Responsive Ad Slot

Jokowi Tutup Pagelaran Festival Keraton Nusantara KE-XI

Tidak ada komentar

Selasa, 19 September 2017

Cirebon, Setaranews.com - Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-XI resmi ditutup oleh Presiden Joko Widodo di Taman Goa Sunyaragi Cirebon pada Senin 18 September 2017 yang dihadiri Raja dan Sultan dari seluruh keratin yang menghadiri acara FKN XI di Cirebon.

Dengan menggunakan pakaian Adat Jawa, Presiden Jokowi hadir dengan didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Agung Budi Maryoto.

Dalam sambutannya Presiden Joko Widodo mengajak para raja se-Nusantara untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. “Saya titip kepada para raja dan permaisuri serta pemangku adat keraton untuk bersama-sama menggalang persatuan, menjaga kerukunan serta memperkuat NKRI yang kita cintai," ungkapnya.

Jokowi menegaskan bahwa Indonesia memiliki jejak peradaban kerajaan yang luar biasa. Sejarah mencatat kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang berhasil membangun kekuasaan dan kekuatan maritimnya yang sangat disegani pada waktu itu.

“Sejarah mencatat bukti kebesaran Kerajaan Majapahit yang mempersatukan Nusantara. Begitu pula kebesaran kerajaan Samudera Pasai, Demak, Mataram, Maluku dan Kerajaan lainnya,” tegas Jokowi

Jokowi juga mengajak Raja-raja se-Nusantara untuk menjaga kekayaan budaya yang dimiliki oleh kita (Indonesia ) sebagai kekuatan untuk meraih kemajuan dalam menghadapi persaingan global yang sangat sengit.

“Saya berharap FKN ini bukan hanya semata-mata untuk menyemarakan ajang pariwisata daerah atau mengapresiasi kekayaan Keraton se-Nusantara. Tetapi juga digunakan untuk mengukuhkan kontribusi keraton-keraton terhadap kemajuan zaman," kata Jokowi. (Syahru)

RPD: 5 Pilar Sebagai Identitas Manusia Berkebudayaan

Tidak ada komentar
Cirebon, Unswagati, Setaranews.com - Pada Acara Orasi Kebudayaan Bersama Radhar Panca Dahana (RPD) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (LPM Setara) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon terdapat beberapa hal penting yang disampaikan oleh RPD saat mengisi acara tersebut, salah satunya yaitu soal moralitas generasi muda, Menurutnya (RPD-red) generasi muda telah menjadi korban kebrutalan zaman.

"Persoalan yang paling fatal adalah generasi muda yang menjadi korban kebrutalan zaman. Dimana karakter dan pola pikirnya dibodohkan oleh rutinitas pendidikan formal dengan kurikulum yang bobrok, hal tersebut sesuai dengan kepentingan pihak-pihak yang tidak menginginkan bangsa Indonesia cerdas dengan kekayaan budayanya, serta Bangsa Indonesia telah diseragamkan melalui dunia visual dan gawai," ucapnya saat mengisi Orsai Kebudayaan, Senin (18/09/2-17) di Auditorium Kampus Utama Unswagati Cirebon.

Lebih lanjut RPD menyampaikan, menurutnya di zaman globalisasi dan liberalisasi saat ini, bangsa Indonesia harus memperkuat karakter kebudayaan yang telah digambarkan melaui Bhineka Tunggal Ika, serta menerangkan makna kebudayaan genuine bangsa Indonesia yang mulai terkikis dan bergeser oleh hegemoni kepentingan lain yang tidak menghendaki bangsa Indonesia mengenal jati dirinya.

Budaya menurut pemahamannya (RPD-red) adalah suatu usaha manusia untuk mempertahankan hidup dari sub-spesies homo-erectus atau homo-sapien, bagaimana manusia modern dapat berlangsung hidupnya,  itu menjadi awal kebudayaan, menyadari dirinya sebagai pemimpin, atau mahkluk superior yang merasa berhak atas semesta ini.

Kemudia Ia juga menyampaikan lima pilar yang menurutnya sebagai level penting yang harus disadari bangsa Indonesia, sehingga bisa mengidentifikasi siapa dirinya sebagai manusia yang berkebudayaan.

"Pertama yaitu Nilai, itu merupakan pencapaian paling bawah dari kebudayaan, dimana setiap orang bisa punya nilainya sendiri-sendiri, yang paling membuktikan bahwa nilai itu level paling rendah dari kebudayaan adalah pencapaian tertinggi dari teknologi, komputasi, dan informasi namanya Media Sosial (Medsos). Seluruh otoritas yang selama ini dimuliakan, kita agungkan sehingga menjadi acuan, itu rontok di Media Sosial," ujarnya.

"Selanjutnya yaitu Norma, yang dimaksudkan disini adalah kebenaran komunal yang diakui oleh banyak orang, nilai yang menjadi kebenaran sekuistik atau sektarian. Hal ini tergambarkan dalam masa purba primitif, yang dalam kehidupan sehari-hari bangsa indonesia, dimana suatu golongan saling menuding dan menghakimi golongan lainnya, dan merasa paling benar. Itu menunjukan posisi kita dalam konteks kebudayaan," lanjutnya.

Yang ketiga menurut RPD adalah Moral, merupakan kebenaran kolektif yang sifatnya Universal. Dimana kondisi ini digambarkan oleh seorang yang bermoral yang menjalankan kehidupannya dengan baik dan benar menurut ukuran semua orang, bukan atas ukuran kelompoknya sendiri, apalagi atas ukuran dirinya sendiri.

"Ketika moralitas tersebut menjadi acuan, tatanan, aturan, ilmu pengetahuan yang menjadi filsafat, maka selanjutnya menjadi Etika yang merupakan inti atau ruh dari kebudayaan, dimana moralitas akan terjaga. Dan etika ini di atasnya law (hukum) karena etika akan tetap ada sepanjang masa," katanya.

Lebih lanjut, RPD menjelaskan tingkatan yang lebih tingginya lagi yaitu Estetika, dimana kapasitas seseorang, suatu bangsa, dan suatu kaum dalam menghargai, memahami, mengapresiasi karya atau ekspresi orang lain. (Mumu Sobar Mukhlis).

LPM Setara Unswagati Datangkan RPD Pada Orasi Kebudayaan

Tidak ada komentar
Unswagati, SetaraNews.com - Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (LPM Setara) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon menyelenggarakan Orasi Kebudayaan bersama Radhar Panca Dahana (RPD), seorang penulis sekaligus budayawan senior Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan di Auditorium Kampus Utama Unswagati pada Senin 18 September 2017 dan dibuka oleh Prof. Dr. H. Rochanda Wiradinata, MP selaku Rektor Unswagati Cirebon.

Acara tersebut dihadiri oleh kisaran 100 peserta, dengan rincian 50 peserta berasal dari komunitas yang berada di Cirebon dan 50 peserta yang berasal dari kalangan umum. Acara tersebut (Orasi Kebudayaan) bertujuan untuk memaknai lebih dalam kebudayaan Indonesia, hal tersebut disampaikan oleh Felisa Dwi Pujianti, Ketua Pelaksana Orasi Kebudayaan,"Maksud diselenggarakan acara ini yaitu untuk mengenalkan kebudayaan, dan membangun kesadaran,  serta maknai kebudayaan  bangsa Indonesia sendiri, sehingga kita sebagai bangsa Indonesia lebih bangga memelihara budaya kita. Selain itu, bagi para generasi muda bangsa mampu menemukan jati dirinya sendiri melalui kebudayaan, karena jati diri suatu bangsa itu dilihat dari kebudayaan bangsa itu sendiri," katanya saat menyampaika sambutandalam acara Orasi Kebudayaan, Senin (18/09/2017).

Lebih lanjut, Felisa juga menjelaskan bahwasanya Orasi Budaya bersama RPD mengalami perubahan waktu dalam pelaksanaannya, "Sebelumnya kami rencanakan acara ini pada pukul 13:00 WIB, tapi karena terdapat suatu hal yang mengharuskan acara ini dimulai pukul 09:30 WIB, akhirnya peserta banyak yang berhalangan hadir pada acara ini," lanjutnya.

Kemudian disisi lain, Agung Drajat, salah satu peserta Orasi Kebudayaan memberikan tanggapan positif pada acara tersebut,"Melalui acara ini dapat menambah wawasan terkait apa itu budaya dan apa sebenarnya makna kebudayaan itu sendiri. Lalu kita sebagai orang daerah, harus percaya diri untuk membangun bangsa Ini," ungkapnya saat ditemui setaranews.com selepas acara. (Mumu Sobar Mukhlis).

Wiranto Hadir di Pembekalan Musyawarah Raja dan Sultan FKN XI

Tidak ada komentar

Senin, 18 September 2017

Cirebon, Setaranews.com - Festival Keraton Nusantara (FKN) XI di Kota Cirebon telah memasuki hari kedua dengan agenda pembekalan Musyawarah Raja dan Sultan di Pagelaran Terbuka Keraton Kasepuhan yang dihadiri oleh Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Hak Asasi Manusia (MENKOPOLHUKAM), Wiranto.

Ia yang dijadwalkan mengisi pada siang hari datang langsung dari Jakarta ke Cirebon. Kedatangan Wiranto tersebut disambut meriah oleh peserta musyawarah.

Kedatangan Wiranto sebagai bentuk dukungannya pada acara FKN. Karena menurutnya keraton se-Nusantara menjadi cikal bakal adanya Indonesia. "Kedatangan saya sebagai bentuk dukungan untuk acara Festival Keraton Nusantara, sebagaimana yang kita tahu bahwa keraton se-Nusantara menjadi cikal bakal adanya Indonesia." ungkapnya dalam pembukaan sebelum mengisi materi, Minggu (17/9).

Kemudian, dalam materinya, Wiranto juga mengajak keraton se-Nusantara untuk turut bersama-sama menghimbau masyarakat tentang pentingnya menjaga stabilitas persatuan bangsa. "Keraton-keraton ini bisa turut serta menyadarkan masyarakat tentang pentingnya stabilitas persatuan bangsa. Yang perlu dilakukan adalah membangun perasaan bahwa negeri ini milik kita, setelah memiliki akan tumbuh membela." tutupnya.

Presiden Dipastikan Hadir ke FKN XI, Danrem Beri Himbauan Keamanan

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Rencana kedatangan Presiden Republik Indonesia ke-7 ke acara Festival Keraton Nusantara (FKN) XI dipastikan hadir pada penutupan acara yang berlangsung di Taman Air Goa Sunyaragi, pada Senin (18/9/2107) mendatang.

Hal tersebut diungkap oleh Danrem 063 Sunan Gunung Jati Kota Cirebon, Kolonel Inf Veri Sudjino Sudin. "Presiden RI satu akan dipastikan hadir, namum untuk waktu belum dapat dipastikan karena Presiden ada agenda di Jawa Tengah dan Yogyakarta," ungkapnya di Bangsal Pagelaran Keraton Kesepuhan.

Veri juga memberi himbauan kepada Raja dan Sultan Se-Nusantara, dan tamu undangan yang akan hadir untuk keamanan selama acara berlangsung.

Berikut adalah isi himbauan dari Danrem 063 Sunan Gunung Jati Cirebon.

Membawa kartu undangan atau id card yang telah dilegalisir. Tidak diijinkan membawa senjata tajam, sejenis pedang, keris, tombak, dan sejenisnya walaupun itu merupakan perlengkapan kerajaan. Hadir lebih awal sebelum Presiden datang, karena setelah Presiden datang pintu akan ditutup. Berdiri saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, jika tidak memungkinan untuk berdiri agar duduk siap. Selama acara berlangsung tidak diperkenankan mengambil foto dengan berdiri. Menonaktifkan HP/alat komunikasi lainnya. Tidak keluar masuk selama Presiden memberi sambutan. Tidak membawa dan menyalakan petasan atau kembang api saat kegiatan.

Veri menambahkan, untuk pengamanan Presiden pihaknya sudah siap dan akan menerjunkan sebanyak 1.200 personil gabungan dari TNI dan POLRI. (Trusmiyanto)

Kemenpar Gaet Keraton se-Nusantara Untuk Jadi Destinasi Pariwisata

Tidak ada komentar

Minggu, 17 September 2017

Cirebon, Setaranews.com – Festival Keraton Nusantara (FKN) XI di Kota Cirebon telah memasuki hari kedua. Dalam agenda hari kedua ini diadakan pembekalan Musyawarah Raja dan Sultan di Pagelaran Terbuka Keraton Kasepuhan.

Dalam pembekalan Musyawarah Raja dan Sultan tersebut salah satunya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjadi pembicara. Dalam materinya, mengacu pada tujuan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo yang menjadikan pariwisata sebagai prioritas pembangunan.

“Karena Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, suku, adat dan bahasa. Maka dijadikan prioritas pembangunan yang sangat potensial,” ungkapnya saat memberikan materi, Minggu (17/9/2017).

Ia juga menjelaskan hubungan keraton dan pariwisata yakni sangat erat. Dimana dari 60% daya tarik wisatawan asing adalah budaya dan keraton sebagai pusat budaya. “60% budaya menjadi daya tarik wisatawan asing, 35% karena alam, dan sisanya 5% karena kekreatifan dimana tiap daerah memiliki produk sendiri,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kemenpar ingin menjadikan keraton destinasi pariwisata, bukan hanya dari segi arsitektur tapi juga konten yakni edukasi.

Menutup sesi pembekalan, Ia juga menjelaskan tentang dampak pariwisata yang sangat besar yakni bisa memberikan peluang pekerjaan, menambah pertambahan ekonomi, memberantas kemiskinan dan bisa menjadi pelestarian lingkungan. Mengingat wisatawan asing menghabiskan sekitar 1.200 USD setiap tahun saat berkunjung ke Indonesia.

Sarasehan Kebudayaan, Diskusi Krisis Keraton Era Kini

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Festival Keraton Nusantara (FKN) XI telah memasuki hari kedua sejak resmi dibuka pada Jumat (15/9/2017) lalu di Gua Sunyaragi. Sejumlah acara telah diselenggarakan di beberapa tempat seperti di Gua Sunyaragi, Keraton Kasepuhan dan Kanoman.

Seperti acara yang diselenggarakan di Bangsal Jinom Keraton Kanoman yaitu Sarasehan Kebudayaan dengan narasumber Radhar Panca Dahana (Budayawan), Dr. Phil Ichwan Azhari (Pengamat Sejarah) dan Eva Nur Aroyah (Pengamat Sejarah).

Acara yang bertemakan "Merangkai Marwah Kesultanan Kanoman dengan Spiritualitas Budaya Sunan Gunung Jati" dihadiri oleh tamu undangan, masyarakat dan juga Ratu Raja Arimbi. Dalam acara tersebut, diisi dengan materi-materi dan diskusi mengenai krisis kebudayaan yang terjadi di keraton.

"Kita berdiskusi Berangkat dari krisis budaya terkait keraton sampai era kini," kata Anwar moderator dalam acara tersebut.

Krisis yang terjadi di keraton-keraton menurut Ichwan, gambaran kondisi keraton saat ini telah bersekutu dengan "Negara Proyek" dan masih adanya konflik-konflik yang terjadi di dalam keraton itu sendiri.

"Penyakit kronis keraton adalah konflik internal, Keraton kini menjadi sumber potensial ekonomi bagi pemerintah," tegasnya.

Lain halnya dengan apa yang dikatakan oleh Budayawan Indonesia, Radhar Panca Dahana. Menurut Ia, konflik-konflik di keraton sudah ada sejak dahulu karena konflik akan terus selalu ada. "Konflik-konflik di keraton itu duplikasi dari negara-negara kontinental dan akan selalu ada," katanya.

Acara tersebut dimulai sejak pukul 11.00 hingga 14.00 WIB.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews