Responsive Ad Slot

Ini Dia Galaxy Extra Acara IMMNI Unswagati

Tidak ada komentar

Sabtu, 31 Mei 2014

Cirebon, SetaraNews.com, Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul Ilmi Unswagati (IMMNI) mengelar acara tahunan yang bertema Galery Expresi muslimah extra (galaxy extra) selama tiga hari 29-31 Mei 2014 di Aula Kampus Utama Unswagati.

Kemarin adalah puncak dari seluruh rangkaian acara Galery expresi muslimah extra (galery extra) akan ada seminar dan bedah buku yang rencananya hari ini Sabtu (31/5) akan dilaksanakan.

Dalam acara seminar kali ini IMMNI mengusung tema Menata Hati Meraih Mimpi bersama Sani Liziyah, “Beliau dari Dai Muda Antv, Motivator juga sih, Trainer, Autor juga, Penulis. Bedah bukunya Febrianti Almera bukunya bientrid muslimah dari Mizan.” ujar Nida Romadoni selaku Ketua Pelaksana.

Acara tahunan yang diselengarakan oleh IMMNI  ini adalah program dari departemen kebudayaan. Tujuan dari seminar ini adalah untuk mengajak para muslimah khususnya di wilayah III Cirebon untuk bisa mewujudkan mimpi dengan cara-cara yang islam. Karena seorang muslimah itu harus mempunyai mimpi.

“Muslimah itu mempunyai mimpi yang harus diwujudkan, nah di tema kali ini Menata hati meraih mimpi bagaimana cara kita meraih mimpi itu seperti apa? cara-caranya seperti apa? Dan mimpi yang seperti apa yang harus kita wujudkan atau mungkin hanya ambisi-ambisi saja.” tutup Nida Romadoni Selaku Ketua Pelaksana.

 

Gagasan Setara: Kiblat Digeser, Masjid Unswagati Perlu Diperluas

Tidak ada komentar

Kiblat Digeser, Masjid Unswagati Nurul Ilmi Perlu Diperluas


oleh: Ketua Umum LPM Setara


PERGESERAN - derajat kiblat di Masjid Nurul Ilmi yang berada di Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati pada beberapa hari yang lalu berdampak pada shof jamaah di setiap kali sholat.


Ada pemandangan mencolok saat penulis sholat jumat kemarin (30/5) di Masjid Nurul Ilmi, Kampus Utama Unswagati. Nampaknya perubahan arah kiblat, menjadi berefek di barisan shof sholat. Sajadah pun diperbanyak di depan Masjid demi dapat menampung para jamaah yang akan menunaikan sholat jumat.


Arah kiblat yang baru menggeser kiblat masjid ini sekitar 294,1 derajat azimut kiblat. Shof jamaah yang seharusnya lurus ke barat, kini miring ke kanan dari biasanya yang membuat banyak sisi terbuang.


Pertambahan Jumlah Jamaah Sholat


Pertambahan jumlah mahasiswa Unswagati baru yang bakal masuk pada September 2014 nanti, sepertinya harus dipikirkan pihak kampus dari hari ini. Pasalnya, Masjid yang berada di pinggir Jalan Pemuda Kota Cirebon ini selalu menyedot jamaah dari luar kampus juga.




Di dalam foto yang diambil pada Jumat (30/5) kemarin nampak para jamaah duduk-duduk di bagian sajadah luar Masjid. Jamaah nampak kepanasaan saat menunaikan ibadah sholat Jumat di Masjid Nurul Ilmi Unswagati.



Salah satu solusi yang diterapkan adalah selain mengadakan sajadah panjang baru, pun harus mengadakan atap baru di sisi Masjid Nurul Ilmi. Karena tidak menutup kemungkinan, bukan hanya Aula yang perlu dibangun, tetapi juga fasilitas lahan parkir, dan pelebaran Masjid Nurul Ilmi.


Jaka Rara Kota Cirebon Sosialisasi di Unswagati

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Event Organizer Creative Media bersama Dewan Perwakilan Mahasiswa melakukan sosialisasi Jaka Rara Kota Cirebon di Aula Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati hari ini (31/5).

Acara sosialisasi ini turut dihadiri oleh Suci, Puteri Indonesia Jawa Barat tahun 2013. Suci menuturkan kota Cirebon merupakan kota ke dua baginya.

"Cirebon sudah menjadi kota ke-dua bagi saya." ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa perjalanannya menjadi Puteri Indonesia Jabar melewati proses yang panjang. Hingga menuntunnya menjadi duta wisata untuk Jawa Barat.

"Dulu saya pemain basket, dan sedikit tomboy. Namun setelah mengikuti training akhirnya saya menjadi seperti ini." jelasnya.

Ia pun berharap agar dari Unswagati dapat ikut serta dalam pemilihan Jaka Rara Kota Cirebon.

Bagi yang ingin mendaftar bisa kunjungi situs onlinenya di: www.jakararacirebon.com.

 

Gagasan Setara: Manajemen Aula Kampus Utama Unswagati Perlu Dievaluasi

Tidak ada komentar

Gagasan Setara: Manajemen Aula Kampus Utama Unswagati Perlu Dievaluasi


Oleh : Ketua Umum LPM Setara


ADA – Peristiwa menarik pada hari ini Jumat 30 Mei 2014, di Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati. Ada dua acara yang bakal diselenggarakan di Aula Grawidyasabha Kampus Utama Unswagati pada esok hari (31/5).

Ada agenda yang bakal bertabrakan di Aula Kampus Utama Unswagati yakni; Galaksy yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul Ilmi (IMMNI), dengan sosialisasi Jaka Lara Kota Cirebon yang bakal dipandu oleh Dewan Presidium Mahasiswa Unswagati.

Di dalam papan agenda Bagian Umum Unswagati telah tertera bahwa untuk tanggal 29 hingga 31 Mei 2014 pemakaian Aula diberikan kepada UKM IMMNI. Namun datang juga surat dari Dewan Perwakilan Mahasiswa yang mengundang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) untuk menghadiri sosialisasi Jaka Rara Kota Cirebon di hari yang sama, yakni Sabtu 31 Mei 2014. Ketua Umum UKM IMMNI pun ‘galau’ lantaran agendanya menjadi semrawut. Lantaran harus memutar otak untuk mengalihkan acaranya ke lain tempat dalam waktu kurang dari satu hari.

Persoalan manajemen tata kelola Aula Kampus Utama Unswagati pun pernah dialami oleh UKM Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (Setara), kala itu pada tahun 2012 yang lalu. Saat itu LPM Setara akan mengadakan acara Musyawarah Nasional bersama lintas organisasi mahasiswa se-Indonesia. Namun sayang, jauh hari agenda di Aula Kampus Utama yang sedianya untuk Munas tiba-tiba diganti dengan agenda pendidikan anti korupsi oleh pihak kampus.

Tata Kelola Aula Harus Profesional

Sebagai kampus yang terbilang terbesar di Kota Cirebon, Unswagati seharusnya dapat mengelola Aulanya dengan lebih baik lagi. Pasalnya, ada sekitar 14000 mahasiswa aktif yang saat ini sedang mengenyam pendidikan S1 di Kampus yang katanya sedang menuju kampus berbasis AIPT ini.

Sebenarnya Unswagati sudah memiliki tiga kampus besar yang menampung mahasiswa yang telah mencapai belasan ribu tersebut. Di setiap kampus memiliki ruang yang dapat difungsikan sebagai Aula. Kampus I ada Aula Grawidyasabha, Kampus II ada lima kelas yang dapat dialihfungsikan menjadi Aula (kondisional), dan Kampus III ada ruangan yang biasa dipakai untuk audiensi di dalam gedung program study Pendidikan Bahasa Inggris. Namun ketiganya belum tentu dapat mengakomodir semua agenda kemahasiswaan berikut agenda Jurusan di setiap harinya.

Pihak kampus tidak boleh ‘melempar batu, kemudian menyembunyikan tangannya’. Setelah kampus memberikan kebijakan untuk membatalkan agenda Ormawa atau jurusan, maka kampus pun sepatutnya mempertanggungjawabkan efek dari kebijakan yang telah dikeluarkan. Bukannya lantas membiarkan efek yang timbul dari suatu kebijakan yang telah diambil.

Tentunya kita berharap, agar agenda setiap Ormawa dan Jurusan atau satuan sivitas akademik Unswagati dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu persoalan yang berarti.

Proyek Pengadaan Aula Besar Unswagati untuk Mimbar Bebas

Satu hal yang membuat penulis teringat tentang tuntutan mahasiswa Unswagati kepada calon Rektor yang saat ini sudah menjadi Rektor Unswagati; Prof. Dr. H. Rochanda Johan Wiradinata, MP untuk periode 2014-2018. Tuntutan mahasiswa yang disampaikan  pada saat itu adalah menuntut dibangunnya sarana mimbar bebas di Kampus Unswagati. Pasalnya sejak pendirian Kampus Unswagati, mahasiswa merasa belum memiliki mimbar bebas, dimana sivitas akademika Unswagati dapat berdiskusi secara ilmiah secara bebas dalam rangka mengkaji ilmu disiplin mereka.

Mimbar bebas ini pun dapat difungsikan sebagai sidang skripsi, dimana penelitian dan temuan terbaru dari dosen Unswagati tentang ilmu pengetahuan dapat dipertanggung-jawabkan dan disaksikan di depan mahasiswa, dosen, dan para ilmuan dari seluruh dunia.

Mimbar bebas harus ada di Unswagati, dan perlu dicatat di dalam agenda jangka panjang Unswagati. Pasalnya, mimbar bebas ilmiah wajib dimiliki oleh setiap kampus di Indonesia jika kita menilik bersama Undang-undang Pendidikan Tinggi nomor 12 tahun 2012 lalu.

Penulis mengutip UU PT No.12 tahun 2012 pasal 46 ayat 2 yang berbunyi;
"Hasil Penelitian wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan, dan/atau dipatenkanoleh Perguruan Tinggi, kecuali hasil Penelitian yang bersifat rahasia, mengganggu, dan/atau membahayakan kepentingan umum"

Karena pada dasarnya Pelaksanaan kebebasan akademik seperti;  kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan diPerguruan Tinggi merupakan tanggung jawab pribadi Sivitas Akademika, yang wajib dilindungi dan difasilitasi oleh pimpinan Perguruan Tinggi.

***


Redaksi menerima tulisan seperti naskah; opini, essai, puisi, pertanyaan umum, dan cerita pendek dari alumni, mahasiswa, dan dosen Unswagati. Kirimkan ke: lpm.setara@gmail.com dan sertakan identitas diri berikut nomor kontak handphone. Bagi yang naskahnya naik ke www.setaranews.com, kami sediakan bingkisan menarik dari Redaksi LPM Setara.

Merawat Kebudayaan dengan Tulisan

Tidak ada komentar

Jumat, 30 Mei 2014

Merawat Kebudayaan dengan Tulisan


Oleh: Efri Fahmi Aziz


Prolog

Kemarin malam, ketika penulis membuka Facebook, penulis mengkrenyutkan dahi sekaligus memandangi layar kaca dengan penuh suka cita ketika membuka profil Fcebook. Kenapa tidak, setelah sekian lama “fakum” di jejaring sosial  tiba – tiba penulis dikagetkan dengan sebuah poster yang di tag-kan oleh salah seorang kerabat. Poster tersebut berisi – bisa dibilang – ajakan untuk ‘memungut’ kembali keping – keping budaya (kususnya ke arifan lokal) suatu daerah di Indonesia, Ya, poster itu tidak lain adalah Ekspedisi tentang data kebudayaan yang diprakarsai oleh tim sejutadatabudaya.com

Tercengang, dalam artian bangga. Bangga masih ada yang memikirkan dan memperjuangkan kebudayaan Indonesia. Karena memang bangsa ini kaya akan kebudayaan yang sedari dulu terus diperjuangkan. Akan tetapi, sangat disayangkan – tidak  perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana kepedulian “elit” terhadap ke budayaan Indonesia – miris. Tampaknya, kita perlu mendobrak otak beton para pemangku jabatan publik yang “miskin” kepedulian tentang kebudayaan Indonesia. Maka dari itu penulis senang dan mengucapkan terima kasih kepada tim sejutadatabudaya.com akan kepeduliannya terhadap kebudayaan Indonesia.

Singkat Tentang Antropopogi Budaya

Entah mengapa, walaupun basic study penulis adalah Ekonomi tetapi penulis tertarik akan persoalan dan pembicaraan yang berkaitan tentang budaya. Yang jelas penulis yakin ketika berbicara kebudayaan, tidak hanya jadi fokus pemikiran para ahli budaya, tetapi menjadi fokus pemikiran semua (tanpa memandang istilah kelas sosial). Budaya tidak melulu harus dipelihara dan dikembangkan oleh segelintir orang, ini merupakan fokus perhatian bersama.

Bicara budaya tentunya tidak lepas dengan istilah Antropologi, karena keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Antropologi merupakan istilah dari bahasa Yunani (Baca: Antropos) yang berarti “Manusia” dan logos yang berarti “wacana”. Secara harfiah Antropologi merupakan  suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk biologis. Secara umum Antropologi yaitu  sebuah ilmu yang mempelajari segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan non-fisik seperti: warna rambut, warna kulit, bentuk mata, kebudayaan, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan yang bermanfaat lainnya.

Apabila sedikit menilik tentang ilmu ini, betapa rasisnya para peletak dasar ilmu ini. Tidak dapat dipungkiri Antropologi datang dari kalangan Bangsa Eropa yang menilai ada perbedaan terhadap orang – orang di luar Bangsa Eropa. Dari ilmu ini kolonialisme lahir di negara – negara non –Eropa, karna ilmu ini pada dasarnya digunakan oleh orang – orang Eropa untuk mempelajari segala sesuatu tentang orang – orang di luar Eropa supaya bisa melanggengkan kolonialisme di negara – negara dunia ke tiga, termasuk Indonesia.

Bangsa ini lebih dari 3 abad dijajah oleh Bangsa Eropa (Portugis kemudian Belanda), tidak hanya tenaga dan Sumber Daya Alam yang dikuras habis, budaya pun tidak terlewatkan. Bisa dilihat dari berbagai, malah ribuan dokumen tentang kebudayaan Indonesia yang diboyong ke negeri Belanda dan diasosiasikan oleh suatu lembaga asal Belanda, penulis lupa apa nama lembaga tersebut. Lain waktu mungkin penulis bisa lampirkan.

Salah satu cabang dari ilmu antroplogi ada yang disebut dengan Antroplogi Sosial Dan Budaya. Di dalamnya ada yang membahas tentang Etnolinguistik yaitu ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi. Selain itu ada pula tantang Etnologi yaitu ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.

Ketertarikan Atas Kampung Naga

Dalam hal ini, seperti yang telah dikategorikan oleh sejutadatabudaya.com. Penulis tertarik untuk mengkaji tentang kebudayaan masyarakat adat Kampung Naga. Alasannya selain penulis berdomisili di Cirebon, Jawa Barat, yang tentunya tidak terlalu jauh dengan Kampung Naga di Tasikmalaya. Penulis juga tertarik dengan keberadaan Kampung Naga tersebut, karena berada di daerah yang tidak terlalu jauh dengan pusat – pusat kota. Akan tetapi, Penduduk Kampung Naga (Masyarakat Adatnya) bisa bertahan’ mempertahankan kebudayaan “leluhur” di tengah – tengah hiruk-pikuknya gempuran budaya dari “tetangga sebelah”.

Itu alasan penulis mengapa tertarik ingin mengkaji masyarakat adat Kampung Naga, bukan berati penulis tidak tertarik dengan rumah adat, cara masyarakat melakukan kegiatan sosial-ekonomi, keagamaan dan sebagainya. Penulis tertarik terhadap itu semua. Seperti yang sudah disinggung di atas, ekspedisi budaya ini diharapkan bisa meraup puing – puing dan merangkainya menjadi suatu kesatuan yang utuh tentang kebudyaan Indonesia.

Mulailah Menulis!

Pertanyaannya bagai mana caranya? Penulis sepakat, Caranya dengan Ekspedisi data kebudayaan ini. Ekspedisi kebudayaan dengan observasi dan wawancara langsung, tentunya turba (turun ke basis) menetap dan menjadi bagian dari masyarakat adat, di situ sedikit demi sedikit akan menemukan titik terang. Dalam hal ini yang tidak bisa dilewatkan yaitu menulis. Karena dengan menulis kembali semua tentang kebudayaan dan kearifan lokal itu kita bisa melakukan perlawanan atas penjajahan dan penjarahan tentang Kebudayaan Indoensia.

Tidak dapat dipungkiri, selain stabilitas ekonomi,sosial dan politik. Salah satu cara yang ampuh untuk keluar dari “krisis” dan bertahan di era Globalisasi ini yaitu dengan kita tidak sedikitpun melupakan akar, yaitu kebudayaan dan kearifan lokal. Karna menurut penulis dua hal itu bisa menjadi senjata ampuh, dan modal dasarnya yaitu kemauan dari generasi penerus bangsa untuk mulai merangkai puing – puing yang sudah tercecer itu menjadi satu bangunan yang utuh. Sekali lagi caranya menurut penulis yaitu dengan mulai menulis tentang kebudayaan dan kearifan lokal di Indonesia. Dengan begitu kita akan mencoba merangkai wajah tentang (merawat) kebudayan Indonesia, dan ditulis oleh tangan – tangan asli Indonesia. Bukan tangan asing.

 

 

Paradigma Pendidikan “Botol Kosong”

Tidak ada komentar

Kamis, 29 Mei 2014

Tahun ini, memang merupakan tahun politik. Tahun di mana masyarakat sedang sibuk sekaligus kebingungan menentukan calon pemimpin baru yang ‘mampu’ membawa menuju cita-cita bersama yaitu Indonesia sejahtera. Di lain pihak, Capres dan Cawapres (beserta tim sukses yang dikendarai), dan gerakan – gerakan afiliasi dibawahnya sedang ‘beradu ilmu’ untuk memenangkan kursi presiden dan merebutkan kursi di parlemen. Akan tetapi, jangan lupa tahun ini pun diiringi dengan ekonomi yang kembali menurun, disusul  dengan pengumuman kelulusan tingkat SMA (yang katanya sebagai patokan berhasil tidaknya suatu pendidikan) kembali mengalami penurunan sekitar 0,01 % (sebanyak 7718 siswa dinyatakan tidak lulus).

Pelaksanaan Ujian Nasional kali ini pun sama seperti biasanya, diwarnai dengan contek – mencontek masal dengan kunci jawaban (sebagai senjata utama) beredar luas ‘dipasaran’. Selain soal tentang salah satu capres muncul lagi di UN tingkat SMP, disusul dengan plagiasi soal UN SMP  Kemdikbud atas soal – soal PISA (Programme for Internatiolan Student Assessment) yang dikeluarkan tahun 2012. Soal yang dibuat hasil mencontek, cara mengerjakannya pun dengan mencontek, sempurna!

Walaupun Hari Pendidikan Nasional sudah terlewat. Akan tetapi, di tengah – tengah hiruk pikuknya kancah perpolitikan nasional saat ini, penulis kira masih relevan apabila tulisan penulis kali ini menyoroti dunia pendidikan nasional. Tahun ini,  siswa SMA/SMK yang ‘mampu’ pasti akan melanjutkan jenjang  ke perguruan tinggi. Pertanyaannya apakah siap mengemban dan melaksanakan peran sebagai agent of change atau sebaliknya menjadi kader  yang menambah sederet prestasi ‘buruk’ di negeri ini.

Dunia Pendidikan Sekarang  

Andaikan saja kita ingin pergi ke Yogyakarta, tetapi tanpa sadar kita menggunakan peta menuju ke Bandung. Tentu saja, sebaik-baiknya usaha kita selama di perjalanan tidak akan pernah sampai tujuan. Apa pun usaha yang kita lakukan, entah itu dengan menambah kecepatan atau menyetir dengan hati-hati tetap saja akan sia-sia. Permasalahannya bukan pada usaha yang kita lakukan, tetapi pada peta atau petunjuk yang salah.

Petunjuk disini penulis anologikan sebagai  paradigma berfikir, entah dikalangan elit (pemerintah), pelaksana dilapangan (lembaga pendidikan) atau tenaga pengajar sekali pun. Paradigma menurut definisi yang ada  adalah suatu teori, perspektif atau kerangka berpikir untuk menentukan bagaimana kita mamandang, menginterpretasikan, dan memahami aspek-aspek kehidupan. Dalam hal ini – khususnya  dunia pendidikan – paradigma lama memandang siswa  seperti ‘botol kosong’  yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanan dari atas sampai kebijaksanaan sang guru.

Bradasarkan asumsi seperti itu, pemerintah dengan semena – mena menerapkan kebijakan yang merepotkan peserta didik, dan tidak sedikit sekolah dengan guru sebagai tenaga pengajarnya   yang melaksanakan kegiatan belajar- mengajar dengan apa adanya, hanya bertugas memberi pengetahuan dan siswa hanya menerima. Tidak sedikit pun memicu tumbuhnya nalar kritis apalagi budaya literasi ( Baca, Tulis, Diskusi).

Setelah itu, berdasarkan peraturan yang ada, pengajar  akan mengelompokkan siswa berdasarkan nilai, kemampuan dinilai dengan ranking dan siswa direduksi menjadi angka-angka. Dengan demikian memicu siswa  untuk berkompetisi (menghalalkan segala cara). Siswa bekerja keras untuk saling mengalahkan teman sekelas nya.

Tanpa kita sadari paradigma seperti itu telah dibawa dan diadopsi ke pendidikan tinggi (universitas), banyak dosen masih menggunakan paradigma lama ini sebagai satu-satunya alternative. Mereka mengajar dengan metode ceramah dan mengharapkan Mahasiswa duduk,diam,dengar,catat dan hafal(3DCH) serta mengadu mahasiswa satu sama lain. Johnson,Johnson dan Smith(1991).

Dengan paradigma seperti itu pula – secara tidak langsung – Mahasiswa dituntut  untuk saling  berkompetisi satu sama lain nya, akhirnya menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi dengan imbalan nilai yang tinggi. Satu-satunya alasan kuliah yaitu mendapatkan nilai tinggi,lulus tepat waktu, setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan. Lupa akan peran dan fungsinya sebagai Mahasiswa karena memang tidak diajarkan kurikulum.  Title seorang Sarjana itu untuk membuat/menghasilkan sesuatu yang baru, tapi  dengan paradigma yang seperti itu dalam dunia pendidikan hanya akan menghasilkan seorang pekerja, bisa dibilang berarti  Mahasiswa di didik hanya untuk menjadi seorang pekerja (buruh).

Dunia pendidikan kita saat ini dikepung dari berbagai hal (google dan bimbel), membuatnya kurang menyasar titik mendasar yang sejati. Pendidikan di sekolah maupun di Universitas cenderung mengarah pada pola cepat saji, terlalu berkiblat kepada kepentingan industri, dan kurang peduli kepada kebutuhan masyarakat terutama kepada kelompok yang terpinggirkan. Sehingga banyak opini yang berkembang bahwa sekolah hanya “tempat penitipan anak”, “sekolah itu candu”, bahkan yang radikal mengeluarkan argumen  “bubarkan saja sekolah”.

Guru atau tenaga pengajar lainnya terjebak dalam rutinitas ‘kesibukan mengajar’ yang cenderung membelenggu kreatifitas dan lupa akan tugasnya sebagai pendidik.. Di lain pihak, pengurus publik sulit menunjukkan visi yang utuh dan mendasar. Cenderung berparadigma formal-birokratis.Tuntutan dunia pendidikan sudah banyak berubah.  Zaman semakin maju, teknologi semakin berkembang, persaingan akan semakin hebat. Apalagi di tahun 2015 pasar bebas akan masuk ke Indonesia, itu artinya kita akan bersaing dengan orang-orang di Negara lain.

Pendidikan Baru

Pertanyaan nya apakah kita semua siap ? jangan sampai kita dijajah kembali.  Maka dari itu Untuk mempersiapkan itu semua perlu upaya dari pemerintah pusat sampai ke daerah yang bersinergi dengan lembaga pendidikan dan tenaga pengajar serta peserta didik itu sendiri. Hal pertama yang mesti dirubah yaitu paradigma pendidikan kita, pendidikan tidak melulu memandang peserta didik sebagai botol kosong yang dibiarkan kosong begitu saja.

Langkah selanjutnya yaitu menjalankan proses pendidikan sebaik mungkin tentunya dengan sistem pendidikan yang baik pula. Tidak sekedar mencetak peserta didik menjadi pandai, cerdas, atau tenaga ahli. Sistem pendidikan yang baik adalah mencetak peserta didik menjadi dirinya dan diarahkan memahami peran dan fungsi dirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu suatu cita – cita yang mustahil tercapai dalam keadaan dan sistem pendidikan indonesia saat ini.

Lalu membangkitkan Budaya Literasi. Sistem pendidikan yang baik salah satu kriterianya menurut penulis yaitu suatu sistem yang dapat memicu tumbuh dan berkembangnya budaya literasi pada peserta didik. Yaitu budaya baca, tulis dan diskusi.  Tujuannya yaitu untuk membangun manusia yang berkarakter, cerdas dan kesadaran  kritis. Sebab tidak akan ada kebangkitan tanpa kesadara kritis, dan tidak akan ada kesadaran kritis tanpa suatu kebiasaan yang melatihnya. Islam mengenalnya dengan istilah iqra (BACA). Suatu kewajiban yang wajib dilakukan tanpa mengenal istilah kelas sosial.

Terahir dan paling utama yaitu Pendidikan berbasis Lokal. Pendidikan berbasis lokal yaitu pendidikan yang bisa membawa peserta didik untuk memamahami, memiliki dan mencintai Kearifan Lokal daerah di mana peserta didik itu berada. Karena salah satu cara untuk menghadapai kancah global kita tidak boleh begitu saja lupa dengan akar, yaitu kearifan lokal.

Founding father pada saat memperjuangkan kemerdekaan indonesia. Salah satunya memberikan dan memperjuangkan pendidikan yang sejati. Saat ini kita sedang dibingungkan menentukan pemimpin. Tidak hanya pemimpin baru, tetapi pemimpin yang mempunyai moral baru, pola pikir baru, perilaku baru, konsep baru, gagasan baru. Tentunya,  yang dapat membawa ‘pendidikan baru’ yaitu pendidikan berbasis lokal yang diharapkan dapat memicu tumbuh kembangnya nalar kritis, sekaligus membangkitkan semangat  budaya literasi, dengan begitu membangun Indonesia dengan tulisan – tulisan asli anak negeri hal yang bukan mustahil    dan harapan menuju  “Indonesia Baru”  bukan sekedar mimpi di siang bolong?

Daftar Referensi

M Mushthafa,Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimble (Yogyakarta : LkiS. 2013)

Anita Lie, Cooperative Learning ( Jakarta : Grasindo, 2008)

Esai Harapan itu Selalu Ada, Efri Fahmi Aziz, (Pemenang Lomba Esai Kebangkitan Nasional BEM FH Unswagati)

Esai Doni Koesoemaa, Pelajaran Mencontek, Kompas, edisi rabu, 21 Mei 2014

Sekolah itu candu, Room Topatipatang, (yogyakarta : insist, 2010)

 

Essai: Revokasi Mental

Tidak ada komentar

Rabu, 28 Mei 2014

REVOKASI MENTAL
Oleh : Bakhrul Amal


Ada satu yang hilang dari negeriku
Tak seperti dahulu saling bersatu
Ada yang t'lah berubah dari bangsaku
Hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku
(Indonesia Unite - Rindu Bersatu)


Jika, Romo Benny dan Ir. Joko Widodo punya “Revolusi Mental” sebagai jargon apiknya, maka saya, yang saat ini duduk dan berpikir di bawah awan-awan mendung Kota Cirebon, Kota dimana katanya proklamasi pertama kali diucapkan, menggagas suatu pergerakan yang mana saya sebut dengan “Revokasi Mental”. Bukan bermaksud menandingi, bukan pula sengaja untuk menunjukan tendensi penuh perlawanan, akan tetapi, ini hanyalah sebuah ide dan gagasan tentang dari mana kita memulai.


Dulu, jauh sebelum kemerdekaan kita capai dan kita dengungkan, kita telah menjadi saksi bersama bahwa mental kita jauh di atas Belanda dan bangsa eropa. Seorang pakar dari UI bahkan mengatakan, kita tidak pernah dijajah, kita hanya terus berjuang dan akhirnya berhasil mengusir Belanda yang mencoba menguasai kita. Tentu, ketika tawaran mindset baru memahami perjuangan ini disodorkan pada kita, kita pasti sepakat.


Perjalanan berlanjut, dunia seketika berubah, bom atom menghantam dua kota besar di Jepang. Berita itu hadir ke seantero dunia. Kita, yang pada waktu itu sedang sibuk mencari strategi kemerdekaan, akhirnya mendapatkan momentumnya. Jalan Pegangsaan Timur No. 56 langsung ramai, bendera merah putih hasil jahitan Fatmawati pun berkibar terhempas angin. Dengan gagah berani, seorang pria berkopeah hitam berpakaian parlente berdiri tegak menghadap mic, ya, Soekarno akhirnya menyatakan bahwa Bangsa Indonesia telah merdeka !!


Entah, bagaimana bentuk dan suka cita itu dirasakan oleh jutaan masyarakat Indonesia saat itu. Saya hanya dapat melihat foto-foto senyum, hanya sekedar menyangsikan gambaran tentang kereta api yang penuh sesak oleh manusia-manusia, teriakan MERDEKA ! MERDEKA ! pun berkumandang saling berebut keras bak adzan pemanggil sholat.


Sudah sewajarnya, sebagai Negara baru yang mengikrarkan dirinya sebagai Negara merdeka, Indonesia mulai mengurusi kehidupannya sendiri. Semua di-Nasionalisasi, semua serba di Indonesiakan. Dan ketika itu, semua bangga, semua merasa gagah dengan produknya sendiri, semua seolah mengatakan seperti apa yang Soekarno katakan “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."


Segala hal yang ada di dunia ini mungkin bisa dihentikan. Usain Bolt yang kencang, ketika lelah pun dia duduk dan berhenti. Ferari dan Yamaha yang menjadi andalan dunia otomotif-pun perlu istirahat ketika kehabisan bensin. Tetapi ada satu yang tidak bisa dihentikan, satu itu yang menentukan, satu itu yang orang barat menyebutnya dengan uang, satu itu adalah waktu.


Hingar bingar kejayaan Soekarno akhirnya runtuh juga. Sosialisme, saat itu, dinilai menemukan jalan buntunya. Oleh karena sebab ketegasan keluar dari PBB, Games of the New Emerging Forces atau GANEFO diciptakan sebagai tandingannya. Keuangan jatuh, PKI tumbuh pesat dan akhirnya ujung dari tajamnya pedang menusuk pemerintahan Soekarno. Lewat tragedi SUPERSEMAR, Soeharto dengan kepala tegak menjadi bapak baru dari jutaan rakyat Indonesia menggantikan Soekarno.


Babak baru sejarah perjalan Indonesia dimulai. Titik keberangkatan yang dimulai dari kesejahteraan merata dan Nasionalisme, berubah menjadi pembangun. Jembatan dibangun, gedung dibangun semua dibangun, bahkan polisi, sebagai representasi dari manusia, pun dibangun menjadi patung. Tidak heran apabila kemudian banyak yang menyebut Soeharto adalah bapak ‘Pembangunan Indonesia’.


Awalanya, mungkin, era baru ini membawa suatu cahaya cerah. Namun, seperti apa yang dikatakan oleh Marx, bahwa semua sistem (tidak hanya kapitalisme) akan menunjukan wajah aslinya ketika terpuruk, tenyata benar. Kegentingan sedikit demi sedikit muncul, rasa bosan akan “itu-itu saja foto presidennya” pun sempat terngiang. Era yang kadang intelektualis menyebutnya dengan diktator pun muncul. Semua yang menentang dibredel, semua yang mengganggu diberangus. Selamat datang dalam nuansa baru perubahan mental Indonesia.


Diskusi-diskusi sunyi mulai digalakan, poster-poster mini tentang propaganda perubahan kepemimpinan ditulis, segala hal yang bersifat kudeta dijadikan gaya hidup. Akhirnya, usaha-usaha keras yang sembunyi itu membuahkan hasil. Jutaan mahasiswa dan rakyat Indonesia berkumpul menjadi satu menduduki DPR. Bendera-bendera dikibarkan dan nyanyian-nyanyian rakyat didendangkan, penantian lama itu hadir juga, Soeharto secara jantan menyatakan mundur !!


Jika ada yang berkata bahwa, sejauh apapun orang melangkah pastinya akan lelah juga, mungkin inilah titik dimana kelelahan itu muncul. Orang yang lelah, biasanya membutuhkan hiburan, dininabobokan oleh dongeng-dongeng indah pengantar tidur, merasa nyaman ketika dimanjakan. Tidak terkecuali rakyat Indonesia, jatuhnya Soeharto, gerbang pintu baru dibuka. Gerbang kenyamanan itu bernama REFORMASI.


Tidak ada lagi kekang mengekang, tidak ada lagi ikat dan saling mengintai, semua, dibiarkan terbuka dan bebas untuk mengaktualisasikan pendapatnya. Dan perwujudan masa-masa baru ini, dibarengi dengan kemajuan tekhnologi yang juga sedang begitu pesatnya. Maka jadilah, sebuah keadaan evolusi yang beranjak total dan jauh, evolusi yang merubah kertas-kertas buram menjadi asturo-asturo berwarna-warni dengan coraknya yang menyebalkan.


Kebebasan, mungkin itulah wakil dari kata-kata lain yang maknanya mungkin sama, hanya bentuk dan istilahnya saja berbeda berbagai bahasa. Setiap individu dinilai memiliki kewenangan sendiri untuk menentukan dirinya, tidak ada yang tanpa tedeng aling-aling bisa melarangnya. Mengangggu maka tangkap, melukai sedikit saja tahan, dan mereparasi tindak-tanduk yang sifatnya diri sendiri bisa dikatakan kekerasan.
Inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini mulai kehilangan wacana awalnya.


Dulu, bangsa ini dibangun bersama, untuk bersama, dalam apa yang disebut oleh UU dengan kekeluargaan. Keluarga itu, sekarang, mulai tak jelas lagi mana ayah dan ibunya, siapa anak dan siapa orang tuanya, semua seenaknya sendiri-sendiri. Ikatan emosional pun hilang, semangat berjuang dan berdarah-darah bersama membangun rumah besar Indonesia juga tidak tercipta lagi.


Kita tidak perlu memulai, tidak pula hendak mencari model apa yang tepat, tetapi kita, sudah saatnya melakukan penarikan kembali mental-mental masa lalu kita. Kita hanya sedikit berusaha, untuk sama-sama menoleh kembali ke belakang, mengembalikan kebersamaan masa lalu kita. Kita punguti puing-puing masa lalu berdikari, kita rangkai kembali kalimat gotong royong.


Sewaktu kecil, saat semua masih begitu intim, saya masih sering melihat bapak dan ibu bersama tetangga-tetangga sekitar membangun rumah bersama, jembatan dan gorong-gorong pengairan. Hajatan kecil menjadi suatu yang mewah karena seluruh masyarakat sekitarnya hadir berebut cepat memberi sumbangsih. Bareng-bareng menunggu mayat dan menangisi bersama orang sebelah rumah yang meninggal adalah hal yang biasa.


Namun saat ini, saat cuaca ekstrim mulai datang terus-menerus, saat semua berebut cepat ingin terkenal, antara satu dengan lainya pun tak kenal. Bahkan tetangga di depan rumah saja tak tahu siapa nama dan kapan hari ulang tahunnya. Saking tidak pedulinya, teroris dengan lihai mengumpat di tengah keramaian pun tak tercium bau busuknya.


Jeder, barulah, setelah media mengangkat, kita akhirnya tahu, siapa itu dan siapa ini. Toeng, ketika seorang tokoh ngetweet barulah informasi itu sampai ke telinga dan otak kita. Kita bahkan lebih malu ketika tidak tahu Michel Jackson meninggal, ketimbang merasa bersalah ketika tak tahu imam masjid, yang menjadi tetangga kita sendiri, meregang nyawa dalam kesederhanaan.


Bukan perkara ekonomi, bukan perkara politik tanpa bukti, bukan juga karena hukum yang tidak ditegakan sebagaimana mestinya, tetapi perkara mental kita yang berubah. Sudah saatnya, kita me-revokasi mental kita, berjuang bersama seperti dulu dengan mulai saling mengenal, bergandengan tangan, mengamini kembali konsep Tat Twam Asi (kamu adalah aku, aku adalah kamu). Konsep ini tidak termakan zaman, tidak perduli kapan dan di era apa saja kita hidup, konsep ini tetap menyemai dan hidup.


Jika kita telah berhasil melakukan penarikan kembali mental masa lalu kita, maka, bukan hanya asing (seperti VOC, Belanda, Amerika, CIA dll), tetapi musuh di dalam diri kita sendiri pun bisa kita hancurkan seperti dulu. Bangkitlah Indonesia, bangkit !


Alangkah indahnya, bila revokasi mental ini kita tutup dengan puisi hasil buah tangan putra terbaik Indonesia, Soekarno :


Aku Melihat Indonesia
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
Penulis adalah Mahasiswa Magister (S2) Kenotariatan Universitas Dipenogoro dan Peneliti pada Stjipto Rahardjo Institute, asal Kasepuhan Cirebon.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews