Responsive Ad Slot

USB Bantu Korban Banjir Lewat Kesenian dan Budaya

Tidak ada komentar

Jumat, 02 Maret 2018

Cirebon, SetaraNews.com - Belakangan ini sedang marak-maraknya bermunculan para relawan yang turut serta menggelar aksi solidaritas terhadap bencana banjir yang menimpa Kabutapen Cirebon bagian timur (Cirtim), baik relawan dari kalangan Pemuda, Komunitas, Pemerintah, hingga mahasiswa pun banyak yang terpanggil untuk menumbuhkan nilai solidaritas dan kemanusiaan.

Baca: Komunitas Pemuda Panguragan Bersatu Gelar Aksi Solidaritas Banjir Cirebon Timur

Kali ini giliran Unit Kegiatan Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas Swadaya Gunung Jati (USB Unswagati) Cirebon yang menggelar aksi solidaritas, Mereka (USB.Red) melakukan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) sekaligus menghibur masyarakat sekitar dengan menggandeng Komunitas Toyota Calya Indonesia (KTCI) Pusat dan KTCI Wilayah III Cirebon. Selain itu, USB juga turut menggandeng Komunitas Gambar Bareng (Gambreng) Kuningan serta Backpaker Cirebon Timur.

Baksos tersebut diselenggarakan di Desa Cilengkrang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon dengan melakukan sosialiasasi terhadap kebudayaan dan memberikan dukungan moril, "Hati Nurani kami juga turut terpanggil dengan kejadian yang menimpa kawan kawan kami (Banjir Cirtim.Red), maka dari itu kami turut berpartisipasi untuk membantu mereka dengan donasi berupa logistik yang kami donasikan kepada mereka. Karena kami dari Keluarga seni dan budaya, kami juga sosialisasikan tentang kebudayaan yang positif," ungkap Ahmad Denna, Koordinator Baksos dan Hiburan Masyarakat saat ditemui setaranews.com, Kamis (01/03).

Lebih lanjut, Pria berambut gondrong yang kerap disapa Denna tersebut memaparkan bahwasannya setiap manusia yang hidup di dunia harus saling tolong menolong antar sesamannya, "Kita harus selalu berfikir positif, makannya kami  sosialisasaikan budaya yang positif, selain itu kita harus peduli dengan manusia lainnya, dan peduli dengan lingkungan dan tak luput menjunjung solidaritas kita sebagai sesama masyarakat," lanjutnya.

Disisi lain, Safeti Winarsih, Ketua Umum UKM Seni dan Budaya Unswagati Cirebon menyampaikan terimakasih terhadap komunitas yang turut serta membantu pada kegiatan tersebut, "Saya sampaikan terimakasih banyak pada KTCI yang sudah bersedia untuk menjalin kerjasama dengan kami, lalu untuk teman-teman komunitas backpaker dan Gambreng saya ucapkan terimakasih karena sudah ikut membantu sukseskan kegiatan ini. Alhamdulillah, kita sebagai manusia masih dapat memberikan bantuan terhadap korban banjir, walaupun memang tidak banyak, akan tetapi setidaknya dapat menghibur serta membuat mereka senang dengan beberapa penampilan yang kami suguhkan langgsung kepada mereka, Insya Allah apa yang kami lakukan saat ini merupakan hal terbaik yang sudah kami upayakan dan semoga berkenan dihati warga sekitar. Aamiin." ucapnya sembari memberikan harapan. (Haerul Anwar)

Baca berita lainnya: Pentingnya Bantuan Trauma Healing Bagi Korban Bencana

Pentingnya Bantuan Trauma Healing Bagi Korban Bencana

1 komentar
Cirebon, Setaranews.com - Hujan deras yang menguyur Kabupaten Cirebon, Brebes dan Kuningan akhir-akhir ini mengakibatkan banyak terjadi becana alam seperti banjir dan tanah longsor, terhitung sejak 23 Februari 2017, 3 Kabupaten tersebut sudah tergenang air setinggi pinggang orang dewasa, banyak warga yang kehilangan harta benda dan tatkala tragis kehilangan anggota keluarganya. selain harta benda dan anggota keluarga , mental korban bencana juga tentu sangat terguncang. Akibatnya banyak masyarakat, ormas, relawan kemanusiaan dan mahasiswa yang simpati serta kompak menggalang dana untuk membantu memenuhi kebutuhan finansial korban bencana alam, namun pada dasarnya para korban juga membutuhkan bantuan kesehatan mental karena trauma yang timbul dari bencana alam berskala besar.

Trauma healing sangatlah penting, melihat banyak dari korban bencana alam mengalami trauma dan ketakutan yang berlebih ketika mendengar suara-suara yang menyerupai gaung, getaran, atau semacamnya. Trauma healing sendiri diutamakan pada anak-anak : usia 0 – 12 tahun, remaja : usia 13 – 18 tahun, dewasa : usia 19 – 60 tahun dan lansia : usia 60 tahun keatas, yang biasanya mengalami trauma paling kuat, baik stres maupun depresi.

Trauma healing seharusnya dilakukan secara teratur agar dapat membangun kembali mental para korban. Terhadap anak-anak, misalnya, program trauma healing dapat dilakukan dengan membangun kelompok bermain yang diikutkan ke dalam kelas, atau kegiatan-kegiatan bermain, belajar, membaca buku, kegiatan kesenian seperti tari, musik, dan melukis bahkan kegiatan beragama. Trauma healing yang diberikan pada anak-anak bertujuan agar mereka mampu melupakan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau, sehingga membuat mereka lebih siap apabila bencana datang kembali.

Kegiatan-kegiatan trauma healing yang diberikan pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Pada orang dewasa, program yang lebih tepat berupa konseling. Dalam tugas kemanusian seperti menghadapi bencana alam, peran relawan kemanusian sangatlah penting. Fase penanganan bencana biasanya dibagi dalam beberapa fase.

Fase pertama adalah fase emergensi, dimana fase ini membutuhkan sifat cepat karena berurusan dengan penyelamatan korban dari reruntuhan, timbunan hingga tugas mengevakuasi korban luka hingga korban meninggal. Relawan emergensi dibekali kemampuan first aid, evakuasi korban, hingga kemampuan lain yang mendukung. Maka, relawan emergensi biasanya berasal dari para pencinta alam atau orang yang telah dididik dalam pendidikan khusus.

Fase emergensi biasanya disesuaikan dengan kebutuhan penanganan wilayah terdampak. Waktunya biasanya ditentukan petugas berwenang seperti BNPB, BPBD, Pemda atau otoritas kebencanaan lainnya. Fase emergensi dinyatakan selesai bila korban sudah ditemukan dan dievakuasi, atau dianggap telah lewat waktu dimana korban kemungkinan tak lagi bisa diselamatkan dalam keadaan hidup atau selamat. Dalam fase emergensi, juga dilakukan fase relief dan fase medis. Fase relief atau fase bantuan dan juga pendirian posko.

Dalam fase medis, di perlukan upaya pemulihan trauma pasca bencana. Disinilah peran relawan trauma healing unuk mengurangi dampak truma para korban bencana. Sebagian besar memang dilakukan untuk anak--anak.

TAT (Tapas Acupressure Technique) adalah proses yang mudah untuk mengakhiri stres, trauma, rasa takut (fobia), rasa menderita untuk menciptakan rasa bahagia. TAT adalah teknik yang baru, sederhana dan efektif untuk menciptakan rasa damai, rileks, dan sehat dalam waktu yang singkat. TAT merupakan salah satu bentuk terapi dalam kelompok ilmu Energy Psychology yang sedang berkembang pesat. Teknik ini dilakukan dengan menyentuh ringan beberapa titik akupunktur di kepala (Posisi TAT), sambil mengarahkan perhatian anda pada masalah yang ingin diatasi (7 Langkah Penyembuhan TAT). Menyentuh titik-titik ini dengan ringan akan memberikan efek pudarnya trauma, sehingga pikiran dan perasaan hati yang negatif pun berkurang, terutama setelah mengalami peristiwa yang traumatis.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan kembali wilayah, atau penempatan korban di wilayah baru. Dengan hal tersebut, ingatan tentang bencana di benak mereka bisa terhapus, dan kehidupan baru bisa dimulai.

Berita lainnya: Komunitas Pemuda Panguragan Bersatu Gelar Aksi Solidaritas Banjir Cirebon Timur

Komunitas Pemuda Panguragan Bersatu Gelar Aksi Solidaritas Banjir Cirebon Timur

2 komentar
Cirebon, SetaraNews.com - Beberapa komunitas Kecamatan Panguragan, Cirebon yang mengatas namakan Aliansi Pemuda Kecamatan Panguragan Menggalang Aksi Peduli Korban Bencana Banjir yang melanda Kabupaten Cirebon Bagian Timur (Cirtim), beberapa komunitas tersebut yaitu berasal dari  Moonraker, MSSC, BPKel Oi Kaum Urbanis, IPNU IPPNU PR Kroya Karanganyar dan Viking Panguragan Cirebon,Kamis (01/03) .

Abdul, Koordinator Aliansi Pemuda Kecamatan Panguragan mengatakan bahwasannya aksi tersebut sebagai bentuk edukasi dan hiburan, “Kami yang lahir dari komunitas memang seharusnya bersatu dan menumbuhkan rasa solidaritas kita terhadap teman-teman yang sedang dilanda bencana banjir, Selain sebagai bentuk kepedulian, bukan hanya sebatas sembako yang kami berikan, melainkan kami juga memberikan bantuan berupa edukasi dan hiburan terhadap masyarakat sekitar. Karena yang kami lihat di lapangan bantuan berupa edukasi dan hiburan juga sangatlah relevan untuk disalurkan,"katanya, Kamis (01/03).

Aksi Solidaritas tersebut merupakan bentuk dari kesatuan kalangan pemuda Kecamatan Panguragan, dimana berbagai komunitas Kecamatan Panguragan dari mulai komunitas penggemar musik sampai kepada penggemar sepak bola turut ikut serta dalam menumbuhkan rasa solidaritas terhadap kemanusiaan.

“Ini merupakan bentuk dari kepedulian, kami semua sadar kalau harus saling peduli terhadap sesama manusia, apalagi terhadap bencana banjir yang menimpa kawan-kawan kita, mereka jelas sekali sangat membutuhkan bantuan, dan semoga saja apa yang telah kami lakukan saat ini minimalnya dapat meringankan beban mereka yang mengalami trauma akibat banjir tersebut, kemudian selanjutnya semoga masih tetap dapat menjaga lingkungan,"lanjut Abdul sembari menyampaikan harapannya saat ditemui setaranews.com.

Aksi peduli banjir tersebut dialokasikan secara langsung ke rumah-rumah warga tepatnya di sekitaran Desa Cilengkrang, Kecamatan Pasaleman sekaligus mengadakan edukasi dan hiburan kepada korban banjir khususnya anak-anak.

Berita lainny : Mapala Ciayumajakuning Kerahkan Tim Membantu Korban Pasca Longsor Di Kuningan

Mapala Ciayumajakuning Kerahkan Tim Membantu Korban Pasca Longsor Di Kuningan

1 komentar

Kamis, 01 Maret 2018

Kuningan, setaranews.com - Berdasarkan hasil Rapat Pusat Kordinasi Wilayah III (PKW III) Ciayumajakuning memutuskan untuk membentuk siaga bencana guna membantu Kejadian Bencana di sekitar Wilayah III Cirebon khusunya. Mapala Ciayumajakuning yang terdiri dari Mapala Cirebon, Mapala Indramayu, Mapala Kuningan, Mapala Majalengka. Sejak Rabu 28 Februari 2018, Mapala Ciayumajakuning mengerahkan tim untuk membantu khususnya di Desa Cijemit Kecamatan Ciniru Kabupaten Kuningan dan Desa Cipakem Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan. "Kita sebagai Mahasiswa Pecinta Alam harus membuktikan bahwa Mapala tidak hanya kegiatan adrenaline saja tapi juga mengaplikasikan nilai kemanusiaan dan sosial sesuai kode etik pecinta alam Indonesia" Tutur Adi Barokah selaku Ketua Koordinator PKW Mapala Ciayumajakuning.

Kedua Desa tersebut mengalami longsor tanah sejak 22 Februari 2018, disertai longsoran susulan pada 25 dan 26 Februari 2018. Kondisi warga saat ini sudah dievakuasi ke Posko terdekat, dikarenakan beresiko terjadinya longsor susulan. Maka setelah warga dievakuasi di Posko setempat saat ini yang masih dalam upaya evakuasi adalah sejumlah barang berharga diantaranya surat dokumen, motor, mobil serta hewan ternak yang masih terjebak di lokasi kejadian.

Keadaan jalan yang mengalami kerusakan dan terhalang oleh timbunan tanah longsor membuat akses sulit untuk dilalui bahkan jarak tempuh dari kedua desa tersebut menuju posko setempat harus menempuh waktu 1 jam lebih dengan berjalan kaki karena jalan sudah tidak bisa diakses kendaraan. Medan terjal seperti naik turun perbukitan dan sedikit berlumpur membuat sulit jalur evakuasi.

Saat ini Relawan yang hadir di lapangan diantaranya Mapala Ciayumajakuning, BPBD Bandung, BNPB Bandung, Tagana, KRC, Mahasiswa Unswagati dan elemen lainnya untuk membantu dalam proses evakuasi, asesment data, serta distribusi barang.

Saat ini barang bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat diantaranya alat masak, alat makan, alat penerangan, alat shalat, alat kebersihan, alat tulis, dan seragam sekolah. "Untuk saat ini kedua Desa tersebut memang masih rawan terjadi longsor susulan, apalagi kalo hujan. Bahkan jam 3 sore aktivitas relawan menuju lokasi kejadian dihentikan karena terlalu beresiko" Ujar Nur Fikri Muhamad Relawan asal Mata Alam Stikom. (Nur Widowati)

Aliansi Mahasiswa Unswagati Gelar Bakti Sosial Banjir Cirebon Timur

Tidak ada komentar

Rabu, 28 Februari 2018

Cirebon, setaranews.com - Beberapa elemen organisasi mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unswagati menggelar Bakti Sosial (Baksos) terhadap korban bencana banjir yang menimpa Daerah Cirebon Bagian Timur (Cirtim). Selasa (27/02).

Baksos tersebut selain bertujuan sebagai bentuk rasa solidaritas kemanusiaan juga sebagai bentuk bantuan untuk meringankan beban mereka yang dilanda bencana banjir, terlihat jelas dimana ketika mereka (Mahasiswa.Red) sampai di lokasi bencana mendengar celotehan warga merengek kelaparan. "Mendengarnya saja saya mewakili teman-teman mahasiswa unswagati merasa sangat prihatin, mungkin saja mereka saat ini bisa tertawa karena mendapat bantuan yang kami salurkan dan juga para relawan lainnya, tapi kita tidak tahu kabar mereka malam nanti seperti apa, mungkin saja pertaruhannya dengan nyawa" ungkap Suharto, Koordinator Aliansi Mahasiswa Unswagati sembari menunjukan rasa prihatinnya, Selasa (27/02).

Bakti Sosial yang disalurkan berupa Sembako, obat-obatan, pakaian layak pakai usia dini dan dewasa serta bantuan bentuk materil yang dialokasikan di tiga posko yaitu Posko MWC-NU, Losari, kemudian dilanjut di Posko Bojong Sari dan Desa Karangsambung sembari mengadakan Trauma Healing, "Awalnya kami datangi Posko Ciledug, tapi karena Ciledug sudah mendapatkan bantuan dan sudah Over Load, akhirnya kami mendatangi Desa terpencil, Bojong Sari, dimana desa tersebut dapat dibilang masih minim bantuan karena masih terlihat jelas lumpur dan sisa-sisa barang yang rusak akibat banjir sehingga bus kampus yang kami naiki sempat mogok" jelas Mahasiswa Fakultas Teknik Unswagati tersebut.

Lebih lanjut, Suharto menyampaikan harapannya, "Untuk masyarakat sekitar yang terkena musibah cepat diangkat kesedihannya, dan untuk Aliansi Mahasiswa sendiri semoga tetap ada dan terbentuk serta terkoordinir secara organisasi. karena dengan Aliansi ini semua sistematis akan terorganisir, walaupun kita disini berasal dari organisasi yang berbeda-beda tapi kita tetap satu Unswagati. Didalam tetap Unswagati, diluarpun tetap Unswagati" harapnya saat ditemui setaranews.com.

Baca Berita Lainnya : Tumbuhkan Nilai Kemanusiaan, DPM-FE Gelar Aksi Solidaritas Peduli Bencana Banjir Cirebon Timur

Tumbuhkan Nilai Kemanusiaan, DPM-FE Gelar Aksi Solidaritas Peduli Bencana Banjir Cirebon Timur

1 komentar
Cirebon, Setaranews.com - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Cirebon bagian timur yang meredam ribuan rumah warga sekitar banyak menyita simpati dari para relawan yang berbondong-bondong melakukan aksi solidaritas berupa penyaluran berbagai bantuan kepada para korban bencana. Bermacam-macam bantuan yang datang baik berupa sembako, obat-obatan, pakaian layak pakai, alat kebersihan serta berbagai bantuan yang bersifat moril.

Hal tersebut salah satunya dilakukan oleh segenap anggota Dewan Perwakitan Mahasiswa Fakultas Ekonomi (DPM-FE) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon memberikan bantuan moril kepada korban bencana banjir yang menimpa Wilayah Cirebon bagian timur, Senin (26/2) lalu.

"Bentuk kepedulian kami diberikan bukan hanya berupa materi saja, melainkan kami juga memberikan bantuan berupa moril seperti Trauma Healing dan Mitigasi bencana alam terhadap masyarakat yang terkena banjir. Karena yang kami lihat di lapangan bantuan berupa moril tidak kalah pentingnya dengan bantuan berupa materi” ungkap Ginanjar, Ketua Umum DPM-FE Unswagati Cirebon.

Lebih lanjut, Ginanjar mengatakan tujuan utamanya melaksanakan aksi solidaritas terhadap bencana banjir Cirebon Timur (Cirtim) yaitu sebagai bentuk dari rasa kemanusiaan. "ini merupakan bentuk dari kepedulian kami terhadap kawan-kawan  kita yang sedang dilanda bencana dan tentunya mereka sangat membutuhkan banyak bantuan. Semoga dengan adanya bantuan yang kami berikan ini dapat meminimalissir trauma korban terhadap banjir dan tetap menjaga lingkungan,” lanjutnya sembari memberikan harapan, Senin (26/2).

Aksi solidaritas peduli banjir tersebut dialokasikan kepada beberapa posko dimana tempat pengumpulan berbagai bentuk bantuan dari para relawan yang ingin menyumbangkan bantuan terhadap korban banjir, diantaranya Posko depan Tugu Topeng Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Posko SMK Muhammadiyah Kecamatan Ciledug yang kemudian dibagikan ke rumah-rumah warga tepatnya di Desa Cilengkrang, Kecamatan Pasaleman sekaligus mengadakan Trauma Healing kepada korban banjir di Desa Cilengkrang. (Haerul Anwar)

Baca berita lainnya: Datang Banjir, Warga Cirebon Timur Berduka

Melalui Makrab, Himakom Tanamkan Nilai kepada Pengurus Baru

Tidak ada komentar

Senin, 26 Februari 2018

Unswagati, Setaranews.com – Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Unswagati mengadakan kegiatan Malam Keakraban (Makrab) yang diikuti oleh seluruh pengurus, baik pengurus lama maupun pengurus baru. Kegiatan Makrab ini bertempat di Buper Leles Majalengka pada Sabtu-Minggu, 24-25 Februari 2018.

Teuku Ryan selaku Ketua Pelaksana menjelaskan Makrab tahun ini bertemakan “One Night With a New Family", ini dikhususkan pada pengenalan diri anggota baik yang lama maupun yang baru secara mendalam agar dapat lebih loyal terhadap organisasi.
“Berangkat dari pribahasa tak kenal maka tak sayang, saya harapkan temen-temen diperiode baru ini harus lebih mengenal sesama anggotanya, lebih loyalitas lagi dalam organisasi khususnya Himakom untuk mengahadapi permasalahan yang semoga tak ada, agar bisa melewati dan maju bersama Himakom kabinet Arga Astra ini,” jelasnya.
Untuk lebih menjalin ikatan, lanjut Ryan, Makrab diisi dengan kegitan-kegiatan antaralain Sharing Session antara pengurus dengan demisioner, kemudian juga ada games-games. “Dan terakhir ada kegiatan mencap telapak tangan di kain putih dengan warna-warna yang isinya merupakan kesan terhadap Himakom itu sendiri,” ucapnya yang masuk dalam divisi Penelitian dan Pengembangan.

Dilain kesempatan, Royhan Haidar Ketua Umum Himakom, menuturkan bahwa kegiatan Makrab ini adalah untuk menanamkan esensi-esensi organisasi Himakom kepada pengurus-pengurus baru khususnya.
“Menanamkan esensi bahwa kita itu harus bersikap berani, bahwa kita sudah tau apa yang harus kita bela. Kita sekarang punya rumah dan kita harus menjaga dan melawannya ketika ada yang mengusiknya,” tegas Royhan.
Makrab sendiri, kata Royhan, merupakan suatu prosedur bagi anggota baru yang sebelumnya telah melewati proses open recruitment, wawancara dan yang terakhir adalah Makrab.
Ia berharap pada kabinet tahun ini, semua anggota diharapkan cakap dalam berbicara dan punya nilai lebih dari mahasiswa lainnya. “Lebih ke upgrading sebenernya. Kita berkaca pada kabinet sebelumnya, jika sebelumnya kiat diajarkan berjalan maka pada kabinet ini kita harus udah bisa berlari,” tutup mahasiswa tingkat tiga tersebut. (Hashbi/Fatimah)

Datang Banjir, Warga Cirebon Timur Berduka

Tidak ada komentar
Regional, Cirebon, Setaranews.com – Mulai pada hari Kamis, 22 Februari 2018 lalu Kabupaten Cirebon, tepatnya di Cirebon bagian Timur (Cirtim) dilanda bencana banjir bandang, sehingga mengakibatkan ribuan rumah warga sekitar, Sekolah dan fasilitas-fasilitas lainnya teredam banjir setinggi 3 meter. Banjir tersebut dipicu karena intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya volume Sungai Cisanggarung yang kemudian mengakibatkan jebolnya tanggul sungai.

Beberapa wilayah yang teredam banjir yaitu Kecamatan Ciledug, diantaranya Desa Bojongnegara, Ciledug Wetan, Ciledug Lor, Ciledug Kulon, Ciledug Tengah, Jatiseeng, Jatiseeng Kidul. Tak hanya sebatas wilayah-wilayah tersebut yang teredam banjir, melainkan banjir juga merambah hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat yaitu Kabupaten Brebes.

Bencana banjir tersebut menjadi suatu duka bagi masyarakat Cirebon dan Sekitarnya, dimana selain banjir meredam rumah, tentunya hal tersebut membuat akes jalanan susah dilalui dan ditambah lagi dengan adanya pemadaman listrik sehingga membuat warga Cirebon Timur (Cirtim) menjadi semakin berduka. Namun pada hari Minggu, 25 Febuari 2018 banjir mulai surut meski masih ada turun hujan, ”Air sudah mulai surut tinggal membersihkan sisa lumpur-lumpur bekas banjir dan pengiriman bahan bantuan ke setiap desa” Ujar Abu Nashor salah satu relawan bencana banjir Cirebon Timur.

Pasca kejadian, berbagai bantuan dari para relawan berdatangan dari mulai Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala Ciayumajakuning), Backpacker Cirebon timur, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Komunitas Relawan hingga elemen lainnya turut ikut serta membatu dalam proses evakuasi korban banjir yang melanda Kawasan Cirebon timur. “Sampai hari ini kita dari Mapala Ciayumajakuning akan kembali pulang mengingat 3 hari sudah kami disini. dan akkan bergantian dengan relawan lainnya untuk bantu-bantu di lokasi posko banjir dan kondisi disini pun sudah cukup kondusif”, tutup Adi Barokah Ketua Kordinator Mapala Ciayumajakuning. (Nur Widowati).
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews