Responsive Ad Slot

Buku : Wanita dan Media Massa

Tidak ada komentar

Jumat, 11 Mei 2012

Buku berjudul Wanita & Media Massa ini menjelaskan ketertarikan penulis tentang citra wanita dalam iklan di televisi yang menjadikan wanita sebagai  pelengkap the second class.


Stereotip wanita digambarkan sebagai mahluk lemah emosional,melakukan peran domestik  inferior dari pria dan selalu mengalah terhadap pria. Wacana kultural ini mampu bertahan  lama di masyarakat sebagai akibat dari proses sosialisasi di masyarakat. Salah satu agen sosialisasi tersebut adalah televisi yang memiliki peran stategis sebagai agent of change. Menu acara yang kuantitatif yang padat dengan pesan pesan iklan (sponsor) yang semakin menyudutkan wanita.

Buku ini berupaya menemukan mainstream pencintraan wanita yang selalu  menjadi objek produk yang  tidak hanya untuk menjadi bintang iklan yang sesuai kebutuhan wanita. Bahkan menjadi objek iklan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan wanita. Dan dalam jenis iklan yang menawarkan kebutuhan rumah tangga selalu menampilkan wanita sebagai objek, bahkan menjadi single player. Hal ini menarik karena kebutuhan rumah tangga tidak hanya monopoli kebutuhan wanita tetapi kebutuhan dasar setiap orang baik wanita maupun pria.


Dari fakta tersebut buku ini menjelaskan bahwa citra wanita sebagai  pilar rumah tangga. Wanita dijadikan sentral sebagai karakter bintang yang super mom, serba bisa menjadi ibu dan istri. Dan citra wanita yang sebagai pesolek. Citra ini terlihat dari iklan yang mengharuskan wanita tampil sempurna setiap saat. Seperti wanita sedih jika tidak bisa tampil sempurna, dan selalu ingin jadi pusat perhatian dan menjadi berperilaku konsumtif. Dan citra pada iklan terlihat sebagai sosok yang memikat, dengan cara berjalan tak sewajarnya dan cenderung berlebihan. Wanita akan merasa bangga dan puas jika memiliki badan yang langsing, bibir dan mata indah, rambut bagus sehingga pria selalu memperhatikannya.


Dengan gamblang buku ini mengatakan iklan di televisi menganut ekonomi kapitalis yang pro status Quo yang yang diwarnai dengan male dominated culture. Dan menjelaskan bahwa tujuan dasar iklan adalah menjual produk dan ada kepentingan ekonomis  dan iklan ditelevisi banyak mengekploitasi kaum wanita untuk kepentingan ekonomi kapitalis. Dan penulis menjelaskan bahwa fenomena kultural tentang penguatan stereotip adalah menumpang pada ideologi utama yang dijadikan panutan.



Judul                : Wanita dan Media Massa

Pengarang        : Hj. Siti Sholihati, MA

Penerbit           : Teras

Tahun             : 2007


Buku ini menjelaskan fenomena yang ada pada dunia periklanan indonesia, dan mengajarkan pada wanita bahwa mereka bukan hanya bisa berkutat pada ranah domestik saja dan menghilangkan stereotip tradisional yang sebagai pemuja pria.

Oleh Anisa Hakim

Cirebon Panas, Unswagati Perlu Pohon

Tidak ada komentar

Kamis, 10 Mei 2012

Cirebon (Setara News) - Sebagai mahluk yang tinggal di bumi, sudah pasti kita merasakan perubahan suhu pada bumi kita ini yang akhirnya akrab kita sebut dengan sebutan Global Warming atau Pemanasan Global.

Apa Pemanasan global itu? Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu bumi secara menyeluruh yang mengakibatkan melelehnya es di kutub utara dan selatan sehingga menyebabkan naiknya permukaan air laut. Banyak factor yang menyebabkan terjadinya Pemanasan Global diantaranya penggunaan peralatan rumah tangga yang tidak ramah lingkungan seperti, AC (Air Conditioner), polusi udara dari kendaraan bermotor dan limbah Industrialisasi serta berkurangnya hutan sebagai paru-paru dunia untuk menghasilkan udara bersih dan sejuk.

Jika dibiarkan terus-menerus, perlahan tapi pasti bumi akan semakin panas dan jika kemungkinan buruk itu terjadi Lalu, masih pantaskah bumi dijadikan sebagai tempat bepijak bagi seluruh mahluk hidup? Jika tidak, adakah planet lain yang mampu memberikan kehidupan layaknya seperti kehidupan di bumi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering terlintas di pikiran kita.

Membutuhkan Pertolongan

Secara tidak sadar, kerusakan bumi merupakan akibat dari kelalaian dan kecerobohan manusia itu sendiri. Banyak diantara kita yang tega menggunduli hutan tanpa ada niatan untuk mengganti dengan pohon-pohon yang baru, eksploitasi besar-besaran sering dilakukan manusia tanpa memikirkan kelangsungan hidup bumi.

Anda tahu usia bumi kita berapa ? menurut sebuah sumber, usia bumi kita yaitu sekitar 4,6 Miliar Tahun, Wow ! Kebayang kan setua apa bumi kita ini? Mungkin benar kalau bumi kita sudah tua bahkan sangat tua dan mudah rapuh apalagi apabila kita yang termasuk mahluk hidup di dalamnya tidak bisa menjaga dan melestarikannya. Sebagai mahluk yang di bekali hati dan pikiran sudah seharusnya manusia dapat menjaga kelestarian bumi demi kelangsungan hidup seluruh mahluk yang ada di bumi. Kesadaran yang tinggi sangat diperlukan agar didalam setiap masing-masing individu tumbuh rasa cinta terhadap bumi sehingga ia enggan untuk melakukan pengrusakan pada planet ke-3 dari jajaran tata surya.

Di permukaan bumi segala aktifitas mahluk hidup berlangsung, semua kehidupan mereka bergantung kepada bumi tempat yang saat ini masih merupakan tempat yang tepat dan nyaman untuk semua mahluk hidup. Memberikan penghargaan kepada bumi kita merupakan langkah yang tepat untuk menjaga kelangsungan hidup bumi dan termasuk seluruh mahluk hidup yang berada didalamnya.

Kampus Unswagati

Tidak perlu berpikir ke ruang lingkup yang lebih luas contoh sederhana dan nyata adaqlah misalnya di lingkungan kampus kita yang hampir setiap hari kita berkutat disana. Kita bisa menilai adakah ruang hijau dikampus yang bisa melindungi mahasiswa dari teriknya matahari dan memberikan angin segar untuk para mahasiswa dalam menjalankan aktifitas kekampusannya.

Keberadaan ruang hijau di;ingkungan kampus itu sendiri cukup penting untuk menjaga keasrian kampus, dan untuk menciptakan udara yang bersih dan bebas polusi seperti yang diharapkan oleh Kris Herwandi Mahasiswa Ilmu Komunikasi “Penting Mba, kemaren rekomendasiin ko ke FISIP tapi iyaa itu. Ntar-ntar aja” itulah jawabannya ketika tim LPMS menanyakan tentang arti pentingnya ruang hijau dikampus

“tanaman-tanaman yang ditembok-tembok aja ngga ada”tambahnya.

Pembangunan gedung-gedung perkuliahan Unswagati tidak diimbangi dengan pengadaan ruang hijau yang sebenarnya tidak kalah penting dari gedung perkuliahan. Bahkan pembangunan gedung perkuliahan itu seringkali malah merusak atau menghilangkan ruang hijau “dulunya kan sebelum dibangun Kampus 3 itu banyak pohon, tapi karena pembangunan Kampus 3 terpaksa pohon-pohon itu ditebang. Tidak salah sih, Cuma akan lebih baik jika kita menanam ulang bibit-bibit pohon baru sebagai pohon pengganti” tutur salah seorang Dosen Ilmu Komunikasi, Tajudin Faza S.Sos.

Keberadaan ruang hijau di kampus sebenarnya merupakan harapan bagi para Mahasiswa dan seluruh Stakeholder yang ada di Unswagati. Mengingat, masih kurang banyaknya pepohonan yang mampu menciptakan berbagai manfaat antara lain estetika , kesehatan dan yang terpenting dapat menjadi ikon kampus dalam mendukung gerakan cinta lingkungan.

Reporter : Yunita Irina H

Editor : Kurniawan T Arief

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews