Responsive Ad Slot

Ajak Mahasiswa Baru Peringati Hari Tani Nasional Lewat PKKMB FP

Tidak ada komentar

Rabu, 19 September 2018

Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM FP) menyelenggarakan Program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Tingkat Fakultas Pertanian (PKKMB FP) di Gedung Baru Lantai 3 Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswgati) Cirebon.

PKKMB FP dilasanakan selama dua hari, 19-20 September 2018, dan di selenggarakan di dua tempat yang berbeda. Hari pertama PKKMB FP dilasanakan di Gedung Baru Lt.3, kemudian hari keduanya dilaksanakan di Gedung GT Unswagati Cirebon sembari mahasiswa baru FP melakukan penanaman, sebagai persiapan peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 24 Seprember 2018 Mendatang.

PKKMB FP tahun 2018 ini mengusung tema "Here We Know It's Other and The future". Angga Sofyan Purnama selaku Ketua Pelaksana PKKMB FP 2018 mengatakan tujuan utama untuk pengenalan tentang Fakultas Pertanian lebih mendalam.

"Kita itu mahasiswa pertaninan yang notabenya harus saling mengenal pribadi masing-masing terutama bagi teman-teman kita yang baru masuk dan akan menjadi saudara kita semua, agar dapat berkreasi serta mencapai tujuan yang di harapkan masing-masing individu di Fakultas Pertanian,"katanya saat ditemui setaranews.com disela-sela acara berlangsung, Rabu 19 September 2018.

Tak sampai disitu saja, Mahasiswa yang mengambil Program Studi (Prodi) Agribisnis tersebut menambakan penjelasannya tentang berbagai materi yang disampaikan pada PKKMB FP 2018.

"Terdapat beberapa materi penting yang harus disampaikan kepada mahasiswa baru khususnya, seperti soal Perguruan tinggi di era industri yang disampaikan langsung oleh Dinas Pendidikan Pertanian Kota, kemudian terdapat juga materi tentang bahaya konsumsi narkotika yang dibawakan oleh BNN, Serta sebagai peningkatan daya ingat serta berfikir, kami juga sampaikan kembali materi yang sebelumnya suda dibahas di PKKMB tingakat Universitas kemarin yaitu tentang Bela Negara dan Peran Fungsi Mahasiswa."tambahnya kepada setaranews.com.

Disisi lain, aditya Warman selaku Ketua Badan Eksekutif mahasiswafakultas Pertanian (BEM FP) berharap penuh terhadap keberlangsungan acara yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru ini. "Harapan saya agar mereka (Mahasiswa baru) mampu menyerap da mengimplementasikan apa yang telah dusampaika oleh pemateri PKKMB FP 2018, kemudian buat kita semua sebagai mahasiswa kususnya Pertanian dapat menerapkan Tri Darma Perguruan Tinggi dan juga Peran fungsi mahasiswa,"ungkap nya memberikan harapan saat ditemui setaranews.com.

Lebih lanjut, Pria yang kerap disapa dengan sebutan "Kojit" tersebut menambahkan bahwasannya PKKMB Fakultas Pertanian tahun ini juga terdapat sosialisasi tentang Peringatan Hari Tani Nasional (HTN), "Kitagarus menyadari bahwa soal pertanian adalah permasalahan kita bersama, karena kita semua hidup di negara agraris, jadi khususnya mahasiswa fakultas pertanian dapat menyadarinya dan dapat bersikap tegas pada momentum peringatan HTN 24 september nanti, "tambahnya.

Cetak Generasi Kritis dan Inovatif, PKKMB FT Hadirkan Pemateri Dari Berbagai Instansi

Tidak ada komentar
Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) Universitas swadaya gunung jati (Unswagati) Cirebon menyelenggarakan Program Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat fakultas.

Tema yang diusung pada PKKMB Fakultas Teknik yaitu "Menciptakan generasi kritis, kompetitif dan solidaritas yang tinggi serta berjiwa nasionalisme" sebagai bentuk pengenalan terhadap mahasiswa baru terhadap almamater nya, khususnya di Fakultas Teknik.

"Selain sebagai perkenalan tentang kampus untuk mahasiswa baru, tentunya kami memiliki harapan penuh pada PKKMB tahun ini yaitu sesuai tema yang kita usung guna mencetak mahasiswa yang berfikir kritis dan inovatif", ujar Ramdansyah Qolby selaku ketua pelaksana PKKMB Fakultas Teknik 2018.

Guna mencapai apa yang di harapkan dari kegiatan ini maka terdapat beberapa materi yang dituangkan pada PKKMB FT 2018 diantaranya, general education, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta penyalahgunaan narkotika, yang tentunya narasumber dari materi-materi tersebut merupakan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya yaitu, Lettu Laut (P) Agung Jaya Pratama. S.S.T.Han dari pasops Lanal Kota Cirebon, H. Moh. Syabli Noer, S.H., M.H. Dari kepala BNN kota Cirebon dan Capt. Chb Kasiman, selaku pereakilan dari dandim kota Cirebon.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 19 - 20 September 2018, yang di selenggarakan di dua tempat yang berbeda. Dimana hari pertama kegiatan di laksanakan di Pendopo Kodim dengan alasan jumlah mahasiswa yang cukup banyak mencapai 250 mahasiswa baru, sehingga ruangan fakultas teknik tidak mencukupi untuk menunjang keberlangsungan acara, kemudian di hari keduanya PKKMB FT dilaksanakan di dalam kampus karna kegiatan pada hari kedua ini tidak terlalu banyak menggunakan ruangan dan juga mengingat kembali pada esensi acara ini yaitu perkenalan kehidupan kampus yang memang mahasiswa baru harus memahami kehidupan kampus sebelum menempuh perkuliahan nanti berlangsung.

Disisi lain, Febri Rokhmadan selaku Stering Comite (SC) FKKMB FT menilai kegiatan tersebut cukup baik dan matang. "Dari segi pemateri yang dihadirkan pada PKKMB FT tahun ini sangatlah mumpuni dan dirasa kegiatan ini sudah cukup baik dan matang, semoga acara nya berjalan lancar hingga hari esok, Kamis 20 September 2018."katanya sambil berharap, saat ditanya setaranews.com

(Ramadhan A.P)

Opini: Diburu Hasrat

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Secara materi hasrat tak terlihat indra mata. Tapi hasrat dapat bekerja sedemikian dahsyat. Kecepatan kerjanya dalam hitungan detik. Bahkan hasrat dapat melumpuhkan berbagai oraginsme vital tubuh lainnya seperti otak.  Tak lagi memperhitungkan baik dan buruk, kebutuhan atau keinginan, jangka panjang atau bersifat sangat sementara.

Hasrat dapat berinvasi dalam berbagai sektor dan sisi kehidupan. Seperti hasrat terhadap kuasa. Hasrat terhadap belanja. Hasrat terhadap makanan. Hasrat untuk mengendalikan dan menguasai manusia lainnya. Bekerja di semua sektor: politik, gaya hidup, kehidupan rumah tangga, bahkan percintaan.

Hasrat adalah sesuatu yang paling subtil-yang ada pada manusia  yang harus dikelola  secara baik oleh kesadaran. Hasrat harus ditempel oleh kekuatan moral dan etik. Agar dapat terus diarahkan pada tujuan-tujuan luhur manusia. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kebaikan bersama. Dalam bidang apapun, kebudayaan, politik, rumah tangga, bahkan percintaan.

Implikasi Hasrat

Karena kita tahu, impilkasi hasrat begitu keras. Pada bidang politik, hasrat pada kuasa sulit sekali diarahkan pada jalur keadilan. Bahkan benturan antara moral politik dan egoisme individu itu seperti layaknya antara baja besi dan lengan tangan. Yang berakibat pada lebam, bonyok, hancur dan babak belurnya lengan tangan. Sungguh tak seimbang secara materi.

Kita menyaksikan hal itu dalam berbagai kebijakan publik, seperti keberpihakan anggran dan lain sebagainya.  Hasrat pada egoisme individu dan kelompok selalu tiba lebih dulu dibanding untuk kebaikan bersama. Dan sialnya, hal itu terkadang tidak dibarengi dengan argumentasi yang kokoh. Semua asal  bunyi, karena memang modalnya cuma dua, satu lidah tak bertulang, dua rasa tak tahu malu.

Dan pada moment lebaran, kita menyakiskan betapa hasrat begitu liar  berselancar. Manusia diburu hasrat secara habis-habisan. Sebelum uang ludes dan pusat perbelanjaan tutup, manusia memburu berbagai keinginnnya tanpa mempertimbangkan bahwa apa yang dibeli merupakan sesuatu yang penting sebagai kebutuhan atau sesuatu yang hanya disodorkan oleh system indutstri yang—berupaya menghisap laba sebanyak-banyaknya.

Pada suasana itu, di hadapan industri kesadaran tampak lumpuh tak berdaya. Karena pada moment itu nyaris tak ada suara dari seorang eduktor publik untuk memberikan pencerahan terhadap bijaknya dalam berkonsumsi. Sebaliknya, ruang public dikuasai iklan. Padahal kita tahu, betapa destruktifnya konsumersime pada system ketahanan ekonomi.

Karena begitu mobailenya hasrat pada semua ruang. Hasrat pun menggangu aktivitas pertumbuhan psikologis manusia.  Hasrat merangsek masuk pada sektor domestik dan privat, seperti kehidupan rumah tangga dan percintaan anak-anak muda. Hasrat pun berhasil mengusik apa yang dimaknai sebagai kesetiaan dan komitmen dalam berhubungan. Implikasi sosialnya, hasrat pun terus memproduksi kecemasan banyaknya manusia yang memutuskan untuk menjalin hubungan, entah itu pernikahan atau pacaran semata.

Bahkan salah satu pasangan bisa begitu tergoda pada yang lain hanya karena sebuah alasan yang tebalnya seukuran kulit manusia dan setipis kain. Akan tetapi, impilkasinya dapat menghancurkan sebuah hubungan. Yang akhirnya menghanguskan mimpi dan cita-cita—yang semula dibangun bersama. Yang selanjutnya dapat mengorban anak yang awalnya dilahirkan atas nama cinta dan komitmen yang agung.

Mengelola Hasrat

Begitulah hasrat bekerja sedemikian dahsyat dalam semua ruang, dari yang publik sampai ke yang privat, dari aktivitas psikologis sampai ke sosial. Oleh karena itu, hasrat harus dikelola sedemikian baik dan tertib. Hasrat harus terus disuntik oleh semacam pengetahuan. Demi menumbuhkan kesadaran. Yang selanjutnya mampu memproduksi kekuatan moral dan etik yang teguh pada manusia.

Hal ini bertujuan untuk melahirkan peradaban manusia yang menjungjung nilai kebaikan bersama. Bahwa atas nama hasrat, manusia tak boleh bersikap berutal dan semaunya, dan ini berlaku pada semua jenis sisi kehidupan, baik politik, kebudayaan, rumah tangga, bahkan percintaan.  Karena kebahagian dan kemewahan hidup tak bisa diperoleh dengan menyakiti yang lain.

*Penulis adalah Kris Herwandi, Alumni Mahasiswa Unswagati Cirebon

Opini: Dominasi Negara Pertama dan Sistem Pendidikan Indonesia di Dalam Cengkramannya

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Tergetar berdegup kagum melihat pemandangan di tiap-tiap daerah mulai dari tingkat kabupaten, kota hingga provinsi atas derasnya laju pertumbuhan pembangunan institusi-institusi pendidikan. Kelahiran wadah-wadah pendidikan ini yang akan melahirkan pula manusia-manusia kompeten membangun peradaban masyarakat. Perkembangan dunia pendidikan ada dan haruslah selaras pula dengan perkembangan kultur sosio-ekonomi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada tahun 2017 jumlah unit perguruan tinggi yang terdaftar mencapai 4.504 unit. Angka ini didominasi oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mencapai 3.136 unit sedangkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya 122 unit. Sisanya adalah perguruan tinggi agama dan perguruan tinggi dibawah kementerian atau lembaga dengan sistem kedinasan. Dan daerah yang sangat pesat pertumbuhan institusi pendidikan tingginya adalah Jawa Barat, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) grafik dari tahun 2003-2014 mencapai 1.605 perguruan tinggi.

Perlu diingat pula, pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia tak bisa dipungkiri sangat terpengaruh dan bisa dikatakan berkiblat pada perkembangan dunia pendidikan Barat. Bahkan hubungan negara berkembang seperti Indonesia bukan hanya pada persoalan pendidikan melainkan pula di bidang militer, politik, ekonomi, dan aspek lainnya. Hal ini menempatkan negara maju menjadi dominan dalam berbagai aspek di tingkat internasional. Negara maju atau bisa dikatakan pula negara pertama menjadikan dirinya sebagai contoh parameter keberhasilan suatu bangsa, sehingga segala sistemnya dianggap dan dirasa perlu diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk mencapai taraf perkembangan seperti yang telah dicapai negara maju.

Menurut M. Dawam Rahardjo pola hubungan seperti ini disebutnya sebagai structural domination yang ditandai oleh gejala hubungan dominasi tidak langsung antara pusat-pusat metropolitan dengan kota-kota satelitnya atau antara pusat dan pinggiran pada tingkat global maupun nasional. Hubungan tersebut tidak berada dalam posisi dan suasana yang saling menguntungkan melainkan menjadikan hubungan yang eksploitatif oleh negara maju. Memang seolah-olah negara berkembang ini perlahan merangkak maju, namun pada kenyataannya semakin tertinggal dari segi apapun.

Dominasi luar tidak akan berkaitan apabila tidak didukung dan ditunjang oleh kelompok-kelompok berkepentingan di dalam masyarakat negara berkembang itu sendiri. Mereka yang berkepentingan membalut kepentingannya dengan dalih pembangunan dan kemajuan negara. Dengan demikian, kaitan struktur global tidak hanya dalam aspek sosio-ekonomi, pendidikan, tetapi juga politiknya yang bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan dan peraturan di suatu negara berkembang.

Melihat sistem di negara berkembang yang saling berkaitan dengan sistem yang diciptakan dominasi global memperkaya kesadaran kita bahwa masalah-masalah ketimpangan sosial, ekonomi, kebodohan dan kerancuan kebijakan dilahirkan bukan hanya didapat dari faktor internal negara berkembang itu sendiri melainkan juga dari pengaruh eksternal negara berkembang tersebut. Dan semakin disadari dominasi global sangat berpengaruh kepada setiap sendi kehidupan negara berkembang seperti Indonesia termasuk sistem pendidikannya.

Sistem pendidikan di Indonesia sendiri dewasa ini pada dasarnya bukanlah refleksi kebutuhan masyarakat Indonesia melainkan sebuah sinkronisasi terhadap sistem pendidikan dunia global. Sehingga sangat tidak arif sekali sistem pendidikan diciptakan hanya untuk mendukung dan berupaya mensejajarkan diri dengan taraf yang telah diciptakan negara maju, jika seperti ini yang hadir adalah kompetisi untuk mencapai taraf kemajuan sistem itu sendiri padahal krisis fundamental bangsanya sendiri belum terselesaikan.

Lalu, apabila kita berbicara pendidikan adalah modal suatu bangsa untuk mencapai cita-citanya yang luhur maka haruslah ditinjau kembali sistem pendidikan suatu bangsa tersebut sampai ke akar-akarnya. Serta haruslah merubah pula stigma bahwa pendidikan bukanlah hanya sebagai bagian dari pembangunan, tetapi pula sebagai sarana utama untuk menyelamatkan bangsa dari kepincangan struktur sosio-ekonomi.

Realitas di negeri ini menanggapinya secara berbeda pula. Sistem pendidikan di Indonesia malah berdiri diatas krisis fundamental bangsanya. Dan tujuannya hanya berdasarkan kepada penunjang pembangunan negara di tingkat nasional. Tujuan pendidikan di Indonesia tidak menyentuh ranah sosio-ekonomi masyarakat dan hanya terbatas sebagai pelengkap agenda pembangunan. Dari sini pula terlihat, sangat terkesan sekali pendidikan di Indonesia hanya ingin menciptakan citra masyarakat modern seperti yang ada di negara maju.

Dalam proses pelaksanaannya, proses pendidikan di Indonesia benar dibutakan terhadap realitas yang ada di dalam masyarakat. Dibutakan disini maksudnya adalah mereka yang terdidik tidak sadar bahwa tujuan pendidikan sejatinya adalah untuk membebaskan dan memerdekakan manusia dari kemelaratan seperti yang ditulis Paulo Freire dalam Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan (1976). Mereka yang terdidik hanya berorientasi pada kemajuan dan kemerdekaan dirinya sendiri. Kaum terdidik dewasa ini banyak memikirkan bagaimana caranya agar bisa meneruskan hidup dengan menjadi robot-robot pekerja. Dan menganggap setelah meneruskan hidup menjadi tenaga pekerja perusahaan asing atau nasional ataupun perusahaan patungan asing-nasional adalah menjadi bagian dari kemajuan bangsa atas nama pembangunan.

Mereka yang terdidik tidak sadar bahwa sistem pendidikan yang dianggap sebagai bagian dari pendidik hanya menghasilkan pula jebolan-jebolan berpendidikan yang membentuk suatu lingkaran baru dalam masyarakat. Mereka yang berpendidikan adalah minoritas dibandingkan dengan mereka yang menjadi mayoritas yaitu mereka yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan. Dengan kata lain, kaum terdidik menjadi aristokrat baru dan memonopoli ilmu pengetahuan itu sendiri. Rantai kehidupan seperti ini terus berlanjut, dan menurut Freire ini disebut sebagai Culture of Silence (Kebudayaan Bisu).

Kebudayaan yang buruk seperti ini menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara yang berpendidikan dan tidak. Yang berarti sistem pendidikan kita ini mengandung unsur penindasan dan melangsungkan kemiskinan structural. Sistem pendidikan kita bukanlah refleksi atas gejala-gejala sosio-ekonomi masyarakat Indonesia melainkan refleksi atas persaingan dan pertautan dunia global.

Kini, haruslah mereka yang terdidik memilih apakah ingin terus melangsungkan kebudayaan bisu seperti yang diungkapkan Freire atau menjadikan pendidikan sebagai media untuk membebaskan dan memerdekakan manusia dari kemelaratan?

*Penulis adalah Ginanjar Nitimiharjo, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Sosialis (GeMSos) Cirebon

Memanfaatkan Momentum PKKMB, Pecinta Alam Se-Cirebon Galang Dana Untuk Lombok

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Pecinta dan Penggiat Alam Se-Cirebon atau dikenal dengan kode Satgas (Satuan Tugas) PB PPAC dan dibantu oleh Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) Uiversitas Swadaaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon melakukan penggalangan dana untuk korban bencana Lombok pada saat kegiatan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswaa Baru) Tingkat Universitas, Selasa (18/09) di Gedung Radian Gronggong-Cirebon.

Hal tersebut dilakukan dalam rangka penanganan pasca bencana gempa di Lombok atau dikenaal dengan Program Lombok Bangkit Mandiri sehingga sampai hari ini mereka masih gencar melakukan penggalangan dana. Dengan memanfaatkan kegiatan PKKMB tingkaat Universsitas merekaa (Pecinta Alaam Se-Cirebon) berhasil menghimpun donasi sebesar Rp. 5.832.300 yang akan di gabungkan dengan penggalangan dana di tempat lain guna untuk digunakan sesuai dengan apa yang direncaanakan, yaitu bantuan untuk korban pasca bencana Lombok.

Nur Fikri Muhammad selaku Ketua Satgas PPAC menerangkan bahwasannya daerah Lombok dan sekitarnya masih sangat membutuhkan banyak bantuan, sehingga tumbuhlah inisiatif untuk mengajak masyarakat Cirebon, mahasiswa/i Unswagati khususnya agar menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu korban bencana Lombok.

“Masih banyak hal yang belum terselesaikan, ini bukan menyoal jumlah nominal uang yang sudah di donasikan dan seberapa besar mereka mendapatkan bantuan berupa sembako dan lain-lain, melainkan yang sangat di perlukan disana bagaimana masyarakat bisa bangkit mandiri, bisa menentukan nasib mereka kedepannya.” paparnya saat ditemui setaranews.com ddi sela-sela kegiatan PKKMB berlangsung.

Tim Satgas PB PPAC sudah melakukan koordinasi dan tentunya sudah mengirimkan relawan bersama dengan Badan SAR dan PB dari Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya (FK-KBPA-BR). Ia juga mengatakan fokusnya untuk mendampingi posko masyarakat di Lombok Barat, dengan program pendampingan posko ini harapan besarnya masyarakat di lombok bisa memenuhi dan mendistribusikan kebutuhannya sendiri, serta dapat memetakan daerahnya sendiri.

“Sesuai dengan tema yang kita usung yaitu Lombok Bangkit Mandiri bertujuan untuk meminimalisir berbagai kemungkinan terjadinya konflik di masyarakat, seperti di bencana-bencana pada umumnya, karena masyarakat sendiri yang akan menentukan secara keseluruhan. Sekarang sudah ada lima dusun yang sudah dibentuk pendampingan posko masyarakat, dan sudah masuk beberapa program di bidang kesehatan, pendidikan, sanitasi, mck dan Huntara (Hunian Sementara).” katanya.

Walaupun begitu, tentu saja mengaalami hambatan karena Cirebon masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar mumpuni dan peduli serta tanggap dalam melakukan bantuan terhadap bencana. "kami berencana membuka posko bantuan bencana gempa lombok ini sekitar 6 bulan lamanya, terhitung mulai satu hari pasca gempa Lombok tepat nya pada 5 Agustus 2018, akan tetapi karena SDM belum mencukupi daan masih banyak kekurangan akhirnya sebagai program bantuan permulan cukup sampai dua bulan saja, walaupun nantinya jika SDM sudah sesuai harapan kami aakan terus membuka posko untuk masyarakat yang ingin menyumbangkan donasi untuk korban bencana gempa di Lombok,"keluhnya saat ditanya setaranews.com.

Satgas PB PPAC membuka posko bantuan untuk korban bencana gempa Lombok di Halaman Parkir Kampus Utama Unswaagati Cirebon.

(Nur Widowati)

 

Melalui Pendidikan SDM Untuk Pariwisata Akan Lebih Baik

Tidak ada komentar

Minggu, 16 September 2018

Cirebon, setaranews.com. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Swadaya Gunung Jati (FKIP Unswagati) melaksanakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan ( Pariwisata Goes To Campus) yang diselenggarakan di kampus 2 Unswagati pada sabtu, 15 september 2018.

Masuk pada sesi yang kedua yang kemudia di isi oleh  Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DISBODPURPAR ), Bagja Edi Rohaedi S.sn.,M.M ,dan  Dosen sekolah tinggi pariwisata bandung, Andar Danova L.Goeltome,

Seperti pada sesi pertama ketiga pemateri. Alexander menjelaskan pentingnya sektor pariwisata untuk peningkatan rupiah saat ini , dimana devisa akan meningkat jika pelancong dari negri orang berkunjung ke Indonesia. selain itu hubungan SDM dan pariwisata sangatlah erat hubungannya,sebanyak 105.300 orang telah bekerja di sektor pariwisata. “ Pariwisata menjadi urutan ke 4 utuk membantu pencari kerja diindonesia” katanya .

Senada dengan Alexander , Edi Rohaedi menyebutkan sebanyak 4% sumbangan pajak dan anggaran dari pemerintah untuk pariwisata harunya dapat dimanfraatkan secara optimal, Pariwisata adalah kehidupan.” Seperti sekarang banyak sekali pentas budaya yang jelas mengundang turis untuk datang ke Cirebon contohnya muudan, nadradad, dll” sebutnya

Adapun pengembangan destinasi wisata yaitu pembukaan kawasan wisata kesenden dan kawasan bekas galian C Argasunya, diversifikasi prasarana wisata dan revitalisasi kawasan wisata budaya dan sejarah.

Pemateri terakhir andar pun menekankan bahwa SDM menjadi modal utama untuk menyiapkan wonderful Indonesia yang lebih baik, dimana awal tahun 2018 wonderful sudah mendapatkan 30 penghargaan di 8 negara didunia karena keindahan panoramannya dengan prestasi tersebut diharapkan pendidikan dapat menyiapkan SDM yang lebiih baik.

Banyaknya Potensi Wisata Di Cirebon, Pendidikan Harus Diperbaiki

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Swadaya Gunung Jati (FKIP Unswagati) melaksanakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan ( Pariwisata Goes To Campus) dari pukul 10.00 wib (15/09).

Adapun pemateri pada pelatihan dasar kali ini yaitu Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DISBODPURPAR ), bagja edi Pohaedi S.sn.,M.M , Dosen sekolah tinggi pariwisata bandung, Andar Danova L.Goeltome, anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.dedi wahidi,s.pd. dan Rektor Unswagati Dr. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si dimana pada kali ini diisi menjadi 2 sesi.

Sesi pertama diisi oleh Dr. Mukarto Siswoyo yang menjelaskan bagaimana kebijakan bidang pendidikan untuk mendukung pengembangan pariwisata melalui penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, diharapkan setiap pekerja atau penggiat seni mengikuti program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) untuk pemberian pengakuan dan penyetaraan seperti dosen. “ ya diharapkan semua orang (penggiat seni) dapat ikut program RPL dimana jika sudah mengabdi selama 10 tahun dibidangnya maka akan disetarakan seperti dosen atau mendapat pengakuan” jelasnya.

Materi selanjutnya yaitu oleh Drs., M.Si, H.dedi wahidi,s.pd.dirinya menjelaskan bahwa banyak sekali destinasi wisata di Kota Cirebon dimana didominasi oleh destinasi wisata religi, selain itu juga pendidikan menjadi sector paling penting agar para pelancong betah di Kota Cirebon. “ kita kan kebanyakan wisata religi ya, itu semua orang udah tau, diharapkan unswagati juga menjadi ibu dari anak-anak bangsa yang berperan penting bagi pariwisata Indonesia khususnya Cirebon.” Jelasnya.

Pelatihan pada sesi pertama ini dimoderatori oleh salah satu dosen FKIP yaitu Iin Wariin,S.Pd.,M.Hum.

FKIP Unswagati Adakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Swadaya Gunung Jati (FKIP Unswagati) melaksanakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan ( Pariwisata Goes To Campus) yang diselenggarakan di kampus 2 Unswagati pada sabtu, 15 september 2018.

Acara yang dimulai pada pukul 10:00 Wib dan dibuka oleh anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.dedi wahidi,s.pd itu dihadiri kuranglebih 200 mahasiswa FKIP Unswagati, adapun pemateri yang hadir pada kali ini yaitu Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DISBODPURPAR ), bagja edi Pohaedi S.sn.,M.M , Dosen sekolah tinggi pariwisata bandung, Andar Danova L.Goeltome, anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.dedi wahidi,s.pd. dan Rektor Unswagati Dr. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si dimana pada kesempatan kali ini terdiri dari 2 sesi pemberian materi.

Acara yang selesai pada pukul 15:00 wib itu banyak mengundang perhatian para audience dimana, pasalnya ,karena tema yang diusung tentang pariwisata, seperti yang dikatakan rektor unswagati mukarto siswoyo mengatakan Cirebon akan menjadi jantung pariwisata Indonesia.” Cirebon ini anak-anak adalah jantungnya pariwisata Indonesia, jadi mari sama-sama kita bangun sector pariwisata agar lebih baik.” Katanya. Acarapun kemudian ditutup oleh  Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews