Responsive Ad Slot

Opini: Mengukur Kebangkitan Nasional di Tanah Cirebon

Tidak ada komentar

Sabtu, 24 Mei 2014

 Mengukur Kebangkitan Nasional di Tanah Cirebon


oleh: Santosa


BERBICARA – tentang hari kebangkitan nasional di Indonesia, agaknya sudah sangat tua sekali. Sekitar 106 tahun yang lalu, para perintis kemerdekaan Indonesia merangkak-rangkak untuk memperjuangkan nasib bangsa yang katanya kaya raya akan alam dan sumber daya manusianya yang melimpah. Tetapi entah mengapa, penulis merasa masih merangkak-rangkak juga untuk bisa bangkit dari persoalan yang melanda kota Cirebon yang khas dengan panggilan kota udang ini.

Bangkit dari Semrawutnya Birokrasi Pemerintah Daerah

Penulis punya pengalaman buruk dengan sistem dan mekanisme birokrasi pemerintah daerah di negeri yang katanya telah melakukan reformasi birokrasi ini. Belum lama penulis pernah mendatangi kantor Walikota Cirebon untuk mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada sang Pemimpin Kota Udang. Setelah beberapa hari, penulis mencoba untuk menindaklanjuti surat tersebut, entah mengapa setelah penulis meninjau ke jajarannya. Ternyata surat disposisi itu hilang entah kemana.

Ini sangat lucu, karena masih ada hal-hal seperti ini terjadi di bangsa kita yang telah modern. Surat dari aspirasi rakyat ini hilang ditelan oleh ‘janji-janji’ si Walikota yang RAMAH. Belum lama memang, dulu penulis mendengar tentang program aspiratif, berharap ada kebangkitan di kepemimpinan Cirebon yang baru. Kalau seperti ini, boleh penulis berpendapat Cirebon masih jauh dari kata bangkit dari reformasi birokrasi.

Di dalam karangan buku Paulus Wiranto (2011) ada 10 peran pemimpin, yang salah satunya adalah sebagai agen perubahan. Satu contoh semrawutnya birokrasi yang rumit di dalam kepemerintahan yang penulis jelaskan, adalah satu dari sekian puluh atau bahkan ratusan cerita yang mengindikasikan bahwa ada jeda atau semacam tembok yang membatasi komunikasi antara pemerintah dengan rakyat. Ini akan menjadi hal yang konyol, jika birokrasi yang rumit ini belum juga bisa dipecahkan oleh seseorang yang katanya ingin membuat kota Cirebon menjadi lebih Maju.

Kesenjangan Ekonomi

Kota yang dibesarkan oleh Sunan Gunung Jati ini, di dalam perkembangannya mengalami kemajuan yang cukup berarti. Penulis mencoba mengukur dari segi realita di lapangan, ternyata masih menyisakan keprihatinan. Pesan “Ingsun Nitip Tajug lan Fakir Miskin” agaknya sudah mulai dilupakan.

Penulis masih teringat dengan peristiwa pengusiran para pengamen, pedagang asongan, peminta-minta yang diusir dari zona Stasiun Kejaksan yang dikelola oleh Perusahaan Milik Negara waktu itu. Mungkin bagi masyarakat biasa sudah melupakan kejadian ini, tetapi bagi saya ingatan tentang diskriminasi akan hak-hak dasar seorang manusia selalu menjadi catatan khusus untuk tetap disuarakan.

Mungkin Perusahaan Milik Negara sudah lupa tentang amanat dari Undang-undang Dasar tentang Hak Asasi Manusia, pada Pasal 28A bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dilanjutkan dengan Pasal 28B ayat 2 dengan lebih tegasnya; Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Belum lagi dengan amanat Pasal 34 ayat 1 yang menjelaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Penulis merasa bingung pada peristiwa yang telah berlalu tersebut, sebenarnya perusahaan milik negara ini untuk siapa? Lalu dimana peran wakil rakyat dan pemimpin kota Cirebon di saat rakyat kecil yang lemah ini diusir dari tanah kelahirannya? Ironis, para pejabat tidak bisa berperan dengan baik dan seolah tidak paham dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Hal yang menjadi heran lagi, pemerintah daerah seakan mengistimewakan ‘pembangunan gedung’ dan justru melupakan ‘pembangunan sumber daya manusia’. Para pengusaha yang rakus dan pemerintah yang tidak paham menjadi faktor kian menjulangnya kesenjangan pembangunan ekonomi di kota Cirebon. Satu persatu pasar tradisonal di kota Cirebon kian sepi, karena tidak adanya batasan minimarket dan supermarket di kota Cirebon yang merebut rotasi perputaran uang di masyarakat.

Pasar tradisional yang sedianya menjadi wadah bagi rakyat untuk berbagi rezeki, kini harus gulung tikar hingga harus menjadi pedagang kaki lima yang siap digusur oleh Satpol PP. Miris, di satu sisi ingin mendapatkan rezeki yang halal di pinggiran jalan karena di pasar tradisional mulai sepi. Namun melanggar zona pejalan kaki, yang ramai dengan lalu lintas calon pembeli.

Sekali lagi penulis mencoba mengukur, sampai sejauh mana kebangkitan ekonomi kerakyatan ini dapat ditegakkan oleh para pemimpin di kota Cirebon yang katanya Aspiratif ini?

Kebangkitan Perlu Dimulai dari Zona Pendidikan

Tidak ada yang perlu kita tutupi, bahwa pendidikan di Cirebon masih jauh dari kata maju. Belum tersedianya kampus di Cirebon yang memiliki laboraturium kebangsaan dan pusat penelitian kerakyatan untuk mengkaji langkah-langkah strategis dalam menyejahterakan masyarakat secara adil dan bijaksana. Kampus yang ada di Cirebon masih terlalu fokus dengan  pengejaran nilai, dan penyiapan kader anak bangsa sebagai buruh.

Tujuan pendidikan yang masih ke arah orientasi siap kerja, bukan ke arah yang siap berinovasi dan maju secara mandiri. Arah pendidikan yang seperti itu, hemat penulis adalah kuno dan ketinggalan zaman. Akibatnya; bangsa ini terus-terusan menjadi minder dengan kemajuan bangsa lain. Itulah sebabnya kita terlalu mudah membanggakan karya milik orang lain yang padahal kita memiliki kesempatan yang sama dalam meraih sebuah kemajuan.

Penulis yakin jika seluruh elemen masyarakat di kota dan kabupaten Cirebon dapat belajar bersama-sama untuk mengenal khalayak (Ich kenne mein Volk). Maka penulis yakin, kita tidak akan lagi menjadi objek pembangunan dari sebuah tuntutan efek globalisasi. Tetapi kita justru akan menjadi subjek dari sebuah proyek globalisasi yang tetap memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, norma-norma, dan kebudayaan di negeri sendiri.
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, opini ini pernah dimuat di Koran Kabar Cirebon halaman 12 pada hari Kamis 22 Mei 2014.

Trotoar Depan Kampus III Unswagati Jadi Solusi Masalah Lahan Parkir

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Masalah lahan parkir motor di Kampus III Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) nampaknya sudah sampai lampu kuning.

Hal ini dapat ditilik dari banyaknya jumlah motor mahasiswa yang tak sebanding dengan lahan parkir yang tersedia. Akhirnya motor mahasiswa pun harus di taruh di trotoar depan fakultas Hukum hinga FKIP Bahasa Inggris.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh seorang juru parkir Kampus III saat ditemui SetaraNews kemarin (22/5). Ia yang setiap harinya mengatur sirkulasi kendaraan yang masuk dan keluar kampus tiga itu, menuturkan sudah tak ada tempat lagi di lahan parkir Kampus III.

“Di dalem sudah penuh mas, ga ada tempat lagi. Makanya sebagian di taruh di sini.” ujar juru parkir tersebut sembari mengatur motor yang hendak parkir.

Beberapa mahasiswa juga tak suka dengan keadaan itu. Salah seorang mahasiswa yang tak bisa disebutkan namanya mengaku geram dengan kondisi lahan parkir Kampus Tiga.

“Gimana mau jadi negeri, toilet, dan lahan parkir saja tidak layak dan memadai.” begitu tandasnya.

Fakultas Ekonomi Unswagati Bakal Mengadakan Festival di Grage City Mall

Tidak ada komentar

Kamis, 22 Mei 2014

Cirebon - SetaraNews.com, Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) bakal mengadakan acara festival yang mengusung tema Cirebon Cultures and Creatuvity pada Rabu s/d Jumat ( 28 Mei – 6 Juni 2014 ).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempromosikan dan melestarikan wisata, Budaya dan Industri kreatif di wilayah Cirebon dan juga melatih jiwa kreatifitas entrepreneurship generasi muda.

Menurut Antoni, selaku anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE Unswagati kepada SetaraNews hari ini (22/5) mengatakan, "Rangkaian acara yang bakal digelar dan dipamerkan nanti beberapa diantaranya; Futsal, Seminar, Lomba Dance, Bazar Murah, Festival Band, Wayang, Batik, Kuliner." ujarnya.

Ia menambahkan, dalam acara festival tersebut juga akan disemarakkan oleh beberapa artis nasional seperti Armada Band, Vicky Shue, Adera, dan Project Pop. "Ada Armada Band, Vicky Shue, Adera, dan Project Pop." tambahnya.

Acara ini juga rencananya akan menghadirkan Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Mari Elka Pangestu dalam festival nanti.

Rangkaian kegiatan itu merupakan salah satu program kerja tahunan Badan Eksekutif Fakultas Ekonomi Unswagati pada tahun ini.

Lomba Festival Sutan Setara IV Diperpanjang Hingga 3 Juni 2014

Tidak ada komentar
Cirebon - SetaraNews.com, Ada kabar gembira bagi Anda yang ingin ikut dalam perlombaan festival Semarak Ulang Tahun (Sutan) ke-IV Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (Setara) Universitas Swadaya Gunung Jati. Pasalnya, kini lomba fotografi, resensi buku, dan essai bisa siapa saja mendaftar untuk perlombaan ini.

Berikut LPM Setara uraikan syarat dan ketentuan untuk mengikuti perlombaan ini:

  1. Lomba menulis essai; perlombaan ini terbuka untuk umum, tulis essai Anda di kertas A4 dengan tema membangun negeri dengan tulisan, lalu kirim soft copy ke e-Mail: lpm.setara@gmail.com, ingat tulisan yang Anda buat belum pernah dipublikasikan di mana pun.

  2. Lomba resensi buku; perlombaan ini terbuka untuk umum, tulis resensi buku non fiksi Anda ke kertas A4, lalu kirimkan soft copy ke e-Mail: lpm.setara@gmail.com

  3. Lomba fotografi; perlombaan ini terbuka untuk umum, foto haruslah berupa realita tentang pendidikan di sekitar Cirebon, boleh menggunakan kamera SLR/DSLR, handphone resolusi 4 MP, ukuran minimal 1600 px atau kapasitas 1 MB.


Bagi pendaftar diperbolehkan untuk mendaftar lebih dari satu akun lomba, dan setiap lomba yang diikuti - peserta diwajibkan untuk menyumbangkan 1 buku bekas non fiksi ke perpustakaan LPM Setara Unswagati.

Ingat, semua naskah soft copy  essai, foto, dan resensi buku yang dikirim ke LPM Setara, maka secara tidak langsung LPM Setara berhak untuk mempublikasikan karya-karya dari peserta lomba baik di media cetak maupun online.

Seluruh peserta lomba akan mendapatkan sertifikat peserta lomba, dan disediakan jutaan rupiah untuk para pemenang lomba. Pengumuman lomba rencananya akan dipublish pada Kamis 5 Juni 2014 nanti.

Informasi lebih lanjut dapat SMS/menghubungi panitia:

  • Kantor LPM Setara: 0231-9201814

  • e-Mail: lpm.setara@gmail.com

  • Ririn, Kampus 1 Unswagati: 089698929534

  • Ade Fadliah, Kampus 2 Unswagati: 089660273202

  • Dinda Ayu Lestari, Kampus 3 Unswagati: 089633893191


Download Form Pendaftaran Peserta Lomba Festival Sutan Setara IV

Osis SMPN 1 Pabedilan Adakan Kemah Purna Bakti di Palutungan

Tidak ada komentar

Selasa, 20 Mei 2014

Cirebon - SetaraNews.com,  Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pabedilan mengadakan Kemah Purna Bakti Kepengurusan Osis, pada (16/5) hingga (18/5) di Bumi Perkemahan Palutungan-Kuningan, Jawa Barat.

Acara ini dihadiri oleh 30 anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) khususnya kelas III SMP, yang terdiri dari 14 siswi dan 16 siswa. Selain itu dihadiri pula oleh empat orang Guru dan para alumni Osis SMPN 1 Pabedilan. Masing-masing anggota Osis ini merupakan Ketua Organisasi Ekstrakulikuler seperti Paskibra, Marching Band, PMR, Pramuka, dan lainnya.

Kegiatan dalam acara ini meliputi Tadabur Alam, Api Unggun, Saling tukar menukar Kado yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan anggota Osis.

"Ini adalah acara Pengakraban semata sesama anggota Osis khususnya kelas III. Sekedar untuk refreshing pelepasan Masa Bakti, main-main. Di dalamnya tentu tidak seperti acara pelantikan pada umumnya." Ujar Pak Hendra Iskan selaku Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Pabedilan kepada SetaraNews (18/5).

Dalam acara ini pihak sekolah tidak memungut biaya kepada anggota Osis melainkan dana tersebut diperoleh dari anggaran Osis selama 1 tahun, yang berjumlah Rp 2.000.000,-.

"Kami senang dengan kegiatan ini yang merupakan acara rutinitas Osis. Selain untuk lebih mengakrabkan sesama anggota Osis, di sini kita juga belajar mengakrabkan diri kita dengan alam terbuka seperti ini." Ujar Anisah selaku anggota Osis SMPN 1 Pabedilan kepada SetaraNews.

Menikmati Wisata Alam Bumi Perkemahan Palutungan

Tidak ada komentar



Kuningan, SetaraNews.com - Bumi Perkemahan Palutungan merupakan salah satu tempat yang cocok untuk mengadakan kegiatan berkemah berada di lokasi Desa Cisantana, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Luas dari Bumi Perkemahan Palutungan sebesar 9,8 H.


            Harga tiket masuk dikenakan tarif enam ribu rupiah. Fasilitas yang diberikan berupa arena permainan outbond seperti flying fox, permainan jaring laba-laba, serta menyediakan juga penyewaan tenda yang terdiri dari tenda pramuka dan tenda dome. Penyewaan tenda pramuka dikenakan biaya lima puluh ribu rupiah per-malam, sedangkan tenda dome sebesar seratus ribu rupiah sampai selesai.


Pengunjung yang datang terdiri dari berbagai wilayah, namun sebagian besar dari Cirebon dan Indramayu. “Kalau hari libur sekolah sering ramai, dan kalau sepi itu pas bulan puasa”. Ujar Ibu Nining selaku pemungut tiket sekaligus pemandu wisata yang ditemui SetaraNews pada (19/05) lalu.


Kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengunjung perkemahan seperti hiking, menyalakan api unggun, serta menikmati permainan juga pemandangan alam. Selain tempat untuk berkemah Bumi Perkemahan Palutungan juga terdapat wisata alam air mancur yang terdiri dari Curug Putri, Curug Mangkok dan Curug Gelandung.


Curug yang berada di Bumi Perkemahan Palutungan ini merupakan tempat suci yang sudah dijaga. “Curug yang ada di sini itu tempat suci jadi omongan juga harus dijaga”. tambah Ibu Nining.

Opini: Politik Masa Depan, yang Muda Harus Ambil Peran!

Tidak ada komentar

POLITIK MASA DEPAN, YANG MUDA HARUS AMBIL PERAN!


Oleh: Santosa


Proses pendewasaan berpolitik yang terjadi saat ini di Indonesia, masih dibilang jauh dari kata maju. Menengok pada pemilihan umum legislatif yang baru saja berjalan di setiap pelosok di Indonesia, sungguh sangat memprihatinkan. Betapa tidak, dari mulai kesalahan teknis panitia pemilu, kecurangan saat pemilu, hingga praktik money politic masih saja mewarnai proses demokrasi di negeri ini.

Satu hal yang membuat penulis merasa gerah dengan para pelaku calon yang katanya bakal menjadi ‘wakil rakyat kita’. Mengambil seribu cara untuk meraih suara rakyat yang saat ini masih buta, buta karena janji-janji manis dan tuli dengan suara nuraninya hanya karena persoalan ‘perut’ semata. ‘Kegalauan’ bangsa ini dalam berpolitik sangat jauh dari kata ‘sehat’, tidak lagi seperti dulu. Dimana rakyat membela cita-cita bangsa, semangat persatuan, dan menginginkan kemerdekaan bersama-sama di dalam satu wadah untuk diperjuangkan dengan bersama-sama pula.

Penulis masih ingat saat malam sebelum pencoblosan. Saat itu ada beberapa yang orang yang katanya ‘Tim Sukses’, mereka membagikan amplop di beberapa rumah warga sekitar. Isinya sudah bisa ditebak, dengan segepok uang dan nama calon legislatif dengan berikut nama partai yang dimaksud.

Ini nyata terjadi di sekitar kita, dan kita masih mendiamkan kejadian ini berlarut-larut. Seakan-akan kita membenarkan kejadian tersebut adalah ‘lumrah’ atau semacam ‘sudah biasa’. Penulis yakin, ada kebiasan-kebiasaan yang perlu kita rubah dalam proses berdemokrasi yang sakit seperti ini. Sebelum sakit ini kian parah dan harus dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Reformasi Jilid II.

Penulis masih ingat dengan pekikan dari Bung Karno, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Penulis menterjemahkan maksud dari Bung Karno ini adalah, kebiasaan lama yang saat ini terjadi mungkin hanya sekuat letusan gunung. Namun jika sedikit pemuda yang bergerak saja, maka niscaya dapat merubah isi dunia. Penulis teringat dengan kekuatan mahasiswa yang saat itu merubah wajah Indonesia dalam tragedi tahun 1998 yang lalu.

Mulai dari Para Pemuda, Perbaiki Keadaan

            Tidak bisa kita pungkiri, budaya berpolitik saat ini masih didominasi dari para ‘orang-orang lama’ yang bisa dikatakan semangat idealisme, sosialisme, dan nasionalismenya sudah dimakan usia. Penulis sering mendengar dari jeritan rakyat kecil, mereka berkata ‘Idealisme cukup saat muda saja, kalau sudah tua yang diutamakan itu perut’. Kalau sudah seperti ini, apa jadinya bangsa ini di masa yang akan datang?

Tidak ada kata tidak bisa untuk merubah ke arah yang lebih baik, jika kita mau ambil peran sekarang juga untuk bisa mengambil peranan sikap dalam berpolitik. Tidak ada istilah tua, dalam berpolitik. Karena muda, bukan halangan untuk turun ke lapangan, memperbaiki keadaan demokrasi di Indonesia.

Di masa yang lalu, saat itu para kaum terpelajar berkumpul untuk menentukan sikap politiknya terhadap matinya demokrasi karena dibawah ancaman pejajahan Belanda. Mereka menyatukan pemikirannya di dalam melihat kondisi bangsanya yang bertahun-tahun terpuruk. Bukan hanya segi ekonomi, pendidikan, pembangunan, dan demokrasi, jiwa dan raganya pun telah banyak yang mati. Inilah yang kemudian, mendasari para kaum intelektual saat itu bersatu dalam satu suara untuk merubah.

Sama halnya saat sekarang, kesadaran akan politik yang sehat dan kurangnya pendidikan dalam berpolitik kurang disampaikan kepada masyarakat. Sehingga saat ini yang terjadi adalah, matinya demokrasi yang sehat karena money politic. Karena hampir setiap desa di pejuru negeri ini akan mendengar cerita yang sama, tentang ‘harumnya malam menjelang pencoblosan pemilu’. Bertahun-tahun para pejuang bangsa ini memperjuangkan agar bisa mendapatkan status kemerdekaan, kemudian kemerdekaan kita dilecehkan begitu saja hanya dengan segepok amplop tidak kurang dalam hitungan menit. Konyol memang, namun penulis optimis masih ada rakyat yang masih menggunakan hak pilihnya secara murni kepada mereka yang benar-benar ingin membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Membangun Politik Masa Depan Indonesia

            Agaknya kita perlu untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan materi kita untuk mengobati sakitnya demokrasi di Indonesia. Satu persatu kita perlu mengecek; partai politik, calon wakil rakyat, dan rakyatnya sendiri ke dalam bingkai demokrasi. Apakah sudah punya niat berpolitik secara sehat, bermartabat, dan mau jujur?

Percayalah, masih ada bibit-bibit dari rakyat yang benar-benar mau untuk membangun tanah kelahirannya ini, disamping mereka yang hanya ingin mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Siapakah mereka?

Penulis meyakini, mereka adalah orang-orang yang masih peduli dengan kondisi bangsa. Sama seperti apa yang terjadi pada masa silam, saat-saat masyarakat tidak lagi mampu untuk melawan kekuatan dari para penjajah. Para pemuda dan kaum intelektuallah yang mengambil peranan untuk menyelamatkan bangsanya dari keterpurukan. Sudah barang tentu, karena dukungan dari para orang tua yang menginginkan anak-anaknya dapat menikmati nikmatnya hidup merdeka tanpa penjajahan.

Teringat dengan pidato Bung Karno pada masa 1966 silam, “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang”. Artinya, untuk dapat memperbaiki sistem demokrasi pada saat ini yang masih belum dewasa, ada baiknya kita perlu untuk ikut turun langsung ke lapangan dengan menolak dengan tegas, stop money politic, dan serukan kepada calon wakil rakyat untuk turun langsung ke masyarakat dan ayo kita berlomba beradu ide, gagasan, untuk membangun bangsa yang lebih baik dan tunjukkan dukungan kita dengan berani untuk katakan tidak untuk golput.
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, opini ini pernah dimuat di Koran Rakyat Cirebon di halaman 7 pada hari Jumat 16 Mei 2014.

Mencari Rupiah di Dinginnya Palutungan

Tidak ada komentar
Kuningan, SetaraNews.com, Palutungan menjadi salah satu ladang untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Tempat wisata yang menjadi andalan dengan pemandangan air terjun (Curug Putri), terletak di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Tempat wisata yang tidak pernah kosong akan pengunjung ini, sangat dimanfaatkan oleh ibu Mulyati dan juga anaknya untuk membuka usaha warung.

Ibu Mulyati membuka usaha warung dimulai tahun 2000, dan ini menjadi mata pencaharian utama bagi keluarganya “Saya di sini sudah 14 tahun, sejak anak saya masih umur dua tahun.” ujar ibu Mulyati kepada SetaraNews (18/5) lalu.

Penghasilan yang diperoleh perhari sekitar 100-200 ribu rupiah, sedangkan untuk weekend atau hari-hari besar seperti hari raya atau 17 Agustus bisa mencapai 500 ribu sampai empat juta rupiah.

“Penghasilannya mah, tidak tentu perharinya karena tergantung situasi dan kondisi dari pengunjungnya juga sih. Kalau udah sepi warung bakal tutup, kalau rame bisa 24 jam.” tutur Sri selaku anaknya ibu Mulyati.

Hari Ini Puncak Acara Bursa Seni di Unswagati

Tidak ada komentar

Unswagati - SetaraNews.com, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum hari ini (20/5) akan menggelar Bursa Seni yang akan dilangsungkan di Lapangan Parkir Kampus III Unswagati, pukul: 15.00 WIB nanti.


Acara ini merupakan puncak dari rangkaian "Bangkit Bersatu Menuju Indonesia Baru" dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional yang ke-106.


Beberapa acara telah disiapkan dalam rangka acara tersebut, diantaranya; Live Musik, Teater, Musikalisasi puisi, Dance, Pameran Fotografi, Mimbar Bebas, Game Seru, dan Bazar Buku dan Batik.


Acara puncak ini turut didukung oleh; LPM Setara Unswagati, UKM Seni dan Budaya Unswagati, Klise Unswagati, Radio Idental Unswagati, Batik Trusmi, dan Toko Buku Gunung Agung.

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews