Responsive Ad Slot

Resensi Buku: Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4

Tidak ada komentar

Sabtu, 17 Mei 2014

Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4


oleh: Fauziyah


“Tiada Keberhasilan Tanpa Usaha”, itulah ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan sebuah kesuksesan. Kesuksesan tidak menghampiri seseorang yang kerjanya hanya berpangku tangan, akan tetapi kesuksesan akan menghampiri seseorang yang mau berusaha, tekun dalam menjalankan usahanya, dan tidak putus asa.

Kesuksesan itu tidaklah diraih dengan instan, melainkan sebuah kesuksesan memerlukan proses perjalanan yang cukup panjang dan di dalamnya terdapat berbagai rintangan serta hambatan. Bila Anda dapat melewati berbagai rintangan dan hambatan tersebut, maka Anda akan menggapai sebuah kesuksesan, dan sebaliknya.

Ada banyak cara untuk sukses! Melalui tekad yang sungguh-sungguh dan perencanaan yang baik, maka akan terlihat hasilnya. Buku ini memaparkan bahwa setiap manusia yang hidup di planet ini bagaikan sebongkah berlian kasar. Terserah pada kita mau membuatnya bersinar atau tidak. Ketika Anda berusaha membuat sebongkah berlian kasar itu menjadi bersinar, berarti Anda berusaha meraih kesuksesan itu.

Buku ini dituliskan oleh pengarangnya yang bernama Moshe Kai Cavalin. Dia terlahir dari kedua orang tua yang berkebangsaan berbeda. Ayahnya lahir di Brazil, keturunan dari orang tua yang berdarah Italia, Portugis, Brazil, Jerman dan Polandia. Sementara ibunya lahir di Taiwan, keturunan Taiwan dan Cina daratan. Kedua orangtuanya bertemu di Los Angles, mereka menikah lalu lahirlah Moshe Kai Cavalin.

Dalam bukunya Moshe Kai Cavalin menceritakan perjalanan hidupnya yang bisa memberikan motivasi terutama bagi pelajar dan orang tua. Aku bukanlah genius atau makhluk super.  Aku hanyalah seorang anak biasa yang menjalankan kehidupan ini dengan perencanaan yang matang serta kedua orangtua yang selalu membimbing dan menjadi penyemangat. Aku mampu memasuki bangku kuliah pada usia delapan tahun dan lulus dengan gelar Associate in Arts dengan IPK sempurna (semua nilai A) saat usia sebelas tahun. Padahal aku hanya menempuh home schooling, tanpa pendidikan formal dari SD hingga SMA.

Banyak orang yang menganggap kesuksesan yang aku raih adalah hal yang tidak mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin itu akan menjadi mungkin apabila kita memiliki tekad yang kuat untuk sukses dan pantang menyerah bila kita terjatuh. Semua ini tercapai dengan tidak mudah, perjalanan panjang dimulai ketika aku masih bayi. Semua berkat kerja keras kedua orang tua yang aktif membimbing serta kemauan kerasku untuk meraih banyak prestasi. Tak mustahil bagi siapa pun dapat meraih binatang!

Rata-rata orangtua di dunia ini memilih berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan dan membiarkan keturunannya melakukan hal yang sama. Tempat tujuan mereka di masa yang akan datang direncanakan dengan samar-samar atau bahkan tidak direncanakan sama sekali. Ini jelas tindakan yang keliru! Orangtua membiarkan lingkungan dan sekolah yang mengambil alih untuk mendidik anak-anaknya. Tanpa bimbingan orangtua, anak-anak  selama perjalanannya dengan berjalan kaki dapat tersesat dalam kerumunan tanpa arah dan tujuan, serta mudah terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya yang mereka anggap contoh. Segelintir anak merasa beruntung karena memilih panutan yang benar, tetapi kebanyakan gagal.

Penulis mempunyai harapan bagi orangtua agar tergerak untuk senantiasa membimbing anak-anaknya dalam menjalani kehidupan. Melalui buku ini,  penulis juga berharap dapat membantu para remaja yakin akan kekuatan yang mereka miliki untuk meraih “Puncak yang tidak dapat dicapai”. Jangan buang-buang waktu! Perjalanan hidup ini begitu singkat. Ketika kita membuka mata kita mungkin telah melewati masa-masa berharga untuk meraih sukses.
Penulis adalah peserta lomba Festival Sutan Setara IV, Mahasiswa Pendidikan Sastra dan Bahasa Universitas Swadaya Gunung Jati.

Essai: Wajah Pendidikan di Indonesia

Tidak ada komentar

Jumat, 16 Mei 2014

Wajah Pendidikan di Indonesia


oleh: Pipit Shita Resmi Joni


Pendidikan di Indonesia khususnya di daerah terpencil seperti di Papua dari dulu hingga saat ini masih belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kurangnya perhatian tersebut memicu kurang berkembangnya bidang pendidikan di Papua dan daerah terpencil lainnya. Permasalahan yang ada di Papua menyangkut beberapa hal seperti fasilitas yang kurang memadai, kurangnya perhatian pemerintah, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan banyak aspek lainnya. Masalah-masalah tersebut dapat membelenggu serta mengancam potensi anak-anak yang ada di Papua untuk dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak semestinya.

Masalah yang sering terjadi dalam bidang pendidikan salah satunya fasilitas yang kurang memadai bahkan tidak layak. Sering di temui di daerah tertinggal sekolah-sekolah dengan bangunan-bangunan sekolah yang hampir runtuh karena sudah tua, kekurangan ruang kelas sehingga untuk dapat belajar mereka harus bergantian kelas. Kurangnya alat-alat bantu untuk kegiatan belajar mengajar, kurangnya kursi, kurangnya papan tulis, kurangnya alat-alat untuk praktek, dan lainnya. Masih banyak dari mereka yang tidak berpakaian seragam sebagaimana mestinya, di dalam kelas pun masih banyak yang menggunakan sendal bahkan masih banyak pula yang tidak menggunakan alas kaki.

Kurangnya tenaga pengajar adalah masalah klasik yang sering terjadi di negara ini. Dari sekian ribu tenaga pendidik yang dihasilkan di universitas-universitas Indonesia sedikit yang tertarik untuk mengabdikan diri di daerah terpencil, alhasil daerah terpencil seperti Papua krisis tenaga pengajar. Bisa dibandingkan dengan tenaga pengajar yang ada di Pulau Jawa. Tenaga pengajar yang ada di pulau Jawa jauh lebih banyak dibanding dengan tenaga pengajar yang ada di Papua pedalaman, contohnya di pulau Bintang. Keadaan sekolah yang ada di pedesaan di Pulau Bintang hanya di ajar oleh satu orang guru, itu pun bukan sekolah yang dibangun oleh pemerintah. Masyarakat pedesaan yang tinggal di Pulau Bintang apabila mereka ingin bersekolah yang dibangun oleh pemerintah, mereka harus menempuh jarak yang jauh dan memerlukan waktu berhari-hari untuk sampai ke sana.

Lulusan yang tidak diakui oleh pemerintah. Kebanyakan sekolah-sekolah yang ada di Papua dibangun oleh para relawan bukan dari pemerintah sehingga tidak adanya bukti lulusan dari sekolah tersebut. Sedangkan di indonesia sebuah ijazah sangat dibutuhkan, selembar kertas ijazah berfungsi sebagai legitimasi untuk menempati jabatan publik. Ijazah jauh lebih bernilai dari pada seluruh proses belajar yang mereka laksanakan. Sehingga menyebabkan berbagai pihak melakukan praktik transaksi yang tidak sehat demi mendapatkan ijazah. Sedangkan siswa-siswi yang belajar di daerah pedalaman papua, tidak semua sekolah memberikan ijazah ke setiap muridnya, karena berasal dari sekolah yang bukan dibangun oleh pemerintah. Dengan demikian, masyarakat pedalaman Papua mengalami kesulitan untuk bersaing dengan orang-orang yang ada di luar daerahnya yang memiliki selembar ijazah.

Otonomi Daerah

Kurangnya perhatian pemerintah terkait masalah pendidikan di pulau Papua karena tidak adanya kerjasama dengan pemerintah daerah. Adanya otonomi daerah pun kurang membantu masalah kependidikan yang ada di Papua, justru dengan adanya otonomi daerah tersebut malah membuat sebuah tirani baru. Kekayaan alam yang ada di Papua adalah modal pemberian Tuhan yang istimewa dan seharusnya bisa membantu menyejahterakan masyarakatnya khususnya membantu masalah kependidikan yang ada di Papua. Otonomi yang diberikan ini justru kacau dan hanya menjadikan pemerintah daerah raja kecil yang memperkaya diri sendiri. Seharusnya mereka yang berperan sebagai wakil dari setiap daerah mereka harus lebih peduli lagi dan bisa menyejahterakan masyarakat yang ada di daerah tersebut, bukan malah memanfaatkan mereka (masyarakat pedalaman Papua) sebagai tambang emas bagi para pemerintah.

Pembagian anggaran pendidikan yang diberikan oleh pemerintah pusat tidak tersebar dengan merata. Mereka yang tinggal di pulau Papua hanya mendapatkan bagian kecil dari anggaran itu. Dana yang diberikan oleh pemerintah pusat kemudian di salurkan kepada pemerintah daerah. Tetapi pemerintah daerah pun bukannya memberikan kepada mereka yang berhak malah dana tersebut sebagian ada yang mereka kantongi demi kepentingannya sendiri. Dengan adanya hal yang demikian, membuat pendidikan yang ada di Papua mengalami keterbelakangan.

Lingkungan Sosial

Karena sumber daya manusia yang ada di Papua masih rendah, mereka masih menganggap pendidikan itu tidaklah penting  bagi mereka. Yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana caranya agar mendapatkan sebuah pekerjaan atau sebuah penghasilan tanpa melalui pendidikan tersebut, alhasil pendidikan ditinggalkan.

Adapun masyarakat yang mulai melek tentang pentingnya pendidikan lebih memilih keluar daerahnya untuk mencari sekolah yang bonafit atau terkenal yang berada di luar daerahnya, seperti di Pulau Jawa. Biasanya mereka yang pernah belajar di luar daerah, enggan balik lagi ke daerah atau ke desa mereka. Mereka lebih memilih menetap di kota. Mereka enggan untuk menyumbangkan ilmu-ilmu mereka untuk pembangunan di desa mereka. Sehingga pembangunan yang ada di kota terus berkembang sedangkan di desa mereka sendiri terus mengalami kemunduran, khususnya di bidang pendidikan.

Dengan adanya permasalahan tersebut sebaiknya adanya suatu perbaikan di bidang kependidikan khususnya di negara Indonesia. Untuk menunjang hal tersebut sebaiknya adanya perbaikan dari sistem kepemerintahannya. Antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah harus saling bekerjasama, harus adanya suatu komunikasi yang baik di antara keduanya agar pelaksanaan undang-undang dapat berjalan dengan baik. Sebab kondisi di suatu daerah berbeda-beda. Contohnya dalam hal fasilitas, dalam hal otonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah, serta lingkungan sosial yang ada di masyarakat setempat.

Pemerintah diharapkan lebih peduli dan lebih adil lagi terhadap masyarakat-masyarakat yang ada di pedalaman Indonesia. Terutama di bidang kependidikan, karena apabila suatu sistem pendidikan di suatu daerah itu bagus, maka dapat menciptakan sumber daya manusia yang bagus pula. Mereka pun dapat membangun daerahnya masing-masing. Sehingga masyarakat yang ada di Indonesia baik di pedalaman atau pun di kota dapat berkembang dengan baik dan seimbang, dan dapat menciptakan suatu masyarakat yang sejahtera.
Penulis adalah peserta lomba Festival Sutan Setara IV, Mahasiswa Ilmu Komunikasi - FISIP Universitas Swadaya Gunung Jati.

Essai: Bangun Negeri Indonesia

Tidak ada komentar

BANGUN NEGERI INDONESIA


Oleh:  Trie Adhie Sulistia


 Bangun Negeri Indonesia, tentu kita selalu mendengar dan bahkan paham dengan kata bangun itu sendiri “bangkitkan rasa juang untuk negeri“ namun apakah semua telah mendukung? Dari mulai sistem pemerintahan, sumber daya energi, alam, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan bahkan masyarakatnya.

Mengulas kembali permasalahan – permasalahan yang ada di indonesia mungkin tak akan ada akarnya jika kita selalu menuntut kebijakan tanpa adanya kesadaran, dan selalu mengandalkan orang lain, tanpa kita tak pernah berjuang untuk hidup yang lebih baik di masa mendatang. Bangun bukan hanya bangkit dari segala kondisi yang ada, namun mampu memperbaiki dan memberikan solusi dari permasalahan yang ada menjadi lebih tepat untuk hasil yang bermanfaat.

Lihatlah debu bertebangan

Menempel erat di bahu jalan

Adalah sebuah senyuman

Untuk negara yang penuh harapan

Hanya tetesan yang di berikan

Atas kejamnya kehidupan

Janji untuk sebuah jabatan

Penuh dengan kepalsuan

Pasti semua akan hilang

Jika uang ada di tangan

Seperti orang lupa daratan

Akankah kita selalu selalu berada dalam sebuah harapan tanpa kita berusaha untuk sebuah kemajuan untuk negeri. Apakah kita akan menjadi “cahaya” kehidupan yang mampu membawa agar menjadi lebih baik. Atau bahkan menjadi ‘tulang” yang mampu menopang sebuh beban, ataupun kita hanya akan menjadi “rayap” yang akan menghancurkan dan bahkan menjatuhkan mengbuat kropos sedikit demi sedikit.

Bangunlah indonesia, bangunlah jiwa, bangunlah bangsa, bangunlah pemuda pemudi, bangunlah persatuan dan kesatuan, bangunlah rasa nasionalisme, bangunlah untuk negeri.

Bangun Negeri Indonesia dengan pondasi Agama, Agama dapat membangun kepribadian dan karakter seseorang karena agama cerminan dari akhlak yang dimiliki setiap orang. Agama dapat membawa pengaruh besar terhadap seseorang dalam kehidupan sehari-harinya, jika seseorang sudah taat dalam beragama tentu dia akan menjalankan segala perintah-perintah yang di anjurkan oleh Rasulullah dan Allah SWT, dan akan menjauhi segala larangan-Nya.

Sosok seorang pemimpin yang akan membawa perubahan dialah pemimpin yang amanah yang dapat di percaya dan mampu menjalankan tugasnya dengan sebaik-baik mungkin tanpa menyalah gunakan jabatannya dengan memperbanyak kekayaan. Maka dari itu bentuk lah para generasi muda khususnya dalam beragama agar dapat memunculkan sosok pemimpin yang mempunyai hati yang bersih.bangunlah negara yang agamis  yang penuh dengan sopan santun dalam masyarakatnya, yang jauh dari anarkisme, premanisme, kapitalisme tetapi dengan masyarakat bangun negeri dengan agama lebih mempunyai karakter kemanusiaan, keadilan, saling tolong-menolong dan penuh rasa saling menghargai walaupun indonesia penuh dengan perbedaan tetapi harus bisa bersatu.

Bangun indonesia dengan memperbaiki sistem pemerintahan, Sistem pemerintahan indonesia saat ini sudah baik namun belum semuanya berjalan dengan apa yang diinginkan, kita memerlukan sosok pemimpin yang seperti “Rambo”.

Religius, di mana sosok pemimpin yang utama adalah taat dalam beragama karena jika pemimpin taat dalam agama pasti di akan menjalankan tugas dan amanah dengan baik. Dan tentu akan bekerja dengan ikhlas.

Amanah, jika pemimpin amanah maka semua pekerjaan akan dapat berjalan dengan perencanaan dan takkan ada penyalahgunaan jabatan. Karena mengerti dan tau tentang mahal-nya sebuah kepercayaan yang telah di berikan.

Maju, dalam jiwa pemimpin yang telah amanah maka, ia akan dapat berfikir secara maju dalam setiap perencanaannya akan sudah jauh berfikir ke depan untuk masa yang lebih baik.

Bijaksana, bijaksana pasti selalu melekat pada sosok seorang pemimpin karena dalam menetapkan keputusan sangat di perlukan sebuah kebijaksanaan agar setiap keputusan yang di ambil mempunyai latar belakang dan keputusan yang jelas dan tegas.

Optimis, tentu sosok seorang pemimpin harus optimis agar dalam menjalankan segala rencana dan pekerjaan yang dilakukan itu akan membawa hasil yang baik dan berhasil.

Pemimpin merupakan sebuah amanah yang di berikan dan di percaya, maka jangan pernah menyia-nyiakan sebuah kepercayaan yang besar karena kepercayaan tidak akan datang dua kali meski pun ada pasti akan berbeda dari kepercayaan yang awal.

Bangun indonesia dengan melalui Pendidikan, Pendidikan merupakan hal terpenting untuk meningkatkan sumber daya manusia dan mencetak generasi-generasi yang unggul dalam bidang pengetahuan. Begitu pentingnya pendidikan maka pendidikan haruslah di jadikan sebagai tolak ukur seseorang dalam membawa perubahan yang lebih maju, jadi melalui pendidikan inilah cara yang tepat dalam membangun generasi muda yang lebih maju dan mampu bersaing membawa perubahan untuk negeri.

Bangun indonesia dengan persatuan dan kesatuan, mulai runtuh dan goyah jiwa dan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat indonesia. Hal ini yang dapat menyebabkan pertengkaran bahkan peperangan antar suku, budaya, daerah, dll. Karena kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang betapa pentingnya persatuan dan kesatuan namun yang di besarkan hanyalah rasa keegoisan ini yang menyebabkan rusaknya persaudaraan.  Maka dari itu marilah kita bentuk dan bangun rasa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat untuk negeri indonesia.

Bangun negeri indonesia melalui moral, moral merupakan suatu perbuatan yang di lakukan oleh manusia dalam kebaikan atau keburukan. Sekarang ini moral masyarakat indonesia sudah sangat jauh dari nilai moral karena banyak kasus-kasus yang saat ini terjadi dalam masyarakat dan hal itu tidak jauh dari akibat lingkungan dan pergaulan. Maka dari itu kita harus mencegah dan mendidik generasi muda agar mempunyai moral yang baik dan tidak melanggar nilai-nilai moral sosial yang sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang.

Merah putih budaya

Merah putih bangsa

Merah putih jiwa raga

Merah putih tanah air ku

Semangat para pejuang

Semangat untuk harapan

Untuk sebuah kehidupan

Di masa yang akan datang

Pemimpin yang budiman

Adil,bijak, dan dermawan

Menjunjung tinggi kemanusiaan

Untuk bangun negeri indonesia perubahan

Marilah kita buat perubahan adakan suatu pembangunan untuk Negeri Indonesia Raya. Bangun negeri dengan agama, pemerintahan yang baik, pendidikan, persatuan dan kestuan, dan moral. Agar generasi muda dapat menjadi pemimpin yang unggul dan membangun indonesia ke arah yang lebih baik dan maju.

Buatlah sejarah dan gapailah cita-cita dengan sebuah pulpen. Dan kita harus bisa menjadi lautan yang luas jangan hanya menjadi anak sungai. Serta janganlah kita bersikap seperti batu,kayu, atau besi tapi jadilah manusia yang berguna bagi nusa,bangsa,dan negara.

What can be taken by man who is missing knowladge. I take it with have good manners.

Youth is the time to from manners.

Perjalanan dan perjuangan haruslah melalui sebuah tulisan.
Penulis adalah peserta lomba essai Festival Sutan Setara IV, Mahasiswa Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati.

Essai: Mengingat Sejarah, Memupuk Spirit

Tidak ada komentar

Mengingat Sejarah, Memupuk Spirit


oleh: Zulyani Evi


Sebagian besar pemuda saat ini melupakan kewajiban morilnya untuk menulis. Penyebab hal ini salah satunya adalah karena menurunnya minat membaca buku. There’s no writing without reading, kalimat itu sering kali diucapkan pada seminar-seminar jurnalistik. Betul sekali, tanpa membaca buku kita tidak akan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Kita juga sulit membuka wawasan seraya mencari inspirasi dalam menulis. Dan yang terpenting kita tidak mempunyai dasar dalam menulis suatu permasalahan. Internet berperan besar dalam menurunnya budaya membaca buku ini. Kawula muda kini lebih memilih yang praktis seperti copy dan paste dari internet.

Teknologi lain juga hadir dengan segala fasilitasnya yang memanjakan kita seperti game, media sosial, chatting dan sebagainya. Pemakaian yang kurang bijak membuat penggunanya kecanduan sehingga berdampak buruk. Kini para pemuda stagnan dengan dunianya sendiri alias autis gadget. Tanpa kita sadari, semua hal itu menciptakan budaya baru yang tidak akan membuat maju bangsa ini.

Harus kita hayati, menulis menjadi sebuah kewajiban moril karena dahulu, kaum pergerakan bangsa Indonesia menulis untuk kemerdekaan bangsa. Mereka mengobarkan api semangat, bahkan mempersatukan bangsa lewat tulisan-tulisan mereka. Mereka menulis dengan diwarnai rasa patriotisme dan semangat berkebangsaan yang tinggi. Maka sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus meneruskan spirit mereka, menulis untuk membangun Indonesia.

Pepatah mengatakan, ‘historia vitae magistra’ yang artinya sejarah adalah guru kehidupan. Sejarah memiliki makna yang sangat penting dalam membangun jati diri bangsa. Apabila dikatakan bangsa ini kehilangan jati dirinya, maka salah satu penyebabnya karena sejarah mulai dilupakan dan dianggap tidak penting lagi. Makadari itu marilah kita tengok kembali ke belakang, mengulas sedikit sejarah bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaannya lewat tulisan. Guna memupuk kembali spirit yang telah hilang itu.

Apabila kita berbicara mengenai peran tulisan dalam membangun negeri ini, pastinya tidak akan jauh dari pers nasional. Yang dimaksud dengan pers nasional menurut L.Taufik ialah surat-surat kabar, majalah yang diterbitkan dan diperuntukkan terutama bagi bangsa Indonesia. Biasanya oleh kaum pergerakan nasional media ini digunakan sebagai lahan mereka untuk menunangkan ide-ide kebangsaan, persatuan yang mempunyai tujuan memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia di masa penjajahan. Pers ini diusahakan dan dimanfaatkan untuk membela kepentingan-kepentingan bangsa Indonesia (Taufik, L. 1977. Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia. Jakarta: PT. Prijanto, hal. 15-17).

Pers nasional merupakan bagian dari masyarakat yang berjuang mencapai kemerdekaan. Sehingga sangat perlu memahami sejarah pers nasional yang berangkat dari semangat persatuan, semangat ini adalah amanah yang harus dijaga sehingga mutu pers kita akan terus maju.

Selama tahun-tahun terakhir sebelum Perang Dunia kedua, ketika semakin banyak kaum muda terpelajar untuk memperkuat barisan gerakan kemerdekaan Indonesia, ada pula diantara mereka yang menerjunkan diri ke dunia pers. Dengan demikian kehadiran mereka dapat meningkatkan mutu pers nasional. Kehadiran mereka juga sebagai penuntun pembaca ke taraf berfikir yang lebih tinggi. Profesi sebagai wartawan pada saat itu bukanlah dari produk sekolah-sekolah kewartawanan, namun mereka hadir secara alamiah sesuai dengan tuntutan jaman. Apa yang dilakukan wartawan ternyata banyak mengundang dukungan dari masyarakat, terutama motivasi perjuangan yang menginginkan penindasan, penghisapan dan tekanan terhadap bangsa Indonesia segera berakhir. Pengaruh yang ditimbulkan besar sekali baik intern maupun ekstern. Pengaruh intern berarti tulisan-tulisan mereka mampu menyadarkan dan menimbulkan keberanian bangsa Indonesia untuk menentang penjajah. Pengaruh ekstern mempunyai pengertian bahwa wartawan Indonesia dengan tulisan-tulisannya berusaha mendapat simpati dari Negara lain agar Negara tersebut mendukung gagasan bangsa Indonesia untuk merdeka (Agus Darmanto. 1992. Usaha-usaha Kaum Pergerakan Kebangsaan Republik Indonesia dalam Menghadapi Persbreidel Ordonnantie Tahun 1931 – 1954, hal. 27 – 30).

Semangat menulis itu bukan hanya datang dari kaum muda, bahkan pemimpin nasional, tokoh-tokoh politikus di Indonesia selalu berkaitan dengan Pers Nasional. Seperti Soekarno, Hatta, H. Agoes Salim, Adam Malik dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka menjadikan pers nasional mempunyai andil yang lebih besar dalam perjuangan Bangsa Indonesia untuk menuju cita-cita kemerdekaan. Soekarno menjadi pemimpin redaksi dari penerbitan majalah Fikiran Ra’jat, koran Fikiran Ra’jat banyak dikenal orang sebagai koran yang selalu berpihak pada kepentingan Bangsa Indonesia pada waktu dijajah Belanda. Hatta menjadi penyumbang tulisan pada majalah Daulat Ra’jat dan Neratja, Amir Syarifudin duduk sebagai staf redaksi majalah Banteng dan Haji Agus Salim menjadi pemimpin redaksi Mestika. Tak jarang mereka keluar masuk penjara karena aktivitasnya dalam dunia pers

Salah satu surat kabar yang menjadi kompor berkembangnya pers nasional adalah Medan Priaji. Surat kabar pertama yang menggunakan bahasa melayu dan seluruh redaksinya adalah pribumi, berdiri pada tahun 1907 di bawah asuhan Raden Mas Tirtahadisoerja. Koran yang cukup berani menentang pemerintah kolonial, hal ini terlihat pada semboyannya; “Orgaan boeat bangsa yang terperentah di Hindia Olanda, tempat akan memboeka swaranja Anak Hindia” (Ahmadi, T. 1985. Rampai Sistim Pers Indonesia. Jakarta: PT. Panca Simpati, hal. 63). Setelah kemunculan koran ini, menyusul koran lain yang mempunyai karakter yang sama antara lain; De ekpers yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara dan Dr. Setiabudi, Soeara Oemoem yang dipimpin oleh Adam Malik dan koran Adil yang dipimpin oleh Harun Al Rashid.

Organisasi yang lahir sebagai tonggak kebangkitan nasional pun memiliki surat kabar guna menyebarluaskan ideologi dan semangat mereka. Budi Utomo menerbitkan Darmo Kondo, yang dalam perkembangannya menjadi surat kabar berbahasa Indonesia dengan nama Pawarta Oemoem sebagai pembawa suara Partai Indonesia Raya. Sarekat Islam Surakarta menerbitkan Sarotomo. Di Kota Solo juga terbit majalah Medan Moeslimin yang diasuh oleh Haji Miscbah dan M. Satro Siswojo. Sementara itu National Indiesche di Solo juga mendirikan surat kabar Panggoegah. Sedangkan Moehamadiyah mempunyai Soeara Moehammadijah dan Soeara Aisjiah (Agus Darmanto. 1992. Usaha-usaha Kaum Pergerakan Kebangsaan Republik Indonesia dalam Menghadapi Persbreidel Ordonnantie Tahun 1931 – 1954, hal. 32 – 35).

Pers nasional dengan segala kemampuannya berusaha mengutarakan fakta-fakta ketidakadilan dan kebenaran melalui rangkaian kata-kata ataupun lisan sehingga dari apa yang mereka lakukan akan menimbulkan jiwa patriot di kalangan bangsa Indonesia. Jiwa patriot inilah yang diperlukan dalam memperjuangkan nasib bangsa Indonesia (Anwar, Ahmadi. 1987. Perjuangan Sebagai Motivasi Wartawan Sebelum Proklamasi. Yogyakarta: Departemen Penerangan RI, hal. 3).

Alih-alih mencari keuntungan, pers nasional lahir dengan semangat perjuangan. Wartawan-wartawan saat itu bisa dikatakan pejuang, walaupun tidak angkat senjata namun mereka berjuang melalui kata-kata yang tersusun menjadi sebuah tulisan penyemangat. Sehingga terpupuklah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Setelah mengulas sedikit sejarah mengenai bagaimana tulisan dapat mempersatukan bangsa, sepantasnya hal itu dapat menjadi refleksi bagi kita semua. Peran tulisan dalam membangun Negeri sudah lama digalakkan oleh para kaum pergerakan. Sayangnya rasa seperti itu kini pudar. Tulisan-tulisan para generasi penerus seakan kehilangan ruhnya. Dengan mengingat kembali sejarah, mengulas sedikit yang telah berlalu, marilah kita pupuk lagi spirit yang pudar itu.

Padahal menulis adalah sarana pengembangan diri mahasiswa dengan dunia yang ditekuninya saat ini, yakni dunia keilmuan. Proses pengembangan diri melalui proses menulis akan menjadikan mahasiswa mampu mengembangkan pemikiran, intelektualitas, dan eksistensi dalam bidang keilmuan yang sedang dikaji secara mendalam sesuai bidangnya masing-masing(Rohmadi, Muhammad., Sri Nugraheni, Aninditya. 2011. Belajar Bahasa Indonesia: Upaya Terampil Berbicara dan Menulis Karya Ilmiah. Surakarta: Cakrawala Media. Hal 99). Apapun disiplin ilmunya, mempunyai kesadaran menulis itu sangat penting. Berlatih dan terus berlatih untuk menulis. Agar kita dapat mengabadikan gagasan kita. Menulislah untuk kepentingan rakyat dan bangunlah Negeri ini.
Penulis adalah peserta lomba Essai Festival Sutan Setara IV; dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

Cirebon yang Religius Butuh Perda Anti Mihol

Tidak ada komentar

OPINI


CIREBON YANG RELIGIUS, BUTUH PERDA ANTI MIHOL


Belum lama beberapa warga kota Cirebon yang tewas karena minuman keras yang dioplos dengan berbagai macam larutan kimia (sebut saja minyak anti nyamuk), kini Peraturan Daerah tentang Anti Miras di Kota Cirebon ‘diprotes’ oleh Menteri Dalam Negeri. Mungkin Perda tersebut merugikan negeri ini, dengan alasan mengurangi pajak bea cukai dan pajak industry Miras atau semacamnya, penulis merasa ‘gerah’ dengan kelakukan para elit bangsa yang terus-terusan mengutamakan isi perut negara ini yang jelas transparansinya masih ‘bobrok’ dengan berbagai macam kasus korupnya.

Di bulan yang dibilang; bulannya para buruh, pendidik, dan pemuda dengan kebangkitan nasionalnya. Penulis merasa perlu untuk menyampaikan sebaris surat terbuka untuk Kementerian Dalam Negeri. Ada berbagai macam alasan mengapa saya perlu menulis artikel ini, mulai dari masalah beban moral sebagai calon pendidik, kesehatan, kriminalitas, harga diri seorang pribumi yang terjajah dengan barang impornya, hingga naluri seorang pemuda yang selalu berpikir tentang kawan-kawannya yang telah terjerumus ke dalam ‘lubang hitam’ karena berawal dari Miras.

Awal mula dengan hadirnya Perda Anti Miras di kota Cirebon, penulis merasa senang. Sebab mulai sejak Perda tersebut berlaku, maka para pengecer Miras mulai mengalihkan dagangannya ke hal-hal yang lebih positif, secara berangsur-angsur tingkat kesadaran otak ‘peminum’ menjadi pulih. Angka kriminalitas dengan pengaruh alkohol agaknya berkurang, dan yang jelas kasus oplosan mungkin akan tidak separah dengan kejadian-kejadian yang telah berlalu.

Kejahatan pasti akan tetap ada, namun yang jelas pelaku kejahatan tidak akan lagi punya alasan karena ‘mabuk’ saat berhadapan di meja hijau nanti. Penulis meyakini, prosentase kejahatan akan berkurang jika dilihat dari trend penyebab kriminalitas karena kondisi mabuk alias tidak sadar nanti.

Miras Menjadi Obat Kuat Bagi Calon Amoral

Bukan seorang manusia jika menjadikan Miras sebagai obat kuat untuk melakukan berbagai macam ‘ritual’ kejahatan yang sangat mengkhawatirkan masyarakat. Belum lagi banyak ditemukan para pemuda yang berpesta seks, dengan diawali dengan Miras untuk sengaja menghilangkan ketakutan akan dosa, sengaja menghilangkan akal sehatnya, dan meningkatkan keberanian untuk berbuat sesuatu di luar batas kenormalan.

Miris memang, namun ini memang terjadi di lingkungan masyarakat yang ‘katanya’ modern dan berada di zaman millennium. Jika minuman keras selalu dikaitkan dengan larangan salah satu ajaran agama, mari coba untuk objektif dengan berpikir secara ilmiah. Mari kita survey bersama-sama dan lakukan penelitian selama lima tahun saja untuk membuktikan pengaruh minuman beralkohol di dalam kehidupan masyarakat.

Tentu pihak kepolisian, para Ulama, dan mereka yang bergelar sebagai dokter akan sependapat dengan penulis. Lantas apa yang membuat sebagian dari ‘kita’ justru menolak keberadaan Perda Anti Miras, yang justru akan menyelamatkan calon-calon orang yang bakal mati konyol dengan ‘oplosannya’ (lagi)?

Jika kita bandingkan secara sederhana, lebih baik mati membela tanah air dibandingkan membela hal-hal yang justru akan mencelakakan kita.

Lebih Memilih Uang, Dibandingkan Keselamatan dan Kesehatan  

Jika dipikir baik-baik. Agaknya pemerintah rugi, jika minuman keras impor itu dijadikan alasan untuk pendapatan dari pajak bead an cukai. Pasalnya, setiap barang impor yang masuk pasti harus dibeli dengan dollar dan yang jadi bunting adalah Bank Indonesia harus mengorbankan banyak devisa, bahkan harus ‘ngutang’ ke luar negeri. Akhirnya rakyat lagi yang terkena dampaknya, inflasi lagi.

Agaknya pemerintah harus ‘dipentung’ untuk segera disadarkan. Karena jika tidak kita yang mendorong, lalu siapa lagi?
Penulis: Santosa, dari Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Unswagati. Tulisan ini pernah dimuat di Koran Radar Cirebon halaman 4 pada Senin 12 Mei 2014.

Mapala Gunati Rayakan Anniversary ke-XIX

Tidak ada komentar
Cirebon - SetaraNews.com, Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Swadaya Gunung Djati (Mapala Gunati) rayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-19.

Perayaan ini sebagai bentuk syukur atas kebersamaan mereka selama 19 tahun dalam naungan Mapala Gunati. “Puji syukur kita terhadap kegiatan Mapala selama 19 tahun dengan kebersamaan ini ingin memperkenalkan lebih dalam lagi tentang Mapala Gunati.” ujar Ryan Gunawan selaku Ketua Umum Mapala Gunati, kepada SetaraNews kemarin siang (15/5).

Berbagai macam acara telah dipersiapkan untuk memeriahkan acara ini, seperti donor darah, lomba melukis tong sampah, panjat pinang, pameran foto, pameran hewan reptile, temu kangen, bersih sekretariat, bersih keraton dan ditutup dengan acara live musik pada malam harinya. Acara ini juga mengundang komunitas Mapala lainnya di wilayah III Cirebon. Lomba yang diadakan untuk sesama komunitas Mapala, dan juga untuk mahasiswa Unswagati.

Pameran reptil menjadi salah satu yang banyak menarik perhatian. Mapala Gunati bekerja sama dengan KRC (Komunitas Reptil Cirebon), KSR Unswagati, dan UKM Seni-Budaya untuk memeriahkan acara ini.

Ular menjadi objek yang sangat menarik perhatian baik mahasiswa, staf maupun dosen Unswagati. Ada berbagai macam jenis ular, bahkan ada jenis ular phyton dengan ukurang yang luar biasa besar. Acara ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Mapala Gunati.

Juru Kamera: Dinda Ayu Lestari

Kiblat Masjid Nurul Ilmi Unswagati Digeser

Tidak ada komentar

Kamis, 15 Mei 2014

Unswagati - SetaraNews.com, Ada yang berbeda dari Masjid Nurul Ilmi Universitas Swadaya Gunug Jati (Unswagati) saat ini. perbedaanya terletak dari arah kiblat masjid yang kini tak lagi menghadap barat. Kiblat Masjid Kampus I ini menyerong tajam dengan berkiblat ke arah barat laut.

Adalah pertimbangan dari Kementerian Agama Kota Cirebon yang membuat masjid ini menggeser kiblatnya. Kemarin, Kementerian Agama Kota Cirebon yang mengirim tim kalibrasi ukur arah kiblat menggeser kiblat masjid ini 294,1 derajat azimut kiblat.

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Ilmi, Selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap Masjid Nurul Ilmi itu pun, buru-buru menempel selotip hitam di karpet masjid agar mengganti batas jamaah, sekaligus menunjukan arah kiblat yang benar. Selain itu pembatas laki-laki dan perempuan pun ikut diserongkan.

DKM Nurul Ilmi juga menempel kertas pengumuman yang sedikit banyak tersebar di dinding masjid, hal ini untuk memberitahu jamaah Masjid agar tidak salah kiblat. Berikut isi pengumumannya :

Assalamualaikum Warahmatullah wabarakatuh. Kepada seluruh jamaah Masjid Nurul Ilmi Ubswagati. Sehubungan telah dilaksanakanya kalibrasi ukur arah kiblat oleh tim kalibrasi ukur arah kiblat Kementerian Agama Kota Cirebon yang dilaksanakan pada hari Selasa 13 Mei 2014, maka posisi arah kiblat mohon disesuaikan dengan petunjuk azimut kiblat tepatnya 294,1 derajat. Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Wasalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh. Ketua DKM Nurul Ilmi; DR .H. Saihul Anwar, Ir. M.Eng., MM.

Akan tetapi, segelintir jamaah saat SetaraNews melakukan pemantauan pada hari ini (14/5) masih ada yang salah menghadap kiblat. Beberapa juga mengaku kebingungan menyesuaikan kiblat baru tersebut.

“Bingung, harusnya jangan safnya yang digeser. Tapi masjidnya.” Ujar salah seorang mahasiswa yang ditanya seusai shalat Ashar berjamaah sore tadi.

Menuju AIPT, Unswagati Kerjasama dengan UiTM

Tidak ada komentar

Rabu, 14 Mei 2014

Cirebon - SetaraNews.com, Universitas Swadaya Gunung Jati pada kemarin (12/5)  mendapatkan kunjungan dari Universitas Teknologi Mara (UiTM) Kelantan Malaysia.

Kunjungan dalam rangka menjalin kerja sama antar dua universitas tersebut dan menjadikan Unswagati kampus AI-PT (Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi).

“Dengan peraturan yang terbaru Dinas Pendidikan Nasional tentang kerja sama No.26 tahun 2007 dimana dalam rangka AI-PT, sekarang yang di akreditasi bukan fakultasnya saja tetapi universitasnya juga harus terakreditasi.” ujar Baharudin Syahroni selaku Wakil Rektor IV Unswagati.

Pertemuan ini akan membahas tentang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang akan dibicarakan dengan Fakultas Ekonomi. Dalam rangka menuju AI-PT ini, Unswagati bekerja sama dengan Universitas-Universitas baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebelumnya Unswagati mendapatkan kunjungan perwakilan dari Universitas-universitas dari Australia seperti Deakin University, University of  Canberra, dan Holmesglen University untuk melakukan sosialisasi.

Unswagati juga telah melakukan kerja sama dengan salah satu universitas unggulan yang ada di Belanda dan Prancis. Sedangkan kerja sama di dalam negeri telah dilakukan dengan UNPAD dan ITB.

Rombongan dari Malaysia ini berjumlah 28 orang beserta mahasiswanya, setelah selesai acara pembahasan kerjasama antara Unswagati dengan Universitas Teknologi Mara, Rombongan pun melakukan kunjungan ke beberapa daerah di kota Cirebon salah satunya yaitu ke pusat batik tulis  di Trusmi.

Juru Kamera: Tuty Andriyani

Fakultas Teknik Unswagati Gelar Kuliah Umum Bersama Indocement

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Swadaya Gunung Djati mengadakan kuliah umum dengan tema Innovation Cement and Cocrete Technology pada hari ini (13/5) bersama Indocement.

Acara ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Unswagati bersama Indocement dalam road show ke berbagai Universitas di Indonesia untuk menyosialisasikan Indocement Awards 2014. Indocement awards ini sendiri ditujukan untuk terus berinovasi dan membuat terobosan sehingga dapat terus berkontribusi secara maksimal dalam pembangunan Bangsa Indonesia.

Dwi Sutriarga selaku tenaga Riset dari Indocement kepada SetaraNews mengatakan, "Selama ini riset (red: yang kami lakukan) dilakukan dengan instannsi dengan pihak yang terkait, boleh dibilang join riset. Berkaitan dengan aplikasi, produk ini tidak akan monoton, dan akan berkaitan dengan aplikasi yang lain." ujarnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa, "Indocement award ini arahnya ke inovasi, yang arahnya ke semua desain inovasi semen sehingga dapat dikreasikan dengan material yang  alami." tambahnya.

 

 

Inilah Persiapan Acara MoU Unswagati dengan UiTM

Tidak ada komentar

Senin, 12 Mei 2014




Unswagati - SetaraNews.com, Universitas Swadaya Gunung Djati saat ini sedang mempersiapkan acara untuk besok (12/5) yakni penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman kerjasama antara Unswagati dengan Universitas Teknologi Mara dari Malaysia.

Dari pantauan SetaraNews saat meliput di Aula Grawidyasabha Kampus Utama Unswagati malam ini (11/5), nampak sejumlah dekorasi mulai dipersiapkan dari mulai meja, soundsystem, dan berbagai perangkatnya.




Menurut salah satu panitia dari bagian perlengkapan Unswagati, "Acara penandatangan akan dimulai sekitar pukul: 13:00 WIB dan tamu undangan sekitar 100 kursi yang disediakan." ujarnya (11/5).

Kerjasama antar Universitas ini merupakan langkah Unswagati dalam menerapkan Undang-undang Pendidikan Tinggi nomor 12 tahun 2012, mengenai kerjasama internasional antar pendidikan tinggi seperti yang dijelaskan dalam pasal 50.



 

 

Inilah Hasil Rekapitulasi KPU Soal Pemilu Legislatif 2014

Tidak ada komentar

Minggu, 11 Mei 2014

Jakarta - SetaraNews.com, Inilah hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait perhitungan surat suara nasional pada pemilihan umum (Pemilu) beberapa waktu yang lalu.

Dikutip dari laman KPU.go.id pada hari ini (10/5), berikut adalah hasil rekapitulasi surat suara pemilu legislatif tahun 2014 di Indonesia;

  1. Partai Nasdem: 8.402.812 suara (6,72 persen)

  2. Partai Kebangkitan Bangsa: 11.298.957 suara (9,04 persen)

  3. Partai Keadilan Sejahtera: 8.480.204 suara (6,79 persen)

  4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan: 23.681.471 suara (18,95 persen)

  5. Partai Golongan Karya: 18.432.312 suara (14,75 persen)

  6. Partai Gerakan Indonesia Raya: 14.760.371 suara (11,81 persen)

  7. Partai Demokrat: 12.728.913 suara (10,19 persen)

  8. Partai Amanat Nasional: 9.481.621 suara (7,57 persen)

  9. Partai Persatuan Pembangunan: 8.157.488 suara (6,53 persen)

  10. Partai Hati Nurani Rakyat: 6.579.498 suara (5,26 persen)

  11. (14) Partai Bulan Bintang: 1.825.750 suara(1,46 persen)

  12. (15) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia: 1.143.094 suara (0,91 persen)


Dari hasil rekap tersebut, diketahui bahwa partai PDIP unggul diurutan pertama, disusul dengan Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB, PAN, PKS, Nasdem, PPP, dan Hanura. Sedangkan dua partai yakni Partai PBB dan PKPI ini dinyatakan tidak lolos dalam ambang batas parlemen.

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews