Responsive Ad Slot

Dosen Buka Suara Perihal Kenaikan Biaya Masuk Mahasiswa Baru

Tidak ada komentar

Sabtu, 25 April 2015

Unswagati, Setaranews.com–Beberapa dosen angkat bicara dalam menanggapi kenaikan biaya masuk Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon bagi mahasiswa baru tahun ajaran 2015/2016. Kenaikan yang terjadi menurut salah satu dosen merupakan suatu hal yang wajar karena kita ketahui bahwa kurang lebih sejak lima tahun terakhir biaya pendidikan di Unswagati tidak mengalami peningkatan, terlebih saat ini semua kebutuhan hidup naik.

“Kenaikan ini suatu hal yang wajar, apalagi kenaikan diimbangi oleh fasilitas, seperti saat ini banyak yang dicat, ruangan banyak yang baru, tersedia CCTV, saya pikir semuanya terbayar pas. Kalian percaya bayar maka kamipun percaya memberikan fasilitas yang baik. Kita hanya perlu bijak dalam menanggapi hal semacam ini”, ujar salah satu dosen saat ditemui SetaraNews.

Para dosen menilai bahwa kenaikan ini perlu dipikirkan lebih jauh, harus melihat keadaan masyarakat yang ingin melanjutkan keperguruan tinggi mampu menyesuaikan dengan biaya yang tertera atau tidak.

“Kita perlu berpikir menyeluruh mengenai kenaikan biaya masuk bagi mahasiswa baru, namun apabila kita mampu untuk membayar, sebaiknya ikut mendukung karena kenaikan ini memiliki alasan tersendiri yaitu keadaan perekonomian yang saat ini belum baik.” ujar Edi Junaedi sebagai dosen Fakultas Ekonomi.

Kenaikan biaya masuk Unswagati diakui merupakan bentuk dari dampak secara makro ekonomi. Selama kenaikan ini masih proporsional maka masih dapat dikatakan wajar asal peningkatan diimbangi dengan peningkatan kinerja dan pelayanan baik sarana maupun prasarana.

“Selama masih proporsional itu wajar, harga meningkat maka pelayanan juga meningkat, kinerja pelayanan meningkat berarti ada cost, jadi peningkatan berbanding lurus dengan pelayanan yang diberikan. Bagaimanapun juga untuk mendapatkan value atau nilai yang lebih tinggi itu ada cost yang menjadi pengorbanan, intinya peningkatan yang terjadi saat ini harus proporsional dan profesional.” jelas Jun, seorang dosen marketing. (dev)

 

Mahasiswa Tuntut Pemerintah Perhatikan Ruang Terbuka Hijau

Tidak ada komentar

Jumat, 24 April 2015

Cirebon, Setaranews.com – Gerakan Mahasiswa Pelajar (GMP) Kota Cirebon melakukan aksi terkait permasalahan Global Warming (Pemanasan Global) di Kota Cirebon. Aksi ini dilakukan oleh beberapa mahasiswa di jalan pemuda by pass depan kampus 3 Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) pada (23/04) pagi tadi pukul 10.30 WIB.

Dalam aksi ini, GMP menuntut agar pemerintah segera membuka lahan terbuka hijau, serta membatasi kepadatan kendaraan di Kota Cirebon sehingga efek global warming (pemanasan global) dapat dikurangi.

“Kami menuntut agar pemerintah kota Cirebon untuk membuka lahan terbuka hijau dan mengurangi pembangunan untuk hal yang tidak perlu”, ujar Dedi salah satu pelaku aksi.

“Sebetulnya Kota Cirebon juga sudah memiliki ruang terbuka hijau tapi jumlahnya sangat kurang, belum lagi yang sudah ada ini belum dikelola secara maksimal”, lanjut mahasiswa Fisip Unswagati semester dua ini.

Saat aksi ini berlangsung, mahasiswa sempat menghentikan mobil pertamina yang hendak melintasi jalan pemuda by pass dari arah kedawung ke terminal serta berorasi beberapa menit di atas mobil tanki tersebut. Meski dalam aksi ini terlihat pengawalan dari aparat kepolisian, aksi tersebut berlangsung damai. (Kur)

Hari Bumi, Mapala Gunati dan Himakom Tanam Pohon untuk Kota Cirebon

Tidak ada komentar

Kamis, 23 April 2015

 Unswagati-Setaranews Di hari bumi tahun 2015 ini Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gunati bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) Universitas Swadaya Gunung Jati hari ini langsungkan menanam ratusan pohon disejumlah ruas jalan Kota Cirebon. Hal ini menurut Warsono bukan semata program kerja kedua belah Organisasi Mahasiswa melainkan bentuk kepedulian kepada alam.

“ga ada kordinator acara atau ketua pelaksana. Ini kita kerjasama biasa aja pas kebetulan hari bumi” katanya ketika dijumpai setaranews.com di kampus I

Abdul Nashor perwakilan  dari Mapala meyatakan acara ini tidak semata-mata dilangsungkan saat hari bumi. Tapi, menurutnya esensi menanam tidak semata pada hari bumi

“Kebetulan aja pas hari bumi gitu, untuk penanaman sendiri kita ga ngambil momen hari apa, yan penting utamanya kan bukan harinya tapi nanam sendiri mah bebas ga harus hari bumi juga” ujarnya ketika ditemui seusai menanam di jalan Terusan Pemuda

Selain itu pohon yang ditanam akan dilaporkan kepada Dinas Kebersihan dan Pertanaman (DKP) Kota Cirebon untuk kemudian dirawat.

“Kita juga kerjasama dengan DKP kota Cirebon, nanti kita laporkan kemana aja penanamana nanti mereka yang akan meyirami. Posisi kita disini sekarang adalah mengawasi, jadi kalau misalkan pas udah ada nanti ada yang nyabutin kita yang tindak mereka udah kasih izin ke kita juga” Kata Jimat Ali Ketua Himakom.

Selain itu penanaman ini juga bermaksud untuk meneduhkan sejumlah wilayah Kota Cirebon.

“Buat peneduhan jalan biar Cirebon ga panas itu intinya. Biar Cirebon juga ada peneduhnya jadi pengguna kendaraan biar ga terlalu panas barangkali mereka pengen neduh bisa di pohon kami.” Tukas Jimat.

Pohon yang ditanami adalah pohon Trambesi sebanyak 150 Pohon. Sejumlah ruas jalan yang akan ditanami adalah jalan Terusan Pemuda, jalan Perjuangan dan jalan Angkasa. Selain disejumlah ruas jalan. Pohon pun ditanam di kampus III dan kawasan kampus IV.

 

Pendidikan Komersil Perguruan Tinggi

Tidak ada komentar

Rabu, 22 April 2015

Opini-SETARANEWS.COM - Setelah berabad-abad silam teori tentang pembelajaran banyak dikemukakan oleh para ahli dan pemerhati. Telah banyak pula menghasilkan sistem pembelajaran dan mekanismennya. hingga tercipta sebuah sistem pembelajaran yang dikenal dengan nama “pendidikan” yang wacananya merupakan sisi yang menjadi prioritas dan vital bagi keberadaan bangsa dengan jargonnya “pendidikan berperan penting atas pembangunan bangsa”.

Namun, jargon hanya sebatas jargon, tidak dapat menstimulasi para pemeran didalamnya. Apa guna pendidikan apabila hanya meminta ketersediaan biaya dengan kedok penunjang. Ironis, pendidikan yang sejatinya dibentuk sebagai wadah bagi mereka yang ingin “berkembang” dalam arti meningkatkan kemampuan baik  IQ, EQ, dan SQ, kini disulam sebagai wadah bagi para empunya tittle untuk menimbun banyak emas bersayap uang kertas, sebagai ganti sebab sebelumnya mereka pun mengenyam studi yang mahal.

Tidak hanya itu, hak mahasiswa mengecap negeri kampusnya pun belum tercapai.  Unswagati negeri hanya sebatas angan belaka yang tak kunjung juga nyata. Para petinggi Unswagati pun seakan tak niat menjadikan Unswagati negeri, sebab proses PTN Unswagati yang tak kunjung selesai, padahal berapa banyak tuntutan DPP yang wajib dibayar oleh setiap mahasiswa. Janji Unswagati negeri hanya sebatas jargon dan slogan untuk menarik agar mahasiswa baru mendaftar.

Mahasiswa pun tak dilibatkan secara aktif dalam proses penegerian, ketidak adaanya transparansi akan penerimaan dan pengeluaran dana kemahasiswaan. Padahal uang yang diterima oleh pihak universitas merupakan hasil jerih payah para orang tua mahasiswa. Maka sudah sepantasnya para mahasiswa tahu perihal untuk kebutuhan apa saja uang mereka belanjakan.

Lantas para petinggi kampus seakan mandi uang dengan melakukan kunjungan keluar yang terkesan rekreatif. Tidak tanggung sejauh mungkin para petinggi kampus melakukan tour keluar negeri dengan alasan melakukan kerja sama akademisi. Dengan tanpa malu melepas tanggung jawab pada kampus hanya untuk tour keluar negeri. Sebenarnya esensi perkuliahan tidak untuk itu, bagaimana caranya perkembangan kampus baik mutu pendidikan maupun pembangunan dapat terealisasi dengan baik. Melakukan kerja sama itu mudah tapi alangkah malunya apabila sang partner yang diajak kerja sama berkunjung. betapa malunya melihat keadaan kampus dan situasinya yang jauh dari kata kondusif. Dengan sarana dan prasarana yang serba pas-pasan. Dan yang lebih miris lagi dalam satu ruang terdapat dua kelas yang jumlah mahasiswanya lebih dari 50 orang. Jika telah demikian apa yang patut di banggakan oleh kami para mahasiswa mengenai kampusnya wahai para petinggi universitas yang terhormat.

Melihat sisi tersebut, maka bisa dikatakan pendidikan hanya sebatas hitam diatas putih, pendidikan pun tidak berjalan sejatinya perannya sebagai dasar pembangunan bangsa. Sebab saat mengenyam bangku kuliah para peserta didik telah dikenalkan dengan sistem birokrasi juga menghasilkan administrasi yang bisa dikatakan penghancur sistem. Lantas untuk apa sistem pendidikan masih ada apabila birokrasinya menghancurkan sistem yang telah ada.

.Tak berdaya hukum yang kuat pula untuk mengikat, tidak juga teguh dengan asumsi dasar penyelenggaraannya, serta agen pendidikan banyak tidak profesional didalamnya. Sangat ironis dibalik bangsa yang kaya dengan suguhan sumber daya alamnya namun tidak ditunjang pengelolanya dengan baik khususnya penyelenggara akademik yang terhormat.

Terpatri akan stagnasi itulah pendidikan yang ada sekarang. Uang dapat berbicara banyak diranah akademik. Apabila akan tetap seperti itu, lalu apa gunanya Indonesia merdeka hingga saat ini  apabila tetap dijajah oleh kebodohan dan kelabilan kaum pribumi yang menjadi wakil orang tua di kampus.

Oleh :

Ahmad Faqih

Mahasiswa FKIP Unswagati

Kartini Masa Kini: Katalis Perubahan

Tidak ada komentar

Selasa, 21 April 2015





"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam." (Kartini-Habis Gelap Terbitlah Terang)

Banyak apresiasi ucapan selamat hari Kartini yang penulis baca di BBM (Blackberry Masenger), facebook, dan twitter contohnya. Baik, 21 April ini setiap tahunnya memang diperingati sebagai hari Kartini. Sebagai apresiasi Ir. Soekarno terhadap perjuangan Kartini terhadap kaum perempuan, lalu yang jadi pertanyaannya kini adalah seberapa kenal kita dengan sosok Kartini? Lalu apa yang dilakukannya hingga ia tetap dikenang? Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, Hindia Belanda dan meninggal pada 17 September 1904 di Rembang, Jawa Tengah, Hindia Belanda di usianya yang ke 25 tahun. Kartini yang merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Kartini yang menaruh perhatian pada kaum perempuan ini tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita tapi juga masalah umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Kartini yang peduli terhadap kondisi sosial di masa itu, mengungkapkan keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan wanita. Kartini yang mengeluhkan tentang keberadaan poligami yang dihalalkan waktu itu memandang ketidakadilan untuk kaum wanita, Walaupun akhirnya Kartini menikah dengan bupati Rembang K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah memiliki 3 istri. Untungnya suami Kartini sangat mendukung Kartini, dari pernikahan tersebut Kartini berhasil mewujudkan cita-citanya untuk membangun sekolah khusus wanita di sebelah timur pintu gerbang komplek kantor kabupaten Rembang, yang fokus terhadap menjahit, menyulam, dan memasak. Kartini yang mengeluhkam kaum perempuan yang tidak bisa duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Itulah beberapa hal yang diceritakan Kartini dalam surat-suratnya kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Pada akhirnya surat-surat tersebut dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon dengan judul Door Duis ternis tot Licht kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru.

Lalu, apa yang dilakukan Kartini masa kini? Di manakah wanita yang bercita-cita sama dengan Kartini? Bisa saja kita membandingkan perubahan jaman namun pernah terpikirkan atau tidak sebuah surat yang ditulis Kartini bisa mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa kala itu. Bagaimana dengan jaman yang serba canggih ini? Teknologi sudah bukan barang mewah lagi. Sekarang bisa dengan mudahnya mengakses sebuah situs bahkan berinteraksi dengan negara tetangga. Masihkan sulit untuk berkata, "sulitnya membuat suatu perubahan." Pernah tidak terbayangkan bahwa Kartini sama sekali tidak punya pilihan ketika harus dinikahkan namun sebagai balasannya ia mampu mendirikan sekolah untuk kaum perempuan. Baiklah, ternyata Kartini ditakdirkan untuk meninggal di usia muda. Andai saja sosoknya masih ada kini. Andai saja wanita Indonesia kini mempunyai pemikiran yang sama atau setidaknya menyadari bahwa hak wanita sama dengan kaum pria. Bukan dengan cara harus bersedia dipoligami atau sulitnya duduk di bangku sekolah. Kita bisa berprestasi dan membawa perubahan di manapun kita berada, tanpa ada embel-embel kata sulitnya dan sulitnya. Mulailah dari hal terkecil, menjadi pribadi yang membawa pengaruh positif bagi orang terdekat. Jika kamu berhasil maka dengan sendirinya bermunculan orang-orang sepertimu. Jangan banyak bicara hal yang tak penting. Lakukan dan lakukan. Mari kita bawa semangat Kartini dimulai dari hari ini untuk membangun bangsa. Menjadi katalis perubahan.


Oleh:

Luqyana Dahlia

Mahasiswa FKIP Unswagati


Mapala Gunati Kembali Adakan Mabim Divisi Tebing

Tidak ada komentar
Unswagati-Setaranews.com Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gunati pecinta alam dari Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon kembali mengadakan Masa Bimbingan (Mabim). Ini bukan kali pertamanya Gunati mengadakan kegiatan Mabim. Sebelumnya di tahun yang sama  sudah diadakan Mabim Buana Lestari Divisi Flora dan Fauna. Namun kali ini adalah Mabim Buana Darat Divisi Tebing yang dilakukan pada 17-19 April 2015 di Tebing Batu Lawang Desa Cupang Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon.

Kegiatan ini diperuntukkan kepada Anggota Muda (AM). Guna melanjutkan jenjang keanggotaan sebagai Anggota Penuh (AP), memang butuh proses yang panjang untuk menjadi AP dan dilakukan dengan sesuai sistematis prosedur keanggotaan. Selain itu Mabim ini dilakukan agar AM paham betul ,khususnya Divisi Tebing. Penetahuan tentang alat,sistem maupun teknik pemanjatan ataupun kegiatan outdorr lainnya yang berhubungan dengan prosedur keselamatan. Mengingat sebagian besar kegiatan Mapala Gunati di lapangan atau tidak jauh dari alam ,tentunya ini menjadi tuntutan bagi setiap anggota untuk memahami safety procedure dalam setiap kegiatan.

Hal ini mendapatkan antusias semangat dari salah satu peserta AM oleh Nur Widowati,” Selain dibekali materi,kita juga langsung mengaplikasikannya di tebing asli secara langsung. Jadi kita semakin paham dan semangat untuk mendalami Pengetahuan di Divisi Tebing”. Ujar perempuan yang sering dipanggil Jira itu.

Selain itu selaku Ketua Koordinator (Kodiv) juga mengutarakan pendapatnya, “Saya berharap dengan diadakannya Mabim ini AM dapat lebih memahami agar dapat melakukannya secara mandiri dan menjadi regenarasi anggota berikutnya yang paham betul dengan Divisi Tebing”. Tukas Eko (wdo).

Cetak Prestasi, Rektor Berikan Penghargaan

Tidak ada komentar

Senin, 20 April 2015

Unswagati, Setaranews.com – Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) memberikan sertifikat penghargaan kepada mahasiswa semester II Fakultas Pertanian atas keikutsertaannya dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat mahasiswa yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Tepat pagi tadi rektor Unswagati memberikan sertifikat penghargaan sebelum upacara di halaman depan Unswagati pada pukul 07:00 WIB, dimulai dengan pemberian sertifikat penghargaan kepada Royhan, Melisa, dan Suci Saptaningrum atas partisipasinya pada LKTI yang diselenggarakan oleh ITS, kemudian dilanjut dengan pemberian penghargaan kepada Rosa Rosdiana dan Yulia Maulani atas partisipasinya pada LKTI yang diselengarakan oleh UNS.

Lolosnya delegasi dalam LKTI sampai tahap presentasi makalah merupakan prestasi tersendiri, “Ini merupakan prestasi baik atas nama mahasiswa maupun atas nama lembaga, peserta yang di ITS lolos ke 15 besar dari 130 perguruan tinggi, dan yang di UNS lolos 10 besar dari 97 perguruan tinggi yang mendaftar” ujar Prof. DR. H. Rochanda Wiradinata, MP selepas apel pagi (20/4).

“Pemberian penghargaan ini sebagai apresiasi dan motivasi pada institusi, agar bisa memacu kepada mahasiswa lain untuk berprestasi, embel-embel swasta bukan jadi jaminan kita tidak bisa bersaing, karena semuanya mempunyai potensi” lanjut beliau.

Rektor Unswagati berharap kepada semua Program Studi maupun Fakultas di lingkup Unswagati untuk memperhatikan dan mengembangkan setiap informasi untuk mewadahi mahasiswa agar berprestasi dalam karya tulis ilmiah. Harapan Rektor Unswagati tersebut disambut baik oleh Ir. I Ketut Sukanata, MM “Kami akan mendukung sepenuhnya untuk mahasiswa yang minat terhadap karya tulis ini, dan dari Fakultas sendiri akan menyiapkan dosen pembimbing yang berkompeten dan bisa memenuhi kompetensi yang dibutuhkan untuk lomba karya tulis selanjutnya” tandasnya.(Kur)

Fakultas Pertanian Hendak Tingkatkan Fasilitas Perpustakaan

Tidak ada komentar
Unswagati- Setaranews.Com – Dalam rangka mewujudkan kualitas Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon hendak menambah fasilitas sarana serta prasarana perpustakaan, hal ini demi meningkatkan animo minat membaca mahasiswa ditingkat fakultas.

“Kepedulian Universitas terhadap keberlangsungan animo mahasiswa untuk membaca dikembalikan ke ranah bahwa kita adalah dunia pendidikan yang identik dengan harus membaca pengetahuan. Pak Rektor sudah mulai memikirkan ke sana dengan akan dibangunnya gedung perpustakaan yang besar di tingkat universitas.” Tutur Yayan sebagai Kepala Perpustakaan Fakultas Pertanian saat ini.

Pihak perpustakaan sudah mengajukan permohonan komputer, scanner dan prasarana lain sebagai penunjang pelayanan bagi mahasiswa. Pembaharuan buku-buku pun selalu dilakukan setiap tahunnya dengan mengandalkan dana yang berasal dari pihak perpustakaan universitas.

“Kesediaan buku untuk fakultas sendiri tidak dinominalkan dalam jumlah buku melainkan berupa dana. Dengan dana sekian, silakan dikelola untuk pembelian buku.” Tambah Yayan saat ditemui SetaraNews diruangannya.

Penyediaan buku diperpustakaan fakultas pun tidak dijatah jumlahnya melainkan berdasarkan rujukan dari dosen dan mahasiswa yang membutuhkan.

“Kita berkembang tidak mungkin harus dengan jumlah sekian, kita harus melalui rujukan dari dosen dan mahasiswa, kita catat lalu kita belikan bukunya untuk tahun ajaran mendatang.” Tandas Yayan.

Menurut salah satu pengunjung yang dijumpai SetaraNews pada (17/04) lalu menyebutkan bahwa koleksi buku yang tersedia di perpustakaan Fakultas Pertanian cukup menunjang untuk mencari tugas yang diberikan dosen.

“Kalau sekarang sih cukup jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.” Tutur Rifqi salah satu mahasiswa Agroteknologi yang sekarang menginjak semester enam tersebut ketika dimintai tanggapannya mengenai kelengkapan koleksi buku di perpustakaan.

Bila tak ada aral melintang pada tahun 2016 mendatang Rektor akan menambah fasilitas tiga lantai perpustakaan ditingkat universitas dalam rangka meningkatkan kualitas gudang ilmu tersebut,  juga keberlangsungan minat membaca mahasiswa. Menurut wacana saat ini Rektor Unswagati Cirebon telah memikirkan hal tersebut (An).

 

BEM FKIP Nilai Sosialisasi POK Sia-Sia

Tidak ada komentar

Minggu, 19 April 2015

Unswagati-Setaranews.com Sosialisasi yang diadakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (DPM FKIP) dinilai sia-sia.

Hal demikian dinilai percuma oleh Reza selaku perwakilan dari Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) FKIP yang menilai Pihak DPM FKIP cenderung menunggu POK baru dari DPMU yang kemudian di sosialisasikan sekarang., “ sosialisasi ini harusnya dilakukan ketika baru dilantik, kenapa baru sekarang pas mau lengser.” Ucapnya.

Sosialisasi ini di nilai percuma dan membuang waktu, “harusnya pada sosialisasi, POK belum disahkan agar ada masukan-masukan dari masing-masing ormawa. Kalau tadi seperti tidak menampung aspirasi mahasiswa.”  Tambahnya.

Saat penandatangan berita acara, Reza selaku perwakilan dari BEM sulit di mintai tanda tangan, “saya khawatir kalau saya tanda tangan apakah yang tidak mengikuti sosialisasi ini setuju, saya tidak mau disalahkan. Mending diulang lagi saja minggu depan.” Tukasnya.

Siang tadi (18/4) DPM FKIP selenggarakan sosialisasi dengan tujuan pemberitahuan dan penyampaian POK. Seharusnya DPM FKIP sudah selenggrakan sosialisasi ini sejak Januari lalu. Namun, terkendala karena belum adanya POK dari DPM Universitas.

“sosialisasi ini baiknya di awal, kami ada kendala. Katanya dari DPMU ada POK yang baru dan akan di sosialisasi bulan januari, akan tetapi sampai sekarang belum ada sosialisasi dari DPMU.” Sebut Ardi Ketua DPM FKIP.

 

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews