Responsive Ad Slot

Kemerdekaan Membaca Dirampas di Negeri yang Merdeka

Tidak ada komentar

Selasa, 13 Agustus 2019





Opini, Setaranews.com - Buku merupakan wadah tulisan yang didalamnya memuat berbagai ilmu pengetahuan, dimana ada catatan maka didalamnya ada sebuah sejarah yang tercatat. Lembar catatan yang termuat dalam buku merupakan hasil buah pikiran manusia, sebagaimana kodrat manusia itu memiliki akal dan fikiran.

Buah pemikiran yang tertuang dalam buku menciptakan budaya literasi pada manusia serta berdampak pada kehidupan sehari-hari, budaya tersebut membuat stimulus dalam berfikir dan melatih kemampuan berbicara serta menganalisis masalah dan menjadi solusi untuk permasalahan.

Akan tetapi fenomena yang terjadi hari ini di Indonesia yang penuh dengan masalah dan konflik, kebebasan membaca dibatasi dan hak setiap orang untuk bebas membaca dibatasi.

Karena Undang- undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban umum, padahal UU ini sudah digugat dan dicabut oleh Mahkamah Konstitusi pada tahun 2010. Sesuai keputusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010. Tidak ada hak apapun Tentara dan Aparatur Negara dan yang lain menyita buku meskipun dianggap terlarang.

Salah satu contohnya 2 orang dari Vespa literasi Purbolinggo digiring ke polsek setempat untuk diintrogasi karena kedapatan sedang melapak dan ada buku yang disinyalir berhaluan kiri, penyitaan yang melibatkan TNI ini termasuk kedalam tindakan melampaui wewenang karena militer bukanlah penegak Hukum, tercantum dalam UU NO. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Selain itu telah terjadi pula perampasan buku yang berbau Marxis di toko buku Gramedia yang terletak di makasar oleh sekelompok Ormas, TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 melarang penyebaran ajaran atau ideologi komunisme, memang komunisme merupakan idiologi yang dilarang di karena troma G3SPKI yang berdarah darah begitupun tempat asalnya di Rusia dalam Revolusi Bolsevic. Akan tetapi apakah idiologi kiri semua nya berdarah darah sampai menelan korban ? 

Oleh karenanya, Negara seharusnya memahami bahwa Razia Buku adalah tindakan yang tidak di benarkan dan bertentangan dengan UU. Karena itu berhenti merampasan buku, karena buku adalah sumber dari segala ilmu, hentikan Intimidasi terhadap para Pegiat Literasi, karena Pegiat Literasi itu bergerak untuk membantu membangun kemajuan suatu bangsa atau membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan sukarela. Wujudkan kemerdekaan membaca menuju kemerdekaan berfikir bagi jiwa masyarakat Indonesia.

By : Galih

Kecam Razia Buku, Pegiat Perpustakaan di Cirebon Gelar Lapak Solidaritas

Tidak ada komentar

Minggu, 11 Agustus 2019


Foto by Dodo

Cirebon, Setaranews.com - Sejumlah Komunitas Pegiat Perpustakaan di Cirebon, menggelar aksi simpatik di Taman PKK Sumber, Kab Cirebon hari Sabtu, tanggal 10 Agustus 2019. Dalam kegiatan bertajuk Lapak Baca Solidaritas, mereka menyediakan berbagai buku bacaan seperti buku karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Maxim Gorky, Soe Hok Gie, dan lain-lain di area taman untuk dibaca secara gratis oleh pengunjung. Robby selaku pengelola Perpustakaan Jalanan Cirebon mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas atas tindakan razia buku yang terjadi beberapa waktu terakhir. 

Seperti yang diberitakan, ada dua kejadian razia buku yang baru-baru ini terjadi dan meresahkan para pegiat literasi. Tepatnya pada tanggal 27 Juli lalu, dua pegiat Vespa Literasi diamankan oleh anggota Polsek Kraksaan, Kabupaten Probolinggo karena menggelar lapak baca dengan membawa buku Dipa Nusantara (DN) Aidit, salah satu tokoh komunis Indonesia. Tak berselang lama, pada tanggal 3 Agustus lalu, anggota organisasi masyarakat (ormas) Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan razia buku "kiri" di beberapa toko buku setempat yang menyebabkan semakin banyak orang yang menggolongkan buku dengan istilah buku kanan, dan buku kiri. 

Sementara itu Lutfi pegiat literasi dari Oemah Dolan juga ikut menanggapi bahwa selain bentuk solidaritas lapak ini juga bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. “Dengan aksi damai ini kami mengajak masyarakat lebih terbuka dan ikut dalam kegiatan positif ini sebagai gerakan membangun minat baca” ujarnya. 

Dengan diadakannya aksi ini diharapkan agar kegiatan-kegiatan literasi jalanan tidak lagi dibatasi atau bahkan ditakuti. Selain Perpustakaan Jalanan Cirebon dan Oemah Dolan Kedondong, acara ini dihadiri oleh komunitas lain diantaranya Pojok Baca Al-Hikmah Plumbon, serta perwakilan lainnya dari Keluarga Literasi Cirebon.


Reporter : Dodo
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews