Responsive Ad Slot

Gending Paksi Naga Liman dalam Pembukaan FKN XI

Tidak ada komentar

Sabtu, 16 September 2017

Cirebon, Setaranews.com – Festival Keraton Nusantara (FKN) XI yang telah resmi dibuka pada Sabtu 16 September 2017 bertempat di Alun-Alun Keraton Kasepuhan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriyawan.

Dalam acara pembukaan tersebut, diisi dengan Pagelaran Seni Kolosal yang bertajuk “Gending Paksi Naga Liman” yang dibawakan oleh Yayasan Cahya Widi.

Pagelaran Seni Kolosal itu menampilkan Kereta Paksi Naga Liman yang merupakan kendaraan dari Keraton Kanoman Cirebon. Dahulu, kereta ini digunakan Raja Keraton Kanoman untuk mengahadiri upacara kebesaran.

Penampilan Seni Kolosal yang bertajuk “Gending Paksi Naga Liman” memperlihatkan tarian-tarian dan juga musik-musik diiringi dengan penjelasan-penjelasan sejarah mengenai Paksi Naga Liman itu sendiri.

Paksi Naga Liman sendiri adalah simbol Cirebon sebagai tempat terjadinya asimilasi dan pluralisasi dari tiga kebudayaan. Paksi (burung) simbol dari Timur Tengah dan unsur Islam. Naga perwujudan dari penguasaan caruban yang dinamakan Man dan simbolisasi atas negeri Tiongkok dan unsur Hindu Budha. Liman (Gajah) simbol Ganesha putra dari Dewa Siwa dari India yang juga mempunyai unsur Hindu.

Aher: Keraton-keraton Nusantara Embrio Lahirnya NKRI

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Festival Keraton Nusantara (FKN) XI di Kota Cirebon telah resmi dibuka pada Sabtu 16 September 2017 di Alun-alun Keraton Kasepuhan.

Peresmian pembukaan tersebut dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriyawan yang semalam tidak sempat menghadiri acara Welcome Dinner di Gua Sunyaragi.

Dalam sambutannya Aher, sapaan Gubernur Jawa Barat, mengungkapkan esensi tentang Festival Keraton Nusantara yakni mengkokohkan persatuan dan kesatuan bangsa. "Kegiatan ini memiliki makna yang mendalam, membuat kokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Wajah-wajah keraton di Nusantara sekaligus menggambarkan keberagaman Nusantara," ungkapnya.

Kemudian, Ia melanjutkan bahwa keraton-keraton di Nusantara ibarat menjadi embrio lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Keraton-keraton nusantara menjadi embrio lahirnya negara kesatuan RI. Menggambarkan keanekaragaman Indonesia," tambahnya.

Seusai memberi sambutan, Aher bersama Walikota Cirebon dan Sultan Kasepuhan memukul bedug sebagai simbolis peresmian pembukaan Festival Keraton Nusantara XI di Kota Cirebon.

Pagelaran Kesenian Sebagai Ajang Perkenalan Busana Adat Keraton Yogyakarta

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Acara welcome dinner yang merupakan acara pembuka dalam Festival Keraton Nusantara ke-11 (FKN XI) telah usai dilaksanakan pada Jumat malam (15/9/2017) di Gua Sunyaragi.

Acara tersebut diisi dengan beberapa kegiatan, seperti pemutaran video tentang sejarah Kota Cirebon, Gala Dinner para Raja dan Sultan dari kerajaan yang ada di Indonesia. Selain itu, ada persembahan pagelaran kesenian yang ditampilkan dari Keraton Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Keraton Yogyakarta memperkenalkan beberapa busana adat yang terdapat di Kraton Yogyakarta melalui peragaan busana adat Keraton Yogyakarta.

"Yang pertama, busana yang dipakai pada saat Sultan dan keluarga mengadakan perjalanan keluar daerah. Kedua, busana Yogya Putri dan Ksatrian Ageng. Kemudian yang ketiga, Busana Malam Selikur. Dan yang terakhir, busana Ageng Agustusan," jelas MC pandu pagelaran Kraton Yogyakarta.

Selain menampilkan peragaan busana, Kraton Yogyakarta juga menampilkan pesan Sugriwo Iso Mugro dalam cerita Epos Ramayana dan cerita Siti Sundari Kromo. (Trusmiyanto)

Gubernur Jawa Barat Batal Sambutan, Titip Pesan di FKN XI

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Pada sambutan Welcome Dinner Festival Keraton Nusantara ke-11 (FKN XI) pada Jumat (15/9/2017) di Gua Sunyaragi diagendakan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan akan hadir dan mengisi sambutan.

Namun, karena terkendala urusan pekerjaan Gubernur Jawa Barat batal menghadiri acara tersebut dan diwakilkan oleh Dinas Pariwisata Jawa Barat.

Hal tersebut sesuai yang diungkapkan oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata Jawa Barat yang menggantikan sambutanya. "Karena urusan pekerjaan, Gubernur Jawa Barat tidak bisa hadir," ungkapnya.

Dalam sambutannya juga, Ia menyampaikan pesan dari Aher, sapaan akrab Gubernur Jawa Barat, yang berpesan bahwasannya perbedaan adat dan istiadat di dalam keberagaman dan kebersamaan harus tetap saling menghargai.

Welcome Dinner, Acara Pembuka dalam FKN XI

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-11 diselenggarakan di Kota Cirebon sejak 15-19 September 2017 mendatang.

Untuk mengawali berlangsungnya FKN, malam ini Jumat (15/9) diadakan welcome dinner di Gua Sunyaragi yang didatangi 300 peserta dan peninjau dari seluruh nusantara serta diikuti oleh 23 keraton di Indonesia termasuk Keraton Yogyakarta.

Acara welcome dinner sendiri diawali dengan video pembuka yang berisi sejarah Kota Cirebon beserta beragam destinasi wisatanya serta pemaparan tentang Keraton Kasepuhan.

Setelah itu, diisi dengan sambutan-sambutan dari Walikota Cirebon, Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (Sekjen-FKIKN), dan Gubernur Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Jawa Barat, serta persembahan pagelaran seni.

Selain itu, dalam acara Welcome Dinner juga menyediakan beberapa makanan khas Cirebon, diantaranya Nasi Jamblang, Tahu Gejrot, Mie Koclok dan Empal Gentong.

FKN yang diadakan 2 tahun sekali ini menjadi ajang untuk menjaga kearifan lokal di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Sekjen FKIKN yakni Dra. GKRA Koes Moetiyah dalam sambutannya.

"Acara ini selain ajang silaturahmi menjadi nilai kesatuan persatuan bangsa. Keraton menjadi pola budaya dan dapat memberi pengalaman secara individu atau kelompok agar menjunjung tinggi norma-norma adat dalam kehidupan bermasyarakat,"ucapnya saat mengisi sambutan dalam acara pembukaan FKN ke-11.

Sekedar informasi, ternyata Kota Cirebon pernah menjadi tuan rumah FKN ke-2 pada tahun 1997 silam.

Konsen Memelihara Tradisi Budaya, Sunda Wiwitan Kembali Gelar Seren Tahun

Tidak ada komentar

Kamis, 14 September 2017

Regional, Kuningan, Setaranews.com – Masyarakat adat Sunda Wiwitan Cigugur Kabupaten Kuningan kembali menyelenggarakan Seren Tahun untuk kesekian kalinya, yaitu pada 22 Rayagung tahun Saka Sunda. Kegiatan tersebut merupakan gelar budaya tradisional masyarakat agraris sunda yang masih ada dan sudah biasa diselenggarakan di Kelurahan Ciguugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Bagi penganut kepercayaan Sunda Wiwitan, kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sebagai manifestasi luapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, yang digelar pada 9 hingga 14 September 2017.

“Acara ini sudah sejak lama di laksanakan, bahkan sejak zaman sebelum Indonesia merdeka, walaupun sempat ada larangan untuk tidak melaksanakan seren tahun pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba), tapi kami tetap melaksanakan secara diam-diam, dan masyarakat adat yang terlibat pun selalu ramai oleh tamu dari berbagai daerah dalam acara ini,” ungkap Oki, salah satu sesepuh setempat saat ditemui setaranews.com, Rabu (13/09).

Berbagai rangkaian acara disajikan dalam bentuk tradisional kebudayaan sunda, seperti upacara-upacara adat, pentas kesenian sunda, diskusi atau dialog kebijakan dan pertanian. Kemudian acara puncak tari buyung, angklung baduy, angklung buncis, dan penumbukan padi.

Selain melibatkan masyarakat adat sunda wiwitan dari berbagai daerah, kegiatan yang sudah menjadi rutinitas tahunan ini berlangsung semakin menarik karena melibatkan berbagai komunitas di dalamnya, seperti grup band, komunitas sablon, kelompok petani dan sebagainya.

“kami selalu terbuka dengan siapa saja, dengan tidak membedakan agama, suku, bahasa, atau profesinya. Tapi dengan saling mendukung satu sama lain, kita hidup berdampingan.” tambah orang yang kerap disapa Kang Oki tersebut. (Mumu Sobar Mukhlis)

Ormawa Day Sebagai Ajang Pengenalan Organisasi Bagi Mahasiswa Baru

Tidak ada komentar

Rabu, 13 September 2017

Unswagati, Setaranews.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (BEM Unswagati) Cirebon menggelar acara Ormawa Day selama dua hari (12-13 September 2017) di Auditorium Kampus Utama Unswagati Cirebon.

Acara yang bertemakan "Tak Kenal Maka Tak Sayang" tersebut merupakan salah satu Program Kerja (Proker) Bidang Internal BEM-U. Dalam acaranya melibatkan seluruh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Unswagati dan Mahasiswa Baru Unswagati 2017.


Tujuan acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam berorganisasi. "Khususnya untuk memperkenalkan Ormawa Unswagati kepada Mahasiswa Baru saat ini, agar minat mereka dalam berorganisasi itu tinggi, dan mengantisipasi kekosongan anggota dari masing-masing Ormawa. Karenna mengingat minat mahasiswa untuk berorganisasi sudah mulai berkurang," ungkap Siti Setiani, Ketua Pelaksana (Ketuplak) Ormawa Day saat ditanya oleh setaranews.com di hari pertama Ormawa Day, Selasa (12/09) di Auditorium Unswagati Cirebon.


Dalam mekanismenya (Ormawa Day) Mahasiswa Baru diwajibkan untuk mengunjungi stand pendaftara masing-masing Ormawa. "Pada acara ini kami mewajibkan mahasiswa baru untuk mendatangi stand pendaftaran masing-masing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Organisasi Fakultasnya masing-masing, dan mendatangi juga stand Badan Eksekutif Mahasiswa Unswagati (BEM-U) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Unswagati (DPM-U), yang kemudian dijadikan syarat sebagai pengambilan sertifikat PKKMB Universitas," lanjutnya.

Lebih lanjut, wanita yang juga merupakan Divisi Bidang Internal BEM Unswagati tersebut berharap Ormawa Unswagati bisa memiliki kaderisasi yang banyak. "Semoga saja selepas diselenggarakan acara ini, masing-masing Ormawa Unswagati memiliki anggota yang lumayan banyak," harapnya sembari menutup sesi wawancara.

Sampai saat ini, pelaksanaan acara Ormawa Day di hari pertama pihak panitia tidak menemukan kendala yang cukup serius, dan akan dilanjut kembali besok (Rabu 13 September 2017). (Haerul Anwar).

Cinta Terhadap Budaya Sebagai Tujuan Utama Inaugurasi 2017

Tidak ada komentar

Selasa, 12 September 2017

Unswagati, setaranews.com - Inaugurasi Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon merupakan acara rutin setiap tahun diselenggarakan, diamana acara tersebut sebagai hiburan sekaligus pengukuhan bagi mahasiswa baru yang sebelumnya mengikuti Program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru, baik Universitas maupun Fakultas sebagai persyaratan mahasiswa yang baru memasuki Perguruan Tinggi pada umumnya.

Inaugurasi tahun ini diselenggarakan pada Senin 11 September di halaman parkir Kampus Utama Unswagati Cirebon. Acara yang bertemakan "Kecintaan Terhadap Kebudayan, Itulah Jati Dirimu" tersebut bertujuan untuk meningkatkan generasi muda agar peduli terhadap kebudayaan Indonesia. "Kita memilih tema tersebut karena kita melihat generasi sekarang nambah kurang minat dengan kebudayaan kita sendiri, mereka lebih suka kebudayaan dari luar. Disini, kita bermaksud untuk meningkatkan kesadaran mereka serta meningkatkan juga apresiasi mereka terhadap kebudayaan yang kita punya" ungkap Novi Heni Pratiwi, ketua pelaksana Inaugurasi 2017 pada setaranews.com saat jeda istirahat di ruang panitia inaugurasi, Senin (11/09).

Dalam konsepnya (Inaugurasi 2017), Selain sebagai pengukuhan mahasiswa baru unswagati dengan prosesi Rektor mengenakan Jas Almamater Unswagati kepada salah satu mahasiswa baru, terdapat juga penampilkan berbagai seni dan budaya. Mulai dari seni tradisional seperti tari topeng dan tari ronggeng bugis, kemudian seni kontemporer juga turut ditampilkan oleh Balai Kampus Unit Kegiatan Mahasiswa Seni dan Budaya (USB), serta penampilan kreativitas bersifat kebudayaan dari mahasiswa baru dengan mekanisme penampilanya berdasarkan perwakilan dari masing-masing fakultas.

Disisi lain, Inaugurasi 2017 mendapatkan apresiasi positif dari Farikha, salah satu mahasiswa baru Fakultas Ekonomi, Prodi Manajemen, dia mengatakan bahwasanya Inaugurasi tahun ini cukup bagus dari segi budayanya, "Untuk acaranya sendiri lumayan bagus, apalagi kolaborasi musiknya (Tradisional dan Modern) ditampilkan juga pada acara ini,"katanya saat ditanya setaranews.com. (Trusmiyanto)

 

We Are The Real United Kingdomh

Tidak ada komentar

Minggu, 10 September 2017

Opini, Setaranews.com - Permasalahan peri-kehidupan dan peri-kemanusiaan hampir di segala lini sektor Bumi Pertiwi ini, membuat kita sebagai sebuah bangsa harus terus hidup dalam keterpurukan, lebih mirisnya yaitu kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Apakah kiranya penulis berlebihan, bisa jadi keterlaluan, apabila menganggap itu di era yang konon katanya modernitas dengan globalisasi – atau lebih tepatnya globanialisasi- dengan semua gemilang kecanggihan teknologi dan materialnya?
Memang benar adanya, dan patut diakui bahwa saat ini kita mengalami kemajuan, yang mungkin kebanyakan orang menilainya dengan ditandai berbagai macam pembangunan. Sayangnya, perubahan atau kemajuan tersebut hanya secara superfisial: dalam bentuk materialnya saja. Pada gaya, bentuk, rupa, pada busana, arsitektur, tempat belanja, modal bergerak, dan seterusnya. Secara kultural, kita diserbu budaya pop, hilanglah jati diri kita.
Semua kemajuan, peubahan, atau apapun itu namanya di era yang 'kekinian' ini belum pada hal yang paling esensial: sikap, cara pandang, mental dan karakter. Perubahan tersebut belum menyentuh bagian tersebut, di mana dimensi kultural terpendam dan diproduksi. Oleh karena itu, perubahan masyarakat kepualaun ini harus banyak berlangsung di wilayah kultural. Pertanyaannya, seberepa kuat kah keinginan kita untuk berubah? Sementara kita hanya bergantikan busana saja!
Apakah pemandangan pembangunan atau perubahan yang sering kita lihat dan anggap sebagai suatu kemajuan itu semua semata – mata memang di tujukan untuk masyarakat pada umumnya? Jawabannya hanya satu: "TIDAK" Pembangunan sejatinya hanya untuk memfasilitasi para pemodal – yang mayoritas bangsa asing untuk melancarkan kepentingan mereka (ekspansi pasar, akuisisi perusahan lokal, privatisasi BUMN dan akhirnya menguasai seluruh hajat hidup orang Indonesia). Maaf, lebih tepatnya merampok. Ya, kita dirampok. Dan terdiam, bahkan tepuk tangan, hingga ikut memeriahkan, melihat rumah kita sendiri di zarah habis - habisan.
Tolong sebutkan satu persatu sumber hajat hidup, dari mulai Sabang sampai Merauke, yang kita kuasai sendiri secara keseluruhan demi tercapainya cita – cita yang termaktub dalam falsafah dasar bangsa ini? Jawabannya, lagi dan lagi "TIDAK" Kemudain pertanyaan selanjutnya, masih berbanggakah kalian sebagai orang – orang yang merasa, atau mengaku, "kekinian" sebagai orang Inodonesia? Bangga dengan kendaraan canggihnya? Bangga dengan gadgetnya? Bangga dengan penampilannya? Bangga dengan gaya hidupnya? Lebih bangga dianggap ke"Barat"an dari pada ke"Indonesia"an? Lalu apalagi? Selanjutnya, silahkan sebutkan sendiri. Itu semua milik asing, kita hanya sebagai konsumen atau lebih tepatnya, sebagai tamu di negara sendiri.
Tumbuh di negara lumbung padi, makan padi, dari padi yang tidak di panennya. Tumbuh di negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, lautnya pun masih asin, tapi maaf garamnya impor semua. Tumbuh di negara yang menggunakan kendaraan, rumah, gadget, pakaian, makanan, perhiasan, dari yang tak pernah di produksinya. Apakah bumi kita sangat tidak mampu untuk membuat itu semua? Apakah bangsa yang memiliki "Tanah Surga" yang "Gemah Ripah Loh Jinawi" itu cuman mitos? Ah, biar saja itu semua hanya menjadi kenangan, khayalan mungkin.

Semua yang kita miliki dan kenakan dari mulai sandang, pangan, dan papan, tentunya mungkin sangat dibanggakan sebagai adu gengsi, walaupun harus terpaksa kredit, sejatinya menguntungkan para pemodal yang sebetulnya bisa kita dapati secara cuma – cuma. Satu syaratnya, yaitu ketika kita bisa kembali menguasai seluruh isi dan kandungan yang ada di bumi pertiwi ini.
Apakah bisa kita kembali merebutnya? Jawabannya tentu "SANGAT BISA" Ketika kita memahami lebih kedalam jati diri kita sebagai sebuah kesatuan bangsa yang tak terpisahkan. Memahami sejarah bangsa ini, bukan dari buku – buku sejarah dasar yang sudah dicampuradukan oleh orientalis untuk memecah belah bangsa ini. Sebuah bangsa yang diperebutkan oleh bangsa lain (karna kekayaannya). Sebuah bangsa yang ditakuti oleh bangsa lain karena tercatat dalam manuskrip kunonya akan menjadi bangsa penakluk (saudara kandung) bagi bangsa mereka(Yahudi-Israel).

Mari kita lebih dalam, terus lebih dalam membaca Indonesia sebagai sebuah negeri, sebuah bangsa, sebuah kesatuan. Sangat konyol apabila ada orang yang berpendapat bahwa Indonesia lahir begitu saja, tentu tidak sekonyong – konyong, ada proses berabad – abad, mungkit jutaan tahun lamanya. Bahkan tidak sedikit penelitian historis dan arkeologis menunjukan fakta bagaimana kesatuan yang ada, telah berlangsung bersamaan bersama sejarah polis – polis di Yunani, lebih tua dari bangsa yang bernama Inggris, Prancis bahkan Mesir sekalipun.
Disebutkan dalam Macropedia Britanica “Penduduk Delta sungai Merah secara esensial masih orang Indonesia”, siapa sangka peradaban kuno bangsa ini menyebar hampir ke 2/3 belahan dunia dimana sampai pada Madagaskar, Guam dan Chamoro. Kenyataan ini, dipandang oleh pakar dan ilmuan, Madagaskar walaupun secara praktis mengidentiikasi diri ke Afrika, dan secara moderen ke Prancis, namun secara historis, geografis dan fsikis 3000 mil ke Barat: Indonesia.
Berbagai macam bukti dan fakta hari demi hari semakin menerangkan asal muasal bangsa ini, tak salah apabila Ilmuan dan ahli semacam Denys Loambard dengan tegas dan sangat berani mengatakan, “ Sejak 1000 tahun S-M Nusantara adalah kawasan budaya besar dengan hubungan maritim yang permanen, "Bahkan tak sedikit pula ahli yang mengatakan Indonesia atau bangsa melayu/Jawi sudah ada sejak dahulu, dan sebagai bangsa yang melahirkan bangsa – bangsa lain. Luar biasa!
Mungkin masih ada yang ingat lagu yang mengatakan “Nenek moyangku seorang pelaut”, sebagai seorang pelaut yang mengarungi lautan hingga ke berbagai belahan dunia tentu memahami betul ilmu perbintangan dan pelayaran serta teknologi perkapalan. Apalagi letak geografis Indonesia yang terletak pada garis ekuator yang diapit oleh dua samudra yang merupakan jalur perdagangan dunia, selain itu tanahnya yang paling subur di dunia. Tak salah kitanya, atau berlebihan, apabila Indonesia dulu sebagai pusat peradaban (pertemuan) dunia.

Indonesia atau nusantara kerap sekali dikait- kaitkan dengan benua atlantasi yang hilang menurut pandangan Plato. Benua Atlantis yaitu memiliki pengertian sama dengan “The Promised Land (Tanah yang dijanjikan)”. Yang sampai saat ini masih menjadi misteri, akan tetapi fakta – fakta historis-arkeologis sedikit demi sedikit mulai ditemukan dan mengarah ke Indonesia (walaupun kebanyakan literaturnya berada di barat), sampai sekarang masih dicari fakta – fakta tanah leluhur itu. Semua ini membuktikan betapa penasarannya bangsa – bangsa di luar kita terhadap silsilah bangsa kita (dari mulai masyarakat sampai isi kandungan buminya), bahkan lebih mahfum dari kita sendiri sebagai orang didalamnya.
Israel dan Amerika serikat memiliki website resmi berbahasa Indonesia, bahkan peta Indonesia. Mereka mengupdate data - data seputar bangsa ini setiap pekannya. Lalu ada kepentingan apa ketika Israel membangun pangkalan militer satu - satunya diluar Israel yaitu di Singapura yang moncong meriamnya mengarah Indonesia? Lalu, untuk apa AS membangun pula pangkalan militernya di Australia, yang moncong meriamnya semua mengarah ke Indonesia? Lalu benarkah Cina hanya memiliki kepentingan dagang di Indonesia? Ke tiga negara yang memiliki hak veto ini ada kepentingan apa dibalik itu semua? yaitu bersama - sama dan berkonspirasi untuk mengobrak - abrik, memecah belah, mengadu domba Indonesia, sebagai "TANAH LELUHUR" yang diramalkan sebagai bangsa yang akan menaklukan negara - negara super power/ adidaya tersebut.
Maka-mereka di luar bangsa kita tak akan rela membiarkan kita menjadi bengsa yang super power, yang pernah terjadi pada peradaban silam. Indonesia sebuah negeri yang peradabannya lebih tua dari Britaniya Raya, menurut majalah Time, kini tak lain seperti sekumpulan bandit yang saling penggal kepala, baku hantam cari kuasa, koruptor yang membabi buta. Segala keindahan, keramahan, budaya halus, kini seolah mitos belaka. Indonesia kini, sebuah bangsa yang tak dapat dipercaya, atau mahluk cacat yang mudah diperbudak karena kebodohannya.

Sebagai bangsa, harus diakui bahwa kita kehilangan jati diri. Tekanan yang begitu kuat dari bangsa asing dengan lobi – lobi zionisnya, membuat pemerintah kita tersirap oleh segala halusinasi yang ditawarkan olehnya. Alhasil, pemerintah dengan ringan melepas tanggungjawab alam dan konstitusinya, bisa dilihat ketika perguruan tinggi negri diswadayakan, rumah sakit diswadanakan, usaha “bumi, tanah dan air” di swastakan. Rakyat kembali membayar kemahalannya. Rakyat terus – terusan mensubsidi. Terus, hingga mati berdiri. Dan mereka pengusaha dan penguasa bergolek santai dengan segala kemehawannya sendiri. Menciderai perjuangan leluhur bangsa ini. Terkutuklah. Keputusan para leluhur bangsa ini atau bapak – bapak pendiri bangsa kita dari mulai jaman kerajaan kuno, dan ketika sampai pada ide sumpah pemuda serta kemudian memproklamirkan negara kesatuan R.I merupakan bukan suatu keputusan yang "mbalelo", atau asal-asalan, itu merupakan ide yang sangat beralasan, melihat pada jati diri bangsa yang kemudian tertuang dalam falsaah dan UUD 45 Saat ini, tugas kita yaitu memndang kenyataan sejarah serta kultur kita – yang memiliki begitu banyak potensi penjelasan ketimbang potensi diabaikan. Cara berfikir lebih memandang kedalam harus diutamakan dan dipertahankan, ketimbang memandang keluar yang sesungguhnya hanya fatamorgana, kalau tidak pun, ya kolonialistik.

Bangsa kita bukan bangsa yang bodoh, tapi dibodohkan (karena keturunan Bani Israel yang kebanyakan memeluk agama Islam, oleh karenanya ditakuti apabila memiliki kepintaran). Bangsa kita bukan bangsa yang miskin, tapi dimiskinkan. Bangsa kita bukan bangsa penakut, tapi ditakutkan. Bangsa kita merupakan bangsa yang besar dan segala kemajuan peradabannya di masa silam serta kekayaan yang terkandung didalamnya (TANAH SURGA). Apakah kita bisa mnjadi bangsa besar? Jawabannya "SANGAT BISA"
Kita bisa kembali menjadi sebuah bangsa kesatuan yang besar ketika kita menjadi pribadi yang tahu akan jati diri bangsa, cerdas, bermoral, serta menguasai seluruh hajat hidup yang kita miliki. Itu semua telah dibuktikan oleh para leluhur kita, dan satu keyakinan yang kita miliki untuk meningkatkan rasa optimisme dan perbaikan diri yaitu, sejarah pasti akan kembali berulang. Kita sendiri yang menentukan, bukan bangsa asing.
Perlu diingat dan di camkan baik – baik, “WE ARE THE REAL UNITED KINGDOM”, untuk itu banyak pihak yang tidak ingin kita kembali mencapai kejayaan. Sayangnya kita tak cukup berani, atau malu, atau terlanjur silau dengan ide – ide gemerlap (kapitalisme, globanialisasi, modernitas, liberalisme,demokrasi, dan apapun itu yang dibawa dari luar harus kita yakini bersama sifatnya yaitu IMPERIALISTIK), yang bangsa kita sendiri pernah berulang kali menolak dan melawannya, dan mencapai kejayaan. Sayang sekali.

 

Epri Fahmi Aziz, Penulis merupakan Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (LPM SETARA).

Tulisan tersebut diterbitkan untuk menyambut Orasi Kebudayaan bersama Radhar Panca Dahana pada 18 September 2017 mendatang, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (LPM SETARA).
.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews