Responsive Ad Slot

BEM FE Gandeng Sponsor Rokok Gelar Ngabuburit Ramadhan

Tidak ada komentar

Jumat, 10 Juli 2015

Unswagati-Setaranews.com Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM FE) kembali menggandeng sponsor rokok dalam acara ngabuburit ramadhan di Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). Acara yang mengundang sejumlah artis ibu kota itu cukup mengundang perhatian dari mahasiswa Unswagati.

Menurut Doni ketua BEM FE, pihaknya memang sudah merencanakan sejak jauh hari untuk mengadakan acara ngabuburit ini. namun, tawaran datang dari salah satu merek  rokok yang akhirnya kembali menjalin kerjasama.

“Ini kerjasama dari bem fakultas ekonomi dengan pihak sponsor. Untuk yang program ini baru kali ini. karena kita sendiri dari BEM FE udah niat mau ada acara ngebuburit lalu ada ajakan dari pihak sponsor ya kenapa kita tidak kerjasama” Ujarnya disela acara

Sementara itu untuk perizinan sendiri, Doni berujar sempat mendapat masukan pihak kampus karena menggandeng sponsor rokok

“perizinan sih alhamdulillah. Cuma gimana ya, ini kan lembaga pendidikan jadi jangan terlalu banyak acara yang ada brand-brand rokoknya” katanya lagi

Sementara itu salah satu pengisi acara, Pidi Baiq, mengaku senang dapat kembali ke Cirebon dan cukup mengapresiasi acara yang dilangsungkan pukul 15.00 WIB tersebut.

“Semua acara itu bagus mau dari sponsor mau non sponsor selama itu memang membuat kita senang dan riang gembira. Gatau kenapa aku suka tempat ini, menyenangkan, kawan kawanya juga agak rock and roll itu yang membuatku senang” katanya ketika Setara temui setelah turun panggung.

Dalam acara tersebut hadir juga Anji eks Drive dan Budi Doremi yang turut memeriahkan kampus utama Unswagati.

 

Perempuan, Hijab, dan Profesi -Keluar dari Pasungan atau Menaati Kodrat?-

Tidak ada komentar

Kamis, 09 Juli 2015

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Q.S Al Ahzab (33): 59


 


Hijab dan profesi, dua hal yang bisa saling berkaitan keberadaannya di masa kini. Dengan mudahnya kita menemui beragam profesi perempuan berhijab maupun tak, di lain sisi ada perempuan yang sedang berjuang di negara tetangga sebagai pahlawan devisa. Dengan siksaan fisik maupun psikis yang mereka terima. Lalu, apa sebenarnya yang harus dilakukan perempuan? Pantaskah kita menjadi bagian dari pembangunan bangsa atau jalani saja takdir kita yang hanya terpaku pada dapur, kasur, dan sumur?

Sebagian orang yang tinggal jauh dari hingar bingar perkotaan bisa saja berpendapat jalani saja kodrat sebagai perempuan. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan yang ada, perempuan juga harus beraktualisasi, beradaptasi dengan perubahan dan pola pikir perempuan masa kini. Masih ingat dengan perjuangan R.A. Kartini tentang emansipasi. Perjuangan beliau mengangkat derajat kaum hawa setara dengan laki-laki. Nah, aktualisasinya bisa kita temui saat ini. Lambat laun pemikiran wanita sebagai makhluk lemah mulai pudar, dan sekarang berhak menjadi pemimpin dan menerima pekerjaan apapun.

"Perempuan tak cuma berhak memperoleh kesehatan dan kehidupan yang layak, tapi juga mempunyai hak peran penting di lingkungannya", Cherie Blair, pengacara & istri Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.

Perdagangan bebas, hadirnya teknologi komunikasi yang mahadahsyat dan keterbukaan gelombang informasi adalah salah satu penyebab dari ketidakmungkinan memasung kaum hawa itu dalam kungkungan rumah tangga. Perempuan kini dituntut memberdayakan potensi dirinya, mewujudkan need of achievement (kebutuhan akan prestasi), dan mengaktualisasikan motivasi intelektualnya. Jika dikatakan bahwa perempuan hanyalah setingkat lebih rendah daripada laki-laki, katakan salah. Perempuan yang kita temui kini bukan sekadar agen, tetapi penggerak pembangunan. Di mana kaum perempuan sebagai pendorong pembangunan, maka disitulah pembangunan akan berjalan. Jadi, jangan katakan pantas atau tidak pantasnya seorang perempuan memegang peranan penting satu negara, kalau perempuan jadi agen pembangunan, jadi penggerak pembangunan, maka di negeri itulah bergerak pembangunan. Melalui potensi dan karakter unik yang berbeda dengan laki-laki, perempuan sangat dibutuhkan dalam mendorong pembangunan. Mahatma Gandhi (dalam Sarinah) berkata, "banyak sekali pergerakan-pergerakan kita kandas di tengah jalan, oleh karena ketiadaan perempuan didalamnya."

Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi dan Karakter Bangsa memiliki tiga kata kunci, yaitu peran perempuan, ekonomi, dan karakter bangsa.Perempuan dan laki-laki mempunyai kedudukan dan hak yang sama di muka hukum serta hak dan peran yang sama untuk berekspresi dan bekerja dimanapun dia berada dan berhak mendapatkan perlindungan sebagai warga negara. Secara teoritis tiga peran utama perempuan di Indonesia adalah peran reproduktif dimana fungsi perempuan yang dapat hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak didalam keluarga. Kedua, peran produktif dimana perempuan melakukan karya-karya produktif dengan berbagai profesi yang menghasilkan, baik jasa maupun pendapatan. Dan yang ketiga adalah peran sosial yaitu peran sosial perempuan yang banyak dilakukan untuk membantu masyarakat setempat tanpa imbalan atau gratis.
Wanita harus semakin empowered agar memiliki bargaining position yang dapat meningkatkan jejaring pergaulan dan kepercayaan diri serta kemandirian di bidang ekonomi. Terkait dengan peran perempuan/ibu di dalam pembangunan karakter bangsa, maka perannya juga menjadi krusial mengingat dewasa ini dengan adanya borderless world dari sisi teknologi, komunikasi, dan informasi yang kemudian masuk kedalam keluarga.

 

Eksistensi perempuan hijabers di dunia pekerjaan tidak diragukan lagi. Tuntutan kewajiban untuk menutup aurat dan tuntutan pekerjaan untuk selalu memberikan hasil
yang baik, menjadi dua alasan paling kongkrit untuk menyadari peran penting aksi perempuan dalam pembangunan. Berbagai kontes yang menyarankan perempuan tidak hanya cantik secara fisik juga inner beauty, pintar juga berhijab menambah deretan perempuan yang siap bersaing secara nasional dan global, menjadi penggerak pembangunan bangsa. Beberapa profesi wanita berhijab lain yang menantang juga menambah deretan panjang daftar nama-nama tokoh penerus emansipasi. Neta Amalia, wanita berhijab yang merupakan Insinyur Struktur Pesawat asal Bandung yang bekerja di perusahaan Briston, Inggris menjadi satu dari sekian banyak wanita Indonesia yang telah membuktikan dirinya mampu bersaing di kancah internasional dengan hijabnya. Beberapa artis yang memilih untuk berhijab, seperti Terry Putri yang baru-baru ini menjadi perbincangan public karena hijrahnya. Untuk penulis sendiri, Asma Nadia penulis dari 50 buku, jilbab traveler 60 negara, dan pembicara 5 benua ini telah membuktikan bahwa hijab bukan salah satu alasan untuk berprestasi dan berkarier.

Beragam profesi bisa dengan mudahnya ditemui tanpa pandang si pelamar berhijab ataupun tidak. Pihak perusahaan pun tidak sepatutnya berlaku diskriminasi terhadap pekerja atas dasar agama. Seperti menurut pasal 5 dan pasal 6 UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan:

Pasal 5

Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan
Pasal 6

Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sana tanpa diskriminasi dari pengusaha

 

Atas dasar tersebut, maka jangan takut untuk hijrah dan istiqomah dalam berhijab.
Tunjukkan bahwa perempuan bisa juga bersaing dengan laki-laki. Tunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar makhluk lemah yang harus hidup dengan mengikuti kodratnya. Telah banyak contoh hijabers yang sukses dibidangnya. Lalu, siapa selanjutnya? Anda.

Mahasiswa Angkatan 2014 Gelar Aksi Tuntut Hak Mabim

Tidak ada komentar

Rabu, 08 Juli 2015

Unswagati, Setaranews.com Sejumlah mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon dari berbagai fakultas yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Angkatan Empat belas (Pemalas) pada Selasa (7/7) mengadakan aksi di lapangan parkir Kampus Utama Unswagati.

Mereka menuntut hak-haknya yang belum diberikan oleh panitia Masa Bimbingan Mahasiswa Baru (Mabim) Unswagati tahun 2014. Hak-hak tersebut meliputi sertifikat dan stiker mabim yang sampai sekarang belum juga diberikan kepada para mahasiswa angkatan 2014 padahal jeda waktu sudah hampir setahun sejak diadakannya acara mabim.

Para mahasiswa yang melakukan aksi juga membagikan selembaran kertas yang berisi tuntutan akan hak-hak mahasiswa yang belum terpenuhi. Dalam selembaran tersebut mahasiswa mempermasalahkan dana anggaran dari sertifikat dan stiker namun sampai sekarang belum juga dibagikan selain itu para mahasiswa juga mempertanyakan pertanggung jawaban dari Ketua panitia Mabim dan Presiden Mahasiswa Unswagati terkait hal tersebut, terlebih lagi mengingat masa jabatan BEM universitas yang akan berakhir pada 8 juli 2015.

“Kami berharap tuntutan kami didengar agar cepat sertifikat dan stiker dibagikan, mengingat masa jabatan presma akan berakhir besok. Kami tidak mau kejadian tahun lalu yang angkatan 2013 stiker dan sertifikatnya tidak dibagikan.” Ujar salah satu orator aksi.

Para mahasiswa aksi mengaku bahwa mereka sudah beberapa kali menanyakan hal tersebut kepada pihak terkait yaitu BEM Universitas namun tidak pernah ada respon yang diharapkan.

“Kami bingung harus kemana lagi untuk menuntut hak kami, padahal sertifikat tersebut adalah salah satu syarat untuk mengikuti wisuda.” Lanjutnya.

Ramadhan Pertama dan Terakhir Aji

Tidak ada komentar

Senin, 06 Juli 2015

Cerpen, Setaranews.com-  Marhaban Ya Syahru Ramadhan, Marhaban Syahrushiyaam…       

Terdengar olehku suara Aji bersama teman-temannya yang sedang berlomba nasyid dalam rangka penyambutan bulan suci Ramadhan. Suara Aji yang paling dominan di antara mereka, walaupun aku tak melihat secara langsung penampilan putra tunggalku bersama teman-temannya itu, namun aku cukup merasa terhibur dan bangga karenanya.

“Ran, itu Aji anakmu ya? Bagus sekali suaranya.” Puji Rasta, rekan kerjaku sebagai kuli bangunan. Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya, sudah banyak yang berkata seperti itu. Aji memang memiliki suara yang khas dan lembut, suaranya mampu mendamaikan hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Aji Arwilah nama lengkapnya, bocah berumur 7 tahun yang sudah tidak lagi mendapat kasih sayang dari seorang ibu sejak umur 3 tahun. Ibu Aji yang masih berstatus istriku mencoba mencari peruntungan di negeri orang, Saudi Arabia lebih tepatnya. Tapi sampai sekarang ia tak ada kabar berita. Tak pernah lagi ia mengirimkan uang atau sekedar berkirim surat ke Indonesia, tercatat sejak bulan ke 7 ia bekerja di sana sebagai TKI. Sampai sekarang Aji kecil masih selalu bertanya padaku tentang ibunya, kadang aku sendiri sampai harus berbohong demi menyenangkan hati Aji. Aku selalu berdoa pada Allah agar Aji diberikan yang terbaik dalam hidupnya karena aku sangat menyayangi Aji lebih dari apapun di dunia ini.

***

“Aji, mau sampai kapan menunggu ibu pulang? Ayo masuk.” Ajakku pada Aji yang sedang duduk di serambi depan sambil menenteng pialanya, ia menang juara 1 pada perlombaan nasyid tadi siang. Aji tetap menggeleng tanda tak mau. Begitulah setiap sore, Aji akan selalu duduk di serambi depan hanya untuk menunggu ibunya pulang. Usaha yang sudah dapat kupastikan akan berujung sia-sia karena ibunya tak mungkin akan kembali lagi.

“Aji belum shalat Maghrib? Ayo shalat dulu.” Aji bangun dan masuk kerumah. Seperti itulah Aji jika masalah agama, walaupun umurnya masih terbilang sangat kecil tapi jika sudah menyangkut urusan tersebut ia tak mau sampai tertinggal. Aku bersyukur Aji sangat getol mempelajari agama pada ustadz di desaku, mengingat pelajaran agama yang kudapat sangat minim. Aku belum terlalu fasih membaca Al-Qur’an dan biasanya Ajilah yang mengajariku, sungguh aku sangat bangga memiliki anak seperti dia.

“Ayah, nanti malam bangunkan Aji sahur ya Aji mau ikut puasa.” Subhanallah.. disaat teman-teman sebayanya yang masih belum mau untuk ikut berpuasa ia malah mengajukan diri untuk berpuasa. Sebenarnya aku ingin mengajaknya berpuasa demi mengurangi jatah jajan Aji tetapi Alhamdulillah Aji sendiri sadar ingin berpuasa. Dan inilah kali pertama Aji ikut berpuasa Ramadhan.

“Iya nak..”

***

Hari pertama puasa, sekolah Aji diliburkan untuk memperingati bulan suci ini. Hari ini pun aku sedang tidak bekerja karena sang pemilik bangunan sedang keluar kota. Hari kosong ini kumanfaatkan untuk belajar membaca Al-Qur’an, oh.. tidak bahkan aku belum sampai jenjang membaca Al-Qur’an aku masih sampai tahap membaca Iqro’ jild 6.

“Minal immanan watajida..”

“Ayah bacanya jangan immanan watajida, ini bacaan idgham bighunnah, tanwan bertemu dengan wawu. Seperti yang sudah Aji ajarkan minggu lalu yah..” Oalah.. lihat betapa pintarnya Aji, dan ya aku ingat sekarang bacaan idgham bigunnah yang sudah Aji ajarkan minggu lalu, aku tersenyum lalu cepat-cepat memperbaikinya.

“Minal immanawwatajida..”

Sudah jam 11 siang, itu tandanya sudah 3 jam aku belajar membaca Iqro’ bersama Aji dan sekarang Aji pamit padaku untuk pergi ke Musholla dekat rumah. Baru ketika selesai shalat Ashar ia pulang ke rumah. Melihat anak-anak lainnya yang selalu dimanjakan ketika berbuka puasa, aku pun juga ingin memanjakan Aji.

“Ji.. mau makan pakai lauk apa? Mau es buah?” tanyaku pada Aji walaupun aku sadar kantungku sangat tipis untuk diambil isinya.

“Tidak yah, hehe Aji mau makanan yang murah saja yah.” Aku tersenyum tipis betapa aku bersyukur mempunyai anak seperti Aji.

***

Hari demi hari terlewati dan ini merupakan hari kelima di bulan Ramadhan sedangkan aku masih belum mulai bekerja lagi dikarenakan sang pemilik bangunan masih berada di luar kota dan baru kembali nanti siang. Aku merogoh kantung celanaku berharap ada uang yang tersisa namun nihil. Aku tak mendapati lembaran rupiah dan yang kudapati hanyalah selogam koin bernominal lima ratus rupiah dan dua logam koin bernominal dua ratus rupiah, sungguh miris sekali. Aku melirik kearah Aji yang masih tertidur pulas, lebih baik aku kembali tidur dan berpura-pura lupa akan sahur.

“Ayah.. bangun yah. Sebentar lagi imsyak.” Teriak Aji setengah jam sesudah aku kembali terlentang di tempat tidur.

“Oh, iya sebentar nak.” Aku berlalu menuju dapur menatap nanar pada uang recehku dan berpura-pura keluar untuk mencari makan.

“Ayah mengapa baru pulang? Imsyak sudah setengah jam yang lalu.” Tanya Aji sekembalinya aku kerumah.

“Maaf ji, ayah mencari makan tapi hari ini banyak yang tidak berjualan.” Ucapku berbohong.

“Tidak apa-apa yah, Aji tetap puasa.” Ucap Aji. Sebenarnya aku mengharapkan Aji agar tidak berpuasa hari ini, toh nanti siang aku kembali bekerja dan pasti aku akan mendapat uang untuk makan Aji. Tapi ya sudahlah Aji keras kepala tentang urusan agama.

***

Pedih. Satu kata yang tepat untukku ketika melihat tubuh mungil Aji harus mengangkat batu-batu itu. Hari ini ia ikut aku untuk membantu bekerja sebagai kuli bangunan. Aku takut ia tidak kuat menghadapi teriknya matahari siang ini dan terjalnya bebatuan itu, mengingat ia masih keukeh untuk berpuasa.

“Aji pulang saja nak, Aji kan puasa.” Ucapku lembut sambil menepuk pundak Aji tapi Aji tetap menggeleng tanda tak mau. “Ji, ayah terima surat dari ibu kemarin. Katanya ibu akan pulang dalam beberapa hari ini, Aji lebih baik pulang mungkin saja ibu pulangnya hari ini. Tunggu ibu saja di rumah ya.” Ucapku lagi dengan kebohongan dan penyesalan dalam dada, tapi melihat binar ceria di mata Aji aku seperti tersihir ikut senang. Kebahagiaan Aji adalah seribu kali kebahagiaanku.

***

Hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya, aku yakin Aji sedang menungguku di serambi depan. Sambil menenteng bungkusan berisi nasi dan lauk ayam kecap kesukaan Aji, aku berjalan riang. Hari ini aku sengaja membelikan makanan istimewa untuknya. Setibanya di rumah, kulihat rumahku kosong tapi aku tidak memiliki prasangka buruk sama sekali aku malah mengira Aji sedang di musholla dekat rumahku. Akupun menunggu Aji pulang sambil membaca koran harian yang kudapat dari mandorku.

“Ran, katanya istrimu hari ini pulang ya? Mana dia?” Tanya Rasta temanku yang sedang berjalan lewat di depan rumah.

“Kata siapa? Haha.” Menurutku itu adalah pertanyaan bodoh, istriku tidak mungkin secara tiba-tiba bisa pulang dan ingat anak-suaminya.

“Lah, kata Aji anakmu. Dia sampai menyusul ke bandara.” Aku langsung tersadar, Aji. Mana anakku? Benarkah ia menyusul ke bandara? Aku tak bisa berfikir lagi, keadaanku sangat kalap waktu itu dan segera kuberlari menyusul Aji ke bandara. Tuhan.. selamatkanlah Aji pintaku di tengah rasa khawatir yang menyelimuti hati dan fikiranku saat ini.

Empatpuluh lima menit kemudian aku sampai di bandara, langit sudah petang dan adzan Maghrib pun sudah tigapuluh menit yang lalu dikumandangkan tapi aku belum menemukan sosok Aji. Aku dan Rasta berpencar mencari Aji berharap kami dapat menemukannya dengan keadaan baik-baik saja.

Sudah satu jam kami mencari Aji, namun ia masih belum ditemukan. Aku mengitari pelataran bandara yang mulai lengang, dan.. Astaghfirullah…

“Aji!!!” Aku berteriak memanggil sesosok yang sedang terlentang di pinggir jalan, tangannya tersampir memegangi bagian perutnya sedangkan wajahnya pucat sepucat mayat. Sosok mungil itu tetap tak menjawab dan ketika kurasakan detak jantungnya yang sudah tak lagi menampilkan secercah harapan kehidupan, aku seperti terhantam batu-batu terjal yang setiap hari kupikul, sakit rasanya. Ribuan godam yang seakan memukulku, pedih rasanya.

Ya Rabb.. mengapa engkau berikan aku cobaan berat seperti ini, diselimuti rasa bersalah karena kematian anakku sendiri..

Ya Rabb ampunilah aku yang tak bisa menjaga amanahmu dengan baik, yang tak bisa menjaga mutiara terindah yang pernah Engkau beri..

Ya Rabb aku bersimpuh didepan-Mu, memintakan ampun untukku dan Aji anakku, terimalah Ia di kerajaan sorgamu..

Aji anakku.. maafkan ayah yang belum bisa menjadi ayah terbaik bagi Aji, maafkan ayah atas semua yang kau rasa bersama ayah.. Maafkan kebohongan ayah yang membuatmu celaka, maafkan Ayah, maafkan Ayah Aji.. Pergilah nak, di sana engkau akan jauh merasa lebih baik dari pada hidup bersama ayah di sini yang hidupnya dipenuhi kesusahan, terimakasih telah menjadi mutiara terindah yang tak ternilai harganya dan kaulah harta termahal yang ayah punya.

Selamat Jalan Aji Arwilah anakku tersayang..

 

Penulis : Anisa Mahasiswa Tingkat Satu Fakultas Ekonomi Unswagati
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews