Responsive Ad Slot

FKIP Bahasa Inggris Seleksi Tim Untuk NUDC

Tidak ada komentar

Sabtu, 09 Mei 2015

Unswagati, Setaranews.com- Mahasiswa FKIP Bahasa Inggris mengadakan opening ceremony seleksi debat universitas untuk NUDC (National University Debate Campionship)  yang dihadiri oleh Kepala Biro Kemahasiswaan Unswagati. Seleksi ini diadakan Jumat dan Sabtu, 8-9 Mei 2015 dan bertujuan untuk menyeleksi peserta untuk kemudian dikirimkan ke Bandung sebagai perwakilan universitas di tingkat nasional.

NUDC merupakan acara yang diadakan oleh DIKTI bekerja sama dengan kopertis. Unswagati sendiri selama empat tahun sebelumnya selalu mengirimkan perwakilannya. “Sebenarnya ini agenda dari wakil rektor III, namun sejak tahun kemarin pihak universitas meminta ESA untuk menjadi panitia seleksi untuk NUDC ini”, ujar Agus Umar Akmad, ketua HMJ FKIP Unswagati (ESA/English Student Association) periode 2014-2015.

Adapun peserta lomba seleksi debat universitas ini berjumlah 4 tim. Tiga dari FKIP Bahasa Inggris dan satu tim dari Fakultas Kedokteran. “Fakultas lain tidak mengikuti acara ini dikarenakan sedang UTS dan tidak ada kesiapan untuk mengikuti lomba debat Bahasa Inggris ini”, pungkas mahasiswa Bahasa Inggris semester enam ini. (Dla)

Unswagati Butuh Lahan Parkir

Tidak ada komentar

Minggu, 03 Mei 2015

Pada dasarnya sebuah universitas harus mempunyai sarana dan prasarana yang harus memadai, contohnya harus tersedianya ruang kelas, ruang dosen, ruang praktikum, toilet, masjid, kantin, perpustakaan, dan lahan parkir.

Perguruan tinggi Unswagati Cirebon setiap tahun mengalami peningkatan jumlah mahasiswa secara signifikan, sehingga secara otomatis pengguna kendaraan semakin bertambah. maka meningkat pula kebutuhan lahan parkir khususnya sepeda motor. Dari fakta yang bisa kita lihat saat ini, bahwa lahan parkir begitu padat dan Kepadatan jumlah pengendara menyebabkan penuhnya lahan parkir dikampus. Kondisi lahan parkir di kampus unswagati  diakui sudah tidak mampu untuk menampung kendaraan para mahasiswa maupun dosen.  Lahan parkir di kampus 1, kampus 2 dan kampus 3 semuanya penuh, contohnya di kampus 1 karena kepenuhan pihak kampus memberi warning “maaf parkiran motor pindah  di lapangan volly lahan kodim”, walaupun pihak kampus sudah menyediakan tempat parkir di lapangan volly lahan kodim, namun masih ada pengendara motor maupun mobil yang parkir di pinggiran jalan pemuda. Kemudian di kampus 2 pun karena tempat parkir penuh, maka pihak kampus menyediakan tempat parkir di halaman kampus baru atau bisa dikatakan kampus 4. Walapun pihak kampus sudah menyediakan lahan parkir dikampus 4, namun lagi-lagi masih ada pengendara motor yang masih memarkirkan dipinggir jalan perjuangan. Serta di kampus 3 pun kejadiannya sama karena lahan parkir penuh, maka pihak kampus mengantisipasi dengan menyediakan lahan parkir di halaman kampus 4.

Kendaraan dalam hal ini kendaraan sepeda motor sebagai alat transportasi, akan bergerak atas kehendak dan kemauan pengendara sehubungan dengan kegiatan yang hendak dilakukan oleh pengendara tersebut. Pergerakan yang dilakukan dari suatu tempat akan berhenti setelah sampai tempat tujuannya dan pengendara memarkir kendaraannya untuk kemudian melakukan kegiatan sehari – harinya. Setiap perjalanan yang menggunakan kendaraan diawali dan diakhiri ditempat parkir, oleh karena itu ketersediaan ruang parkir diperlukan bagi pengguna kendaraan. ketersediaan ruang parkir tidak terlepas dari pengaturan tata letak ruang parkir yang efektif dan kapasitas ruang parkir yang baik sehingga dapat mengoptimalkan fasilitas parkir kendaraan.

 

Unswagati Butuh Lahan Parkir

Unswagati butuh lahan parkir, karena melihat dari peningkatan jumlah mahasiswa tiap tahunnya selalu ada meningkat, maka dari itu secara otomatis pengguna pengguna kendaraan bermotor akan semakin meningkat juga. dan saya pikir penambahan lahan parkir di nilai perlu dilakukan karena kapasitas lahan parkir yang tersedia diberbagai kampus baik kampus 1, 2 ataupun 3 saya rasa tidak lagi mencukupi untuk parkir kendaraan dosen, pegawai, dan mahasiswa.

Pihak kampus mesti memperhatikan kuota pengguna pengendara bermotor yang semakin bertambah dimana secara otomatis akan mengakibatkan penuhnya tempat parkir. Maka dari itu mau tidak mau pihak kampus mesti secepatnya membangun tempat parkir tambahan agar mahasiswa tidak kesulitan untuk memarkirkan sepeda motornya supaya mahasiswa tidak kembali disuruh memparkirkan sepeda motornya di luar halaman kampus unswagati, contohnya di kampus 1 karena parkir sudah penuh petugas satpam menyuruh mahasiswa untuk parkir di luar halaman kampus, misalnya saja di kampus 1 mahasiswa di suruh parkir di pelataran kodim. Di kampus 2 dan 3 pun pihak kampus menyuruh parkir di halaman kampus 4. Artinya tiap kampus membutuhkan lahan parkir yang memadai dan membutuhkan tempat parkir yang tidak jauh dari kampus.

Pihak pengelola kampus untuk mampu memberikan pelayanan dan fasilitas yang memadai, salah satu fasilitas yang dimaksud adalah lahan parkir. Fasilitas parkir menjadi salah satu hal yang perlu perhatian. pengaturan maupun manajemen yang diterapkan harus dapat mengantisipasi permintaan parkir untuk saat ini maupun di masa yang akan datang.

Salah satu solusi yang saya tawarkan dari permasalahan lahan parkir adalah membuat basement khusus tempat parkir atau bisadikatakan membangun parkiran bawah tanah dan juga parkiran bertingkat, di mana pembangunan ini tidak terlalu banyak memakan tempat.

 

Oleh : Muhamad Ali Sodikin


Mahasiswa Fakultas Pertanian Jurusan agroteknologi

Pendudukan Untuk Hari Pendidikan

Tidak ada komentar
Setaranews - “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa  Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Sepenggal kalimat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang menjadi cita-cita berdirinya bangsa ini untuk rakyatnya bahkan umat manusia di dunia ini. Bangga, menjadi Indonesia itu sudah mendarah dan menjadi kebanggan bagi generasi yang terlahir di Bumi Pertiwi yang kaya alamnya, sukunya, budayanya, dan agamanya. Ya, kami bangga.

Namun, jika kita berkaca dan mengamati kembali yang tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut, kiranya menjadi semakin menjauh dari apa yang dicita-citakan Negeri ini untuk rakyatnya. Dari biaya untuk kebutuhan dasar sebagai manusia, kesehatan, hingga pendidikan yang layaknya mencerdaskan generasi bangsa ini. Kini telah bergeser orientasinya pada keuntungan semata. Ya, dan hanya mereka yang memiliki uang, mereka bisa masuk gerbang pendidikan. Mereka yang tak punya uang, akan hilang.

Hari pendidikan menjadi basi dan hanya di isi dengan acara seremonial. Guru dan murid berbaris, pimpinan daerah atau mungkin pusat dan berpidato seakan persoalan pendidikan enteng di matanya. Keinginan mengoreksi kembali tujuan pendidikan dianggap akan menimbulkan  debat kusir.

Pendidikan yang semakin di-komersial-isasi kan di negeri ini terjadi dari tingkatan paling rendah hingga perguruan tinggi. Tak mau ikut ketinggalan, salah satu kampus yang ada di kota udang, Cirebon. Tepatnya jalan pemuda no. 32, yang juga semakin meningkatkan biaya pendidikan dan pembangunannya. Meningkatnya biaya itu tak sejajar dengan meningkatnya sarana prasarana untuk mahasiswa agar menjadi insan bangsa yang berani mengungkapkan benar sebagai  kebenaran, salah sebagai kesalahan. Cenderung untuk bungkam pada kebenaran menjadi hal yang tabu bagi sebagian besar mahasiswanya dan sebagian kecil mempertanyakan haknya sebagai warga Negara Indonesia agar cerdas dan mampu menyelesaikan persoalan bangsa ini. Artinya, persoalan bencana alam yang terjadi, korupsi, PSK, bencoleng, tukang becak, nelayan, petani, pengangguran, rektorat, dosen, karyawan, guru dan semua warga Negara Indonesia yang juga warga Negara dunia akan menjadi tanggungjawab kaum cendekiawan.

Pada batang tubuh UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 berbunyi “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran”. Pada kenyataannya masih banyak warga Negara baik dari kelompok masyarakat miskin, daerah tertinggal dan sebagainya yang  belum mendapatkan pengajaran seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang tersebut.

Pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 4 ayat 2 berbunyi “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultur, dan kemajemukan bangsa.” namun dalam kenyataannya sebagian penyelenggaraan pendidikan belum sesuai dengan peraturan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan masih saja bersifat diskriminatif dan tidak menunjung hak asasi manusia. Misalnya dalam penyelenggaraan pendidikan mahasiswa yang tak mampu dalam financial terjebak tidak diijinkan untuk mengikuti ujian.

Maka seharusnya :

-          Kembalikan orientasi pendidikan untuk mencerdaskan dan memberi  kebebasan dalam berfikir bukan berorientasi pada keuntungan.

-          Selenggarakan pendidikan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai cultural, dan kemajemukan bangsa.

-          Meningkatkan sarana dan prasarana demi menunjang pendidiakan.

-          Transparansikan keuangan kampus.

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews