BEM Unswagati Pamit lewat Festival Musik dan Budaya

Tidak ada komentar

Rabu, 29 November 2017

Unswagati, Setaranews.com – Penghujung tahun sudah di depan mata. Barisan lama menggantikan barisan baru. Begitupun kepengurusan BEM Unswagati yang segera berakhir. Mereka menamai kepengurusan 2016/2017 itu dengan nama Kabinet Andhakara. Maka dari itu, BEM-U menggelar acara bertajuk “BEM-U Pamit 2” dengan suguhan pagelaran Festival Musik dan Budaya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, pagi tadi di Aula Kampus Utama Unswagati, mereka menggelar seminar bertajuk “Pengenalan Seni dan Budaya Cirebon” yang disampaikan oleh Drs. Dana Kartiman selaku Kepala Dinas Disporbudpar Kota Cirebon. Sayangnya, Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan, PRA Arief Natadiningrat yang dijadwalkan turut mengisi materi tidak bisa hadir.

Suasana seminar cukup ramai dihadiri oleh kalangan mahasiswa dari berbagai Universitas di Cirebon seperti Untag dan UMC. Menurut Imam Wahyudin selaku Ketua Pelaksana, seminar ini seperti wadah untuk pengenalan budaya Cirebon.

“Seminar ini menjadi satu wadah mahasiswa atau pemuda untuk mengenal budayanya sendiri,” ujarnya pada Rabu (29/11) setelah acara berlangsung.

Kemudian acara tidak berhenti sampai disitu. Malamnya tepatnya pukul 18.30 WIB, masih di tempat yang sama, BEM-U akan menggelar malam puncak yang akan diisi dengan akustikan. Bintang tamu acara itu, tidak lain tidak bukan putra kandung Widji Thuku, aktivis 1998 yakni Fajar Merah.

“Kita kan berada di ruang lingkup kampus, Fajar Merah juga dikenal sebagai aktivis. Jadi, malam ini kita akan datangkan beliau,” tutupnya.

Opini: Isu Jam Malam dan Ruang Gerak Mahasiswa yang Menyempit

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Belum lama, sekitar dua pekan yang lalu pihak kampus Unswagati melakukan pemeriksaan terhadap sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi mahasiswa (ormawa) intra kampus, dengan maksud melakukan pengawasan bagi mahasiswa yang berkegiatan sampai larut malam bahkan menginap di kampus. Karena pemeriksaan tersebut, dalam lingkungan mahasiswa terjadi obrolan hangat yang isunya menjurus pada penertiban kegiatan kampus yang memberlakukan jam malam untuk kegiatan mahasiswa. Bagaimana jika jam malam di berlakukan, menuai pro dan kontra?

Jelas itu akan mengakibatkan konflik antara mahasiswa dengan pihak kampus jika memang jam malam di berlakukan, sebab kenapa, karena sejauh ini belum ada pendekatan yang intens dari pihak kampus untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan sesuai dengan kebutuhan suasana akademik di Unswagati. Terlebih lagi bagi UKM dan Ormawa yang frekuesnsi kegiatanya padat, tentunya akan sangat keberatan dengan hal tersebut.

Kira-kira apa alasan pihak kampus jika memberlakukan pembatasan kegiatan dengan adanya jam malam? Menurut penulis, jika memang itu benar, pihak kampus tentunya mempunyai alasan yang mendasar dan tidak asal-asalan. Dengan adanya jam malam kegiatan mahasiswa akan terkontrol dari batasan waktunya dimana setelah malam hari tidak ada resiko penyimpangan-penyimpangan yang di lakukan di dalam kampus, misalnya interaksi mahasiswa yang kurang produktif seperti kongkow games atau semacamnya. Dimana tidak bisa di pungkiri sekretariat organisasi mahasiswa tidak melulu di gunakan dalam kegiatan formal, tapi juga di pakai sebagai pusat interaksi dalam ruang dan waktu yang luas.

Lalu bagaimana jadinya jika itu di terapkan dalam waktu dekat dan dalam kondisi saat ini?

Jika isu jam malam berlaku, tentunya akan menuai konflik antara mahasiswa dengan kampus, karena hal tersebut kegiatan mahasiswa jadi tidak efektif dan akan menurunkan produktifitas organisasi mahasiswa dalam mengimplementasikan program kerjanya yang telah di rencanakan sebelum adanya jam malam. Disisi lain kegiatan mahasiswa juga menambah kredit poin untuk prestasi Unswagati di mata publik ataupun pemerintah.

Selain itu, sebagai mahasiswa dengan beban moralnya untuk menjadi bagian dari lingkungan, bagian dari politik, bagian dari rakyat, yang memiliki tanggung jawab moral untuk merasakan kondisi perkembangan sosial, sangat kiranya perlu ruang gerak yang leluasa untuk bisa berekspresi dan berkarya dalam tempat dan waktu yang lua. Jika di dalam kampus saja sudah di batasi tentunya hal tersebut akan berdampak pada mental dan karakter mahasiswa. Sedangkan di kampus atau di dalam organisasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan mahasiswa menuju insan yang berkarakter sesuai harapan pemerintah di dalam regulasinya.

Dalam berorganisasi mahasiswa menjadi terlatih dan berkembang, dengan adanya budaya literasi, diskusi dan perumusan sampai pemecahan masalah, melatih karakter mahasiswa secara alami sehingga memungkinkan bisa berbaur dan mengimplementasikan ilmunya di tengah persoalan rakyat.

Dari pembahasan tadi sedikitnya ada gambaran mengenai kondisi kampus saat berlakunya jam malam untuk tidak melakukan kegiatan di malam hari bagi mahasiswa Unswagati. Di berlakukan atau tidaknya jam malam selagi tidak membatasi ruang gerak mahasiswa untuk berekspresi dan berkarya, menurut penulis tidak masalah. Misalkan saat malam hari ada kegiatan di dalam kampus, sebaiknya ada solusi dari kampus untuk memfasilitasi tempat bagi Ormawa atau UKM agar tetap bisa menjalankan aktivitas organisasinya. Misalnya ada gedung khusus di dalam atau luar kampus khusus untuk kegiatan mahasiswa. Jika hal tersebut belum bisa terpenuhi maka sama saja pihak kampus sudah membunuh karakter generasi muda penerus bangsa, setelah reformasi 1998 harusnya mahasiswa lebih leluasa lagi untuk berdemokrasi dan melanjutkan cita-cita bangsa.

Jika tujuannya adalah penertiban, atau pengawasan organisasi mahasiswa intra kampus, maka pihak kampus harusnya melakukan pembinaan terhadap pembina-pembina organisasi mahasiswa untuk bersama-sama menciptakan suasana akademik di ruang-ruang mahasiswa yang semakin baik. Karena pada dasarnya pihak kampus juga terlibat dalam perkembangan organisasi mahasiswa untuk selalu lebih baik, sama sekali bukan menutup atau membatasi ruang gerak organisasinya. Karena sepengetahuan penulis, di Unswagati banyak organisasi mahasiswa yang tidak mendapat dukungan dari pihak kampus dalam bentuk pembinaan, yang jelas dalam struktur ada SK pembina di setiap Unit Kegiatan Mahasiswa.

Tingkatkan Jiwa Wirausaha Mahasiswa, BEM-Unswagati Gelar Seminar Enterpreneur

Tidak ada komentar
Unswagati, setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (BEM-Unswagati) Cirebon mengadakan Seminar Enterpreneur di Auditorium Kampus Utama Unswagati, Selasa (28/11). Acara yang mengusung tema "How To Be An Enterpreneur?" tersebut merupakan salah satu Program Kerja BEM Unswagati di Bidang Ekonomi.

Dalam seminar enterpreneur tersebut, BEM-Unswagati mengundang Coach Barlian Winarta dari Star Coach Indonesia sebagai pembicara Seminar.

"Kami undang dia karena dia belajar langsung dari coach Harvard dan dia juga sudah berpengalaman dalam bidang entrepreneur," ungkap Siska Wati Dewi, mahasiswa fakultas ekonomi yang juga Ketua Pelaksana Seminar Enterpreneur pada setaranews.com.

Seminar yang diikuti oleh kurang lebih 250 peserta yang berasal dari mahasiswa unswagati ini bertujuan agar mahasiswa dapat menambah wawasan mengenai cara berwirausaha dan memiliki sifat entrepreneur. "Dengan berkurangnya lapangan kerja, kita harus memiliki sifat enterpreneur agar tidak bergantung pada perusahaan, kita juga bisa membuka lapangan kerja buat orang lain," lanjut Siska.

Kemudian, Siska juga berharap setelah diadakannya seminar ini peserta dapat termotivasi untuk berwirausaha, "Disini mahasiswa berkesempatan menerima ilmu tentang enterpreneur, dengan apa yang sudah mereka dapat mereka tidak takut memulai usaha untuk kedepannya." tutupnya.

Pasca dilaksanakannya seminar enterpreneur, BEM-Unswagati juga membuka Konsultasi Wirausaha bagi mahasiswa yang berkeinginan untuk lebih memperdalam tentang enterpreneur. (Trusmiyanto/Reporter)

Manfaat Mengonsumsi Kacang Hijau bagi Kesehatan Tubuh

Tidak ada komentar

Selasa, 28 November 2017

Kesehatan, Setaranews.com – Kacang hijau merupakan salah satu tanaman kacang penting di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dulunya bangsa China menggunakan kacang hijau untuk obat-obatan, seperti menurunkan panas dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Di Indonesia, tanaman ini menempati urutan ketiga setelah kedelai dan kacang tanah, baik mengenai luas areal penanaman dan produksinya maupun peranannya sebagai bahan makanan.

Tanaman ini merupakan tanaman semusim berumur pendek, lebih kurang 65 hari biji kacang hijau mempunyai kandungan protein sebanyak 24,4%, lemak 1%, dan karbohidrat 64,6%. Selain itu menurut (Marzuki dan Soeprapto, 2007), tanaman ini mengandung vitamin B1, vitamin A dan C. Biji kacang hijau sebagian besar dikonsumsi untuk bahan makanan seperti tauge, sup, bubur, tepung, minuman dan tahu. Berikut sederet manfaat mengonsumsi kacang hijau:

1. Mengurangi risiko kanker

Kacang hijau termasuk jenis kacang yang memiliki senyawa untuk memerangi infeksi virus. Zat ini berfungsi untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker tertentu, termasuk sel yang memicu kanker payudara. Zat di dalam kacang hijau juga bermanfaat untuk mencegah terbentuknya sel tumor.

2. Mengobati anemia (kurang darah)

Kacang hijau kaya akan kandungan zat besi, yang sangat bermanfaat untuk para penderita kurang darah. Diantara jenis kacang-kacangan lainnya, kandungan zat besi pada kacang hijau paling tinggi.

3. Menurunkan berat badan

Kacang hijau disarankan dikonsumsi bagi orang yang ingin diet. Hal itu karena kandungan serat tinggi dan rendah lemak di dalam kacang hijau, sehingga kacang hijau dapat diandalkan untuk menurunkan berat badan. Selain itu tetap jangan lupa melakukan aktivitas olahraga secara teratur.

4. Menurunkan kolesterol

Kacang hijau baik dikonsumsi oleh mereka yang ber-kolesterol tinggi. Dimana makan kacang hijau secara teratur mampu menurunkan kadar kolesterol. Dengan kandungan kalori yang rendah dan memiliki kandungan lemak tak jenuh, sangat baik dikonsumsi untuk menjaga kadar kolesterol agar dalam batas normal.

5. Mengatasi diabetes

Kacang hijau memiliki indeks glikemik yang rendah, artinya bahwa kacang hijau sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes. Hal itu karena makanan yang memiliki kadar glikemik rendah mampu membuat kadar gula menurun (menjadi normal).

6. Mengurangi keluhan pasca menopause

Kacang hijau memiliki senyawa isoflavon, yang merupakan kelompok phytoestrogen, hal ini membuat kacang hijau memiliki sifat estrogenik alamiah. Konsumsi 90 mg phytoestrogen sehari bermanfaat untuk membantu perempuan yang sedang mengalami transisi menopause, guna mencegah osteoporosis, zat ini bekerja untuk merangsang pembentukan tulang.

7. Menjaga kesehatan jantung

Jantung adalah organ yang sangat vital. Untuk itu, sangat penting melakukan aktivitas olahraga untuk menjaga kesehatan jantung, selain itu yang juga sangat penting adalah mengonsumsi makanan yang baik untuk organ jantung salah satunya dengan kacang hijau. Kandungan serat yang terkandung di dalamnya berfungsi menyerap lemak, hal ini untuk mencegah timbulnya flak di dalam pembuluh darah. Dimana terbentuknya flak di pembuluh darah akan memicu resiko tinggi penyakit jantung dan stroke. (Sindi Lidiaulfah/Anggota Magang)

Pertamina vs Driver AMT, Siapa yang Menang?

Tidak ada komentar
Setaranews.com, Indepth Reporting – Siapa sangka, di Indonesia ternyata zombie bukanlah fiktif belaka. Keberadaan mereka nyata adanya, terlebih saat terjadinya Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) massal yang dilakukan oleh Pertamina. Tidak tanggung-tanggung, 1095 orang Awak Mobil Tangki (AMT) Pertamina mendadak menjadi zombie-zombie yang berkeliaran menuntut keadilan pasca PHK yang dilakukan secara sepihak. Padahal, rilis terakhir yang diterbitkan Kompas tertanggal 16 Maret 2017 Pertamina mendapatkan laba sebesar Rp 42 Triliyun rupiah. Sebuah tabiat buruk yang sering dilakukan perusahaan terhadap para pekerjanya.

Zombie yang dimaksud bukanlah seperti yang kita sering tonton di layar kaca, menyeramkan, berbau busuk, dan sering memburu manusia untuk dihisap darahnya kemudian berubah menjadi zombie. Perlu diketahui istilah Zombie ini ditujukan untuk AMT yang bekerja di Pertamina. Kenapa kemudian di sebut Zombie? Alasannya karena para pekerja tersebut tidak mengenal waktu dalam menjalankan tugasnya, karena mereka memakan waktu 12 jam per harinya menjadi pekerja, dan tanpa uang lembur. Mengerikan memang.

Para AMT tersebut benar-benar menjadi zombie yang haus akan darah setelah pengabdiannya selama bertahun-tahun – bahkan puluhan tahun – dibunuh oleh Pertamina dengan melakukan PHK massal. Seperti zombie yang sering muncul di layar kaca, AMT pun kuat berjalan hingga ratusan kilo meter pada saat menggelar aksi long march dari Bandung sampai Jakarta dengan menghabiskan waktu selama delapan hari. Perjalanan tersebut dilakukan lantaran hak-haknya sebagai pekerja – juga manusia – dibumi hanguskan. Tidak salah jika kemudian menyerbu Istana Negara untuk menuntut hak-haknya.

Kekesalan yang memuncak ini bukan tanpa sebab musabab, Nuratmo Setiawan, Koordinator AMT yang terkena PHK dengan raut sedih bercampur marah menjelaskan sederet persoalan. Diantaranya yaitu mereka bekerja dalam waktu panjang diluar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa hak cuti, jaminan kesehatan, upah rendah hingga PHK tanpa hak yang layak.

“Kami hanya ingin mengembalikan hidup selayaknya kita yang bisa beristirahat, bersenda gurau bersama keluarga setelah kerja panjang. Kami hanya ingin bekerja dengan upah yang bisa membiayai perkembangan diri dan keluarganya. Mereka hanya perlu diperlakukan layak oleh perusahaan, seperti perlakuan yang bisa meningkatkan harkat martabat layaknya seorang manusia,” ujarnya kepada setaranews.com, Senin (27/11).

Mewakili kenistaan yang dialami oleh teman-teman seperjuangan di AMT, Nuratmo menuturkan, tidak sedikit dari para AMT telah bekerja selama belasan tahun tersebut bersama perusahaan BUMN di bidang Minyak dan Gas (MIGAS) tersebut. Pertamina, menurutnya sejak November melakukan PHK secara bertahap terhadap AMT di beberapa wilayah diantaranya Lampung, Merak, Jakarta, Padalarang, Tasik, Ujung berung, Tegal, Surabaya, Banyuwangi dan Makasar.

“Karena kekejaman Pertamina membuat 8000 jiwa keluarga kami terancam. Padahal kami sudah bekerja lebih dari 12 jam sehari membawa BBM yang mudah terbakar, resiko tinggi hingga nyawa kami yang dipertaruhkan jika terjadi kecelakaan. Siang malam kami mengabdi tanpa upah lembur, kami yang sudah berusia lanjut tidak mendapatkan uang pensium,” pungkasnya.

Para AMT terus melakukan perlawanan atas kesewenang-wenangan tersebut, Pria yang menjadi Jubir ini mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Pertamina telah melanggar UU No 13 tahun 2013 yang mewajibkan AMT sebagai buruh tetap. Pertamina juga melanggar peraturan lainnya yaitu, Rekomendasi DPR Komisi IX pada 22 Oktober 2013 yang berisi menghapus sistem outsourching atau divendorkan, melanggar SK Dirjen Migas No 725 bahwa AMT adalah pekerja inti.

“Tidak hanya para suami, istri-istri dari AMT yang bernasib sama pun ikut berjuang bersama. Kami menuntut Pertamina membatalkan PHK, hapus sistem Outsourching, berlakukan 8 jam kerja, bayarkan iuran BPJS, dan bayarkan pesangon terhadap para pensiunan, dan berikan kami hak cuti tahunan,” tukasnya.

Sementara itu, Pertamina mengklaim bahwa pihaknya tidak melakukan PHK secara ilegal. Seperti yang dilansir dari laman detik.com, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Rudy Permana menegaskan, sebanyak 141 AMT yang di PHK itu bukan merupakan pegawainya. Melainkan pekerja yang disedikan oleh 6 mitra perusahaan pemborong pekerja pengangkut.

“Jadi kami luruskan, mereka bukan pegawai kami. Mereka itu para pekerja yang disediakan oleh perusahaan pemborong. Kami sudah menyerahkan sepenuhnya pengangkutan BBM kepada mereka," kata Rudi.

Seleksi dan evaluasi itu meliputi tingkat kehadiran kerja, kinerja yang sesuai target, tidak adanya tindakan indisipliner pekerja, dalam usia produktif, kondisi fisik sehat hingga lulus psikotes yang dilakukan lembaga psikologi.

"Nah, kami mendengar dari para vendor itu, mereka yang di PHK tidak memenuhi beberapa syarat itu. Jadi bukan kami yang memutuskan, tetapi vendor," ungkap dia.

Rudy memastikan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di seluruh wilayah operasional tetap terjamin walaupun terjadi mogok kerja awak mobil tangki (AMT). Pasalnya, pihaknya sudah meminta vendor menggantikan para AMT yang mogok.

[caption id="attachment_15538" align="aligncenter" width="212"] Infografis www.setaranews.com tentang Pertamina vs Driver[/caption]

Berbagai Kecaman Terhadap Pertamina

Walaupun aksi demonstrasi dan ancaman mogok massal telah diupayakan para zombie AMT yang juga tidak turut ditanggapi dengan serius oleh Pemerintah, tidak membuat buruh angkut tersebut putus asa. Jerih payahnya mencari keadilan untuk mendapatkan hak-haknya mendapat dukungan dari elemen masyarakat biasa, mahasiswa, politis, hingga parlemen.

Sorotan tajam datang dari anggota DPR RI fraksi PDIP – Parta yang sedang berkuasa – Rike Diah Pitaloka dalam beberapa kesempatan mengecam tindakan Pertamina terhadap AMT. Ia menjelaskan Suku Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Sudinakertrans ) Jakarta Utara telah menerbitkan Nota Pemeriksaan pada tanggal 26 september 2016 nomor : 4750/-1.838 dan 5 Mei 2017 nomor 1943/-1.838. Surat ini menyatakan bahwa status hubungan kerja Awak Mobil Tanki (AMT) beralih menjadi pegawai tetap PT Pertamina Patra Niaga dan meminta agar hak normatif dipenuhi tetapi tidak dijalankan.

"PT Pertamina Patra Niaga untuk mematuhi Peraturan Perundang-Undangan Ketenagakerjaan dengan menjalankan seluruh Nota Pengawasan Sudin Jakarta Utara," kata Rieke seperti yang dikutip di lama tribunnews.com

Kejadian tersebut mendorong adanya ancaman dari para buruh untuk melakukan mogok massal yang bisa berdampak pada terhambatnya saluran distribusi MIGAS. Ketua Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), Ilhamsyah, membenarkan bahwa para awak mobil tangki (AMT) Pertamina akan melakukan aksi mogok kerja pada 19-24 Juni mendatang. Ilhamsyah mengklaim aksi tersebut akan dilakukan secara serentak di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dilakukannya aksi itu dipicu oleh pemecatan sejumlah AMT yang dilakukan anak perusahaan Pertamina, yakni PT Pertamina Patra Niaga.

“Seperti di (depo) Plumpang, ada 353 PHK, sementara di (depo) Merak juga ada 14 PHK. Di Surabaya, ada yang pekerjanya kini tengah diberikan masa percobaan padahal sudah 11 tahun bekerja,” kata Ilhamsyah seperti yang dikutip dari laman Tirto.id

Puluhan awak mobil tanki (AMT) Pertamina berjalan kaki 159 kilometer dari Bandung menuju Istana Negara Jakarta. Aksi dilakukan untuk menolak PHK ilegal terhadap lebih dari 1000 pekerja berstatus alih daya. Sebelumnya sekitar 300 AMT diberhentikan karena dianggap tidak lulus seleksi sebagai karyawan tetap usai bertahun-tahun bekerja.

Sementara itu, Wakil Koordinator lapangan Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia-Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (FBTPI-KPBI), Asep Maulana Idris, penolakan PHK ilegal itu dikarenakan informasinya diterima pekerja AMT Pertamina melalui pesan singkat telepon seluler (SMS) dan surat melalui Kantor Pos oleh anak perusahaan Pertamina tersebut.

"Makanya ini kawan-kawan sekarang mau mengadakan aksi longmarch sebagai bentuk perlawanan kami, naikin eskalasi perlawanannya gitu. Longmarch ini bertema gugat negara selamatkan BUMN. Kenapa harus gugat negara ini, negaralah yang harus bertanggung jawab ketidakadilan di lingkungan BUMN terlebih semua perusahaan di bawah BUMN ini semuanya outsourching," kata Asep Maulana Idris di depan Kantor Pertamina UPMS III, Jalan Wirayudha, Bandung.

Tidak hanya dari kalangan parlemen dan buruh saja, mahasiwa yang berada di wilayah Indonesia pun turut mengutuk tindakan Pertamina tersebut. Muhamad Ikbal, mahasiwa Universitas Andalas Sumatra Barat, mengatakan bahwa mahasiswa pun akan menggelar aksi solidaritas di beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia.

“Kami beserta kawan-kawan akan membuat gerakan perlawanan dengan mengumpulkan 5000 petisi untuk turut serta mendesak Pemerintah, khususnya Pertamina agar memberikan hak-hak serta menjamin nilai Keadilan tetap berdiri tegak di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya.

“Sejauh ini belum ada tanggapan yang memberikan angin segar terhadap teman-teman buruh AMT. Kami akan menggelar aksi solidaritas. Saya sangat berharap agar mahasiswa juga turut memberikan dukungan moril. Kejahatan kemanusian tidak boleh dibiarkan berdiri tegak di Indonesia, karena bisa menggerogoti sendi-sendi yang sudah diamanatkan oleh konstitusi,” ujarnya.

Lipsus oleh Epri Fahmi Aziz

Resensi Film: Dirampok, Diperkosa dan Membunuh untuk Membela Diri ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’

Tidak ada komentar

Sabtu, 25 November 2017

Judul Film : Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)

Sutradara : Mouly Surya

Penulis Naskah : Mouly Surya, Garin Nugroho, Rama Adi

Produser : Fauzan Zidni dan Rama Adi

Pemeran : Marsha Timothy (sebagai Marlina), Egi Fedly (sebagai Markus), Dea Panendra (sebagai Novi) dan Yoga
Pratama (Franz)

Tanggal Rilis : 16 November 2017 (Indonesia)

Resentator : Fiqih Dwi Hidayah

Resensi Film, Setaranews.comMarlina bukanlah pembunuh biasa. Ia terpaksa membunuh untuk mempertahankan diri dari para perampok yang menjarah rumah, harta serta harga dirinya sebagai wanita.

Kematian putra dan suaminya membuat Marlina tampil menjadi wanita yang tegar namun sangar. Ia harus berternak dan menjalani kehidupan seorang diri di puncak perbukitan sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Lewat film ini Mouly Surya sang sutradara telah melahirkan sebuah genre baru dalam perfilman Indonesia yang disebut-sebut sebagai satay western. Julukan satay western sendiri diberikan oleh Maggie Lee seorang kritikus film luar negeri dalam laman bernama Variety.

Ini seperti antitesa dari genre spaghetti western di Italia dan lebih mengacu pada suatu nama Negara dimana film ala western dibuat yakni dengan setting padang sabana dan terdapat satu tokoh jagoan yang bertahan hidup.

Film ini dibuka dengan pemandangan lebar perbukitan sabana yang dipadu dengan sentuhan musik etnis yang apik. Babak demi babak pun lekas dimulai. Diceritakan oleh Marlina dengan ritme yang tragis.

Pertama tatkala seorang lelaki tua yang mengendarai motor melintasi terjalnya jalanan perbukitan menuju rumah Marlina. Ia adalah Markus, perampok yang mempelopori kawanan perampok lainnya untuk datang ke rumah Marlina.

Disinilah terungkap bahwa Marlina baru kehilangan suaminya. Suaminya itu menjadi mumi disudut rumahnya karena ia tidak mempunyai biaya untuk pemakaman.

Para perampok itu mengangkut binatang ternak milik Marlina dan berniat memperkosanya. Ia merasa ketakutan sehingga memutuskan untuk membunuh mereka. Markus dipenggal kepalanya oleh Marlina tatkala ia diperkosa oleh lelaki tua itu.

Sesuai judul, film ini dibagi menjadi empat babak. Selebihnya alur film ini bercerita tentang perjalanan Marlina menuju Kantor Polisi dalam rangka mencari keadilan. Ia pun dengan berani menenteng kepala Markus yang penuh darah menuju Kantor Polisi. Dalam perjalanannya itu ia dibantu oleh kawannya Novi yang tengah hamil 9 bulan.

Ada percakapan menarik antara Novi dan Marlina di pinggir jalanan perbukitan. Novi bilang Marlina tidak usah ke Kantor Polisi yang ada nanti ia yang disalahkan, lalu Novi mengajak Marlina ke Gereja untuk mengakui dosanya, tapi Marlina tidak mau sebab ia merasa tidak berdosa.

Tentu Marlina menganggap apa yang dilakukannya semata-mata untuk melindungi dirinya. Bayangkan, jika Marlina tidak membunuh para perampok itu, ia bisa saja diperkosa secara bergilir hingga tewas, bukan?

Film ini menyisipkan kritik sosial yang cerdas. Terlihat saat Marlina hendak ke Kantor Polisi ia harus menunggu truk berjam-jam. Bahkan saat ia tidak dapat truk Marlina harus naik kuda. Sesampainya Marlina di Kantor Polisi pun aparat tidak bisa diandalkan menyelesaikan kasusnya. Prosesnya memakan waktu hingga berbulan-bulan karena minimnya fasilitas. Ini menjadi gambaran suram kondisi Indonesia di pedalaman.

Tampaknya film ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ ini secara tidak langsung menggambarkan wanita Sumba yang kuat dan berani. Buktinya kandungan Novi baik-baik saja meski ia didorong berulang-ulang.

Film ini menjadi agak creepy tatkala sosok Markus tanpa kepala sembari memainkan alat musik khas Sumba beberapa kali menghantui Marlina. Tapi kesan creepy itu ditutupi dengan alur cerita yang kuat.

Akting Marsha Timothy dan Dea Panendra pun patut diacungi jempol apalagi tatkala memainkan ekspresi wajah. Itu membuat penonton bergejolak dan tenggelam dalam peran yang mereka jalani. Tak ayal film ini mendapatkan apresiasi lebih di berbagai festival film luar negeri seperti Cannes, Toronto dan yang terbaru di Polandia.

Film ini juga sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia sejak tanggal 16 November 2017. Pastikan kalian sudah cukup umur untuk menonton film ini ya, karena banyak adegan yang hanya pantas ditonton oleh usia 17 tahun ke atas!

Iing Daiman Ajak Masyarakat Cirebon Dukung Konsep Smart City

Tidak ada komentar

Kamis, 23 November 2017

Unswagati, Setaranews.com - Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon sekaligus Ketua Team Pelaksana Smart City yakni Iing Daiman, S.IP., M.Si., menjadi salah satu pembicara dalam acara Dialog Strategis yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) di Auditorium Kampus Utama Unswagati pada Rabu (22/11/2017).

Acara yang membahas tentang perkembangan teknologi yang digunakan untuk Smart City ini sekaligus memberikan infomasi kepada masyarakat bahwa Cirebon adalah salah satu dari 25 kota perintis Smart City.

Kabar mengenai Smart City ini baru di launching oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada 2-3 Mei 2017 yang lalu. Kota Cirebon mengikuti audisi seleksi Smart City oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) masuk ke dalam tahap awal audisi seleksi Smart City yaitu 100 besar perintis kota pintar dari 500 kota di Indonesia yang kemudian dikerucutkan menjadi 25 kota.

Diseleksi dari segi kesiapan infrastruktur menghantarkan Kota Cirebon ke dalam lingkaran 25 kota perintis Smart City yang bersanding dengan Kota Jambi, Kab. Pelalawan, Kab. Siak, Kab. Banyuasin, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kab. Purwakarta, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Sleman, Kota Semarang, Kab. Banyuwangi, Kab. Bojonegoro, Kab. Gresik, Kab. Sidoarjo, Kab. Badung, Kota Singkawang, Kab. Kutai Kartanegara, Kota Samarinda, Kota Makassar, Kota Tomohon, dan Kab. Mimika.

Tanggal 22-23 Mei 2017 yang lalu, diadakan Memorandum Of Understanding (MoU) antara Walikota Cirebon dengan Kemenkominfo dan setelah itu ada pembinaan pendampingan penyusunan master plan.

“Sebenarnya ruh Smart City Di Cirebon itu sudah dilaksanakan dari tahun 2009/2010 dengan mengadakan program Cirebon wadulbae. Cirebon telah memiliki embrio untuk jadi Smart City," ungkap Iing Daiman saat ditemui oleh setaranews.com.

Upaya pertama yang dilakukan untuk menunjang Smart City ini dimulai dari pendekatan ke berbagai lini masyarakat melalui pendekatan teknologi di berbagai daerah. “Kita mulai dari pendekatan teknologi dari berbagai daerah dulu contoh pembuatan akta lahir jadi dalam waktu 14 hari kita pangkas menjadi 2 hari dengan sentuhan dari teknologi tersebut, selain itu juga pendaftaran, pelayanan dan administrasi lainnya juga melalui teknologi," katanya.

Kelemahan Kota Cirebon sebagai Smart City ini yaitu hanya memiliki lahan kurang lebih 37 km persegi. Selain sempit, banyak kawasan di kota yang memiliki otoritas sendiri. Pemerintah akan melakukan kerjasama dengan pemilik otoritas dan dalam rencana tim pelaksana Smart City akan melakukan reklamasi laut di pelabuhan.

"Pada dasarnya konsep kota pintar mengelola kota dengan cerdas, masyarakat memberi reaksi positif karena berkaitan dengan pelayanan, keamanan maka masyarakat mendukung. Pengelolaan kota yang seefisiensi mungkin, semurah mungkin dan menyejahterakan masyarakat," jelas Iing.

Iing juga mengucapkan banyak terimakasih kepada mahasiswa dan karena telah memberikan peluang untuk dapat menyebarluaskan informasi Cirebon Smart City. Ia mengajak untuk bersama-sama medukung Smart City untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat di Kota Cirebon, bersinergi untuk mendukung Smart City dalam tupoksinya masing-masing, sebagai birokrasi, mahasiswa dan masyarakat Kota Cirebon.

HMJ-M Unswagati Gaet Sylviana Murni Jadi Pembicara Kuliah Umum

Tidak ada komentar

Rabu, 22 November 2017

Unswagati, Setaranews.com – Pernah dengar nama Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si? Saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 silam sosoknya sering muncul di televisi. Ia tampil sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Calon Gubernur DKI Jakarta bernomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono.

Dalam kesempatan kali ini Himpunan Mahasiswa Jurusuan Manajemen (HMJ-M) Unswagati berhasil menghadirkan ia sebagai pembicara dalam Kuliah Umum bertajuk “Pengembangan Pariwisata dan Budaya Dalam Peningkatan Ekonomi Nasional” yang diadakan pada Selasa (21/11) di Aula Kampus Utama Unswagati.

Wanita berhijab yang sering disapa Mpok Sylvi ini rupanya pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta tahun 2015-2016. Hal tersebut pula yang akhirnya mendorong HMJ-M Unswagati untuk menggaetnya menjadi pembicara.

“Ibu Sylviana sudah berpengalaman dan sangat paham, terutama dalam materi kepariwisataan, jadi kami kira ia cukup cocok untuk menjadi pemateri Kuliah Umum ini,” ujar Billy Nova Purnama selaku Ketua Pelaksana saat diwawancarai oleh setaranews.com di sela-sela acara.

Tujuan acara yang dihadiri oleh kurang lebih 180 orang ini bertujuan agar masyarakat bisa memperoleh wawasan yang lebih luas tentang pariwisata dan budaya. Mengingat apalagi Cirebon sedang gencar-gencarnya melakukan promosi terhadap sejumlah wisatanya.

“Kan kami mengambil tema tentang pariwisata dan budaya, sebagaimana kita tahu bahwa Cirebon dan Sewilayah III Cirebon mempunyai budaya dan pariwisata yang banyak. Jadi kami memberikan semacam edukasi tentang tema ini agar Cirebon lebih baik ke depannya.”

Lebih lanjut, Billy berharap setelah para peserta pulang dari acara ini, mereka bisa lebih mendukung pariwisata dan budaya Cirebon.

“Sekarang jaman sudah canggih, bisa pakai internet untuk mencari ilmu tentang pariwisata dan budaya, juga bisa sebagai ajang promosi wisata Cirebon ke dunia luar. Kalau bukan orang Cirebonnya sendiri yang mendukung, siapa lagi? Misalnya pergi ke Goa Sunyaragi, pergi ke Keraton Kasepuhan, atau pakai batik khas Cirebon.” Tutupnya.

Selain Sylviana, pemateri lainnya adalah Dr. Junaedi Noer, S.E., M.M yang juga menjadi Dosen Ekonomi di Unswagati serta penggiat budaya di Cirebon.

BEM-FT Unswagati Akan Gelar Dialog Strategis Tentang Cirebon Smart City

Tidak ada komentar

Senin, 20 November 2017

Cirebon, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) Unswagati akan adakan acara bertajuk Dialog Strategis Nasional yang akan dilaksanakan pada Rabu, 22 november 2017 ini bertempat di Aula Kampus Utama Unswagati.

Acara yang membahas tentang perkembangan teknologi yang digunakan untuk Smart City ini mengundang 4 (empat) pemateri sekaligus yaitu H. Fathur Rohman, ST.,MT. (Dekan Fakultas Teknik Unswagati), Gunawan, ATD,DEA (Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Cirebon), Iing Gunawan, S.IP., M.Si (Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Cirebon), dan Edi Suripno, S.Ip.,M.Si (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Cirebon).

Alasan pemilihan nama Dialog Strategis ini karena pemerintah diajak untuk berdialog dengan masyarakat dengan tujuan agar pemerintah bisa membaur dengan para peserta didukung dengan posisi tempat duduk berletter U agar terlihat lebih setara. Dengan mengusung tema “Optimalisasi Pembangunan Transportasi Yang Unggul Guna Menuju Cirebon Smart City” bertujuan untuk memberikan informasi bahwa Kota Cirebon adalah salah satu diantara 25 Kota perintis Smart City.

“Iyakan masyakat enggak tau kalo Cirebon sedang merintis Smart City, kaya e-tilang kan lagi dioperasikan akhir-akhir ini, terus sekarang tiap lampu merah ada CCTV, ternyata masyarakat enggak banyak yang tahu tentang itu,” ungkap Febri Rokhmadan, selaku Ketua Pelaksana.

Selama persiapan acara, panitia dihadapkan dengan beragai hambatan mulai dari follow up pemateri dan dana dari sponsor, karena panitia menggunakan dana independent dari sponsor. Alasannya tidak ingin menghabiskan anggaran Universitas dan agar panitia berani keluar untuk bisa berkembang.

“Setiap acara pasti memiliki hambatan, kaya follow pemateri itu lumayan susah karena selalu bentrok dengan jadwal kuliah panitia, follow up dana sponsor juga lumayan sulit, karena kita kan enggak pakai uang dari Univeristas, biar panitia bisa berkembang dan enggak mau ngabisin anggaran Universitas,” Tandasnya.

Diharapkan acara Dialog Strategis ini akan menjadi acara rutin BEM-FT karena sudah mendapatkan izin dan dukungan dari Dekan Fakultas Teknik bahkan pihak fakultas memberikan himbauan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Teknik untuk mengikuti acara ini.

KPK Resmikan Setya Novanto Sebagai Tahanan Kasus E-KTP

Tidak ada komentar

Sabtu, 18 November 2017

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menetapkan Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golar, Setya Novanto sebagai tahanan dalam kasus pembuatan KTP Elektronik (E-KTP) saat sedang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo karena kecelakaan.

Nasional, Setaranews.com - Tepat pada Jumat (17/11) malam, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah resmi menetapkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Setya Novanto sebagai tahanan pada kasus tindak pidana korupsi KTP Elektronik (E-KTP).

Penetatapan tersebut ditegaskan oleh Juru Bicara (Jubir) KPK, Febri Diansyah pada saat konfrensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, "KPK melakukan penahanan terhadap Setya Novanto karena KPK telah mengantongi bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatannya dalam kasus tersebut." tegasnya.

Namun pada saat penetapannya, Ketua Umum Partai Golkar tersebut sedang berada dalam kondisi sakit dan harus menjalani pemeriksaan medis di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCMK), sehingga KPK melakukan penangguhan penahanan selama 20 hari, terhitung mulai tanggal 17 November - 6 Desember 2017 yang kemudian akan dibawa ke rumah tahanan Negara kelas satu Jakarta Timur cabang KPK. "Tersangka Setya Novanto masih membutuhkan perawatan medis lebih lanjut di RSCMK."ungkap Jubir KPK tersebut, Jumat (17/11).

Sebelum dilarikan ke RSCM, Tersangka yang berinisial SN tersebut dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau karena mengalami kecelakaan sebelumnya pada Kamis (16/11), kisaran pukul 18:35 WIB dengan status penyidikan terhadap kasus tindak pidana korupsi E-KTP, keterangan tersebut diungkapkan oleh Jubir KPK, Febri Diansyah. Disisi lain Pengacara SN, Frederich Yunadi dan keluarga menolak untuk menandatangani berita acara terkait penahanan SN.

“Berita acara tersebut akhirnya ditandatangani oleh dua orang saksi dari pihak Rumah Sakit Permata Hijau dan diserahkan satu rangkap kepada istri SN, Destri Astriani ,”tutur Febry.

Pengacara tersangka SN, Fredich Yunadi menduga SN menderita gegar otak yang diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas yang dialaminya. "Novanto mengalami luka di bagian kepala dan langsung dibawa ke ruang VIP Lantai III, Nomor 323. Rumah Sakit Permata Hijau. Bahkan  menurutnya Novanto mengalami gegar otak,"ketusnya, menjelaskan.

KPK menetapkan Setya Novanto pertama kali sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi E-KTP pada 17 Juli 2017. Ketua DPR-RI tersebut diklaim telah ikut serta dalam barisan penerimaan aliran dana pada kasus korupsi pengadaan E-KTP tahun 2011-2012 dan ikut merugikan negara dengan nilai nominal Rp 2,3 Triliun. Kemudian Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Golkar itu telah melanggar pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 UU 31/99 sebagaimana diubah UU 20/01 Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Namun pada 29 September 2017 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membatalkan penetapan tersangka SN melalui sidang praperadilan. Lalu akhirnya SN ditetapkan kembali menjadi tersangka kasus korupsi E-KTP pada Jumat (17/11) Pasca Tersangka SN berhasil memenangkan gugatan praperadilan pada 29 September 2017 lalu.

Penetapannya sebagai tersangka kali ini merupakan keputusan yang di keluarkan KPK yang kedua kali nya setelah tersangka SN berkali-kali mengabaikan panggilan KPK sebelumnya.

Dikutip melalui tirto.id.

Gempa Bumi Di Korsel Tidak Timbulkan Dampak Pada Reaktor Nuklir

Tidak ada komentar
Internasional, Seoul, Setaranews.com - Gempa berkekuatan 5,5 skala Richter telah mengguncang pantai tenggara Korea Selatan (Korsel). Akibatnya, sejumlah bangunan retak dan mengalami kerusakan.

Getaran dahsyat terdeteksi di dekat Pohang di Provinsi Gyeongsang Utara pada hari Rabu (15/11/2017) siang pukul 14:29 waktu setempat.
"Gempa tersebut melanda enam kilometer dari Pohang dan mengirim guncangan ke daerah-daerah terdekat termasuk kota pelabuhan tenggara Busan," kata Administrasi Meteorologi Korea mengatakan kepada Herald Korea yang dinukil Daily Mail.

Badan tersebut kemudian melaporkan gempa kedua, dengan skala 5,4, juga dilaporkan sekitar sembilan kilometer dari Pohang.
Asosiasi cuaca kemudian mengirim peringatan gempa melalui jaringan mobile yang meminta beberapa penduduk setempat di daerah yang terkena dampak untuk segera dievakuasi.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Wolseong yang berjarak sekira 35 kilometer dari Pohang tidak melaporkan adanya kerusakan pada enam reaktor nuklirnya yang bekerja.

Dikutip dari (okezone.com dan sindonews.com)

Ultah Ke-33, Himaptika Adakan Gebyar Matematika Se-Jabar

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Dalam rangka merayakan hari jadi yang ke-33, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika (Himaptika) mengadakan acara Gebyar Matematika. Tidak tanggung-tanggung acara ini digelar se-Jawa Barat. Acara yang mengusung tema “Raih Peluang Prestasi dengan Frekuensi Potensi dalam Kombinasi Kompetisi” ini diisi dengan beberapa rangkaian kegiatan perlombaan yang berkaitan erat dengan Matematika.

Ada tiga perlombaan yang di selenggarakan, ialah lomba OMA (Olimpiade Matematika) peserta dari mulai SD, SMP, SMA/SMK sederajat, mahasiswa dengan biaya pendaftaran sebesar Rp.65.000. Lomba kedua ialah LCTM (Lomba Cerdas Tangkas Matematika) peserta dari mulai SD, SMP, hingga SMA/SMK dengan biaya pendaftaran sebesar Rp.115.000. Lomba ketiga yaitu LKTIM (Lomba Karya Tulis Ilmiah Matematika) peserta dibuka untuk umum, dimana setiap peserta terdiri atas 1 tim dengan jumlah anggota 2-3 orang, biaya pendaftaran sebesar Rp.150.000 sekaligus pengiriman fullpaper. Namun untuk pengiriman abstrak gratis, dan pendaftarannya pun sudah di buka oleh pihak panitia sejak tanggal 9 November 2017.

Proses pendaftaran bisa melalui pendaftaran langsung ke sekretariat HIMAPTIKA di Kampus 2 Unswagati, juga bisa melalui pendaftaran online pada website yang sudah ditentukan. Perlombaan OMA (Olimpiade Matematika) dan LCTM (Lomba Cerdas Tangkas Matematika) ini dibuka pendaftarannya mulai dari tanggal 20 November s.d 18 Januari 2018. Ini Beberapa wilayah yang akan mengikuti beberapa perlombaan dalam acara ini ialah sebagai berikut:

1. Rayon Cirebon (Kota/Kab. Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka)
2. Rayon Subang ( Subang, Karawang, Purwakarta, Bekasi, Depok)
3. Rayon Bandung ( Bandung, Cimahi, Sumedang, Cianjur, Sukabumi, Bogor)
4. Rayon Ciamis ( Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Banjar).

Rencananya final acara ini akan berlangsung pada 31 Januari 2018 mendatang.

“Adapun respon dari para peserta ataupun dari masyarakat terhadap acara ini, selama ini sih baik soalnya banyak juga peserta yang antusias untuk mengikuti acara ini, baik yang jaraknya dekat atau yang jauh pun tetap semangat untuk ikut dalam beberapa perlombaan yang kami selenggarakan.” Tutup Rizki salah satu panitia Gebyar Matematika saat ditemui setaranews.com, Jumat (10/11). (Riska Aulia)

Gandeng Produk Kecantikan BEM-U Sukses Gelar Beauty Career Talk

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Unswagati (BEM-U) mengadakan acara seminar Beauty Career Talk bekerjasama dengan salah satu brand kecantikan, Pixy pada Jumat (17/11) di Aula Kampus Utama Unswagati.

Acara tersebut merupakan edukasi pengetahuan tentang cara menghadapi dunia pekerjaaan, baik secara penampilan, mengasa bakat dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi dunia pekerjaan. Acara ini mendapatkan antusias dari peserta mahasiswi dengan mencapai 230 peserta.

Rohyan Abdul Aziz sebagai Ketua Pelaksana menjelaskan bahwa acara ini menjadi agenda Program Kerja BEM-U yang diharapakan akan tetap terus terselenggara dan menjadi agenda rutin.

"Saya harap sih acara ini jadi program kerja rutin karena penting untuk menjadi bekal di dunia kerja dan kita bisa gandeng sponsor lainnya untuk suport untuk acara ini,” Ungkapnya.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yaitu tempat acara yang di design sedemikian rupa bertemakan warna pink muda lengkap dengan alat make-up di setiap meja peserta untuk langsung dipraktekkan PENGGUNAAN make-up yang baik dan benar.

Agenda ini menjadi perhatian bagi para peserta yang sangat antusias untuk belajar memoles diri terutama kecantikan wajah, “Acara ini menarik banget selain tambah wawasan bisa langsung praktek cara make up juga dan jadi namabah banyak temen.” Tutup Devi Ariyanti Lestari salah satu peserta seminar.

Elektabilitas Menurun Drastis, Akbar Tandjung Minta Ganti Pucuk Pimpinan Golkar

Tidak ada komentar

Rabu, 15 November 2017

Nasional, Setaranews.com - Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golongan Karya (Golkar) Akbar Tanjdung merasa perihatin akan keadaan partai nya yang semakin mengikis dan terancam gagal pada Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 mendatang. Hal tersebut dipicu karena pandangan publik terhadap tren negatif yang menimpa Ketua Umum Golkar Setya Novanto sebagai tersangka pada kasus korupsi E-KTP.

Akbar mengungkapkan hal tersebut dapat memperburuk kondisi partai, karena menurutnya (Akbar Tanjdung) sosok seorang pemimpin memiliki peran yang sangat penting atas keberhasilan yang diperoleh partai, "apabila pada kaca mata publik pemimpinnya tidak competeble, tentunya hal ini akan memunculkan tren negatif terhadap Golkar sendiri", ungkapnya, Selasa (14/11) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Lebih lanjut, akbar merasa khawatir dengan elektabilitas golkar yang kian mengalami penurunan yaitu 7 persen dan dapat diperkirakan akan menurun hingga dibawah 4 persen, yang artinya golkar tidak akan mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 2019 mendatang. Padahal meninjau tren kejayaan golkar dimulai dari masa orde baru selalu memiliki wakil legislatif hingga mencapai angka elektabilitas sebesar 60 persen.

"Bayangkan saja jikalau suara pemilih nya tidak mencapai target, maka dapat dipastikan golkar tidak memiliki kursi satu pun di legislatif,"pungkasnya.

Berdasarkan hal tersebut, Akbar menginginkan untuk menggati posisi Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar, karena menurutnya pergantian posisi pucuk pimpinan partai merupakan satu - satunya solusi untuk kembali memperbaiki citra partai dimata publik, "Karena elektabilitas golkar tengah menurun dan untuk menyelamatkan partai, maka pergantian Ketua Umum dianggap tepat". Katanya.

Berita dikutip melalui tempo.co dan tribunnews.com

 

Umat Kristen China Gantikan Gambar Yesus Dengan Gambar Xi Jinping

Tidak ada komentar
Internasional, Beijing, China, Setaranews.com - Presiden China, Xi Jinping mendesak ribuan orang kristen yang berada di sebuah daerah miskin di China untuk mengganti gambar Yesus Kristus menjadi gambar nya (Xi Jinping). Pergantian gambar yesus tersebut tampak jelas terlihat dipinggiran daerah Poyang, Yugan, Provinsi Jiangx. Dimana Daerah tersebut merupakan kawasan kristen terbesar di China.

Hal tersebut sengaja dilakukan oleh pemerintah setempat guna untuk merubah kepercayaan terhadap agama menjadi kelompok yang memiliki kepercayaan penuh terhadap partai komunis.

Ketua Kongres Rakyat Huangjinbu, Qi Yan, mengungkap kan bahwasanya fokus China dibawah kepemerintahan Xi Jinping untuk memberantas kemiskinan yang dialami para keluarga kristen di Yugan.

”Banyak rumah tangga terjerumus ke dalam kemiskinan karena sakit. Beberapa orang terpaksa mempercayai Yesus untuk menyembuhkan penyakit mereka, tapi kami coba katakan kepada mereka bahwa sakit merupakan hal fisik dan orang yang benar-benar dapat membantu mereka adalah Partai Komunis dan Sekretaris Jenderal Xi (Jinping),” ungkapnya, dikutip melalui sindonews.com, Selasa (14/11).

Lebih lanjut, Qi Yan menegaskan bahwasannya tuhan bukanlah penyelamat bagi mereka yang mengalami kemiskinan."Mereka sangat bodoh dan tudak tahu apa-apa. Mereka pikir Tuhan adalah penyelamat mereka. Setelah kader kami bekerja, mereka akan menyadari kesalahan dari apa yang mereka percayai sebelumnya, kita seharusnya tidak lagi bergantung pada Yesus, tapi kita harus bergantung pada Partai (Komunis) untuk meminta bantuan,” lanjutnya, dikutip melalui sindonews.com, Selasa (14/11).

Akhirnya seluruh simbol yang melambangkan agama (Kristen) seperti gambar Yesus Kristus, Patung Salib, dan Cakram injil terpaksan harus disinggkrikan oleh warga sekitar dan menggantinya dengan gambar Presiden China, Xi Jinping karena jika tidak menuruti apa yang telah di perintahkan maka tidak akan mendapat kuota dari prorgram bantuan penanggulangan kemiskinan.

Dikutip dari sindonews.com.

 

 

Martha C. Tiahahu Mati Muda Lawan Penjajah

Tidak ada komentar

Minggu, 12 November 2017

Nasional, Setaranews.com – Pernah mendengar nama Martha Christina Tiahahu? Penggemar sejarah mungkin tak asing kala mendengar nama itu. Ya, dia yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Soeharto berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969 per tanggal 20 Mei 1969. Tepatnya setelah satu setengah abad lamanya terhitung sejak tahun kematiannya pada 1818 silam diusia yang masih sangat muda.

Lahir di Desa Abubu, Nusalaut, Maluku pada 4 Januari 1800 merupakan putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku. Berkat didikan sang Ayah, ia tumbuh menjadi perempuan tangguh, pemberani dan keras kepala. Perempuan dengan ciri khas berikat kepala merah ini menjadi pejuang di garis depan melawan pemerintah kolonial Belanda di Maluku.

Sepak Terjang Martha Christina Tiahahu

Tindak tanduk Martha melawan kolonial dimulai ketika ia berusia 17 tahun. Kala itu, ia bersama dengan ayahnya dan juga Kapten Pattimura beserta pasukan Maluku berhasil memukul mundur kolonial di Pulau Saparua yang dikuasainya.

Perlawanan di Pulau Saparua tepatnya di Desa Ouw-Ullath, Martha turut angkat senjata melawan kolonial. Selain itu pun, ia menjadi “influencer” dalam memberikan semangat kepada pasukan Maluku, terlebih pada kaum perempuan lainnya agar turut mendampingi kaum laki-laki.

Berkobarnya semangat yang diberikan oleh Martha, lantas tak serta merta memenangkan pertempuran di Saparua. Pertempuran yang terus menerus tak ayal membuat persediaan persenjataan pasukan Maluku kian menipis, jatuhnya korban pun tak dapat dihindari di kedua belah pihak. Richemont, salah satu pimpinan perang kolonial harus terenggut nyawanya pada pertempuran tersebut.

Melihat kondisi menguntungkan tersebut, pada tanggal 12 Oktober 1817 Vermaulen Kringer memberi komando untuk menyerang secara habis-habisan pasukan Maluku beserta Martha yang terlibat di dalamnya. Alhasil, kolonial berhasil ‘menjinakan’ perlawanan pasukan Maluku dan menangkapnya, termasuk Martha dan ayahnya. Martha dibebaskan karena masih sangat muda. Sementara ayahnya dijatuhi hukuman mati oleh kolonial.

Kematian sang Perempuan Berikat Kepala

Pada bulan Desember 1817,  Martha beserta 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa ke Pulau Jawa menggunakan Kapal Eversten untuk menjadi pekerja paksa di perkebunan kopi.

Dalam perjalanannya ke Pulau Jawa, Martha menolak untuk makan dan menerima pengobatan yang diberikan. Imbasnya, kondisi kesehatan Martha kian hari kian memburuk. Dua hari menjelang usianya yang ke 18 tahun, ia mengehembuskan nafas terkahirnya pada 2 Januari 1818. Jenazahnya dikebumikan di Laut Banda.

Itulah Martha Christina Tiahahu, perempuan dengan ikat kepala merahnya yang berjuang melawan kolonial Belanda. Kini, rakyat Maluku dapat mengenang semangat juang Martha lewat monumennya. Dalam monumennya tertulis “Martha C. Tijahahu, mutiara Nusa Laut (Pulau), Pahlawan Nasional RI, yang berjuang untuk mengusir penjajah Belanda dari Maluku, jatuh pada Januari 2, 1818”.

Mahasiswa Cirebon: Hilangnya Patriotisme Aparat Penegak Hukum

Tidak ada komentar

Sabtu, 11 November 2017

Cirebon, Setaranews.com – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) Cirebon melakukan aksi refkleksi Hari Pahlawan yang dimulai dari depan Kampus Utama Unswagati menuju kantor Kejaksaan Negeri Cirebon.

Aksi tersebut dilakukan karena Gemsos Cirebon menilai aparatur penegak hukum telah kehilangan jiwa patriotnya dalam menegakan hukum, terlebih menyangkut persoalan publik seperti korupsi dan represifitas aparat.

Tessa Nur Maulana, Jubir dalam aksi tersebut mengatakan aparat sudah kehilangan keberanian dalam menegakkan hukum. Ia juga menilai pada kasus DAK 96 M aparat penegak hukum sampai saat ini belum ada kejelasan.

"Aparat penegak hukum sudah lemah syahwat, kehilangan keberanian untuk membela kepentingan rakyat," ungkap Tessa Nur Maulana, yang juga mahasiswa FISIP Unswagati, Jumat (10/11/2017).

Selain itu, dalam aksinya Gemsos Cirebon menuntut kepada penegak hukum dalam tiga tuntuan yakni, pertama usut tuntas kasus-kasus korupsi di Kota Cirebon. Kedua, usut aparatur yang bertindak arogan dan represif terhadap mahasiswa. Ketiga, patriotisme sebagai jenderal dan penegakan hukum sebagai panglimanya.

Opini: Mahasiswa yang Kehilangan Semangat Kepahlawanan

Tidak ada komentar

Jumat, 10 November 2017

Opini, Setaranews.com - Momentum 10 November memiliki makna berarti bagi Bangsa Indonesia. Tanggal itu adalah waktu dimana babak peristiwa bersejarah dimulai. Tepatnya tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Sebuah pertempuran sengit antara rakyat Surabaya melawan Sekutu dan kroni-kroninya sedang digelar. Pertempuran yang mengorbankan beribu nyawa terutama dari rakyat Surabaya yang digempur dari darat, laut, dan udara, merupakan peristiwa besar yang terjadi di negri ini. Nyawa yang melayang, jiwa yang hilang, adalah bukti kegigihan rakyat Surabaya berjuang mempertahankan Kemerdekaan RI dari rong-rongan penjajah. Sebuah prestasi yang sungguh tak mampu digantikan dengan apapun. Hanya untaian doa yang mampu kita haturkan bagi para pejuang.

Itulah peristiwa 10 November 1945 yang saat ini kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Kali ini peringatan Hari Pahlawan kembali menyapa Rakyat Indonesia terutama para generasi penerus bangsa. Hari Pahlawan adalah sebuah momentum reflektif bagi para generasi penerus bangsa untuk kembali memikirkan Bangsa Indonesia. Para generasi penerus bangsa yang selama ini disibukkan dengan berbagai hal ditegur kembali dengan sapaan hangat dari para pahlawan kusuma bangsa lewat momentum Hari Pahlawan ini. Itulah sesungguhnya makna yang hendak disampaikan oleh Hari Pahlawan. Hanya saja kita tak mampu menangkap makna-makna itu. Kita telah lama terkurung oleh budaya materialisme, hedonisme, pragmatisme, bahkan egoisme. Sehingga celah kesadaran kita semakin tertutup. Kita hanya memikirkan hal-hal yang serba material-fisikal saja. Jabatan, kedudukan, uang, harta, dan segala sesuatu yang mendatangkan kesenangan diri, itulah yang menjadi fokus dan perhatian kita.

Mahasiswa sebagai salah satu tonggak penerus bangsapun, tidak luput dari pertanyaan di momentum Hari Pahlawan ini. Siapakah mahasiswa? Kalimat itu sudah tidak lagi asing ditelinga kita bahkan kata mahasiswa diumpamakan sebagai sosok yang diagungkan oleh beberapa orang, sebab mahasiswa digambarkan sebagai sosok pemuda yang berintelektul, kritis dan berani. Namun akhir-akhir ini muncul banyak pertanyaan masikah mahasiswa memiliki sosok tersebut di tengah kehidupan mahasiswa yang syarat akan hedonisme, pragmatisme, bahkan cenderung egoisme?

Mahasiswa saat ini seakan sedang mengalami amnesia atau lupa ingatan siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan tulang punggung pembangunan bangsa untuk menuju perubahan yang lebih baik dan memerdekakan bangsa selayaknya bangsa yang sudah merdeka. Mahasiswa merupakan lokomotif penggerak utama perubahan bangsa, sejarah mencatat kemerdekaan bangsa Indonesia tidak luput dari peran kaum muda dan mahasiswa, runtuhnya kekuasaan orde baru tahun 1998 adalah buah dari semangat pergerakan pemuda dan mahasiswa. Namun pola pikir seperti ini terkadang menjadi sebuah pola pikir yang asing dibenak mahasiswa jaman sekarang bahkan mereka lebih memilih berada pada posisi aman karena mereka takut dirinya akan menuai kesengsaraan dan kemiskinan apabila mereka sibuk memikirkan hal seperti ini.

Diri kita saat ini memang betul-betul diambang ke-chaos-an. Berbagai problematika bangsa dari kemiskinan, anak-anak terlantar, pengangguran, korupsi, aksi penggusuran, serta berbagai problematika lain, sungguh semakin meresahkan bangsa. Tetapi kita masih sibuk membangun kemewahan dan kejayaan diri (self glory). Kita semakin lalai akan kepentingan rakyat, namun semakin sibuk dengan kepentingan diri sendiri. Rakyat semakin semrawud karena semakin banyaknya problematika kehidupan, mereka semakin sesak dengan zaman sekarang yang tidak memberikan kenyamanan. Sementara para perwakilan rakyat sedang sibuk mempersoalkan gaji, kepentingan politik, jabatan yang tak kunjung naik, sibuk membagi hasil sisa proyek, dan korupsi yang ditutup-tutupi, kemanakah kalian wahai, Mahasiswa?

Kita patut bersyukur dan bangga jika dapat menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa dan gelar sarjana, doktor, profesor bahkan guru besar sekalipun, karena hanya 4,3 juta orang atau sekitar 5% dari jumlah penduduk Indonesia yang bisa merasakan pendidikan tinggi. Hal ini semakin diperkeruh dengan fenomena lembaga pendidikan yang menjelma menjadi pasar. Tawar menawar dengan para dosen untuk mendapatkan nilai yang tinggi menjadi budaya dan tradisi, menjadi pertanda bahwa pendidikan hanya untuk berburu gelar. Berbagai cara dilakukan bahkan menjadi penjilat pun menjadi salah satu cara. Wajar saja kalo output yang dihasilkan mahasiswa bukan orang-orang yang memiliki mental intelektual tetapi mental orang-orang serakah. Lunturnya idealisme mahasiswa dan hilangnya budaya-budaya ilmiah seperti diskusi, membaca, mengkaji dan menulis menjadikan pergerakan mahasiswa hari ini sedang mati suri.

Sebagai kaum intelektual mahasiswa harus menjadi kelompok sosial (collective sosial) yang berperan aktif, menjadi problem solving di tengah himpitan dan problematika sosial yang begitu kompleks. Ia harus berdiri paling depan, mempropogandakan tatanan sosial yang bebas dari najis dan pemerkosaan hak-hak rakyat. Menendang jauh-jauh bentuk pembodohaan yang semakin canggih dengan wajah baru!

Jejak Mukarto Sang Rektor Baru di Unswagati

Tidak ada komentar

Kamis, 09 November 2017

Profil, Setaranews.com – Pria berusia 52 tahun ini bernama lengkap Mukarto Siswoyo. Lahir di Desa Budur, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Ia besar pula di tanah Cirebon.

Sekonyong-konyong pada penghujung tahun 2017 ini namanya tercantum sebagai Rektor baru salah satu universitas swasta kenamaan di Cirebon. Kampus yang identik dengan cat warna birunya yang digadang-gadang segera dinegerikan, yakni Universitas Swadaya Gunung Jati.

Beberapa waktu lalu tepat di penghujung bulan Oktober, ia secara aklamasi terpilih sebagai Rektor baru. Kala itu setelah usai Sidang Senat Terbuka dengan agenda khusus Pemilihan Rektor. Sebagian hadirin mengambil hidangan yang disuguhkan. Sementara Mukarto masih berdiri meladeni ucapan selamat segelintir orang. Tatkala dimintai waktu untuk diwawancara, tanpa pikir panjang ia langsung menyetujui. Sembari duduk Mukarto berkisah tentang riwayat hidupnya.

Setelah bermukim di Unswagati selama 14 tahun, kini Mukarto mencapai puncak tertinggi jabatan dalam ranah universitas. Namanya menjadi perbincangan kalangan mahasiswa yang mengenalnya.

Agaknya pria yang lahir pada 6 Juli 1965 ini sudah sejak dahulu merantau untuk memperoleh pendidikan. Katakanlah Mukarto kecil mengenyam bangku Sekolah Dasar di kampung halamannya. Setelah beranjak remaja ia mencoba mandiri dengan singgah ke Majalengka merasakan Sekolah Menengah Pertama di tanah yang masyarakatnya dominan berbahasa Sunda.

Setelah usai ia kembali bergerak mendekati kampung halamannya untuk menghabiskan masa Sekolah Menengah Atas di Palimanan. Lantas jiwa mudanya sebagai mahasiswa dihabiskan di Bandung dan Jakarta. Gelar Sarjana dan Doktornya diraih di Universitas Pasundan. Sementara gelar Magisternya diraih di Universitas Indonesia.

Perawakannya tidak terlalu tinggi dengan kulit kuning langsat, khas Indonesia. Ternyata, Mukarto muda telah menggeluti profesi Dosen. Ia berkecimpung di ranah ilmu sosial. Pria berkumis ini sebelum pindah mengajar ke FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) Unswagati pada tahun 2003 pernah menjadi Dosen di STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) Bandung sejak tahun 1989. STKS adalah sebuah sekolah tinggi dibawah naungan Kementerian Sosial.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya di Unswagati. Pada tahun 2005, pengalamannya membawa Mukarto menjadi Sekertaris Jurusan Ilmu Komunikasi.  Setelah dua tahun, ia langsung berganti jabatan menjadi Kabag Kerjasama Universitas. Jabatan itu hanya ia pegang selama satu tahun.

Kemudian pada tahun 2009-2010, Mukarto menjadi Sekertaris Kepala Biro Kerjasama. Jabatannya terus meningkat, ia didapuk menjadi Wakil Dekan I FISIP pada tahun 2011-2012, lalu Kepala Badan Penjamin Mutu pada tahun 2014-2015 dan menjadi Dekan FISIP pada Agustus 2015 hingga sekarang. Lantas yang terbaru ia akan mengemban tugas sebagai Rektor Unswagati menggantikan Rochanda Wiradhinata. Jabatan Rektor akan dijalaninya terhitung sejak tahun 2018-2022.

Wajar apabila namanya tidak asing di kalangan mahasiswa FISIP ya? Sekarang namanya akan tidak asing di kalangan mahasiswa umum Unswagati. Selamat bekerja, Pak Rektor!


 Infografis kursi jabatan yang pernah diduduki Mukarto Siswoyo selama di Unswagati

FKIP Bahasa Inggris Unswagati Gelar Konferensi Internasional Pertama di Kota Cirebon

Tidak ada komentar

Rabu, 08 November 2017

Cirebon, Setaranews.com - Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Swadaya Gunung Jati adakan acara The 1st International Conference on Linguistics and English Teaching (ICLET) pada Selasa, 7 November 2017 yang bertempat di hotel Luxton and Convention Cirebon. Acara ini merupakan Konferensi Internasional pertama di kota Cirebon.

Kegiatan ICLET 2017 mengangkat tema Empowering Language Educators and Practitioners to Confront The 21st Century Challenges. Acara ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan di awali sambutan-sambutan dari Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd, Ketua Asia CALL Prof. Andrew Lian dan terakhir oleh Rektor Unswagati Prof. Dr. H. Rochanda Wiradinata., M.Pd.

ICLET 2017 ini menghadirkan para ahli di bidang pendidikan bahasa Inggris dari Prof. Dr. Endang Fauzianti (Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo ), Dr. Azlina Abdul Aziz (Universiti Kebangsaan Malaysia), Prof. Dr. Andrew Lian (Asia CALL Thailand), Paulus Kuswandono, Ph.D. (Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta), Prof. Fuad Abdul Hamied, Ph.D. (ASIA TEFL), TEFLIN Indonesia dan Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung), Dr. Ania Lian (Charles Darwin University) dan APBSI (Assosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Seluruh Indonesia).

Para peserta dan presenter sebanyak 360 orang berasal dari berbagai universitas dan sekolah dari penjuru tanah air, serta perwakilan dari negara tetangga, Malaysia dan Australia. Mereka berbagi pengalaman, penelitian, dan hasil pemikiran inovatif yang dapat bermanfaat pada peningkatan profesionalisme pendidik dan pembuat kebijakan (sebagai masukan/ rekomendasi).

Pada kesempatan ini juga, telah dilaksanakan penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) antara Unswagati dengan asosiasi TEFLIN dan Asia CALL guna peningkatan kualitas pengajaran Bahasa Inggris yang berbasis Teknologi Informasi (Computer-Assisted Language Learning), penelitian, dan penyelenggaraan international coference. "Insyaallah international conference ini akan menjadi anggeda rutin tiap 2 tahun sekali yang nantinya di pegang oleh mahasiswa, mulai dari panitianya pokoknya pure acara dari mahasiswa," tegas Nurani Hartini selaku Ketua Pelaksana acara tersebut.

Kegiatan yang bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Djati, pihak universitas, FKIP, dan prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu para pendidik dan praktisi pendidikan serta sebagai bukti Bhakti Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selain itu juga acara yang dipandu oleh Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Ratna Andika S.Pd.M.Hum mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, seperti Wonderful Indonesia, Indocement, Language Center FKIP, Lembaga Bahasa Unswagati, Vinotel, BRI, BJB, Apotek Pemuda Farma, Batik Trusmi, Batik Paksi Naga Liman, Diana Education, Hanamahira, Rajjas Batik, dan Funwatches.

Resensi Film: 'Hujan Bulan Juni' Suguhkan Keindahan Kata-Kata dan Latar

Tidak ada komentar

Senin, 06 November 2017

Judul Film    :    Hujan Bulan Juni

Sutradara    :    Reni Nurcahyo dan Hestu Saputro

Penulis Naskah    :    Titien Wattimena

Produser    :    Chand Parwez Servia dan Avesina Soebli

Pemeran    :    Velove Vexia (sebagai Pingkan), Adipati Dolken (sebagai Sarwono)

Tanggal Rilis    :    2 November 2017

Produksi    :    Sinema Imaji dan Starvision

Resentator      :    Fiqih Dwi Hidayah

“Aku musafir yang sedang mencari air, kamu sungai yang melata dibawah padang pasir.”
–Sarwono pada Pingkan–


Resensi Film, Setaranews.com - Novel Hujan Bulan Juni disajikan ke dalam bentuk film dengan plot yang cukup ringan. Tidak tertinggal dihujani puisi-puisi romantis ala sang penulis novel kawakan, Sapardi Djoko Damono. Sebelum merambah layar lebar, kepopularan Hujan Bulan Juni sudah terlebih dahulu hadir dalam bentuk musikalisasi puisi, lagu dan komik.

Film tersebut disutradarai oleh Reni Nurcahyo dan Hestu Saputro dengan latar yang indah di Manado dan Jepang. Jika ditelisik dari segi tema tidak banyak yang menarik. Sarwono hanyalah seorang pria yang merasa gelisah akan ditinggal Pingkan, sang pujaan hati yang tidak pernah lepas darinya, untuk belajar ke Jepang selama 2 tahun.

Pingkan adalah dosen muda Sastra Jepang sementara Sarwono adalah dosen Antropologi. Mereka mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono digambarkan sebagai pria dewasa yang senang memberikan Pingkan puisi-puisi romantis. Sementara Pingkan digambarkan sebagai wanita ceria dengan senyum manis yang memikat Sarwono dan beberapa pria lainnya.

Sebelum keberangkatan Pingkan ke Negeri sakura itu, Sarwono memintanya untuk menemani dalam tugas presentasi kerjasama ke Universitas Sam Ratulangi, Manado. Sementara, Manado sendiri adalah tanah kelahiran ayah Pingkan yang telah lama meninggal. Disanalah Sarwono bertemu keluarga besar Pingkan, dan mulai dipojokkan karena ia orang Solo, bukan Manado.

Penonton memang disuguhkan konflik perbedaan suku dan agama antara Sarwono dan Pingkan, tapi sejatinya kisah ini mengalir pada sepasang kekasih yang saling mencintai dengan sederhana, dan saling menghargai perbedaan. Bahkan keduanya melakukan perjalanan menyenangkan ke pelosok-pelosok indah Manado seperti pantai, sungai dan bangunan bersejarah. Sembari Sarwono menjadikan Pingkan inspirasi puisi-puisi yang lahir dari jemari-jemarinya.

Kemudian, dengan berat hati Pingkan berangkat ke Jepang. Selama di Jepang, ia ditemani oleh pria di masa lalunya, Katsuo. Pingkan menyaksikan bunga sakura yang selama ini ingin dilihatnya bermekaran, seiring kebimbangannya diantara dua pilihan Sarwono ataukah Katsuo.

Pingkan diperankan oleh Velove Vexia, ia berhasil menyampaikan rasa dari puisi-puisi Sarwono dengan cukup apik. Sayangnya, Sarwono yang diperankan oleh Adipati Dolken terdengar kaku tatkala bernarasi membacakan puisi-puisinya sendiri, sehingga rasa yang ingin disampaikan kurang menyentuh penonton. Tapi untuk pembawaan karakter Sarwono, ia boleh juga.

Kemudian yang menjadi kebingungan amat mencolok adalah terkait setting waktu dalam film. Dalam novel, setting waktu diambil pada era yang terbilang modern yang otomatis disesuaikan pada penggambaran suasana dan tokoh. Sementara dalam film ada semacam kesaruan, beberapa adegan yang menampilkan pakaian, latar, hingga suasana seolah-olah digambarkan agak Indonesia tempo dahulu. Entah ini ketidaksengajaan atau kesengajaan, rupanya film ini ingin mempunyai dunianya sendiri.

Tapi yang jelas, dalam film, kalian tidak menemukan ending yang sama seperti di novel. Apapun itu, film yang sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 2 November 2017 ini, agaknya cocok ditonton dengan orang-orang terkasih, ya?

Futsal Cup: Menejemen Berhasil Bekuk Teknik Sipil

Tidak ada komentar

Kamis, 02 November 2017

Cirebon, Setaranews.com – Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Fakultas Teknik Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon telah melaksanakan kompetisi futsal untuk SLTA sederajat dan antar Fakultas se-Unswagati, pada 30-31 0ktober 2017 di Gedung Olahraga Bima Kota Cirebon. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangkaian acara Civil Festival HMS-FT 2017 yang di isi dengan lomba-lomba seperti Seminar, Auto Cad, Fotografi, Futsal Cup, dan di tutup dengan malam puncak acara pagelaran seni musik.

Dalam kompetisi futsal antar fakultas se-Unswagati itu di ikuti oleh enam tim yakni fakultas Ekonomi(FE), Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Teknik (FT), yang masing-masing mengirimkan dua tim,dan dimenangkan oleh prodi manajemen dari Fakultas Ekonomi setelah mengalahkan Prodi Teknik Sipil dari Fakultas Teknik dengan skor 7-2.

“Acara ini bertemakan Membangun Mental, Menjungjung Tinggi Sportifitas dalam Bermain. Pemenangnya akan mendapatkan uang pembinaan, trofi dan sertifikat pada malam puncak nanti. Selain itu juga, kami mengadakan suporter terbaik untuk tingkat SLTA, dan top skor untuk semua tingkat kompetisi. Semuanya akan di sampaikan pada malam puncak nanti.” Menurut Sulistio selaku penanggung jawab kegiatan, (31/10).

Salman, capten tim manajemen yang berhasil membawa timnya juara mengatakan “ ini menjadi pertandingan terakhir untuk saya, karena sekarang sudah tingkat empat, taun kamarin kami hanya bisa menjadi runner-up, alhamdulillah tapi sekarang bisa menjadi juara.” Saat di wawancara setelah usainya pertandingan.

Di level lain, acara kompetisi futsal ini untuk  Futsal Cup tingkat SLTA sewilayah tiga Cirebon di menangkan oleh SMK Negeri 1 Cirebon, setelah mengalahkan SMA Negeri 1 Kandanghaur dengan skor 5-2. Dari 26 Tim yang mengikuti kompetisi.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews