada Jumat (22/1).


Seluruh mahasiswa Fakultas Pertanian dari tingkat dua ke atas dapat berpartisipasi untuk mencalonkan diri sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur BEM-FP. Adapun tahapan yang harus diikuti yaitu mulai dari : pendaftaran, verifikasi, penetapan calon, debat kandidat, kampanye, lalu pemilihan umum.


"Harapanya semoga yang terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur BEM-FP dapat menjalankan kepemimpinannya," tutupnya.

Jalan Terusan Pemuda Sering Banjir, Ini Kata Mahasiswa Kampus III

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com- Setiap kali hujan besar yang mengguyur Kota Cirebon dan sekitarnya menyebabkan jalanan tergenang air, tak terkecuali Jalan Pemuda di depan Kampus III Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). Hal ini menjadikan arus lalu lintas terganggu.

Menurut mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum Unswagati yang biasa melakukan rutinitas perkuliahan di Kampus III, Umam (20), membenarkan hal tersebut, "Iya memang kalo hujan suka banjir," ungkapnya pada Sabtu (23/1).

Menurutnya, jika terjadi banjir kedalamannya bisa sampai kurang lebih selutut kaki orang dewasa, "Tapi, tidak sampai masuk area kampus, cuma di jalan depannya aja," lanjutnya.

Saat ditanya mengenai keluhannya saat terjadi banjir di jalan depan Kampus III Unswagati, ia menjawab, "Kalo banjir terus diterjang, airnya bisa masuk ke mesin, kasihan motornya mogok," tambahnya.

Terakhir, ia juga berharap agar Pemerintah Kota Cirebon tidak menutup mata dalam masalah banjir di Jalan Pemuda depan Kampus III Unswagati yang setiap tahunnya saat musim hujan datang terkena banjir.

Belum jelas, Pemkot Enggan Konfirmasi Soal Penegrian Unswagati

Tidak ada komentar

Sabtu, 23 Januari 2016

Cirebon, Setara News.com- Konfirmasi langsung dari pihak Pemkot Cirebon terkait gelontoran dana dari Pemprov untuk pengadaan tanah penegiran Unswagati masih belum jelas.Tiem dari setaranews sempat mendatangi Pemkot namun masih belum ada keterangan yang pasti dari pihak Pemkot.

Dikatakan oleh salah seorang Staf Humas Pemkot yang enggan disebutkan namanya, bahwa walikota sedang sibuk dan banyak urusan kepemerintahan. Jadi, terkait anggaran dari provinsi untuk pengadaan lahan penegrian unswagati, beliau belum bisa menanggapinya.

“Ada kegiatan, beliau sedang sibuk, jadi gak bisa memberikan konfirmasi. Saya sih pernah dengar emang pernah ada dana bantuan dari Pemprov untuk pengadaan tanah,” ucapnya kepada setaranews, selasa,(19/01).

Tim Pers Setara unswagati pada 14/1 mengunjungi ke Balai kota Cirebon ingin bertemu dengan Kepala Bagian Humas pemkot tapi sayang tim pers setaranews.com tidak bisa menemui  beliau karena pada saat yang sama Presiden Republik Indonesia sedang mengunjungi kota Cirebon dan selurih kepala dinas yang berada di pemkot mengikutin pertemuan dengan presiden.

Lebih lanjut, ketika ingin mengkonfirmasi kepada Kabag Humas pun sama, nihil hasilnya. Ketika ingin mempertanyakan terkait kabar burung yang beredar bahwa Pemprov pernah memberikan sumbangan untuk pengadaan tanah penegrian Unswagati.

“Pak humas sedang ke luar kota,” ucapnya singkat.

 

Reporter: Wido, Silvia, Ananda

Editor: Epri Fahmi Aziz

Jangan Lupa Bahagia

Tidak ada komentar
 

Laksana  tetes embun dipagi hari

Merangkak tinggi melenyapkan diri disambut matahari

(L)Awan pekat hitam menyambut setiap kali

Meneteskan  air kembali, seraya tak boleh untuk menghampiri

 

Masa melewati masa menusuk asa

Untaian kata - kata lewat begitu saja

Tanpa rasa ataupun hembusan angin surga

Hanya ada tumpukan luka dan air mata

 

Bila ada cahaya tiba untuk menjupa

Setidaknya hanya untuk menyapa

Bawalah secercah harapan tiba

Sayang, Aku bukan manusia sempurna

 

Bagaikan bulan terlihat sempurna

Tak ubahnya dengan sebuah fatamorgana

Begitupun cinta manusia mudah dipercaya

Tak jarang  berubah menjadi pelipur lara

 

Bukan keindahan rupa kurasa

Bukan keagungan harta pula

Bukan jua kenikmatan sensasional pesona

Bukan, itu bukan arti sebuah makna

 

Sayang, Cinta  tak pernah salah

Hanya saja kita sering mempermasalahkannya

Seperti itulah. Bak Pohon kaktus digurun sahara

Hamparan padang pasir pun bisa bersahajah dengannya

 

Sayang, cinta memang tak harus memiliki

Tapi Aku ingin memilikimu cinta.

Sayangnya hinga kini ataupun nanti

Tetap saja Aku masih lupa.

 

Lupa. Bagaimana rasanya mencinta.

Lupa. Bagaimana caranya merasa.

Lupa. Bagiamana kerasnya diterpa asa

Lupa. Bagaimana angkuhnya kata-kata

 

Kalau ada rindu atau sesal lupakan saja

Satuhal yang ingin Aku utarakan

Sayang, jangan lupa bahagia

Karna untuk Itu kita diciptakan

 

Epri Fahmi Aziz

Sebuah coretan dipagi hari (Cirebon, 23 Februari 2016)

 

 

HMS Gelar Makrab untuk Mengompakan Solidaritas Anggotanya

Tidak ada komentar

Kamis, 21 Januari 2016

Unswagati Cirebon, setaranews.com -  Himpunan Mahasiswa  Teknik Sipil (HMS) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon  mengadakan malam keakraban atau biasa disebut Makrab yang diikuti oleh anggota HMS. Anggota yang mengikuti kegiatan ini pun terdiri dari pengurus dan anggota baru yang bergabung kedalam HMS. Acara makrab ini dilaksanakan selama dua hari yaitu tepatnya  pada tanggal 16-17 Januari 2016 di kampus satu Unswagati.

Dikatakan oleh M. Faisal selaku Ketua Pelaksana, makrab tersebut merupakan kegiatan perkenalan sekaligus pengakraban sesama anggota dan pengurus di lingkungan HMS. Kata dia, dalam acara puncak tersebut pihaknya menggelar malam keakraban yang dihadiri juga oleh alumni - alumni dari HMS itu sendiri.

"Ini merupakan kegiatan untuk perkenalan dan pengakraban kepada anggota baru khususnya dan pengurus pada umunya. Acara ini kami selanggarakan selama dua hari," ujarnya ketika di pintai keterangan oleh setaranews, Sabtu (16./01).

Lebih lanjut Faisal menuturkan, dalam kegiatan makrab kali ini pun digelar pula reseprsi penyematan syal kepada anggota baru sebagai tanda bahwa mereka telah lolos seleksi dan diterima sebagai anggota keluarga dari HMS.

“Ya dengan adanya acara ini kami berharap semoga HMS bisa lebih meningkatkan perannya, kemudian bisa lebih baik kedepannya, tentunya yang paling utama yaitu anggotanya agar lebih kompak.” Tuturnya kepada setaranews.

 

Reporter: Anisa Arwila dan Dinda Ayu Lestari

Editor: Epri Fahmi Aziz

Biarkan Aku

Tidak ada komentar

Rabu, 20 Januari 2016

Bagai magnet dalam pusaran angin
Seberapapun kuatnya rintangan
Harus tetap ku gapai
Seperti senja di sore hari
Sesingkat apapun waktunya
Tapi biarlah.. karena aku kan tetap memukau
Sebebas burung di udara
Ku kepakkan sayap, terbang menembus cakrawala
Menembus batas mimpi, tanpa kekanganmu

Jangan lagi paksa aku mengikutimu
Aku bukan bagian darimu
Biarkan aku meraihnya
Bebaskan aku untuk bermimpi
Karena aku bukanlah kamu
Ya! Kamu yang meringkuk di bawah selimut
Lalu terhempas pada untaian kabut
Karena kamu tak ubahnya seorang pengecut.

 

Oleh: Anisa Arwila

Fakultas Ekonomi Unswagati

SD Sampai Mahasiswa Ikuti Olimpiade Matematika Unswagati

Tidak ada komentar
Unswagati, setaranews.com – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himaptika) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon mengadakan Gebyar Matematika pada 17 – 26 Januari 2015.

Acara ini terdiri dari olimpiade matematika dan lomba cerdas tangkas matematika yang diikuti oleh pelajar dan mahasiswa se-wilayah III Cirebon. “ Acara ini diikuti oleh pelajar timgkat SD, SMP, SMA, SMK dan mahasiswa se-wilayah III Cirebon.” Ujar Andi Sugianto, ketua pelaksana.

Olimpiade matematika  dilaksanakan di tiga tempat dimulai 17 januari kemarin, yakni di Majalengka, Indramayu dan Kuningan, “seleksi di tiga tempat ini merupakan tahap satu, kemudian tahap dua penyisihan dan final di kampus 2.” Ucapnya. Lomba tersebut diikuti oleh 330 peserta. Berbeda dengan olimpiade, lomba cerdas tangkas matematika, diikuti oleh 94 peserta dengan tiga orang per-timnya. “lomba cerdas tangkas matematika dilaksanakan mulai hari ini (19/01) di kampus 2.” Ujarnya.

Acara yang bertema “rangkai baris potensi raih deret prestasi tanpa batas dalam padanan kompetensi” merupakan salah satu program kerja Himaptika departemen pendidikan. “ ini salah satu proker Himaptika, harapannya agar lebih mengenal Unswagati dan menjalin silaturahmi  serta bisa memberikan pembelajaran kepada siswa-siswa di wilayah III Cirebon.” Ujarnya.

Disela-sela menunggu pengumuman sekolah mana yang lolos menuju tahap selanjutnya, setaranews.com mewawancarai salah satu peserta yang berasal dari SMP PTQ Al-Hikmah, menurutnya saat pelaksanaan dirasa biasa saja dan soal bervariasi, “rasanya biasa aja, ada yang bisa dikerjain ada yang nggak bisa. Tapi semoga bisa lolos ke tahap selanjutnya.” Ucap Sayyiramadhan.

Ngarot, Tradisi Indramayu yang Terus Lestari

Tidak ada komentar

Senin, 18 Januari 2016

Cirebon,setaranews.com- Keanekaragaman adat yang di miliki warga Indramayu Jabar,sangat beaneka ragam . salah satunya Ngarot. Nah, Acara adat Ngarot sebagai warisan leluhur secara turun temurun kembali di gelar Sabtu (16/1). Tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang ini begitu sangat kental melekat pada diri warga indramayu khususnya di daerah Lelea.Ngarot menjadi tradisi tahunan bagi warga Kecamatan Lelea. Acara ini di laksanakan setiap satu tahun sekali, biasanya ngarot diadakan pada masa awal menanam padi. Ini menjadi simbol warga indramayu yang notaben masyarakatnya menjadi seorang petani.

Acara di mulai dari jam 08.30-15.00.Dalam pelaksanaan Tradisi ngarot,terdapat sepasang pengantin yang masih perawan dan perjaka,serta kasinoman yaitu gadis dan perjaka sebagai peserta yang di pilih langsung oleh kepala desa.Rangkaian kegiatan yang di lakukan dalam acara ngarot ini menampilkan berbagai tradisi tari topeng, seserahan bibit padi, cangkul, serta air yang menjadi simbol kemakmuran dan kesuburan bagi warganya.

Menurut kepala desa setempat. Masadi, di adakanya ngarot bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan,ungkapan syukur dari para petani atas hasil panen padi,serta melestarikan budaya supaya tetap hidup dan memperkenalkan kepada generasi muda untuk mencintai budaya/tradisi nenek moyang supaya tidak punah dengan perkembangan zaman.
Pesta rakyat ini ternyata juga memberikan dampak yang baik untuk masyarakat. Selama aacara berlangsung pengunjung nampak antusias mengikuti acara yang di helat satu tahun sekali ini

”Memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak,respon masyarakat dan pengunjungnya baik,saling memberikan dan mendapatkan sesuai harapan” ujar Imam penjual boneka yang tim setara temui.

Pemerintah Kota Cirebon dalam Menangani Warga Miskin dan Anak Terlantar

Tidak ada komentar

Sabtu, 16 Januari 2016

Sesuai yang tercantum  pada pasal 34 UUD 1945 ayat 1 yang berbunyai “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara”, lalu pada ayat 2 yang berbunyi “Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, dan di ayat 3 berbunyi “Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.”

Pasal tersebut bermakna Negara (pemerintah), Negara bertanggungjawab dalam memelihara warga negaranya terutama warga fakir miskin dan anak-anak terlantar. Fakir sendiri berarti orang yang tidak berdaya karena tidak mempunyai pekerjaan apalagi penghasilan, dan juga mereka tidak mempunyai sanak saudara di bumi ini. Sedangkan miskin ialah orang yang sudah memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi pengeluaran kebutuhan mereka, tapi mereka masih mempunyai keluarga yang sekiranya masih mampu membantu mereka yang miskin.

Namun fakir miskin disini dapat diartikan sebagai warga yang tidak memiliki penghasilan dan tidak mencukupi dalam memenuhi kebutuhan seperti sandang, pangan, dan papan. Masih banyak terlihat di lingkungan perkotaan maupun di daerah, para gepeng yang mengemis di jalanan, pusat keramaian, dan lampu merah. Anak - anak terlantar seperti  anak - anak jalanan, anak yang ditinggal orang tuanya karena kemiskinan yang melandanya. Ironis memang, masih banyak gepeng dan anak jalanan yang berada di jalan dan meningkat setiap tahunnya, bahkan mereka menjadi bisnis baru dari pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini harusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang mengampanyekan menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, dan tidak sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yaitu fakir miskin dan anak - anak terlantar dipelihara oleh negara.

Menurut Dede Dahlia selaku Kepala Bidang Sosial yang bertugas pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan untuk warga-warga yang mengemis itu rata-rata bukan warga asli Cirebon, “Kebanyakan yang mengemis di pinggir jalan itu bukan warga yang tinggal di Cirebon, dan rata-rata berdomisili diluar kota,” ujarnya.

Pemerintah sendiri telah memberikan pelayanan bagi warga-warga miskin seperti PKH (Program Keluarga Harapan), “Pemerintah telah mencanangkan PKH ini yang mudah-mudahan dapat mengurangi kemiskinan pada lima tahun kedepan,” tambahnya.

Selain PKH, pemerintah juga telah memberikan pelayanan bagi warganya yang memiliki kekurangan (disabilitas) seperti dilatih, lalu diberi modal dengan harapan mengangkat harakat dan martabatnya.

 

Pimpinan Baru Fakultas Ekonomi Resmi Dilantik

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Pelantikan pimpinan dari Fakultas Ekonomi yakni Ketua DPM, Gubernur dan Wakil Gubernur, Ketua Umum HMJ Akuntansi dan HMJ Manajemen dilaksanakan pada Jumat (15/1) bertempat di gedung ekonomi ruang 207. Acara pelantikan ini hanya berselang satu minggu sejak terpilihnya pimpinan yang baru. Acara yang semula diagendakan pukul 08.00  ternyata mengalami kemunduran hingga satu jam dan selesai pukul 10.00.

Ketua DPM terpilih yaitu Rais Alfian, Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih atas nama Jamaludin dan Retno Dwijayanti, sementara Ketua Umum HMJ Manajemen dan Akuntansi yaitu Rical Abuzanur dan Diki Syaiful Anwar. Acara pelantikan dihadiri oleh Dekan FE, Wakil Dekan III, Wakil Dekan II, Kabiro Keuangan, Kajur Manajemen, dan Sekretaris Manajemen.

Pelantikan kali ini cukup meriah dan kondusif, "Alhamdulillah acaranya lebih baik dari tahun lalu baik secara persiapan maupun pelaksanaan, acaranya juga cukup meriah, cukup kondusif dan dengan bangga dilantik sendiri oleh ibu Dekan," ujar Muhammad Saeful Rahman selaku ketua pelaksana pemilihan umum raya mahasiswa.

Atas terpilihnya pimpinan yang baru ini, harapannya dapat membawa Fakultas Ekonomi menjadi lebih baik, "Mudah-mudahan dapat membawa Fakultas Ekonomi yang lebih baik lagi, lebih maju dan lebih berkembang dari tahun yang lalu," tutupnya.

 

Benarkah Sudah Ada Surat Edaran PTN Gagal?

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com– Berita mengenai penegerian Universitas Swadaya Gunung Jati masih belum jelas. Ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa Unswagati telah batal menjadi PTN (Perguruan Tinggi Negeri), tetapi pihak Universitas mengatakan bahwa proses penegerian ini ditunda atau moratorium.

Beberapa waktu lalu Setaranews.com mencoba meminta klarifikasi mengenai surat penegerian Unswagati yang gagal menjadi PTN kepada Kaprodi Ikom (Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi) yang mengatakan bahwa sudah ada surat edaran bahwa PTN gagal. Pernyataan tersebut keluar pada saat berlangsungnya perkuliahan di kelas, tetapi pada saat diklarifikasi ulang justru pernyataan berbeda keluar dari Faridah Nurfalah, “Bukan batal tetapi pending, sebenarnya banyak berita tentang PTN di internet, coba aja cari di internet pasti banyak,” ujarnya saat ditemui diruangannya pada Rabu (6/1).

Begitu pun pernyataan yang sama keluar dari Sekretaris Prodi, Abdul Jalil Hermawan, “bukan hanya Unswagati yang dimoratorium, tetapi semua universitas di Indonesia yang akan beralih status menjadi PTN pun sama ditunda” tuturnya.

Soal Prodi Baru di Unswagati, Ini Jawaban Rektor

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com– Sebagai rangkaian agenda Dies Natalis ke-53, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon menggelar sidang terbuka wisuda XLIII yang berlokasi di Hotel Zamrud dan diakhiri dengan penyerahan apresiasi bagi wisudawan/wisudawati lulusan terbaik oleh Rektor Prof. Dr. Rochanda Wiradinata, MP. Pada wisuda kali ini diikuti sebanyak 854 wisudawan/wisudawati.

Dalam konferensi pers usai acara tersebut rektor menjelaskan perihal mengenai pengadaan program studi baru di Unswagati, beliau menyebutkan bahwa Program Studi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) merupakan salah satu upaya mewujudkan visi dari Unswagati yakni Leading in Learning.

“PGSD sudah kami usulkan empat tahun lalu, apa yang terjadi jawaban dari Dikti nanti karena terkait proses PTN yang masih ingin dicapai, bukan hanya PGSD, ada juga prodi lain, namun itu dua hal yang berbeda sesungguhnya, bisa saja walaupun dalam proses penegerian kita buka program studi yang baru”, tutur Rektor pada (14/01).

Selain itu Rektor juga berpendapat bahwa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Unswagati bisa dikatakan merupakan sebuah ikon perguruan yang ada di Ciayumajakuning. Jika program PGSD diadakan di Unswagati merupakan suatu langkah tepat karena tenaga pendidik sudah memadai dan expert dibidangnya. Sesuai dengan SK (Surat Keputusan) yang diterima dari Dikti pada November tahun lalu, dan akan mulai dibuka pada bulan september 2016 mendatang.

Ini Alasan Unswagati Belum Juga Negeri

Tidak ada komentar

Jumat, 15 Januari 2016

Cirebon, Setaranews.com – Perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Universitas Swadaya Gunung Jati hingga saat ini belum juga terlaksana dikarenakan dari 11 persayaratan yang ada, Unswagati baru memenuhi 9 persyaratan. Persyaratan yang belum terpenuhi yaitu kurangnya lahan 9 hektar dan surat pernyataan dari Pemerintah Daerah.

“Tinggal 2 , yang pertama masalah tanah 9 hektar yang kedua adalah surat pernyataan dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kota tentang kesanggupan mendanai selama proses masa transisi 3 sampai 5 tahun itu belum ada, Dikti sangat menunggu yang 2 itu,” ujar rektor  saat ditemui pada Kamis (14/01).

Jika saja persyaratan Unswagati sudah terpenuhi maka pada Oktober 2014 lalu Unswagati sudah menjadi negeri, “Kalau saja yang dua itu tuntas bulan oktober 2014 lalu, Unswagati ceritanya lain, sudah menjadi negeri,” tambahnya.

HMJM Gelar Oprect untuk Calon Anggota Baru

Tidak ada komentar

Kamis, 14 Januari 2016

Unswagati Cirebon, SetaraNews.com - Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) Fakultas Ekonomi Unswagati,  mengadakan open recruitment untuk calon anggota baru tahun 2015-2016. Adapun proses seleksi bertempat di gedung FE   kampus satu Unswagati.

Pantauan setaranews, Pengurus HMJM terlihat sedang melakukan seleksi untuk Calon Anggota (Caang). Seperti yang diungkapkan oleh ketua pelaksana opreck  Ade Uswanci, kegiatan tersebut berlangsung hanya 1 hari, adapun mekanismenya di awali dengan pendaftaran melalui formulir, mengumpulkan formulir pendaftaran, serta melakukan seleksi wawancara yang dilaksanakan pada hari ini.

“Peserta yang mendaftar berjumlah 101 orang tetapi yang hadir pada hari ini hanya 71 peserta, nantinya yang berhasil keterima tergantung pada musyawarah seluruh pengurus HMJM, “ ujar devanci kepada setaranews.com, kamis (14/01).

Lebih lanjut, Ade Uswanci menjelaskan bahwasannya kegiatan tersebut bertujuan untuk menyeleksi calon pengurus HMJM,  dengan harapan nantinya anggota HMJM bisa loyal terhadap organisasi dan tentunya  berdedikasi tinggi  demi kemajuan HMJM kedepannya.

‘Kami berharap opreck ini bisa menciptakan anggota yang loyal dan berdedikasi tinggi keapda organisasi, dalam hal ini HMJM,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu peserta opreck, Ikhwal Firmansyah mengatakan, dengan mengikuti seleksi ini Ia berharap bisa mengenali dunia organisasi dan bisa diimplementasikan pada saat selesai menempuh studi.

“  Ikut seleksi HMJM itu supaya ngerti organisasi biar kelak berguna didunia kerja, seleksinya seru ada yang serius juga , harapannya sih semoga keterima dan bisa jadi bagian dari HMJM.”  Katanya kepada setaranews.com .

Reporter magang LPM Setara : Silvia & Ananda

Indonesia Kekinian dan Nasionalisme Kaleng Kerupuk

Tidak ada komentar

Rabu, 13 Januari 2016

Opini-Mengubah Indonesia? Apanya yang mesti diubah? Dengan segala kelebihan yang negeri ini miliki, dengan segala kemurahan tuhan menempatkan kita di bangsa yang kaya ini. Apa pula yang harus kita ubah? Barangkali pertanyaan-pertanyaan di atas yang muncul jika pernyataan “Mengubah Indonesia” ditanyakan pada para pendahulu kita.

Coba cari di buku-buku sejarah, atau biar lebih “kekinian”coba selancar di  google, apa yang dilakukan Soedirman, Sutomo, Supratman, Sjahrir sampai sang proklamator Bung Karno ketika negara ini masih sebatas cita-cita? Setelah penulis berselancar di mesin pencari kenamaan itu, yang penulis temukan adalah kata-kata patriotik semisal berjuang, berusaha ataupun membentuk. Ya, karena memang itulah yang mereka lakukan untuk bangsa ini.  Soedirman berjuang dengan bergerilya, Sutomo berjuang dengan memimpin pertempuran pada 10 November, Supratman berusaha dengan mewujudkan organisasi budi utomonya dan Sjahrir juga Soekarno membentuk fondasi negeri lewat strategi percaturan politiknya. Tidak ada kosakata mengubah di situ.

Coba tengok negara lain, seberapa banyak negara, yang memiliki paket komplit, diwujudkan dengan sebuah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, sumber energi terbarukan yang kaya raya, garis pantai yang panjang, keberagaman suku budaya dan bahasa, potensi wisata kelas dunia sampai tambang emas dengan kualitas terbaik sejagat raya. Sulit menandingi kekayaan kita. Jadi, dengan segala kelebihan itu untuk apa pula kita mengubahnya? Mengapa tidak kita rawat dan berdayakan saja?

Barangkali disitu masalahnya. Merawat dan memberdayakan segaala apa-apa potensi yang sudah kita kantongi. Penulis rasa semuanya bergantung pada kepedulian segenap masyarakat Indonesia hari ini. Indonesia itu bukan sekedar merah putihnya, bukan Indonesia rayanya, bukan Pancasilanya, bukan Pemerintahnya, bukan Jakartanya apalagi pulau Jawanya. Indonesia itu semuanya. Dari Setetes air laut di perairan paling barat Pulau Weh kemudian melewati 34 Provinsi dengan segala isinya dari mahluk hidup sampai yang pernah hidup, dari yang yang indah sampai yang paling indah juga dari yang baik hati sampai yang seenak hati. Kemudian berhenti di sebutir tanah paling timur dekat perbatasan Papua Nugini di Kabupaten Merauke. Itulah Segenap Indonesia. Utuh!

 Indonesia Kekinian

Akhir-akhir ini kata “kekinian” sedang digandrungi oleh warga Indonesia, khususnya kalangan remaja. Keikinian sedikit menggeser istilah ngetrend pada tempatnya. Dari dunia nyata sampai dunia maya istilah kekinian sedang jadi primadona. Lalu apa kabar Indonesia kekinian?

Jika melihat gaya hidup orang Indonesia pada umumnya hari ini, penulis rasa Indonesia kekinian sedikit menggeser kaidah kebersahajaan serta kearifan Indonesia yang sudah melekat. Orang Indonesia khususnya kalangan muda lebih suka menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam obrolan bersama koleganya ketimbang mengeluarkan istilah-istilah daerah sebagai bentuk identitas asal masing-masing individu. Jangankan istilah, logat kedaerahan saja sudah banyak  terhapus dari lidah orang muda Indonesia kekinian. Mengapa begitu? Masalahnya seperti ada sebuah ketentuan tidak tertulis yang menyebutkan jika mereka yang berbahasa dengan istilah atau logat kedaerahan yang kental, disebut kampungan atau mungkin dijadikan lelucon. Jika memang demikian, timbul sebuah pertanyaan dari penulis, kalau merawat logat daerah saja tidak bisa, bagaimana mau merawat segala potensi sumber daya yang kita miliki?

Lalu coba kita lihat selera pasar kita. Orang Indonesia kekinian cenderung menyukai produk yang notabenenya dibuat di luar Indonesia. Produk-produk yang sekiranya punya merek kenamaan. Kalau pun ada dua merek dengan kegunaan sama, dengan kualitas yang sama, orang Indonesia kekinian cenderung memilih produk yang dibuat oleh luar negeri. Gengsi, barangkali itu kata ajaib yang mengakibatkan tersingkirnya produk-produk dalam negeri. Padahal, kalau saja kita mau bermurah hati megedepankan produk dalam negeri, penulis rasa hal itu akan berdampak baik pada pertumbuhan perekonomian kita. Setidaknya angka pendapatan nasional Indonesia akan meningkat. Apalagi Indonesia menurut data United Nation of Environment Program (UNEP) tahun 2012 menyebutkan jika negara ini adalah negara ke empat paling konsumtif se-Asia Pasifik. Dengan segala catatan di atas, biarkan penulis bertanya, kalau untuk memberdayakan produk dalam negeri saja kita ogah, bagaimana mungkin kita berdayakan segala kekayaan yang secara baik tuhan beri cuma-cuma untuk negara kita ini? Orang Indonesia kekinian barangkali sudah kadung lupa, kalau setiap hari yang ia pijaki adalah tanah gembur yang diperjuangkan dengan seluruh tumpah darah. Lupa kalau setiap hari yang diminum adalah rembesan air yang berasal dari sumur-sumur garapan dalam negeri. Lupa jika yang setiap hari dimakan adalah nasi dari olahan padi terbaik khas produk khatulistiwa.

Nasionalisme Kaleng Kerupuk

Bagai kerupuk lupa kalengnya, barangkali boleh penulis sedikit geser adagium “bagai kacang lupa kulitnya” dalam perspektif tulisan penulis kali ini. Kenapa harus kaleng kerupuk? Karena begini, menurut penulis nasionalisme kita hari ini, terutama orang muda, sudah seperti kerupuk yang kalengnya lupa ditutup. Artinya jika kaleng kerupuk tidak ditutup, kerupuk pasti akan melepes. Nah, nasionalisme kita pun tidak jauh berbeda. Ketika kita sudah sulit untuk membendung laju globalisasi yang suka tidak suka masuk dan mengubek-ubek kearifan kita, maka para masyarakat, terutama pemuda sangat terkena imbasnya. Penulis tidak begitu mempersoalkan bagaimana globalisasi tanpa filter bisa masuk dan menyalin kearifan kita. Tapi, lebih ke bagaimana ketahanan kita selaku pewaris negeri yang dengan mudah terpengaruh dan melepes karena efek globalisasi tadi. Berapa banyak dari kita yang hafal lagu rayuan pulau kepala ketimbang lagu all of me nya john legend? Atau berapa banyak dari kita yang lebih suka lagu sepasang mata bola ketimbang lagu shake it off nya Taylor Swift? Soal ini mungkin menyangkut selera. Tapi, bagaimana mungkin selera bisa menggeser kepayahan Ismail Marzuki saat menciptakan rayuan pulau kelapa dan sepasang mata bola sebagai hadiah untuk negeri ini? lalu kita lupa?

Celakanya terjadi beberapa saat lalu. Saat Indonesia sedang dirundung hegemoni konferensi tingkat tinggi Asia Afrika. Presiden kita justru lupa akan pakaian identitas negara. Peci hitam. Padahal peci hitam adalah penutup kepala khas yang kita miliki. Dari Soekarno sampai Yudhoyono, peci hitam seakan tak pernah lepas dari kepala Presiden Indonesia kecuali Megawati dalam forum internasional. Jika orang nomer satu di negeri ini saja tak mengindahkan perlunya menonjolkan ke khasan yang sudah turun temurun terwarisi, pada siapa lagi kita percaya bahwa ke elokan ragam budaya ini akan terus terjamin?

Pidi Baiq dalam Al-Asbunya menulis bahwa  “Seandainya engkau adalah seekor kucing, jangan disebabkan karena menggonggong sedang menjadi tren di masyarakat, maka hal itu menyebabkan engkau pergi kursus belajar menggonggong. Mungkin pada akhirnya engkau bisa. Tetapi apa kata orang jika ada kucing yang menggonggong, padahal sesungguhnya kucing itu mengeong karena itulah jati dirinya yang asli.

Lalu berapa banyak dari kita yang mengetahui bagaimana pancasila bisa disebut ideologi Indonesia? Mengapa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan menjadi lima dasar yang harus menjadi fondasi negara ini? Atau berapa banyak dari kita yang mahfum kenapa nama negara ini harus Indonesia? Mengapa harus merah putih yang jadi panji keramat kita. Bagaimana asal usulnya? adakah dari kita yang sengaja browsing hanya untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas? Kalau jawabanya masih belum. Ya sudah, sulit untuk kita membendung laju globalisasi ini. Kemudian bagaimana bisa kita kelola negeri kita jika latar belakang negeri ini yang paling dasar saja tidak pernah terpikirkan di benak kita?!

Senang atau tidak negeri kita sudah terbuka. Seperti kaleng kerupuk yang lupa ditutup. Globalisasi sudah tidak bisa tidak lagi untuk ditolak. Bahkan Masyarakat Ekonomi Asean sudah berjalan. Tinggal bagaimana kita menjadi kuat dan bangga akan segala bentuk kearifan yang secara harfiah kita miliki. Kalau bukan saya, anda, teman anda, temanya teman anda, temanya temanya teman anda dan terus hingga kata teman membentang dari Anyer sampai Panarukan, lalu siapa lagi yang peduli? Ini Indonesia dengan segala kehebatan alam dan kebrengsekan para kebanyakan pengambil kebijakannya. Di tangan kita lah sekarang semua bergantung, mau meninggalkan segala kebajikan negeri ini atau turun langsung mengurus, merupa dan merawat Indonesia? Terserah anda, yang jelas negeri ini harus diperbaiki bukan diubah.

 

Penulis : Muhamad Wildan

Mahasiswa Tingkat IV Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Swadaya Gunung Jati

Galeri investasi Adakan Seminar Bareng BEI

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com – Kelompok studi Fakultas Ekonomi yaitu Galeri investasi Unswagati (Universitas Swadaya Gunung Jati) mengadakan seminar dengan tema edukasi pasar modal dan sosialisasi program “yuk nabung saham”. Seminar ini bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pembicara yang dihadirkan dari BEI sendiri yaitu Dirgantara. Acara dimulai pukul 8:00 hingga 16:30. Peserta dari acara seminar sendiri adalah mahasiswa wilayah 3 Cirebon dan para dosen Unswagati.
Meski persiapannya hanya seminggu, tetapi tidak mengurangi antusiasme peserta. Terbukti dari banyak peserta yang hadir. Panitia sampai harus membuatnya menjadi dua sesi.
“Sebenernya acara ini dadakan satu minggu. Peserta itu dari pagi 135 sesi pertama,kalau sesi kedua 100. Karena kuota tidak memadai jadi kami bikin dua sesi” ujar Rian Herdiana selaku ketua pelaksana saat ditemui setara di gedung ekonomi lantai dua.
Sesi pertama dimulai pukul 08:00 hingga 12:00 dengan peserta khusus untuk mahasiswa Unswagati, sedangkan sesi kedua dimulai pukul 13:00 hingga 16:30 dan diperuntukkan dosen serta mahasiswa luar Unswagati.

Rektor Ogah Jelaskan Molornya Pembangunan Gedung Baru

Tidak ada komentar
Unswagati-setaranews.com- Kamis lalu (07/01) Tim setaranews.com melakukan pertemuan guna untuk wawancara dengan Prof.Dr.H.Rochanda Wiradinata,MP. selaku rektor universitas swadaya gunung jati (unswagati) cirebon berserta jajaran wakil rektor di ruang sekretariat rektor unswagati cirebon, dalam pertemuan tersebut setaranews sempat membahas masalah pembangunan gedung baru di kawasan kampus satu unswagati yang awalnya ditargetkan akan selesai pada bulan november 2015 tahun lalu, nyatanya sampai saat ini pembangunan gedung baru itu tak kunjung selesai.

Sementara rektor unswagati enggan memaparkan resolusi pembangunan gedung baru saat diwawancarai tim setaranews.com  disekretariat rektor unswagati cireboon.
“Saya kurang tahu persis tentang resolusi pembangunan gedung baru di unswagati, karena itu bukan kapasitas saya untuk memaparkannya, pembangunan gedung baru itu sepenuhnya kapasitas yayasan, jadi yang bisa menjelaskan pembangunan gedung baru itu pihak yayasan” ungkap Prof.Dr.H.Rochanda Wiradinata,MP. selaku rektor unswagati cirebon.
Saya saja belum sempat bertemu dengan pihak yayasan karena saat ini dia sedang melakukan umroh, mungkin selepas dia umroh saya akan menemui langsung guna menanyakan bagaimana kejelasan pembangunan gedung baru yang sampai saat ini belum juga tuntas” tutupnya.

Mahalnya Biaya Pendidikan

Tidak ada komentar

Minggu, 10 Januari 2016

Persoalan mengenai dunia pendidikan sudah menjadi topik yang tak asing lagi diperbincangkan oleh berbagai kalangan mulai dari kalangan atas, menengah, hingga bawah. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok yang harus dimiliki oleh setiap manusia karena pendidikan akan menentukan status sosial dari seseorang, semakin tinggi jenjang pendidikan yang dilalui maka akan semakin dihormati pula orang tersebut dalam lingkungan masyarakatnya.

Tak sedikit kasus yang menerpa dunia pendidikan, diantaranya persoalan mengenai biaya pendidikan yang tidak bisa dijangkau oleh masyarakat miskin, kesenjangan mutu pendidikan di wilayah kota dan pedesaan, kekerasan yang dilakukan guru kepada siswa, rendahnya kualitas tenaga pendidik, kurangnya fasilitas yang menunjang pembelajaran dan masih banyak lagi kasus lainnya. Namun dari sekian banyak permasalahan yang ada, hal yang ingin disoroti dalam tulisan ini yaitu mahalnya biaya pendidikan khususnya di Indonesia.

Bukan suatu hal yang aneh bila masyarakat yang sejatinya dituntut untuk menyelesaikan pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) yang khususnya di Indonesia sendiri mencanangkan wajib belajar 12 tahun merasa sangat kesulitan untuk mencapainya, terlebih hal ini dirasakan oleh masyarakat miskin yang sekedar untuk makan saja pas-pasan, apalagi untuk biaya pendidikan yang mahal. Program pemerintah tersebut seharusnya tidak melulu memperhatikan kewajiban, tetapi juga hak dari masyarakatnya. Tidak semua masyarakat Indonesia memiliki perekonomian yang baik, bahkan di negara kita jumlah masyarakat miskin tidak sedikit, dapat ditengok pada wilayah kota-kota besar seperti Jakarta yang merupakan Ibukota negara kita, disana banyak terdapat pengangguran, pengemis maupun pengamen, bahkan pencopet. Hal ini menunjukkan bahwa bagi orang-orang menengah ke bawah, pendidikan merupakan hal yang sulit mereka dapatkan akibatnya banyak anak kecil yang putus sekolah dan memutuskan untuk mencari uang guna membantu perekonomian keluarganya dengan cara yang bervariasi, namun mayoritas bagi anak yang putus sekolah satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah mengemis atau mengamen. Ini merupakan kejadian yang miris, mahalnya biaya untuk dapat bersekolah merupakan suatu permasalahan yang harus segera ditangani dengan cepat dan tepat. Bagaimana tidak? Bila hal ini terus terjadi maka generasi penerus bangsa yang harusnya bisa meneruskan cita-cita negara akan sedikit demi sedikit hilang.

Pemerintah sudah memberikan sekolah gratis? Tapi nyatanya tetap saja masih banyak anak Indonesia yang tidak memperoleh pendidikan, masih banyak dari mereka hanya mampu menempuh hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahkan ada yang berhenti sekolah setelah menyelesaikan studi pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Problematika biaya pendidikan bukan hanya soal biaya SPP yang harus dibayarkan setiap bulan yang katanya sudah mendapat label gratis dari pemerintah, namun juga mengenai buku tunjangan belajar seperti Lembar Kerja Siswa(LKS), seragam sekolah, peralatan sekolah, hingga administrasi lainnya yang berhubungan dengan sekolah tersebut. Selain itu mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan yang ingin ditempuh maka semakin mahal biaya yang harus dibayarkan, sering terdengar kasus bahwa untuk dapat mengikuti ujian, seorang siswa harus sudah menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, sehingga mau tidak mau untuk dapat mengikuti ujian dia harus melunasi administrasi yang belum dibayarnya. Ini berarti administrasi dijadikan alasan untuk memperdaya peserta didik dalam menerima haknya untuk mendapatkan ilmu.

Pemerintah sudah memberikan beasiswa? Tapi nyatanya masyarakat miskin tetap tidak dapat bersekolah. Hal ini bisa terjadi akibat pemberian beasiswa yang tidak tepat sasaran. Beasiswa yang seharusnya diberikan kepada siswa yang tidak mampu namun diberikan pada siswa yang mampu. Hal ini karena seleksi untuk mendapat beasiswa juga tidak begitu ketat, tidak ada survey secara langsung yang dilakukan pemerintah terhadap calon penerima beasiswa. Seharusnya pemerintah harus bisa lebih selektif lagi dalam menentukan calon penerima beasiswa agar beasiswa dapat tersalurkan dengan benar.

Beban biaya pendidikan yang menghantui generasi muda untuk memperoleh ilmu harus segera diselesaikan agar tidak ada lagi permasalahan yang menjadi hambatan bagi anak bangsa untuk memperoleh pendidikan sehingga setiap generasi muda dapat mencapai cita-citanya dan turut serta dalam pembangunan bangsa.

 

Pembebasan dari Ladang Petani

Tidak ada komentar
Kesadaran revolusioner harus di tularkan kepada setiap manusia dan tetap harus ada di muka bumi ini.

Kesempatan yang adil
Kemajuan teknologi pertanian di Indonesia menimbulkan pengurangan tenaga kerja manusia yang digantikan oleh mesin-mesin pertanian. Hal ini akan memenangkan kelompok-kelompok yang memiliki modal (teknologi, tanah dan uang). Sebelum mencoba memasukan teknologi/mesin di dalam pertanian yang dapat menggantikan manusia oleh mesin, pihak yang berkuasa atau dalam hal ini harus sudah mampu memberikan kesempatan yang sama bagi tiap masyarakat untuk mampu berkembang. Seperti permasalahan agraria di mana ketimpangan kepemilikan tanah antara tuan tanah dan buruh pekerja yang tidak memiliki lahan pertanian. Padahal Setiap warga negara Indonesia berhak memiliki lahan yang sudah diatur dalam Undang-undang Reforma Agraria. Pekerjaan besar bagi pemimpin bangsa ini untuk bisa memberikan jaminan keadilan kepada rakyatnya dan juga menjadi tanggung jawab kaum intelektual untuk mengentaskan persoalan bangsa ini khususnya dalam bidang pertanian yang syarat dengan permasalahan.

Teknologi Pertanian
Kemajuan teknologi harus dipahami sebagai kebangkitan kesejahteraan rakyat, bukan sebagai bab baru dari kelanjutan penindasan di era ini. Teknologi ini bisa diartikan sebagai sumber kekuatan produktif bagi individu dalam masyarakat itu sendiri. Namun yang kemudian penting adalah bagaimana teknologi itu didistribusikan, dikuasai dan dikelola oleh masyarakat banyak.
Pembangunan yang selalu berpusat pada kota menimbulkan ketidakmerataan diberbagai bidang yang paling jelas adalah masalah ekonomi. Maka kemajuan teknologi ini adalah solusi yang kiranya tepat untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan produktif desa, sehingga arah pembangunan pun datang dari bawah bottom-up. Khususnya pembangunan bidang pertanian pembangunan harus berlandaskan teknologi yang tepat guna, namun dapat dengan adil memberikan kesempatan bagi petani kebanyakan untuk dapat berkembang bersama.
Pada sejarahnya di Indonesia pernah mengalami perubahan teknologi pertanian dari yang menggunakan organisme bahan bakar rumput sampai mesin berbahan bakar minyak, dari burung dan ular di ganti dengan racun (revolusi hijau). Ternyata lompatan teknologi ini malah menimbulkan berbagai permasalahan seperti sulitnya mendapatkan pupuk kimia dan mahalnya pestisida yang paling berbahaya akhirnya adalah masalah kerusakan lingkungan. Penggunaan teknologi  hanya berorientasi pada hasil saja, alhasil lingkungan (ekosistem) yang dikorbankan. Teknologi yang disusupkan ke dalam masyarakat secara paksa dan tidak timbul dari kebutuhan masyarakat, yang paling jernih hanya menimbulkan racun bagi kehidupan rakyat itu sediri.
Kebutuhan akan produk pertanian yang semakin tinggi sedangkan produktivitas yang cenderung konstan bahkan menurun menjadikan kebutuhan teknologi di bidang pertanian masuk dalam tingkat kritis, namun teknologi yang sekarang digunakan malah cenderung tidak ramah lingkungan dan syarat dengan boros energi serta bahan bakar fosil. Maka dari itu penggunaan teknologi pada pertanian haruslah ramah lingkungan dan menggunakan energi terbaharukan.
Bisa dibayangkan jika setiap individu dalam masyarakat pertanian memiliki kesempatan yang sama dalam kemajuan produktivitasnya dengan penguasaan teknologi yang mapan, maka krisis pangan, kelaparan, kenaikan harga bahan pangan bahkan yang paling radikal yaitu kemiskinan dapat diatasi. Menilik kembali bahwa Indonesia sudah tersohor sebagai negara agraris, dimana tanah, air, udara dan seluruh unsur penyusun kehidupan sangat ideal bagi tumbuh dan berkembangnya berbagai mahluk hidup.
Teknologi yang mampu menghasilkan produktivitas yang melimpah saja tidak akan pernah baik jika, teknologinya tidak ramah lingkungan dan tidak berdasarkan keinginan dan kebutuhan dari masyarakatnya. Jika teknologi pertanian sudah ada dan nyata berada dimasyarakatnya maka yang harus diperhatikan selanjutnya adalah keadilan dalam mendapatkan kesempatan yang sama untuk kesejahteraan. Teknologi hanyalah sebuah kendaraan dan alat bagi tercapainya kesejahteraan umat manusia maka driver manusia sendiri tanpa dibarengi moralitas dan mentalitas yang baik hanya akan menimbulkan bencana.

Pertanian sebagai modal pembebasan
Kekayaan alam Indonesia adalah potensi terbesar sebagai jalan membebaskan diri dari perbudakan, mengukuhkan dan mengultimatumkan suatu pernyataan bahwa setiap manusia mampu merdeka dan terbebas dari ketergantungan kebutuhan alamiah dasar dan seterusnya mampu untuk hidup sejahtera dan mengembangkan setiap potensi diri dalam ruang demokratis untuk bersama mewujudkan dunia yang bebas dari penindasan dan penghisapan kapitalisme. Mengutip pemikiran dan tulisan Hannah Arendt “Pengertian kebebasan yang paling sederhana adalah lepas/terpenuhinya dari tuntutan kebutuhan pokok dasar alamiah seperti sandang, pangan dan papan.”
Jika dalam alam fikiran saya, pertanian adalah modal dasar pembangunan manusia menuju kesejahteraan. Maka hal yang paling kronis adalah menata kembali pola pikir masyarakat pertanian yang kapitalistis, karena infiltrasi kebudayaan global yang materialistis, individualis dan serakah. Merombak mentalitas populis masyarakat indonesia bisa diartikan sebagai mengembalikan dan menyadarkan kembali manusia sebagai mahluk sosisal yang tidak bisa mengacuhkan lingkungannya. Menyadarkan kembali bahwa dalam setiap gerak dan langkah setiap individu terdapat kontribusi nyata dari individu lain dan lingkungannya. Manusia, hewan, tanaman, batu, tanah, air dan semua yang ada adalah satu kesatuan yang saling menopang demi keberlanjutan kehidupan di permukaan bumi, percayalah kita semua saling terhubung.
Temporer ini kaum intelektualis disibukkan dengan perbincangan arus globalisasi yang di satu sisi menyisipkan budaya negatif. Lalu memperdebatkan budaya mana yang harus dianut sebagai sebuah identitas yang baik, Timur atau Barat. Kecenderungan manusia untuk membedakan dan memisahkan sesuatunya juga harus kita pandang dengan arif. Jangan sampai pengidentitasan sebagai pengkerdilan diri suatu bangsa yang akhirnya melahirkan penjara bagi manusianya untuk berkembang dan mengoptimalkan potensinya.
Memperbincangkan kajian para filsuf Post Modern bahwa budaya yang baik bukan saja bersumber dan berakar dari tradisi yang sudah ada sekian lama. Pertimbangan perbaikan mentalitas dan moralitas diri tidak harus terkungkung pada warisan leluhur. Modern secara epistemologi adalah sesuai tuntutan zaman, dan modern juga bukan berarti meninggalkan penggalan-penggalan kearifan masa lalu. Perbaikan dan pembangunan harus muncul dari keresahan, kebutuhan dan keinginan masyarakat itu sendiri sebagai sebuah cerminan kerakyatan. Manusia yang merdeka harus mampu meleburkan setiap pengalaman jiwa masa kini dan masa lalu mampu melahirkan perbaikan yang lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya Kehidupan dan tuntutan zaman yang begitu dinamis tidak seharusnya disikapi dengan mental dan moral yang ortodoks.
Bisa disimpulkan untuk mampu menjadi manusia yang mampu kita harus pandai mengolah dan memisahkan mana yang baik dan sesuai bagi manusia disaat ini dan di tempat ini. Entah budaya itu berasal dari barat atau timur bahkan yang paling primitif sekalipun jika itu dirasa pantas dan cocok maka tidak ada penolakan untuk diadopsi sebagai sebuah identitas baru bangsa Indonesia atau seluruh manusia di bumi, misalnya dalam budaya timur yang diserap kebaikannya seperti keramahan, kepedulian dan solidaritas, lalu dalam budaya barat kita menyerap sikap pekerja keras, demokratis, mandiri, dan pantang menyerah.
Semua usaha pembangunan manusia baik moralitas/mentalitas dan IPTEK harus dikerahkan sebagai pengejawantahan diri setiap manusia terhadap penolakan keras terhadap segala bentuk penidasan, penghisapan dan perbudakaan. Kesuburan rahim ibu pertiwi yang mampu menumbuhkan berbagai tanaman yang berguna bagi umat manusia menjadikan pertanian sebagai salah satu jalan untuk bisa mewujudkan kebebasan, kesejahteraan dan kemanusian. Namun hal itu hanya akan mampu terwujud jika rakyat tani sudah memiliki kesempatan yang sama untuk berdaya dan memiliki teknologi yang tepat guna.
Berani- lah Indonesia, Beranilah Petani dan Beranilah Manusia!!! (Saeful Fatah)

Yayasan Umroh, Penyebab Wisuda Ditunda?

Tidak ada komentar
Unswagati,Setaranews.com- Bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan proses panjang kurang lebih empat tahun untuk menyusun pencapaian sebagai Mahasiswa Sarjana,tentunya diwisuda adalah moment sakral yang telah dinanti-nanti, namun apa jadinya bila acara wisuda ini harus ditunda. Kamis (07/01) tim setaranews.com melakukan wawancara secara eksklusif dengan Rektor Unswagati Prof.Dr.H.RochandaWiradinata,MP. Bersama jajaran Wakil Rektor di ruang Sekretariat Rektorat Unswagati Cirebon.

Baru-baru Ini Unswagati mengalami penundaan 800 orang Wisuda. Ada beberapa alasan mengapa Wisuda Unswagati ditunda ,diantaranya adalah Kopertis mensyaratkan Perguruan Tinggi yang akan melakukan wisuda harus menyampaikan laporan SK Rektor beserta buku wisuda dua minggu sebelum pelaksanaan wisuda dilaksanakan,jika tidak maka acara wisuda tersebut tidak boleh dilaksanakan.

Selain daripada itu ada interupsi dari Yayasan bahwa tanggal wisuda yang semula 29 Desember 2015 itu harus dirubah. Pihak Rekor beserta jajarannya sudah mengadakan rapat untuk upaya memepertahankan rencana pada tanggal tersebut, namun setalah menemui Ketua Pembina Yayasan untuk dibicarakan persoalan penundaan tanggal ini. Yayasan tetap menginterupsikan bahwa tanggal wisuda harus dirubah mengingat Ketua Pembina Yayasan pada tanggal tersebut 29 Desember 2015 akan melakukan Umroh.

”Sedangkan apabila Wisuda harus dihadiri oleh Ketua Yayasan”,ungkap Alfandi Wakl Rektor I.

Wisuda sendiri merupakan agenda akademik yang sudah direncanakan jauh-jauh hari,sebagai wujud dari pengabdian dan penelitian. Panitia Pelaksana sudah berusaha maksimal namun ternyata tidak sesuai yang direncanakan sebelumnya karena beberapa hal tersebut sehingga tanggal berubah.

“Atas nama Rektor Unswagati yang mewakili,kami menyampaikan mohon maaf,barangkali ada yang merasa tidak pas dengan hal penundaan tanggal wisuda ini”, ungkap  Alfandi lagi.

Selain itu Prof.Dr.H.RochandaWiradinata,MP. Selaku Rektor Unswagati pun angkat bicara dan menanggapi

“Walaupun ada perubahan tanggal tapi kita berusaha memberilan yang terbaik untuk wisudawan Unswagati agar tetap diwisuda dengan lancar”,ungkapnya.

Konfirmasi Soal Penegrian, Ketua Yayasan Sulit ditemui

Tidak ada komentar
Cirebon, SetaraNews.com – wacana Universitas Swadaya Gunung Jati (unswagati) untuk menajadi Perguruan Tinggi Negri (PTN) telah terdengar lama, namun hingga saat ini belum ada perubahan status dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ke PTN. Akan tetapi saat diesnatalis UInswagati ke 53 lalu (27/12) Gubernur Jawa Barat memberikan pernyataan mengejutkan, jika Unswagati batal menjadi universitas negeri.

Mengenai itu tim setara coba menemui ketua yayasan untuk konfirmasi tersebut. namun, pada saat tim setaranews berkunjung ke kantor yayasan. ketua yayasan tak bisa ditemui.

“Bapanya baru pulang umroh, terus juga akhir-akhir ini lagi sibuk kan mau wisuda” ujar salah satu staff yayasan, saat ditemui diruangannya (05/01) lalu

Akan tetapi saat tim setaranews meminta bertemu akhir pekan (jumat & sabtu) dengan ketua yayasa. hal tersebut nampaknya belum bisa terwujud sebab menurut staf tadi yayasan tengah sibuk menyambut wisuda.

“apalagi lagi akhir pekan, tambah sibuk. Kalau sebelum wisuda tuh bapa sibuk, mungkin entar aja udah wisuda .” tambahnya.

Wisuda Unswagati  sendiri akan dilaksanakan pada 14 januari 2016.

Gandrung Budaya (K)Pop Biar Dibilang ‘Kekinian’

Tidak ada komentar

Sabtu, 09 Januari 2016

Oleh Epri Fahmi Aziz
Saudaraku, sebangsa dan setanah air.  Saya lagi galau nih, maunya sih dalam kesempatan kali ini, saya bisa menceritakan keluh kesah yang mengganjal di benak dan hati saya, yang mebuat saya makan jadi tak teratur, mandi apalagi, sehari sekali juga udah untung banget.  Ceritanya mah  saya tuh mau ‘curhat’ tau.  Eh, eh nanti dulu, jangan salah pikir, curhatan saya kali ini bukan soal perkara yang selalu ngehits dibicarakan oleh kalangan muda mudi seperti kita, mulai dari fesbuk, twiter, instagram, bbm, sekolah, kampus, kos-kosan, kafe, pojok warung kopi sampe ke sudut wece, yaitu cinta.

Tau sendiri kan Cinta sekarang  juga mengalami pergesaran makna, bahkan dangkal, hanya direpresentasikan dengan sebuah kasih-sayang (katanya) dan diikat dengan sebuah tali yang sangat, ngat, ngat sakral, yang melambangkan gelar sebagai –kalo bahasa gaulnya –  pacar. Bukan seputar itu curhatan saya, walaupun ada sedikit pembahasan seputar cinta, ntar temen – temen tau sendiri deh cintanya seperti apa. Eh, ko jadi ngomongin soal cinte, gak bakal ada matinye, kata mandra sih begono. Sampe komputer ini jeblug juga gak bakalan ada endingnya, heehe.

Owh iya, sebelum saya curhat ke inti persoalan, alangkah lebih baiknya kalo kita plesbek dulu nih, tapi bukan untuk merenung apalagi sampe galau – galauan mengingat masa lalu yang bikin kita gagal move up, eh ngomongin cinta lagi, sory pemirsah.  Sejarah kan  telah membuktikan, bahwa culture (budaya) memiliki perananan penting dalam sebuah pencapaian peradaban suatu bangsa. Indonesia, negri saya tercinta – dan juga kalian (mungkin) - sebuah negri dibelahan timur dunia, memiliki culture yang begitu beraneka ragam loh. Negri yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawinya sampai dikenal dengan ‘samudra atlantik yang hilang’. Kita semua tau, rumusnya seperti itu.

Mengapa? Kita pasti mengakui negri ini memiliki keanegaraman yang sangat luar biasa, dimulai dari; alam, budaya, suku, ras, agama, bahasan dan prilaku masyarakatnya yang heterogen, pokoknya banyak banget deh.  Sejarah mencatat demikian, tapi itu hanya sebuah sejarah, sayangnya cuman tercatat di buku – buku pelajaran aja. Saya juga sering dengar,  dulu  pas jaman sekolah sampe sekarang, baca juga pernah, dan itu sangat sangat berguna buat saya, masuk ke otak saya, sangking masuknya sampe hafal diluar kepala. Akhirnya saya bisa ngisi jawaban soal – soal ujian dengan nilai yang sempurna. Hoo..rrreeeee!

Saudaraku, sebelum curhat saya terlalu jauh, kalian pasti punya pemikiran dan pendapat masing – masing nih terkait kebudayaan kita. Sebagai manusia –yang mengaku- moderen, gimana pandangan kalian? Biasa saja, memprihatinkan kah, atau tak terpikiran bahkan tak diperhatikan sama sekali? Kasian ya Indonesia kena PHP sampe baper yang berkepanjangan, ha..haa.  Temen – temen pasti tau kan kita sekarang – mau gak mau -  memasuki era globalisasi. Era ini semuanya ditandai dengan hal – hal yang semuanya itu berbau serba moderen.

Pakaian, hp, rumah, apa lagi, pasti banyak kan? Prilaku kita pun sama,  di tuntut (secara tidak langsung dipaksa) untuk mengikutinya. Akhirnya pergeseran nilai – nilai cultural, apalagi spritiual, tak bisa lagi kita bendung loh. Pada titik klimaks bahkan manusia moderen itu kaya binatang, banyak kasusunya, gak perlu diceritain, pasti udah pada tau.  percaya gak? Terserah sih, mau percaya atau gak, gak juga gak apa – apa. Aku mah apa atuh, makan, mandi, gosok gigi, ee juga dikampus. Sedih, ya, haha..ha.

Jadi gini asal muasalnya, kapitalisme dengan kekuatan capital (modal) menciptakan sebuah era yang disebut globalisasi. Dengan kekuatan modal itu bisa menciptakan pasar (teori ekonomi). Demi kepentingan untuk meraup keuntungan sebanyak – banyaknya, tentunya dengan mission imposiblnya untuk memporak – porandakan budaya kita yang agung nan luhur ini. Nah, makanya  sebagai pasar (karena penduduk kita banyak) – dengan berbagai komoditi khas modernitas –  kita digempur bertubi – tubi  dari segala lini sektor dengan prodak – prodak budaya modernnya. Prodaknya yaitu berupa industry budaya (media) yang mencipatakan apa itu yang dimaksud budaya pop.

Sampe sini, udah bisa di tangkap belum soal curhatan saya? Kalo gak didengerin saya mau pundung ah, gak mau dilanjut, ha.. haha. Tenang saya gak pundungan ko orangnya, sabar, tawakal, baik hati dan tidak sombong. Dilanjut ya curhatnya, boleh kan? Gak juga saya mau maksa. Kapitalisme itu emang pinter, bikin kita terpesona dan terlena.  Gampangnya sih gini, modenitas itu anak kandung dari kapitalisme, yang melahirkan anak cucu sampe cicit. Budaya pop (populer), yang akan menjadi fokus curhatan saya inilah salah satunya. Budaya pop tau? Pasti tau, paling tidak, pernah denger K-POP.  Ada yang suka K-POP atau drama korea, film, musik, sinetron, selfi, ngemall, shophing, nongkrong di kafe, pacaran? Pasti suka semua, saja juga suka, hahaha.

Nah itu semua merupakan budaya pop yang diciptakan oleh kapitalisme melalui modernitasnya. Makanya saya curhat, supaya kita bisa berbagi, dan bisa mengendalikan diri, supaya gak bablas, blas. Saat ini kita hidup dalam sebuah dunia yang penuh dengan identitas-identitas dari merek global. Hp pengennya yang bermerek, nongkrong ditempat yang bermerek, makanan minuman bermerek, sampe cinta pun kudu bermerek (pacaran).   Media massa inilah yang menjadi senjata utamanya, yang dimodali oleh perusahaan - perusahaan kapitalis tulen bertaraf global (multinasional). Akhrinya kita menjadi konsumen dari industri hiburan, kita jadi komoditas ekonomi, dan menjadi alat yang diperbudak oleh capital karena sekarang tolak ukur kita sebagai manusia moderen pasti berupa materi, yang melambang status, gaya hidup, tren, dan akhirnya jadi membudaya diantara kita semua.

Televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk pendapat umum, pola pikir, perilaku, dan kepribadian kita, temen – temen sadar gak?. Acara televisi itu mengusung nilai-nilai tertentu, kemudian nilai-nilai tersebut diadopsi oleh khalayak dan menjadi budaya yang berkembang dan menjadi tren diantara kita semua (masyarakat). Hal inilah yang dimaksud dengan budaya pop. Pengaruh media sangatlah dominan pada kehidupan kita, tingkah laku, sikap, gaya hidup kita, semuanya dipengeruhi, tanpa terkecuali.  Modernitas dengan membawa teknologi serta sarana dan prasarana, apabila kita tidak bisa mengontrol, maka akan tergoda, terbuai, terlena, dan lupa akan jati diri kita yang sebenarnya sebagai orang timur, yang terkenal dengan solidaritasnya, kepekaannya, kepintarannya, dan ‘keberadabannya’ dengan nilai – nilai luhur yang kita punya. Tau gak nilai luhur kita?  Coba pelajarin deh sejarah kebudayaan Indonesia;sosial,kultur,dan ekonomi. Kalau mau itu juga, gak juga gpp, saya sih gak rugi, gak ngeluarin modal ko, hehe.

Budaya pop itu memiliki berbagai dampak negative diantarnya  membuat kita jadi konsumtif, contohnya berbelanja, pacaran,nongkrong,  mendengarkan musik dan film cengeng dll.  Misalnya dalam dunia mahasiswa kekinian (masyarakat pada umumnya), lebih baik nongkrong sambil ngerumpi daripada diskusi, lebih seneng ngemall belanja yang gak – gak ketimbang beli buku, lebih asik bbman, twiteran, instgram ketimbang nulis.  Bener gak? Kalo salah maafin saya ya, please, heehe. Alhasil apa yang terjadi? Mental kita cengeng, moral kita rendah, individualistik, permisif, hedon, jauh terhadap nilai – nilai budaya, apalagi spiritual. Itu semua dampak negatif yang dibawa modernitas, selain mencari keuntungan karena kita memiliki penduduk yang luar biasa banyak dan konsumtif. Misi paling mengerikan dari kapitalisme itu menghancurkan pondasi  dari nilai – nilai luhur yang dimiliki oleh budaya kita. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan akan muncul fenomena kegalauan budaya pada tingkat individu dan tingkat sosial. Seperti yang sedang saya alami,  makanya saya curhat, karena saya lagi galau nich. Saya berfikir kalo terus – terusan kaya gini, gak bakalan ada lagi tuh manusia Indonesia,  adanya robot, mending robot sih , kalo zombi-zombi yang bermunculan kan ngeri. Hiiihhh, atut  gak sih, mengerikan.

Bagiamana ya cara membendungnya kawan - kawan? Menurut saya gampang ko, gak susah untuk membendung kapitalisme (barat), dengan gempuran budayanya. Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia Indonesia yang sadar dan cinta atas nilai – nilai luhur budaya dan spiritual kita. Cinta pada diri sendiri, cinta pada sesama, dan cinta pada Indonesia.  Kita ini merupakan ras paling istimewa loh  di dunia, makanya di bikin gak maju-maju, kalo maju Indonesia itu bisa jadi negara adidaya dari negara adidaya yang lainnya. Percaya gak? Peradaban dimulai dari negri kita, tidak bakal ada barat kalo belum ada timur. Budaya timur merupakan budaya yang paling luhur, tidak hanya untuk kita, sesama, Indonesia bahkan untuk dunia.

Jangan malu apalagi gengsi kalo kita dianggap tidak moderen – gak kekinian -  karena manusia moderen itu hakikatnya manusia yang tidak beradab. Sementara nilai cultur dan spiritual  kita itu mengajarkan kita jadi manusia yang bijak, bermoral dan spiritual, dan tentunya lebih beradab. Jangan malu jadi orang Indonesia justru harus bangga.  Ayo kawan, jangan muluk – muluk, cukup dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini. Kenali, pahami, rasakan, renungkan, dan kobarkan dalam hati, teriakan dalam dada, tekad kan dalam sanubari , katakan dengan lantang SAYA MANUSIA, MANUSIA INDONESIA. MANUSIA YANG PENUH RASA CINTA-KASIH UNTUK SESAMA, NUSANTARA DAN DUNIA. Ini curhatanku, curhatanmu? Sekian dulu, nanti dilanjut lagi ya, dadaaaahhhh.





Alam Tak Pernah Kehabisan Kata Untuk Di Ajak Bicara

Tidak ada komentar

Jumat, 08 Januari 2016

Biar aku selalu melihat tumpahan air di pelupukmu

Saat itu adalah puncak pendakianku menuju segara kesabaran yang telah lama dirindu

Aku ingat

Ketika menelaah disetiap tapakmu, langkahmu dan gerikmu

Kau tak akan pernah sadar

Bahwa langkahku sangat jauh berbeda dengan langkahmu

Bahwa kau tak pernah menorehkan pandangan di balik punggungmu

Bahwa kau tak pernah ingin tahu seberapa isi dibalik tas carrier punggungku

Bukan mengenai beratnya

Bukan

Sama sekali bukan

 

Inilah perjalanan bagaimana aku menelusuri isi di balik kepalamu

Kau sibuk melihat sesuatu yang ada di hadapanmu

Sedang aku menahan gunungan emosi yang bersemayam kokoh dilembah dada

Dan yang kurasa sepanjang perjalanan adalah

Bahwa kakiku terasa menari telanjang di atas panggung raya

Sambil di dekam perih oleh kerikil-kerikil tajam yang menganga

Dengan butiran nafas nan berair selalu menyapa

Puing-puing kelelahan hanyalah teman biasa

Lalu dihadapkan pula pada gradasi waktu yang tak henti untuk memangsa

Tapi biarlah, semesta selalu tak pernah kehabisan kata untuk diajak bicara

Biar sajak terlahir atas pedih dengan hamparan makna

Esok dan nanti ku kan tetap ke sini jua

 

 

Catatan Ciremai,17 Agustus 2014

Ini Dia Harga Baru BBM

Tidak ada komentar
Jakarta, Setaranews.com- Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) resmi diturunkan. Hal ini disampaikan menteri sekertaris negara Pramono Anung di Istana negara malam tadi. Terhitung sejak pukul 00.00 WIB sejumlah jenis bahan bakar mengalami penurunan harga.

“Hari ini secara resmi pemerintah mengumumkan rencana menurunkan harga BBM dengan ada beberapa hal, apa yang diumumkan (terkait harga BBM) adalah harga keekonomian," ujarnya seperti dikutip Antaranews.com.

Direktur utama Pertamina Dwi Soetjipto dalam kesempatan yang sama mengumumkan tarif BBM yang berlaku sekarang, "Kami sampaikan sesuai dengan harga keekonomisan harga solar turun dari Rp6.700 menjadi Rp5.650 per liter,"  Ujar Dwi.

Berikut harga BBM setelah mengalami penurunan : Harga Premium untuk Jawa, Madura dan Bali turun dari Rp. 7.400 menjadi Rp 7.150 perliter. Harga Solar untuk daerah Jawa, Madura dan Bali yang semula Rp 6.700 menjadi Rp 5.950 perliter (harga setelah ditambah potongan DKE). Sementara Pertalite turun dari semula Rp.8.250 menjadi Rp 7.900 per liter. Harga pertamax untuk DKI Jakarta dan Jawa Barat turun dari Rp 8.650 menjadi Rp 8.500, sedang harga pertamax untuk Jawa Tengah dan DIY turun dari semula Rp 8.750 menjadi Rp 8.600, untuk harga pertamax di Jawa Timur turun dari Rp 8.750 menjadi Rp 8.600.

 

Panitia Anggap Aneh Apatisme Dalam Debat Kandidat

Tidak ada komentar

Kamis, 07 Januari 2016

Cirebon, SetaraNews.com – Kurangnya antusias mahasiswa ekonomi pada debat kandidat antara calon ketua badan ekskutif mahasiswa (BEM) dan calon ketua himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) ekonomi membuat panitia merasa aneh, padahal panitia sendiri sudah mensosialisasikan kepada masing-masing ketua kelas.
“Itu aneh nya, saya juga masih kurang tau kendalanya apa tetapi saya sudah berusaha memberitahu kepada perwakilan kelas untuk dapat hadir di acara debat kandidat” ujar Muhammad saeful rahman panitia penyelenggara
Mahasiswa yang biasa di sapa ipul menambahkan jika panitia sudah berusaha memaksimalkan akan tetapi tetap saja masih ada kekurangan, “enggak terlalu maksimal lah, sudah berusaha untuk memaksimalkan tetap aja ada kekurangan”
Untuk pemilihan panitia sudah menginformasikan kepada masing-masing ketua kelas akan tetapi tetap saja tak ada tanggapan.
“Kita udah beritahukan pada perwakilan ketua kelas nya masing-masing, jadi beritahu lewat pesan singkat tapi tetep aja enggak ada tanggepan” tambahnya
Meski begitu acara debat kandidat ini berjalan dengan tertib walau kurang kondusif.

Kualitas Dosen Unswagati Buruk

Tidak ada komentar
Mahasiswa yang sejatinya memenuhi kewajibannya untuk membayar DPP dan SKS sebagai syarat (apabila mampu) ditetapkannya sebagai mahasiswa aktif sebuah Universitas. Bicara hak dan kewajiban tentunya pada prinsip yang berimbang, ketika kenyataannya antara hak dan kewajiban itu tidak selaras. Sebagai mahasiswa kita telah melakukan  kewajiban; membayar DPP dan SKS, tapi apakah kita mendapatkan hak kita sebagai mahasiswa? Lalu, apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa khususnya? Diam. Mungkin ini salah satu hal yang dialami oleh sekelompok mahasiswa atau mahasiswa pada umumnya. Angket dosen yang kenyataannya harus diisi oleh pendapat mahasiswa dijadikan alat untuk protes habis-habisan terhadap kinerja dosen selama satu semester.

Penulis menemukan satu kejanggalan, yang menurut penulis itu merupakan masalah. Dosen yang tugasnya mengajar dan mentransferkan ilmu untuk diimplementasikan mahasiswa, jangankan mengajar untuk memasuki kelas aja tidak. Anehnya lagi, dosen tersebut malah mengharuskan mahasiswanya untuk membeli buku sebagai bahan ajaran, “ngapain disuruh beli buku, toh dia ga’ pernah masuk, sayang uangnya”, ujar salah satu teman. Kenyataan lain berkata bahwa dosen tersebut memberikan pengajaran kilat, tujuh pertemuan itu diganti dengan waktu 15 menit saja ketika menjelang Ujian. Miris bukan? Tanggung jawab yang seharusnya memang dilaksanakan dengan baik nyatanya menjadi bahan permainan. Lalu, bagaimana mahasiswa bisa berkualitas, dalam segi pengajarannya saja tidak becus, apalagi dijadikan sebagai suri tauladan.

Disisi lain, beberapa dosen nampaknya menutupi kesalahan dosen yang satu ini. Salah seorang teman bahkan bercerita bahwa wali dosennya saja sampai berkata, “dia orang penting di sini”, lalu pertanyaannya, seberapa penting jabatan seseorang apakah akan mempengaruhi tingkat tanggung jawabnya? Penulis pribadi tak urus mau dia orang penting atau enggak, masalah kewajiban tetap tidak bisa dinomor duakan. Di sisi lain, ada dosen yang dianggap juga penting dalam satu jurusan tersebut, tapi ia masih bisa tanggung jawab, “ia, dosen yang lain masih minta kalau ada pergantian jadwal”, ujar teman yang lain.

Jadi memang di sini masalahnya bukan pada mahasiswanya itu sendiri, bisa jadi karena dosen dan atau pimpinan jurusan terlalu membiarkan sikap dosen tersebut sampai tidak adanya teguran terhadap dosen yang membiarkan mahasiswanya menunggu jadwal ujian dari pagi kenyataannya harus diganti jadwal menjadi esok harinya.

Beberapa permasalahan dan kritikan terhadap dosen yang dinilai mengabaikan tanggung jawabnya memang hanya jadi opini public saja. Bagaimana pun, angket yang seolah hanya berbentuk tulisan jika tidak ditindak lanjuti juga untuk apa menghabiskan waktu meminta mahasiswa yang tak pernah mendapatkan ilmu sedikit pun dari dosen yang bersangkutan untuk mengisi angket tak berguna itu? Bukankah seharusnya angket dosen adalah sebagai bagian dari evaluasi perjalanan satu semester? Beberapa semester penulis lalui dengan dosen yang sama, nyatanya tetap tidak ada pergantian untuk dosen dengan mata kuliah yang sama. Sampai kapan pembiaran ini akan berlanjut?

Ketika ditanya mengenai alasan dosen tersebut tidak masuk, teman lain memberikan pendapat bahwa, “saya sedang ada bimbingan, saya sedang ada di rumah sakit”, begitu seharusnya seorang intelek (manusia berpendidikan S2) memberikan jawaban terhadap seorang MAHAsiswa? Kaitannya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Di sini keadaan kampus kita sedang dihadapi isu penegerian yang tak pernah kunjung usai. Lihat saja di internal-nya sendiri. Seperti inikah kualitas dosen sebuah perguruan tinggi negeri? Memang, penulis akui, tidak adanya manusia yang sempurna bahkan untuk seorang dosen itu sendiri. Tentu ada beberapa hak preogatif yang akan menyelamatkan nyawa seorang dosen di satu universitas.

Jika kenyataannya dosen tersebut tidak pernah mengevaluasi dirinya sendiri, tidak pernah mendengarkan pendapat manusia, atau membiarkan sikapnya seperti itu, -mentang-mentang anak seorang petinggi universitas-, itukah yang dijadikan alasan kuat untuk berlaku seenaknya, wahai bapak dan ibu dosen yang terhormat. Adakah satu solusi agar kami nyaman di rumah sendiri? “Setidaknya kami minta diganti dosennya untuk semester depan”, kawan yang lain berpendapat.

Pasal 1: Dosen tidak pernah salah. Pasal 2: Jika dosen salah kembali ke Pasal 1. Inilah kondisi yang pantas untuk menggambarkan dosen yang bersangkutan.

”Disuruh beli buku tapi gak ngerti mau diisi apa. Pernah dilayangkan surat peringatan tapi tidak ada tanggapan”, pungkas seorang teman. Pembiaran seperti ini sebenarnya akan membuat mahasiswa memberikan opini-nya sendiri terhadap keseriusan kampus ini dalam memberikan kualitas yang baik. Seiring berjalannya waktu biaya kuliah semakin mahal dengan kualitas yang seperti ini, sebenarnya siapa yang patut disalahkan kemudian?

Opini ini ditulis sebagai bentuk otokritik penulis terhadap lembaga, Unswagati. Atas nama mahasiswa biasa penulis menyayangkan tidak adanya ketegasan terhadap dosen yang tidak bertanggung-jawab. Melakukan kritikan dalam bentuk tulisan mungkin salah satu langkah terakhir karena beberapa tindakan kami (pernah) tidak dihiraukan. Penulis berharap ini tidak dijadikan hal negatif untuk beberapa pihak. Kita bangun opini yang baik bersama-sama, di dalam maupun di luar kampus. Membentuk pola pikir mahasiswa ternyata bergantung pada beberapa hal termasuk lingkungan dan dosen sebagai salah satu pengajar.

Unswagati Hanya Fiktif Belaka

1 komentar

Rabu, 06 Januari 2016

Oleh Epri Fahmi Aziz


Semenjak beredarnya isu mengenai penegrian Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagi) – kalau tak salah sekitar 7 tahun yang lalu – nama Unswagati langsung melejit dan ngehits di wilayah Ciayumajakuning. Beriringan dengan isu  tersebut  lah Unswagati menjadi peguruan tinggi swasta yang ‘besar’ dan diminati masyarakat. Sehingga, membuat Unswagati menjadi  PTS  unggulan. Tak dipungkiri, hal itu berkat kontribusi dari  isu PTN sebagai  alat promosi yang berhasil membius si konsumen (masyarakat) agar meng-amini dan memakannya bulat – bulat. Strategi pemasaran yang efektif dan efisien. Berhasil dan tepat sasaran.

Keberhasilan alat promosi itu bisa dilihat dari tingkat kepercayaan masyarakat kepada Unswagati yang dianggap akan membawa ‘prestasi’ bagi anak-anaknya,  dengan penuh harapan ketika masuk  berubah jadi negri. Kemudian, hal itu membuat jumlah mahasiswa yang mendaftar ke Unswagati melonjak dengan tajam, bahkan sampai overload (melebihi kapasitas daya tampung). Bagi penulis, tak aneh apabila hal ini (sering) terjadi, karena memang kuantitas dinomor satukan ketimbang kualitas,  “Yang penting mah banyak konsumennya, supaya bisa meraih keuntungan sebanyak - banyaknya” celetuk seorang teman. Sangat wajar apabila  statement – statement negatif pun berkembang, ada yang bilang “Tidak memperdulikan bagaimana dampak dan risiko dari cara – cara yang dilakukan,” keluhnya. Bahkan ada yang nyinyir dan sinis (sangking kecewanya) menanggapi wacana yang beredar dengan mengatakan “Tampaknya,  watak kapitalistik sudah merasuki relung hati dan pikiran para pemangku kebijakan di Unswagati” pungkasnya.  Memang sangat mengerikan, apabila sebuah lembaga pendidikan memiliki watak kapitalistik, seperti apa jadinya output dari produk (mahasiswa) yang dikeluarkan Unswagati?

Penulis masih ingat betul – tiga tahun yang lalu-  salah satu elit  Unswagati yang dengan gegap gempita mengatakan   bahwa mengenai penegrian sedang dalam proses. “Proses terus, kapan jadinya?” celetuk lagi seorang teman. Aset – aset yang dimiliki Unswagati pun konon katanya telah di ’serahkan’ kepada pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk ditindak lanjuti. Dan selama proses tersebut, Unswagati dilarang untuk menambah asetnya. Ketika overload kuota, mau tak mau Unswagati pun menambah asetnya dengan membangun gedung baru. Pembangunan sudah dilakukan dua kali selama proses penegrian. Celetuka terus berdatangan, “Katanya gak boleh nambah asset, tapi pembangunan terus dilakukan, gimana sih!”. Dari statement yang berkembang itulah penulis mulai ragu dengan wacana penegrian.

Selama proses penegrian penulis terus  berusaha mencari tahu sejauh mana kebenaran prosesnya, alasan klasik pun selalu dilontarkan oleh  pihak Rektorat dan Yayasan, yaitu masih kurangnya lahan sebanyak 9 hektar (Unswagati baru memiliki 21 hektar), katanya pula Pemda atau Pemkot mau memberikan hibah untuk menutupi kekurang lahan tersebut. Tapi Pemd mendadak tidak jadi memberikan lahan, dan akhirnya Pemda atau Pemkot menjadi kambing hitam oleh pihak Rektorat atau Yayasan setiap mahasiswa mempertanyakan kembali soal penegirian. Sementara itu, konon lahan 19 (dari total 21 yang dimiliki) hektar berupa hibah dari Pemprov Jabar.  Seorang teman mempertanyakan “Apakah dokumen hibah sebagai bukti telah dihibahkan benar adanya?  Perasaan dari kapan juga alasannya itu – itu aja, apa itu yang dinamakan proses?” ungkapnya. Sepertinya celotehan – celoteh tersebut sampai terdengar ke telinga Gubernur Jabar. Sampai pada akhirnya - mungkin karena kekesalan Pemprov juga yang menganggap Unswagati tak serius mengurus soal penegrian -  tak jarang Gubernur Jabar melontarkan statement di media  “Saya akan membangun ITB di Cirebon apabila Unswagati tak serius,” tukasnya.    

Klimaks soal penegrian pun terjadi pada saat perayaan Diesnatalis Unswagati yang baru saja digelar beberapa minggu lalu. Gubernur pun dengan gagahnya memberikan bocoran bahwa ingin membangun ITB di Cirebon 2016 mendatang, karena tak mau lahan 19 hektar milik pemprov mubazir begitu saja. ‘Saya mau bangun ITB diluar daerah (DD) di Cirebon, dari pada lahan milik Pemrov mubazir,” ucapnya. Dari statement tersebut sudah jelas bahwa lahan yang semula diperuntukan untuk penegrian Unswagati dialihkan untuk pembangunan ITB, dengan alasan masih menunggu evaluasi dari pemerintah pusat mengenai kampus – kampus yang akan dinegrikan.

Tampaknya wacana yang berkembang di internal benar adanya, ada yang mengatakan dengan nada yang menggebu - gebu “Unswagati gak negri – negri ya karena dari Unswagatinya sendiri yang mempersulit dan berusaha mengulur waktu. Nunggu balik modal  dan untung banyak dulu,” pungkasnya. Jangan – jangan hal itu benar adanya, bahwasannya yang betul – betul  tak mau Unswagati menjadi negri itu adalah dari pihak civitas akademik  itu sendiri– tak terkecuali yayasan – yang saling tarik ulur kepentingan. Kalau ada keseriusan sudah dari dulu sebetulnya bisa jadi negri. Kalah dengan  Politeknik Indramayu dan Unsil yang baru kemarin sore menabuh genderang penegrian, malah lebih dulu mengibarkan bendera negrinya.  Menyalip Unswagati yang jauh lebih dulu dan lebih ‘akbar’ menggembar – gemborkan isu PTN. Tapi tak kunjung terlaksana. Miris. Dari tarik ulur kepentingan itu siapa yang dirugikan? Jelas mahasiswa lah yang langsung akan terkena dampaknya. Berapa ribu mahasiswa (dan orang tuanya) yang merasa dibohongi, dikecewakan?  Mahasiswa, bahkan masyarakat (orang tua mahasiswa) sebetulnya bisa menggunakan haknya untuk melakukan gugatan class action ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Kalau mau itu juga.

Penulis merasa tersinggung sebagai bagian dari Unswagati ketika mendengar Isu yang berkembang dimasyarakat, yang akhirnya  berbalik ibarat senjata makan tuan. “Boro – boro negri, ngurusin jadwal wisuda aja gak bisa,” sindir salah satu orang tua mahasiswa. Sebetulnya – apabila sadar – tidak penting itu mau negri atau tidak, yang lebih subtansi yaitu pembenahan kualitas dari semua aspek; manajemen, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan dengan buku-bukunya yang memadai, dosen dll.  Sekarang, lantas langkah apa yang akan dilakukan oleh Unswagati ketika  penegrian itu tidak jadi. Apakah ingin memperbaiki kualitas? Kualitas yang mana, seperti apa? jadwal wisuda saja sampai diundur. Sepele kelihatannya, justru dari hal yang dianggap sepele itu bisa terlihat ‘bobroknya’. Sangat tidak rasional apabila alasannya gara – gara mahasiswa libur. Aneh, Wisuda   masuk dalam jadwal kalender akademik, yang penyusunannya direncanakan jauh-jauh hari. Kok bisa diundur? Berangkat dari proses perencanaan saja tidak becus! Apalagi bicara soal eksekusi program?

Menyelenggarakan perayaan Diesnatalis yang kesannya hanya hura – hura dan tidak menyentuh pada  sbutansi aja bisa, seperti; lomba karoke, jalan sehat dan berbagai kegiatan lainnya. Kenapa  wisuda  gak bisa dan sampai di undur? Perayaan Diesnatalis pun sebetulnya penulis miris, karena tidak merepresentasikan sebuah lembaga pendidikan berupa Universitas. Mbo ya, perayaan Diesnatalis diwarnai dengan nuansa – nuansa budaya akademik yang lebih dominannya, seperti misalnya; Refleksi Unswagati,  perlombaan membuat karya tulis untuk dosen dan mahasiswa, diskusi publik, bedah buku dll. Apa itu dilakukan pada saat perayaan Diesnatalis? Jangankan dilakukan, terbesit dibenak saja sepertinya tidak. Kualitas macam apa?

Sudah bukan rahasia umum lagi soal pembangunan gedung baru yang sedang digarap  diwarnai dengan pro-kontra. Karena konstruksi yang digunakan jauh dari standar (gagal struktur), dan lebih parahnya lagi konon sampai ada penyalahgunaan wewenang dan anggaran. Apabila memang sampai terjadi hal semacam itu dilingkungan Universitas,  keterlaluan, dan tak pantas disebut sebagai lembaga pendidikan. Karena lembaga pendidikan sebenarnya sangat menjung – jung tinggi nilai – nilai moralitas dan integritas. Jangankan memproses atau memperjuangkan dengan penuh cinta-kasih untuk membawa Unswagati menuju negri, yang memang sudah menjdai program (katanya). Mengurus kalender akademik saja tak mampu, mengurus pembangunan agar terhindar dari budaya KKN saja tak becus. Apa itu yang dinamakan lembaga pendidikan? Apa itu yang dimaksud Kualitas? Memalukan dan menjijikan! Tampaknya, campur tangan Yayasan sudah terlalu jauh sampai ke ‘dapur’ Unswagati, akhirnya Rektor sebagai pucuk pimpinan hanya sebatas simbol, bahkan boneka! Malang sekali.

Dengan di bangunnya ITB di Cirebon 2016 mendatang, harapan Unswagati menjadi kampus negri di Ciayumajakuning pupuslah sudah. Embel - embel label 'menuju negri' dalam setiap promosinya hanyalah alat untuk menarik minat masyarakat, yang akhirnya dilanda kekecewaan yang luar biasa karena harapan 'menuju negri' tersebut tak kunjung datang, dan bahkan tak akan pernah datang. Pembohongan publik. Stop berharap. Tidak ada kata Unswagati menuju negri, itu hanya fiktif belaka.  Mahasiswanya pun (BEM, DPM, UKM ,) fiktif belaka, karena hanya diam saja melihat situasi dan kondisi seperti saat ini, sibuk dan asik dengan dunianya masing-masing (zona nyaman). Miris dan Memperihatinkan!

Tulisan ini merupakan bentuk cinta-kasih penulis terhadap kampus tercinta khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bentuk pengabdian yang bisa penulis lakukan. Mari kita membangun bersama Unswagati menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dan tentunya humanis. Dimana bisa menciptakan manusia – manusia handal, berintegritas dan bermoral. Apabila kondisinya masih seperti ini, dan terus dibiarkan begitu saja, cita – cita pada saat didirikian Yayasan dan membangun Unswagati untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat cuman sekedar mitos, dan akhirnya hanya fiktif belaka.  Hanya kesadaranlah sarat mutlak transformasi sosial; Unswagatyang lebih baik. Bukannya begitu wahai Unswagati? Cuci mukalah biar terlihat segar!

Puisi: Mendekap Penantian

Tidak ada komentar

Senin, 04 Januari 2016

Hai, seseorang yang tak ingin kusebutkan namanya

Kau yang tak ingin kuakui keberadaannya

Katamu indah

Mengikat dan melepas itu lumrah.

 

Hai, seseorang yang pernah bernama cinta

Jujur aku rindu memaksa bercerita

Walau kau lelah dan bosan: jangan

Walau kau benci cerita yang mengulang.

 

Hai, bolehkah aku memaksa bertemu

Meminta waktu bertegur sapa matamu

Kudengar itu angan-angan

Alasanku membenci sebuah pertemuan

 

Semalam aku mendekap bayangmu

Sebuah penantian kukatakan

Seolah kau hadir dan memeluk mimpi: bersamaku

Mimpi yang pernah kita bangun berdua

Bahwa perpisahan kau yakinkan tak pernah ada

 

Hai, dengarkan aku

Aku lupa berapa lama tak lagi cerita

Selalu kutuliskan sebuah perjanjian yang ada

Pada dinding yang terus diam tak menganggap

Kau yang seolah tak ingin kenal dan mengenal aku yang gagap.

 

Oleh: Luqyana Dahlia

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews