Responsive Ad Slot

Makin Banyak Mahasiswa Pehobies

Tidak ada komentar

Selasa, 29 Mei 2012

Oleh: Dede W.

Mahasiswa hari ini, dimanapun cenderung untuk mewarnai aktifitas keseharian mereka dengan kegiatan-kegiatan bersifat rekreatif dan kurang guna. Semakin banyaknya mahasiswa pehobies  ini dapat disamakan sebagai penyakit, virus endemik atau borok yang akan menyebar ke banyak mahasiswa lainnya apabila dibiarkan. Orientasi atau sebut saja motivasi mahasiswa pehobies macam ini, selalu tidak jauh dari tiga hal yaitu eksistensi diri, pemuasan diri dan gaya hidup. Seringkali aktifitas mahasiswa pehobies tersebut mendasarkan pada beberapa dalih yang bagi mereka cukup rasional dijadikan pembenar bagi aktifitas mereka. Mereka pun hobi mengucapkan kata ‘Proses’, ‘Eksplorasi Diri’,  ‘Tahap Belajar’ hingga kata-kata lainnya yang sebenarnya bagi mereka cukup asing dan rumit untuk dimengerti makna substansinya.

Keberadaan UKM-UKM  yang cenderung melakukan kegiatan rekreatif bagi mahasiswa dalam rekaman sejarah diciptakan ketika era Orde Baru pada tahun 1985. Dimana UKM maupun organisasi mahasiswa yang lebih bersifat rekreatif adalah bentuk representasi rezim Suharto kala itu untuk meng-akali aktifitas mahasiswa di kampus-kampus agar tak lagi sibuk mengurusi/memprotes perubahan social , politik dan budaya yang cukup menggangu jalannya kekuasaan. Pada tahun 1978 pemerintah dengan Menteri Pendidikan kala itu Daoed Jusuf mengeluarkan SK tentang pelarangan adanya DM (Dewan Mahasiswa) di seluruh kampus se Indonesia dan berganti menjadi Senat atau yang kita kenal saat ini sebagai BEM, dengan membentuk badan/lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan memantau segala aktifitas mahasiswa di setiap kampus agar tidak lagi meneror kekuasaan kala itu, yang hingga saat ini kita kenal dengan sebutan Pembantu/Wakil Rektor III. Dimana segala acara kegiatan dan aktifitas mahasiswa harus melalui sepengetahuan, seijin dan sepengawasan pembantu/wakil Rektor III. Dengan dalih pemerintah kala itu, agar kegiatan mahasiswa lebih terarah dan terakomodir padahal sesungguhnya itu adalah sebagai metode pemerintah untuk dapat membatasi dan menekan ruang gerak mahasiswa.

Namun, sejak tahun 1978 hingga 34 tahun kemudian tepatnya 2012, kondisi kultur dan kehidupan kampus di Indonesia sudah sangat jauh berbeda. Baik kualitas maupun kuantitas. Apabila dahulu (sebelum dan di tahun 1974) belum banyak kampus-kampus berdiri dengan jumlah yang sangat terbatas, namun kini dengan banyaknya jumlah kampus di seluruh daerah di Indonesia (ibarat jamur yang mekar di musim hujan) tidak sedikit putra-putri bangsa yang tidak dapat menikmati jenjang perkuliahan karena ketiadaan biaya. Ditambah dengan kualitas mahasiswanya yang sudah terkontaminasi virus penyakit dan indikasi keracunan akut berbagai rutinitas, kebiasaan hingga kebudayaan yang lazim kita temui sehari-hari dengan sebutan budaya hedonisme dan budaya pop akhirnya menghasilkan mahasiswa yang pandai bermarturbasi dalam aktifitas rekreatif mereka seringkali dijadikan dalih antara lain music, fotografi, sastra, otomotif dll yang akhirnya dapat  menjadikan diri mereka tersebut makhluk eksis millennium (Saras 008 dan Panji Milenium?)

Terlihat sarkas saya menggambarkan mahasiswa pehobies semacam tadi, namun ya itulah realita yang sedang terjadi. Sekalipun pahit untuk kita ketahui, namun itulah faktanya. Berapa banyak lagi mahasiswa onani yang akan menjadi racun dalam kehidupan di kampus-kampus? Mahasiswa semacam itu harus kita obati (ayo ramai-ramai kita bawa ke ahli kejiwaan). Kegiatan mereka yang lebih bersifat rekreatif dan cenderung autis harus diminimalisir (tidak berarti dilarang). Ditambah lagi dengan perubahan metoda kurikulum dalam pendidikan di perguruan tinggi yang memaksa mahasiswa tekun dan giat dalam lomba menyalin berbagai artikel, tulisan orang lain dari internet untuk mereka jadikan tugas makalah/paper (modal pintar: Mbah google) dan di print mengatasnamakan nama mereka? Apakah hal ini tidak membuat kita para mahasiswa semakin cepat menjadi robot bersyahwat? Bukankah rutinitas semacam itu tak membentuk calon-calon koruptor di masa depan dengan adanya ‘mata kuliah’ (yang dilakukan di sepanjang semester) Plagiatisme?

Banyaknya mahasiswa pehobies yang menjalankan aktifitas rekreatifnya, seringkali menjadi manusia Galau yang akan menjadi distorsi peradaban (baca: mahasiswa beronani) dan menggangu kehidupan dan keberlangsungan pendidikan dalam mencapai fungsinya. Terakhir, saya mengajak setiap orang yang membaca artikel ini untuk beramal (amal bukan hanya di masjid atau di lampu merah) dengan memperbanyak lembar tulisan ini dan memberikan kepada sahabat, saudara, teman kita yang saat ini perlu kita tolong sebelum mereka benar-benar menjadi robot yang bersyahwat.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews