Responsive Ad Slot

Resensi Film: Dirampok, Diperkosa dan Membunuh untuk Membela Diri ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’

Tidak ada komentar

Sabtu, 25 November 2017

Judul Film : Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)

Sutradara : Mouly Surya

Penulis Naskah : Mouly Surya, Garin Nugroho, Rama Adi

Produser : Fauzan Zidni dan Rama Adi

Pemeran : Marsha Timothy (sebagai Marlina), Egi Fedly (sebagai Markus), Dea Panendra (sebagai Novi) dan Yoga
Pratama (Franz)

Tanggal Rilis : 16 November 2017 (Indonesia)

Resentator : Fiqih Dwi Hidayah

Resensi Film, Setaranews.comMarlina bukanlah pembunuh biasa. Ia terpaksa membunuh untuk mempertahankan diri dari para perampok yang menjarah rumah, harta serta harga dirinya sebagai wanita.

Kematian putra dan suaminya membuat Marlina tampil menjadi wanita yang tegar namun sangar. Ia harus berternak dan menjalani kehidupan seorang diri di puncak perbukitan sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Lewat film ini Mouly Surya sang sutradara telah melahirkan sebuah genre baru dalam perfilman Indonesia yang disebut-sebut sebagai satay western. Julukan satay western sendiri diberikan oleh Maggie Lee seorang kritikus film luar negeri dalam laman bernama Variety.

Ini seperti antitesa dari genre spaghetti western di Italia dan lebih mengacu pada suatu nama Negara dimana film ala western dibuat yakni dengan setting padang sabana dan terdapat satu tokoh jagoan yang bertahan hidup.

Film ini dibuka dengan pemandangan lebar perbukitan sabana yang dipadu dengan sentuhan musik etnis yang apik. Babak demi babak pun lekas dimulai. Diceritakan oleh Marlina dengan ritme yang tragis.

Pertama tatkala seorang lelaki tua yang mengendarai motor melintasi terjalnya jalanan perbukitan menuju rumah Marlina. Ia adalah Markus, perampok yang mempelopori kawanan perampok lainnya untuk datang ke rumah Marlina.

Disinilah terungkap bahwa Marlina baru kehilangan suaminya. Suaminya itu menjadi mumi disudut rumahnya karena ia tidak mempunyai biaya untuk pemakaman.

Para perampok itu mengangkut binatang ternak milik Marlina dan berniat memperkosanya. Ia merasa ketakutan sehingga memutuskan untuk membunuh mereka. Markus dipenggal kepalanya oleh Marlina tatkala ia diperkosa oleh lelaki tua itu.

Sesuai judul, film ini dibagi menjadi empat babak. Selebihnya alur film ini bercerita tentang perjalanan Marlina menuju Kantor Polisi dalam rangka mencari keadilan. Ia pun dengan berani menenteng kepala Markus yang penuh darah menuju Kantor Polisi. Dalam perjalanannya itu ia dibantu oleh kawannya Novi yang tengah hamil 9 bulan.

Ada percakapan menarik antara Novi dan Marlina di pinggir jalanan perbukitan. Novi bilang Marlina tidak usah ke Kantor Polisi yang ada nanti ia yang disalahkan, lalu Novi mengajak Marlina ke Gereja untuk mengakui dosanya, tapi Marlina tidak mau sebab ia merasa tidak berdosa.

Tentu Marlina menganggap apa yang dilakukannya semata-mata untuk melindungi dirinya. Bayangkan, jika Marlina tidak membunuh para perampok itu, ia bisa saja diperkosa secara bergilir hingga tewas, bukan?

Film ini menyisipkan kritik sosial yang cerdas. Terlihat saat Marlina hendak ke Kantor Polisi ia harus menunggu truk berjam-jam. Bahkan saat ia tidak dapat truk Marlina harus naik kuda. Sesampainya Marlina di Kantor Polisi pun aparat tidak bisa diandalkan menyelesaikan kasusnya. Prosesnya memakan waktu hingga berbulan-bulan karena minimnya fasilitas. Ini menjadi gambaran suram kondisi Indonesia di pedalaman.

Tampaknya film ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ ini secara tidak langsung menggambarkan wanita Sumba yang kuat dan berani. Buktinya kandungan Novi baik-baik saja meski ia didorong berulang-ulang.

Film ini menjadi agak creepy tatkala sosok Markus tanpa kepala sembari memainkan alat musik khas Sumba beberapa kali menghantui Marlina. Tapi kesan creepy itu ditutupi dengan alur cerita yang kuat.

Akting Marsha Timothy dan Dea Panendra pun patut diacungi jempol apalagi tatkala memainkan ekspresi wajah. Itu membuat penonton bergejolak dan tenggelam dalam peran yang mereka jalani. Tak ayal film ini mendapatkan apresiasi lebih di berbagai festival film luar negeri seperti Cannes, Toronto dan yang terbaru di Polandia.

Film ini juga sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia sejak tanggal 16 November 2017. Pastikan kalian sudah cukup umur untuk menonton film ini ya, karena banyak adegan yang hanya pantas ditonton oleh usia 17 tahun ke atas!

Iing Daiman Ajak Masyarakat Cirebon Dukung Konsep Smart City

Tidak ada komentar

Kamis, 23 November 2017

Unswagati, Setaranews.com - Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon sekaligus Ketua Team Pelaksana Smart City yakni Iing Daiman, S.IP., M.Si., menjadi salah satu pembicara dalam acara Dialog Strategis yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) di Auditorium Kampus Utama Unswagati pada Rabu (22/11/2017).

Acara yang membahas tentang perkembangan teknologi yang digunakan untuk Smart City ini sekaligus memberikan infomasi kepada masyarakat bahwa Cirebon adalah salah satu dari 25 kota perintis Smart City.

Kabar mengenai Smart City ini baru di launching oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada 2-3 Mei 2017 yang lalu. Kota Cirebon mengikuti audisi seleksi Smart City oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) masuk ke dalam tahap awal audisi seleksi Smart City yaitu 100 besar perintis kota pintar dari 500 kota di Indonesia yang kemudian dikerucutkan menjadi 25 kota.

Diseleksi dari segi kesiapan infrastruktur menghantarkan Kota Cirebon ke dalam lingkaran 25 kota perintis Smart City yang bersanding dengan Kota Jambi, Kab. Pelalawan, Kab. Siak, Kab. Banyuasin, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kab. Purwakarta, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Sleman, Kota Semarang, Kab. Banyuwangi, Kab. Bojonegoro, Kab. Gresik, Kab. Sidoarjo, Kab. Badung, Kota Singkawang, Kab. Kutai Kartanegara, Kota Samarinda, Kota Makassar, Kota Tomohon, dan Kab. Mimika.

Tanggal 22-23 Mei 2017 yang lalu, diadakan Memorandum Of Understanding (MoU) antara Walikota Cirebon dengan Kemenkominfo dan setelah itu ada pembinaan pendampingan penyusunan master plan.

“Sebenarnya ruh Smart City Di Cirebon itu sudah dilaksanakan dari tahun 2009/2010 dengan mengadakan program Cirebon wadulbae. Cirebon telah memiliki embrio untuk jadi Smart City," ungkap Iing Daiman saat ditemui oleh setaranews.com.

Upaya pertama yang dilakukan untuk menunjang Smart City ini dimulai dari pendekatan ke berbagai lini masyarakat melalui pendekatan teknologi di berbagai daerah. “Kita mulai dari pendekatan teknologi dari berbagai daerah dulu contoh pembuatan akta lahir jadi dalam waktu 14 hari kita pangkas menjadi 2 hari dengan sentuhan dari teknologi tersebut, selain itu juga pendaftaran, pelayanan dan administrasi lainnya juga melalui teknologi," katanya.

Kelemahan Kota Cirebon sebagai Smart City ini yaitu hanya memiliki lahan kurang lebih 37 km persegi. Selain sempit, banyak kawasan di kota yang memiliki otoritas sendiri. Pemerintah akan melakukan kerjasama dengan pemilik otoritas dan dalam rencana tim pelaksana Smart City akan melakukan reklamasi laut di pelabuhan.

"Pada dasarnya konsep kota pintar mengelola kota dengan cerdas, masyarakat memberi reaksi positif karena berkaitan dengan pelayanan, keamanan maka masyarakat mendukung. Pengelolaan kota yang seefisiensi mungkin, semurah mungkin dan menyejahterakan masyarakat," jelas Iing.

Iing juga mengucapkan banyak terimakasih kepada mahasiswa dan karena telah memberikan peluang untuk dapat menyebarluaskan informasi Cirebon Smart City. Ia mengajak untuk bersama-sama medukung Smart City untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat di Kota Cirebon, bersinergi untuk mendukung Smart City dalam tupoksinya masing-masing, sebagai birokrasi, mahasiswa dan masyarakat Kota Cirebon.

HMJ-M Unswagati Gaet Sylviana Murni Jadi Pembicara Kuliah Umum

Tidak ada komentar

Rabu, 22 November 2017

Unswagati, Setaranews.com – Pernah dengar nama Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si? Saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 silam sosoknya sering muncul di televisi. Ia tampil sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Calon Gubernur DKI Jakarta bernomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono.

Dalam kesempatan kali ini Himpunan Mahasiswa Jurusuan Manajemen (HMJ-M) Unswagati berhasil menghadirkan ia sebagai pembicara dalam Kuliah Umum bertajuk “Pengembangan Pariwisata dan Budaya Dalam Peningkatan Ekonomi Nasional” yang diadakan pada Selasa (21/11) di Aula Kampus Utama Unswagati.

Wanita berhijab yang sering disapa Mpok Sylvi ini rupanya pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta tahun 2015-2016. Hal tersebut pula yang akhirnya mendorong HMJ-M Unswagati untuk menggaetnya menjadi pembicara.

“Ibu Sylviana sudah berpengalaman dan sangat paham, terutama dalam materi kepariwisataan, jadi kami kira ia cukup cocok untuk menjadi pemateri Kuliah Umum ini,” ujar Billy Nova Purnama selaku Ketua Pelaksana saat diwawancarai oleh setaranews.com di sela-sela acara.

Tujuan acara yang dihadiri oleh kurang lebih 180 orang ini bertujuan agar masyarakat bisa memperoleh wawasan yang lebih luas tentang pariwisata dan budaya. Mengingat apalagi Cirebon sedang gencar-gencarnya melakukan promosi terhadap sejumlah wisatanya.

“Kan kami mengambil tema tentang pariwisata dan budaya, sebagaimana kita tahu bahwa Cirebon dan Sewilayah III Cirebon mempunyai budaya dan pariwisata yang banyak. Jadi kami memberikan semacam edukasi tentang tema ini agar Cirebon lebih baik ke depannya.”

Lebih lanjut, Billy berharap setelah para peserta pulang dari acara ini, mereka bisa lebih mendukung pariwisata dan budaya Cirebon.

“Sekarang jaman sudah canggih, bisa pakai internet untuk mencari ilmu tentang pariwisata dan budaya, juga bisa sebagai ajang promosi wisata Cirebon ke dunia luar. Kalau bukan orang Cirebonnya sendiri yang mendukung, siapa lagi? Misalnya pergi ke Goa Sunyaragi, pergi ke Keraton Kasepuhan, atau pakai batik khas Cirebon.” Tutupnya.

Selain Sylviana, pemateri lainnya adalah Dr. Junaedi Noer, S.E., M.M yang juga menjadi Dosen Ekonomi di Unswagati serta penggiat budaya di Cirebon.

BEM-FT Unswagati Akan Gelar Dialog Strategis Tentang Cirebon Smart City

Tidak ada komentar

Senin, 20 November 2017

Cirebon, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) Unswagati akan adakan acara bertajuk Dialog Strategis Nasional yang akan dilaksanakan pada Rabu, 22 november 2017 ini bertempat di Aula Kampus Utama Unswagati.

Acara yang membahas tentang perkembangan teknologi yang digunakan untuk Smart City ini mengundang 4 (empat) pemateri sekaligus yaitu H. Fathur Rohman, ST.,MT. (Dekan Fakultas Teknik Unswagati), Gunawan, ATD,DEA (Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Cirebon), Iing Gunawan, S.IP., M.Si (Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Cirebon), dan Edi Suripno, S.Ip.,M.Si (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Cirebon).

Alasan pemilihan nama Dialog Strategis ini karena pemerintah diajak untuk berdialog dengan masyarakat dengan tujuan agar pemerintah bisa membaur dengan para peserta didukung dengan posisi tempat duduk berletter U agar terlihat lebih setara. Dengan mengusung tema “Optimalisasi Pembangunan Transportasi Yang Unggul Guna Menuju Cirebon Smart City” bertujuan untuk memberikan informasi bahwa Kota Cirebon adalah salah satu diantara 25 Kota perintis Smart City.

“Iyakan masyakat enggak tau kalo Cirebon sedang merintis Smart City, kaya e-tilang kan lagi dioperasikan akhir-akhir ini, terus sekarang tiap lampu merah ada CCTV, ternyata masyarakat enggak banyak yang tahu tentang itu,” ungkap Febri Rokhmadan, selaku Ketua Pelaksana.

Selama persiapan acara, panitia dihadapkan dengan beragai hambatan mulai dari follow up pemateri dan dana dari sponsor, karena panitia menggunakan dana independent dari sponsor. Alasannya tidak ingin menghabiskan anggaran Universitas dan agar panitia berani keluar untuk bisa berkembang.

“Setiap acara pasti memiliki hambatan, kaya follow pemateri itu lumayan susah karena selalu bentrok dengan jadwal kuliah panitia, follow up dana sponsor juga lumayan sulit, karena kita kan enggak pakai uang dari Univeristas, biar panitia bisa berkembang dan enggak mau ngabisin anggaran Universitas,” Tandasnya.

Diharapkan acara Dialog Strategis ini akan menjadi acara rutin BEM-FT karena sudah mendapatkan izin dan dukungan dari Dekan Fakultas Teknik bahkan pihak fakultas memberikan himbauan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Teknik untuk mengikuti acara ini.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews