Responsive Ad Slot

Mahasiswa Unswagati Tuntut Keadilan

Tidak ada komentar

Sabtu, 28 Juni 2014

Cirebon - SetaraNews.com, Mahasiswa yang melakukan aksi kamis (26/06) kemarin melakukan tuntutan yang salah satunya menuntut agar menangkap dan mengadili aparat kepolisian pelaku pengeroyokan terhadap mahasiswa.

Jimmy, koordinator Keluarga Mahasiswa Unswagati mengatakan, “Jika Kaporesta tidak melakukan tindakan untuk mengadili siapa pun oknum yang kemarin melakukan kekerasan terhadap Mahasiswa."

"Kami akan datang lagi ke sini untuk menuntut segala bentuk keadilan terhadap mahasiswa.” tambahnya.

“Kami akan melaporkan hal ini kepada Propam sebagai pihak yang berwenang untuk mengdili dan memproses kekerasan yang di lakukan aparat.” Tambahnya.

Mahasiswa Unswagati Geruduk Mapolresta Cirebon

Tidak ada komentar
Cirebon - SetaraNews.c­om, Mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Unswagati kemarin(26/06) melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Polresta Cirebon.

Aksi ini di picu oleh kekerasan yang dilakukan pihak kepolisian kepada sekelompok mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di depan kampus utama Unswagati pada hari Rabu (25/06).

Keluarga Mahasiswa Unswagati melalui koordinatornya, Jimmy­ mengatakan, “Ketika kita sedang melakukan unjuk rasa di depan kampus utama tepatnya di Jalan Pemuda, sekitar pukul 19.30 wib (25/06). Aparat langsung membubarkan dengan kekerasan, melakukan pukulan atau pun jambakan terhadap beberapa mahasiswa tanpa ada tindakan persuasif atau pun negosiasi dengan mahasiswa.”

“Akibatnya ada yang luka dan beberapa orang mengalami patah pada giginya juga memar di antara badan-badannya dan mukanya.” Tambah Jimmy.

“Kami akan melaporkan hal ini kepada Propam sebagai pihak yang berwenang untuk memproses kekerasan yang di lakukan aparat.” Ujarnya .

Sementara itu Kapolresta Cirebon AKBP H. Dani Kustoni, SH., SIK., M.Hum. melalui Kabag Humas nya AKP Yana Mulyana mengatakan, “Kami hanya menjalankan sesuai protap yang ditentukan.”

Menurutnya aksi para pendemo sudah mengganggu ketertiban umum. "Kita juga tetap  melakukan langkah-langkah pencegahan sebelum pembubaran.” ujarnya.

Namun, pernyataan Kapolresta disanggah oleh salah seorang saksi mata yang dikonfirmasi oleh Setara. Ia mengatakan bahwa ketika itu puluhan aparat Polisi langsung mendekati mahasiswa yang tengah aksi dengan disertai pemukulan dan penjambakan kepada mahasiswa.

"Saya juga yang tidak ikut aksi demo hampir saja dihajar Polisi ketika itu gerbang kampus sudah ditutup oleh Satpam." ujarnya kepada SetaraNews.

Belasan Luka Memar dan Dua Mahasiswa Pingsan Dipukuli Polisi

Tidak ada komentar

Kamis, 26 Juni 2014

Unswagati - SetaraNews.com, Dalam aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati pada siang tadi Rabu (25/6) hingga malam pukul 19:30 WIB menimbulkan kericuhan.

Aksi demonstrasi kali ini turut disayangkan, karena Rektor Unswagati tidak menemui para demonstran hingga petang hari. Hingga pada pukul: 19.30 WIB polisi melakukan tindakan represif dengan membubarkan masa yang sedang melakukan orasi di depan Kampus I Unswagati dengan melakukan pemukulan terhadap para mahasiswa.

Hingga ada dua mahasiswa Unswagati yang pingsan sesaat setelah dipukuli dan kembali dikeluarkan oleh para aparat kepolisian yang dipaksa masuk ke mobil petugas.

Aksi demonstrasi ini dilakukan karena menyoal Surat Keputusan Rektor Nomor: SKEP/140/UNIV/VI/2014 tentang Tata Tertib Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati.

Foto: Wakil Rektor III Dudung Hidayat, SH. MH bidang Kemahasiswaan sedang menanggapi aspirasi dari mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di depan Kampus I Unswagati, siang tadi.

Opini: Catatan Keresahan dan Harapan Pada Pemilu 2014

Tidak ada komentar

Catatan Keresahan dan Harapan Pada Pemilu 2014


oleh:


Adhitya Herwin Dwiputra


Presiden Mahasiswa Badan Ekstekutif Mahasiswa


     Universitas Gadjah Mada 2014


 

Pemilu Demokratis, perbaikan moral pelaku dan masyarakat

Tahun 2014 merupakan momen politik terbesar di Republik Indonesia, sudah semestinya pemilu bukan hanya menjadi kegiatan rutin selama lima tahun sekali, tetapi pemilu merupakan tonggak perubahan arah bangsa Indonesia untuk lima tahun ke depan. Dari kaca mata penulis, pemilu saat ini banyak di salah artikan oleh masyarakat sebagai ajang jual beli janji, hal ini diduga karena kurang nya pendidikan politik yang diberikan kepada masyarakat.

Liberalisasi politik membuat proses demokrasi pun berjalan pragmatis dan sangat transaksional. Pragmatis terlihat dari pola recruitment partai politik yang cenderung memilih orang-orang yang hanya memiliki popularitas yang tinggi saja dengan mengesampingkan kapabilitas, integritas dan kredibilitasnya. Pola fikir sebagian orang untuk mengambil jalur politik sebagai ladang mencari pendapatan dan keuntungan jelas salah arah, akibatnya muncul pikiran yang salah, kini kebanyakan berfikir bagaimana mencari keuntungan pribadi dan kelompoknya saja sehingga terlena dan melupakan tugas utamanya untuk memajukan bangsa dan membela kepentingan rakyat. Sudah seharusnya para kaum elitis harus memegang teguh arti demokrasi Indonesia.

Penulis mengajak untuk melihat kembali kepada hal yang paling mendasar dan fundamental, agar tidak menjadi perdebatan panjang ketika pemilihan umum usai yang dapat melukai demokrasi Indonesia. Pembaca mungkin ingat dengan polemik pemilu 2014 terkait putusan Mahkamah Konstitusi. Bila dilihat secara keseluruhan, masyarakat belum banyak yang mengetahui hasil putusan MK terkait pemilu legislatif dan pemilu presiden yang akan diselenggarakan serentak di pemilu 2019 mendatang sehingga muncul pertanyaan yang sangat sederhana “Apakah pemilu 2014 ini sah secara konstitusi dan hukum?”.

Menurut peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi FH UGM, M. Zaenur Rohman dalam penyampaian materinya dalam diskusi yang dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa UGM beberapa saat lalu, pemilihan umum di tahun 2014 sah secara konstitusi dan hukum, tetapi ada beberapa catatan kecil yang cukup penting karena terdapat dua pelanggaran hukum di dalam proses ini yaitu secara prosedural formil dan pengambilan keputusan yang terkesan sangat lama di MK.

Melawan Politik Uang dan Pencitraan                    

Penulis mencoba mengaitkan antara era keterbukaan politik Indonesia yang cenderung berkembang kepada politik praktis transaksional dengan menurunnya presentrase voters turn out. Ideologi partai politik banyak dipertanyakan, pengkaderan parpol semakin lemah, oleh karenanya parpol banyak melakukan jalan pintas untuk mendongkrak perolehan suara dengan mencalonkan calon-calon karbitan.

Sangat disayangkan, kepedulian partai politik terhadap keseriusan untuk  memajukan negara tidak banyak terlihat, tidak pantas rasanya kedudukan kursi dewan yang terhormat diisi oleh orang yang tidak peka akan keperluan mendasar rakyat Indonesia, mengambil keputusan yang tidak didasari oleh UUD 1945 dalam setiap langkah, dan yang sangat menyedihkan ketika kebijakan yang dibuat merugikan bangsa Indonesia dengan menjual kekayaan alam kepada pihak-pihak asing. Sudah seharusnya kita kembali kepada cita-cita para pendiri bangsa Indonesia yang telah berjuang dengan bambu runcingnya untuk melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa ini, Pancasila dan UUD 1945 adalah dasar pertimbangan dalam setiap langkah.

Bila pembaca mengikuti jalannya masa kampanye hampir disetiap daerah saat ini, pendidikan politik dan pencerdasan politik di masyarakat bisa dikatakan sangat rendah, para calon tidak banyak yang membicarakan visi misi dalam platform-nya. Mayoritas, para calon menyosialisasikan dirinya tanpa konsep yang jelas. Kekhawatiran yang mendasar inilah adalah pemicu praktik  kecurangan yang muncul di lapangan, pihak yang membutuhkan suara kemudian melakukan berbagai macam cara, salah satunya dengan politik uang. Hal ini yang menyebabkan tingginya cost politik di masa kampanye sekarang.

Akar permasalahan dari tingginya gejala Golput bukan pada kesadaran politik masyarakat, melainkan kepada krisis calon pemimpin dan bobroknya integritas etika dan moral pemimpin. Apatisme masyarakat sesungguhnya tidak dapat disalahkan. Minimnya rasa percaya karena sudah banyak sekali fenomena yang membuat masyarakat semakin apatis dengan politik di negara kita.

Dibalik itu semua bangsa Indonesia didirikan bukan karena berjuta-juta permasalahan tetapi karena ada berjuta-juta harapan yang bersinar terang sehingga kita harus percaya bahwa masih ada orang-orang yang akan berjuang dan memikirkan rakyat Indonesia, mari kita  memposisikan diri sebagai pemilih yang cerdas dengan melihat kesiapan dan kematangan calon-calon pemimpin bangsa kita.

Cahaya Harapan Bangsa Ada Di tangan Kita

Dari sedikit keresahan yang telah penulis utarakan, sejujurnya banyak cita-cita dan harapan rakyat Indonesia yang ada di dalam pundak para pemimpin bangsa Indonesia. Pemilu adalah salah satu variabel pembantu di dalam tercapainya kedewasaan demokrasi, dengan Pemilu langsung adalah cara terbaik dalam penyampaian amanah rakyat kepada para pemimpin. Dalam tercapainya kualitas peningkatan nilai demokrasi menjadi lebih baik diperlukan partisipasi dan kontrol masyarakat di dalamnya, pada kesempatan dan momentum politik terbesar di Indonesia pada tahun 2014 kali ini, perlu dipahami bersama harus ada integrasi yang saling mendukung antara yang dipimpin dan yang memimpin bangsa Indonesia kelak. Karena demokrasi berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.

Oleh karena itu penulis mengajak untuk semua pembaca untuk cerdas dan cermat memilih calon pemimpin bangsa terkhusus untuk memilih calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019.  Tidak semua partai politik dan calon legislatif buruk, itulah yang harus kita pahami, dengan cara membedah visi misi dan mencari tahu track record atau rekam jejak para calon pemimpin yang akan menjadi jembatan aspirasi masyarakat adalah langkah kongkrit dalam memposisikan diri sebagai pemilih cerdas.

Banyak cara yang bisa digunakan untuk mengetahui rekam jejak dan visi misi calon,  dengan perkembangan teknologi yang serba canggih yang memudahkan kita untuk mengakses informasi tersebut. Ada dua kriteria yang harus dipenuhi oleh calon. Secara dasar dapat ditentukan dari kesiapan dan kematangan calon. Kesiapan diartikan bilamana calon tersebut telah siap untuk merelakan sisa hidupnya demi membela kepentingan rakyat dan konstituennya. Sedangkan kematangan dilihat dari kapasitas politik, kepahaman mengenai ketatanegaraan, mental, integritas moral dan etika yang berorientasi kepada kemajuan negara dan kepentingan rakyat.

Salam Perjuangan, Hidup Mahasiswa Indonesia!!

***


Redaksi menerima tulisan seperti naskah; opini, essai, puisi, pertanyaan umum (surat dari pembaca), dan cerita pendek dari alumni, mahasiswa, dan dosen Unswagati.


Kirimkan ke: lpm.setara@gmail.com dan sertakan identitas diri berikut nomor kontak handphone. Bagi yang naskahnya naik ke www.setaranews.com, kami sediakan bingkisan menarik dari Redaksi LPM Setara.

UAS FISIP Unswagati, Tergantung 1 Ramadhan

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Ujian Akhir Semester (UAS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk (FISIP) Unswagati yang seyogyanya akan dimulai pada Senin 30 Juni mendatang nampaknya ada kemungkinan akan diundur. Hal ini menyangkut penetapan 1 Ramadhan yang belum pasti sehingga jadwal UAS sangat mungkin untuk berubah.

Farida Nurfalah Kepala Prodi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi menyampaikan itu di ruang kerjanya siang tadi. Dirinya tidak menampik jika UAS Fisip bisa jadi akan diundur satu hari menjadi Selasa 1 Juli 2014.

“Kita masih liat bagaimana nanti 1 Ramadhanya. Kalau 1 Ramadhanya tanggal 28 Juni berarti UAS tanggal 30 Juni. Tapi, kalau 1 Ramadhanya tanggal 29 Uasnya dimundurkan satu hari.” Ujarnya

Hal ini menurut Farida, dikarenakan libur awal puasa yang menjadi bentrok jika UAS harus dilaksanakan pada 30 Juni.

“Soalnya kan kalau awal puasa biasanya libur, jadi disesuaikan.” tambahnya

Jika benar 1 Juli menjadi awal UAS, maka untuk jadwal mata kuliah yang nantinya diujikan disesuaikan dengan urutan jadwal UAS semula.

“Untuk mata kuliah yang diujikan tanggal 30 Juni maka akan menjadi tanggal 1 Juli diujikannya, dan begitu seterusnya.” Tutup Dosen FISIP tersebut.

Pilpresma Diulang, Syarat IPK Dihapus

Tidak ada komentar

Rabu, 25 Juni 2014

Unswagati, SetaraNews.com - Masa pendaftaran Pemilihan Presiden Mahasiswa 2014/2015 kembali dibuka.

Hal itu, setelah sebelumnya Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) dianggap gagal dalam mempertanggungjawabkan hasil verifikasi Capresma dan Cawapresma yang ternyata, salah satu kandidat dari Partai KITA melakukan pemalsuan tanda tangan.

Dalam pendaftaran ulang kali ini, syarat khusus IPK minimal 3.0 sebagai salah satu persyaratan capresma-wapresma akhirnya dihapus. Info ini kami peroleh dari ketua PPUMnya langsung.

Rencananya, setelah pendaftaran yang ditutup hingga Rabu (25/6) pukul 12.00, verifikasi akan dilakukan hingga besok (26/6) dan dilanjutkan dengan debat kandidat di hari yang sama. Tanpa adanya masa kampanye dan masa tenang, proses pencoblosan akan langsung dilaksanakan keesokan harinya (27/6).

Surat Pembaca: Biaya Pendaftaran Masuk Unswagati Bisa Dicicil?

Tidak ada komentar

Senin, 23 Juni 2014

Selamat Malam,
Boleh bertanya mengenai sistem pembayaran biaya kuliah.
Untuk biaya pendaftaran awal masuk, bisa dicicil?
Jika bisa berapa ketentuannya?

elia8...@gmail.com

Selamat pagi Elia, bagi calon mahasiswa baru Universitas Swadaya Gunung Jati.

Pembayaran regristrasi ulang bisa dicicil, namun untuk dana pembangunannya saja. Kalau untuk biaya SKS dan dana kemahasiswaan langsung dibayarkan, surat permohonan dispensasi pembayaran bisa diambil di ibu Inaro di ruang Wakil Rektor II. Sampai dengan tanggal 30 Juni 2014. Terimakasih.

Jawaban dari Inditasari 081909881855 dari unit pendaftaran mahasiswa baru Unswagati Cirebon.

 

***



Redaksi menerima tulisan seperti naskah; opini, essai, puisi, pertanyaan umum (surat dari pembaca), dan cerita pendek dari alumni, mahasiswa, dan dosen Unswagati.

Kirimkan ke: lpm.setara@gmail.com dan sertakan identitas diri berikut nomor kontak handphone. Bagi yang naskahnya naik ke www.setaranews.com, kami sediakan bingkisan menarik dari Redaksi LPM Setara.

Surat Pembaca: Kalau Sudah Lulus PMDK Nantinya Langsung Regristrasi?

Tidak ada komentar

Minggu, 22 Juni 2014

Assalamualaikum,


Nama saya Yani Setiani, saya calon mahasiswa baru yang ikut PMDK gelombang 2, dan pengumumannya hari ini (Sabtu, 21 Juni 2014). Namun saya mencari di web resmi Unswagati hanya ada pengumuman PMDK gelombang 1. Kalau saya langsung ke kampusnya nanti Senin tidak berpengaruh?

Terus kalau sudah lulus nantinya langsung daftar ulang/registrasi atau bagaimana?

Mohon penjelasannya.

Terima kasih

yanibu...@yahoo.com

 

Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuhu,
Saudari Yani Setiani calon mahasiswi baru Universitas Swadaya Gunung Jati yang saat ini mengikuti proses pendaftaran PMDK gelombang ke-II. Benar sekali, bahwa pengumuman mahasiswa baru yang lulus ke Unswagati biasanya akan langsung diumumkan di papan pengumuman, khususnya penerimaan mahasiswa baru jalur PMDK gelombang II.

Adapun mengenai website resmi Unswagati www.unswagati-crb.ac.id yang belum menampilkan informasi penerimaan mahasiswa baru gelombang II jalur PMDK, karena masih dalam proses.

Jika saudari Yani Setiyani datang ke Kampus pada saat hari Senin, 23 Juni 2014 ini tidak akan mempengaruhi apapun dalam daftar kelulusan calon mahasiswa baru Unswagati jalur PMDK gelombang II.

Jika sudah diterima/lulus PMDK gelombang II, usahakan segera mendaftar ulang/regristrasi. Karena jika tidak melakukan regristrasi ulang, maka akan dianggap mengundurkan diri.

Jika belum menjawab semua pertanyaan, dapat menghubungi Inditasari 081909881855

Demikian jawaban dari Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Setara Unswagati, semoga dapat membantu.

***


Redaksi menerima tulisan seperti naskah; opini, essai, puisi, pertanyaan umum (surat dari pembaca), dan cerita pendek dari alumni, mahasiswa, dan dosen Unswagati.

Kirimkan ke: lpm.setara@gmail.com dan sertakan identitas diri berikut nomor kontak handphone. Bagi yang naskahnya naik ke www.setaranews.com, kami sediakan bingkisan menarik dari Redaksi LPM Setara.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews