Responsive Ad Slot

Sistem Pendidikan Indonesia: Mencetak Generasi Pelayan (2)

Tidak ada komentar

Sabtu, 07 September 2013

Sekolah selama ini hanya menjadi pelayan kapitalisme


(Ivan Ilich)


Sekolah tidak mengembangkan semangat belajar, menanamkan kecintaan kepada ilmu, atau mengajarkan keadilan. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket demi memperoleh sertifikat - selembar bukti untuk mendapakan legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia..

Meminjam istilah Ignas Kleden(1988) semacam ‘klerikalisasi’. Istilah ini ingin menunjukan bahwa proses-proses pendidikan tidak mengarah pada pembentukan masyarakat terdidik yang dapat berperan secara produktif bagi perkembangan kehidupan peradaban bangsa, pendidikan lebih menjadi panggung penobatan gelar-gelar akademik. Pendidikan yang semestinya dapat membawa masyarakat untuk terus mentradisikan pola pikir yang jernih proporsional, dan mengedepankan nilai objektif, justru terjebak dalam simbolisme  gelar yang dangkal.

Sistem pendidikan saat ini lebih ke arah komersialisasi pendidikan, banyak sekali sekolah-sekolah unggulan baik yang berbasis negeri atau swasta mematok harga setinggi langit dengan alasan-alasan  yang beragam. Pendidikan menjadi komoditas yang ditawarkan kepada siswa (orang tua siswa) dengan berbagai variasi biaya. Pendidikan kategori “unggulan” biayanya tentu saja setinggi langit. Banyak sekolah unggulan mematok biaya pendidikan mahal. Mulai dari sumbangan pengembangan institusi yang besarnya jutaan rupiah, biaya seragam, biaya ekstrakulikuler, hingga buku teks wajib yang seharusnya tidak membebani orangtua siswa.

Bagi kalangan yang mempunyai ‘uang’ pas-pasan  tidak mampu untuk bersekolah di sekolah yang bertaraf unggulan atau sekolah yang memenuhi standar. Hanya karena biaya yang terlalu mahal, padahal sudah jelas bahwa seluruh masyarakat berhak mendapatkan pendidikan yang layak itu semua tercantum dalam UUD 1945, tetapi sayangnya itu semua hanya slogan.

Mereka yang tidak memiliki biaya cukup, bahkan sekolah semakin menjadi impian, dan akhirnya bagi  mereka yang  hanya memiliki kocek ala kadarnya, hanya bisa menikmati pendidikan yang ala kadarnya pula.

Ditambah lagi dengan peran media si ‘kotak ajaib’ itu yang terus menonton kan atau mencontohkan seorang pegawai di sebuah perusahaan atau instansi dengan kehidupan yang serba mewah dan mencukupi semua kebutuhan nya, pertunjukan dan pertontonan itu berhasil merasuk ke dalam sel-sel otak para pemuda sekarang.

Apa lagi dengan fenomena sosial yang setiap tahun nya kita jumpai pada saat menjelang hari raya idul fitri, banyak para perantau yang berhasil bekerja di kota pulang dengan membawa segudang kemewahan yang semakin mengarahkan para pemuda kita untuk merantau ke kota demi mendapatkan pekerjaan (pelayan bagi kapitalisme) itu semua menandakan bahwa di desa sudah tidak ada lagi lahan untuk mendapatkan penghasilan, yang seharusnya desa merupakan kekuatan ekonomi yang terus dikembangkan.

Pelayan bagi kapitalisme, kapitalis telah masuk ke dalam rongga-rongga lembaga pendidikan kita, sistem dirancang sedemikian rupa untuk kepentingan para kapitalis dengan beralih-alih untuk ‘mencerdaskan’, padahal golnya para peserta didik agar menjadi pelayan bagi mereka.

Bersekolah hanya untuk mendapatkan ijazah untuk kerja, kuliah di Universitas ternama untuk mendapatkan gelar tertentu, lagi-lagi untuk bekerja. Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaannya pun tidak mudah, dikarenakan persaingan yang ketat dan peluang kerja yang sangat sedikit, harus mempunyai keterampilan, kalau hanya sekedar mengandalkan gelar dan ijazah pasti ujung-ujungnya melanggengkan budaya ‘KKN’ yang terasa sudah mendarah daging bahkan mengurat nadi di negeri ini.

Padahal tidak sampai di sana, visi pendidikan kita. Seharusnya di sekolah atau di perguruan tinggi kita dididik untuk mempunyai moral yang baik, menumbuhkan kreatifitas dalam berinovasi, menanamkan budaya literasi, menghasilkan manusia yang tidak hanya mumpuni dalam konteks akademis, harus mumpuni juga dalam  bidang social sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang memanusiakan manusia. Bukan dicetak menjadi pelayan bagi kapitalisme.

 

Foto Ilustrasi : kamaldiegrosse.wordpress.com

Sistem Pendidikan Indonesia: Mencetak Generasi Pelayan (1)

Tidak ada komentar

Jumat, 06 September 2013

Sekolah selama ini hanya menjadi pelayan kapitalisme


(Ivan Ilich)


Selama ini kita terus  dihadapkan dengan berbagai kasus di dunia pendidikan kita yang semakin hari semakin mengkrenyutkan dahi, membuat dada sesak, bahkan membuat perut kita terasa mual ketika mendengar berbagai kasus di dunia pendidikan kita saat ini, diantara kasus itu antara lain korupsi dan sistem yang dinilai kalangan ahli masih ambigu.

Dinas pendidikan yaitu lembaga yang seharusnya bekerja keras untuk terwujudnya visi pendidikan yang terdapat UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa” justru sebaliknya membodohi bahkan memiskinkan bangsa.

Secara luas ‘pendidikan’ berarti mencetak peserta didik menjadi manusia yang bermoral dan beradab  yang bertujuan melakukan transformasi peradaban suatu bangsa. Dalam konteks ini pendidikan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian manusia dan sekaligus jati diri suatu bangsa. Sebab menurut Benjamin S Bloom, dengan pendidikan manusia mampu membangun diri, komunitas dan alam semesta. Dengan demikian pendidikan tidak lain adalah media pembentukan manusia seutuhnya (insal kamil), baik dalam hal peningkatan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun keterampilan (psikomotorik).

Tetapi, dengan mengaca pada realitas yang sering kita temui saat ini,  itu semua sangat bertolak belakang, pendidikan kita dari waktu ke waktu tidak semakin membaik dan optimal. Bahkan wajah pendidikan kita semakin karut-marut dan tidak tersambungkan dengan kenyataan kebutuhan rill masyarakat. Memang lembaga pendidikan kita yang dinamakan sekolah atau perguruan tinggi, setiap tahunnya menghasilkan banyak lulusan yang kemudian terserap banyak ke dalam dunia kerja. Namun mereka cukup pintar dan memiliki kemampuan yang berguna bagi bengkel-bengkel industri dan perusahaan menurut kepentingan ekonomi semata.

Apakah sedangkal itu visi dari pendidikan kita, capaian-capaian tersebut bukannya tidak penting, akan tetapi, terkadang, atau sering sekali kita alpha bahwa pendidikan tidak berhenti sampai di sana.

Pendidikan tak hanya sekedar mencetak peserta didik yang handal kognitif atau mekanik. Tetapi juga, pendidikan adalah media untuk mendorong peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berpikir, menggali potensi kreatifitas, mengasah sifat-sifat luhur  dan kepekaan sosialnya.

Ironisnya dalam kecakapan-kecakapan tersebut, dunia pendidikan kita semakin tergerus dan menghilang entah ke mana. Kemudian yang tampak akhir-akhir ini  boleh dibilang pendidikan yang praktis bahkan cenderung pragmatis.

Sistem pengajaran di sekolah-sekolah kita, cenderung mengarahkan siswa melihat sesamanya sebagai competitor. Setiap competitor, perlu dikalahkan, tidak peduli bagaimana caranya. Sikap seperti ini yang nantinya akan terbawa ketika peserta didik bersosialisasi dalam masyarakat luas: memandang siapa saja sebagai pesaing yang harus dikalahkan - sikap yang kerap kali dipertontonkan di panggung politik ataupun dalam dunia usaha-.

Dunia pendidikan Indonesia saat ini dikepung oleh berbagai hal yang membuatnya kurang menyasar titik mendasar yang sejati. Pendidikan di sekolah cenderung mengarah pada pola cepat saji, terlalu berkiblat pada kepentingan industri, dan kurang peduli menjawab kebutuhan masyarakat, terutama kelompok yang terpinggirkan.

Para guru terjebak dalam rutinitas kesibukan mengajar yang cenderung membelenggu kreatifitas dalam mengajar, sedang para pengurus ‘publik’ sulit menunjukan visi yang utuh dan mendasar dan sering memiliki pola pikir formal-birokratis.

Dunia pendidikan kita semakin tergerus oleh segelintir orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu yang bertujuan memperkaya diri sendiri tanpa memerdulikan nasib bangsa kita. Ironisnya, oknum-oknum tersebut banyak sekali dari kalangan kita, dari bangsa kita sendiri, mereka melahap dengan begitu  enaknya, yang sebenarnya mereka mengerti. Bahkan sangat mengerti dengan efek domino yang telah mereka buat, ‘tapi apalah daya apabila uang sudah merasuk kedalam dada’.

Dalam konteks yang lebih luas, mungkin akan terasa menarik jika kita mengundang seorang tokoh yang terkenal lantang dalam mengkritik institusi sekolah,  yang terkenal dengan karyanya berjudul Sechooling Society(1971)yakni Ivan Illich (1926-2002). Illich menyatakan bahwa sekolah selama ini hanya menciptakan pelayan bagi kapitalisme.

 

Foto Ilustrasi : wilycahyadi.com

Ini Dia Informasi Pembukaan Lowongan CPNS Terbaru

Tidak ada komentar
Jakarta - SetaraNews.com, Pemerintah Republik Indonesia pada tahun ini (2014) melakukan pembukaan lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil secara besar-besaran, dari berbagai kementerian dan lembaga negara.

Berikut SetaraNews rangkum beberapa informasi seputar pembukaan lowongan CPNS yang kami kutip melalui situs resmi setkab.go.id, pada Kamis (5/9), sebagai berikut:

  1. Kementerian PU Buka Lowongan 200 CPNS

  2. Otoritas Jasa Keuangan Buka Lowongan 500 Pegawai

  3. Penerimaan CPNS 2013: Ada Jatah 140 Formasi untuk Atlet, dan 100 Formasi untuk Warga Papua

  4. Kementerian Keuangan Rekrut 2.909 CPNS Jalur Umum

  5. Digaji Rp 2,7 Juta, Pemerintah Buka Pendaftaran Bidan PTT Terhitung Mulai Tanggal 1 Oktober

  6. Pendaftaran 1-20 September, Pemprov DKI Buka Lowongan 1.515 CPNS

  7. Inilah Hal Yang Harus Dilakukan Bagi Peminat Seleksi Penerimaan CPNS

  8. Seleksi CPNS 2013: BKN Minta Daftar Peserta Diserahkan Paling Lambat 7 Oktober

  9. Kementerian Perdagangan Buka Lowongan 229 CPNS

  10. Kemlu Buka Lowongan CPNS untuk Pejabat Diplomat Dinas Luar Negeri


Mengenai proses rekrutmen ini, pemerintah melalui Sekretaris Kabinet menjamin bahwa proses rekrutmen ini akan berjalan secara jujur, karena telah akan menggunakan seleksi secara ketat. Seperti dengan mengadakan seleksi dengan metode Computer Assisted Test (CAT) dalam seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2013 ini.

“Panitia Seleksi Nasional Pengadaan(Panselnas) CPNS telah menjalin kerjasama dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) yang membantu proses pengamanan sistem teknologinya. Lemsaneg akan mem-protect supaya soal-soal pada sistem CAT tidak bocor. Dijamin seratus persen aman,” kata Sekretaris Kementerian PAN-RB Tasdik Kinanto di Jakarta, Senin (19/8) lalu melalui situs setkab.go.id.

 

Sertijab Pemimpin Umum LPM Setara Yang Baru

Tidak ada komentar

Senin, 02 September 2013

Unswagati Cirebon - SetaraNews.com, Lembaga Pers Mahasiswa Setara mengadakan acara serah terima jabatan pemimpin umum baru, sekitar pukul 16.00 WIB yang dilaksanakan di gedung Fakultas Ekonomi lantai dua pada hari Minggu (01/09).

Dalam acara tersebut  Pemimpin Umum lama LPM Setara yang juga merupakan pendiri LPM Setara mengharapkan adanya kebersamaan dan kekompakan dalam setiap anggota, hal ini juga di sampaikan dalam sambutannya

“Jadikanlah LPM Setara menjadi rumah juga keluarga kedua (kalian). Nikmati prosesnya dengan baik, karena pendidikan sejati terletak pada adopsi proses yang kita lalui dan kelak menentukan seperti apa kita, kampus dan bangsa ini ke depan. Kita bisa memilih menjadi pemenang dengan menawarkan gagasan kebaikan, atau memilih jadi pecundang dengan selalu mengutuk keadaan”ujarnya.

“Selamat untuk pemimpin umum baru, tetaplah menjadi inovator bukan provokator. Sampai berjumpa menjadi pemimpin di masa depan yang harus lebih baik. ” ujar Kurniawan T Arief yang juga masih merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian dan saat ini telah bergabung menjadi kru di salah satu media massa nasional.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh puluhan anggota LPM Setara. Dalam acara tersebut juga dihadiri para pendiri LPM Setara lainnya diantaranya Rangga Aji Juang Sukmadiningrat, Morhara Hotlan Tambunan, dan Kahardiman.

Adapun sebagai  Pemimpin Umum baru yaitu saudara Santosa dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dengan tegas menyatakan bahwa sudah seharusnya LPM Setara bangkit dan maju, ”Marilah kita bangun LPM Setara menjadi lebih besar, berkembang, kuat, mencerdaskan, dan merawat Indonesia. Membiasakan kebenaran bukan membenarkan kebiasaan. Kita mulai menebar keoptimisan Indonesia dari sini bersama-sama. ”Ujar Santosa.

(Ali Fikri)
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews