Responsive Ad Slot

Mahasiswa Sumbang Dana Untuk Fotocopy LPJ PKKMB 2018

Tidak ada komentar

Jumat, 07 Desember 2018

Setaranews.com - Kamis, 6 November 2018 adalah hari dimana panitia Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2018 melakukan sidang Laporan Pertanggung jawabannya (LPJ) selama mengadakan acara tersebut.

Sidang yang dilaksanakan di Auditorium kampus utama Unswagati itu berjalan dengan sangat khidmat, hanya saja berkas LPJ yang harusnya dibagikan untuk seluruh peserta sidang itu tidak diperbanyak, berkas tersebut hanya dibagikan untuk anggota BEM-Universitas dan DPM-Universitas sedangkan peserta peninjau yang terdiri dari Seluruh Mahasiswa Unswagati tidak diberikan berkas LPJ Panitia PKKMB 2018.

Hotman Dhuha selaku ketua Pelaksana menuturkan bahwa panitia PKKMB 2018 tidak memiliki anggaran alias NOL persen (0%), jadi hanya dapat memperbanyak secukupnya. " Mohon maaf anggarannya sudah habis, tidak tersisa"Katanya.

Jika menilik dari berkas LPJ yang  diserahkan Panitia PKKMB 2018 tercarat pemasukan keuangan sebesar Rp. 106.307.943; dan total pengeluaran sebesar Rp.108.550.932; bahkan rugi sebesar Rp.2.242.989; belum dihitung dengan pemasukan dari sponsorship.

Setelah debat Panjang yang memakan waktu yang cukup lama, akhirnya munculah inisiatif dari Mahasiswa untuk memberikan uang sumbangan atau swadaya secara ikhlas agar berkas LPJ PKKMB 2018 dapat diperbanyak. "Ya udah, Kita sekarang patungan ajah seikhlasnya, biar LPJnya bisa difotokopi, biar kita juga liat" Kata Dwi algi salahsatu peserta sidang.

Statement dari bogel sapaan untuk Dwi Algi semakin diperkuat oleh peserta sidang lainnya, dan sempat mengalami perdebatan panjang yang awalnya panitia PKKMB 2018 menolak dana sumbangan dari peserta sidang dan bersikukuh tidak ingin menggunakan uang tersebut, namun akhirnya seluruh peserta sidang dan panitia PKKMB 2018 menerima dana yang terkumpul sebesar kurang lebih Rp.260.000; itu digunakan untuk memperbanyak berkas LPJ 2018.

Opini: Nalar Pendek BEM Unswagati dan Panitia PKKMB 2018

Tidak ada komentar

Sabtu, 01 Desember 2018

Opini, Setaranews.com - Insiden penggrebekan menyangkut persoalan PKKMB 2018 yang terjadi pada Kamis (29/11) benar-benar menyisakan lara tersendiri. Kepada oknum yang terkasih yakni pihak BEM Unswagati dan Panitia PKKMB 2018 yang sekiranya nalarnya butuh dirawat. Mereka pada pukul 18.30 WIB tanpa tedeng aling-aling menggrebek Sekretariat DPM Unswagati yang kebetulan bertetangga dengan Sekretariat LPM Setara dan UKM Olahraga. Adu mulut dan adu fisik tidak terelakkan. Suasana seketika pecah dengan keributan.

Kekececewaan tiba-tiba saja merebak. Mahasiswa sebagai insan-akademik rasa-rasanya tidak pantas menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Organisasi selalu mengajarkan manusianya untuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan kepala dingin. Dalam kasus Kamis malam lalu, BEM Unswagati dan Panitia PKKMB 2018 sama sekali tidak memakai kaidah-kaidah organisasi untuk menyelesaikan permasalahan. Namun justru semakin memperkeruh masalah dengan mengedepankan hawa nafsu.

Adu mulut dan adu fisik yang tidak terelakkan Kamis malam lalu itupun sempat dilerai oleh salah seorang peserta kongres LPM Setara karena dirasa mengganggu jalannya kongres. Namun bukannya dihargai aspirasinya, peserta kongres itupun terkena sasaran pukulan dan makian. Kronologinya ialah ketika aksi penggrebekan terjadi agenda kongres pun sedang berlangsung dan terpaksa mengalami penundaan selama sehari.

Apa yang terjadi Kamis malam lalu bukanlah cerminan mahasiswa maupun organisatoris. Secara umum saja bisa dilihat bahwa mahasiswa mempunyai tiga peran yang menonjol dari segi moral, sosial dan intelektual. Mahasiswa selaku insan yang bergelut di bidang akademis sudah sepantasnya bertindak dan berujar tidak hanya berdasarkan sebanyak apapun referensi yang dibaca. Namun di dalamnya harus diterapkan kandungan nilai seperti kejujuran, keadilan dan kemanusiaan. Dengan kapasitas intelektual dan daya nalarnya tersebutlah mahasiswa seharusnya mampu menganalisa persoalan yang muncul kepermukaan secara argumentatif dan bertanggungjawab.

Terlepas demikian, pihak mana yang benar ataupun salah dalam persoalan LPJ PKKMB 2018, sikap tempramental BEM Unswagati dan Panitia PKKMB 2018 tidak bisa dibenarkan begitu saja. Tuhan menciptakan manusia dengan nalar untuk berpikir. Berbeda dengan binatang yang hanya memiliki insting. Kalau merasa diusik langsung pasang badan dan siap menyerang secara membabi buta. Generasi yang mengedepankan otot ketimbang otak akan selalu menjadi pemicu kericuhan dan membahayakan kehidupan berbangsa.

*Penulis adalah salah satu Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris Unswagati

Polemik Pelaksanaan PKKMB 2018 Unswagati

Tidak ada komentar
Panitia Absen Dalam LPJ PKKMB
Pengenalan Kehidupan Kampus pada Mahasiswa Baru (PKKMB) merupakan program wajib bagi setiap Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, baik PTN maupun PTS. Hal tersebut sesuai Surat Edaran dari DIKTI. Dimana penyenggaraannya sudah di atur dan terkonsep dengan jelas, sehingga pelaksanaan sesuai dengan tujuannya yaitu pengenalan, persiapan, dan mengakselerasi mahasiswa baru dalam memahami lingkup kehidupan dunia kampus. Namun, dalam penyelenggaraan PKKMB 2018 Unswagati mengalami polemik dari persiapan sampai pasca kegiatan.

Pasca kegiatan untuk LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) PKKMB Universitas menjadi agenda penting bagi civitas akademika karena menyangkut hajat mahasiswa, dimana harus disampaikan secara terbuka dan transparan, baik dari segi kegiatan maupun pendanaan yang diperuntukan untuk kegiatan tersebut (PKKMB), dimana dalam hal ini BEM-U sebagai pengguna anggaran untuk kegiatan PKKMB 2018 yang ditindak lanjut dengan pembentukan panitia yang berasal dari mahasiswa Unswagati.

Pada pelaksanaannya, PKKMB menuai berbagai polemik dalam kegiatan tersebut, salahsatunya yaitu menyoal gagalnya Sidang Terbuka LPJ PKKMB, karena ketidak hadiran seluruh Panitia Pelaksana PKKMB Universitas, dimana Sidang terbuka LPJ PKKMB Universitas yang sudah diagendakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Unswagati (DPM-U) pada Selasa (27/11) di Aula Kampus Utama Unswagati Cirebon.

Entah apa yang menyebabkan Panitia PKKMB tidak menampakan batang hidungnya di ruang persidanagan yang sudah diagendakan tersebut, “Kami sudah memberitahukan terutama untuk ketua pelaksana agar menyampaikan kepada anggota panitia lainnya untuk menyampaikan laporannya, bahkan beberapa jam sebelum dimulainya sidang pun kami konfirmasi kembali kepada pihak panitia, akan tetapi apa yang sudah kami beritahu tidak mendapatkan jawaban apapun dari pihak panitia,” ungkap Suharto, Ketua DPM-U saat ditanya setaranews.com soal kronologis absennya panitia.

Disisi lain, Fiqri Taufik selaku Ketua BEM-U merasa tidak mengetahui akan adanya agenda sidang terbuka soal kegiatan PKKMB Universitas tersebut, atau lebih tepatnya tidak mendapatkan koordinasi dari pihak DPM-U “bagaimana mau hadir kami tidak tau ada persidangan LPJ PKKMB, harusnya DPMU melakukan koordinasi terlebih dahulu,” paparnya saat ditanya setaranews.com.

Menanggapi pernyataan tersebut, Suharto Membantah keras atas pernyataan yang diungkapkan oleh pria yang kerap disebut dengan “Nagasaki” tersebut, karena menurut Suharto sudah melakukan koordinasi terhadap pihak-pihak terkait “Mau koordinasi yang seperti apa? Jelas-jelas BEM-U maupun Ketua Panitia PKKMB Universitas mengetahui betul secara jelas, buktinya ketika saya pribadi menanyakan soal sidang LPJ PKKMB kepada ketua BEM-U maupun Ketua Pelaksana, mereka menjawab tahu akan agenda tersebut”, tegasnya kepada setaranews.com, Jumat (30/11).

Absennya seluruh Panitia PKKMB Universitas, Mahasiswa yang hadir dalam Sidang LPJ PKKMB Universitas 2018 merasa kecewa akan sikap yang dilakukan oleh panitia. Berdasarkan hal itu, akhirnya Persidangan LPJ PKKMB Universitas pun tidak terlaksana, melainkan memicu kesepakatan forum yang hadir dalam persidangan, bahwa panitia pelaksana PKKMB Universitas dianggap telah menyepelekan agenda Persidangan dan dianggap tidak bertanggungjawab akan kegiatan yang telah dilaksanakannya, yaitu kegiatan PKKMB Universitas 2018. Akhirnya disepakati adanya sanksi atas perlakuan yang dilakukan oleh panitia PKKMB Universitas, adapun sanksi yang disepakati forum yaitu mahasiswa yang menjadi Panitia Kegiatan PKKMB 2018 dicabut hak berorganisasinya, yang artinya tidak di perkenankan untuk masuk dalam organisasi kemahasiswaan di unswagati.

Sekretariat DPM-U Digerebek
Penggerebekan sekretariat Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (DPM-U) Cirebon oleh sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (BEM-U) dan Panitia Pelaksana PKKMB 2018 pada kamis pukul 18.30 WIB. Pada Gedung yang sama juga itu ditempati oleh kesekretaruatan LPM Setara dan UKM Olahraga. Saat itu ada anggota DPM-U disekretarianya, LPM Setara yang tengah melaksanakan Kongres di sekretariatnya, sementara tidak ada orang UKM Olahraga, serta beberapa mahasiswa yang sedang nongkrong di sekitar lingkungan sekre tersebut.

Pada saat itu Suharto selaku ketua DPM-U dan anggota DPM-U sedang di dalam sekretariat DPM-U dan mendapatkan pesan dari Persiden Mahasiswa (Persma) yaitu Fikri, menanyakan keberadaaanya dan Suharto menjawab “sedang berada di sekre DMP-U” balasnya melaui pesan singkat Whatsapp. Selang beberapa menit kemudian pihak BEM-U dan juga Panitia Pelaksana mendatangi sekretariat DPM-U untuk mempertanyakan sanksi yang di berikan terhadap Panitia Pelaksana kegiatan PKKMB, “kita teman-teman, khususnya panitia PKKMB ada respon dari kita yang di berikan kepada DPM-U karena kita teman-teman panitia PKKMB, dirasa ini pencemaran nama baik, karena telah memposting foto-foto koordinator PKKMB” ujar Egi, selaku salahsatu Panitia PKKMB. Namun kedatangan BEM-U dan Panitia Pelaksana PKKMB tersebut malah berujung keributan yang menyebabkan kegaduhan, terjadi di dalam sekre DPM-U. Setelah beberapa mahasiswa lainya meLerai massapun mulai berhamburan keluar ruangan, sampai ke halaman kesekretariatan LPM SETARA dan UKM Olahraga, “awalnya kami hanya ingin menarik Suharto untuk di ajak kedepan kampus, tapi masih dalam pelataran kampus” tutur Egi kepada Setaranews.com.

Terjadinya insiden tersebut bertepatan dengan berlangsungnya kegitan Kongres ke-7 LPM Setara, yang mengganggu jalannya Kongres, sehingga terjadinya pending kongres ke-7 LPM Setara yang di akibatkan keributan tersebut. Sehingga anggota yang berada dalam kongres tersebut ikut keluar untuk mengkondusifkan keadaan, dan salah satu peserta kongres LPM Setara mencoba untuk melerai keributan yang terjadi, tapi upaya tersebut gagal, dan malah menjadi korban pemukulan yang di lakukan beberapa mahasiswa yang disinyalir dari BEM-U dan Panitia Kegiatan PKKMB.

Masih dalam keadaan penuh emosi, akhirnya untuk mengkondusifkan masa dan melerai keributan maka salah satu mahasiswa yang sedang ada di lingkungan tersebut menggiring masa ke parkiran Kampus Utama Unswagati untuk melakukan musyawarah secara baik-baik, pihak DMP-U, BEM-U dan Panitia PKKMB di minta duduk melingkar. Diskusipun dilakukan dengan masih terbawa suasana amarah yang belum mereda.

Pada diskusi tersebut pihak BEM-U dan Panitia PKKMB meminta untuk menghapus postingan yang dilakukan DPM-U, namun pihak DPM-U menolak karena hal tersebut dianggap sanksi yang sudah di sepakati ketika musyawarah di dalam persidangan terbuka LPJ kegiatan PKKMB. Pihak BEM-U dan Panitia Pelaksana tetap bersikeras meminta agar postingan itu tetap di hapuskan, lalu mereka juga berpendapat bahwa seharusnya laporan tersebut hanya diberikan kepada Universitas “karena PKKMB itu hajatnya Univ (red,Universitas), hajatnya Unswagati kami hanya berhak untuk melaporkannya ke univ, tapi kalo temen-temen DPM-U mikirnya kita panitia PKKMB ini harus melaporkan LPJ ke DPM-U otomatis DPM sekarang jabatanya sebagai SC (Sterring Comite) dan BEM-U sebagai SC harus ada koordinasi dulu, kalo pun saya melaporkan LPJ ke DPM-U khawatirnya saya kerjaan dua kali,” tutur pria yang akrab di panggil “Egot” tersebut.

Dari banyaknya obrolan diskusi pada malam hari tersebut yang dilakukan di halaman parkir Kampus Utama Universitas dan di tonton oleh banyak warga kampus, menghasilkan sebuah kesepakatan dimana akan diagendakannya Sidang Terbuka pembahasan tentang LPJ Kegiatan PKKMB 2018. Pada hari Kamis, 06 Desember 2018 di Aula Kampus Utama Unswagati. Sementara kejadian pada malam itu disaksikan juga oleh WR 3 (Wakil Rektor tiga), hanya saja WR 3 tidak ikut campur dalam dinamika tersebut.

Turunya aksi Aliansi Mahasiswa
Sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Unswagati Bersih (AMPUH) berbondong-bondong mendatangi Gedung Rektorat Unswagati dengan membawa spanduk bertuliskan “TRANSPARANSIKAN SETIAP PROSES DAN DANA PKKMB” aksi tersebut menyita banyak perhatian warga kampus yang pada saat itu sedang berlangsungnya aktivitas kampus.

Aksi yang dilakukan pada siang hari pukul 10.30 (30/11), membawa tuntutan didalam peraturan Dikti mengenai PKKMB no.413/B/SE/VII/2018 terdapat asas pelaksanaan PKKMB diantaranya :
1. Asas keterbukaan, yaitu semua kegiatan penerimaan mahasiswa baru dilakukan secara terbuka, baik dalam hal pembiayaan, materi/substansi kegiatan, berbagai informasi waktu maupun tempat penyelenggaraan kegiatan
2. Asas demokratis, yaitu semua kegiatan dilakukan dengan berdasarkan kesetaraan semua pihak, dengan menghormati hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru tersebut; dan
3. Asas humanis, yaitu kegiatan penerimaan mahasiswa baru dilakukan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, dan prinsip persaudaraan serta anti kekerasan.

Masa aksi meminta dengan harapan Wakil Rektor III bisa menjelaskan dan memenuhi ketiga tuntutan tersebut, Massa aksi terus berorasi di depan Gedung Rektorat, selang beberapa menit kemudian, Ipik Permana, Selaku Wakil Rektor III menemui massa aksi.
Menyikapi tuntutan tersebut, Ipik Permana menjelaskan akan memenuhi apa yang telah massa aksi sampaikan melalui demonstrasi di depan Gedung Rektorat, “Kami bersedia akan memfasilitasi serta berusaha untuk menghadirkan Panitia Pelaksana PKKMB termasuk juga Panitia Inaugurasi” ungkapnya kepada massa aksi.

Medengar jawaban tersebut, massa aksi mempertanyakan kembali akan alasan Bidang Kemahasiswaan atau dalam hal ini yaitu Wakil Rektor III enggan menandatangani surat keputusan terkait Punishment yang telah disepakati oleh peserta Sidang Terbbuka LPJ PKKMB 2018, Selasa (27/11) lalu. “Apakah punishment yang diberikan kepada Panitia Pelaksana PKKMB tersebut siap ditandatangani oleh Wakil Rektor III?”, tanya Suharto, salah satu massa aksi.

Ipik Permana langsung menjawab pertanyaan tersebut, “Kami tidak mau, karena hal itu merupakan tanggungjawab DPM-U”, jawabnya.
Namun saat ditanya kembali oleh massa aksi, “Apakah WR III bisa menjamin, kalau misalkan terdapat panitia yang tidak hadir saat sidang LPJ PKKMB nanti, dan bisa menjamin tidak akan itu semua? Tanya Saeful, salah satu massa aksi sembari memotong pembicaraan WR III yang sedang menjelaskan tuntutan yang disampaikan oleh massa aksi, Jumat (30/11).

Mendengar pertanyaan tersebut, Ipik Permana selaku Wakil Rektor III hanya mampu memfasilitasinya tanpa berani menjamin akan hal yang ditanya oleh massa aksi.

Mendengar seluruh jawaban tersebut, massa aksi merasa tidak puas dan kembali menyatakan sikap “Ini kami akan jadikan penilaian pribadi apabila Wakil Rektor III tidak bisa memenuhi akan apa yang sudah diucapkannya, maka Wakil Rektor III kami anggap tidak becus dalam menjalankan tugas dan fungsi nya, jadi siap siap untuk mengundurkan diri dari Wakil Rektor III”. Tegas salah satu massa aksi sembari membubarkan diri.

Begitu banyaknya polemik yang terjadi dalam proses kegiatan PKKMB ini mulai dari diduga adanya pungli yang dilakukan oleh panitia pelaksana PKKMB 2018, hingga ada keributan di kesekretariatan DPM-U dan terjadinya aksi mahasiswa terhadap Rektorat masih dalam proses penyelesaian oleh pihak terkait hingga tiba pada agenda berikutnya yaitu disepakatinya kembali untuk LPJ PKKMB pada Kamis, 06 Desember mendatang.

Mahasiswa Aksi Teatrikal, Keritisi BEM Unswagati

Tidak ada komentar

Kamis, 22 November 2018

Unswagati, Setaranews.com - Salah satu dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, mengkritisi kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) lewat aksi teatrikal di Kampus Utama Unswagati Cirebon, Rabu (21/09).

Aksi tersebut ditujukan kepada kepengurusan kabinet SIAP yang saat ini sedang menjabat sebagai BEM-U dikarenakan progres kinerjanya belum memenuhi aspirasi mahasiswa.

Mahasiswa yang biasa disapa Defriyan tersebut menegaskan “Aksi ini bertujuan agar mereka sadar behawasannya sebagai manusia itu memiliki kebebasan individu tanpa ada intervensi dari organisasi eksternal mereka, yang kedua, agar mereka itu sadar bahawasannya peran mereka sebagai Front Independent bagi mahasiswa dan mereka juga harus sadar akan janji yang mereka lontarkan." ungkapnya kepada setaranews.com.

Selain melakukan Teatrikal, Defriyan juga membuat tuliasan di batu nisan yang betuliskan “RIP Kebebasan dan Peran”, sembari membacakan ayat suci Al-Quran di Depan Sekretariatan Badan Eksekutif Mahasiswa.

Aksi tersebut berlangsung kurang lebih pukul 11.00 WIB s.d 12.00 WIB. (Aditya Warman)

Bangun Persaudaraan dan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Makrab

Tidak ada komentar

Sabtu, 27 Oktober 2018

Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM-FISIP) Menggelar acara Malam Keakraban (Makrab), Jumat (26/10) di Area Parkir Kampus 3 Unswagati Cirebon.

Makrab yang bertemakan “Persaudaraan dan Semangat Sumpah Pemuda” tersebut bertujuan sebagai ajang pengakraban bagi mahasiswa baru, seperti yang dikatakan oleh Ali Sodik selaku Ketua Pelaksana (Ketuplak) acara, “Dengan diselenggarakannya acara ini khususnya bagi mahasiswa baru FISIP ini dapat mengenal dan membangun persaudaraan kita semua,” katanya saat ditanya oleh setaranews.com disela-sela acara Makrab berlangsung.

Sesuai dengan tema yang dicanangkan acara ini sekaligus sebagai refleksi momentum pada hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober mendatang “ Untuk menumbuhkan semangat pemuda atau kita sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa baru FISIP 2018,”tegasnya menjelaskan kepada setaranews.com.

Lebih lanjut, mahasiswa Semester 3 jurusan Administrasi Negara (AN) tersebut menambahkan bahwasannya acara Makrab kali ini merupakan yang pertamakalinya diselenggarakan oleh BEM-FISIP Unswagati Cirebon.

“Memang baru pertama kali, karena pengurus BEM-FISIP sebelumnya dirasa kurang efektif, makanya pengurus BEM tahun ini sengaja mengambil langkah untuk menggelar makrab khusunya buat mahasiswa baru FISIP sebagai acara puncak dari serangkaian kegiatan PKKMB FISIP 2018.” Pungkasnya.

Kemudian Ali juga mengharap kepada mahasiswa baru untuk antusias dalam berbagai program, “saya mengharap khusunya untuk mahasiswa baru FISIP paska acara ini dapat lebih aktif pada acara-acara yang diselenggarakan di FISIP kedepannya,” harapnya kepada setaranews.com.(Arj/Anggota magang LPM SETARA)

Menuju Cirebon Era Digitalisasi

Tidak ada komentar

Jumat, 26 Oktober 2018

Setaranews.com – Anak-anak muda yang hidup di zaman ini memang tidak bisa menghindari arus Industry 4.0. Begitulah sekiranya ujaran pertama yang disampaikan Iing Daiman, S.Ip., M.Si selaku Kepala DKIS (Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik) Kota Cirebon dalam diskusi MIDANG LAN MEDANG #2 mengenai “Menuju Indonesia 4.0” di Mubtada Kopi, Kamis (25/10).

Pembahasan ini masih terikat dari MIDANG LAN MEDANG #1, tapi menelisik lebih jauh peran pemerintah dalam menyikapi arus Industry 4.0. Bagi Iing, Industry 4.0 bisa menjadi sesuatu yang positif ataupun negatif. Dikatakan positif tatkala Industry 4.0 ini memunculkan kreatifitas dan inovasi karena adanya kompetitif atau persaingan. Sementara dikatakan negatif tatkala Industry 4.0 ini justru menggeser peran manusia dalam berbagai bidang. “Bisa positif atau negatif. Sederhananya, positif karena ada persaingan yang menuntut kreatif dan inovatif. Negatif ketika peran manusia mulai tergeser oleh teknologi.” Ujarnya pada peserta diskusi.

Cirebon yang digadang-gadang segera menjadi smart city pun tidak lepas dari tuntutan menuju era Industry 4.0. Menurutnya, wilayah kota yang sempit dengan jumlah penduduk yang cukup padat ini, bagi Iing punya sejumlah kekuatan yakni; sudah mulai menjadi pusat kegiatan nasional, Cirebon metropolitan area di wilayah Timur Jawa Barat dan punya semangat kolaborasi. “Kan modal terbesar sekarang adalah akselerasi, kolaborasi dan berkelanjutan.” Paparnya.

DKIS Kota Cirebon sendiri menuju era Cirebon digitalisasi, mulai membuat berbagai aplikasi berbasis android dan kearifan lokal yang memudahkan warga Cirebon khususnya untuk lebih mudah mengakses suatu informasi. Sebut saja ada Cirebon Lengko (Layanan Elektronik Kesehatan Online) mengacu pada sistem pelayanan antrian kesehatan online dan informasi ketersediaan ruang rawat inap di RSUD Gunung Jati Cirebon. Pembuatan akta dan kartu keluarga online bernama Cirebon Brojol Aja Klalen (Akta Kelahiran Langsung Jadi Kalau Laporan Secata Online) sehingga masyarakat tidak usah repot datang ke DISDUKCAPIL dan mempersingkat waktu pembuatan menjadi 2 hari dari 14 hari. Atau di Playstore bisa dijumpai Cirebon Wistakon yang memuat informasi terkait industri pariwisata Cirebon seperti perhotelan, restaurant, perbelanjaan, hiburan hingga akses informasi event dan berita seputar Cirebon.

Terakhir, yang menarik ialah ketika Amerika Serikat punya panggilan darurat 911, maka Cirebon pun punya Cirebon Siaga 112 semacam layanan panggilan darurat yang terintegrasi antara Kepolisian, Dinas Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja dan Dinas Kesehatan.

Selain itu, DKIS Kota Cirebon pun membuka akses dan ruang diskusi bernama “Relawan TIK” sebagai solusi untuk anak-anak muda yang butuh wadah mempersiapkan dirinya di era Industry 4.0 atau sekedar mengeksplorasi minatnya. “Kan budaya kreatifitas dimulai dari optimistik.” Pesan Iing di akhir sesi diskusi.

 

 

 

 

Diesnatalis HMS Unswagati ke-36: Adakan Syukuran

Tidak ada komentar

Rabu, 24 Oktober 2018

Unswagati, Setaranews.com - Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Swadaya Gunung Jati (HMS Unswagati) adakan Diesnatalis ke 36 yang bertemakan " Harmoni Mengikat Hati Yang Suci " pada Senin, 22 Oktober 2018 di Kampus Utama Unswagati Cirebon.

Acara yang dimulai pada pukul 20.00 Wib itu di hadiri oleh mahasiswa/i Fakultas Teknik, para alumni dan Badan Mahasiswa Himpunan (BMH), selain untuk memperingati Hari Ulang Tahun HMS acara ini juga sebagai ajang pendekatan bagi para alumni dan Mahasiswa Baru Fakultas Teknik dalam berbagi gagasan dan pengetahuan, melingkupi dunia organisasi ataupun duni kerja.

"Tujuan diadakan acara tersebut selain untuk memperingati hari ulang tahun HMS, acara ini juga sebagai upaya bentuk pengenalan serta pendekatan para senior dan alumi terhadap para maba (Mahasiswa Baru) untuk mengenal lebih jauh dunia teknik sipil dan organisasi-organisasinya serta berbagi pengalaman kepada maba sebagai salah satu upaya dari leadership/kepimimpinan". Papar Syahril Assidiq sebagai Ketua Pelaksana kegiatan.

Selain pendekatan emotional acara Ulang Tahun HMS tersebut juga diselipi dengan acara musik, diskusi, dan keagamaan seperti pembacaan ayat suci Al-qur’an serta muhadhoroh agama juga pemotongan Nasi tumpeng sebagai simbolisasi yang dinikmati bersama, kegiatan tersebut berlangsung sampai dengan Selasa malam 23 Oktober 2018. (Irf/Anggota magang LPM SETARA)

Pilih Ketinggalan atau Melebur dalam Industry 4.0?

Tidak ada komentar

Sabtu, 13 Oktober 2018

Setaranews.com - Dunia sudah mulai memasuki era Industry 4.0 atau Revolusi Industri 4. Penggunaan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) berkembang sangat pesat. Mempengaruhi kehidupan manusia dari berbagai aspek. Sembari duduk di sofa rumah, orang-orang bisa berbelanja apapun; barang-barang kebutuhan primer, sekunder hingga tersier. Transaksinya sangat mudah, orang-orang tidak butuh  mengantri di bank. Lewat e-banking mereka sudah bisa mengirim uangnya. Tidak terbatas ruang dan waktu asalkan terkoneksi internet. Kemudian, pangkalan ojek konvensional menjadi sepi. Orang-orang berpindah haluan ke sesuatu yang lebih modern, ojek online. Atau ketika ingin membaca buku, orang-orang sudah benar-benar tidak membaca buku. Yang dipegang bukan lagi buku, melainkan ponsel pintar. Mereka membaca e-book. Semua serba digital, itulah tanda era Industry 4.0.

Begitulah pembukaan yang disampaikan Budi Rahardi dan Adam Mahadika dalam diskusi Midang Lan Medang #1 tentang “Industry 4.0” di Mubtada Kopi, Jl. Perjuangan, Gg. Kampus, Kota Cirebon, Kamis (11/10). Budi adalah seorang fotografer, design grafis dan developer start up. Sementara Adam adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi di Unswagati yang sadar betul peran generasi muda untuk turut andil dalam Industry 4.0.

Sejarah Revolusi Industri dan Ancaman Industry 4.0 untuk Manusia

Sebelum memasuki Industry 4.0, dunia sudah mengalami 3 kali revolusi industri. Revolusi industri yang pertama terjadi di Inggris ditandai dengan ditemukannya mesin uap pada 1970. Kemudian mesin uap ini digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Mengakibatkan terjadinya perubahan besar-besaran di bidang manufaktur, sosial, ekonomi dan budaya. Yang kedua, adanya perkembangan teknologi listrik dan jalur perakitan untuk produksi massal. Yang ketiga, kemajuan dalam bidang otomatisasi bertenaga komputer untuk memprogram mesin dan jaringan. Lalu, yang keempat, wujud penyempurnaan dari revolusi industri sebelumnya. Menggabungkan teknologi otomatisasi dan teknologi cyber.

Ternyata, di era serba digital ini, Industry 4.0 menjadi ancaman bagi manusia. Permasalahan-permasalahan baru akan muncul seperti ketimpangan ekonomi; ini mengarah pada struktur pasar yang bersifat monopolistik dampak dari platform effect. Dimana perusahaan raksasa seperti Google, Facebook, Amazon dan Ali Baba menguasai pasar sekitar 80%. “Yang dominan pemilik modal, sementara kelas pekerja akan semakin miskin. Dan Indonesia dalam bahaya, karena kita bermental pekerja.” Papar Adam.

Selain itu, pengangguran massal bisa saja terjadi, penemuan-penemuan mesin yang menggantikan pekerjaan manusia mulai bermunculan sebut saja Amazon Go yang menggeser kasir di gerai-gerai supermarket; penemuan mobil yang bisa berjalan tanpa supir; kurir digantikan drone dalam mengirim barang dan profesi wartawan yang terancam dalam pengembangan Narrative Science. “Pilihannya cuma ada dua di era Industry 4.0 ini, ingin ketinggalan atau melebur?” Tanya Budi pada peserta diskusi.

Peran Generasi Muda dalam Industry 4.0

Pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 50% dan rata-rata menghabiskan waktunya kurang lebih 9 jam untuk berselancar di internet; membuat Instagram Story atau membuat status di Whats App. Dirasa Adam tidak dibarengi dengan produktifitas. Padahal menurutnya, kemampuan ponsel pintar menunjang untuk menghasilkan kreatifitas yang beragam; hasil foto dan video dengan kualitas bagus, mengedit foto dan video, menggambar, menjalankan bisnis online dan membuat musik. “Disisi lain skill generasi muda untuk memakai komputer dan memaksimalkan internet dirasa rendah. Dan ini akan berpengaruh pada mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Ternyata masalahnya bukan pada lapangan pekerjaan. Tapi pada kurangnya skill yang dimiliki.” Tukasnya.

Masih menurut Adam, terkait industri. Industri bukan hanya menjadi milik perusahaan-perusahaan besar. Tapi juga bisa menjadi milik orang-orang dengan ide-ide kreatif untuk mengembangkan kemampuannya. Maka tercetuslah sebuah istilah industri kreatif.

Bicara tentang industri kreatif, Budi selaku pelaku dalam industri kreatif pun berbagi pengalamannya. Ia pernah mewujudkan sebuah ide dengan dana yang minim. Kuncinya, waktu itu, ia tidak berhenti di tempat. Tapi mencari orang-orang yang bisa membantu mewujudkan dan mematenkan idenya. “Buat anak-anak muda jangan berhenti membuat ide dan mengeksplor diri. Kalau punya ide dan bingung mulai dari mana, kuncinya ngobrol dan perbanyak koneksi.” Pesannya. Mematenkan ide pun menjadi hal yang penting bagi Budi agar tidak diclaim begitu saja oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Terakhir ia bertutur, China memimpin dalam pengembangan inovasi dan pemasaran global, serta sadar dan rutin mendaftarkan HAKI (Hak Kekayaan atas Intelektual).

Mahasiswa Gelar Aksi Tolak IMF-WB

Tidak ada komentar

Rabu, 10 Oktober 2018

Cirebon, Setaranews.com - Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat Sejahtera (AMPERA) menggelar aksi penolakan pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) yang berlangsung di Bali pada pekan ini, Aksi tersebut dilakukan di depan kampus Utama Unswagati Cirebon.

Pada sejarahnya Indonesia sudah melangsungkan hubungan dengan IMF sejak tahun 1998 dimana pada saat itu terjadi kerisis moneter di Indonesia, yang mengharuskan pemerintahan melakukan peminjaman hutang luar negeri dalam hal ini kepada Bank Dunia.

Sementara pada pertemuan tahunan IMF DI bali tengah melakukan pembahasan strategis mengenai hubungan negara-negara yang tergabung dalam organisasi tersebut, dimana seperti yang diterangkan oleh Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Indonesia, IMF terdiri dari 189 negara di dunia, dan sedang fokus kepada pembanguan merata.

Menurut Ginajar sebagai Juru Bicara AMPERA menegaskan, pertemuan IMF yang di gelar di Bali tidak berimbas kepada penguatan rupiah di Indonesia, dimana bentuk kerjasa yang dibangun hanya menggantungkan nasib bangsa Indonesia kepada asing.

" Aksi ini merupakan sikap kami dalam menyikapi pertemuan IMF-WB di Bali, dimana organisasi tersebut bertujuan untuk menyokong bantuan dana dalam berbagai sektor, namun kenyataanya Indonesia sampai hari ini hanya menggantungkan nasibnya kepada hutang luar negeri sementara kondisi perekonomian dalam negeri belum juga merata." tegasnya, Selasa (09/10).

selain itu menurutnya, karena Indonesia mempunyai hutang kepada WB (Word Bank) menyebabkan pemerintah melakukan kebijakan-kebijakan yang pro asing, seperti privatisasi BUMN, pasar bebas dan intervensi untuk melakukan penerapan regulasi yang pro investor.

"Aksi ini juga untuk mengabarkan kepada publik, bahwasanya sedang ada pertemuan tahunan di Bali dimana kedua belah pihak sedang membahas hal strategis bagi nasib bangsa Indonesia yang digadang-gadangkan menjadi pasar global"tambahnya.

Mapala Gunati Adakan Panjat Tebing Bersama Siswa

Tidak ada komentar
Cirebon, SetaraNews.com - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Swadaya Gunung Jati (Mapala Gunati) Cirebon melakukan Pelatihan Panjat Tebing Bersama siswa pecinta alam di Cirebon setiap satu Minggu sekali di Kampus Utama Unswagati Cirebon, Selasa (09/10).
Mapala Gunati melakukan pelatihan panjat papan sebagai simulasi praktik yang sebenarnya terhadap siswa-siswi SMA-sederajat di Cirebon. Kali ini pelatihan tersebut dilakukan bersama Gerakan Siswa Pecinta Alam (Gespala) SMK Yadika Cirebon
Menurut Samson salah satu anggo Mapala menerangkan, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap satu minggu sekali untuk SMA maupun SMK diwilayah Cirebon.
“karena fasilitas yang memenuhi, kita bisa mendapat kepercayaan dari kalangan siswa pecinta alam di Cirebon. Sehingga kita bisa melakukan kegiatan bersama.”
Sementara salah satu peserta yang di kenal dengan panggilan Resi merasa terbantu dengan kegiatan tersenut.
“saya dari Gespala merasa terbantu karena dengan ini, kami bisa mendapatkan ilmu dan bisa saling besalar satu sama lain.”
Kegiatan tersebut diikuti oleh tujuh peserta dari Gespala dan Pengurus Mapala Gunati, dan dilakukan di sore hari.

Stars and Rabbit Sukses Buat Penonton Cirebon Bernyanyi Bersama

Tidak ada komentar

Sabtu, 29 September 2018

Regional, Setaranews.com – Kamis malam (27/9) Area Parkir Grage City Mall dibuat ramai dengan kehadiran Stars and Rabbit, band indie asal Yogyakarta yang sedang digandrungi anak muda. Mereka hadir ke Cirebon dalam acara Creative Youth Culture #4 yang diadakan oleh Ruang Alternatif dan Go A Head People.

Selain Stars and Rabbit, band lainnya seperti Koil dan pemenang band submission yakni Toreh, Lair dan Super Charger turut meramaikan acara ini.

Open gate dibuka sejak pukul 15.00 WIB. Arena konser dihias nuansa folk dengan berbagai spot foto unik. Tidak luput pula berbagai stand menarik yang menjual aksesoris, pakaian, sepatu, makanan, minuman hingga seduhan kopi. Setengah jam kemudian, band pembuka diisi oleh Toreh, dilanjut Super Charger dan Lair.

Pada malam harinya, pukul 19.30 WIB, Koil dengan suara rock khasnya menarik perhatian penonton. Baru pada pukul 20.30 WIB, Stars and Rabbit yang menjadi bintang utama dalam acara ini mulai memasuki panggung. Penonton yang tersebar di beberapa titik mulai mendekati panggung.

Tak banyak bicara, Stars and Rabbit langsung tampil dengan lagu pembuka. Penonton mulai takjub. “Senang sekali, akhirnya Stars and Rabbit bisa tampil disini,” sesudahnya Suri menyapa penonton. Ini adalah kali pertama Stars and Rabbit tampil dihadapan penonton Cirebon, setelah sebelumnya mereka sempat gagal tampil di CSB (Cirebon Super Block) Mall pada Juni 2018 silam.

Kehisterisan mulai terasa ketika mereka membawakan lagu kedua yakni I’ll Go Along. Suri, si vokalis, mulai tampil atraktif. Semua lagu miliknya berbahasa Inggris; liriknya sederhana dengan sentuhan musik folk-indie dan pop yang kental. Semua penonton tidak henti-hentinya ikut bernyanyi.

Ketika mereka membawakan salah satu hitsnya yakni Worth It, Suri menghimbau penonton untuk menaruh ponselnya. Ia meminta semua penonton bertepuk tangan dan bernyanyi bersama. Kerumunan penonton pun riuh dan fokus menikmati musik.

Stars and Rabbit memborong semua hitsnya semalam sebut saja I’ll Go Along, Rabbit’s Run, Cry Little Heart, Worth It, The House dan Man Upon The Hill.

Man Upon The Hill sengaja diletakkan di belakang. Single yang melambungkan nama Stars and Rabbit itu menjadi penutup yang memukau, sebuah lagu yang khas dengan suara serak milik si vokalis yang ciamik.

Comfestjeh 2018 Menggali Soal Public Speaking

Tidak ada komentar

Kamis, 27 September 2018

Unswagati, Setaranews.com – Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Swadaya Gunung Jati atau yang sering di sebut Himakom Unswagati menggelar acara Comfes jeh 2018, comfes sendiri akronim dari communication festival, acara tersebut bekerja sama dengan BOC (Battle Of Campus), sebuah komunitas yang menampung kreatifitas anak muda.
Acara tersebut di laksanakan dua hari yaitu pada tanggal 27 dan 29 September 2018. pada hari pertama himakom mengadakan seminar dengan tema “Public Speaking, Tampil Percaya Diri Dan Mudah Dimengerti.” yang di laksanakan di Gedung Korpri Kota Cirebon. Acara tersebut merupakan acara tahunan Himakom Unswagati  selalu digelar meriah.

“Dari awal ingin menunjukan dan memperkenalkan Himakom lebih dalam kepada mahasiswa-mahasiswa baru dengan mengangkat tema yang menjurus dari ilmu komunikasi itu sendiri” ucap Royhan Haidar selaku Ketua Umum himakom unswagati.

Lebih jauh “Mahasiswa sekarang terpokus hanya kuliah di jurusan komunikasi tapi tidak memperdalam ilmu komunikasi sejauh mana dan harus seperti apa” sambung pemuda yang akrab disapa roy itu.

Dalam seminar tersebut Himakom Unswagati mengundang Wulan Sri Maulani sebagai pemateri sekaligus motivator pada seminar tersebut, Ia memaparkan bagaimana pemahamam tentang public speaking, tips dan trik dalam melakukan public speaking, dalam paparannya ada 4 (empat) kegagalan dalam public speaking yaitu salah mindset, salah mentor, salah kebiasaan, dan salah teman diapun berpendapat bahwa “public speaking lebih berperan dalam peningkatan kerja,” ucap wanita yang selalu riang dan enerjik tersebut.

Menurutnya 18% skill yang kita dapat berasal dari sekolah yang di sebut hard skill, dan 82% itu ilmu yang di dapat di luar sekolah berupa public speaking yang di sebut sebagai soft skill.Himakom unswagati pun mengundang Muhammad Aulia salah satu Youtuber yang membagi ilmunya dalam membuat konten kreatif dan menarik.

Acara yang yang diikuti oleh kurang lebih 400 peserta yang melebihi jumlah yang sebelumnya di  agendakan yaitu sekitar 325.Pada hari kedua pula tanggal 29 september Himakom Unswagati akan mengadakan live music dikampus 3 sebagai refreshing dari kegiatan mahasiswa yang padat.(Obi/LPM Setara)

Peringati Hari Tani Nasional, Mahasiswa Gelar Aksi Demonstrasi Depan Kantor DPRD Kota Cirebon

Tidak ada komentar

Selasa, 25 September 2018

Cirebon, Setaranews.com - Sekitar Puluhan Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cirebon. Aksi tersebut diselenggarakan sebagai bentuk refleksi pada momentum peringatan Hari Tani Nasionaal (HTN), Senin 24 September 2018, dan merupakan hari peringatan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960.

Mahasiswa yang beramai-ramai melakukan long march sembari membentangkan sepanduk bertuliskan "Tegakkan Reforma Agraria Sejati" tersebut dengan lantang menyampaikan berbagai orasinya sepanjang jalan guna untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwasanya nasib kaum tani hingga saat ini tak kunjung membaik.

Fauzi Gholin, Juru Bicara (Jubir) aksi menyampaikan orasinya kepada khalayak publik bahwa kemiskinan kaum desa semakin meluas daan semakin tajamnya ketimpangan kepemilikan serta penguasaan terhadap tanah, Keemudian massa aksi juga mahasiswa menuntut kepada pemerintaah untuk menegakkan reforma agraria sejati seperti yang tertuang dalaam UUPA tahun 1960.

"Para petani indonesia dipaksa menjual tanah nya begitu saja kepada korporasi dengan harga yang sama sekali tak sesuai seperti apa yang tertulis dalam UU no.02 tahun 2012 (Perihal pengadaan tanah), UU tersebut kerap disalahgunakan oleh mereka (Korporasi) hanya untuk kepentingan segelintir orang yang mengatas namakan kepentingan umum, sampai mereka tak segan-segan menyingkirkan manusia demi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."katanya kepada setaranews.com disela-sela aksi demonstrasi berlangsung, Senin 24 September 2018.

Selain itu Mahasiswa juga mendesak serta menuntut kepada pemerintah untuk merampungkan konflik agraria yang terjadi diindonesia, karena dinilai sudah merampas hak-hak para petani indonesia.

Berdasarkan data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) taahun ini terdapat sebanyak 659 konflik agraria dengan luas mencapai 520.491.87 lahan, serta melibatkan sebanyak 652.738 KK. Adili dan tangkap mereka para mafia pangan yang telah merugikan kaum tani dengan banyaknya impor bahan pangan di negeri ini yang membuat kaum tani mera semakin tercekik "ungkap mahasiswa fakultas pertanian tersebut kepada setaranews.com.

Massa aaksi yang maayoritas berasal dari Mahasiswa Pertanian (Maperta) menyambangi kantor DPRD Kota Cirebon guna mendesak para dewan agar mengimplementasiakan pengadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Cirebon.

"Kami menuntut pada wakil rakyat untuk segera mengupayakan peengadaan RTH, hal ini sangat miris kami nilai sudah tidak adanya lahan untuk RTH, karena penggusuran-penggusuran yang terjadi guna untuk pembangunan-pembangunan yang sama sekali bukan sebagai skala prioritas, seperti yang dapat kita lihat kota cirebon banyak sekali hotel-hotel, teempat hiburan, dan mall yang berdiri,"tandasnya.

Disisi lain, Harry Saputra Gani selaku Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon lansung menanggapi aspirasi yang disampaikan oleh massa aksi, "Kami berjanji akan menyaampaikan langssung aspirasi kalian kepada pihak pemerintah, dan kami sedang mengupayakan pembuatan perda untuk permasalahan RTH Kota Cirebon,"katanya menemui massa aksi di Depan Kantor DPRD Kota Cirebon, Senin 24 September 2018.

 

Ajak Mahasiswa Baru Peringati Hari Tani Nasional Lewat PKKMB FP

Tidak ada komentar

Rabu, 19 September 2018

Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM FP) menyelenggarakan Program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Tingkat Fakultas Pertanian (PKKMB FP) di Gedung Baru Lantai 3 Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswgati) Cirebon.

PKKMB FP dilasanakan selama dua hari, 19-20 September 2018, dan di selenggarakan di dua tempat yang berbeda. Hari pertama PKKMB FP dilasanakan di Gedung Baru Lt.3, kemudian hari keduanya dilaksanakan di Gedung GT Unswagati Cirebon sembari mahasiswa baru FP melakukan penanaman, sebagai persiapan peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 24 Seprember 2018 Mendatang.

PKKMB FP tahun 2018 ini mengusung tema "Here We Know It's Other and The future". Angga Sofyan Purnama selaku Ketua Pelaksana PKKMB FP 2018 mengatakan tujuan utama untuk pengenalan tentang Fakultas Pertanian lebih mendalam.

"Kita itu mahasiswa pertaninan yang notabenya harus saling mengenal pribadi masing-masing terutama bagi teman-teman kita yang baru masuk dan akan menjadi saudara kita semua, agar dapat berkreasi serta mencapai tujuan yang di harapkan masing-masing individu di Fakultas Pertanian,"katanya saat ditemui setaranews.com disela-sela acara berlangsung, Rabu 19 September 2018.

Tak sampai disitu saja, Mahasiswa yang mengambil Program Studi (Prodi) Agribisnis tersebut menambakan penjelasannya tentang berbagai materi yang disampaikan pada PKKMB FP 2018.

"Terdapat beberapa materi penting yang harus disampaikan kepada mahasiswa baru khususnya, seperti soal Perguruan tinggi di era industri yang disampaikan langsung oleh Dinas Pendidikan Pertanian Kota, kemudian terdapat juga materi tentang bahaya konsumsi narkotika yang dibawakan oleh BNN, Serta sebagai peningkatan daya ingat serta berfikir, kami juga sampaikan kembali materi yang sebelumnya suda dibahas di PKKMB tingakat Universitas kemarin yaitu tentang Bela Negara dan Peran Fungsi Mahasiswa."tambahnya kepada setaranews.com.

Disisi lain, aditya Warman selaku Ketua Badan Eksekutif mahasiswafakultas Pertanian (BEM FP) berharap penuh terhadap keberlangsungan acara yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru ini. "Harapan saya agar mereka (Mahasiswa baru) mampu menyerap da mengimplementasikan apa yang telah dusampaika oleh pemateri PKKMB FP 2018, kemudian buat kita semua sebagai mahasiswa kususnya Pertanian dapat menerapkan Tri Darma Perguruan Tinggi dan juga Peran fungsi mahasiswa,"ungkap nya memberikan harapan saat ditemui setaranews.com.

Lebih lanjut, Pria yang kerap disapa dengan sebutan "Kojit" tersebut menambahkan bahwasannya PKKMB Fakultas Pertanian tahun ini juga terdapat sosialisasi tentang Peringatan Hari Tani Nasional (HTN), "Kitagarus menyadari bahwa soal pertanian adalah permasalahan kita bersama, karena kita semua hidup di negara agraris, jadi khususnya mahasiswa fakultas pertanian dapat menyadarinya dan dapat bersikap tegas pada momentum peringatan HTN 24 september nanti, "tambahnya.

Cetak Generasi Kritis dan Inovatif, PKKMB FT Hadirkan Pemateri Dari Berbagai Instansi

Tidak ada komentar
Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) Universitas swadaya gunung jati (Unswagati) Cirebon menyelenggarakan Program Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat fakultas.

Tema yang diusung pada PKKMB Fakultas Teknik yaitu "Menciptakan generasi kritis, kompetitif dan solidaritas yang tinggi serta berjiwa nasionalisme" sebagai bentuk pengenalan terhadap mahasiswa baru terhadap almamater nya, khususnya di Fakultas Teknik.

"Selain sebagai perkenalan tentang kampus untuk mahasiswa baru, tentunya kami memiliki harapan penuh pada PKKMB tahun ini yaitu sesuai tema yang kita usung guna mencetak mahasiswa yang berfikir kritis dan inovatif", ujar Ramdansyah Qolby selaku ketua pelaksana PKKMB Fakultas Teknik 2018.

Guna mencapai apa yang di harapkan dari kegiatan ini maka terdapat beberapa materi yang dituangkan pada PKKMB FT 2018 diantaranya, general education, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta penyalahgunaan narkotika, yang tentunya narasumber dari materi-materi tersebut merupakan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya yaitu, Lettu Laut (P) Agung Jaya Pratama. S.S.T.Han dari pasops Lanal Kota Cirebon, H. Moh. Syabli Noer, S.H., M.H. Dari kepala BNN kota Cirebon dan Capt. Chb Kasiman, selaku pereakilan dari dandim kota Cirebon.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 19 - 20 September 2018, yang di selenggarakan di dua tempat yang berbeda. Dimana hari pertama kegiatan di laksanakan di Pendopo Kodim dengan alasan jumlah mahasiswa yang cukup banyak mencapai 250 mahasiswa baru, sehingga ruangan fakultas teknik tidak mencukupi untuk menunjang keberlangsungan acara, kemudian di hari keduanya PKKMB FT dilaksanakan di dalam kampus karna kegiatan pada hari kedua ini tidak terlalu banyak menggunakan ruangan dan juga mengingat kembali pada esensi acara ini yaitu perkenalan kehidupan kampus yang memang mahasiswa baru harus memahami kehidupan kampus sebelum menempuh perkuliahan nanti berlangsung.

Disisi lain, Febri Rokhmadan selaku Stering Comite (SC) FKKMB FT menilai kegiatan tersebut cukup baik dan matang. "Dari segi pemateri yang dihadirkan pada PKKMB FT tahun ini sangatlah mumpuni dan dirasa kegiatan ini sudah cukup baik dan matang, semoga acara nya berjalan lancar hingga hari esok, Kamis 20 September 2018."katanya sambil berharap, saat ditanya setaranews.com

(Ramadhan A.P)

Opini: Diburu Hasrat

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Secara materi hasrat tak terlihat indra mata. Tapi hasrat dapat bekerja sedemikian dahsyat. Kecepatan kerjanya dalam hitungan detik. Bahkan hasrat dapat melumpuhkan berbagai oraginsme vital tubuh lainnya seperti otak.  Tak lagi memperhitungkan baik dan buruk, kebutuhan atau keinginan, jangka panjang atau bersifat sangat sementara.

Hasrat dapat berinvasi dalam berbagai sektor dan sisi kehidupan. Seperti hasrat terhadap kuasa. Hasrat terhadap belanja. Hasrat terhadap makanan. Hasrat untuk mengendalikan dan menguasai manusia lainnya. Bekerja di semua sektor: politik, gaya hidup, kehidupan rumah tangga, bahkan percintaan.

Hasrat adalah sesuatu yang paling subtil-yang ada pada manusia  yang harus dikelola  secara baik oleh kesadaran. Hasrat harus ditempel oleh kekuatan moral dan etik. Agar dapat terus diarahkan pada tujuan-tujuan luhur manusia. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kebaikan bersama. Dalam bidang apapun, kebudayaan, politik, rumah tangga, bahkan percintaan.

Implikasi Hasrat

Karena kita tahu, impilkasi hasrat begitu keras. Pada bidang politik, hasrat pada kuasa sulit sekali diarahkan pada jalur keadilan. Bahkan benturan antara moral politik dan egoisme individu itu seperti layaknya antara baja besi dan lengan tangan. Yang berakibat pada lebam, bonyok, hancur dan babak belurnya lengan tangan. Sungguh tak seimbang secara materi.

Kita menyaksikan hal itu dalam berbagai kebijakan publik, seperti keberpihakan anggran dan lain sebagainya.  Hasrat pada egoisme individu dan kelompok selalu tiba lebih dulu dibanding untuk kebaikan bersama. Dan sialnya, hal itu terkadang tidak dibarengi dengan argumentasi yang kokoh. Semua asal  bunyi, karena memang modalnya cuma dua, satu lidah tak bertulang, dua rasa tak tahu malu.

Dan pada moment lebaran, kita menyakiskan betapa hasrat begitu liar  berselancar. Manusia diburu hasrat secara habis-habisan. Sebelum uang ludes dan pusat perbelanjaan tutup, manusia memburu berbagai keinginnnya tanpa mempertimbangkan bahwa apa yang dibeli merupakan sesuatu yang penting sebagai kebutuhan atau sesuatu yang hanya disodorkan oleh system indutstri yang—berupaya menghisap laba sebanyak-banyaknya.

Pada suasana itu, di hadapan industri kesadaran tampak lumpuh tak berdaya. Karena pada moment itu nyaris tak ada suara dari seorang eduktor publik untuk memberikan pencerahan terhadap bijaknya dalam berkonsumsi. Sebaliknya, ruang public dikuasai iklan. Padahal kita tahu, betapa destruktifnya konsumersime pada system ketahanan ekonomi.

Karena begitu mobailenya hasrat pada semua ruang. Hasrat pun menggangu aktivitas pertumbuhan psikologis manusia.  Hasrat merangsek masuk pada sektor domestik dan privat, seperti kehidupan rumah tangga dan percintaan anak-anak muda. Hasrat pun berhasil mengusik apa yang dimaknai sebagai kesetiaan dan komitmen dalam berhubungan. Implikasi sosialnya, hasrat pun terus memproduksi kecemasan banyaknya manusia yang memutuskan untuk menjalin hubungan, entah itu pernikahan atau pacaran semata.

Bahkan salah satu pasangan bisa begitu tergoda pada yang lain hanya karena sebuah alasan yang tebalnya seukuran kulit manusia dan setipis kain. Akan tetapi, impilkasinya dapat menghancurkan sebuah hubungan. Yang akhirnya menghanguskan mimpi dan cita-cita—yang semula dibangun bersama. Yang selanjutnya dapat mengorban anak yang awalnya dilahirkan atas nama cinta dan komitmen yang agung.

Mengelola Hasrat

Begitulah hasrat bekerja sedemikian dahsyat dalam semua ruang, dari yang publik sampai ke yang privat, dari aktivitas psikologis sampai ke sosial. Oleh karena itu, hasrat harus dikelola sedemikian baik dan tertib. Hasrat harus terus disuntik oleh semacam pengetahuan. Demi menumbuhkan kesadaran. Yang selanjutnya mampu memproduksi kekuatan moral dan etik yang teguh pada manusia.

Hal ini bertujuan untuk melahirkan peradaban manusia yang menjungjung nilai kebaikan bersama. Bahwa atas nama hasrat, manusia tak boleh bersikap berutal dan semaunya, dan ini berlaku pada semua jenis sisi kehidupan, baik politik, kebudayaan, rumah tangga, bahkan percintaan.  Karena kebahagian dan kemewahan hidup tak bisa diperoleh dengan menyakiti yang lain.

*Penulis adalah Kris Herwandi, Alumni Mahasiswa Unswagati Cirebon

Opini: Dominasi Negara Pertama dan Sistem Pendidikan Indonesia di Dalam Cengkramannya

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Tergetar berdegup kagum melihat pemandangan di tiap-tiap daerah mulai dari tingkat kabupaten, kota hingga provinsi atas derasnya laju pertumbuhan pembangunan institusi-institusi pendidikan. Kelahiran wadah-wadah pendidikan ini yang akan melahirkan pula manusia-manusia kompeten membangun peradaban masyarakat. Perkembangan dunia pendidikan ada dan haruslah selaras pula dengan perkembangan kultur sosio-ekonomi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada tahun 2017 jumlah unit perguruan tinggi yang terdaftar mencapai 4.504 unit. Angka ini didominasi oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mencapai 3.136 unit sedangkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya 122 unit. Sisanya adalah perguruan tinggi agama dan perguruan tinggi dibawah kementerian atau lembaga dengan sistem kedinasan. Dan daerah yang sangat pesat pertumbuhan institusi pendidikan tingginya adalah Jawa Barat, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) grafik dari tahun 2003-2014 mencapai 1.605 perguruan tinggi.

Perlu diingat pula, pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia tak bisa dipungkiri sangat terpengaruh dan bisa dikatakan berkiblat pada perkembangan dunia pendidikan Barat. Bahkan hubungan negara berkembang seperti Indonesia bukan hanya pada persoalan pendidikan melainkan pula di bidang militer, politik, ekonomi, dan aspek lainnya. Hal ini menempatkan negara maju menjadi dominan dalam berbagai aspek di tingkat internasional. Negara maju atau bisa dikatakan pula negara pertama menjadikan dirinya sebagai contoh parameter keberhasilan suatu bangsa, sehingga segala sistemnya dianggap dan dirasa perlu diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia untuk mencapai taraf perkembangan seperti yang telah dicapai negara maju.

Menurut M. Dawam Rahardjo pola hubungan seperti ini disebutnya sebagai structural domination yang ditandai oleh gejala hubungan dominasi tidak langsung antara pusat-pusat metropolitan dengan kota-kota satelitnya atau antara pusat dan pinggiran pada tingkat global maupun nasional. Hubungan tersebut tidak berada dalam posisi dan suasana yang saling menguntungkan melainkan menjadikan hubungan yang eksploitatif oleh negara maju. Memang seolah-olah negara berkembang ini perlahan merangkak maju, namun pada kenyataannya semakin tertinggal dari segi apapun.

Dominasi luar tidak akan berkaitan apabila tidak didukung dan ditunjang oleh kelompok-kelompok berkepentingan di dalam masyarakat negara berkembang itu sendiri. Mereka yang berkepentingan membalut kepentingannya dengan dalih pembangunan dan kemajuan negara. Dengan demikian, kaitan struktur global tidak hanya dalam aspek sosio-ekonomi, pendidikan, tetapi juga politiknya yang bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan dan peraturan di suatu negara berkembang.

Melihat sistem di negara berkembang yang saling berkaitan dengan sistem yang diciptakan dominasi global memperkaya kesadaran kita bahwa masalah-masalah ketimpangan sosial, ekonomi, kebodohan dan kerancuan kebijakan dilahirkan bukan hanya didapat dari faktor internal negara berkembang itu sendiri melainkan juga dari pengaruh eksternal negara berkembang tersebut. Dan semakin disadari dominasi global sangat berpengaruh kepada setiap sendi kehidupan negara berkembang seperti Indonesia termasuk sistem pendidikannya.

Sistem pendidikan di Indonesia sendiri dewasa ini pada dasarnya bukanlah refleksi kebutuhan masyarakat Indonesia melainkan sebuah sinkronisasi terhadap sistem pendidikan dunia global. Sehingga sangat tidak arif sekali sistem pendidikan diciptakan hanya untuk mendukung dan berupaya mensejajarkan diri dengan taraf yang telah diciptakan negara maju, jika seperti ini yang hadir adalah kompetisi untuk mencapai taraf kemajuan sistem itu sendiri padahal krisis fundamental bangsanya sendiri belum terselesaikan.

Lalu, apabila kita berbicara pendidikan adalah modal suatu bangsa untuk mencapai cita-citanya yang luhur maka haruslah ditinjau kembali sistem pendidikan suatu bangsa tersebut sampai ke akar-akarnya. Serta haruslah merubah pula stigma bahwa pendidikan bukanlah hanya sebagai bagian dari pembangunan, tetapi pula sebagai sarana utama untuk menyelamatkan bangsa dari kepincangan struktur sosio-ekonomi.

Realitas di negeri ini menanggapinya secara berbeda pula. Sistem pendidikan di Indonesia malah berdiri diatas krisis fundamental bangsanya. Dan tujuannya hanya berdasarkan kepada penunjang pembangunan negara di tingkat nasional. Tujuan pendidikan di Indonesia tidak menyentuh ranah sosio-ekonomi masyarakat dan hanya terbatas sebagai pelengkap agenda pembangunan. Dari sini pula terlihat, sangat terkesan sekali pendidikan di Indonesia hanya ingin menciptakan citra masyarakat modern seperti yang ada di negara maju.

Dalam proses pelaksanaannya, proses pendidikan di Indonesia benar dibutakan terhadap realitas yang ada di dalam masyarakat. Dibutakan disini maksudnya adalah mereka yang terdidik tidak sadar bahwa tujuan pendidikan sejatinya adalah untuk membebaskan dan memerdekakan manusia dari kemelaratan seperti yang ditulis Paulo Freire dalam Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan (1976). Mereka yang terdidik hanya berorientasi pada kemajuan dan kemerdekaan dirinya sendiri. Kaum terdidik dewasa ini banyak memikirkan bagaimana caranya agar bisa meneruskan hidup dengan menjadi robot-robot pekerja. Dan menganggap setelah meneruskan hidup menjadi tenaga pekerja perusahaan asing atau nasional ataupun perusahaan patungan asing-nasional adalah menjadi bagian dari kemajuan bangsa atas nama pembangunan.

Mereka yang terdidik tidak sadar bahwa sistem pendidikan yang dianggap sebagai bagian dari pendidik hanya menghasilkan pula jebolan-jebolan berpendidikan yang membentuk suatu lingkaran baru dalam masyarakat. Mereka yang berpendidikan adalah minoritas dibandingkan dengan mereka yang menjadi mayoritas yaitu mereka yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan. Dengan kata lain, kaum terdidik menjadi aristokrat baru dan memonopoli ilmu pengetahuan itu sendiri. Rantai kehidupan seperti ini terus berlanjut, dan menurut Freire ini disebut sebagai Culture of Silence (Kebudayaan Bisu).

Kebudayaan yang buruk seperti ini menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara yang berpendidikan dan tidak. Yang berarti sistem pendidikan kita ini mengandung unsur penindasan dan melangsungkan kemiskinan structural. Sistem pendidikan kita bukanlah refleksi atas gejala-gejala sosio-ekonomi masyarakat Indonesia melainkan refleksi atas persaingan dan pertautan dunia global.

Kini, haruslah mereka yang terdidik memilih apakah ingin terus melangsungkan kebudayaan bisu seperti yang diungkapkan Freire atau menjadikan pendidikan sebagai media untuk membebaskan dan memerdekakan manusia dari kemelaratan?

*Penulis adalah Ginanjar Nitimiharjo, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Sosialis (GeMSos) Cirebon

Memanfaatkan Momentum PKKMB, Pecinta Alam Se-Cirebon Galang Dana Untuk Lombok

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Pecinta dan Penggiat Alam Se-Cirebon atau dikenal dengan kode Satgas (Satuan Tugas) PB PPAC dan dibantu oleh Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) Uiversitas Swadaaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon melakukan penggalangan dana untuk korban bencana Lombok pada saat kegiatan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswaa Baru) Tingkat Universitas, Selasa (18/09) di Gedung Radian Gronggong-Cirebon.

Hal tersebut dilakukan dalam rangka penanganan pasca bencana gempa di Lombok atau dikenaal dengan Program Lombok Bangkit Mandiri sehingga sampai hari ini mereka masih gencar melakukan penggalangan dana. Dengan memanfaatkan kegiatan PKKMB tingkaat Universsitas merekaa (Pecinta Alaam Se-Cirebon) berhasil menghimpun donasi sebesar Rp. 5.832.300 yang akan di gabungkan dengan penggalangan dana di tempat lain guna untuk digunakan sesuai dengan apa yang direncaanakan, yaitu bantuan untuk korban pasca bencana Lombok.

Nur Fikri Muhammad selaku Ketua Satgas PPAC menerangkan bahwasannya daerah Lombok dan sekitarnya masih sangat membutuhkan banyak bantuan, sehingga tumbuhlah inisiatif untuk mengajak masyarakat Cirebon, mahasiswa/i Unswagati khususnya agar menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu korban bencana Lombok.

“Masih banyak hal yang belum terselesaikan, ini bukan menyoal jumlah nominal uang yang sudah di donasikan dan seberapa besar mereka mendapatkan bantuan berupa sembako dan lain-lain, melainkan yang sangat di perlukan disana bagaimana masyarakat bisa bangkit mandiri, bisa menentukan nasib mereka kedepannya.” paparnya saat ditemui setaranews.com ddi sela-sela kegiatan PKKMB berlangsung.

Tim Satgas PB PPAC sudah melakukan koordinasi dan tentunya sudah mengirimkan relawan bersama dengan Badan SAR dan PB dari Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya (FK-KBPA-BR). Ia juga mengatakan fokusnya untuk mendampingi posko masyarakat di Lombok Barat, dengan program pendampingan posko ini harapan besarnya masyarakat di lombok bisa memenuhi dan mendistribusikan kebutuhannya sendiri, serta dapat memetakan daerahnya sendiri.

“Sesuai dengan tema yang kita usung yaitu Lombok Bangkit Mandiri bertujuan untuk meminimalisir berbagai kemungkinan terjadinya konflik di masyarakat, seperti di bencana-bencana pada umumnya, karena masyarakat sendiri yang akan menentukan secara keseluruhan. Sekarang sudah ada lima dusun yang sudah dibentuk pendampingan posko masyarakat, dan sudah masuk beberapa program di bidang kesehatan, pendidikan, sanitasi, mck dan Huntara (Hunian Sementara).” katanya.

Walaupun begitu, tentu saja mengaalami hambatan karena Cirebon masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar mumpuni dan peduli serta tanggap dalam melakukan bantuan terhadap bencana. "kami berencana membuka posko bantuan bencana gempa lombok ini sekitar 6 bulan lamanya, terhitung mulai satu hari pasca gempa Lombok tepat nya pada 5 Agustus 2018, akan tetapi karena SDM belum mencukupi daan masih banyak kekurangan akhirnya sebagai program bantuan permulan cukup sampai dua bulan saja, walaupun nantinya jika SDM sudah sesuai harapan kami aakan terus membuka posko untuk masyarakat yang ingin menyumbangkan donasi untuk korban bencana gempa di Lombok,"keluhnya saat ditanya setaranews.com.

Satgas PB PPAC membuka posko bantuan untuk korban bencana gempa Lombok di Halaman Parkir Kampus Utama Unswaagati Cirebon.

(Nur Widowati)

 

Melalui Pendidikan SDM Untuk Pariwisata Akan Lebih Baik

Tidak ada komentar

Minggu, 16 September 2018

Cirebon, setaranews.com. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Swadaya Gunung Jati (FKIP Unswagati) melaksanakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan ( Pariwisata Goes To Campus) yang diselenggarakan di kampus 2 Unswagati pada sabtu, 15 september 2018.

Masuk pada sesi yang kedua yang kemudia di isi oleh  Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DISBODPURPAR ), Bagja Edi Rohaedi S.sn.,M.M ,dan  Dosen sekolah tinggi pariwisata bandung, Andar Danova L.Goeltome,

Seperti pada sesi pertama ketiga pemateri. Alexander menjelaskan pentingnya sektor pariwisata untuk peningkatan rupiah saat ini , dimana devisa akan meningkat jika pelancong dari negri orang berkunjung ke Indonesia. selain itu hubungan SDM dan pariwisata sangatlah erat hubungannya,sebanyak 105.300 orang telah bekerja di sektor pariwisata. “ Pariwisata menjadi urutan ke 4 utuk membantu pencari kerja diindonesia” katanya .

Senada dengan Alexander , Edi Rohaedi menyebutkan sebanyak 4% sumbangan pajak dan anggaran dari pemerintah untuk pariwisata harunya dapat dimanfraatkan secara optimal, Pariwisata adalah kehidupan.” Seperti sekarang banyak sekali pentas budaya yang jelas mengundang turis untuk datang ke Cirebon contohnya muudan, nadradad, dll” sebutnya

Adapun pengembangan destinasi wisata yaitu pembukaan kawasan wisata kesenden dan kawasan bekas galian C Argasunya, diversifikasi prasarana wisata dan revitalisasi kawasan wisata budaya dan sejarah.

Pemateri terakhir andar pun menekankan bahwa SDM menjadi modal utama untuk menyiapkan wonderful Indonesia yang lebih baik, dimana awal tahun 2018 wonderful sudah mendapatkan 30 penghargaan di 8 negara didunia karena keindahan panoramannya dengan prestasi tersebut diharapkan pendidikan dapat menyiapkan SDM yang lebiih baik.

Banyaknya Potensi Wisata Di Cirebon, Pendidikan Harus Diperbaiki

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Swadaya Gunung Jati (FKIP Unswagati) melaksanakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan ( Pariwisata Goes To Campus) dari pukul 10.00 wib (15/09).

Adapun pemateri pada pelatihan dasar kali ini yaitu Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DISBODPURPAR ), bagja edi Pohaedi S.sn.,M.M , Dosen sekolah tinggi pariwisata bandung, Andar Danova L.Goeltome, anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.dedi wahidi,s.pd. dan Rektor Unswagati Dr. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si dimana pada kali ini diisi menjadi 2 sesi.

Sesi pertama diisi oleh Dr. Mukarto Siswoyo yang menjelaskan bagaimana kebijakan bidang pendidikan untuk mendukung pengembangan pariwisata melalui penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, diharapkan setiap pekerja atau penggiat seni mengikuti program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) untuk pemberian pengakuan dan penyetaraan seperti dosen. “ ya diharapkan semua orang (penggiat seni) dapat ikut program RPL dimana jika sudah mengabdi selama 10 tahun dibidangnya maka akan disetarakan seperti dosen atau mendapat pengakuan” jelasnya.

Materi selanjutnya yaitu oleh Drs., M.Si, H.dedi wahidi,s.pd.dirinya menjelaskan bahwa banyak sekali destinasi wisata di Kota Cirebon dimana didominasi oleh destinasi wisata religi, selain itu juga pendidikan menjadi sector paling penting agar para pelancong betah di Kota Cirebon. “ kita kan kebanyakan wisata religi ya, itu semua orang udah tau, diharapkan unswagati juga menjadi ibu dari anak-anak bangsa yang berperan penting bagi pariwisata Indonesia khususnya Cirebon.” Jelasnya.

Pelatihan pada sesi pertama ini dimoderatori oleh salah satu dosen FKIP yaitu Iin Wariin,S.Pd.,M.Hum.

FKIP Unswagati Adakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan

Tidak ada komentar
Cirebon, setaranews.com. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Swadaya Gunung Jati (FKIP Unswagati) melaksanakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan ( Pariwisata Goes To Campus) yang diselenggarakan di kampus 2 Unswagati pada sabtu, 15 september 2018.

Acara yang dimulai pada pukul 10:00 Wib dan dibuka oleh anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.dedi wahidi,s.pd itu dihadiri kuranglebih 200 mahasiswa FKIP Unswagati, adapun pemateri yang hadir pada kali ini yaitu Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (DISBODPURPAR ), bagja edi Pohaedi S.sn.,M.M , Dosen sekolah tinggi pariwisata bandung, Andar Danova L.Goeltome, anggota komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.dedi wahidi,s.pd. dan Rektor Unswagati Dr. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si dimana pada kesempatan kali ini terdiri dari 2 sesi pemberian materi.

Acara yang selesai pada pukul 15:00 wib itu banyak mengundang perhatian para audience dimana, pasalnya ,karena tema yang diusung tentang pariwisata, seperti yang dikatakan rektor unswagati mukarto siswoyo mengatakan Cirebon akan menjadi jantung pariwisata Indonesia.” Cirebon ini anak-anak adalah jantungnya pariwisata Indonesia, jadi mari sama-sama kita bangun sector pariwisata agar lebih baik.” Katanya. Acarapun kemudian ditutup oleh  Asisten Deputi Pengembangan SDM pariwisata, Drs. Alexander Reyaan, M.M.

Unswagati Sambut Hangat perjuangan Long March Komando V

Tidak ada komentar

Minggu, 26 Agustus 2018

Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Pelepasan 10 mahasiswa yang tergabung dalam Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO) pada 24 Agustus 2018 di halaman parkir kampus utama Unswagati Cirebon yang dihadiri oleh perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas ( BEM-U ) Dan Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi (DPM-FE) Ginanjar Nitimiharjo pada pukul 14:45 WIB.

10 mahasiswa tersebut melakukan long March dari Jakarta menuju Yogyakarta sebagai bentuk serius dalam menyebar-luaskan gagasannya untuk menjadikan pancasila sebagai hirarki tertinggi di indonesia.

Komando V yang tiba pada tanggal 23 Agustus 2018 itu Disambut hangat oleh Mahasiswa Unswagati karena Kota Cirebon pernah menjadi tuan rumah pada konsolidasi Komando II. Komunikasi yg dibangun sejak Komando II hingga Komando V ini menjadikan Unwagati berhubungan sangat dekat.

Ginanjar menyebutkan bahwa Unswagati mendukung gagasan mereka yaitu pancasila sebagai hirarki tertinggi di Indonesia
" Kami mendukung perjuangan mereka yg dibawakan dalam Long march dari Jakarta menuju Yogyakarta karena memang itu termasuk  salah satu peran fungsi mahasiswa sebagaimana harusnya. Adapun tuntutan soal Pancasila, ya memang menjadi pedoman negara dalam mewujudkan cita-citanya harus diimplementasikan sebagai nilai-nilai dalam menjalankan kehidupan bernegara." Katanya saat diwawancara via pesan singkat WhatsApp Messenger.

Ginanjar menjadi salah satu mahasiswa yang menerima kedatangan rekan-rekan komando V sebagai bentuk dukungannya pada misi yang dibawakan komando V.

Aksi long March 10 pemuda Demi pancasila

Tidak ada komentar
Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Unswagati kedatangan 10 pemuda yang nekad melakukan long march dari Kota Jakarta menuju Yogyakarta, pemuda yang tergabung dalam Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO) itu tiba di Unswagati pada 23 Agustus 2018 pukul 20:00 Wib.

Bukan tanpa alasan kesepuluh pemuda tersebut ternyata memiliki misi luar biasa demi rakyat Indonesia, Surya Hakim Lubis, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang merupakan salah satu presidium Komando Wilayah Jakarta selatan mengatakan pancasila sebagai hirarki tertinggi di indonesia sebagai bentuk solusi bagi setiap masalah yang ada di negara Indonesia saat ini.

"Pelaksanaan long March ini adalah salah satu rantai yang tidak terputus dimana pada tanggal 7-9 Juli 2018 Komando melaksanakan pertemuan nasional dimana disana kami membahas dan menginventarisir permasalahan yang ada di Indonesia dan ditemui bahwa pancasila itu harus jadi aturan main di Indonesia sebagai solusi bagi setiap masalah" katanya, saat ditanya setaranews.com, Jumat 24 Agustus 2018.

Komando V yang mengikuti long march yaitu terdiri dari perwakilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas pamulang (Unpam) Jakarta, Universitas suryakancana (Unsur) Cianjur, STKIP KN kusuma Negara, dan perwakilan petani yang juga mengikuti konsolidasi nasional tercatat ada 43 Kampus dari 14 provinsi yang mengikuti konsolidasi nasional kemarin.

Sepuluh pemuda ini  melakukan long march mulai dari tanggal 30 juli 2018 terhitung sudah 25 Hari berjalan kaki hingga tanggal 24 Agustus 2018.

Mendatangi 43 kampus di Indonesia mengunjungi Organisasi kampus untuk menyampaikan gagasannya yaitu pancasila sebagai hirarki tertinggi negara Indonesia, agar moral dan penyampaian ini masuk dalam nurani mahasiswa Indonesia. Selain organisasi mahasiswa mereka juga mengunjungi instansi daerah di Kota Cirebon yaitu Polres Kota cirebon, Kodim, Walikota, dan DPRD.

Ketika ditanya soal tujuan tidak lain mereka memiliki tujuan utama yaitu pancasila harus menjadi hirarki tertinggi negara Indonesia. Selain itu pemuda yang akrab dipanggil hogay ini menyebutkan kekuatannya hanyalah doa dari segala elemen bangsa. "Hari ini bukan soal nominal tapi hari ini yang menjadi kekuatan Kita semua adalah doa dari orangtua, rekan-rekan, rakyat dan seluruh mahasiswa Indonesia yang menjadi bagian dalam setiap perjuangan kami hari ini" tuturnya

Hambatan fisik menjadi salah satu hambatan yang sempat dialami salah satu dari pasukan komando V, terakhir hogay menyampaikan harapannya yaitu pancasila harus jadi hirarki tertinggi dan harus jadi aturan main di Negara ini.

FKPT Jabar dan BNPT adakan Literasi Digital

Tidak ada komentar

Jumat, 10 Agustus 2018

Regional, Cirebon, Setaranews.com - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) adakan Literasi Digital sebagai upaya melawan radikalisme dan terorisme, di The Luxton Hotel & Convention, Kota Cirebon, Kamis (9/8/2018).

Acara yang dimulai pada pukul 09:20 WIB itu bertemakan "Saring Sebelum Sharing". Yaya Sunarnya selaku Ketua FKPT Jabar mengatakan hal ini karena perkembangan teknologi informasi tak bisa dibendung lagi tak hanya memasuki ranah publik, tapi juga ranah pribadi.

"Masyarakat sudah sulit membedakan mana berita yang benar, mana berita yang palsu, semua informasi berseliweran dari komputer ke komputer, dari gadget ke gadget dan dimanfaatkan oleh kelompok radikal dan teroris untuk menyusupkan paham-paham yang menyimpang" jelasnya.

Karena itulah, Yaya menekankan diperlukan adanya kearifan dan kebijaksanaan untuk memilih informasi yang diperlukan. Kemampuan memilah inilah bisa dilakukan melalui kegiatan literasi digital.

Kegiatan ini merupakan kegiatan dari seminar literasi media di Bandung beberapa waktu silam,dan kali ini dilaksanakan di Cirebon yang dihadiri kurang lebih 80 orang dari kalangan mahasiswa, media dan penggiat literasi di Cirebon.

Belum Ada Titik terang, GeMSos adakan aksi soal DAK 96 M

Tidak ada komentar
Regional, Cirebon, Setaranews.com - Gerakan Mahasiswa Sosialis (GeMSos) Cirebon lakukan Aksi Demonstrasi di lampu merah gunung sari untuk mempertanyakan kembali hasil akhir dari Mega Proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai 96 Miliar pada Kamis, 9 Agustus 2018.

Massa aksi yang selalu mengawal kasus DAK 96 M itu kali ini mempertanyakan sejauh mana penyelidikan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cirebon dalam mengusut dugaan kasus korupsi DAK 96 M karena dinilai penggarapan DAK 96 M terindikasi adanya tindakan korupsi.

Dugaan korupsi Mega Proyek DAK 96 M tersebut tercium dari mulai awal proses pelelangan yang memakan waktu,pekerjaan Infrastruktur yang tidak sesai dengan spesifikasi, PPHP ( Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan) yang ramai-ramai mengundurkan diri, terjadi perampokan di Kantor DPUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) sampai adanya gugatan kontraktor kepada Pemerintah Kota Cirebon.

Massa aksi lakukan Long March dari Kampus Utama Unswagati dan berakhir di Lampu Merah Gunung sari dan melakukan orasi, dengan menyebutkan GeMSos akan selalu siap mengawal kasus DAK 96 M hingga tuntas.
" Kami akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, kejari jangan lama tidur " tegas Ginanjar Juru Bicara (Jubir) GeMSos Cirebon.

Selama Aksi Demonstrasi berlangsung Lalu Lintas di sekitarnya terpantau ramai lancar, akhirnya Massa Aksi membubarkan diri pada pukul 11.04 WIB.

Siapkan Generasi Cerah, HMJM Adakan Seminar Konsentrasi

Tidak ada komentar

Kamis, 26 Juli 2018

Unswagati, Setaranews.com - Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJ-M) Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon adakan Seminar Konsenstrasi untuk mahasiswa manajemen khushusnya tingkat tiga. Acara tersebut diadakan di Aula Kampus Utama Unswagati pagi ini Kamis, (26/07). Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa Manajemen agar lebih memahami penjurusan yang akan difokuskan di tingkat empat.

Dengan tema "Gate Of Young Intellectual Toward The Brighter Future" ini HMJ-M menyuguhkan materi pokok yaitu manajemen keuangan, manajemen SDM, dan manajemen pemasaran yang diisi langsung oleh dosen-dosen dari Fakultas Ekonomi. Yakni antara lain Maiyaliza, SE, M.Si Teguh Pranowo, SE, MM dan Dr. Edy Hartono, SE, MM.

Seminar konsentrasi ini merupakan acara tahunan yang selalu disenggarakan oleh HMJ-M. Program tersebut sebagai realisasi dari program kerja divisi keilmuan dan penalaran. Dimana seminar tersebut berkaitan dengan kurikulum jurusan manajemen, sehingga mampu mendorong mahasiswa untuk mempersiapkan dirinya sebagai lulusan yang siap terserap didunia kerja. Seperti yang disampaikan oleh ketua pelaksana Asyrofi bahwa tema yang di angkat kali ini yaitu menyiapkan generasi muda untuk membangun masa depan yang cerah.


"Kegiatan ini di hadiri sekitar 200 orang peserta, terdiri dari tingkat satu, dua, dan tiga. Walaupun ini diakakan oleh mahasiswa tapi kegiatan ini juga berkaitan dengan arah fakultas dalam menyiapkan lulusan manajemen." paparnya.

Sementara di tengah acara setelah pemateri menyampaikan seminar, dibukalah dengan sesi tanya jawab dengan pertanyaan pembuka yaitu bagaimana cara pemasaran yang benar dalam merintis sebuah usaha untuk menguasai pasar dan langsung dijawab oleh salah satu pemateri, "Dalam membangun suatu usah perlunya kita memahami di bidang apakah usaha yang sedang kita bangun, kemudian juga harus memahami pesaing dan perilaku konsumnen. Sehingga dari situ kita mampu menyiapkan strategi yang tepat dalam pemasaran." ujarnya.

Di sesi terakhir moderator memaparkan, seorang jurusan manajemen harus mempersiapkan dirinya untuk siap setelah lulus dari universitas, setidaknya mampu melakukan perencanaan keuangan perusahaan, dimana lingkup kerjanya selain di perusahan swasta juga perusahan pemerintah meliputi manajemen keuangan dan pembiayaan, manajemen SDM, serta manajemen pemasaran. (Mumu Sobar Mukhlis)

Meski Minim Persiapan, Konser PSM yang Ke-3 Jadi Ajang Asah Mental

Tidak ada komentar

Rabu, 25 Juli 2018

Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UKM Seni dan Budaya Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, menggelar pertunjukan konser yang bertajuk "Remember Us: Now You See Me" yang diadakan di Auditorium kampus Utama Unswagati pada Selasa (24/07).

Konser ini merupakan pertunjukan yang ke-3 kalinya diselenggarakan oleh PSM UKM Seni dan Budaya.

"Tema yang kita angkat pada konser kali ini untuk mengingat anggota PSM khususnya, dimana mereka sedang giat-giat nya latihan untuk suksesi konser PSM yang ke-3 ini, jadi ketika konser dilaksanakn semua penonton yang datang dapat melihat hasil dari latihan kami,"ujar Ardiyansyah, Ketua Pelaksana Konser PSM ke-3 saat ditemui setaranews.com disela-sela konser berlangsung.

Disisi lain, Ketua Umum UKM Seni dan Budaya, Safeti mengatakan konser PSM sekarang bertujuan sebagai penyemangat bagi anggota baru bidang PSM yang sebelumnya menurun, "Saya melihat anggota PSM sendiri sempet down dengan berkurangnya anggota PSM di tahun ini, jadi konser ini merupakan langkah untuk membangkitkan kembali gairah dan semangat anggota PSM sendiri, saya selaku Ketua Umum sangat apresiasi serta mendukung seluruh program yang ada di UKM Seni dan Budaya,"katanya kepada setaranews.com

Lebih lanjut Safeti memaparkan kondisi konser PSM tahun ini memiliki persiapan yang sangat kurang, "saya menyadari persiapan mereka sangat kurang, semuanya serba ngedadak alhasil lagu-lagu nya juga hanya beberapa saja gak sebanyak konser PSM ditahun sebelumnya, Walaupun begitu pada konser ke-3 ini dapat dijadikan ajang untuk mengasah mental dan kemampuan anggota PSM, karena bulan oktober nanti kita akan mengikuti lomba PSM di Unsoed,"tutupnya.

Konser PSM yang ketiga berlangsung mulai pukul 19:30 dan berakhir sekitar pukul 22:00 WIB.

Pemkot Cirebon Dapatkan 3 Gugatan Mega Proyek DAK 96 M

Tidak ada komentar

Kamis, 19 Juli 2018

Regional, Cirebon, Setaranews.com – Pemerintah Kota (Pemkot Cirebon) terseret kedalam persidangan lantaran menuai gugatan dari pihak ketiga yaitu kontraktor mega proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai 96 miliar, Pasalnya hingga saat ini penyelesaian pembayaran proyek tersebut (DAK 96 M) tak kunjung dibayarkan 100 persen.

Pemkot Cirebon mendapatkan 3 Gugatan sekaligus, Gugatan pertama yaitu berasal dari PT. Ratu Karya, dengan nomor register 23/Pdt.G/2018/PN CBN, Kedua atas nama PT. Sentra Multikarya Infrastruktur dengan nomor registrasi 24/Pdt.G/2018/PN CBN, kemudian gugatan Ketiga atas nama PT. Mustika Mirah Makmur dengan nomor registrasi 25/Pdt.G/2018/PN CBN.

Agus Fatah.,SH, Selaku Panitera Muda Perdata Pengadilan Negeri (PN) Cirebon mengatakan sudah ditetapkannya jadwal sidang perkara gugatan proyek DAK 96 M, pasalnya ketiga gugatan tersebut sudah dilakukan mediasi. “Perkara ini sudah memasuki sidang yang pertama karena pada tahap mediasi mengalami kebuntuan, maka sidang harus dijalankan."katanya, Rabu, (18/07).

Ketiga Gugatan tersebut didaftarkan secara bersamaan sejak 30 April 2018 lalu, Pemkot Cirebon dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) yang menangani Mega Proyek DAK 96 M tersebut sebagai pihak yang tergugat.

Ketiga PT tersebut menggugat keras Pemkot harus menyelesaikan sisa pembayaran Proyek DAK 96 M. Kepala Bina marga DPUPR, Hanry David juga membenarkan soal gugatan tersebut, dia mengatakan serah terima pekerjaan DAK 96 M masih dalam proses menunggu putusan pengadilan.

“Perkaranya menjadi urusan perdata, karena penyelesaiannya masih menunggu putusan pengadilan” katanya.

Lebih lanjut, “Kontraktor juga mestinya harus bertanggung jawab atas kinerja yang tak sampai di angka 70 persen,”pungkasnya.

Baca Juga : Mega Proyek DAK 96 M Kembali Menuai Polemik Baru

Mega Proyek DAK 96 M Kembali Menuai Polemik Baru

1 komentar

Rabu, 18 Juli 2018

Regional, Cirebon, Setaranews.com - Proyek Dana Alokasi Khusun (DAK) Rp 96 Miliyar tahun 2016 silam kembali tercium, Pasalnya Mega Proyek tersebut menuai banyak sekali polemik yang terjadi dimasa penggarapannya, mulai dari proses lelang hingga Perhitungan Hasil Pekerjaanya, sehingga diduga adanya indikasi korupsi Proyek DAK 96 M.

Kali ini muncul perkara Mega Proyek DAK 96 Miliyar, yaitu soal pembayaran terhadap pihak ketiga (Kontraktor) yang sampai saat ini belum dibayarkan, sehingga 3 kontraktor Proyek DAK 96 M melakukan Gugatan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon.

Usut demi usut, hal tersebut dipicu karena terdapat perbedaan data hasil pekerjaan yang dilaporkan dengan pembayaran dari Pemerintah Kota Cirebon. Pasalnya sebanyak 3 kontraktor yang melakukan gugatan tersebut mengakui kinerjanya melebihi progres 75 persen, sementara itu berbeda dari  hasil perhitungan tim konsultan yang diterjunkan oleh Pemkot Cirebon, termasuk Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) dari internal DPUPR, yang hasilnya tak sampai pada angka 70 persen.

Hanry David, selaku Pejabat baru Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) mengatakan kontraktor harus bertanggungjawab atas kinerjanya, "Seharusnya mereka harus bertanggungjawab atas kinerjanya hingga saat ini, termasuk jika terdapat kerusakan atas hasil kinerjanya, karena sampai saat ini  penyelesaian proyek DAK Rp 96 M, termasuk serah terima pekerjaan sendiri hingga kini masih dalam tahapan menunggu putusan pengadilan,"katanya, Senin (16/17).

Disisi lain, Sukirman selaku Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Cirebon sekaligus juru bayar proyek DAK 96 M membenarkan atas penjelasan yang di sampaikan oleh Kepala Bina Marga DPUPR, menurutnya penyerapan anggaran DAK 96 M 2016 baru diangka 52 persen.

"Yang jelas masih jauh dari progres dan belum 100 persen dan nominal yang akan dibayarkan pun diluar wewenang instansi kami."pungkasnya.

Hingga saat ini penyelesaian Proyek Dak 96 M masih dalam proses sidang di pengadilan dan gugatan kontraktor masih di tahap negosiasi. Pihak DPUPR mengharapkan putusan pengadilan tak sampai proses banding atau kasasi, "Dari anggaran keseluruhan sebesar 96 M itu terdapat anggaran yang tidak dibakukan karena untuk biaya pemeliharaan, baik digunakan untuk jalan raya ataupun trotoar."Harapnya.

Masih Soal Larangan Rambut Panjang, Aksi Jilid #2 Berujung Audiensi

1 komentar

Selasa, 17 Juli 2018

Cirebon, Unswagati, setaranews.com - Sekurumunan mahasiswa Fakultas Teknik adakan aksi Jilid #2 pada Senin,16 juli 2018 di depan Gedung Fakultasnya sendiri guna untuk mendapatkan hasil dari aksi kemarin(13/07) namun faktanya aksi yang dimulai pada pukul 13:00 WIB itu akhirnya hanya sebatas audiensi dan konsolidasi yang tak menemui kata "Sepakat". (16/07)

Dekan Fakultas Teknik Fatur menuturkan hatinya merasa terkikis lantaran anak didiknya berkelakuan layaknya preman
" Hati saya nih sakit melihat kalian (Mahasiswa Fakultas Teknik) teriak-teriak dan berkata kasar kaya kemarin, (keluarlah dekan Fakultas Teknik) Saya merasa sakit hati, karena saya dan rekan-rekan dekanat disini hanya untuk ibadah, bukan rupiah, kami mengabdi sudah lama sekali, tapi baru kali ini saya merasakan di demo kaya gini" katanya sambil mengelus dada.

Aksi yang berujung Audiensi Fakultas Teknik ini meluruskan perkara perihal 2 orang Mahasiswa Fakultas Teknik yang tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) oleh Indah selaku Ketua Prodi Teknik Sipil, Dia mengatakan Hari Rabu dirinya mendapatkan laporan dari pengawas bahwasannya mahasiswa tingkat 1 yang diketahui namanya Rezki dan Prio memiliki rambut panjang alias gondrong, padahal sebelumnya sudah tersebar Surat Edaran untuk tidak memanjangkan rambut. "Rabu nih Saya dapet laporan dari pengawas kalo Reski sama Prio masih gondrong, padahal kemarin-kemarin sudah saya ingatkan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Teknik untuk memotong rambut bagi yang rambut nya panjang." Katanya

Dirinya pun menjelaskan bahwa kebijakan mahasiswa berambut gondrong tidak boleh mengisi daftar hadir Ujian Akhir Semester (UAS) bukan tidak boleh mengikuti UAS.
"Setelah semuanya potong rambut, tinggal mereka berdua ajah yang belum potong rambut, karena sebelumnya ada kesepakatan bahwa mahasiswa berambut panjang tidak boleh mengisi daftar hadir UAS bukan ga boleh ikut UAS, ini salah paham " jelasnya yang saat itu menggunakan baju berwarna ungu.

Setelah perkara rambut panjang selesai, Audiensi berlajut membahas point 2, Yaitu melibatkan mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Teknik dalam merumuskan setiap kebijakan di Fakultas Teknik, serta point 3 yaitu menghapuskan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan aturan UU No 12 Tahun 2012, Sempat beradu argumentasi antara Mahasiswa dan Dosen Fakultas Teknik karena dinilai belum terdapat keterbukaan aturan dari pihak Dekanat pada Mahasiswa.

Suharto salah satu audiens mengatakan "mahasiswa perlu dilibatkan dalam perumusan aturan di Fakultas Teknik".

Edik, salah satu Dosen mengatakan jika perumusan aturan bersama mahasiswa itu salah, mahasiswa hanya sebatas sosialisasi tapi dirinya setuju jika adanya keterbukaan perumusan aturan di Fakultas Teknik namun dirinya pun menjelaskan banyak kelemahan dan kekurangan nya. "Kalo kemahasiswaan sih itu hanya sebatas sosialisasi, kalo perumusannya kita akan rumuskan bersama steakholder dari mahasiswa yaitu orang tua, namun di Teknik ini kita belum punya wadah untuk menampung itu semua, mungkin nanti kedepannya akan ada forum orangtua untuk merumuskan aturan di Fakultas Teknik." jelasnya sambil berdiri dekat pintu.

Terakhir tuntunan mahasiswa terkait pemenuhan sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar di Fakultas Teknik, Pihak dekanat menjelaskan bahwa proposal terkait sarana dan prasarana sudah masuk ke pihak Universitas namun hingga detik ini belum ada jawaban. " Kami sudah buat Rancangan Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan 4 ruangan yaitu untuk Ruang Arsip, Ruang Kelas 2, dan Ruang Dosen, selain itu juga lahan kosong yang disebelah kanan itu, rencananya mau bikin RTH (Ruang Terbuka Hijau) untuk kegiatan mahasiswa, namun proposal itu mandeg di tingkat Universitas, belum ada jawaban apa-apa, dan bahkan demi menunjang sarana dan prasarana honor kami rela dapat potongan, agar kebutuhan mahasiswa Fakultas Teknik ini terpenuhi" katanya sambil merengut.

Penjelasan terkait 3 point tuntutan Masa Aksi tersebut telah di rundingkan namun tak ada kata sepakat antar mahasiswa dan dekanat Fakultas Teknik, Akhirnya Dwi Algi, selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) mengatakan "Audiensi akan kembali di gelar, guna untuk menemukan titik terang". tutupnya.

(Felisa Dwi Pujianti).

Unswagati Gandeng RRI Cirebon Gelar Nobar Final Piala Dunia 2018

Tidak ada komentar
Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Rektorat Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon mengadakan Nonton Bareng (Nobar) final piala dunia 2018 di haalaman Parkir Kampus Utama Unswagati Cirebon, Minggu 15 Juli 2018.

Dalam acara nonton bareng tersebut tampak terlihat jajaran Rektorat beserta Yayasan Pendidikan Sunan Gunung Jati (YPSGJ) beserta mahasiswa menjadi satu berkumpul dilesehan halaman parkir sembari menyaksikan Partai Pinal Piala Dunia 2018 yang mempertemukan antara Prancis melawan Kroasia yang digelar di Stadion megah Luzniky, Moskow, Russia.

Unswagati juga turut menggandeng Radio Republik Indonesi (RII) Cirebon guna untuk mensukseskan acara Pesta Bola Nobar final kejuaraan sepak bola tingkat dunia tersebut.

M. Nasir yang mewakili Rektor Unswagati sekaligus Ketua Pelaksana acara tersebut memberikan sambutan bahwasanya pada acara ini merupakan ajang untuk berkumpul dalam satu tempat antara Mahasiswa, Rektorat beserta Yayasan.

"Kami sampaikan terimakasih kepada pihak RRI cirebon yang mau bekerja sama dan menjadi sukssesi acara ini, selain sebagai ajang berkumpul nya civitas akademika unswagati ini, kita juga turut meramaikan piala dunia di tahun ini, siapa tahu nanti Tim Nasional Garuda Indonesia dapat berkiprah di Piala Dunia di tahun-tahun selanjutnya," ujarnya memberikan sambutan di acara Pesta Bola Nobar Final Diala Dunia 2018.

Pesta Bola Nonton Bareng tersebut juga didukung oleh beberapa produk ternama di Indonesia, diantaranya Indihome Wifi, Antangin, Anget Sari, Hydro Coco, dan juga didukung oleh Teh Pucuk yang masing-masingnya turut memberikan berbagai hadiah sepanjang acara nonton bareng final piala dunia 2018 berlangsung.

 

Bad Mood? 5 Lagu Ini Bisa Tingkatkan Mood di Sore Hari

Tidak ada komentar

Sabtu, 14 Juli 2018

Tips dan Trik, Setaranews.com - Bagi sebagian orang mendengarkan musik mampu meningkatkan mood setelah melakukan berbagai aktifitas. Hal itu dibuktikan oleh ilmuwan dari University of Missouri bahwa mendengarkan musik bisa meningkatkan suasana hati dan mampu menurunkan tingkat stres. Hal ini akan terasa apabila dilakukan selama 2 minggu rutin.

Menurut mereka, lantunan musik yang manusia dengar merupakan getaran gelombang suara. Getaran gelombang suara ini akan berubah menjadi sinyal listrik setelah masuk ke telinga dan ditangkap oleh sel-sel rambut yang berada di koklea. Kemudian sinyal suara ini akan dikirim ke otak melalui serabut saraf telinga. Di otak, sinyal listrik ini akan menyebar dan menyentuh hipotalamus otak. Saat merespon sinyal listrik, hipotalamus langsung bekerja meningkatkan mood bahagia dopamin dan menurunkan hormon kortisol.

Jadi, setelah seharian beraktifitas, merasa lelah dan stres, tidak ada salahnya mendengarkan musik untuk kembali merilekskan tubuh dan pikiran. Berikut beberapa rekomendasi musik dari Setaranews.com yang bisa didengarkan untuk menutup aktifitas seharian penuh:

 


  1. Indahnya Dunia - Andien



Jangan sepelekan musik si tubuh mungil, Andien. Ia selalu hadir dengan nuansa musik yang gembira dan sejuk didengar. Kali ini 'Indahnya Dunia' milik si Andien bakal mengisi soremu dengan rileks. Didengarkan sewaktu sore dan ditemani semilir angin sore bakal bikin senja serasa berpihak kepadamu.


  1. Senja Di Ambang Pilu - Danilla



Suara ngejazz Danilla yang merdu, ditambah aransemen musik 'Senja Di Ambang Pilu' yang syahdu. Bakal membuat lelah dan stresmu seolah-olah luruh begitu saja. Kata si perempuan kelahiran Jakarta ini, sunset adalah momen yang tepat untuk merindukan seseorang. Jadi, bisa dengerin lagunya sembari merindukan seseorang untuk sesegera mungkin ditemui, lho.


  1. Senja di Jakarta - Banda Neira



Sayangnya, duo cerdas ini Banda Neira sudah cukup lama membubarkan diri. Tapi musik mereka akan tetap timeless didengarkan. Sore memang selalu identik dengan senja dan keramaian jalanan. Berangkat dari sana, Rara dan Badudu, dua vokalis di duo ini bakal membawa soremu sesuai realita, tapi tetap terasa seru untuk dijalani.


  1. Special Lovely Way - Marcomarche



Marcomarche berhasil menciptakan lagu ‘Special Lovely Way’ yang benar-benar easy-listening. Lagu ini sangat cocok didengarkan sore hari di rumah, setelah beraktifitas seharian penuh di luar rumah, sembari santai minum cokelat panas atau kopi panas. Duh, nikmat.


  1. Memulai Kembali - Monita Tahalea



Soremu akan terasa sempurna jika ditutup dengan lagu ‘Memulai Kembali’ dari si eksotis Monita Tahalea. Lirik dan aransemennya mampu menularkan semangat tersendiri untuk soremu yang melelahkan, dan membuatmu siap untuk memulai kembali sore berikutnya.

(Fiqih Dwi Hidayah).

Merasa Terdiskriminasi, Mahasiswa Fakultas Teknik Demo Dekan

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) melakukan aksi solidaritas terkait kebijakan Dekanat yang mengatur tentang kerapihan dalam berpenampilan pada Kamis, 13 Juli 2018 di depan ruangan Dekan Fakultas Teknik.

Usut demi usut aksi solidaritas yang di mulai pada pukul 13.00 WIB itu bertujuan untuk menyikapi tindakan dosen yang mengeluarkan Mahasiswa (Fakultas Teknik) pada waktu Ujian Akhir Semester (UAS) berlangsung, Senin (9/7) lantaran mahasiswa teknik sipil tersebut memiliki rambut gondrong.

Gaungan nyanyian pergerakan mahasiswa terdengar disekitar ruang-ruang fakultas teknik, Pihak keamanan Unswagati turut mengamankan jalannya aksi tersebut, Sekitar 20 orang tergabung dalam kerumunan aksi adapun tuntutan yang diajukan ialah mengenai kebijakan Dekanat Fakultas teknik yang melarang mahasiswanya berambut gondong, itu ditarik (dihilangkan).

Sudah lama berorasi akhirnya aksinya pun mendapatkan respon dari Pihak Dekanat, diajaknya 4 orang mahasiswa Massa aksi untuk negosiasi di dalam ruangannya.

Dwi Algi selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) mengatakan awalnya Dua mahasiswa teknik merasa terdiskriminasi lantaran dikeluarkan dari Ruang Ujian karena rambutnya jatuh terurai sampai ke pundak.

"Kami sebagai mahasiswa disini merasa di diskriminasi, hal seperti ini sebenarnya sudah terjadi sebelumnya. Awalnya kami diamkan saja, akan tetapi kali ini sampai dilarang untuk mengikuti UAS, padahal mahasiswa sudah memenuhi kewajibannya membayar uang kuliyah, masa hanya gara-gara rambut saja sampai dilarang mengikuti UAS,"tegasnya saat berorasi mengenakan megaphone.

Diberlakukannya aturan tersebut lantaran Fakultas Teknik menginginkan mahasiswa nya untuk berpenampilan rapih, Hal tersebut diunghkapkan oleh Fatur selaku Dekan Fakultas Teknik, "Kami mencoba untuk membentuk karakter mahasiswa teknik dengan baik, karena kita memiliki visi kedepannya, layaknya budaya berpenampilan yang diperagakan oleh Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Kedokteran Unswagati yang berpenampilan rapih dan sopan," ungkapnya memberi penjelasan kepada massa aksi.

Mendengar penjelasan tersebut massa aksi masih bersih keras menuntut untuk dihilangkannya peraturan tersebut karena dinilai tidak substansial untuk diterapkan di ranah Fakultas Teknik.

"Kami menuntut dekananat untuk mencabut aturan yang dioprioritaskan terhadap fashion atau penampilan, sama sekali tidak substansial dan bukan menjadi solusi yang baik bagi kami agar berpenampilan rapih dan sopan. Kami akan melakukan aksi-aksi berikutnya dengan jumlah mahasiswa yang lebih banyak lagi dari hari ini" tegas Dwi Algi dipenghujung aksi. (Aditya Warman).

Audiensi Lanjutan Belum Sentuh Poin Transparansi

Tidak ada komentar

Jumat, 06 Juli 2018

Unswagati, Setaranews.com – Pada hari Kamis (5/7) audiensi lanjutan terkait transparansi di Kampus Biru yakni julukan untuk Unswagati digelar. Terjadi pemandangan yang tidak biasa di Ruang Rapat Rektorat yang tepatnya berada di Kampus Utama Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon. Pasalnya ruangan tersebut dipadati oleh mahasiswa perwakilan dari seluruh Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa).

Audiensi kali ini berjalan tanpa kehadiran Mukarto Siswoyo selaku Rektor Unswagati karena harus menghadiri acara yang tidak bisa ditinggalkan. Meski begitu audiensi masih bisa dihadiri oleh Wakil Rektor tiap-tiap bidang I, II, III dan IV.

Tiap-tiap wakil rektorat menyampaikan hal-hal yang dirasa perlu disampaikan mahasiswa siang itu. Seputar kerja sama nasional hingga internasional, struktural terbaru rektorat dan informasi akreditasi. Sayangnya, mahasiswa merasa sepakat bahwa apa yang telah disampaikan pihak rektorat tidak menyentuh poin-poin  transparansi yang pernah disepakati pada audiensi pertama pertanggal 19 April 2018 lalu.

Baca :Rektor Klarifikasi Tuntutan Mahasiswa, Siap Transparansi

“Apa yang disampaikan pihak rektorat hanya sebatas koordinasi dan sosialisasi. Sama sekali tidak ada penjelasan yang menjawab poin-poin transparansi yang telah disepakati sejak awal,” papar Anna mahasiswa Ekonomi yang disepakati mahasiswa lainnya.

Menurutnya tidak adanya trust dalam diri mahasiswa karena pihak Universitas tidak pernah membuat sebuah sistem transparansi yang jelas kepada mahasiswanya.

“Mahasiswa tidak pernah dilibatkan. Jadi jangan salahkan kalau banyak spekulasi negatif terhadap Universitas. Sistem transparansi yang jelas kepada mahasiswa perlu dibuat untuk meningkatkan trust mahasiswa dalam kehidupan berkampus.” Lanjutnya.

Sementara itu dalam sesi diskusi mahasiswa kembali mempertegas mekanisme alur dana kemahasiswaan, alur dana pembangunan dan sistem transparansi yang jelas.

Pihak rektorat pun berjanji akan memenuhi permintaan mahasiswa dalam sesi audiensi lanjutan berikutnya.

“Berhubung waktu yang terbatas dan tidak bisa semua permasalahan kita bahas sekarang. Masih ada lain waktu untuk bersama-sama membahasnya.” Tutup Ipik Permana selaku Wakil Rektor III.

Audiensi pun ditutup tepat pada pukul 15.30 WIB dan sesuai janji pihak rektorat audiensi berkala akan terus digelar. (Fiqih).

Baca Berita Lainnya : Rektorat Penuhi Janjinya Gelar Audiensi Bersama Ormawa

Rektorat Penuhi Janjinya Gelar Audiensi Bersama Ormawa

Tidak ada komentar

Unswagati, Setaranews.com - Masih ingat tentang hajat Rektorat Universitas Swadaya Gunung Jati bersama mahasiswa yang megegerkan jagat Maya? Yaaaa, Kali ini pihak rektorat kembali mengadakan audiensi kedua bertemakan "Ngopi Bareng " pada kamis, 5 juli 2018 di Ruang Rapat rektorat lantai II pada pukul 13:00 WIB yang diikuti kurang lebih 39 mahasiswa yang terdiri dari delegasi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat Universitas.



Audiensi ini merupakan tindak lanjut agenda rutin bidang administrasi kemahasiswaan dan ormawa mengenai Rapat koordinasi dengan ormawa tingkat universitas, Tak hanya itu agenda lanjutan dari audiensi pertama pada Kamis,19 April 2018 lalu di hadiri oleh Wakil Rektor I ,II,III dan IV yang membahas kinerja tiap divisinya masing-masing.



Audiensi kali ini berjalan dengan hikmat tak memanas. Diawali dengan penjelasan dari Wakil Rektor III Dr. Ipik Permana, S.Ip., M.Si. menggembar-gemborkan kinerjanya di bidang kemahasiswaan SIMKATMAWA ( Sistem Informasi Manajemen Pemeringkatan Kemahasiswaan ).
"Setiap kegiatan ormawa harus mengisi formulir dari kopertis, guna untuk meningkatkan peringkat nilai kemahasiswaan di Unswagati yang sangat kurang" jelasnya.



Berikutnya penjelasan dari Wakil Rektor IV yang Membahas tentang bidangnya dimana terdapat personil baru yang mengisi Ruang UPT sebagai lembaga paling strategis untuk mempromosikan kampus biru tercinta serta terdapat 2 arus kerjasama yaitu internal dan eksternal, " Diharapkan audiensi ini dapat terjalinnya silaturahmi dan komunikasi Dengan baik, disini WR 4 Ada penambahan bidang ditambah UPT dan kerjasama 2 arus " katanya.



Dan terakhir penjelasan dari Wakil Rektor II menerangkan tentang perubahan struktural dibidangnya yaitu HKUP dan biro keuangan yang memliki tugas tentang perencanaan anggaran dan perencanaan keuangan termasuk verifikasi dan laporan.



Ditengah pembahasan ternyata agenda audiensi ini kehabisan waktu, akhirnya negosiasi untuk penambahan waktu pun terjadi dengan penambahan waktu 15 menit.



Banyak pertanyaan dan desakan dari mahasiswa yang hadir karena dinilai transparansi yang dilakukan pihak rektorat ini sangat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan mahasiswa.



15:15 WIB audiensi pun ditutup oleh WR III Dengan menyampaikan kesimpulan yang ia tangkap bahwa semua pertanyaan dan saran sudah di catat untuk dilaporkan ke Rektor Unswagati.
" Semua pertanyaan dan Saran sudah dicatat untuk dilaporkan kepihak rektorat baik itu tentang RKAT,masterplan dan transparansi. Universitas juga akan siapkan RKAT 2019 Serta promosi unswagati sebagai kampus terkemuka di cirebon dengan seluas-luasnya" tutupnya. (Felisa)

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews