Responsive Ad Slot

Rektorat Janji Penuhi Tuntutan Mahasiswa Terkait Isu Penjualan Aset Kampus GT

Tidak ada komentar

Jumat, 13 April 2018

Setaranews.com, Unswagati – Aliansi Mahasiswa Peduli Unswagati Bersih (AMPUH) mengadakan aksi tadi pagi sekitar pukul 09.00 WIB di Kampus I Unswagati pada Kamis (12/4). Aksi tersebut dilakukan dalam rangka meminta penegasan terkait isu penjualan Kampus GT ( Gedung Tambahan) kepada pihak rektorat. 3 tuntutan dalam aksi tersebut antara lain 1). Transparansikan pengelolaan kampus terkait penjualan aset Unswagati (Kampus GT) yang tidak hanya secara lisan, tapi secara tertulis (laporan aset) 2). Transparansi laporan keuangan Universitas dan Yayasan secara keseluruhan 3). Dipenuhinya sarana dan prasarana kegiatan akademik maupun non-akademis.


Yang menjadi polemik pasalnya Kampus GT sering sekali digunakan untuk banyak kegiatan mahasiswa dan membantu menampung lonjakan mahasiswa yang overload. Dalam aksi tersebut Wakil Rektor III, Ipik Permana,S.Ip., M.Si.  didampingi Wakil Rektor II, Acep Komara.Drs., SE., Msi menjawab mahasiswa yang aksi terkait isu penjualan aset Kampus GT. “Sampai saat ini belum ada jual beli tentang GT dan sebagainya. Saya bisa jamin disana kegiatan bisa berjalan semestinya.” Ujar Ipik.


Ketika disinggung terkait transparansi rektorat pada mahasiswa, ia bilang tidak ada transparansi yang mati. Tetapi berkelit ketika salah satu mahasiswa meminta kejelasan tertulis. Ipik menjawab dan menjamin bahwa Kampus GT aman-aman saja jadi menurutnya mahasiswa tidak usah meminta bukti tertulis. "Tertulis lagi, catat nama saya Warek III Bidang Kemahasiswaan, enggak usah ditulis-tulis. Jadi penjualan Kampus GT adalah hal-hal yang belum terjadi. Prinsipnya kami menjamin hal-hal yang berkaitan dengan GT akan lebih baik dari sekarang. Kampus GT belum dijual, dan kalau rencana akan dijual saya belum dengar.”


Hal ini pun menuai ketidak puasan, sehingga Saeful yang merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian memperkuat statement agar diberikannya penegasan terkait isu penjualan aset. "Dengan berbagai isu yang beredar di kampus, kami disini justru menjadi jembatan bagi Universitas untuk melakukan transparansi pada mahasiswa. Jadi iya atau tidak, jawabannya cuma itu, Pak. Kalau memang belum katakan belum, kalau memang rencana katakan rencana. Kalau memang terjadi penjualan aset, dimana ini adalah hal yang vital, itu bisa ditransparasikan secara jelas pada mahasiswa. Kalau begini jadi gak transparan, jadi isu yang hoax, jadi abu-abu. Dan kita disini tidak bisa dibungkam untuk hal-hal semacam ini. Kita mengclearkan. Kalo pun kedepannya terjadi penjualan aset, kami minta kedepannya pihak rektorat, yayasan dan lembaga mau melakukan transparansi pada mahasiswa dengan melakukan kesepakatan tertulis."


Kemudian hal ini pun ditanggapi lagi oleh Ipik. "Ya kita tidak melarang mahasiswa berdemokrasi, tidak membungkam mahasiswa. Terkait GT ini adalah hal-hal yang belum terjadi. Kalau kedepannya terjadi penjualan aset, saya kira akan dilakukan transparansi sebenderang-derangnya. Tapi jenjang kordinasinya dengan yayasan, dengan dewan pembina. Maka dari itu kita sebagai civitas akademika akan terbuka, bagaimana itu diperlukan."


Kemudian Epri selaku mahasiswa Fakultas Ekonomi juga berpendapat tentang akses transparan seharusnya hal yang wajib diberikan universitas kepada mahasiswa. "Transparansi adalah hal yang dijamin undang-undang. Kalau perkara cuma ngomong, lisan akan melakukan transparansi, semua juga bisa. Kita harus konkrit dalam hal ini tanpa diminta pun universitas berkewajiban memberikan transparansi pada mahasiswa." tandasnya.


Warek III, Ipik dan Warek II, Acep pun di akhir sesi dialog aksi sepakat untuk memenuhi tuntutan mahasiswa guna menegakkan transparansi dengan memberikan bukti tertulis mentandatangani spanduk. "Kami mendukung kita harus transparansi, baik itu mahasiswa atau lembaga." Tutup Ipik.

Saling Lempar, Kampus GT Unswagati Belum Jelas Statusnya

Tidak ada komentar

Kamis, 12 April 2018

Cirebon, setaranews.com - Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon dikenal memiliki tiga kampus yang cukup besar, yakni Kampus Utama di Jalan Pemuda No.32, Kampus II di Jalan Perjuangan, serta Kampus III yang terletak di Jalan Terusan Pemuda. Namun, tahukan anda bahwa Unswagati memiliki satu kampus lain diluar tiga kampus tadi?

 

Tanpa banyak orang tahu sebenarnya Unswagati memiliki lahan yang cukup luas serta berdiri satu bangunan gedung dengan beberapa ruangan yang berada samping Kampus II, Gedung GT namanya. Gedung ini biasa di gunakan oleh mahasiswa fakultas pertanian untuk mengolah lahan sebagai lahan praktik pertanian, tak hanya itu gedung ini juga sering digunakan oleh mahasiswa fakultas teknik untuk melakukan olah praktik. Gedung GT ini memiliki banyak manfaat untuk membantu menampung lonjakan mahasiswa unswagati yang overload. Namun akhir-akhir ini banyak beredar rumor jikalau gedung pembantu Unswagati  itu telah dijual.

Akhirnya tim setaranews menemui Wakil Rektor III Unswagati yaitu  Dr. Ipik Permana, S.IP., M.Si. di ruang kerjanya di lantai 2 gedung rektorat Kampus Utama Unswagati, Ipik menyatakan dia belum mendengar kabar bahwa gedung tersebut akan dijual. "Wah, Kampus GT mau dijual?" Tanyanya pada setaranews.com pada Senin (11/04).

 

Dia mencoba meluruskan bahwa apa yang terjadi akhir-akhir ini hanyalah sebuah rencana dalam rangka meningkatkan fasilitas Unswagati. "Jadi baru rencana Unswagati untuk kita punya kampus berakreditasi, Tapi kedepan kita akan besarkan fakultas di Unswagati salahsatunya fakultas pertanian dan fakultas teknik sipil jadi dua fakultas ini kan harus punya laboratorium yang terbaik, yang selama ini hanya di GT saja dinilai kurang, tapi intinya untuk meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa dan untuk meningkatkan daya tampung mahasiswa" tegasnya.

 

Rektor Unswagati Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si. menyebutkan bahwa kedepannya Unswagati akan meningkatkan dari segi fasilitas dimana satu fakultas memiliki satu gedung beserta fasilitas penunjang seperti perpustakaan dan laboratorium selain itu juga nanti akan dibuatkan ruang sekretariat mahasiswa tapi dengan beberapa catatan.

"Nanti akan di buatkan sekretariat mahasiswa tapi dengan catatan tidak boleh ada yang mencorat-coret fasilitas kampus, tidak boleh ada yang in the kost diruang tersebut" tegasnya.

 

Wakil Rektor III mencoba mengalihkan pembicaraan tentang penjualan Kampus GT tersebut, pihaknya akan melakukan yang terbaik demi memenuhi keinginan mahasiswa Unswagati terkait fasilitasi kampus.

"Tidak mungkin kita melakukan sesuatu yang menimbulkan masalah, yang akan kita lakukan adalah menyelesaikan masalah tanpa masalah" katanya.

 

Ketika ditanya kembali soal masalah penjualan Kampus GT, Ipik mengatakan tidak mengetahui perihal issue tersebut. "Saya ga tau, kalo gedung GT itu mau dijual apa tidak" elaknya.

 

Pencarian informasi pun dilanjutkan dengan menemui Wakil Rektor II Unswagati, H. Acep Komara. Drs., SE., MSi, ketika ditanya tentang persoalan yang sama dia mengelak dan seolah angkat tangan terkait penjualan Kampus GT. Dia menyebutkan bahwa dirinya tidak mengetahui perihal penjualan Kampus GT tersebut.

"Saya ga tau soal penjualan Kampus GT, itu bukan ranah saya untuk berbicara, itu kan ranahnya yayasan" katanya sambil tertawa kecil.

 

Acep seolah tidak mempedulikan permasalah Kampus GT, "Saya ga tau itu kampus mau di apa-apakan karena itu bukan ranah saya untuk bicara" tutupnya.

 

Melihat hasil wawancara yang dilakukan setaranews.com seolah pihak Rektorat saling lempar tanggung jawab terkait issue penjualan Kampus GT dan menutup-nutupi urusan fasilitas di kampus terbesar di Kota Cirebon bahkan di Wilayah III Cirebon.

 

Media Sosial Panggung Kontestasi Pilkada di Kota Cirebon

Tidak ada komentar

Minggu, 08 April 2018

Cirebon, setaranews.com - Aroma pilkada rupanya sudah sangat terasa di Kota Cirebon, terbukti banyak sekali baliho-baliho yang terpampang disepanjang jalan di kota. Para calon mulai dari Calon Bupati, Gubernur dan Walikota saling adu kekuatan dan kepiawaiannya untuk memikat hati masyarakat Kota Cirebon, segala hal dilakukan dalam rangka mengkampanyekan jagoannya masing-masing, mulai dari poster, baliho, belusukan, santunan sosial sampai postingan di media sosial di masing-masing akun timsesnya (tim sukses).

Hal ini membuat Komunitas Jaga Jari mengadakan kembali kajian media yang ke-5 di bulan april dengan mengusung tema ''Ruang Maya Arena Kontestasi Pilkada" yang diisi oleh dua pemateri, yaitu Khaerudin Imawan sebagai Dosen Ilmu Komunikasi Unswagati sekaligus Pakar Media dan Mohammad Rifki sebagai politisi Cirebon serta di pandu oleh moderator cantik dari kantor media Radar Cirebon, Mike Dwi Setiawati, pada 6 April 2018 di kedai kopi Saung Perjuangan.

Mohammad Rifki menjelaskan bahwa Media sosial memang menjadi lahan yang sangat strategis untuk arena kampanye pilkada dan tak banyak netizen (sebutan untuk pengguna media sosial) menjadi korban politik yang terprovokasi dengan begitu banyak sekali pengguna media sosial yang tidak cerdas dalam menggunakan media sosial.

"Sekarang banyak sekali masyarakat yang terprovokasi dengan postingan-postingan di IG (Instagram) , FB (Facebook) dan Twitter contoh yang masih hangat puisinya ibu Sukmawati yang berjudul Ibu Indonesia, itu banyak banget orang yang emosi." Jelasnya.

Ketidaktahuan generasi muda tentang keadaan politik di Indonesia khususnya Kota Cirebon membuat Rifki prihatin akan keadaan tersebut, diharapkan organisasi kemahasiswaan, eksternal maupun internal bisa mengedukasi masyarakat untuk cerdas menggunakan media sosial. "Yaa, saya prihatin ya dengan keadaan sekarang, generasi muda tidak tahu keadaan politik yang sedang terjadi disekitarnya sendiri, tidak adanya gerakan mahasiswa yang mengedukasi masyarakat membuat mereka semakin gelap." Tandasnya.

Berbeda dengan Mohammad Rifki, Khaerudin Imawan melihat dari kaca mata media dia menyebutkan hyperrealiti sudah memasuki kehidupan masyarakat Indonesia dimana setiap saat kita tidak bisa jauh dari gadget. Pria yang akrab disapa Kang Wawan itu menyatakan konteksnya dunia maya dengan pilkada atau politik Indonesia karena sebesar apapun kampanye anti hoax, hoax itu pasti ada, karena hoax adalah "kreativitas" pengguna ruang Maya (sebutan untuk dunia Maya). "Hoax itu kan kreativitas pengguna ruang maya, karena ini sudah diramalkan oleh Karl Marx dan banyak lagi pada beberapa ratus tahun yang lalu." Katanya.

Setelah prolog yang disampaikan oleh kedua pemateri, moderator pun mengarahkan untuk masuk pada sesi tanya jawab, terdapat 2 orang penanya yang dominan berstatus sosial sebagai mahasiswa. Dengan pertanyaan, yang pertama, penyebab hoax di dunia Maya dan yang kedua, tindakan pemerintah untuk melawan hoax.
Kang Wawan menjelaskan, "Faktor fantasi dan imajinasi orang tentang sesuatu hal yang benar sudah melewati batas ketika ada makna dan simbol yang di lewati, ruang fantasi dan imajinasi manusia harus diberi stimulus."

Dia juga menyinggung tentang cara kampanye yang di terapkan haruslah diganti. "Yang punya kewenangan di jalur pemerintah ketika dalam baligo yang masing memasang inkamer, harusnya kampanye sosial dan pemerintah ganti semua, adanya dominasi inkamen. Ruang mayanya dimana yaitu dipostingnya, relawan kampanye, tim sukses dan lain-lainIni tantangan kita harus menggunakan hati nurani dalam membuat produk untuk dijadikan representasi sebuah kebenaran," Tambahnya.

Tak mau kalah dengan kang Wawan, Mohamad Rifki yang saat itu menggunakan kemeja berwarna putih dan berkacamata mengatakan bahwa kita sebagai masyarakat hanya harus berani memilih untuk berada di arah yang benar atau kebohongan. "Mau ada di ruang kebenaran atau mau ada di ruang kebohongan, bukan karena kepentingan di parpol tapi karena soal kerakyatan dan hati nurani," Tandasnya

Acara pun ditutup dengan menyampaikan solusi dari pemateri yaitu adanya screaming yang dilindungi pemerintah, generasi muda harus cerdas dalam menggunakan media sosial dan melibatkan hati nurani dalam menentukan pilihan.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews