Ini Dia Galaxy Extra Acara IMMNI Unswagati

Tidak ada komentar

Sabtu, 31 Mei 2014

Cirebon, SetaraNews.com, Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul Ilmi Unswagati (IMMNI) mengelar acara tahunan yang bertema Galery Expresi muslimah extra (galaxy extra) selama tiga hari 29-31 Mei 2014 di Aula Kampus Utama Unswagati.

Kemarin adalah puncak dari seluruh rangkaian acara Galery expresi muslimah extra (galery extra) akan ada seminar dan bedah buku yang rencananya hari ini Sabtu (31/5) akan dilaksanakan.

Dalam acara seminar kali ini IMMNI mengusung tema Menata Hati Meraih Mimpi bersama Sani Liziyah, “Beliau dari Dai Muda Antv, Motivator juga sih, Trainer, Autor juga, Penulis. Bedah bukunya Febrianti Almera bukunya bientrid muslimah dari Mizan.” ujar Nida Romadoni selaku Ketua Pelaksana.

Acara tahunan yang diselengarakan oleh IMMNI  ini adalah program dari departemen kebudayaan. Tujuan dari seminar ini adalah untuk mengajak para muslimah khususnya di wilayah III Cirebon untuk bisa mewujudkan mimpi dengan cara-cara yang islam. Karena seorang muslimah itu harus mempunyai mimpi.

“Muslimah itu mempunyai mimpi yang harus diwujudkan, nah di tema kali ini Menata hati meraih mimpi bagaimana cara kita meraih mimpi itu seperti apa? cara-caranya seperti apa? Dan mimpi yang seperti apa yang harus kita wujudkan atau mungkin hanya ambisi-ambisi saja.” tutup Nida Romadoni Selaku Ketua Pelaksana.

 

Gagasan Setara: Kiblat Digeser, Masjid Unswagati Perlu Diperluas

Tidak ada komentar

Kiblat Digeser, Masjid Unswagati Nurul Ilmi Perlu Diperluas


oleh: Ketua Umum LPM Setara


PERGESERAN - derajat kiblat di Masjid Nurul Ilmi yang berada di Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati pada beberapa hari yang lalu berdampak pada shof jamaah di setiap kali sholat.


Ada pemandangan mencolok saat penulis sholat jumat kemarin (30/5) di Masjid Nurul Ilmi, Kampus Utama Unswagati. Nampaknya perubahan arah kiblat, menjadi berefek di barisan shof sholat. Sajadah pun diperbanyak di depan Masjid demi dapat menampung para jamaah yang akan menunaikan sholat jumat.


Arah kiblat yang baru menggeser kiblat masjid ini sekitar 294,1 derajat azimut kiblat. Shof jamaah yang seharusnya lurus ke barat, kini miring ke kanan dari biasanya yang membuat banyak sisi terbuang.


Pertambahan Jumlah Jamaah Sholat


Pertambahan jumlah mahasiswa Unswagati baru yang bakal masuk pada September 2014 nanti, sepertinya harus dipikirkan pihak kampus dari hari ini. Pasalnya, Masjid yang berada di pinggir Jalan Pemuda Kota Cirebon ini selalu menyedot jamaah dari luar kampus juga.




Di dalam foto yang diambil pada Jumat (30/5) kemarin nampak para jamaah duduk-duduk di bagian sajadah luar Masjid. Jamaah nampak kepanasaan saat menunaikan ibadah sholat Jumat di Masjid Nurul Ilmi Unswagati.



Salah satu solusi yang diterapkan adalah selain mengadakan sajadah panjang baru, pun harus mengadakan atap baru di sisi Masjid Nurul Ilmi. Karena tidak menutup kemungkinan, bukan hanya Aula yang perlu dibangun, tetapi juga fasilitas lahan parkir, dan pelebaran Masjid Nurul Ilmi.


Jaka Rara Kota Cirebon Sosialisasi di Unswagati

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Event Organizer Creative Media bersama Dewan Perwakilan Mahasiswa melakukan sosialisasi Jaka Rara Kota Cirebon di Aula Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati hari ini (31/5).

Acara sosialisasi ini turut dihadiri oleh Suci, Puteri Indonesia Jawa Barat tahun 2013. Suci menuturkan kota Cirebon merupakan kota ke dua baginya.

"Cirebon sudah menjadi kota ke-dua bagi saya." ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa perjalanannya menjadi Puteri Indonesia Jabar melewati proses yang panjang. Hingga menuntunnya menjadi duta wisata untuk Jawa Barat.

"Dulu saya pemain basket, dan sedikit tomboy. Namun setelah mengikuti training akhirnya saya menjadi seperti ini." jelasnya.

Ia pun berharap agar dari Unswagati dapat ikut serta dalam pemilihan Jaka Rara Kota Cirebon.

Bagi yang ingin mendaftar bisa kunjungi situs onlinenya di: www.jakararacirebon.com.

 

Gagasan Setara: Manajemen Aula Kampus Utama Unswagati Perlu Dievaluasi

Tidak ada komentar

Gagasan Setara: Manajemen Aula Kampus Utama Unswagati Perlu Dievaluasi


Oleh : Ketua Umum LPM Setara


ADA – Peristiwa menarik pada hari ini Jumat 30 Mei 2014, di Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati. Ada dua acara yang bakal diselenggarakan di Aula Grawidyasabha Kampus Utama Unswagati pada esok hari (31/5).

Ada agenda yang bakal bertabrakan di Aula Kampus Utama Unswagati yakni; Galaksy yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul Ilmi (IMMNI), dengan sosialisasi Jaka Lara Kota Cirebon yang bakal dipandu oleh Dewan Presidium Mahasiswa Unswagati.

Di dalam papan agenda Bagian Umum Unswagati telah tertera bahwa untuk tanggal 29 hingga 31 Mei 2014 pemakaian Aula diberikan kepada UKM IMMNI. Namun datang juga surat dari Dewan Perwakilan Mahasiswa yang mengundang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) untuk menghadiri sosialisasi Jaka Rara Kota Cirebon di hari yang sama, yakni Sabtu 31 Mei 2014. Ketua Umum UKM IMMNI pun ‘galau’ lantaran agendanya menjadi semrawut. Lantaran harus memutar otak untuk mengalihkan acaranya ke lain tempat dalam waktu kurang dari satu hari.

Persoalan manajemen tata kelola Aula Kampus Utama Unswagati pun pernah dialami oleh UKM Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (Setara), kala itu pada tahun 2012 yang lalu. Saat itu LPM Setara akan mengadakan acara Musyawarah Nasional bersama lintas organisasi mahasiswa se-Indonesia. Namun sayang, jauh hari agenda di Aula Kampus Utama yang sedianya untuk Munas tiba-tiba diganti dengan agenda pendidikan anti korupsi oleh pihak kampus.

Tata Kelola Aula Harus Profesional

Sebagai kampus yang terbilang terbesar di Kota Cirebon, Unswagati seharusnya dapat mengelola Aulanya dengan lebih baik lagi. Pasalnya, ada sekitar 14000 mahasiswa aktif yang saat ini sedang mengenyam pendidikan S1 di Kampus yang katanya sedang menuju kampus berbasis AIPT ini.

Sebenarnya Unswagati sudah memiliki tiga kampus besar yang menampung mahasiswa yang telah mencapai belasan ribu tersebut. Di setiap kampus memiliki ruang yang dapat difungsikan sebagai Aula. Kampus I ada Aula Grawidyasabha, Kampus II ada lima kelas yang dapat dialihfungsikan menjadi Aula (kondisional), dan Kampus III ada ruangan yang biasa dipakai untuk audiensi di dalam gedung program study Pendidikan Bahasa Inggris. Namun ketiganya belum tentu dapat mengakomodir semua agenda kemahasiswaan berikut agenda Jurusan di setiap harinya.

Pihak kampus tidak boleh ‘melempar batu, kemudian menyembunyikan tangannya’. Setelah kampus memberikan kebijakan untuk membatalkan agenda Ormawa atau jurusan, maka kampus pun sepatutnya mempertanggungjawabkan efek dari kebijakan yang telah dikeluarkan. Bukannya lantas membiarkan efek yang timbul dari suatu kebijakan yang telah diambil.

Tentunya kita berharap, agar agenda setiap Ormawa dan Jurusan atau satuan sivitas akademik Unswagati dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu persoalan yang berarti.

Proyek Pengadaan Aula Besar Unswagati untuk Mimbar Bebas

Satu hal yang membuat penulis teringat tentang tuntutan mahasiswa Unswagati kepada calon Rektor yang saat ini sudah menjadi Rektor Unswagati; Prof. Dr. H. Rochanda Johan Wiradinata, MP untuk periode 2014-2018. Tuntutan mahasiswa yang disampaikan  pada saat itu adalah menuntut dibangunnya sarana mimbar bebas di Kampus Unswagati. Pasalnya sejak pendirian Kampus Unswagati, mahasiswa merasa belum memiliki mimbar bebas, dimana sivitas akademika Unswagati dapat berdiskusi secara ilmiah secara bebas dalam rangka mengkaji ilmu disiplin mereka.

Mimbar bebas ini pun dapat difungsikan sebagai sidang skripsi, dimana penelitian dan temuan terbaru dari dosen Unswagati tentang ilmu pengetahuan dapat dipertanggung-jawabkan dan disaksikan di depan mahasiswa, dosen, dan para ilmuan dari seluruh dunia.

Mimbar bebas harus ada di Unswagati, dan perlu dicatat di dalam agenda jangka panjang Unswagati. Pasalnya, mimbar bebas ilmiah wajib dimiliki oleh setiap kampus di Indonesia jika kita menilik bersama Undang-undang Pendidikan Tinggi nomor 12 tahun 2012 lalu.

Penulis mengutip UU PT No.12 tahun 2012 pasal 46 ayat 2 yang berbunyi;
"Hasil Penelitian wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan, dan/atau dipatenkanoleh Perguruan Tinggi, kecuali hasil Penelitian yang bersifat rahasia, mengganggu, dan/atau membahayakan kepentingan umum"

Karena pada dasarnya Pelaksanaan kebebasan akademik seperti;  kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan diPerguruan Tinggi merupakan tanggung jawab pribadi Sivitas Akademika, yang wajib dilindungi dan difasilitasi oleh pimpinan Perguruan Tinggi.

***


Redaksi menerima tulisan seperti naskah; opini, essai, puisi, pertanyaan umum, dan cerita pendek dari alumni, mahasiswa, dan dosen Unswagati. Kirimkan ke: lpm.setara@gmail.com dan sertakan identitas diri berikut nomor kontak handphone. Bagi yang naskahnya naik ke www.setaranews.com, kami sediakan bingkisan menarik dari Redaksi LPM Setara.

Merawat Kebudayaan dengan Tulisan

Tidak ada komentar

Jumat, 30 Mei 2014

Merawat Kebudayaan dengan Tulisan


Oleh: Efri Fahmi Aziz


Prolog

Kemarin malam, ketika penulis membuka Facebook, penulis mengkrenyutkan dahi sekaligus memandangi layar kaca dengan penuh suka cita ketika membuka profil Fcebook. Kenapa tidak, setelah sekian lama “fakum” di jejaring sosial  tiba – tiba penulis dikagetkan dengan sebuah poster yang di tag-kan oleh salah seorang kerabat. Poster tersebut berisi – bisa dibilang – ajakan untuk ‘memungut’ kembali keping – keping budaya (kususnya ke arifan lokal) suatu daerah di Indonesia, Ya, poster itu tidak lain adalah Ekspedisi tentang data kebudayaan yang diprakarsai oleh tim sejutadatabudaya.com

Tercengang, dalam artian bangga. Bangga masih ada yang memikirkan dan memperjuangkan kebudayaan Indonesia. Karena memang bangsa ini kaya akan kebudayaan yang sedari dulu terus diperjuangkan. Akan tetapi, sangat disayangkan – tidak  perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana kepedulian “elit” terhadap ke budayaan Indonesia – miris. Tampaknya, kita perlu mendobrak otak beton para pemangku jabatan publik yang “miskin” kepedulian tentang kebudayaan Indonesia. Maka dari itu penulis senang dan mengucapkan terima kasih kepada tim sejutadatabudaya.com akan kepeduliannya terhadap kebudayaan Indonesia.

Singkat Tentang Antropopogi Budaya

Entah mengapa, walaupun basic study penulis adalah Ekonomi tetapi penulis tertarik akan persoalan dan pembicaraan yang berkaitan tentang budaya. Yang jelas penulis yakin ketika berbicara kebudayaan, tidak hanya jadi fokus pemikiran para ahli budaya, tetapi menjadi fokus pemikiran semua (tanpa memandang istilah kelas sosial). Budaya tidak melulu harus dipelihara dan dikembangkan oleh segelintir orang, ini merupakan fokus perhatian bersama.

Bicara budaya tentunya tidak lepas dengan istilah Antropologi, karena keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Antropologi merupakan istilah dari bahasa Yunani (Baca: Antropos) yang berarti “Manusia” dan logos yang berarti “wacana”. Secara harfiah Antropologi merupakan  suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk biologis. Secara umum Antropologi yaitu  sebuah ilmu yang mempelajari segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan non-fisik seperti: warna rambut, warna kulit, bentuk mata, kebudayaan, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan yang bermanfaat lainnya.

Apabila sedikit menilik tentang ilmu ini, betapa rasisnya para peletak dasar ilmu ini. Tidak dapat dipungkiri Antropologi datang dari kalangan Bangsa Eropa yang menilai ada perbedaan terhadap orang – orang di luar Bangsa Eropa. Dari ilmu ini kolonialisme lahir di negara – negara non –Eropa, karna ilmu ini pada dasarnya digunakan oleh orang – orang Eropa untuk mempelajari segala sesuatu tentang orang – orang di luar Eropa supaya bisa melanggengkan kolonialisme di negara – negara dunia ke tiga, termasuk Indonesia.

Bangsa ini lebih dari 3 abad dijajah oleh Bangsa Eropa (Portugis kemudian Belanda), tidak hanya tenaga dan Sumber Daya Alam yang dikuras habis, budaya pun tidak terlewatkan. Bisa dilihat dari berbagai, malah ribuan dokumen tentang kebudayaan Indonesia yang diboyong ke negeri Belanda dan diasosiasikan oleh suatu lembaga asal Belanda, penulis lupa apa nama lembaga tersebut. Lain waktu mungkin penulis bisa lampirkan.

Salah satu cabang dari ilmu antroplogi ada yang disebut dengan Antroplogi Sosial Dan Budaya. Di dalamnya ada yang membahas tentang Etnolinguistik yaitu ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi. Selain itu ada pula tantang Etnologi yaitu ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.

Ketertarikan Atas Kampung Naga

Dalam hal ini, seperti yang telah dikategorikan oleh sejutadatabudaya.com. Penulis tertarik untuk mengkaji tentang kebudayaan masyarakat adat Kampung Naga. Alasannya selain penulis berdomisili di Cirebon, Jawa Barat, yang tentunya tidak terlalu jauh dengan Kampung Naga di Tasikmalaya. Penulis juga tertarik dengan keberadaan Kampung Naga tersebut, karena berada di daerah yang tidak terlalu jauh dengan pusat – pusat kota. Akan tetapi, Penduduk Kampung Naga (Masyarakat Adatnya) bisa bertahan’ mempertahankan kebudayaan “leluhur” di tengah – tengah hiruk-pikuknya gempuran budaya dari “tetangga sebelah”.

Itu alasan penulis mengapa tertarik ingin mengkaji masyarakat adat Kampung Naga, bukan berati penulis tidak tertarik dengan rumah adat, cara masyarakat melakukan kegiatan sosial-ekonomi, keagamaan dan sebagainya. Penulis tertarik terhadap itu semua. Seperti yang sudah disinggung di atas, ekspedisi budaya ini diharapkan bisa meraup puing – puing dan merangkainya menjadi suatu kesatuan yang utuh tentang kebudyaan Indonesia.

Mulailah Menulis!

Pertanyaannya bagai mana caranya? Penulis sepakat, Caranya dengan Ekspedisi data kebudayaan ini. Ekspedisi kebudayaan dengan observasi dan wawancara langsung, tentunya turba (turun ke basis) menetap dan menjadi bagian dari masyarakat adat, di situ sedikit demi sedikit akan menemukan titik terang. Dalam hal ini yang tidak bisa dilewatkan yaitu menulis. Karena dengan menulis kembali semua tentang kebudayaan dan kearifan lokal itu kita bisa melakukan perlawanan atas penjajahan dan penjarahan tentang Kebudayaan Indoensia.

Tidak dapat dipungkiri, selain stabilitas ekonomi,sosial dan politik. Salah satu cara yang ampuh untuk keluar dari “krisis” dan bertahan di era Globalisasi ini yaitu dengan kita tidak sedikitpun melupakan akar, yaitu kebudayaan dan kearifan lokal. Karna menurut penulis dua hal itu bisa menjadi senjata ampuh, dan modal dasarnya yaitu kemauan dari generasi penerus bangsa untuk mulai merangkai puing – puing yang sudah tercecer itu menjadi satu bangunan yang utuh. Sekali lagi caranya menurut penulis yaitu dengan mulai menulis tentang kebudayaan dan kearifan lokal di Indonesia. Dengan begitu kita akan mencoba merangkai wajah tentang (merawat) kebudayan Indonesia, dan ditulis oleh tangan – tangan asli Indonesia. Bukan tangan asing.

 

 

Paradigma Pendidikan “Botol Kosong”

Tidak ada komentar

Kamis, 29 Mei 2014

Tahun ini, memang merupakan tahun politik. Tahun di mana masyarakat sedang sibuk sekaligus kebingungan menentukan calon pemimpin baru yang ‘mampu’ membawa menuju cita-cita bersama yaitu Indonesia sejahtera. Di lain pihak, Capres dan Cawapres (beserta tim sukses yang dikendarai), dan gerakan – gerakan afiliasi dibawahnya sedang ‘beradu ilmu’ untuk memenangkan kursi presiden dan merebutkan kursi di parlemen. Akan tetapi, jangan lupa tahun ini pun diiringi dengan ekonomi yang kembali menurun, disusul  dengan pengumuman kelulusan tingkat SMA (yang katanya sebagai patokan berhasil tidaknya suatu pendidikan) kembali mengalami penurunan sekitar 0,01 % (sebanyak 7718 siswa dinyatakan tidak lulus).

Pelaksanaan Ujian Nasional kali ini pun sama seperti biasanya, diwarnai dengan contek – mencontek masal dengan kunci jawaban (sebagai senjata utama) beredar luas ‘dipasaran’. Selain soal tentang salah satu capres muncul lagi di UN tingkat SMP, disusul dengan plagiasi soal UN SMP  Kemdikbud atas soal – soal PISA (Programme for Internatiolan Student Assessment) yang dikeluarkan tahun 2012. Soal yang dibuat hasil mencontek, cara mengerjakannya pun dengan mencontek, sempurna!

Walaupun Hari Pendidikan Nasional sudah terlewat. Akan tetapi, di tengah – tengah hiruk pikuknya kancah perpolitikan nasional saat ini, penulis kira masih relevan apabila tulisan penulis kali ini menyoroti dunia pendidikan nasional. Tahun ini,  siswa SMA/SMK yang ‘mampu’ pasti akan melanjutkan jenjang  ke perguruan tinggi. Pertanyaannya apakah siap mengemban dan melaksanakan peran sebagai agent of change atau sebaliknya menjadi kader  yang menambah sederet prestasi ‘buruk’ di negeri ini.

Dunia Pendidikan Sekarang  

Andaikan saja kita ingin pergi ke Yogyakarta, tetapi tanpa sadar kita menggunakan peta menuju ke Bandung. Tentu saja, sebaik-baiknya usaha kita selama di perjalanan tidak akan pernah sampai tujuan. Apa pun usaha yang kita lakukan, entah itu dengan menambah kecepatan atau menyetir dengan hati-hati tetap saja akan sia-sia. Permasalahannya bukan pada usaha yang kita lakukan, tetapi pada peta atau petunjuk yang salah.

Petunjuk disini penulis anologikan sebagai  paradigma berfikir, entah dikalangan elit (pemerintah), pelaksana dilapangan (lembaga pendidikan) atau tenaga pengajar sekali pun. Paradigma menurut definisi yang ada  adalah suatu teori, perspektif atau kerangka berpikir untuk menentukan bagaimana kita mamandang, menginterpretasikan, dan memahami aspek-aspek kehidupan. Dalam hal ini – khususnya  dunia pendidikan – paradigma lama memandang siswa  seperti ‘botol kosong’  yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanan dari atas sampai kebijaksanaan sang guru.

Bradasarkan asumsi seperti itu, pemerintah dengan semena – mena menerapkan kebijakan yang merepotkan peserta didik, dan tidak sedikit sekolah dengan guru sebagai tenaga pengajarnya   yang melaksanakan kegiatan belajar- mengajar dengan apa adanya, hanya bertugas memberi pengetahuan dan siswa hanya menerima. Tidak sedikit pun memicu tumbuhnya nalar kritis apalagi budaya literasi ( Baca, Tulis, Diskusi).

Setelah itu, berdasarkan peraturan yang ada, pengajar  akan mengelompokkan siswa berdasarkan nilai, kemampuan dinilai dengan ranking dan siswa direduksi menjadi angka-angka. Dengan demikian memicu siswa  untuk berkompetisi (menghalalkan segala cara). Siswa bekerja keras untuk saling mengalahkan teman sekelas nya.

Tanpa kita sadari paradigma seperti itu telah dibawa dan diadopsi ke pendidikan tinggi (universitas), banyak dosen masih menggunakan paradigma lama ini sebagai satu-satunya alternative. Mereka mengajar dengan metode ceramah dan mengharapkan Mahasiswa duduk,diam,dengar,catat dan hafal(3DCH) serta mengadu mahasiswa satu sama lain. Johnson,Johnson dan Smith(1991).

Dengan paradigma seperti itu pula – secara tidak langsung – Mahasiswa dituntut  untuk saling  berkompetisi satu sama lain nya, akhirnya menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi dengan imbalan nilai yang tinggi. Satu-satunya alasan kuliah yaitu mendapatkan nilai tinggi,lulus tepat waktu, setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan. Lupa akan peran dan fungsinya sebagai Mahasiswa karena memang tidak diajarkan kurikulum.  Title seorang Sarjana itu untuk membuat/menghasilkan sesuatu yang baru, tapi  dengan paradigma yang seperti itu dalam dunia pendidikan hanya akan menghasilkan seorang pekerja, bisa dibilang berarti  Mahasiswa di didik hanya untuk menjadi seorang pekerja (buruh).

Dunia pendidikan kita saat ini dikepung dari berbagai hal (google dan bimbel), membuatnya kurang menyasar titik mendasar yang sejati. Pendidikan di sekolah maupun di Universitas cenderung mengarah pada pola cepat saji, terlalu berkiblat kepada kepentingan industri, dan kurang peduli kepada kebutuhan masyarakat terutama kepada kelompok yang terpinggirkan. Sehingga banyak opini yang berkembang bahwa sekolah hanya “tempat penitipan anak”, “sekolah itu candu”, bahkan yang radikal mengeluarkan argumen  “bubarkan saja sekolah”.

Guru atau tenaga pengajar lainnya terjebak dalam rutinitas ‘kesibukan mengajar’ yang cenderung membelenggu kreatifitas dan lupa akan tugasnya sebagai pendidik.. Di lain pihak, pengurus publik sulit menunjukkan visi yang utuh dan mendasar. Cenderung berparadigma formal-birokratis.Tuntutan dunia pendidikan sudah banyak berubah.  Zaman semakin maju, teknologi semakin berkembang, persaingan akan semakin hebat. Apalagi di tahun 2015 pasar bebas akan masuk ke Indonesia, itu artinya kita akan bersaing dengan orang-orang di Negara lain.

Pendidikan Baru

Pertanyaan nya apakah kita semua siap ? jangan sampai kita dijajah kembali.  Maka dari itu Untuk mempersiapkan itu semua perlu upaya dari pemerintah pusat sampai ke daerah yang bersinergi dengan lembaga pendidikan dan tenaga pengajar serta peserta didik itu sendiri. Hal pertama yang mesti dirubah yaitu paradigma pendidikan kita, pendidikan tidak melulu memandang peserta didik sebagai botol kosong yang dibiarkan kosong begitu saja.

Langkah selanjutnya yaitu menjalankan proses pendidikan sebaik mungkin tentunya dengan sistem pendidikan yang baik pula. Tidak sekedar mencetak peserta didik menjadi pandai, cerdas, atau tenaga ahli. Sistem pendidikan yang baik adalah mencetak peserta didik menjadi dirinya dan diarahkan memahami peran dan fungsi dirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu suatu cita – cita yang mustahil tercapai dalam keadaan dan sistem pendidikan indonesia saat ini.

Lalu membangkitkan Budaya Literasi. Sistem pendidikan yang baik salah satu kriterianya menurut penulis yaitu suatu sistem yang dapat memicu tumbuh dan berkembangnya budaya literasi pada peserta didik. Yaitu budaya baca, tulis dan diskusi.  Tujuannya yaitu untuk membangun manusia yang berkarakter, cerdas dan kesadaran  kritis. Sebab tidak akan ada kebangkitan tanpa kesadara kritis, dan tidak akan ada kesadaran kritis tanpa suatu kebiasaan yang melatihnya. Islam mengenalnya dengan istilah iqra (BACA). Suatu kewajiban yang wajib dilakukan tanpa mengenal istilah kelas sosial.

Terahir dan paling utama yaitu Pendidikan berbasis Lokal. Pendidikan berbasis lokal yaitu pendidikan yang bisa membawa peserta didik untuk memamahami, memiliki dan mencintai Kearifan Lokal daerah di mana peserta didik itu berada. Karena salah satu cara untuk menghadapai kancah global kita tidak boleh begitu saja lupa dengan akar, yaitu kearifan lokal.

Founding father pada saat memperjuangkan kemerdekaan indonesia. Salah satunya memberikan dan memperjuangkan pendidikan yang sejati. Saat ini kita sedang dibingungkan menentukan pemimpin. Tidak hanya pemimpin baru, tetapi pemimpin yang mempunyai moral baru, pola pikir baru, perilaku baru, konsep baru, gagasan baru. Tentunya,  yang dapat membawa ‘pendidikan baru’ yaitu pendidikan berbasis lokal yang diharapkan dapat memicu tumbuh kembangnya nalar kritis, sekaligus membangkitkan semangat  budaya literasi, dengan begitu membangun Indonesia dengan tulisan – tulisan asli anak negeri hal yang bukan mustahil    dan harapan menuju  “Indonesia Baru”  bukan sekedar mimpi di siang bolong?

Daftar Referensi

M Mushthafa,Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimble (Yogyakarta : LkiS. 2013)

Anita Lie, Cooperative Learning ( Jakarta : Grasindo, 2008)

Esai Harapan itu Selalu Ada, Efri Fahmi Aziz, (Pemenang Lomba Esai Kebangkitan Nasional BEM FH Unswagati)

Esai Doni Koesoemaa, Pelajaran Mencontek, Kompas, edisi rabu, 21 Mei 2014

Sekolah itu candu, Room Topatipatang, (yogyakarta : insist, 2010)

 

Essai: Revokasi Mental

Tidak ada komentar

Rabu, 28 Mei 2014

REVOKASI MENTAL
Oleh : Bakhrul Amal


Ada satu yang hilang dari negeriku
Tak seperti dahulu saling bersatu
Ada yang t'lah berubah dari bangsaku
Hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku
(Indonesia Unite - Rindu Bersatu)


Jika, Romo Benny dan Ir. Joko Widodo punya “Revolusi Mental” sebagai jargon apiknya, maka saya, yang saat ini duduk dan berpikir di bawah awan-awan mendung Kota Cirebon, Kota dimana katanya proklamasi pertama kali diucapkan, menggagas suatu pergerakan yang mana saya sebut dengan “Revokasi Mental”. Bukan bermaksud menandingi, bukan pula sengaja untuk menunjukan tendensi penuh perlawanan, akan tetapi, ini hanyalah sebuah ide dan gagasan tentang dari mana kita memulai.


Dulu, jauh sebelum kemerdekaan kita capai dan kita dengungkan, kita telah menjadi saksi bersama bahwa mental kita jauh di atas Belanda dan bangsa eropa. Seorang pakar dari UI bahkan mengatakan, kita tidak pernah dijajah, kita hanya terus berjuang dan akhirnya berhasil mengusir Belanda yang mencoba menguasai kita. Tentu, ketika tawaran mindset baru memahami perjuangan ini disodorkan pada kita, kita pasti sepakat.


Perjalanan berlanjut, dunia seketika berubah, bom atom menghantam dua kota besar di Jepang. Berita itu hadir ke seantero dunia. Kita, yang pada waktu itu sedang sibuk mencari strategi kemerdekaan, akhirnya mendapatkan momentumnya. Jalan Pegangsaan Timur No. 56 langsung ramai, bendera merah putih hasil jahitan Fatmawati pun berkibar terhempas angin. Dengan gagah berani, seorang pria berkopeah hitam berpakaian parlente berdiri tegak menghadap mic, ya, Soekarno akhirnya menyatakan bahwa Bangsa Indonesia telah merdeka !!


Entah, bagaimana bentuk dan suka cita itu dirasakan oleh jutaan masyarakat Indonesia saat itu. Saya hanya dapat melihat foto-foto senyum, hanya sekedar menyangsikan gambaran tentang kereta api yang penuh sesak oleh manusia-manusia, teriakan MERDEKA ! MERDEKA ! pun berkumandang saling berebut keras bak adzan pemanggil sholat.


Sudah sewajarnya, sebagai Negara baru yang mengikrarkan dirinya sebagai Negara merdeka, Indonesia mulai mengurusi kehidupannya sendiri. Semua di-Nasionalisasi, semua serba di Indonesiakan. Dan ketika itu, semua bangga, semua merasa gagah dengan produknya sendiri, semua seolah mengatakan seperti apa yang Soekarno katakan “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."


Segala hal yang ada di dunia ini mungkin bisa dihentikan. Usain Bolt yang kencang, ketika lelah pun dia duduk dan berhenti. Ferari dan Yamaha yang menjadi andalan dunia otomotif-pun perlu istirahat ketika kehabisan bensin. Tetapi ada satu yang tidak bisa dihentikan, satu itu yang menentukan, satu itu yang orang barat menyebutnya dengan uang, satu itu adalah waktu.


Hingar bingar kejayaan Soekarno akhirnya runtuh juga. Sosialisme, saat itu, dinilai menemukan jalan buntunya. Oleh karena sebab ketegasan keluar dari PBB, Games of the New Emerging Forces atau GANEFO diciptakan sebagai tandingannya. Keuangan jatuh, PKI tumbuh pesat dan akhirnya ujung dari tajamnya pedang menusuk pemerintahan Soekarno. Lewat tragedi SUPERSEMAR, Soeharto dengan kepala tegak menjadi bapak baru dari jutaan rakyat Indonesia menggantikan Soekarno.


Babak baru sejarah perjalan Indonesia dimulai. Titik keberangkatan yang dimulai dari kesejahteraan merata dan Nasionalisme, berubah menjadi pembangun. Jembatan dibangun, gedung dibangun semua dibangun, bahkan polisi, sebagai representasi dari manusia, pun dibangun menjadi patung. Tidak heran apabila kemudian banyak yang menyebut Soeharto adalah bapak ‘Pembangunan Indonesia’.


Awalanya, mungkin, era baru ini membawa suatu cahaya cerah. Namun, seperti apa yang dikatakan oleh Marx, bahwa semua sistem (tidak hanya kapitalisme) akan menunjukan wajah aslinya ketika terpuruk, tenyata benar. Kegentingan sedikit demi sedikit muncul, rasa bosan akan “itu-itu saja foto presidennya” pun sempat terngiang. Era yang kadang intelektualis menyebutnya dengan diktator pun muncul. Semua yang menentang dibredel, semua yang mengganggu diberangus. Selamat datang dalam nuansa baru perubahan mental Indonesia.


Diskusi-diskusi sunyi mulai digalakan, poster-poster mini tentang propaganda perubahan kepemimpinan ditulis, segala hal yang bersifat kudeta dijadikan gaya hidup. Akhirnya, usaha-usaha keras yang sembunyi itu membuahkan hasil. Jutaan mahasiswa dan rakyat Indonesia berkumpul menjadi satu menduduki DPR. Bendera-bendera dikibarkan dan nyanyian-nyanyian rakyat didendangkan, penantian lama itu hadir juga, Soeharto secara jantan menyatakan mundur !!


Jika ada yang berkata bahwa, sejauh apapun orang melangkah pastinya akan lelah juga, mungkin inilah titik dimana kelelahan itu muncul. Orang yang lelah, biasanya membutuhkan hiburan, dininabobokan oleh dongeng-dongeng indah pengantar tidur, merasa nyaman ketika dimanjakan. Tidak terkecuali rakyat Indonesia, jatuhnya Soeharto, gerbang pintu baru dibuka. Gerbang kenyamanan itu bernama REFORMASI.


Tidak ada lagi kekang mengekang, tidak ada lagi ikat dan saling mengintai, semua, dibiarkan terbuka dan bebas untuk mengaktualisasikan pendapatnya. Dan perwujudan masa-masa baru ini, dibarengi dengan kemajuan tekhnologi yang juga sedang begitu pesatnya. Maka jadilah, sebuah keadaan evolusi yang beranjak total dan jauh, evolusi yang merubah kertas-kertas buram menjadi asturo-asturo berwarna-warni dengan coraknya yang menyebalkan.


Kebebasan, mungkin itulah wakil dari kata-kata lain yang maknanya mungkin sama, hanya bentuk dan istilahnya saja berbeda berbagai bahasa. Setiap individu dinilai memiliki kewenangan sendiri untuk menentukan dirinya, tidak ada yang tanpa tedeng aling-aling bisa melarangnya. Mengangggu maka tangkap, melukai sedikit saja tahan, dan mereparasi tindak-tanduk yang sifatnya diri sendiri bisa dikatakan kekerasan.
Inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini mulai kehilangan wacana awalnya.


Dulu, bangsa ini dibangun bersama, untuk bersama, dalam apa yang disebut oleh UU dengan kekeluargaan. Keluarga itu, sekarang, mulai tak jelas lagi mana ayah dan ibunya, siapa anak dan siapa orang tuanya, semua seenaknya sendiri-sendiri. Ikatan emosional pun hilang, semangat berjuang dan berdarah-darah bersama membangun rumah besar Indonesia juga tidak tercipta lagi.


Kita tidak perlu memulai, tidak pula hendak mencari model apa yang tepat, tetapi kita, sudah saatnya melakukan penarikan kembali mental-mental masa lalu kita. Kita hanya sedikit berusaha, untuk sama-sama menoleh kembali ke belakang, mengembalikan kebersamaan masa lalu kita. Kita punguti puing-puing masa lalu berdikari, kita rangkai kembali kalimat gotong royong.


Sewaktu kecil, saat semua masih begitu intim, saya masih sering melihat bapak dan ibu bersama tetangga-tetangga sekitar membangun rumah bersama, jembatan dan gorong-gorong pengairan. Hajatan kecil menjadi suatu yang mewah karena seluruh masyarakat sekitarnya hadir berebut cepat memberi sumbangsih. Bareng-bareng menunggu mayat dan menangisi bersama orang sebelah rumah yang meninggal adalah hal yang biasa.


Namun saat ini, saat cuaca ekstrim mulai datang terus-menerus, saat semua berebut cepat ingin terkenal, antara satu dengan lainya pun tak kenal. Bahkan tetangga di depan rumah saja tak tahu siapa nama dan kapan hari ulang tahunnya. Saking tidak pedulinya, teroris dengan lihai mengumpat di tengah keramaian pun tak tercium bau busuknya.


Jeder, barulah, setelah media mengangkat, kita akhirnya tahu, siapa itu dan siapa ini. Toeng, ketika seorang tokoh ngetweet barulah informasi itu sampai ke telinga dan otak kita. Kita bahkan lebih malu ketika tidak tahu Michel Jackson meninggal, ketimbang merasa bersalah ketika tak tahu imam masjid, yang menjadi tetangga kita sendiri, meregang nyawa dalam kesederhanaan.


Bukan perkara ekonomi, bukan perkara politik tanpa bukti, bukan juga karena hukum yang tidak ditegakan sebagaimana mestinya, tetapi perkara mental kita yang berubah. Sudah saatnya, kita me-revokasi mental kita, berjuang bersama seperti dulu dengan mulai saling mengenal, bergandengan tangan, mengamini kembali konsep Tat Twam Asi (kamu adalah aku, aku adalah kamu). Konsep ini tidak termakan zaman, tidak perduli kapan dan di era apa saja kita hidup, konsep ini tetap menyemai dan hidup.


Jika kita telah berhasil melakukan penarikan kembali mental masa lalu kita, maka, bukan hanya asing (seperti VOC, Belanda, Amerika, CIA dll), tetapi musuh di dalam diri kita sendiri pun bisa kita hancurkan seperti dulu. Bangkitlah Indonesia, bangkit !


Alangkah indahnya, bila revokasi mental ini kita tutup dengan puisi hasil buah tangan putra terbaik Indonesia, Soekarno :


Aku Melihat Indonesia
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
Penulis adalah Mahasiswa Magister (S2) Kenotariatan Universitas Dipenogoro dan Peneliti pada Stjipto Rahardjo Institute, asal Kasepuhan Cirebon.

Opini: Mengukur Kebangkitan Nasional di Tanah Cirebon

Tidak ada komentar

Sabtu, 24 Mei 2014

 Mengukur Kebangkitan Nasional di Tanah Cirebon


oleh: Santosa


BERBICARA – tentang hari kebangkitan nasional di Indonesia, agaknya sudah sangat tua sekali. Sekitar 106 tahun yang lalu, para perintis kemerdekaan Indonesia merangkak-rangkak untuk memperjuangkan nasib bangsa yang katanya kaya raya akan alam dan sumber daya manusianya yang melimpah. Tetapi entah mengapa, penulis merasa masih merangkak-rangkak juga untuk bisa bangkit dari persoalan yang melanda kota Cirebon yang khas dengan panggilan kota udang ini.

Bangkit dari Semrawutnya Birokrasi Pemerintah Daerah

Penulis punya pengalaman buruk dengan sistem dan mekanisme birokrasi pemerintah daerah di negeri yang katanya telah melakukan reformasi birokrasi ini. Belum lama penulis pernah mendatangi kantor Walikota Cirebon untuk mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada sang Pemimpin Kota Udang. Setelah beberapa hari, penulis mencoba untuk menindaklanjuti surat tersebut, entah mengapa setelah penulis meninjau ke jajarannya. Ternyata surat disposisi itu hilang entah kemana.

Ini sangat lucu, karena masih ada hal-hal seperti ini terjadi di bangsa kita yang telah modern. Surat dari aspirasi rakyat ini hilang ditelan oleh ‘janji-janji’ si Walikota yang RAMAH. Belum lama memang, dulu penulis mendengar tentang program aspiratif, berharap ada kebangkitan di kepemimpinan Cirebon yang baru. Kalau seperti ini, boleh penulis berpendapat Cirebon masih jauh dari kata bangkit dari reformasi birokrasi.

Di dalam karangan buku Paulus Wiranto (2011) ada 10 peran pemimpin, yang salah satunya adalah sebagai agen perubahan. Satu contoh semrawutnya birokrasi yang rumit di dalam kepemerintahan yang penulis jelaskan, adalah satu dari sekian puluh atau bahkan ratusan cerita yang mengindikasikan bahwa ada jeda atau semacam tembok yang membatasi komunikasi antara pemerintah dengan rakyat. Ini akan menjadi hal yang konyol, jika birokrasi yang rumit ini belum juga bisa dipecahkan oleh seseorang yang katanya ingin membuat kota Cirebon menjadi lebih Maju.

Kesenjangan Ekonomi

Kota yang dibesarkan oleh Sunan Gunung Jati ini, di dalam perkembangannya mengalami kemajuan yang cukup berarti. Penulis mencoba mengukur dari segi realita di lapangan, ternyata masih menyisakan keprihatinan. Pesan “Ingsun Nitip Tajug lan Fakir Miskin” agaknya sudah mulai dilupakan.

Penulis masih teringat dengan peristiwa pengusiran para pengamen, pedagang asongan, peminta-minta yang diusir dari zona Stasiun Kejaksan yang dikelola oleh Perusahaan Milik Negara waktu itu. Mungkin bagi masyarakat biasa sudah melupakan kejadian ini, tetapi bagi saya ingatan tentang diskriminasi akan hak-hak dasar seorang manusia selalu menjadi catatan khusus untuk tetap disuarakan.

Mungkin Perusahaan Milik Negara sudah lupa tentang amanat dari Undang-undang Dasar tentang Hak Asasi Manusia, pada Pasal 28A bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dilanjutkan dengan Pasal 28B ayat 2 dengan lebih tegasnya; Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Belum lagi dengan amanat Pasal 34 ayat 1 yang menjelaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Penulis merasa bingung pada peristiwa yang telah berlalu tersebut, sebenarnya perusahaan milik negara ini untuk siapa? Lalu dimana peran wakil rakyat dan pemimpin kota Cirebon di saat rakyat kecil yang lemah ini diusir dari tanah kelahirannya? Ironis, para pejabat tidak bisa berperan dengan baik dan seolah tidak paham dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Hal yang menjadi heran lagi, pemerintah daerah seakan mengistimewakan ‘pembangunan gedung’ dan justru melupakan ‘pembangunan sumber daya manusia’. Para pengusaha yang rakus dan pemerintah yang tidak paham menjadi faktor kian menjulangnya kesenjangan pembangunan ekonomi di kota Cirebon. Satu persatu pasar tradisonal di kota Cirebon kian sepi, karena tidak adanya batasan minimarket dan supermarket di kota Cirebon yang merebut rotasi perputaran uang di masyarakat.

Pasar tradisional yang sedianya menjadi wadah bagi rakyat untuk berbagi rezeki, kini harus gulung tikar hingga harus menjadi pedagang kaki lima yang siap digusur oleh Satpol PP. Miris, di satu sisi ingin mendapatkan rezeki yang halal di pinggiran jalan karena di pasar tradisional mulai sepi. Namun melanggar zona pejalan kaki, yang ramai dengan lalu lintas calon pembeli.

Sekali lagi penulis mencoba mengukur, sampai sejauh mana kebangkitan ekonomi kerakyatan ini dapat ditegakkan oleh para pemimpin di kota Cirebon yang katanya Aspiratif ini?

Kebangkitan Perlu Dimulai dari Zona Pendidikan

Tidak ada yang perlu kita tutupi, bahwa pendidikan di Cirebon masih jauh dari kata maju. Belum tersedianya kampus di Cirebon yang memiliki laboraturium kebangsaan dan pusat penelitian kerakyatan untuk mengkaji langkah-langkah strategis dalam menyejahterakan masyarakat secara adil dan bijaksana. Kampus yang ada di Cirebon masih terlalu fokus dengan  pengejaran nilai, dan penyiapan kader anak bangsa sebagai buruh.

Tujuan pendidikan yang masih ke arah orientasi siap kerja, bukan ke arah yang siap berinovasi dan maju secara mandiri. Arah pendidikan yang seperti itu, hemat penulis adalah kuno dan ketinggalan zaman. Akibatnya; bangsa ini terus-terusan menjadi minder dengan kemajuan bangsa lain. Itulah sebabnya kita terlalu mudah membanggakan karya milik orang lain yang padahal kita memiliki kesempatan yang sama dalam meraih sebuah kemajuan.

Penulis yakin jika seluruh elemen masyarakat di kota dan kabupaten Cirebon dapat belajar bersama-sama untuk mengenal khalayak (Ich kenne mein Volk). Maka penulis yakin, kita tidak akan lagi menjadi objek pembangunan dari sebuah tuntutan efek globalisasi. Tetapi kita justru akan menjadi subjek dari sebuah proyek globalisasi yang tetap memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, norma-norma, dan kebudayaan di negeri sendiri.
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, opini ini pernah dimuat di Koran Kabar Cirebon halaman 12 pada hari Kamis 22 Mei 2014.

Trotoar Depan Kampus III Unswagati Jadi Solusi Masalah Lahan Parkir

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Masalah lahan parkir motor di Kampus III Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) nampaknya sudah sampai lampu kuning.

Hal ini dapat ditilik dari banyaknya jumlah motor mahasiswa yang tak sebanding dengan lahan parkir yang tersedia. Akhirnya motor mahasiswa pun harus di taruh di trotoar depan fakultas Hukum hinga FKIP Bahasa Inggris.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh seorang juru parkir Kampus III saat ditemui SetaraNews kemarin (22/5). Ia yang setiap harinya mengatur sirkulasi kendaraan yang masuk dan keluar kampus tiga itu, menuturkan sudah tak ada tempat lagi di lahan parkir Kampus III.

“Di dalem sudah penuh mas, ga ada tempat lagi. Makanya sebagian di taruh di sini.” ujar juru parkir tersebut sembari mengatur motor yang hendak parkir.

Beberapa mahasiswa juga tak suka dengan keadaan itu. Salah seorang mahasiswa yang tak bisa disebutkan namanya mengaku geram dengan kondisi lahan parkir Kampus Tiga.

“Gimana mau jadi negeri, toilet, dan lahan parkir saja tidak layak dan memadai.” begitu tandasnya.

Fakultas Ekonomi Unswagati Bakal Mengadakan Festival di Grage City Mall

Tidak ada komentar

Kamis, 22 Mei 2014

Cirebon - SetaraNews.com, Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) bakal mengadakan acara festival yang mengusung tema Cirebon Cultures and Creatuvity pada Rabu s/d Jumat ( 28 Mei – 6 Juni 2014 ).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempromosikan dan melestarikan wisata, Budaya dan Industri kreatif di wilayah Cirebon dan juga melatih jiwa kreatifitas entrepreneurship generasi muda.

Menurut Antoni, selaku anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE Unswagati kepada SetaraNews hari ini (22/5) mengatakan, "Rangkaian acara yang bakal digelar dan dipamerkan nanti beberapa diantaranya; Futsal, Seminar, Lomba Dance, Bazar Murah, Festival Band, Wayang, Batik, Kuliner." ujarnya.

Ia menambahkan, dalam acara festival tersebut juga akan disemarakkan oleh beberapa artis nasional seperti Armada Band, Vicky Shue, Adera, dan Project Pop. "Ada Armada Band, Vicky Shue, Adera, dan Project Pop." tambahnya.

Acara ini juga rencananya akan menghadirkan Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Mari Elka Pangestu dalam festival nanti.

Rangkaian kegiatan itu merupakan salah satu program kerja tahunan Badan Eksekutif Fakultas Ekonomi Unswagati pada tahun ini.

Lomba Festival Sutan Setara IV Diperpanjang Hingga 3 Juni 2014

Tidak ada komentar
Cirebon - SetaraNews.com, Ada kabar gembira bagi Anda yang ingin ikut dalam perlombaan festival Semarak Ulang Tahun (Sutan) ke-IV Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (Setara) Universitas Swadaya Gunung Jati. Pasalnya, kini lomba fotografi, resensi buku, dan essai bisa siapa saja mendaftar untuk perlombaan ini.

Berikut LPM Setara uraikan syarat dan ketentuan untuk mengikuti perlombaan ini:

  1. Lomba menulis essai; perlombaan ini terbuka untuk umum, tulis essai Anda di kertas A4 dengan tema membangun negeri dengan tulisan, lalu kirim soft copy ke e-Mail: lpm.setara@gmail.com, ingat tulisan yang Anda buat belum pernah dipublikasikan di mana pun.

  2. Lomba resensi buku; perlombaan ini terbuka untuk umum, tulis resensi buku non fiksi Anda ke kertas A4, lalu kirimkan soft copy ke e-Mail: lpm.setara@gmail.com

  3. Lomba fotografi; perlombaan ini terbuka untuk umum, foto haruslah berupa realita tentang pendidikan di sekitar Cirebon, boleh menggunakan kamera SLR/DSLR, handphone resolusi 4 MP, ukuran minimal 1600 px atau kapasitas 1 MB.


Bagi pendaftar diperbolehkan untuk mendaftar lebih dari satu akun lomba, dan setiap lomba yang diikuti - peserta diwajibkan untuk menyumbangkan 1 buku bekas non fiksi ke perpustakaan LPM Setara Unswagati.

Ingat, semua naskah soft copy  essai, foto, dan resensi buku yang dikirim ke LPM Setara, maka secara tidak langsung LPM Setara berhak untuk mempublikasikan karya-karya dari peserta lomba baik di media cetak maupun online.

Seluruh peserta lomba akan mendapatkan sertifikat peserta lomba, dan disediakan jutaan rupiah untuk para pemenang lomba. Pengumuman lomba rencananya akan dipublish pada Kamis 5 Juni 2014 nanti.

Informasi lebih lanjut dapat SMS/menghubungi panitia:

  • Kantor LPM Setara: 0231-9201814

  • e-Mail: lpm.setara@gmail.com

  • Ririn, Kampus 1 Unswagati: 089698929534

  • Ade Fadliah, Kampus 2 Unswagati: 089660273202

  • Dinda Ayu Lestari, Kampus 3 Unswagati: 089633893191


Download Form Pendaftaran Peserta Lomba Festival Sutan Setara IV

Osis SMPN 1 Pabedilan Adakan Kemah Purna Bakti di Palutungan

Tidak ada komentar

Selasa, 20 Mei 2014

Cirebon - SetaraNews.com,  Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pabedilan mengadakan Kemah Purna Bakti Kepengurusan Osis, pada (16/5) hingga (18/5) di Bumi Perkemahan Palutungan-Kuningan, Jawa Barat.

Acara ini dihadiri oleh 30 anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) khususnya kelas III SMP, yang terdiri dari 14 siswi dan 16 siswa. Selain itu dihadiri pula oleh empat orang Guru dan para alumni Osis SMPN 1 Pabedilan. Masing-masing anggota Osis ini merupakan Ketua Organisasi Ekstrakulikuler seperti Paskibra, Marching Band, PMR, Pramuka, dan lainnya.

Kegiatan dalam acara ini meliputi Tadabur Alam, Api Unggun, Saling tukar menukar Kado yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan anggota Osis.

"Ini adalah acara Pengakraban semata sesama anggota Osis khususnya kelas III. Sekedar untuk refreshing pelepasan Masa Bakti, main-main. Di dalamnya tentu tidak seperti acara pelantikan pada umumnya." Ujar Pak Hendra Iskan selaku Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Pabedilan kepada SetaraNews (18/5).

Dalam acara ini pihak sekolah tidak memungut biaya kepada anggota Osis melainkan dana tersebut diperoleh dari anggaran Osis selama 1 tahun, yang berjumlah Rp 2.000.000,-.

"Kami senang dengan kegiatan ini yang merupakan acara rutinitas Osis. Selain untuk lebih mengakrabkan sesama anggota Osis, di sini kita juga belajar mengakrabkan diri kita dengan alam terbuka seperti ini." Ujar Anisah selaku anggota Osis SMPN 1 Pabedilan kepada SetaraNews.

Menikmati Wisata Alam Bumi Perkemahan Palutungan

Tidak ada komentar



Kuningan, SetaraNews.com - Bumi Perkemahan Palutungan merupakan salah satu tempat yang cocok untuk mengadakan kegiatan berkemah berada di lokasi Desa Cisantana, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Luas dari Bumi Perkemahan Palutungan sebesar 9,8 H.


            Harga tiket masuk dikenakan tarif enam ribu rupiah. Fasilitas yang diberikan berupa arena permainan outbond seperti flying fox, permainan jaring laba-laba, serta menyediakan juga penyewaan tenda yang terdiri dari tenda pramuka dan tenda dome. Penyewaan tenda pramuka dikenakan biaya lima puluh ribu rupiah per-malam, sedangkan tenda dome sebesar seratus ribu rupiah sampai selesai.


Pengunjung yang datang terdiri dari berbagai wilayah, namun sebagian besar dari Cirebon dan Indramayu. “Kalau hari libur sekolah sering ramai, dan kalau sepi itu pas bulan puasa”. Ujar Ibu Nining selaku pemungut tiket sekaligus pemandu wisata yang ditemui SetaraNews pada (19/05) lalu.


Kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengunjung perkemahan seperti hiking, menyalakan api unggun, serta menikmati permainan juga pemandangan alam. Selain tempat untuk berkemah Bumi Perkemahan Palutungan juga terdapat wisata alam air mancur yang terdiri dari Curug Putri, Curug Mangkok dan Curug Gelandung.


Curug yang berada di Bumi Perkemahan Palutungan ini merupakan tempat suci yang sudah dijaga. “Curug yang ada di sini itu tempat suci jadi omongan juga harus dijaga”. tambah Ibu Nining.

Opini: Politik Masa Depan, yang Muda Harus Ambil Peran!

Tidak ada komentar

POLITIK MASA DEPAN, YANG MUDA HARUS AMBIL PERAN!


Oleh: Santosa


Proses pendewasaan berpolitik yang terjadi saat ini di Indonesia, masih dibilang jauh dari kata maju. Menengok pada pemilihan umum legislatif yang baru saja berjalan di setiap pelosok di Indonesia, sungguh sangat memprihatinkan. Betapa tidak, dari mulai kesalahan teknis panitia pemilu, kecurangan saat pemilu, hingga praktik money politic masih saja mewarnai proses demokrasi di negeri ini.

Satu hal yang membuat penulis merasa gerah dengan para pelaku calon yang katanya bakal menjadi ‘wakil rakyat kita’. Mengambil seribu cara untuk meraih suara rakyat yang saat ini masih buta, buta karena janji-janji manis dan tuli dengan suara nuraninya hanya karena persoalan ‘perut’ semata. ‘Kegalauan’ bangsa ini dalam berpolitik sangat jauh dari kata ‘sehat’, tidak lagi seperti dulu. Dimana rakyat membela cita-cita bangsa, semangat persatuan, dan menginginkan kemerdekaan bersama-sama di dalam satu wadah untuk diperjuangkan dengan bersama-sama pula.

Penulis masih ingat saat malam sebelum pencoblosan. Saat itu ada beberapa yang orang yang katanya ‘Tim Sukses’, mereka membagikan amplop di beberapa rumah warga sekitar. Isinya sudah bisa ditebak, dengan segepok uang dan nama calon legislatif dengan berikut nama partai yang dimaksud.

Ini nyata terjadi di sekitar kita, dan kita masih mendiamkan kejadian ini berlarut-larut. Seakan-akan kita membenarkan kejadian tersebut adalah ‘lumrah’ atau semacam ‘sudah biasa’. Penulis yakin, ada kebiasan-kebiasaan yang perlu kita rubah dalam proses berdemokrasi yang sakit seperti ini. Sebelum sakit ini kian parah dan harus dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Reformasi Jilid II.

Penulis masih ingat dengan pekikan dari Bung Karno, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Penulis menterjemahkan maksud dari Bung Karno ini adalah, kebiasaan lama yang saat ini terjadi mungkin hanya sekuat letusan gunung. Namun jika sedikit pemuda yang bergerak saja, maka niscaya dapat merubah isi dunia. Penulis teringat dengan kekuatan mahasiswa yang saat itu merubah wajah Indonesia dalam tragedi tahun 1998 yang lalu.

Mulai dari Para Pemuda, Perbaiki Keadaan

            Tidak bisa kita pungkiri, budaya berpolitik saat ini masih didominasi dari para ‘orang-orang lama’ yang bisa dikatakan semangat idealisme, sosialisme, dan nasionalismenya sudah dimakan usia. Penulis sering mendengar dari jeritan rakyat kecil, mereka berkata ‘Idealisme cukup saat muda saja, kalau sudah tua yang diutamakan itu perut’. Kalau sudah seperti ini, apa jadinya bangsa ini di masa yang akan datang?

Tidak ada kata tidak bisa untuk merubah ke arah yang lebih baik, jika kita mau ambil peran sekarang juga untuk bisa mengambil peranan sikap dalam berpolitik. Tidak ada istilah tua, dalam berpolitik. Karena muda, bukan halangan untuk turun ke lapangan, memperbaiki keadaan demokrasi di Indonesia.

Di masa yang lalu, saat itu para kaum terpelajar berkumpul untuk menentukan sikap politiknya terhadap matinya demokrasi karena dibawah ancaman pejajahan Belanda. Mereka menyatukan pemikirannya di dalam melihat kondisi bangsanya yang bertahun-tahun terpuruk. Bukan hanya segi ekonomi, pendidikan, pembangunan, dan demokrasi, jiwa dan raganya pun telah banyak yang mati. Inilah yang kemudian, mendasari para kaum intelektual saat itu bersatu dalam satu suara untuk merubah.

Sama halnya saat sekarang, kesadaran akan politik yang sehat dan kurangnya pendidikan dalam berpolitik kurang disampaikan kepada masyarakat. Sehingga saat ini yang terjadi adalah, matinya demokrasi yang sehat karena money politic. Karena hampir setiap desa di pejuru negeri ini akan mendengar cerita yang sama, tentang ‘harumnya malam menjelang pencoblosan pemilu’. Bertahun-tahun para pejuang bangsa ini memperjuangkan agar bisa mendapatkan status kemerdekaan, kemudian kemerdekaan kita dilecehkan begitu saja hanya dengan segepok amplop tidak kurang dalam hitungan menit. Konyol memang, namun penulis optimis masih ada rakyat yang masih menggunakan hak pilihnya secara murni kepada mereka yang benar-benar ingin membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Membangun Politik Masa Depan Indonesia

            Agaknya kita perlu untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan materi kita untuk mengobati sakitnya demokrasi di Indonesia. Satu persatu kita perlu mengecek; partai politik, calon wakil rakyat, dan rakyatnya sendiri ke dalam bingkai demokrasi. Apakah sudah punya niat berpolitik secara sehat, bermartabat, dan mau jujur?

Percayalah, masih ada bibit-bibit dari rakyat yang benar-benar mau untuk membangun tanah kelahirannya ini, disamping mereka yang hanya ingin mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Siapakah mereka?

Penulis meyakini, mereka adalah orang-orang yang masih peduli dengan kondisi bangsa. Sama seperti apa yang terjadi pada masa silam, saat-saat masyarakat tidak lagi mampu untuk melawan kekuatan dari para penjajah. Para pemuda dan kaum intelektuallah yang mengambil peranan untuk menyelamatkan bangsanya dari keterpurukan. Sudah barang tentu, karena dukungan dari para orang tua yang menginginkan anak-anaknya dapat menikmati nikmatnya hidup merdeka tanpa penjajahan.

Teringat dengan pidato Bung Karno pada masa 1966 silam, “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang”. Artinya, untuk dapat memperbaiki sistem demokrasi pada saat ini yang masih belum dewasa, ada baiknya kita perlu untuk ikut turun langsung ke lapangan dengan menolak dengan tegas, stop money politic, dan serukan kepada calon wakil rakyat untuk turun langsung ke masyarakat dan ayo kita berlomba beradu ide, gagasan, untuk membangun bangsa yang lebih baik dan tunjukkan dukungan kita dengan berani untuk katakan tidak untuk golput.
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, opini ini pernah dimuat di Koran Rakyat Cirebon di halaman 7 pada hari Jumat 16 Mei 2014.

Mencari Rupiah di Dinginnya Palutungan

Tidak ada komentar
Kuningan, SetaraNews.com, Palutungan menjadi salah satu ladang untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Tempat wisata yang menjadi andalan dengan pemandangan air terjun (Curug Putri), terletak di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Tempat wisata yang tidak pernah kosong akan pengunjung ini, sangat dimanfaatkan oleh ibu Mulyati dan juga anaknya untuk membuka usaha warung.

Ibu Mulyati membuka usaha warung dimulai tahun 2000, dan ini menjadi mata pencaharian utama bagi keluarganya “Saya di sini sudah 14 tahun, sejak anak saya masih umur dua tahun.” ujar ibu Mulyati kepada SetaraNews (18/5) lalu.

Penghasilan yang diperoleh perhari sekitar 100-200 ribu rupiah, sedangkan untuk weekend atau hari-hari besar seperti hari raya atau 17 Agustus bisa mencapai 500 ribu sampai empat juta rupiah.

“Penghasilannya mah, tidak tentu perharinya karena tergantung situasi dan kondisi dari pengunjungnya juga sih. Kalau udah sepi warung bakal tutup, kalau rame bisa 24 jam.” tutur Sri selaku anaknya ibu Mulyati.

Hari Ini Puncak Acara Bursa Seni di Unswagati

Tidak ada komentar

Unswagati - SetaraNews.com, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum hari ini (20/5) akan menggelar Bursa Seni yang akan dilangsungkan di Lapangan Parkir Kampus III Unswagati, pukul: 15.00 WIB nanti.


Acara ini merupakan puncak dari rangkaian "Bangkit Bersatu Menuju Indonesia Baru" dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional yang ke-106.


Beberapa acara telah disiapkan dalam rangka acara tersebut, diantaranya; Live Musik, Teater, Musikalisasi puisi, Dance, Pameran Fotografi, Mimbar Bebas, Game Seru, dan Bazar Buku dan Batik.


Acara puncak ini turut didukung oleh; LPM Setara Unswagati, UKM Seni dan Budaya Unswagati, Klise Unswagati, Radio Idental Unswagati, Batik Trusmi, dan Toko Buku Gunung Agung.

Resensi Buku: Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4

Tidak ada komentar

Sabtu, 17 Mei 2014

Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4


oleh: Fauziyah


“Tiada Keberhasilan Tanpa Usaha”, itulah ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan sebuah kesuksesan. Kesuksesan tidak menghampiri seseorang yang kerjanya hanya berpangku tangan, akan tetapi kesuksesan akan menghampiri seseorang yang mau berusaha, tekun dalam menjalankan usahanya, dan tidak putus asa.

Kesuksesan itu tidaklah diraih dengan instan, melainkan sebuah kesuksesan memerlukan proses perjalanan yang cukup panjang dan di dalamnya terdapat berbagai rintangan serta hambatan. Bila Anda dapat melewati berbagai rintangan dan hambatan tersebut, maka Anda akan menggapai sebuah kesuksesan, dan sebaliknya.

Ada banyak cara untuk sukses! Melalui tekad yang sungguh-sungguh dan perencanaan yang baik, maka akan terlihat hasilnya. Buku ini memaparkan bahwa setiap manusia yang hidup di planet ini bagaikan sebongkah berlian kasar. Terserah pada kita mau membuatnya bersinar atau tidak. Ketika Anda berusaha membuat sebongkah berlian kasar itu menjadi bersinar, berarti Anda berusaha meraih kesuksesan itu.

Buku ini dituliskan oleh pengarangnya yang bernama Moshe Kai Cavalin. Dia terlahir dari kedua orang tua yang berkebangsaan berbeda. Ayahnya lahir di Brazil, keturunan dari orang tua yang berdarah Italia, Portugis, Brazil, Jerman dan Polandia. Sementara ibunya lahir di Taiwan, keturunan Taiwan dan Cina daratan. Kedua orangtuanya bertemu di Los Angles, mereka menikah lalu lahirlah Moshe Kai Cavalin.

Dalam bukunya Moshe Kai Cavalin menceritakan perjalanan hidupnya yang bisa memberikan motivasi terutama bagi pelajar dan orang tua. Aku bukanlah genius atau makhluk super.  Aku hanyalah seorang anak biasa yang menjalankan kehidupan ini dengan perencanaan yang matang serta kedua orangtua yang selalu membimbing dan menjadi penyemangat. Aku mampu memasuki bangku kuliah pada usia delapan tahun dan lulus dengan gelar Associate in Arts dengan IPK sempurna (semua nilai A) saat usia sebelas tahun. Padahal aku hanya menempuh home schooling, tanpa pendidikan formal dari SD hingga SMA.

Banyak orang yang menganggap kesuksesan yang aku raih adalah hal yang tidak mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin itu akan menjadi mungkin apabila kita memiliki tekad yang kuat untuk sukses dan pantang menyerah bila kita terjatuh. Semua ini tercapai dengan tidak mudah, perjalanan panjang dimulai ketika aku masih bayi. Semua berkat kerja keras kedua orang tua yang aktif membimbing serta kemauan kerasku untuk meraih banyak prestasi. Tak mustahil bagi siapa pun dapat meraih binatang!

Rata-rata orangtua di dunia ini memilih berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan dan membiarkan keturunannya melakukan hal yang sama. Tempat tujuan mereka di masa yang akan datang direncanakan dengan samar-samar atau bahkan tidak direncanakan sama sekali. Ini jelas tindakan yang keliru! Orangtua membiarkan lingkungan dan sekolah yang mengambil alih untuk mendidik anak-anaknya. Tanpa bimbingan orangtua, anak-anak  selama perjalanannya dengan berjalan kaki dapat tersesat dalam kerumunan tanpa arah dan tujuan, serta mudah terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya yang mereka anggap contoh. Segelintir anak merasa beruntung karena memilih panutan yang benar, tetapi kebanyakan gagal.

Penulis mempunyai harapan bagi orangtua agar tergerak untuk senantiasa membimbing anak-anaknya dalam menjalani kehidupan. Melalui buku ini,  penulis juga berharap dapat membantu para remaja yakin akan kekuatan yang mereka miliki untuk meraih “Puncak yang tidak dapat dicapai”. Jangan buang-buang waktu! Perjalanan hidup ini begitu singkat. Ketika kita membuka mata kita mungkin telah melewati masa-masa berharga untuk meraih sukses.
Penulis adalah peserta lomba Festival Sutan Setara IV, Mahasiswa Pendidikan Sastra dan Bahasa Universitas Swadaya Gunung Jati.

Essai: Wajah Pendidikan di Indonesia

Tidak ada komentar

Jumat, 16 Mei 2014

Wajah Pendidikan di Indonesia


oleh: Pipit Shita Resmi Joni


Pendidikan di Indonesia khususnya di daerah terpencil seperti di Papua dari dulu hingga saat ini masih belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kurangnya perhatian tersebut memicu kurang berkembangnya bidang pendidikan di Papua dan daerah terpencil lainnya. Permasalahan yang ada di Papua menyangkut beberapa hal seperti fasilitas yang kurang memadai, kurangnya perhatian pemerintah, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan banyak aspek lainnya. Masalah-masalah tersebut dapat membelenggu serta mengancam potensi anak-anak yang ada di Papua untuk dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak semestinya.

Masalah yang sering terjadi dalam bidang pendidikan salah satunya fasilitas yang kurang memadai bahkan tidak layak. Sering di temui di daerah tertinggal sekolah-sekolah dengan bangunan-bangunan sekolah yang hampir runtuh karena sudah tua, kekurangan ruang kelas sehingga untuk dapat belajar mereka harus bergantian kelas. Kurangnya alat-alat bantu untuk kegiatan belajar mengajar, kurangnya kursi, kurangnya papan tulis, kurangnya alat-alat untuk praktek, dan lainnya. Masih banyak dari mereka yang tidak berpakaian seragam sebagaimana mestinya, di dalam kelas pun masih banyak yang menggunakan sendal bahkan masih banyak pula yang tidak menggunakan alas kaki.

Kurangnya tenaga pengajar adalah masalah klasik yang sering terjadi di negara ini. Dari sekian ribu tenaga pendidik yang dihasilkan di universitas-universitas Indonesia sedikit yang tertarik untuk mengabdikan diri di daerah terpencil, alhasil daerah terpencil seperti Papua krisis tenaga pengajar. Bisa dibandingkan dengan tenaga pengajar yang ada di Pulau Jawa. Tenaga pengajar yang ada di pulau Jawa jauh lebih banyak dibanding dengan tenaga pengajar yang ada di Papua pedalaman, contohnya di pulau Bintang. Keadaan sekolah yang ada di pedesaan di Pulau Bintang hanya di ajar oleh satu orang guru, itu pun bukan sekolah yang dibangun oleh pemerintah. Masyarakat pedesaan yang tinggal di Pulau Bintang apabila mereka ingin bersekolah yang dibangun oleh pemerintah, mereka harus menempuh jarak yang jauh dan memerlukan waktu berhari-hari untuk sampai ke sana.

Lulusan yang tidak diakui oleh pemerintah. Kebanyakan sekolah-sekolah yang ada di Papua dibangun oleh para relawan bukan dari pemerintah sehingga tidak adanya bukti lulusan dari sekolah tersebut. Sedangkan di indonesia sebuah ijazah sangat dibutuhkan, selembar kertas ijazah berfungsi sebagai legitimasi untuk menempati jabatan publik. Ijazah jauh lebih bernilai dari pada seluruh proses belajar yang mereka laksanakan. Sehingga menyebabkan berbagai pihak melakukan praktik transaksi yang tidak sehat demi mendapatkan ijazah. Sedangkan siswa-siswi yang belajar di daerah pedalaman papua, tidak semua sekolah memberikan ijazah ke setiap muridnya, karena berasal dari sekolah yang bukan dibangun oleh pemerintah. Dengan demikian, masyarakat pedalaman Papua mengalami kesulitan untuk bersaing dengan orang-orang yang ada di luar daerahnya yang memiliki selembar ijazah.

Otonomi Daerah

Kurangnya perhatian pemerintah terkait masalah pendidikan di pulau Papua karena tidak adanya kerjasama dengan pemerintah daerah. Adanya otonomi daerah pun kurang membantu masalah kependidikan yang ada di Papua, justru dengan adanya otonomi daerah tersebut malah membuat sebuah tirani baru. Kekayaan alam yang ada di Papua adalah modal pemberian Tuhan yang istimewa dan seharusnya bisa membantu menyejahterakan masyarakatnya khususnya membantu masalah kependidikan yang ada di Papua. Otonomi yang diberikan ini justru kacau dan hanya menjadikan pemerintah daerah raja kecil yang memperkaya diri sendiri. Seharusnya mereka yang berperan sebagai wakil dari setiap daerah mereka harus lebih peduli lagi dan bisa menyejahterakan masyarakat yang ada di daerah tersebut, bukan malah memanfaatkan mereka (masyarakat pedalaman Papua) sebagai tambang emas bagi para pemerintah.

Pembagian anggaran pendidikan yang diberikan oleh pemerintah pusat tidak tersebar dengan merata. Mereka yang tinggal di pulau Papua hanya mendapatkan bagian kecil dari anggaran itu. Dana yang diberikan oleh pemerintah pusat kemudian di salurkan kepada pemerintah daerah. Tetapi pemerintah daerah pun bukannya memberikan kepada mereka yang berhak malah dana tersebut sebagian ada yang mereka kantongi demi kepentingannya sendiri. Dengan adanya hal yang demikian, membuat pendidikan yang ada di Papua mengalami keterbelakangan.

Lingkungan Sosial

Karena sumber daya manusia yang ada di Papua masih rendah, mereka masih menganggap pendidikan itu tidaklah penting  bagi mereka. Yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana caranya agar mendapatkan sebuah pekerjaan atau sebuah penghasilan tanpa melalui pendidikan tersebut, alhasil pendidikan ditinggalkan.

Adapun masyarakat yang mulai melek tentang pentingnya pendidikan lebih memilih keluar daerahnya untuk mencari sekolah yang bonafit atau terkenal yang berada di luar daerahnya, seperti di Pulau Jawa. Biasanya mereka yang pernah belajar di luar daerah, enggan balik lagi ke daerah atau ke desa mereka. Mereka lebih memilih menetap di kota. Mereka enggan untuk menyumbangkan ilmu-ilmu mereka untuk pembangunan di desa mereka. Sehingga pembangunan yang ada di kota terus berkembang sedangkan di desa mereka sendiri terus mengalami kemunduran, khususnya di bidang pendidikan.

Dengan adanya permasalahan tersebut sebaiknya adanya suatu perbaikan di bidang kependidikan khususnya di negara Indonesia. Untuk menunjang hal tersebut sebaiknya adanya perbaikan dari sistem kepemerintahannya. Antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah harus saling bekerjasama, harus adanya suatu komunikasi yang baik di antara keduanya agar pelaksanaan undang-undang dapat berjalan dengan baik. Sebab kondisi di suatu daerah berbeda-beda. Contohnya dalam hal fasilitas, dalam hal otonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah, serta lingkungan sosial yang ada di masyarakat setempat.

Pemerintah diharapkan lebih peduli dan lebih adil lagi terhadap masyarakat-masyarakat yang ada di pedalaman Indonesia. Terutama di bidang kependidikan, karena apabila suatu sistem pendidikan di suatu daerah itu bagus, maka dapat menciptakan sumber daya manusia yang bagus pula. Mereka pun dapat membangun daerahnya masing-masing. Sehingga masyarakat yang ada di Indonesia baik di pedalaman atau pun di kota dapat berkembang dengan baik dan seimbang, dan dapat menciptakan suatu masyarakat yang sejahtera.
Penulis adalah peserta lomba Festival Sutan Setara IV, Mahasiswa Ilmu Komunikasi - FISIP Universitas Swadaya Gunung Jati.

Essai: Bangun Negeri Indonesia

Tidak ada komentar

BANGUN NEGERI INDONESIA


Oleh:  Trie Adhie Sulistia


 Bangun Negeri Indonesia, tentu kita selalu mendengar dan bahkan paham dengan kata bangun itu sendiri “bangkitkan rasa juang untuk negeri“ namun apakah semua telah mendukung? Dari mulai sistem pemerintahan, sumber daya energi, alam, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan bahkan masyarakatnya.

Mengulas kembali permasalahan – permasalahan yang ada di indonesia mungkin tak akan ada akarnya jika kita selalu menuntut kebijakan tanpa adanya kesadaran, dan selalu mengandalkan orang lain, tanpa kita tak pernah berjuang untuk hidup yang lebih baik di masa mendatang. Bangun bukan hanya bangkit dari segala kondisi yang ada, namun mampu memperbaiki dan memberikan solusi dari permasalahan yang ada menjadi lebih tepat untuk hasil yang bermanfaat.

Lihatlah debu bertebangan

Menempel erat di bahu jalan

Adalah sebuah senyuman

Untuk negara yang penuh harapan

Hanya tetesan yang di berikan

Atas kejamnya kehidupan

Janji untuk sebuah jabatan

Penuh dengan kepalsuan

Pasti semua akan hilang

Jika uang ada di tangan

Seperti orang lupa daratan

Akankah kita selalu selalu berada dalam sebuah harapan tanpa kita berusaha untuk sebuah kemajuan untuk negeri. Apakah kita akan menjadi “cahaya” kehidupan yang mampu membawa agar menjadi lebih baik. Atau bahkan menjadi ‘tulang” yang mampu menopang sebuh beban, ataupun kita hanya akan menjadi “rayap” yang akan menghancurkan dan bahkan menjatuhkan mengbuat kropos sedikit demi sedikit.

Bangunlah indonesia, bangunlah jiwa, bangunlah bangsa, bangunlah pemuda pemudi, bangunlah persatuan dan kesatuan, bangunlah rasa nasionalisme, bangunlah untuk negeri.

Bangun Negeri Indonesia dengan pondasi Agama, Agama dapat membangun kepribadian dan karakter seseorang karena agama cerminan dari akhlak yang dimiliki setiap orang. Agama dapat membawa pengaruh besar terhadap seseorang dalam kehidupan sehari-harinya, jika seseorang sudah taat dalam beragama tentu dia akan menjalankan segala perintah-perintah yang di anjurkan oleh Rasulullah dan Allah SWT, dan akan menjauhi segala larangan-Nya.

Sosok seorang pemimpin yang akan membawa perubahan dialah pemimpin yang amanah yang dapat di percaya dan mampu menjalankan tugasnya dengan sebaik-baik mungkin tanpa menyalah gunakan jabatannya dengan memperbanyak kekayaan. Maka dari itu bentuk lah para generasi muda khususnya dalam beragama agar dapat memunculkan sosok pemimpin yang mempunyai hati yang bersih.bangunlah negara yang agamis  yang penuh dengan sopan santun dalam masyarakatnya, yang jauh dari anarkisme, premanisme, kapitalisme tetapi dengan masyarakat bangun negeri dengan agama lebih mempunyai karakter kemanusiaan, keadilan, saling tolong-menolong dan penuh rasa saling menghargai walaupun indonesia penuh dengan perbedaan tetapi harus bisa bersatu.

Bangun indonesia dengan memperbaiki sistem pemerintahan, Sistem pemerintahan indonesia saat ini sudah baik namun belum semuanya berjalan dengan apa yang diinginkan, kita memerlukan sosok pemimpin yang seperti “Rambo”.

Religius, di mana sosok pemimpin yang utama adalah taat dalam beragama karena jika pemimpin taat dalam agama pasti di akan menjalankan tugas dan amanah dengan baik. Dan tentu akan bekerja dengan ikhlas.

Amanah, jika pemimpin amanah maka semua pekerjaan akan dapat berjalan dengan perencanaan dan takkan ada penyalahgunaan jabatan. Karena mengerti dan tau tentang mahal-nya sebuah kepercayaan yang telah di berikan.

Maju, dalam jiwa pemimpin yang telah amanah maka, ia akan dapat berfikir secara maju dalam setiap perencanaannya akan sudah jauh berfikir ke depan untuk masa yang lebih baik.

Bijaksana, bijaksana pasti selalu melekat pada sosok seorang pemimpin karena dalam menetapkan keputusan sangat di perlukan sebuah kebijaksanaan agar setiap keputusan yang di ambil mempunyai latar belakang dan keputusan yang jelas dan tegas.

Optimis, tentu sosok seorang pemimpin harus optimis agar dalam menjalankan segala rencana dan pekerjaan yang dilakukan itu akan membawa hasil yang baik dan berhasil.

Pemimpin merupakan sebuah amanah yang di berikan dan di percaya, maka jangan pernah menyia-nyiakan sebuah kepercayaan yang besar karena kepercayaan tidak akan datang dua kali meski pun ada pasti akan berbeda dari kepercayaan yang awal.

Bangun indonesia dengan melalui Pendidikan, Pendidikan merupakan hal terpenting untuk meningkatkan sumber daya manusia dan mencetak generasi-generasi yang unggul dalam bidang pengetahuan. Begitu pentingnya pendidikan maka pendidikan haruslah di jadikan sebagai tolak ukur seseorang dalam membawa perubahan yang lebih maju, jadi melalui pendidikan inilah cara yang tepat dalam membangun generasi muda yang lebih maju dan mampu bersaing membawa perubahan untuk negeri.

Bangun indonesia dengan persatuan dan kesatuan, mulai runtuh dan goyah jiwa dan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat indonesia. Hal ini yang dapat menyebabkan pertengkaran bahkan peperangan antar suku, budaya, daerah, dll. Karena kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang betapa pentingnya persatuan dan kesatuan namun yang di besarkan hanyalah rasa keegoisan ini yang menyebabkan rusaknya persaudaraan.  Maka dari itu marilah kita bentuk dan bangun rasa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat untuk negeri indonesia.

Bangun negeri indonesia melalui moral, moral merupakan suatu perbuatan yang di lakukan oleh manusia dalam kebaikan atau keburukan. Sekarang ini moral masyarakat indonesia sudah sangat jauh dari nilai moral karena banyak kasus-kasus yang saat ini terjadi dalam masyarakat dan hal itu tidak jauh dari akibat lingkungan dan pergaulan. Maka dari itu kita harus mencegah dan mendidik generasi muda agar mempunyai moral yang baik dan tidak melanggar nilai-nilai moral sosial yang sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang.

Merah putih budaya

Merah putih bangsa

Merah putih jiwa raga

Merah putih tanah air ku

Semangat para pejuang

Semangat untuk harapan

Untuk sebuah kehidupan

Di masa yang akan datang

Pemimpin yang budiman

Adil,bijak, dan dermawan

Menjunjung tinggi kemanusiaan

Untuk bangun negeri indonesia perubahan

Marilah kita buat perubahan adakan suatu pembangunan untuk Negeri Indonesia Raya. Bangun negeri dengan agama, pemerintahan yang baik, pendidikan, persatuan dan kestuan, dan moral. Agar generasi muda dapat menjadi pemimpin yang unggul dan membangun indonesia ke arah yang lebih baik dan maju.

Buatlah sejarah dan gapailah cita-cita dengan sebuah pulpen. Dan kita harus bisa menjadi lautan yang luas jangan hanya menjadi anak sungai. Serta janganlah kita bersikap seperti batu,kayu, atau besi tapi jadilah manusia yang berguna bagi nusa,bangsa,dan negara.

What can be taken by man who is missing knowladge. I take it with have good manners.

Youth is the time to from manners.

Perjalanan dan perjuangan haruslah melalui sebuah tulisan.
Penulis adalah peserta lomba essai Festival Sutan Setara IV, Mahasiswa Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati.

Essai: Mengingat Sejarah, Memupuk Spirit

Tidak ada komentar

Mengingat Sejarah, Memupuk Spirit


oleh: Zulyani Evi


Sebagian besar pemuda saat ini melupakan kewajiban morilnya untuk menulis. Penyebab hal ini salah satunya adalah karena menurunnya minat membaca buku. There’s no writing without reading, kalimat itu sering kali diucapkan pada seminar-seminar jurnalistik. Betul sekali, tanpa membaca buku kita tidak akan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Kita juga sulit membuka wawasan seraya mencari inspirasi dalam menulis. Dan yang terpenting kita tidak mempunyai dasar dalam menulis suatu permasalahan. Internet berperan besar dalam menurunnya budaya membaca buku ini. Kawula muda kini lebih memilih yang praktis seperti copy dan paste dari internet.

Teknologi lain juga hadir dengan segala fasilitasnya yang memanjakan kita seperti game, media sosial, chatting dan sebagainya. Pemakaian yang kurang bijak membuat penggunanya kecanduan sehingga berdampak buruk. Kini para pemuda stagnan dengan dunianya sendiri alias autis gadget. Tanpa kita sadari, semua hal itu menciptakan budaya baru yang tidak akan membuat maju bangsa ini.

Harus kita hayati, menulis menjadi sebuah kewajiban moril karena dahulu, kaum pergerakan bangsa Indonesia menulis untuk kemerdekaan bangsa. Mereka mengobarkan api semangat, bahkan mempersatukan bangsa lewat tulisan-tulisan mereka. Mereka menulis dengan diwarnai rasa patriotisme dan semangat berkebangsaan yang tinggi. Maka sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus meneruskan spirit mereka, menulis untuk membangun Indonesia.

Pepatah mengatakan, ‘historia vitae magistra’ yang artinya sejarah adalah guru kehidupan. Sejarah memiliki makna yang sangat penting dalam membangun jati diri bangsa. Apabila dikatakan bangsa ini kehilangan jati dirinya, maka salah satu penyebabnya karena sejarah mulai dilupakan dan dianggap tidak penting lagi. Makadari itu marilah kita tengok kembali ke belakang, mengulas sedikit sejarah bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaannya lewat tulisan. Guna memupuk kembali spirit yang telah hilang itu.

Apabila kita berbicara mengenai peran tulisan dalam membangun negeri ini, pastinya tidak akan jauh dari pers nasional. Yang dimaksud dengan pers nasional menurut L.Taufik ialah surat-surat kabar, majalah yang diterbitkan dan diperuntukkan terutama bagi bangsa Indonesia. Biasanya oleh kaum pergerakan nasional media ini digunakan sebagai lahan mereka untuk menunangkan ide-ide kebangsaan, persatuan yang mempunyai tujuan memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia di masa penjajahan. Pers ini diusahakan dan dimanfaatkan untuk membela kepentingan-kepentingan bangsa Indonesia (Taufik, L. 1977. Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia. Jakarta: PT. Prijanto, hal. 15-17).

Pers nasional merupakan bagian dari masyarakat yang berjuang mencapai kemerdekaan. Sehingga sangat perlu memahami sejarah pers nasional yang berangkat dari semangat persatuan, semangat ini adalah amanah yang harus dijaga sehingga mutu pers kita akan terus maju.

Selama tahun-tahun terakhir sebelum Perang Dunia kedua, ketika semakin banyak kaum muda terpelajar untuk memperkuat barisan gerakan kemerdekaan Indonesia, ada pula diantara mereka yang menerjunkan diri ke dunia pers. Dengan demikian kehadiran mereka dapat meningkatkan mutu pers nasional. Kehadiran mereka juga sebagai penuntun pembaca ke taraf berfikir yang lebih tinggi. Profesi sebagai wartawan pada saat itu bukanlah dari produk sekolah-sekolah kewartawanan, namun mereka hadir secara alamiah sesuai dengan tuntutan jaman. Apa yang dilakukan wartawan ternyata banyak mengundang dukungan dari masyarakat, terutama motivasi perjuangan yang menginginkan penindasan, penghisapan dan tekanan terhadap bangsa Indonesia segera berakhir. Pengaruh yang ditimbulkan besar sekali baik intern maupun ekstern. Pengaruh intern berarti tulisan-tulisan mereka mampu menyadarkan dan menimbulkan keberanian bangsa Indonesia untuk menentang penjajah. Pengaruh ekstern mempunyai pengertian bahwa wartawan Indonesia dengan tulisan-tulisannya berusaha mendapat simpati dari Negara lain agar Negara tersebut mendukung gagasan bangsa Indonesia untuk merdeka (Agus Darmanto. 1992. Usaha-usaha Kaum Pergerakan Kebangsaan Republik Indonesia dalam Menghadapi Persbreidel Ordonnantie Tahun 1931 – 1954, hal. 27 – 30).

Semangat menulis itu bukan hanya datang dari kaum muda, bahkan pemimpin nasional, tokoh-tokoh politikus di Indonesia selalu berkaitan dengan Pers Nasional. Seperti Soekarno, Hatta, H. Agoes Salim, Adam Malik dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka menjadikan pers nasional mempunyai andil yang lebih besar dalam perjuangan Bangsa Indonesia untuk menuju cita-cita kemerdekaan. Soekarno menjadi pemimpin redaksi dari penerbitan majalah Fikiran Ra’jat, koran Fikiran Ra’jat banyak dikenal orang sebagai koran yang selalu berpihak pada kepentingan Bangsa Indonesia pada waktu dijajah Belanda. Hatta menjadi penyumbang tulisan pada majalah Daulat Ra’jat dan Neratja, Amir Syarifudin duduk sebagai staf redaksi majalah Banteng dan Haji Agus Salim menjadi pemimpin redaksi Mestika. Tak jarang mereka keluar masuk penjara karena aktivitasnya dalam dunia pers

Salah satu surat kabar yang menjadi kompor berkembangnya pers nasional adalah Medan Priaji. Surat kabar pertama yang menggunakan bahasa melayu dan seluruh redaksinya adalah pribumi, berdiri pada tahun 1907 di bawah asuhan Raden Mas Tirtahadisoerja. Koran yang cukup berani menentang pemerintah kolonial, hal ini terlihat pada semboyannya; “Orgaan boeat bangsa yang terperentah di Hindia Olanda, tempat akan memboeka swaranja Anak Hindia” (Ahmadi, T. 1985. Rampai Sistim Pers Indonesia. Jakarta: PT. Panca Simpati, hal. 63). Setelah kemunculan koran ini, menyusul koran lain yang mempunyai karakter yang sama antara lain; De ekpers yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara dan Dr. Setiabudi, Soeara Oemoem yang dipimpin oleh Adam Malik dan koran Adil yang dipimpin oleh Harun Al Rashid.

Organisasi yang lahir sebagai tonggak kebangkitan nasional pun memiliki surat kabar guna menyebarluaskan ideologi dan semangat mereka. Budi Utomo menerbitkan Darmo Kondo, yang dalam perkembangannya menjadi surat kabar berbahasa Indonesia dengan nama Pawarta Oemoem sebagai pembawa suara Partai Indonesia Raya. Sarekat Islam Surakarta menerbitkan Sarotomo. Di Kota Solo juga terbit majalah Medan Moeslimin yang diasuh oleh Haji Miscbah dan M. Satro Siswojo. Sementara itu National Indiesche di Solo juga mendirikan surat kabar Panggoegah. Sedangkan Moehamadiyah mempunyai Soeara Moehammadijah dan Soeara Aisjiah (Agus Darmanto. 1992. Usaha-usaha Kaum Pergerakan Kebangsaan Republik Indonesia dalam Menghadapi Persbreidel Ordonnantie Tahun 1931 – 1954, hal. 32 – 35).

Pers nasional dengan segala kemampuannya berusaha mengutarakan fakta-fakta ketidakadilan dan kebenaran melalui rangkaian kata-kata ataupun lisan sehingga dari apa yang mereka lakukan akan menimbulkan jiwa patriot di kalangan bangsa Indonesia. Jiwa patriot inilah yang diperlukan dalam memperjuangkan nasib bangsa Indonesia (Anwar, Ahmadi. 1987. Perjuangan Sebagai Motivasi Wartawan Sebelum Proklamasi. Yogyakarta: Departemen Penerangan RI, hal. 3).

Alih-alih mencari keuntungan, pers nasional lahir dengan semangat perjuangan. Wartawan-wartawan saat itu bisa dikatakan pejuang, walaupun tidak angkat senjata namun mereka berjuang melalui kata-kata yang tersusun menjadi sebuah tulisan penyemangat. Sehingga terpupuklah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Setelah mengulas sedikit sejarah mengenai bagaimana tulisan dapat mempersatukan bangsa, sepantasnya hal itu dapat menjadi refleksi bagi kita semua. Peran tulisan dalam membangun Negeri sudah lama digalakkan oleh para kaum pergerakan. Sayangnya rasa seperti itu kini pudar. Tulisan-tulisan para generasi penerus seakan kehilangan ruhnya. Dengan mengingat kembali sejarah, mengulas sedikit yang telah berlalu, marilah kita pupuk lagi spirit yang pudar itu.

Padahal menulis adalah sarana pengembangan diri mahasiswa dengan dunia yang ditekuninya saat ini, yakni dunia keilmuan. Proses pengembangan diri melalui proses menulis akan menjadikan mahasiswa mampu mengembangkan pemikiran, intelektualitas, dan eksistensi dalam bidang keilmuan yang sedang dikaji secara mendalam sesuai bidangnya masing-masing(Rohmadi, Muhammad., Sri Nugraheni, Aninditya. 2011. Belajar Bahasa Indonesia: Upaya Terampil Berbicara dan Menulis Karya Ilmiah. Surakarta: Cakrawala Media. Hal 99). Apapun disiplin ilmunya, mempunyai kesadaran menulis itu sangat penting. Berlatih dan terus berlatih untuk menulis. Agar kita dapat mengabadikan gagasan kita. Menulislah untuk kepentingan rakyat dan bangunlah Negeri ini.
Penulis adalah peserta lomba Essai Festival Sutan Setara IV; dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

Cirebon yang Religius Butuh Perda Anti Mihol

Tidak ada komentar

OPINI


CIREBON YANG RELIGIUS, BUTUH PERDA ANTI MIHOL


Belum lama beberapa warga kota Cirebon yang tewas karena minuman keras yang dioplos dengan berbagai macam larutan kimia (sebut saja minyak anti nyamuk), kini Peraturan Daerah tentang Anti Miras di Kota Cirebon ‘diprotes’ oleh Menteri Dalam Negeri. Mungkin Perda tersebut merugikan negeri ini, dengan alasan mengurangi pajak bea cukai dan pajak industry Miras atau semacamnya, penulis merasa ‘gerah’ dengan kelakukan para elit bangsa yang terus-terusan mengutamakan isi perut negara ini yang jelas transparansinya masih ‘bobrok’ dengan berbagai macam kasus korupnya.

Di bulan yang dibilang; bulannya para buruh, pendidik, dan pemuda dengan kebangkitan nasionalnya. Penulis merasa perlu untuk menyampaikan sebaris surat terbuka untuk Kementerian Dalam Negeri. Ada berbagai macam alasan mengapa saya perlu menulis artikel ini, mulai dari masalah beban moral sebagai calon pendidik, kesehatan, kriminalitas, harga diri seorang pribumi yang terjajah dengan barang impornya, hingga naluri seorang pemuda yang selalu berpikir tentang kawan-kawannya yang telah terjerumus ke dalam ‘lubang hitam’ karena berawal dari Miras.

Awal mula dengan hadirnya Perda Anti Miras di kota Cirebon, penulis merasa senang. Sebab mulai sejak Perda tersebut berlaku, maka para pengecer Miras mulai mengalihkan dagangannya ke hal-hal yang lebih positif, secara berangsur-angsur tingkat kesadaran otak ‘peminum’ menjadi pulih. Angka kriminalitas dengan pengaruh alkohol agaknya berkurang, dan yang jelas kasus oplosan mungkin akan tidak separah dengan kejadian-kejadian yang telah berlalu.

Kejahatan pasti akan tetap ada, namun yang jelas pelaku kejahatan tidak akan lagi punya alasan karena ‘mabuk’ saat berhadapan di meja hijau nanti. Penulis meyakini, prosentase kejahatan akan berkurang jika dilihat dari trend penyebab kriminalitas karena kondisi mabuk alias tidak sadar nanti.

Miras Menjadi Obat Kuat Bagi Calon Amoral

Bukan seorang manusia jika menjadikan Miras sebagai obat kuat untuk melakukan berbagai macam ‘ritual’ kejahatan yang sangat mengkhawatirkan masyarakat. Belum lagi banyak ditemukan para pemuda yang berpesta seks, dengan diawali dengan Miras untuk sengaja menghilangkan ketakutan akan dosa, sengaja menghilangkan akal sehatnya, dan meningkatkan keberanian untuk berbuat sesuatu di luar batas kenormalan.

Miris memang, namun ini memang terjadi di lingkungan masyarakat yang ‘katanya’ modern dan berada di zaman millennium. Jika minuman keras selalu dikaitkan dengan larangan salah satu ajaran agama, mari coba untuk objektif dengan berpikir secara ilmiah. Mari kita survey bersama-sama dan lakukan penelitian selama lima tahun saja untuk membuktikan pengaruh minuman beralkohol di dalam kehidupan masyarakat.

Tentu pihak kepolisian, para Ulama, dan mereka yang bergelar sebagai dokter akan sependapat dengan penulis. Lantas apa yang membuat sebagian dari ‘kita’ justru menolak keberadaan Perda Anti Miras, yang justru akan menyelamatkan calon-calon orang yang bakal mati konyol dengan ‘oplosannya’ (lagi)?

Jika kita bandingkan secara sederhana, lebih baik mati membela tanah air dibandingkan membela hal-hal yang justru akan mencelakakan kita.

Lebih Memilih Uang, Dibandingkan Keselamatan dan Kesehatan  

Jika dipikir baik-baik. Agaknya pemerintah rugi, jika minuman keras impor itu dijadikan alasan untuk pendapatan dari pajak bead an cukai. Pasalnya, setiap barang impor yang masuk pasti harus dibeli dengan dollar dan yang jadi bunting adalah Bank Indonesia harus mengorbankan banyak devisa, bahkan harus ‘ngutang’ ke luar negeri. Akhirnya rakyat lagi yang terkena dampaknya, inflasi lagi.

Agaknya pemerintah harus ‘dipentung’ untuk segera disadarkan. Karena jika tidak kita yang mendorong, lalu siapa lagi?
Penulis: Santosa, dari Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Unswagati. Tulisan ini pernah dimuat di Koran Radar Cirebon halaman 4 pada Senin 12 Mei 2014.

Mapala Gunati Rayakan Anniversary ke-XIX

Tidak ada komentar
Cirebon - SetaraNews.com, Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Swadaya Gunung Djati (Mapala Gunati) rayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-19.

Perayaan ini sebagai bentuk syukur atas kebersamaan mereka selama 19 tahun dalam naungan Mapala Gunati. “Puji syukur kita terhadap kegiatan Mapala selama 19 tahun dengan kebersamaan ini ingin memperkenalkan lebih dalam lagi tentang Mapala Gunati.” ujar Ryan Gunawan selaku Ketua Umum Mapala Gunati, kepada SetaraNews kemarin siang (15/5).

Berbagai macam acara telah dipersiapkan untuk memeriahkan acara ini, seperti donor darah, lomba melukis tong sampah, panjat pinang, pameran foto, pameran hewan reptile, temu kangen, bersih sekretariat, bersih keraton dan ditutup dengan acara live musik pada malam harinya. Acara ini juga mengundang komunitas Mapala lainnya di wilayah III Cirebon. Lomba yang diadakan untuk sesama komunitas Mapala, dan juga untuk mahasiswa Unswagati.

Pameran reptil menjadi salah satu yang banyak menarik perhatian. Mapala Gunati bekerja sama dengan KRC (Komunitas Reptil Cirebon), KSR Unswagati, dan UKM Seni-Budaya untuk memeriahkan acara ini.

Ular menjadi objek yang sangat menarik perhatian baik mahasiswa, staf maupun dosen Unswagati. Ada berbagai macam jenis ular, bahkan ada jenis ular phyton dengan ukurang yang luar biasa besar. Acara ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Mapala Gunati.

Juru Kamera: Dinda Ayu Lestari

Kiblat Masjid Nurul Ilmi Unswagati Digeser

Tidak ada komentar

Kamis, 15 Mei 2014

Unswagati - SetaraNews.com, Ada yang berbeda dari Masjid Nurul Ilmi Universitas Swadaya Gunug Jati (Unswagati) saat ini. perbedaanya terletak dari arah kiblat masjid yang kini tak lagi menghadap barat. Kiblat Masjid Kampus I ini menyerong tajam dengan berkiblat ke arah barat laut.

Adalah pertimbangan dari Kementerian Agama Kota Cirebon yang membuat masjid ini menggeser kiblatnya. Kemarin, Kementerian Agama Kota Cirebon yang mengirim tim kalibrasi ukur arah kiblat menggeser kiblat masjid ini 294,1 derajat azimut kiblat.

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Ilmi, Selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap Masjid Nurul Ilmi itu pun, buru-buru menempel selotip hitam di karpet masjid agar mengganti batas jamaah, sekaligus menunjukan arah kiblat yang benar. Selain itu pembatas laki-laki dan perempuan pun ikut diserongkan.

DKM Nurul Ilmi juga menempel kertas pengumuman yang sedikit banyak tersebar di dinding masjid, hal ini untuk memberitahu jamaah Masjid agar tidak salah kiblat. Berikut isi pengumumannya :

Assalamualaikum Warahmatullah wabarakatuh. Kepada seluruh jamaah Masjid Nurul Ilmi Ubswagati. Sehubungan telah dilaksanakanya kalibrasi ukur arah kiblat oleh tim kalibrasi ukur arah kiblat Kementerian Agama Kota Cirebon yang dilaksanakan pada hari Selasa 13 Mei 2014, maka posisi arah kiblat mohon disesuaikan dengan petunjuk azimut kiblat tepatnya 294,1 derajat. Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Wasalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh. Ketua DKM Nurul Ilmi; DR .H. Saihul Anwar, Ir. M.Eng., MM.

Akan tetapi, segelintir jamaah saat SetaraNews melakukan pemantauan pada hari ini (14/5) masih ada yang salah menghadap kiblat. Beberapa juga mengaku kebingungan menyesuaikan kiblat baru tersebut.

“Bingung, harusnya jangan safnya yang digeser. Tapi masjidnya.” Ujar salah seorang mahasiswa yang ditanya seusai shalat Ashar berjamaah sore tadi.

Menuju AIPT, Unswagati Kerjasama dengan UiTM

Tidak ada komentar

Rabu, 14 Mei 2014

Cirebon - SetaraNews.com, Universitas Swadaya Gunung Jati pada kemarin (12/5)  mendapatkan kunjungan dari Universitas Teknologi Mara (UiTM) Kelantan Malaysia.

Kunjungan dalam rangka menjalin kerja sama antar dua universitas tersebut dan menjadikan Unswagati kampus AI-PT (Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi).

“Dengan peraturan yang terbaru Dinas Pendidikan Nasional tentang kerja sama No.26 tahun 2007 dimana dalam rangka AI-PT, sekarang yang di akreditasi bukan fakultasnya saja tetapi universitasnya juga harus terakreditasi.” ujar Baharudin Syahroni selaku Wakil Rektor IV Unswagati.

Pertemuan ini akan membahas tentang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang akan dibicarakan dengan Fakultas Ekonomi. Dalam rangka menuju AI-PT ini, Unswagati bekerja sama dengan Universitas-Universitas baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebelumnya Unswagati mendapatkan kunjungan perwakilan dari Universitas-universitas dari Australia seperti Deakin University, University of  Canberra, dan Holmesglen University untuk melakukan sosialisasi.

Unswagati juga telah melakukan kerja sama dengan salah satu universitas unggulan yang ada di Belanda dan Prancis. Sedangkan kerja sama di dalam negeri telah dilakukan dengan UNPAD dan ITB.

Rombongan dari Malaysia ini berjumlah 28 orang beserta mahasiswanya, setelah selesai acara pembahasan kerjasama antara Unswagati dengan Universitas Teknologi Mara, Rombongan pun melakukan kunjungan ke beberapa daerah di kota Cirebon salah satunya yaitu ke pusat batik tulis  di Trusmi.

Juru Kamera: Tuty Andriyani

Fakultas Teknik Unswagati Gelar Kuliah Umum Bersama Indocement

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Swadaya Gunung Djati mengadakan kuliah umum dengan tema Innovation Cement and Cocrete Technology pada hari ini (13/5) bersama Indocement.

Acara ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Unswagati bersama Indocement dalam road show ke berbagai Universitas di Indonesia untuk menyosialisasikan Indocement Awards 2014. Indocement awards ini sendiri ditujukan untuk terus berinovasi dan membuat terobosan sehingga dapat terus berkontribusi secara maksimal dalam pembangunan Bangsa Indonesia.

Dwi Sutriarga selaku tenaga Riset dari Indocement kepada SetaraNews mengatakan, "Selama ini riset (red: yang kami lakukan) dilakukan dengan instannsi dengan pihak yang terkait, boleh dibilang join riset. Berkaitan dengan aplikasi, produk ini tidak akan monoton, dan akan berkaitan dengan aplikasi yang lain." ujarnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa, "Indocement award ini arahnya ke inovasi, yang arahnya ke semua desain inovasi semen sehingga dapat dikreasikan dengan material yang  alami." tambahnya.

 

 

Inilah Persiapan Acara MoU Unswagati dengan UiTM

Tidak ada komentar

Senin, 12 Mei 2014




Unswagati - SetaraNews.com, Universitas Swadaya Gunung Djati saat ini sedang mempersiapkan acara untuk besok (12/5) yakni penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman kerjasama antara Unswagati dengan Universitas Teknologi Mara dari Malaysia.

Dari pantauan SetaraNews saat meliput di Aula Grawidyasabha Kampus Utama Unswagati malam ini (11/5), nampak sejumlah dekorasi mulai dipersiapkan dari mulai meja, soundsystem, dan berbagai perangkatnya.




Menurut salah satu panitia dari bagian perlengkapan Unswagati, "Acara penandatangan akan dimulai sekitar pukul: 13:00 WIB dan tamu undangan sekitar 100 kursi yang disediakan." ujarnya (11/5).

Kerjasama antar Universitas ini merupakan langkah Unswagati dalam menerapkan Undang-undang Pendidikan Tinggi nomor 12 tahun 2012, mengenai kerjasama internasional antar pendidikan tinggi seperti yang dijelaskan dalam pasal 50.



 

 

Inilah Hasil Rekapitulasi KPU Soal Pemilu Legislatif 2014

Tidak ada komentar

Minggu, 11 Mei 2014

Jakarta - SetaraNews.com, Inilah hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait perhitungan surat suara nasional pada pemilihan umum (Pemilu) beberapa waktu yang lalu.

Dikutip dari laman KPU.go.id pada hari ini (10/5), berikut adalah hasil rekapitulasi surat suara pemilu legislatif tahun 2014 di Indonesia;

  1. Partai Nasdem: 8.402.812 suara (6,72 persen)

  2. Partai Kebangkitan Bangsa: 11.298.957 suara (9,04 persen)

  3. Partai Keadilan Sejahtera: 8.480.204 suara (6,79 persen)

  4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan: 23.681.471 suara (18,95 persen)

  5. Partai Golongan Karya: 18.432.312 suara (14,75 persen)

  6. Partai Gerakan Indonesia Raya: 14.760.371 suara (11,81 persen)

  7. Partai Demokrat: 12.728.913 suara (10,19 persen)

  8. Partai Amanat Nasional: 9.481.621 suara (7,57 persen)

  9. Partai Persatuan Pembangunan: 8.157.488 suara (6,53 persen)

  10. Partai Hati Nurani Rakyat: 6.579.498 suara (5,26 persen)

  11. (14) Partai Bulan Bintang: 1.825.750 suara(1,46 persen)

  12. (15) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia: 1.143.094 suara (0,91 persen)


Dari hasil rekap tersebut, diketahui bahwa partai PDIP unggul diurutan pertama, disusul dengan Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB, PAN, PKS, Nasdem, PPP, dan Hanura. Sedangkan dua partai yakni Partai PBB dan PKPI ini dinyatakan tidak lolos dalam ambang batas parlemen.

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews