Responsive Ad Slot

AMC: Kota Cirebon Tempat Paling Aman dan Nyaman Bagi Penjahat Kemanusiaan

Tidak ada komentar

Sabtu, 29 April 2017

Cirebon, setaranews.com – Adanya dugaan korupsi dalam polemik megaproyek DAK 96 untuk infrastruktur publik kembali membombardir nurani masyarakat Kota Cirebon. Terendusnya jejak perbuatan melawan hukum yang diindikasi merugikan keuangan negara kembali mencuat lantaran penyimpangan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil akhir proyek tersebut. Fakta ini, menurut  Aliansi Mahasiswa Cirebon mempertegas citra buruk Kota Cirebon sebagai sarang yang aman bagi para penjahat kemanusiaan yang tidak lain adalah para koruptor.

Sindirian yang begitu mengenaskan memang sudah sering terdengar oleh publik di Kota Cirebon itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Jubir AMC Mumu Sobar Muklis, cibiran tersebut dinilainya bukan merupakan fakta yang di ada – ada melainkan memang sudah menjadi rahasia umum.

“Sindiran tersebut saya rasa tidak berlebihan. Karena memang beberapa kasus korupsi yang sering mencuat dan berkembang di Kota Cirebon tidak pernah mendapatkan kejelasan hukumnya. Sebut saja mulai dari kasus gratifikasi Mobil Dinas Musyawarah Pimpinan Daerah (Mobdin Muspida), Pungutan Liar (Pungli) dan suap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), penyalah gunaan wewenang di PDAM, korupsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan sekarang soal DAK 96 Miliar. semua penanganannya mandek, entah nyangkut dimana,” pungkasnya kepada setaranews, saat dihubungi via seluler Sabtu (29/04).

Gelar sebagai Kota terkorup di Indonesia yang memang pernah di nobatkan kepada Kota Cirebon kembali menjadi perbincangan. Kata dia, mampertnya saluran demokrasi dan penegakan hukum di Kota Cirebon inilah yang memperkuat citra negatif tersebut.

“Jika poin – poin pemerintahan yang baik dilakukan, dan sistem pemerintahan yang memang demokratis sesuai dengan pilar – pilarnya bisa dilaksanakan serta ditopang oleh politik nilai yang berlandaskan pada etika, moral, tanggungjawab, kemanusiaan, keadilan. Korupsi tidak akan pernah terjadi,”

Lanjut mumu, realitas memang kerap berbenturan. Menjadi tempat paling aman, nyaman dan damai bagi para penjahat kemanusiaan, dikarenakan memang para elit politik dan juga elit penegak hukum saling bahu membahu dalam keburukan, bukan dalam kebaikan.

“Wajar saja jika kemudian penegak hukumnya mandul, bahkan seolah melindungi. Sehingga para koruptor bisa leluasa berlalu lalang membajak uang rakyat sana sini,” tukasnya.

Sementara itu, dilain pihak Kepala Kejari Kota Cirebon Arifin Hamid SH, MH, mengatakan,  bahwa pihaknya sedang mengupayakan proses hukum dengan mendalami alat bukti. Ia mengklaim bahwa Kejari berada di pihak masyarakat, dengan begitu Ia mengaku  akan terus berkomitmen untuk kasus yang satu ini.

" Kami berada dipihak mahasiswa dan rakyat. Saat ini proses hukum sedang dijalankan, masih dalam tahap Sidik. Kami sedang mendalami alat bukti, jika publik memiliki alat bukti, maka bisa membantu proses dengan menyerahkannya kepada kami, " ucapnya saat menemui aksi dari Aliansi Mahasiswa Cirebon di depan Kantor Kejari, Jumat (28/04).

Dianggap Mandul, AMC Desak Kejari Tuntaskan Kasus Dugaan Korupsi DAK 96 Miliar

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com - Aliansi Mahasiswa Cirebon (AMC) kembali melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cirebon terkait kasus dugaan korupsi mega proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) 96 Miliar, Jum'at (28/4). Massa aksi menuntut sekaligus mengajak pihak yudikatif untuk berkomitmen dalam pengawalan korupsi dan segera meningkatkan status hukum dugaan korupsi dalam kasus mega proyek DAK 96 M. Selain itu, massa aksi juga menuntut kepada Kejari untuk menyelesaikan kasus tersebut (Red: DAK 96 M) ke dalam ranah hukum serta mentrasparansikan proses hukumnya kepada rakyat, khususnya masyarakat Kota Cirebon.

Juru Bicara (Jubir) aksi, Arif Nur Noviyanto, menganggap kejari sudah mandul dalam penanganan korupsi di kota Cirebon, terbukti dengan lambatnya langkah kejari dalam mengusut kasus dugaan korupsi mega proyek DAK 96 M. “Beberapa kasus korupsi yang dikawal oleh mahasiswa diantaranya kasus PDAM, Mobil dinas, PPDB, Tanah Cipto dan kasus yang sedang hangat saat ini yaitu proyek DAK 96 M tidak ada satupun yang ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kejari, maka dirasa wajar saja kalau kota Cirebon pernah mendapat sebutan kota terkorup karena memang pihak penegak hukum dalam hal ini kejari mandul dalam penegakkan hukum di kota Cirebon” ungkapnya saat ber-orasi di depan Kantor Kejari, Jum'at (28/4).

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan selain mandulnya supremasi hukum, Dia juga beranggapan bahwasanya Kejari tidak serius dalam pengawalan kasus mega proyek DAK 96 M yang sudah jelas adanya indikasi yang merugikan keuanga negara. "Dapat kita lihat dengan kasat mata saja terkait penyimpangan kasus ini, dari mulai trotoarisasi, betonisasi, dan jembatan yang tidak sesuai spesifikasi saja sudah jelas sekali bahwa adannya penyimpangan dalam kasus mega proyek DAK 96 M," tambahnya.

Disisi lain, Arifin Hamid selaku Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) menyatakan komitmennya dalam pengawalan kasus korupsi dan terkait  penangananya masih dalam proses penyidikan. "Kejari sedang melakukan penyidikan karena kami juga punya strategi tersendiri untuk menangani kasus ini, dan saya berjanji akan tuntaskan kasus ini dengan normative". pungkasnya, saat menemui massa aksi. (M.syahru)

Ulama Muslim Perempuan Indonesia Keluarkan Fatwa Langka

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) mendeklarasikan serangkaian fatwa pada Kamis (27/4/2017), termasuk pembahasan tentang pernikahan dibawah umur. Ini merupakan contoh langka, dimana mereka mengambil peran agama terkemuka di negara yang mayoritas Muslim.

Fatwa tersebut merupakan fatwa yang tidak memiliki kekuatan hukum tapi berpengaruh. Dikeluarkan pada akhir kongres yang berlangsung selama tiga hari.

Pertemuan ini berlangsung di Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ini menjadi pertemuan besar pertama dari Ulama Perempuan Indonesia yang diikuti oleh ratusan partisipan. Dihadiri juga oleh ulama-ulama dari Pakistan, India dan Saudi Arabia.

Mereka mengeluarkan serangkaian fatwa di akhir pertemuan, yang paling mengundang banyak perhatian ialah tentang pernikahan dibawah umur. KUPI mendesak agar pemerintah menambahkan usia legal minimal menikah untuk perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun.

Permasalahan ini menyebar di Indonesia, dengan perbandingan satu dari empat perempuan Indonesia menikah dibawah usia 18 tahun.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin yang menghadiri pertemuan akan memeriksa proposal tersebut, “Saya akan membawa rekomendasi ini ke pemerintah,” ujarnya dikutip dari channelnewsasia.com

Dia juga berharap pada saat pertemuan. “Kongres ini berhasil memperjuangkan keadilan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki,” harapnya.

Diantara fatwa yang dikeluarkan, salah satunya ialah memperjuangkan wanita yang dilecehkan secara seksual, dan melawan kerusakan lingkungan di negara yang setiap tahun terjadi kebakaran besar yang dilakukan secara ilegal dan menghancurkan sebagian besar hutan hujan.

Fatwa memang dikeluarkan secara teratur di Indonesia, tapi dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang didominasi oleh laki-laki.

Sementara Dewan Ulama mengeluarkan keputusan tentang perlindungan lingkungan, ini cenderung berfokus pada topik keagamaan, seperti dekrit melawan penghujatan. Ini jarang menangani masalah yang mempengaruhi wanita.

Merawat Mangrove, Ajang Mengedukasi Masyarakat Pentingnya Merawat Pesisir Pantai Cirebon

Tidak ada komentar

Senin, 24 April 2017

Cirebon, Setaranews.com – Sejumlah pelajar, mahasiswa, warga, pegiat Komunitas Lingkungan serta Mapala Ciayumajakuning masih antusias menyambut Hari Bumi meski sudah lewat pada 22 April lalu.

Tapi, acara yang diselenggarakan oleh Sanggar Lingkungan Hidup yang bertemakan “Merawat Mangrove” pada Minggu 23 April 2017 di Pesisir Desa Jadimulaya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon ini mendapat antusias dari berbagai kalangan dan usia. Peserta yang hadir mencapai 200 orang.

Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang hari ini berhasil menanam 1000 pohon mangrove. Meski cuaca cukup panas dan medan yang berlumpur, tidak serta merta membuat semangat pengunjung menurun. “Sebenarnya, karena saya anggota baru di mapala (mahasiswa pecinta alam) jadi seneng banget bisa ikut penanaman ini, salah satu ajang silaturahmi juga dengan yang lainnya,” ujar Serliyawati dari Mapala Karmapala Bobos Cirebon pada Setaranews.com saat ditemui seusai acara, Minggu (23/4).

Meski telah rutin dilakukan proses rehabilitasi mangrove di kawasan Pantai Jadimulaya oleh beberapa kalangan saja, tapi kali ini massa yang berniat untuk ikut andil dalam pelestarian lingkungan khususnya di Pantai Jadimulya mulai banyak direspon.

”Semakin banyak kita memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya merawat pesisir pantai di Cirebon semakin kita berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan lingkungan secara nyata,” Ucap Cecep Supriatna selaku Ketua Pelaksana.

Baca Juga: Perjal Menyambut Fajar dan Sanggar Lingkungan Hidup Gelar Acara Reruat Bumi

Perjal Menyambut Fajar dan Sanggar Lingkungan Hidup Gelar Acara Reruat Bumi

1 komentar
Cirebon, Setaranews.com – Perpustakaan Jalanan (Perjal) Menyambut Fajar menggelar acara dengan tajuk “Reruat Bumi (Bumi, Manusia, Buku)” dalam rangka memperingati Hari Bumi setiap tanggal 22 April serta Hari Buku setiap tanggal 23 April.

Perjal Menyambut Fajar bekerja sama dengan Sanggar Lingkungan Hidup untuk memperingati esensi dari Hari Bumi yang telah memberikan kehidupan bagi manusia.

Bertempat di Alun-Alun Palimanan, Kabupaten Cirebon pada tanggal 22 April 2017 tersebut dimeriahkan dengan kegiatan pembacaan puisi, tari tradisional, musik tradisional, seni pencak silat, kosidah, perpustakaan keliling dan masih banyak lagi.

Selain itu, acara tersebut mendapat antusias dari warga setempat serta penonton dari berbagai kalangan yakni pelajar sekolah, mapala (mahasiswa pecinta alam), mahasiswa dan masyarakat umum. Bahkan untuk penampilan, penonton dapat ikut berpartisipasi dalam mengisi acara.

Acara yang semula diselenggarakan dengan swadaya oleh anggota Sanggar Lingkungan Hidup ini ternyata mendapat dukungan dari beberapa sponsor yang mendukung acara tersebut. Bahkan ada warga setempat yang merasa simpati dan memberikan makan secara cuma-cuma bagi panitia ataupun para penonton.

“Acara ini dibuat supaya orang-orang dapat memberkati rahmat bumi yang telah diberikan untuk manusia untuk lebih menjaga lingkungan dan tetap mencintai budaya. Setelah ini akan dilanjut dengan acara Merawat Mangrove di Pantai Jadimulaya Gunung Jati,” ucap Cecep Supriatna selaku Ketua Pelaksana pada Setaranews.com di sela-sela acara, Sabtu (22/4).

Esoknya, acara akan dilanjut dengan penanaman Mangrove di Pesisir Desa Jadimulya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

BEM Unswagati Hadirkan Guru Besar UI dalam Seminar Rangkaian Kegiatan Rakernas

Tidak ada komentar

Minggu, 23 April 2017

Unswagati, Setaranews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Unswagati (BEM U) yang menjadi tuan rumah Rapat Kerjasama Nasional (Rakernas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), menggelar seminar “Nasionalisme Ekonomi dan Ekonomi Rakyat” sebagai rangkaian kegiatan dari Rakernas kesepuluh.

Acara yang diselenggarakan pada Jumat 21 April 2017 di Convention Hall, Hotel Zamrud, menghadirkan Prof. Dr. Sri Edi Swasono yang merupakan Guru Besar Ekonomi di Universitas Indonesia (UI) sebagai pembicara. Dalam seminar tersebut, Edi Swasono menjelaskan dalam membangun ekonomi rakyat, pemerintah tentunya harus memahami kedaulatan rakyat.

Ekonomi kerakyatan yang mendasar pada nilai kerakyatan, tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 27 ayat (2) yakni tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, pasal 33 dan pasal 34 serta sila kelima Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tema yang diusung oleh BEM U dalam seminar kali ini masih berkaitan dengan pokok bahasan Musyawarah Nasional (Munas) BEM SI di Samarinda pada Januari 2017 silam.

“Ada pokok pembahasan, ketika di Samarinda, kebetulan fokus tentang ekonomi yang diselipi dengan pembahasan terkait BUMN. Jadi, kita ambil tema seminar secara global tentang ekonomi.” Ujar Iqbal Anand selaku Ketua Pelaksana saat ditemui oleh Setaranews.com seusai acara, Jumat (21/4).

Pada pukul 08.00 WIB, kegiatan dimulai dengan pembukaan dari Rektor Unswagati Prof. Dr. H. Rochanda Wiradinata MP lalu diskusi publik “Prospek dan Masa Depan Industri Strategis Nasional” dengan menghadirkan Rizkan Chandra, Deputi BUMN, dan Dr. H. Herman Kaheron sebagai pembicara. Dan pada pukul 13.00 WIB, seminar dimulai yang dihadiri oleh sekitar 240 peserta dari kalangan mahasiswa dan umum.

Rangkaian kegiatan Rakernas kesepuluh inipun masih akan terus berlanjut hingga 23 April mendatang.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews