Excuse-Moi, Indonesia!

Oleh : M. Khoirul Anwar KH Setiap kali membincang Indonesia, entah kenapa, ingatan saya senantiasa tertuju pada Margareta Astaman. Bukan pad...

Oleh : M. Khoirul Anwar KH

Setiap kali membincang Indonesia, entah kenapa, ingatan saya senantiasa tertuju pada Margareta Astaman. Bukan pada Ir. Soekarno, Mohamad Hatta, Sutan Sjahrir, M. Yamin, Tan Malaka, Semaun maupun bapak pendiri republik yang lainnya.

Margie, begitu sebutan akrab dara manis itu, adalah seorang gadis Indonesia-Tionghoa yang pernah menimba ilmu di Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Ia lahir dan hidup dengan jiwa, pikiran dan habitus orang Indonesia. Meski secara fisik mungkin tidak. Sejak dari pergaulannya yang intensif dengan warga Singapura itulah, Margie dihadapkan pada dilema rasial-kebangsaan yang berkepanjangan. Dilema antara mempertahankan menjadi Indonesia, atau justru berpura-pura –meski sangat enggan- terpaksa menjadi China.

Ini bisa kita jumpai di salah satu buku “curhat” terbarunya, Excuse-Moi[1] (Penerbit Buku Kompas, 2011). Buku dengan kemasan teen-lit yang menukik dan menggelitik ini benar-benar menggedor-gedor kepala saya selama beberapa hari. Lantaran, kita dapat melihat betapa Nasionalisme yang tak dipahami dengan khidmat itu sesungguhnya menyimpan trauma sosial dan katarsis identifikasi. Nasionalisme kerap membuat kita buta dan tuli.

Membaca buku Excuse-Moi, saya tertawa, tersedu sekaligus malu. Bagaimana tidak? Dengan entengnya Margie “menelanjangi” semua ambiguitas kita sebagai ras, bangsa, negara dan lebih jauh lagi sebagai manusia. Margie dengan santai mengudar (hampir) semua hal yang kita anggap tabu selama ini. Baginya yang tabu tidak untuk disembunyikan, tapi untuk ditafakuri agar nantinya dapat tercipta alternatif-alternatif baru dalam memandangnya. Karena sejatinya, tak ada satupun rumusan yang baku dan permanen di dunia ini. Termasuk rumusan mengenai ras, kebangsaan dan agama.

Salah satu hal ultrasensitif yang kental dikuliti Margie adalah masalah ras atau etnisitas. Bagi Margie, klasifikasi tentang ras hanya berpotensi menimbulkan kekacauan paradigma berpikir kita dalam melihat dan mengidentifikasi jati diri seseorang. Di samping sudah jadul dan tak relevan, pembahasan ras, diakui atau tidak, tak dapat membuahkan nilai positif apapun.

Karena jati diri, ekspektasi dan naluri manusia sudah cukup dilacak dari koordinat geografik di mana si manusia itu berada. Meskipun rasnya -maaf- China, jika tinggalnya di Indonesia, tentu akan memiliki kecenderungan berpikir, sense dan adati seperti halnya pribumi Indonesia. Bahkan, Margie dengan terang-terangan menolak ketika sang ibu mengajaknya untuk tinggal kembali di bumi leluhurnya. Jangankan tinggal di bumi nenek moyang, untuk sekadar menyukai makanan khas China maupun tradisi Barongsai-nya pun ia enggan. Ia lebih mememilih Indonesia sebagai rumah tanah tumpah darahnya.

Dan sungguh, masih banyak Margie-Margie lain yang bertebaran di sekeliling kita. Mereka-mereka yang meskipun secara biologis berdarah Tionghoa, tapi tak mampu berbahasa Hokkian, tak sanggup menikmati lagu Mandarin dan menganggap China sebagai negeri asing. Lantaran jauh di pedalaman nuraninya telah tertancap sang Saka dan butir-butir bait Pancasila. Indonesia telah mengurat-menadi di sekujur aliran darah dan jiwanya.

Meski ternyata perjalanan untuk menjadi Indonesia tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi untuk konteks masyarakat Tionghoa sebagai pendatang. Kita tentu ingat bagaimana dulu Pramoedya Ananta Toer pernah dijeruji besi hanya lantaran menulis Hoakiu Indonesia –esai panjang yang berisi pembelaan terhadap minoritas Tionghoa. Pram dituduh berkhianat dengan cara menjual negara ke RRC. Ketika itu Menteri Luar Negeri Soebandrio sedang bermusuhan dengan RRC. Ide buku itu berangkat dari penindasan terhadap warga Tionghoa lantaran lahirnya PP No. 10 tahun 1958 yang berisi pelarangan warga Tionghoa berdagang di desa-desa.

Kita juga mafhum, betapa dulu Sang Demonstran Soe Hok Gie lebih memilih masuk LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) daripada harus masuk pada organisasi yang kental mengusung ras dan agama sebagai tema utamanya. Padahal salah satu program unggulan LPKB adalah dengan menggalakan asimilasi kawin-campur. Terkait dengan hal ini, almarhum sejarawan sekaligus salah seorang penanda tangan manifesto LPKB, Ong Hok Ham, berkomentar: Gie adalah tipe manusia eternal oppositionist yang tak tahan berhadapan dengan estabilishment.[2] Dari sini bisa dilihat betapa semangat Nasionalisme telah merasuki sekujur pikiran Gie mengalahkan identitas-ego-rasialnya. Tapi toh tetap, Gie senantiasa mendapat teror dan sinisme dari mereka yang mengaku pribumi Indonesia.

Memang tak dipungkiri angin segar reformasi telah membawa perubahan signifikan bagi semua ketimpangan itu. Apalagi sejak republik ini diampu oleh kyai multikultur almarhum Abdurrahman Wahid. Banyak perombakan radikal yang melabrak pasal-pasal yang mendeskriditkan warga Tionghoa. Dari segi legal formal, kita memang telah banyak berubah. Tapi perubahan ini belum meresap ke sikap moral dan mental. Trauma itu seperti tak mau hilang dari dalam bawah sadar kita. Trauma yang menyekat-nyekat ruang pikir kita bahwa “saya” dan “anda” berbeda. Ada semacam phobia turunan yang selalu menancapkan kuda-kuda pertahanan diri (self-defense) tiap kali berhadapan dengan orang yang bukan bagian dari kita (the others).

Gundah inilah yang juga dirasakan oleh Margie sepanjang pertautannya dengan masyarakat pribumi. Saya sampai menangis ketika Margie minta pengertian: terimalah kami sebagai bagian masyarakat secara utuh. Sungguh kami telah memilih untuk berada di sini (hlm: 41). Margie menginginkan kita cukup melebur jadi satu ras saja: ras Indonesia. Tapi saya lebih dari itu, marilah kita melebur hanya dalam satu ras saja: ras manusia.

Begitu juga, nasionalisme seturut Margie sangat realistis dan segar –betapapun ia kerap dikecewakan oleh kata itu. Nasionalisme bukan sekadar upacara bendera secara rutin, hormat pada sang saka maupun menghapal secara mentah bait-bait Pancasila. Tapi lebih dari itu, rasa cinta yang kelewat sangat pada bangsanya hingga ia tak mampu mendefenisikannya dengan kata-kata. Nasionalisme tak senantiasa sejalan dengan rasionalisme, katanya (hlm: 25).

* * *

Kenapa saya berpanjang lebar menjadikan Margie sebagai cerminan? Karena saya yakin, mengutip Mohammad Iqbal, karakter adalah kekuatan tak terlihat yang menentukan nasib suatu bangsa. Dan karakter yang kuat mustahil ada dalam kelompok mayoritas. Karakter adalah kekuatan. Semakin banyak ia dibagikan, semakin lemahlah ia. Margie, seturut saya adalah alegori dari kekuatan itu. Bukan saya, anda maupun kita. Tapi mereka. Saudara kita etnis Tionghoa.

Dan saya buktikan sendiri kebenaran pernyataan itu. Berbulan-bulan saya coba hidup di tengah-tengah komunitas Tionghoa, bergumul dengan tradisi yang meliputinya dan coba melepaskan semua syak-wasangka (praduga) saya selama ini. Hasilnya, saya sungguh malu menjadi pribumi Indonesia. Saya justru banyak belajar ke-Indonesia-an pada mereka yang “bukan asli” Indonesia. Kita perlu belajar tentang Indonesia pada Margie!

Tapi bukan latar belakang maupun figur Margie itu sendiri yang penting. Melainkan, substansi  dan posisi simbolisnya. Darinya-lah saya mendapatkan spirit dan elan vital tentang menjadi Indonesia yang sebenarnya. Indonesia yang dilihat dari kacamata minoritas nan tertindas. Nasionalisme yang bergerak dengan lajur yang tak umum, tak tertib, riuh, dan problematik. Margie adalah personifikasi manusia adab milenium yang kerap mengunyah sakitnya memahami tentang apa arti Nasionalisme. Apa arti menjadi Indonesia.

Seperti pribahasa usang yang berkata: banyak jalan menuju Roma, saya juga percaya, jalan untuk memahami dan menjadi Indonesia tak hanya satu dan seragam. Jika jalan yang harus saya tempuh justru harus menjadi “orang lain” dulu sebelum menjadi Indonesia, kenapa tidak? Bukankah, kadang kita perlu mengambil jarak dulu untuk bisa mengenali dengan jernih dan objektif seseorang yang sedang kita cintai?

Maka jika Tetralogi Laskar Pelangi telah berhasil membuka mata berjuta-juta rakyat Indonesia tentang musykilnya pendidikan di pelosok-pelosok daerah, bolehlah jika Excuse-Moi ini saya katakan telah berhasil menyibak hati juga pikiran saya dan teman-teman tentang bagaimana menjadi Indonesia yang sesungguhnya. Saking gandrungnya pada buku ini, saya mewajibkan pada teman-teman diskusi di fakultas untuk menjadikannya sebagai buku wajib memahami Indonesia dan Nasionalisme. Bahkan kami menahbiskan diri sebagai komunitas Excuse-Moi. Ini mungkin lebay, tapi begitulah adanya.

Apapun itu, dari semua hal segar yang Margie suntikkan pada kesadaran batin masyarakat Indonesia ini, saya masih mengendus secuil ganjalan. Yaitu: Margie lupa nasionaliseme yang hanya berdasar pada batasan teritori belaka hanya akan menyeragamkan kita pada satu titik yang menjenuhkan. Nasionalisme yang terjebak pada frase “Tunggal” dan kurang memaknai ke“Bhineka”an.

Kita masih harus menghayati kredo Bhineka Tunggal Ika. Kita masih perlu Jawa yang melahirkan Borobudur. Kita perlu Bali dengan Kecaknya. Riau dengan Zapinnya. Aceh dengan Seudati. Atau “China” dengan Barongsainya, yang dari semua itu kita mampu melihat bianglala budaya dari seluruh penjuru Nusantara. Kita masih butuh “ras(isme)” –dengan konotasi positif.  Jadi biarlah kita berbeda. Berbeda yang sehat tentunya. Mengutip kata seorang penulis: Indonesia pasti lebih indah jika kaum (maaf) peranakan maupun kaum pribumi dapat duduk di satu meja makan, menyantap hidangan dengan porsi yang sama, sambil bersenda gurau memakai bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Bukankah, beda itu sexy?

Oleh karena itu, izinkanlah saya berucap, dengan nada sedikit bercanda: Excuse-Moi, Margie! Excuse-Moi Indonesia!

Judul Buku   : Excuse-Moi

Penulis         : Margareta Astaman

Penerbit       : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit :  Januari 2011.

 






[1] Kata Excuse-Moi adalah “asimilasi” antara bahasa Inggris dan China yang berarti: permisi. Ini adalah “permainan” kata yang dipakai oleh Margareta untuk judul bukunya. Karena dia menganggap tema yang akan diusung dalam bukunya begitu sensitif, maka ia memakai kata Permisi untuk mengawalinya.

[2] Di sini Gie dinilai kurang menghargai pluralitas kultur yang menjunjung akan pentingnya keberagaman etnis, termasuk etnis Tionghoa. Saat itu ada salah satu organisasi Tionghoa yang menjadi “rival ideologis” LPKB, yaitu Baperki. Pada intinya Baperki tetap menganggap penting sebuah keberagaman etnik. Bahkan mereka berpendapat biarlah komunitas Tionghoa menjadi entitas etnis tersendiri yang menyamai etnis Jawa, Sunda, dan lain sebagainya. Untuk mengulik ulasan lebih mendalam kenapa Gie lebih memilih LPKB, bisa dibaca pada pengantar Daniel Dhakidae untuk buku Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, cet ke-8).

 

M. Khoirul Anwar KH

Opini resensi ini saya tulis pula di Blog : http://khoirul-anwar23.blogspot.com

 

 

COMMENTS

Nama

#berbagitips,1,#Berita,2,#cirebon,2,#covid19,1,#dirumahaja,2,#HUT_TNI,1,#mahasiswa,2,#photography #fotografi #cirebon #allaboutcirebon #iconcirebon,1,#puisi #sastra,2,#seriuanaksi,2,#Suara Rakya,1,#tipsandtrik,1,1000 mangrove,1,15 agustus,1,15 Agustus 1995,1,2017,3,2018,3,24 September,1,24 September 20118,1,5 negara pendidikan terbaik di dunia,1,5 Pintu,1,6 bahan alami,1,Abdul Rozak,1,adat dan budaya,1,Addendun,1,ADP 2019,1,AEF,1,agribisnis,2,agriculture festival,1,Ahok,2,air,1,Akbar tandjung,1,akreditasi,2,akreditasi a,1,aksi,11,Aksi bela islam,1,Aksi Demonstrasi,4,aksi mahasiswa,8,Aksi Refleksi,1,Aksi solidaraitas buku,1,aksi solidaritas,2,Aksi Solidaritas Peduli Banjir Cirebon Timur,1,aksi22mei,1,akuntasi,1,Alergi,1,aliansi mahasiswa Ciayumajakuning,3,aliansi mahasiswa cirebon,2,aliansi mahasiswa cirebon raya,1,Aliansi Mahasiswa Peduli Unswagati Bersih,2,Aliansi Mahasiswa UGJ,2,Aliansi Mahasiswa Unswagati,1,Aliansi Pemuda Kecamatan Panguragan,1,all about cirebon,1,AMC,1,AMCER,2,AMPU,1,AMPUH UNSWAGATI,2,AMPUN,1,anak,1,angkatan xx,1,Annual drama performance,1,Annual English Festival,1,anti korupsi,2,anti-erdogan,1,anti-kritik,1,arca,1,ARMY,1,Artikel,5,ascleoius 2018,1,Audiensi,5,audiensi terbuka,1,ayah,2,Badan Eksekutif Mahasiswa,1,bahaya oportunisme,1,baksos,1,Bakti Sosial,1,Balap Sepeda,1,ban pt,1,Bancakan,1,bangsal witana,1,bangunan,1,bangunlah jiwa pemberontak,1,Banjir,1,Banjir Cirebon Timur,1,bapak pers nasional,1,Basket,1,bawang dayak,1,bbm,1,Beasiswa,2,beauty career talk,1,beauty vlogger,1,bekas jerawat,1,belajar online,1,bem,3,BEM Faperta,2,bem fe,7,BEM FH UGJ,1,BEM FH unswagati,1,BEM FH Unswagati Adakan Pertandingan Futsal Sewilayah III Cirebon,1,BEM FISIP,3,bem fk unswagati,2,bem fkip,3,BEM FP,1,Bem Ft,3,BEM Teknik,1,BEM U,15,BEM UGJ,1,BEM Universitas,2,bem unswagati,6,BEMFT,1,BEMFTunswagati,1,bemu,2,Bencana Alaam,1,Bencana Banjir,1,Bencana Banjir Cirebon Timur,1,Berbagi Tips,23,berita,21,berita acara,1,berita cirebon,6,berita foto,1,berita internasional,1,Berita Kampus,27,berita nasional,2,BIJB,1,biography,1,bisu,1,BNN,2,BNN Kota Cirebon,1,bold make up,1,BPKel-Oi,1,BTS,1,budaya,19,budaya korea,1,budaya makan korea,1,Budidaya Jamur Tiram,1,Bukber,3,buku,2,bulan bahasa,1,bulu tangkis,1,bulutangkis,1,Bupati Cirebon,3,bursa efek indonesia,1,buya yahya,1,cacar monyet,1,campdik,1,campus on stage,1,cara memutihkan gigi,1,central batik cirebon,1,Cerpen,6,cfj 2k19,1,China,1,Ciayumajakuning,2,cindercella,1,cinta,2,cinta sejati,1,Cipasung,1,cirebon,95,Cirebon Bersatu,1,cirebon historia fun run 2019,1,Cirebon Merdeka,1,cirebon raya,1,Cirebon timur,1,civilfestival,1,Comfest2017,1,Comfestjeh 2K17,1,comfestjeh 2k19,2,comfestjeh2k18,1,corona virus,3,Cover Dance Competition,1,covid 19,4,covid19,1,Curug Cipeteuy,1,D'Box CC,1,dak,14,DAK 96 M,20,DAK 96M,1,dana,1,dana DPP,1,dana kampanye,1,darurat demokrasi,2,daruratdemokrasi,4,daun katuk,1,daun pepaya,1,debat kandidat,1,Debat Perdana,1,debus,1,deddy mizwar,1,Dedi Mizwar,1,dekan baru,1,dekan fisip,1,dekan FKIP,1,Demo Sopir Angkot,2,Demokerasi,1,demonstrasi,3,dengar pendapat,1,desa kalimeang,1,desain,1,desain grafis,1,dewan pers,1,dewasa,1,Diah Agustina,1,dies natalis,4,Dies natalis Himakom,1,diesnatalis,6,Diesnatalis ke-59,1,Diesnatalis Mapala Gunati,3,Diesnatalis UKM Seni & Budaya,1,DiesnatalisUnswagati57,3,diksar,1,dikti,1,dilarang gondrong,1,Dilarang Gongrong,1,DISBODPURPAR,3,Diskusi,5,Diskusi Lingkungan,1,Diskusi Perempuan,1,Diskusi Publik,3,Diskusi Rasa,1,Dispensasi,1,DKI Jakarta,1,DKISKotaCirebon,1,dlh,1,dokter ortopedi,1,Donor darah,3,dosen unswagati,1,down,1,down syndrome,1,dpm,5,DPM FE,4,DPM FH unswagati,1,dpm unswagati,1,DPM-U,11,dpmu,2,dpmunswagati,1,dpp,1,DPPKAD,1,dpr ri,1,DPR-RI,4,DPRD,4,DPRD Cirebon,4,DPRD Kabupaten Cirebon,2,dpupr,7,drama,1,driver amt,1,dunia,2,Dunia Kampus,62,Duta Unswagati 2018,1,e-gamelan,1,e-ktp,1,empat sehat lima sempurna,1,English Student Association,1,Enterpreneur Festival,1,entertainment,1,erdogan,1,ESA,3,esa unswagati,3,esai nasional,1,Esensi Hari Kartini,1,essai,2,Even kampus,1,Event Kampus,139,expo,1,expo pasar modal,1,fajar merah,1,fakultas,7,fakultas ekonomi,5,fakultas ekonomi unswagati,3,fakultas hukum,3,fakultas Hukum UGJ,1,Fakultas hukum unswagati,3,fakultas kedokteran,6,fakultas kedokteran unswagati,2,fakultas pertanian,3,fakultas teknik,7,fakultas teknik sipil,2,fakultas teknik unswagati,5,Faperta,3,fatwa,1,FB,1,FE,12,Feminisme,1,Festial Kraton,1,Festifal Islami,1,festival budaya sunyaragi,9,Festival Keraton Nusantara,8,festival komunikasi,1,festival literasi,1,festival literasi cirebon cirebon,1,Fh unswagati,1,Fiersa Besari,1,film,1,film indonesia,1,Final piala dunia 2018,1,fisif,1,fisip,14,FISIP UGJ,1,FISIP Unswagati,9,FisipUnswagati,1,fk unswagati,1,fkip,7,fkip bahasa inggris,2,fkip bahasa inggris unswagati akreditasi a,1,fkip unswagati,4,FKIPUnswagati,1,FKN XI,10,flu,1,fordisma,1,forsidas,1,forum ormawa,1,foto,4,fotografi,2,Fotografi,3,FP,1,fp unswagati,1,FPTI,1,fun run 2019,1,g30spki,1,gagasmedia,1,Gambar,1,garut,1,Gatot Nurmantyo,3,gaya hidup,2,gebyar matematika,1,gedung baru,1,gedung gt unswagati,1,gema,1,gemilang kreasi setara,2,Gerakan pemuda,2,Gerakan Perempuan UGJ,1,Gerhana,1,gerhana matahari,1,gigi anak,1,gmp,1,GMPK,1,GMT,1,GNPF MUI,1,Golkar,1,google,1,gor ranggajati,1,GOW,1,GRAGE CITY MALL,1,gratis,1,greenbuilding,1,Gunung Ciremai,1,guru,1,hak jawab,1,halaman parkir,1,harapan dalam impian,1,hardiknas,1,hari buku,1,Hari buku sedunia,1,hari bumi,2,Hari gizi nasional,1,hari ibu,1,hari kartini,1,Hari pahlawan,4,hari pers nasional,1,hari sejuta pohon dunia,1,Hari Tani Nasional,2,harta,1,hasil suara,1,HATHI,1,health,1,healthy,1,Hemat baterai,1,Heregistrasi,4,herregistrasi,1,hiburan,2,hidup berawal dari mimpi,1,highlighter,1,himagara,1,HIMAJEMEN,3,himakom,9,Himakom UGJ,1,Himakom Unswagati,1,HimakomUnswagati,2,Himaptika,2,himatansi,1,hipmagri,2,hipmagro,1,hmj,1,hmj akuntansi,3,hmj diksatrasia,1,HMJ-M,1,HMJAK,1,HMJM,4,HMS,9,hms unswagati,2,HMSUnswagati,1,hoax,1,hubungan,1,hujan bulan juni,1,hukum rimba,1,hut RI,1,HUT RI Ke-72,1,IAI BBC,2,IAIN,1,ibu,2,ibu-ibu,1,Ida Rosnidah,1,Idental Radio,1,Idul Fitri,1,Ikatan Pedagan Pasar Sumber,1,Ilmu administrasi negara,1,ilmu komunikasi,5,Immni,4,inagurasi,1,inaugurasi,2,indonesia,9,indonesia berduka,1,indonesia waspada,1,indramayu,2,industry 4.0,1,infografis,2,insiden,1,insomnia,1,intelektual,1,Internasional,21,Internasional Exhibition for Young Inventors,1,Internation Women's Day,1,Investigasi,4,ipik permana,1,IPTI,1,isna silvia,1,ISO,1,isu jam malam,1,isu penghapusan kkn,1,ITB kampus cirebon,1,IWD2020,1,jadimulya cirebon,1,jadwal pelaksanaan PMB ITB Kampus Cirebon,1,Jaga jari,2,Jagajari,1,jagakali,1,jagakali art festival,2,jagakali international art festival,1,Jakarta,1,jawa barat,3,jenny marx,1,jenny von westphalen,1,JFMI9,1,jiaf8,2,jodoh,1,jokowi,2,junaedi noer,1,Juntinyuat,1,jurnalis,2,jurnalistik,2,k-pop,1,kabar,1,Kabarku Yang Usang,1,kabinet,1,kabupaten cirebon,1,kacang hijau,1,kacirebonan,1,Kadung Kait,1,kaji media,1,kampus,17,kampus tiga,1,kankaer,1,kanoman,1,kapolresta cirebon,1,Karakter,2,karl marx,1,karya sastra,2,kata rindu,1,kawan,1,Keamanan,2,kearifan lokal,1,Kebudayaan,3,Kebun Teh,1,Kecantikan,1,kecewa,1,kegiatan bersih-bersih,1,kegiatan mahasiswa,5,Kehilangan,3,Kejari,1,kejari kota cirebon,1,kekerasan seksual,1,keluarga,2,Keluarga wisudawan,3,kemacetan,1,kemenpora,1,KEMENRISTEKDIKTI,2,Kemenristerkdikti,1,Kemensos,1,kemerdekaan indonesia,1,kemerdekaan republik indonesia,2,Kerajaan majapahit,1,keraton,2,keraton kasepuhan,2,keraton kasepuhan cirebon,1,keringkan baju,1,kerusakan jalan,1,Kesehatan,25,ketahanan air,1,Ketua Umum,1,kimchi,1,KitaUnswagati,4,KKM,1,KKN,7,KKN Desa Slendra,1,kkn online,2,kkn unswagati,2,KLISE,8,KLJ,1,KLJI,1,KNPI,3,Kodim,1,KOMANDO,2,KOMANDO V,1,komik,1,kompetisi panjat tebing,1,komunitas,2,komunitascirebon,1,konferensi internasional,1,konser,1,Konsolidasi,2,Konsumsi,1,Koordinasi,1,koperasi,1,kopi gayo,1,kopi rasa wine,1,korea,1,korupsi,8,korupsi E-KTP,1,kota cirebon,12,KPI,1,KPK,2,KPM,1,kpop,1,Kronologis,1,ksehatan,1,KSR,2,ksr pmi unswagati,1,kudeta,1,kuliah,1,kuliah kerja nyata,1,kuliah online,2,kuliah umum,3,kuliner,7,kuliyah umum,1,kuluah online,1,kuningan,2,kupi,1,Laila jangan bersedih,1,LAKSI,1,laku pejabat,1,Lawan Patriarki,1,LBKH,1,LBU,2,LDK IMMNI,1,ldko,1,lebaran,1,Lelaki,1,lgbt,1,LIDI,1,lifestyle,7,lift,1,Lingkungan,2,Lipsus,1,literasi,3,Literasi Digital,1,LLMB 2019,1,lomba,1,Lomba Bahasa Inggris,1,lomba fotografi,1,Lomba Hadroh,1,lomba opini,1,Lombok Bangkit Mandiri,1,lompat tali,1,Longsor Kuningan,1,LPJ,3,lpj pkkmb 2019,3,lpm,1,lpm fatshoen,1,lpm setara,9,lpm usu,1,lulusan terbaik,1,Maba,2,mahasiswa,27,mahasiswa aksi,2,mahasiswa baru,3,mahasiswa cirebon,2,Mahasiswaa,1,Majalengka,4,makanan khas cirebon,1,make up,1,makna historis,1,makrab,2,malaysia,1,mandat presiden,1,manfaat,1,manfaat menangis,1,mangrove,1,manusia,1,manusia dari kamar mandi,1,Mapala Ciayumajakuning,3,mapala gunati,10,marlina si pembunuh empat babak,1,marsha timothy,1,martha c. tiahahu,1,Masa lalu,1,mata kuliah drama,1,Matahari,1,matinya etika dan moral,1,Maulid Nabi,1,Maulid Nabi Muhammad 1441 H,1,Media Kampus,1,media massa,1,media palsu,1,membaca buku,1,membenarkan pikiran kita,1,memilih perguruan tinggi,1,menghilangkan,1,menikah,1,Menristekdikti,2,menwa,2,merdeka,1,metropolitan,3,minat membaca,1,moonrise over egypt,1,Moral,1,moralitas,1,MUBES,5,mubes fisip,1,Mubtada Kopi,2,mudik 2017,1,mukarto siswoyo,2,mukbang,1,muludan,1,museum batik,1,MUSIC,1,musik,1,musim hujan,1,musyawarah besar,1,musyawarah pkkmb,1,Nadin Amizah,1,Nasional,57,Natal,1,Nazli Ilicak,1,News,61,Ngopi Bareng,2,nonton bareng,1,nusantara,1,Objek Wisata,1,Oi Cirebon,1,ojk,1,okke 'sepatumerah',1,Olahraga,11,olimpiade,1,Omnibus Law,1,Open House,1,open recruitment,2,Operasional,1,Opini,66,oprec,3,Orangtua,1,orasi,1,orasi kebudayaan,1,organisasi,1,Ormawa,6,Ormawa day,1,ormawa fisip,1,overdosis kafein,1,P2M,3,pahlawan,2,Pameran,2,pameran fotografi,1,pameran museum,2,pamp;k,1,Pancasila,2,panti asuhan,1,Panwaslu,1,pariwisata,6,Parkiran motor,3,pasar sumber,2,pascasarjana,4,pecinta alam,3,pecinta motor klasik,1,Pedagang,1,Pedagang Pasar Sumber Tolak Relokasi,1,pedati pustaka,1,pejabat,1,pejambon,1,pelantikan,2,Pelatihan,1,pelecehan seksual,1,Pelepasan,3,pelepasan wisudawan wisudawati,3,pembangunan,2,Pembekalan,1,Pemerintah Kabupaten Cirebon,1,Pemerintahan Mahasiswa Bukan Dagelan,1,pemilihan dekan,2,Pemilihan Dekan FE,1,Pemilihan Raya,1,pemilihan rektor,3,pemilihan serentak 2019,1,Pemilu,3,pemimpin,1,pemira,1,pemira 2019,5,pemira fe,4,pemira unswagati,6,Pemkab Cirebon,1,PEMKOT,1,pemkot cirebon,1,penangkapan,1,pencurian motor,1,pendaftaran,1,pendidikan,4,pendidikan bahasa inggris unswagati,1,pendidikan terbaik di dunia,1,penegerian unswagati,1,pengembaraan,1,pengerian,1,penghijauan,1,pengibaran bendera 1.000 meter,1,Peraturan,1,Perbaikan,1,perempuan,2,Perempuan Menggugat,1,perempuan yang sedang belajar,1,perempuan-perempuan tersayang,1,perilaku,1,PERISAI,1,perjal bandung,1,perjal cirebon,1,perjal menyambut fajar,1,pernikahan dibawah umur,1,Pernyataan Sikap,1,perpustakaan jalanan,1,perpustakaan jalanan cirebon,1,perpustakaan keliling,1,pertamina,1,pertukaran mahasiswa,1,pesta demokrasi,3,petani,1,petani kendeng,1,petisi,2,petisi online,2,pgsd,1,piala aff,1,piala_dunia,1,pini mahasiswa,1,PKKMB,25,PKKMB 2017,4,pkkmb 2019,2,pkkmb fakultas 2019,1,pkkmb fakultas kedokteran,1,pkkmb fakultas teknik,1,pkkmb fakultas teknik unswagati,1,pkkmb fisip,1,PKKMB FT 2018,1,pkkmb ugj,2,pkkmb ugj 2019,1,PKKMB UNSWAGATI,6,pkkmb unswagati 2016,2,PKKMB-FE,1,pkkmb-fh,1,PKKMB-U,5,pkkmbfisip2017/2018,1,PkkmbUnswagati1617,3,pkkmbunswagati17/18,1,PKL,1,pmb,2,PMB2019,1,PMI,1,pohon,1,Pohon natal,1,POK,1,Pokemon Go,1,Polemik,1,Politik,4,politik praktis,1,Polres Kota Cirebon,1,PON XIX JABAR,1,Popmasepi,1,ppg,1,PPHP,2,PPK,1,PPUM,5,PPUM-FE,1,PPUM2017,1,pr unswagati,1,pra diksar,1,praktis,1,pray for randi,1,presiden soekarno,1,presidium,1,presma,2,prodi,2,professional,1,Profil,9,program kerja,1,proker,5,proklamasi,1,prosesi budaya,1,Provokatif,1,prussia,1,ps3,1,PSM,3,PT.Jasa Raharja Cirebon,1,PTN,1,puasa,1,public relations,1,puisi,31,Puisi dan Sastra,45,puisi tuan,1,PUM,12,PUM FE,1,PUPR,1,Purbalingga,1,purnama,1,rachel goddard,1,radharpancadahana,1,ragam,2,rakernas,2,rakyat,1,Ramadhan,2,Rapat,2,rapat pleno,1,razia buku,1,rctv,1,reakreditasi,1,reformasi dikorupsi,3,Regional,191,rektor,5,rektor unswagati,2,rektor usu,1,relokasi,1,Resensi,12,resensi buku,5,resensi film,2,resensi film 2018,1,reuni akbar ft,1,Revitalisasi pasar,1,revolusi industri,1,revolusi industri 4,1,rio de janeiro,1,ritual,1,RKUHP,1,robot,1,RPD,1,rth,1,rubrik,1,RUU PKS,1,RUUKPK,2,saaung perjuangan,1,sahur,1,sajak,3,sakit,1,saksi kunci,1,sakura science,1,sandi,1,sanggar lingkungan hidup,1,sanggar sunda rancage,1,sanggar tari,1,sanjungan,1,sao paulo,1,sapardi djoko damono,1,sarah ayu,1,sarjana,3,sastra,30,Saungjuang,1,save kpk,2,Save Pasar Sumber,3,sayap-sayap patah,1,sea games,1,sejarah,6,sejarah kerajaan majapahit,1,sekuritas,1,semarak keilmuan,1,seminar,5,Seminar fotografi,1,Seminar Internasional,1,seminar kebudayaan,1,Seminar Konsentrasi,2,seminar nasional,2,seminar nasional 2020,1,Seminar Umum,1,seni,5,seni tari,1,senja di Alexandria,1,senja sastra,2,seoul,1,sepak bola,1,serayu,1,Seren tahun,1,Sertifikat ISO,1,setara news,1,Setara TV,1,setaranews,6,setelah Addendum,1,Setya Novanto,2,Shalawat Nabi,1,singapura,1,single,1,sirnas,1,sispala,1,siswa sma,1,situs,1,sk,1,sk rektor,1,skk migas,1,SKK_Migas],1,Skripsi,2,sks,1,sks dan dpp,2,SMAN 1 Arjawinangun,1,SMAN 7 CIREBON,1,smk al-jabbar,1,SMS,1,Sosial distancing,1,Sri Lanka,1,Stadium Goverment,1,STARS AND RABBIT,1,Stop Narkoba,1,stop tindakan represif aparat,1,studi banding,1,suara mahasiswa,1,Suara Pedagang,1,suara rakyat,8,suara realitas,1,suara yang hilang,1,suhay salim,1,Suherli,1,sumpah pemuda,2,sunda wiwitan,1,Sunyaragi,2,surat untuk puan,1,Susukanlebak,1,sylviana murni,1,syndrome,1,Syukuran,1,takjil,1,talkshow,1,tari tradisional,1,tasya farasya,1,Teater,2,Teater Dugal,2,teatermantu,1,technology,2,Teknik Sipil,2,teknik sipil unswagati,3,TeknikSipilUnswagati,3,Teknologi,12,temab,1,tempo,1,TentaraNasionalIndonesia,1,TEP,3,terasi,1,Terjebak “in Bad Culture”,1,Terkini,1649,tes masal,1,the grand old man,1,tim pemberantas pungli,1,tindak represivitas,1,Tips,11,tips and trik,2,tips dan trik,4,tips presentasi,1,tips traveling,2,tips untuk anak,1,tirto adhie soerjo,1,tki,1,tkw indonesia,1,tolak narkoba,1,tolak omnibuslaw,3,Tolak Relokasi Pasar,1,Tolak Relokasi pasar sumber,3,Tolak Relokasi Pasar umber,1,topma,1,Tour de Linggarjati,1,TPA,1,TPA Kopi Luhur,1,tps 3,1,Tradisi,1,Training Legislasi,1,Transaransi Kampus,1,Transparansi,6,transportasi,1,trauma healing,1,traveling murah,1,tri darma perguruan tinggi,1,tribun jabar,1,trupark museum,1,trusmi cirebon,1,turki,1,tutorial keislaman,3,tutorial keislaman unswagati,2,tv kampus,2,tv kampus cirebon,1,tv kampus unswagati,1,uang,1,UAS,2,UGJ,48,UGJ Cirebon,5,UGJ Cirtebon,1,ukm,1,UKM KSR,1,ukm Pamp;K,2,UKM Rohis Usahid,1,ukm seni budaya,1,UKM Seni dan Budaya,8,ukm seni dan budaya unswagati,1,un,1,un online,1,unit kegiatan mahasiswa,1,universitas,12,Universitas Swadaya Gunung Jati,3,unjuk rasa,2,Unswagati,214,unswagati akreditasi a,1,unswagati cirebon,12,UNSWGATI,1,Unswgati cup 2017,1,untag cirebon,1,USB,4,usbn,1,uswagati,1,UTS,2,Video,5,vietnam,1,virus corona,2,virus zika,1,vlogger indonesia,1,volunteer,1,Wadek II,1,wagub jabar,1,wakil rektor,1,walikota cirebon,1,wapresma,1,Warga Cirebon,1,warisan kesenian dan kebudayaan,6,Warta,1,Warta Kampus,318,watu semar,1,we are the real united kingdom,1,wine halal,1,wiranto,2,wirayuwana choir,1,wisata,4,wisuda,6,wisuda ke 46,2,wisuda ke 47,1,wisuda unswagati,1,wisuda XLIX,2,wisuda XLVII,1,Women's March 2020,1,Women's March Cirebon,1,workshop,1,Workshop fotografi,1,wr III,3,wr3,1,Yayasan,2,yayasan unswagati,4,yono maulana,2,YPSGJ,1,yudisum,1,
ltr
item
SetaraNews.com: Excuse-Moi, Indonesia!
Excuse-Moi, Indonesia!
SetaraNews.com
https://www.setaranews.com/2013/04/excuse-moi-indonesia.html
https://www.setaranews.com/
https://www.setaranews.com/
https://www.setaranews.com/2013/04/excuse-moi-indonesia.html
true
5774345634689947304
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy