Terbaru

latest

Fotografi : Potret Cirebon dari Gedung Bersejarah Hingga Hotel Modern

Selasa, 14 Januari 2020

/ by Lembaga Pers Mahasiswa Setara



Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon

Gedung Bank Indonesia terletak di Jl. Yos Sudarso, Kampung Cangkol, Desa Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat. Gedung tiga lantai ini berdiri di atas lahan seluas ± 1.961 m2. Fungsinya semula adalah Agenschap De Cheribon dan dibuka tanggal 31 Juli 1866 sebagai kantor cabang ke- 5 De Javasche Bank. Direnovasi dari hanya satu lantai menjadi tiga lantai, akhirnya pada tanggal 21 September 1919 gedung ini dirancang oleh arsitek F.D. Ciypers & Hulswit dengan gaya art deco.

Eks Gedung De Javasche Bank Cabang Cirebon merupakan satu-satunya yang memiliki satu kubah sebagai tanda keunikannya. De Javasche Bank hingga sekarang sudah beberapa kali berganti nama pada masa pemerintahan Jepang menjadi Hanpo Kaihatsu Ginko, kemudian Bank Indonesia. Dari tahun 1866 sampai dengan 1953 selalu dipegang oleh bangsa Belanda kecuali pada masa Jepang. Sejak tahun 1954 pimpinan kantor cabang dipegang oleh bangsa Indonesia.




Indonesia Sebagai Poros Negara Maritim Dunia

Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki potensi untuk menjadi Poros Maritim Dunia. Poros Maritim Dunia bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, memberdayakan potensi maritim untuk mewujudkan pemerataan ekonomi Indonesia.

Untuk menuju negara Poros Maritim Dunia akan meliputi pembangunan proses maritim dari aspek infrastruktur, politik, sosial-budaya, hukum, keamanan,dan ekonomi. Penegakkan kedaulatan wilayah laut NKRI, revitalisasi sektor-sektor ekonomi kelautan, penguatan dan pengembangan konektivitas maritim, rehabilitasi kerusakan lingkungan dan konservasi biodiversity, serta peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kelautan, merupakan program-program utama dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.





           Nelayan Tradisional Di Cirebon

Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat
Perlindungan terhadap nelayan hingga saat ini dinilai masih sangat rendah dan itu terjadi di seluruh Indonesia. Padahal, nelayan merupakan bagian dari sektor perikananan tradisional yang sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Karenanya, perlu ada skema perlindungan nelayan untuk mempertahankan Hak Perikanan Tradisional.

Untuk diketahui, Pasal 51 UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982 mengatur tentang perjanjian yang berlaku, hak perikanan tradisional, dan kabel laut yang ada. Bunyinya adalah, “Tanpa mengurangi arti ketentuan pasal 49, Negara kepulauan harus menghormati perjanjian yang ada dengan Negara lain dan harus mengakui hak perikanan tradisional dan kegiatan lain yang sah Negara tetangga yang langsung berdampingan dalam daerah tertentu yang berada dalam perairan kepulauan. Syarat dan ketentuan bagi pelaksanaan hak dan kegiatan demikian termasuk sifatnya, ruang lingkup dan daerah dimana hak akan kegiatan demikian, berlaku, atas permintaan salah satu Negara yang bersangkutan harus diatur dengan perjanjian bilateral antara mereka. Hak demikian tidak boleh dialihkan atau dibagi dengan Negara ketiga atau warga negaranya”.


Menara PDAM Kota Cirebon

Dari catatan yang didapat, sebelum dibangun menara air, pada tahun 1863 pemerintah kolonial mencoba membuat sumur artesis. Namun, tidak diteruskan karena upaya percobaan penggalian sumur di Alun-alun Kejaksan dan beberapa tempat lainnya gagal. Pada 1878 diputuskan untuk mencari air bersih dari sumber yang ada di daerah Linggarjati. Semula debit air enam liter per detik, kemudian ditampung pada tujuh bak penampungan.

Untuk memperbesar debit air, pada 1889/1890 pemerintah mengganti pipa-pipa dengan lebih besar dengan debit 8,1 liter ditampung pada 43 penampungan. Pada 1917 Asisten Residen Cirebon mengusulkan kepada Direktur Laboratorium Kesehatan Gemeente untuk melakukan penelitian kualitas air bersih tersebut. Hasilnya menunjukkan, air bersih di Linggarjati kurang memenuhi syarat, terutama pada musim penghujan. Akhirnya pemerintah kolonial mencari alternatif sumber air yang lain dengan meneliti kualitas air di Cipanis, yang ternyata memenuhi syarat. "Dulu pakai sumur dan pompa tradisional juga airnya tidak keluar banyak dan tidak semua kawasan bisa dapat air dan sejak kejayaan PKI di Cirebon dibangunlah menara air."



Hotel  Grand Tryas Cirebon

Terletak di pusat Cirebon, Grand Tryas Hotel adalah tempat ideal untuk menelusuri Cirebon. Dari sini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang hidup. Hotel modern ini terletak di dekat atraksi populer kota ini seperti Grage Mall, Mesjid Agung Sang Cipta Rasa, Stasiun Cirebon.

Di Grand Tryas Hotel, setiap usaha dilakukan untuk membuat tamu merasa nyaman. Dan untuk hal ini, hotel menyediakan yang terbaik untuk pelayanan dan perlengkapannya. Ketika menginap di properti yang luar biasa ini, para tamu dapat menikmati restoran, lift, toko, kotak penyimpanan aman, wi-fi di tempat-tempat umum.

Fotografer : Al & Rizky (Calon Anggota Magang) 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews