Responsive Ad Slot

Pemerintah Kota Cirebon dalam Menangani Warga Miskin dan Anak Terlantar

Tidak ada komentar

Sabtu, 16 Januari 2016

Sesuai yang tercantum  pada pasal 34 UUD 1945 ayat 1 yang berbunyai “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara”, lalu pada ayat 2 yang berbunyi “Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, dan di ayat 3 berbunyi “Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.”

Pasal tersebut bermakna Negara (pemerintah), Negara bertanggungjawab dalam memelihara warga negaranya terutama warga fakir miskin dan anak-anak terlantar. Fakir sendiri berarti orang yang tidak berdaya karena tidak mempunyai pekerjaan apalagi penghasilan, dan juga mereka tidak mempunyai sanak saudara di bumi ini. Sedangkan miskin ialah orang yang sudah memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi pengeluaran kebutuhan mereka, tapi mereka masih mempunyai keluarga yang sekiranya masih mampu membantu mereka yang miskin.

Namun fakir miskin disini dapat diartikan sebagai warga yang tidak memiliki penghasilan dan tidak mencukupi dalam memenuhi kebutuhan seperti sandang, pangan, dan papan. Masih banyak terlihat di lingkungan perkotaan maupun di daerah, para gepeng yang mengemis di jalanan, pusat keramaian, dan lampu merah. Anak - anak terlantar seperti  anak - anak jalanan, anak yang ditinggal orang tuanya karena kemiskinan yang melandanya. Ironis memang, masih banyak gepeng dan anak jalanan yang berada di jalan dan meningkat setiap tahunnya, bahkan mereka menjadi bisnis baru dari pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini harusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang mengampanyekan menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, dan tidak sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yaitu fakir miskin dan anak - anak terlantar dipelihara oleh negara.

Menurut Dede Dahlia selaku Kepala Bidang Sosial yang bertugas pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan untuk warga-warga yang mengemis itu rata-rata bukan warga asli Cirebon, “Kebanyakan yang mengemis di pinggir jalan itu bukan warga yang tinggal di Cirebon, dan rata-rata berdomisili diluar kota,” ujarnya.

Pemerintah sendiri telah memberikan pelayanan bagi warga-warga miskin seperti PKH (Program Keluarga Harapan), “Pemerintah telah mencanangkan PKH ini yang mudah-mudahan dapat mengurangi kemiskinan pada lima tahun kedepan,” tambahnya.

Selain PKH, pemerintah juga telah memberikan pelayanan bagi warganya yang memiliki kekurangan (disabilitas) seperti dilatih, lalu diberi modal dengan harapan mengangkat harakat dan martabatnya.

 

Pimpinan Baru Fakultas Ekonomi Resmi Dilantik

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Pelantikan pimpinan dari Fakultas Ekonomi yakni Ketua DPM, Gubernur dan Wakil Gubernur, Ketua Umum HMJ Akuntansi dan HMJ Manajemen dilaksanakan pada Jumat (15/1) bertempat di gedung ekonomi ruang 207. Acara pelantikan ini hanya berselang satu minggu sejak terpilihnya pimpinan yang baru. Acara yang semula diagendakan pukul 08.00  ternyata mengalami kemunduran hingga satu jam dan selesai pukul 10.00.

Ketua DPM terpilih yaitu Rais Alfian, Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih atas nama Jamaludin dan Retno Dwijayanti, sementara Ketua Umum HMJ Manajemen dan Akuntansi yaitu Rical Abuzanur dan Diki Syaiful Anwar. Acara pelantikan dihadiri oleh Dekan FE, Wakil Dekan III, Wakil Dekan II, Kabiro Keuangan, Kajur Manajemen, dan Sekretaris Manajemen.

Pelantikan kali ini cukup meriah dan kondusif, "Alhamdulillah acaranya lebih baik dari tahun lalu baik secara persiapan maupun pelaksanaan, acaranya juga cukup meriah, cukup kondusif dan dengan bangga dilantik sendiri oleh ibu Dekan," ujar Muhammad Saeful Rahman selaku ketua pelaksana pemilihan umum raya mahasiswa.

Atas terpilihnya pimpinan yang baru ini, harapannya dapat membawa Fakultas Ekonomi menjadi lebih baik, "Mudah-mudahan dapat membawa Fakultas Ekonomi yang lebih baik lagi, lebih maju dan lebih berkembang dari tahun yang lalu," tutupnya.

 

Benarkah Sudah Ada Surat Edaran PTN Gagal?

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com– Berita mengenai penegerian Universitas Swadaya Gunung Jati masih belum jelas. Ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa Unswagati telah batal menjadi PTN (Perguruan Tinggi Negeri), tetapi pihak Universitas mengatakan bahwa proses penegerian ini ditunda atau moratorium.

Beberapa waktu lalu Setaranews.com mencoba meminta klarifikasi mengenai surat penegerian Unswagati yang gagal menjadi PTN kepada Kaprodi Ikom (Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi) yang mengatakan bahwa sudah ada surat edaran bahwa PTN gagal. Pernyataan tersebut keluar pada saat berlangsungnya perkuliahan di kelas, tetapi pada saat diklarifikasi ulang justru pernyataan berbeda keluar dari Faridah Nurfalah, “Bukan batal tetapi pending, sebenarnya banyak berita tentang PTN di internet, coba aja cari di internet pasti banyak,” ujarnya saat ditemui diruangannya pada Rabu (6/1).

Begitu pun pernyataan yang sama keluar dari Sekretaris Prodi, Abdul Jalil Hermawan, “bukan hanya Unswagati yang dimoratorium, tetapi semua universitas di Indonesia yang akan beralih status menjadi PTN pun sama ditunda” tuturnya.

Soal Prodi Baru di Unswagati, Ini Jawaban Rektor

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com– Sebagai rangkaian agenda Dies Natalis ke-53, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon menggelar sidang terbuka wisuda XLIII yang berlokasi di Hotel Zamrud dan diakhiri dengan penyerahan apresiasi bagi wisudawan/wisudawati lulusan terbaik oleh Rektor Prof. Dr. Rochanda Wiradinata, MP. Pada wisuda kali ini diikuti sebanyak 854 wisudawan/wisudawati.

Dalam konferensi pers usai acara tersebut rektor menjelaskan perihal mengenai pengadaan program studi baru di Unswagati, beliau menyebutkan bahwa Program Studi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) merupakan salah satu upaya mewujudkan visi dari Unswagati yakni Leading in Learning.

“PGSD sudah kami usulkan empat tahun lalu, apa yang terjadi jawaban dari Dikti nanti karena terkait proses PTN yang masih ingin dicapai, bukan hanya PGSD, ada juga prodi lain, namun itu dua hal yang berbeda sesungguhnya, bisa saja walaupun dalam proses penegerian kita buka program studi yang baru”, tutur Rektor pada (14/01).

Selain itu Rektor juga berpendapat bahwa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Unswagati bisa dikatakan merupakan sebuah ikon perguruan yang ada di Ciayumajakuning. Jika program PGSD diadakan di Unswagati merupakan suatu langkah tepat karena tenaga pendidik sudah memadai dan expert dibidangnya. Sesuai dengan SK (Surat Keputusan) yang diterima dari Dikti pada November tahun lalu, dan akan mulai dibuka pada bulan september 2016 mendatang.

Ini Alasan Unswagati Belum Juga Negeri

Tidak ada komentar

Jumat, 15 Januari 2016

Cirebon, Setaranews.com – Perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Universitas Swadaya Gunung Jati hingga saat ini belum juga terlaksana dikarenakan dari 11 persayaratan yang ada, Unswagati baru memenuhi 9 persyaratan. Persyaratan yang belum terpenuhi yaitu kurangnya lahan 9 hektar dan surat pernyataan dari Pemerintah Daerah.

“Tinggal 2 , yang pertama masalah tanah 9 hektar yang kedua adalah surat pernyataan dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kota tentang kesanggupan mendanai selama proses masa transisi 3 sampai 5 tahun itu belum ada, Dikti sangat menunggu yang 2 itu,” ujar rektor  saat ditemui pada Kamis (14/01).

Jika saja persyaratan Unswagati sudah terpenuhi maka pada Oktober 2014 lalu Unswagati sudah menjadi negeri, “Kalau saja yang dua itu tuntas bulan oktober 2014 lalu, Unswagati ceritanya lain, sudah menjadi negeri,” tambahnya.

HMJM Gelar Oprect untuk Calon Anggota Baru

Tidak ada komentar

Kamis, 14 Januari 2016

Unswagati Cirebon, SetaraNews.com - Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) Fakultas Ekonomi Unswagati,  mengadakan open recruitment untuk calon anggota baru tahun 2015-2016. Adapun proses seleksi bertempat di gedung FE   kampus satu Unswagati.

Pantauan setaranews, Pengurus HMJM terlihat sedang melakukan seleksi untuk Calon Anggota (Caang). Seperti yang diungkapkan oleh ketua pelaksana opreck  Ade Uswanci, kegiatan tersebut berlangsung hanya 1 hari, adapun mekanismenya di awali dengan pendaftaran melalui formulir, mengumpulkan formulir pendaftaran, serta melakukan seleksi wawancara yang dilaksanakan pada hari ini.

“Peserta yang mendaftar berjumlah 101 orang tetapi yang hadir pada hari ini hanya 71 peserta, nantinya yang berhasil keterima tergantung pada musyawarah seluruh pengurus HMJM, “ ujar devanci kepada setaranews.com, kamis (14/01).

Lebih lanjut, Ade Uswanci menjelaskan bahwasannya kegiatan tersebut bertujuan untuk menyeleksi calon pengurus HMJM,  dengan harapan nantinya anggota HMJM bisa loyal terhadap organisasi dan tentunya  berdedikasi tinggi  demi kemajuan HMJM kedepannya.

‘Kami berharap opreck ini bisa menciptakan anggota yang loyal dan berdedikasi tinggi keapda organisasi, dalam hal ini HMJM,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu peserta opreck, Ikhwal Firmansyah mengatakan, dengan mengikuti seleksi ini Ia berharap bisa mengenali dunia organisasi dan bisa diimplementasikan pada saat selesai menempuh studi.

“  Ikut seleksi HMJM itu supaya ngerti organisasi biar kelak berguna didunia kerja, seleksinya seru ada yang serius juga , harapannya sih semoga keterima dan bisa jadi bagian dari HMJM.”  Katanya kepada setaranews.com .

Reporter magang LPM Setara : Silvia & Ananda

Indonesia Kekinian dan Nasionalisme Kaleng Kerupuk

Tidak ada komentar

Rabu, 13 Januari 2016

Opini-Mengubah Indonesia? Apanya yang mesti diubah? Dengan segala kelebihan yang negeri ini miliki, dengan segala kemurahan tuhan menempatkan kita di bangsa yang kaya ini. Apa pula yang harus kita ubah? Barangkali pertanyaan-pertanyaan di atas yang muncul jika pernyataan “Mengubah Indonesia” ditanyakan pada para pendahulu kita.

Coba cari di buku-buku sejarah, atau biar lebih “kekinian”coba selancar di  google, apa yang dilakukan Soedirman, Sutomo, Supratman, Sjahrir sampai sang proklamator Bung Karno ketika negara ini masih sebatas cita-cita? Setelah penulis berselancar di mesin pencari kenamaan itu, yang penulis temukan adalah kata-kata patriotik semisal berjuang, berusaha ataupun membentuk. Ya, karena memang itulah yang mereka lakukan untuk bangsa ini.  Soedirman berjuang dengan bergerilya, Sutomo berjuang dengan memimpin pertempuran pada 10 November, Supratman berusaha dengan mewujudkan organisasi budi utomonya dan Sjahrir juga Soekarno membentuk fondasi negeri lewat strategi percaturan politiknya. Tidak ada kosakata mengubah di situ.

Coba tengok negara lain, seberapa banyak negara, yang memiliki paket komplit, diwujudkan dengan sebuah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, sumber energi terbarukan yang kaya raya, garis pantai yang panjang, keberagaman suku budaya dan bahasa, potensi wisata kelas dunia sampai tambang emas dengan kualitas terbaik sejagat raya. Sulit menandingi kekayaan kita. Jadi, dengan segala kelebihan itu untuk apa pula kita mengubahnya? Mengapa tidak kita rawat dan berdayakan saja?

Barangkali disitu masalahnya. Merawat dan memberdayakan segaala apa-apa potensi yang sudah kita kantongi. Penulis rasa semuanya bergantung pada kepedulian segenap masyarakat Indonesia hari ini. Indonesia itu bukan sekedar merah putihnya, bukan Indonesia rayanya, bukan Pancasilanya, bukan Pemerintahnya, bukan Jakartanya apalagi pulau Jawanya. Indonesia itu semuanya. Dari Setetes air laut di perairan paling barat Pulau Weh kemudian melewati 34 Provinsi dengan segala isinya dari mahluk hidup sampai yang pernah hidup, dari yang yang indah sampai yang paling indah juga dari yang baik hati sampai yang seenak hati. Kemudian berhenti di sebutir tanah paling timur dekat perbatasan Papua Nugini di Kabupaten Merauke. Itulah Segenap Indonesia. Utuh!

 Indonesia Kekinian

Akhir-akhir ini kata “kekinian” sedang digandrungi oleh warga Indonesia, khususnya kalangan remaja. Keikinian sedikit menggeser istilah ngetrend pada tempatnya. Dari dunia nyata sampai dunia maya istilah kekinian sedang jadi primadona. Lalu apa kabar Indonesia kekinian?

Jika melihat gaya hidup orang Indonesia pada umumnya hari ini, penulis rasa Indonesia kekinian sedikit menggeser kaidah kebersahajaan serta kearifan Indonesia yang sudah melekat. Orang Indonesia khususnya kalangan muda lebih suka menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam obrolan bersama koleganya ketimbang mengeluarkan istilah-istilah daerah sebagai bentuk identitas asal masing-masing individu. Jangankan istilah, logat kedaerahan saja sudah banyak  terhapus dari lidah orang muda Indonesia kekinian. Mengapa begitu? Masalahnya seperti ada sebuah ketentuan tidak tertulis yang menyebutkan jika mereka yang berbahasa dengan istilah atau logat kedaerahan yang kental, disebut kampungan atau mungkin dijadikan lelucon. Jika memang demikian, timbul sebuah pertanyaan dari penulis, kalau merawat logat daerah saja tidak bisa, bagaimana mau merawat segala potensi sumber daya yang kita miliki?

Lalu coba kita lihat selera pasar kita. Orang Indonesia kekinian cenderung menyukai produk yang notabenenya dibuat di luar Indonesia. Produk-produk yang sekiranya punya merek kenamaan. Kalau pun ada dua merek dengan kegunaan sama, dengan kualitas yang sama, orang Indonesia kekinian cenderung memilih produk yang dibuat oleh luar negeri. Gengsi, barangkali itu kata ajaib yang mengakibatkan tersingkirnya produk-produk dalam negeri. Padahal, kalau saja kita mau bermurah hati megedepankan produk dalam negeri, penulis rasa hal itu akan berdampak baik pada pertumbuhan perekonomian kita. Setidaknya angka pendapatan nasional Indonesia akan meningkat. Apalagi Indonesia menurut data United Nation of Environment Program (UNEP) tahun 2012 menyebutkan jika negara ini adalah negara ke empat paling konsumtif se-Asia Pasifik. Dengan segala catatan di atas, biarkan penulis bertanya, kalau untuk memberdayakan produk dalam negeri saja kita ogah, bagaimana mungkin kita berdayakan segala kekayaan yang secara baik tuhan beri cuma-cuma untuk negara kita ini? Orang Indonesia kekinian barangkali sudah kadung lupa, kalau setiap hari yang ia pijaki adalah tanah gembur yang diperjuangkan dengan seluruh tumpah darah. Lupa kalau setiap hari yang diminum adalah rembesan air yang berasal dari sumur-sumur garapan dalam negeri. Lupa jika yang setiap hari dimakan adalah nasi dari olahan padi terbaik khas produk khatulistiwa.

Nasionalisme Kaleng Kerupuk

Bagai kerupuk lupa kalengnya, barangkali boleh penulis sedikit geser adagium “bagai kacang lupa kulitnya” dalam perspektif tulisan penulis kali ini. Kenapa harus kaleng kerupuk? Karena begini, menurut penulis nasionalisme kita hari ini, terutama orang muda, sudah seperti kerupuk yang kalengnya lupa ditutup. Artinya jika kaleng kerupuk tidak ditutup, kerupuk pasti akan melepes. Nah, nasionalisme kita pun tidak jauh berbeda. Ketika kita sudah sulit untuk membendung laju globalisasi yang suka tidak suka masuk dan mengubek-ubek kearifan kita, maka para masyarakat, terutama pemuda sangat terkena imbasnya. Penulis tidak begitu mempersoalkan bagaimana globalisasi tanpa filter bisa masuk dan menyalin kearifan kita. Tapi, lebih ke bagaimana ketahanan kita selaku pewaris negeri yang dengan mudah terpengaruh dan melepes karena efek globalisasi tadi. Berapa banyak dari kita yang hafal lagu rayuan pulau kepala ketimbang lagu all of me nya john legend? Atau berapa banyak dari kita yang lebih suka lagu sepasang mata bola ketimbang lagu shake it off nya Taylor Swift? Soal ini mungkin menyangkut selera. Tapi, bagaimana mungkin selera bisa menggeser kepayahan Ismail Marzuki saat menciptakan rayuan pulau kelapa dan sepasang mata bola sebagai hadiah untuk negeri ini? lalu kita lupa?

Celakanya terjadi beberapa saat lalu. Saat Indonesia sedang dirundung hegemoni konferensi tingkat tinggi Asia Afrika. Presiden kita justru lupa akan pakaian identitas negara. Peci hitam. Padahal peci hitam adalah penutup kepala khas yang kita miliki. Dari Soekarno sampai Yudhoyono, peci hitam seakan tak pernah lepas dari kepala Presiden Indonesia kecuali Megawati dalam forum internasional. Jika orang nomer satu di negeri ini saja tak mengindahkan perlunya menonjolkan ke khasan yang sudah turun temurun terwarisi, pada siapa lagi kita percaya bahwa ke elokan ragam budaya ini akan terus terjamin?

Pidi Baiq dalam Al-Asbunya menulis bahwa  “Seandainya engkau adalah seekor kucing, jangan disebabkan karena menggonggong sedang menjadi tren di masyarakat, maka hal itu menyebabkan engkau pergi kursus belajar menggonggong. Mungkin pada akhirnya engkau bisa. Tetapi apa kata orang jika ada kucing yang menggonggong, padahal sesungguhnya kucing itu mengeong karena itulah jati dirinya yang asli.

Lalu berapa banyak dari kita yang mengetahui bagaimana pancasila bisa disebut ideologi Indonesia? Mengapa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan menjadi lima dasar yang harus menjadi fondasi negara ini? Atau berapa banyak dari kita yang mahfum kenapa nama negara ini harus Indonesia? Mengapa harus merah putih yang jadi panji keramat kita. Bagaimana asal usulnya? adakah dari kita yang sengaja browsing hanya untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas? Kalau jawabanya masih belum. Ya sudah, sulit untuk kita membendung laju globalisasi ini. Kemudian bagaimana bisa kita kelola negeri kita jika latar belakang negeri ini yang paling dasar saja tidak pernah terpikirkan di benak kita?!

Senang atau tidak negeri kita sudah terbuka. Seperti kaleng kerupuk yang lupa ditutup. Globalisasi sudah tidak bisa tidak lagi untuk ditolak. Bahkan Masyarakat Ekonomi Asean sudah berjalan. Tinggal bagaimana kita menjadi kuat dan bangga akan segala bentuk kearifan yang secara harfiah kita miliki. Kalau bukan saya, anda, teman anda, temanya teman anda, temanya temanya teman anda dan terus hingga kata teman membentang dari Anyer sampai Panarukan, lalu siapa lagi yang peduli? Ini Indonesia dengan segala kehebatan alam dan kebrengsekan para kebanyakan pengambil kebijakannya. Di tangan kita lah sekarang semua bergantung, mau meninggalkan segala kebajikan negeri ini atau turun langsung mengurus, merupa dan merawat Indonesia? Terserah anda, yang jelas negeri ini harus diperbaiki bukan diubah.

 

Penulis : Muhamad Wildan

Mahasiswa Tingkat IV Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Swadaya Gunung Jati

Galeri investasi Adakan Seminar Bareng BEI

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com – Kelompok studi Fakultas Ekonomi yaitu Galeri investasi Unswagati (Universitas Swadaya Gunung Jati) mengadakan seminar dengan tema edukasi pasar modal dan sosialisasi program “yuk nabung saham”. Seminar ini bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pembicara yang dihadirkan dari BEI sendiri yaitu Dirgantara. Acara dimulai pukul 8:00 hingga 16:30. Peserta dari acara seminar sendiri adalah mahasiswa wilayah 3 Cirebon dan para dosen Unswagati.
Meski persiapannya hanya seminggu, tetapi tidak mengurangi antusiasme peserta. Terbukti dari banyak peserta yang hadir. Panitia sampai harus membuatnya menjadi dua sesi.
“Sebenernya acara ini dadakan satu minggu. Peserta itu dari pagi 135 sesi pertama,kalau sesi kedua 100. Karena kuota tidak memadai jadi kami bikin dua sesi” ujar Rian Herdiana selaku ketua pelaksana saat ditemui setara di gedung ekonomi lantai dua.
Sesi pertama dimulai pukul 08:00 hingga 12:00 dengan peserta khusus untuk mahasiswa Unswagati, sedangkan sesi kedua dimulai pukul 13:00 hingga 16:30 dan diperuntukkan dosen serta mahasiswa luar Unswagati.

Rektor Ogah Jelaskan Molornya Pembangunan Gedung Baru

Tidak ada komentar
Unswagati-setaranews.com- Kamis lalu (07/01) Tim setaranews.com melakukan pertemuan guna untuk wawancara dengan Prof.Dr.H.Rochanda Wiradinata,MP. selaku rektor universitas swadaya gunung jati (unswagati) cirebon berserta jajaran wakil rektor di ruang sekretariat rektor unswagati cirebon, dalam pertemuan tersebut setaranews sempat membahas masalah pembangunan gedung baru di kawasan kampus satu unswagati yang awalnya ditargetkan akan selesai pada bulan november 2015 tahun lalu, nyatanya sampai saat ini pembangunan gedung baru itu tak kunjung selesai.

Sementara rektor unswagati enggan memaparkan resolusi pembangunan gedung baru saat diwawancarai tim setaranews.com  disekretariat rektor unswagati cireboon.
“Saya kurang tahu persis tentang resolusi pembangunan gedung baru di unswagati, karena itu bukan kapasitas saya untuk memaparkannya, pembangunan gedung baru itu sepenuhnya kapasitas yayasan, jadi yang bisa menjelaskan pembangunan gedung baru itu pihak yayasan” ungkap Prof.Dr.H.Rochanda Wiradinata,MP. selaku rektor unswagati cirebon.
Saya saja belum sempat bertemu dengan pihak yayasan karena saat ini dia sedang melakukan umroh, mungkin selepas dia umroh saya akan menemui langsung guna menanyakan bagaimana kejelasan pembangunan gedung baru yang sampai saat ini belum juga tuntas” tutupnya.

Mahalnya Biaya Pendidikan

Tidak ada komentar

Minggu, 10 Januari 2016

Persoalan mengenai dunia pendidikan sudah menjadi topik yang tak asing lagi diperbincangkan oleh berbagai kalangan mulai dari kalangan atas, menengah, hingga bawah. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok yang harus dimiliki oleh setiap manusia karena pendidikan akan menentukan status sosial dari seseorang, semakin tinggi jenjang pendidikan yang dilalui maka akan semakin dihormati pula orang tersebut dalam lingkungan masyarakatnya.

Tak sedikit kasus yang menerpa dunia pendidikan, diantaranya persoalan mengenai biaya pendidikan yang tidak bisa dijangkau oleh masyarakat miskin, kesenjangan mutu pendidikan di wilayah kota dan pedesaan, kekerasan yang dilakukan guru kepada siswa, rendahnya kualitas tenaga pendidik, kurangnya fasilitas yang menunjang pembelajaran dan masih banyak lagi kasus lainnya. Namun dari sekian banyak permasalahan yang ada, hal yang ingin disoroti dalam tulisan ini yaitu mahalnya biaya pendidikan khususnya di Indonesia.

Bukan suatu hal yang aneh bila masyarakat yang sejatinya dituntut untuk menyelesaikan pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) yang khususnya di Indonesia sendiri mencanangkan wajib belajar 12 tahun merasa sangat kesulitan untuk mencapainya, terlebih hal ini dirasakan oleh masyarakat miskin yang sekedar untuk makan saja pas-pasan, apalagi untuk biaya pendidikan yang mahal. Program pemerintah tersebut seharusnya tidak melulu memperhatikan kewajiban, tetapi juga hak dari masyarakatnya. Tidak semua masyarakat Indonesia memiliki perekonomian yang baik, bahkan di negara kita jumlah masyarakat miskin tidak sedikit, dapat ditengok pada wilayah kota-kota besar seperti Jakarta yang merupakan Ibukota negara kita, disana banyak terdapat pengangguran, pengemis maupun pengamen, bahkan pencopet. Hal ini menunjukkan bahwa bagi orang-orang menengah ke bawah, pendidikan merupakan hal yang sulit mereka dapatkan akibatnya banyak anak kecil yang putus sekolah dan memutuskan untuk mencari uang guna membantu perekonomian keluarganya dengan cara yang bervariasi, namun mayoritas bagi anak yang putus sekolah satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah mengemis atau mengamen. Ini merupakan kejadian yang miris, mahalnya biaya untuk dapat bersekolah merupakan suatu permasalahan yang harus segera ditangani dengan cepat dan tepat. Bagaimana tidak? Bila hal ini terus terjadi maka generasi penerus bangsa yang harusnya bisa meneruskan cita-cita negara akan sedikit demi sedikit hilang.

Pemerintah sudah memberikan sekolah gratis? Tapi nyatanya tetap saja masih banyak anak Indonesia yang tidak memperoleh pendidikan, masih banyak dari mereka hanya mampu menempuh hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahkan ada yang berhenti sekolah setelah menyelesaikan studi pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Problematika biaya pendidikan bukan hanya soal biaya SPP yang harus dibayarkan setiap bulan yang katanya sudah mendapat label gratis dari pemerintah, namun juga mengenai buku tunjangan belajar seperti Lembar Kerja Siswa(LKS), seragam sekolah, peralatan sekolah, hingga administrasi lainnya yang berhubungan dengan sekolah tersebut. Selain itu mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan yang ingin ditempuh maka semakin mahal biaya yang harus dibayarkan, sering terdengar kasus bahwa untuk dapat mengikuti ujian, seorang siswa harus sudah menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, sehingga mau tidak mau untuk dapat mengikuti ujian dia harus melunasi administrasi yang belum dibayarnya. Ini berarti administrasi dijadikan alasan untuk memperdaya peserta didik dalam menerima haknya untuk mendapatkan ilmu.

Pemerintah sudah memberikan beasiswa? Tapi nyatanya masyarakat miskin tetap tidak dapat bersekolah. Hal ini bisa terjadi akibat pemberian beasiswa yang tidak tepat sasaran. Beasiswa yang seharusnya diberikan kepada siswa yang tidak mampu namun diberikan pada siswa yang mampu. Hal ini karena seleksi untuk mendapat beasiswa juga tidak begitu ketat, tidak ada survey secara langsung yang dilakukan pemerintah terhadap calon penerima beasiswa. Seharusnya pemerintah harus bisa lebih selektif lagi dalam menentukan calon penerima beasiswa agar beasiswa dapat tersalurkan dengan benar.

Beban biaya pendidikan yang menghantui generasi muda untuk memperoleh ilmu harus segera diselesaikan agar tidak ada lagi permasalahan yang menjadi hambatan bagi anak bangsa untuk memperoleh pendidikan sehingga setiap generasi muda dapat mencapai cita-citanya dan turut serta dalam pembangunan bangsa.

 

Pembebasan dari Ladang Petani

Tidak ada komentar
Kesadaran revolusioner harus di tularkan kepada setiap manusia dan tetap harus ada di muka bumi ini.

Kesempatan yang adil
Kemajuan teknologi pertanian di Indonesia menimbulkan pengurangan tenaga kerja manusia yang digantikan oleh mesin-mesin pertanian. Hal ini akan memenangkan kelompok-kelompok yang memiliki modal (teknologi, tanah dan uang). Sebelum mencoba memasukan teknologi/mesin di dalam pertanian yang dapat menggantikan manusia oleh mesin, pihak yang berkuasa atau dalam hal ini harus sudah mampu memberikan kesempatan yang sama bagi tiap masyarakat untuk mampu berkembang. Seperti permasalahan agraria di mana ketimpangan kepemilikan tanah antara tuan tanah dan buruh pekerja yang tidak memiliki lahan pertanian. Padahal Setiap warga negara Indonesia berhak memiliki lahan yang sudah diatur dalam Undang-undang Reforma Agraria. Pekerjaan besar bagi pemimpin bangsa ini untuk bisa memberikan jaminan keadilan kepada rakyatnya dan juga menjadi tanggung jawab kaum intelektual untuk mengentaskan persoalan bangsa ini khususnya dalam bidang pertanian yang syarat dengan permasalahan.

Teknologi Pertanian
Kemajuan teknologi harus dipahami sebagai kebangkitan kesejahteraan rakyat, bukan sebagai bab baru dari kelanjutan penindasan di era ini. Teknologi ini bisa diartikan sebagai sumber kekuatan produktif bagi individu dalam masyarakat itu sendiri. Namun yang kemudian penting adalah bagaimana teknologi itu didistribusikan, dikuasai dan dikelola oleh masyarakat banyak.
Pembangunan yang selalu berpusat pada kota menimbulkan ketidakmerataan diberbagai bidang yang paling jelas adalah masalah ekonomi. Maka kemajuan teknologi ini adalah solusi yang kiranya tepat untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan produktif desa, sehingga arah pembangunan pun datang dari bawah bottom-up. Khususnya pembangunan bidang pertanian pembangunan harus berlandaskan teknologi yang tepat guna, namun dapat dengan adil memberikan kesempatan bagi petani kebanyakan untuk dapat berkembang bersama.
Pada sejarahnya di Indonesia pernah mengalami perubahan teknologi pertanian dari yang menggunakan organisme bahan bakar rumput sampai mesin berbahan bakar minyak, dari burung dan ular di ganti dengan racun (revolusi hijau). Ternyata lompatan teknologi ini malah menimbulkan berbagai permasalahan seperti sulitnya mendapatkan pupuk kimia dan mahalnya pestisida yang paling berbahaya akhirnya adalah masalah kerusakan lingkungan. Penggunaan teknologi  hanya berorientasi pada hasil saja, alhasil lingkungan (ekosistem) yang dikorbankan. Teknologi yang disusupkan ke dalam masyarakat secara paksa dan tidak timbul dari kebutuhan masyarakat, yang paling jernih hanya menimbulkan racun bagi kehidupan rakyat itu sediri.
Kebutuhan akan produk pertanian yang semakin tinggi sedangkan produktivitas yang cenderung konstan bahkan menurun menjadikan kebutuhan teknologi di bidang pertanian masuk dalam tingkat kritis, namun teknologi yang sekarang digunakan malah cenderung tidak ramah lingkungan dan syarat dengan boros energi serta bahan bakar fosil. Maka dari itu penggunaan teknologi pada pertanian haruslah ramah lingkungan dan menggunakan energi terbaharukan.
Bisa dibayangkan jika setiap individu dalam masyarakat pertanian memiliki kesempatan yang sama dalam kemajuan produktivitasnya dengan penguasaan teknologi yang mapan, maka krisis pangan, kelaparan, kenaikan harga bahan pangan bahkan yang paling radikal yaitu kemiskinan dapat diatasi. Menilik kembali bahwa Indonesia sudah tersohor sebagai negara agraris, dimana tanah, air, udara dan seluruh unsur penyusun kehidupan sangat ideal bagi tumbuh dan berkembangnya berbagai mahluk hidup.
Teknologi yang mampu menghasilkan produktivitas yang melimpah saja tidak akan pernah baik jika, teknologinya tidak ramah lingkungan dan tidak berdasarkan keinginan dan kebutuhan dari masyarakatnya. Jika teknologi pertanian sudah ada dan nyata berada dimasyarakatnya maka yang harus diperhatikan selanjutnya adalah keadilan dalam mendapatkan kesempatan yang sama untuk kesejahteraan. Teknologi hanyalah sebuah kendaraan dan alat bagi tercapainya kesejahteraan umat manusia maka driver manusia sendiri tanpa dibarengi moralitas dan mentalitas yang baik hanya akan menimbulkan bencana.

Pertanian sebagai modal pembebasan
Kekayaan alam Indonesia adalah potensi terbesar sebagai jalan membebaskan diri dari perbudakan, mengukuhkan dan mengultimatumkan suatu pernyataan bahwa setiap manusia mampu merdeka dan terbebas dari ketergantungan kebutuhan alamiah dasar dan seterusnya mampu untuk hidup sejahtera dan mengembangkan setiap potensi diri dalam ruang demokratis untuk bersama mewujudkan dunia yang bebas dari penindasan dan penghisapan kapitalisme. Mengutip pemikiran dan tulisan Hannah Arendt “Pengertian kebebasan yang paling sederhana adalah lepas/terpenuhinya dari tuntutan kebutuhan pokok dasar alamiah seperti sandang, pangan dan papan.”
Jika dalam alam fikiran saya, pertanian adalah modal dasar pembangunan manusia menuju kesejahteraan. Maka hal yang paling kronis adalah menata kembali pola pikir masyarakat pertanian yang kapitalistis, karena infiltrasi kebudayaan global yang materialistis, individualis dan serakah. Merombak mentalitas populis masyarakat indonesia bisa diartikan sebagai mengembalikan dan menyadarkan kembali manusia sebagai mahluk sosisal yang tidak bisa mengacuhkan lingkungannya. Menyadarkan kembali bahwa dalam setiap gerak dan langkah setiap individu terdapat kontribusi nyata dari individu lain dan lingkungannya. Manusia, hewan, tanaman, batu, tanah, air dan semua yang ada adalah satu kesatuan yang saling menopang demi keberlanjutan kehidupan di permukaan bumi, percayalah kita semua saling terhubung.
Temporer ini kaum intelektualis disibukkan dengan perbincangan arus globalisasi yang di satu sisi menyisipkan budaya negatif. Lalu memperdebatkan budaya mana yang harus dianut sebagai sebuah identitas yang baik, Timur atau Barat. Kecenderungan manusia untuk membedakan dan memisahkan sesuatunya juga harus kita pandang dengan arif. Jangan sampai pengidentitasan sebagai pengkerdilan diri suatu bangsa yang akhirnya melahirkan penjara bagi manusianya untuk berkembang dan mengoptimalkan potensinya.
Memperbincangkan kajian para filsuf Post Modern bahwa budaya yang baik bukan saja bersumber dan berakar dari tradisi yang sudah ada sekian lama. Pertimbangan perbaikan mentalitas dan moralitas diri tidak harus terkungkung pada warisan leluhur. Modern secara epistemologi adalah sesuai tuntutan zaman, dan modern juga bukan berarti meninggalkan penggalan-penggalan kearifan masa lalu. Perbaikan dan pembangunan harus muncul dari keresahan, kebutuhan dan keinginan masyarakat itu sendiri sebagai sebuah cerminan kerakyatan. Manusia yang merdeka harus mampu meleburkan setiap pengalaman jiwa masa kini dan masa lalu mampu melahirkan perbaikan yang lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya Kehidupan dan tuntutan zaman yang begitu dinamis tidak seharusnya disikapi dengan mental dan moral yang ortodoks.
Bisa disimpulkan untuk mampu menjadi manusia yang mampu kita harus pandai mengolah dan memisahkan mana yang baik dan sesuai bagi manusia disaat ini dan di tempat ini. Entah budaya itu berasal dari barat atau timur bahkan yang paling primitif sekalipun jika itu dirasa pantas dan cocok maka tidak ada penolakan untuk diadopsi sebagai sebuah identitas baru bangsa Indonesia atau seluruh manusia di bumi, misalnya dalam budaya timur yang diserap kebaikannya seperti keramahan, kepedulian dan solidaritas, lalu dalam budaya barat kita menyerap sikap pekerja keras, demokratis, mandiri, dan pantang menyerah.
Semua usaha pembangunan manusia baik moralitas/mentalitas dan IPTEK harus dikerahkan sebagai pengejawantahan diri setiap manusia terhadap penolakan keras terhadap segala bentuk penidasan, penghisapan dan perbudakaan. Kesuburan rahim ibu pertiwi yang mampu menumbuhkan berbagai tanaman yang berguna bagi umat manusia menjadikan pertanian sebagai salah satu jalan untuk bisa mewujudkan kebebasan, kesejahteraan dan kemanusian. Namun hal itu hanya akan mampu terwujud jika rakyat tani sudah memiliki kesempatan yang sama untuk berdaya dan memiliki teknologi yang tepat guna.
Berani- lah Indonesia, Beranilah Petani dan Beranilah Manusia!!! (Saeful Fatah)

Yayasan Umroh, Penyebab Wisuda Ditunda?

Tidak ada komentar
Unswagati,Setaranews.com- Bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan proses panjang kurang lebih empat tahun untuk menyusun pencapaian sebagai Mahasiswa Sarjana,tentunya diwisuda adalah moment sakral yang telah dinanti-nanti, namun apa jadinya bila acara wisuda ini harus ditunda. Kamis (07/01) tim setaranews.com melakukan wawancara secara eksklusif dengan Rektor Unswagati Prof.Dr.H.RochandaWiradinata,MP. Bersama jajaran Wakil Rektor di ruang Sekretariat Rektorat Unswagati Cirebon.

Baru-baru Ini Unswagati mengalami penundaan 800 orang Wisuda. Ada beberapa alasan mengapa Wisuda Unswagati ditunda ,diantaranya adalah Kopertis mensyaratkan Perguruan Tinggi yang akan melakukan wisuda harus menyampaikan laporan SK Rektor beserta buku wisuda dua minggu sebelum pelaksanaan wisuda dilaksanakan,jika tidak maka acara wisuda tersebut tidak boleh dilaksanakan.

Selain daripada itu ada interupsi dari Yayasan bahwa tanggal wisuda yang semula 29 Desember 2015 itu harus dirubah. Pihak Rekor beserta jajarannya sudah mengadakan rapat untuk upaya memepertahankan rencana pada tanggal tersebut, namun setalah menemui Ketua Pembina Yayasan untuk dibicarakan persoalan penundaan tanggal ini. Yayasan tetap menginterupsikan bahwa tanggal wisuda harus dirubah mengingat Ketua Pembina Yayasan pada tanggal tersebut 29 Desember 2015 akan melakukan Umroh.

”Sedangkan apabila Wisuda harus dihadiri oleh Ketua Yayasan”,ungkap Alfandi Wakl Rektor I.

Wisuda sendiri merupakan agenda akademik yang sudah direncanakan jauh-jauh hari,sebagai wujud dari pengabdian dan penelitian. Panitia Pelaksana sudah berusaha maksimal namun ternyata tidak sesuai yang direncanakan sebelumnya karena beberapa hal tersebut sehingga tanggal berubah.

“Atas nama Rektor Unswagati yang mewakili,kami menyampaikan mohon maaf,barangkali ada yang merasa tidak pas dengan hal penundaan tanggal wisuda ini”, ungkap  Alfandi lagi.

Selain itu Prof.Dr.H.RochandaWiradinata,MP. Selaku Rektor Unswagati pun angkat bicara dan menanggapi

“Walaupun ada perubahan tanggal tapi kita berusaha memberilan yang terbaik untuk wisudawan Unswagati agar tetap diwisuda dengan lancar”,ungkapnya.

Konfirmasi Soal Penegrian, Ketua Yayasan Sulit ditemui

Tidak ada komentar
Cirebon, SetaraNews.com – wacana Universitas Swadaya Gunung Jati (unswagati) untuk menajadi Perguruan Tinggi Negri (PTN) telah terdengar lama, namun hingga saat ini belum ada perubahan status dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ke PTN. Akan tetapi saat diesnatalis UInswagati ke 53 lalu (27/12) Gubernur Jawa Barat memberikan pernyataan mengejutkan, jika Unswagati batal menjadi universitas negeri.

Mengenai itu tim setara coba menemui ketua yayasan untuk konfirmasi tersebut. namun, pada saat tim setaranews berkunjung ke kantor yayasan. ketua yayasan tak bisa ditemui.

“Bapanya baru pulang umroh, terus juga akhir-akhir ini lagi sibuk kan mau wisuda” ujar salah satu staff yayasan, saat ditemui diruangannya (05/01) lalu

Akan tetapi saat tim setaranews meminta bertemu akhir pekan (jumat & sabtu) dengan ketua yayasa. hal tersebut nampaknya belum bisa terwujud sebab menurut staf tadi yayasan tengah sibuk menyambut wisuda.

“apalagi lagi akhir pekan, tambah sibuk. Kalau sebelum wisuda tuh bapa sibuk, mungkin entar aja udah wisuda .” tambahnya.

Wisuda Unswagati  sendiri akan dilaksanakan pada 14 januari 2016.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews