Responsive Ad Slot

Inilah 4 Kategori Lulusan Wisuda Unswagati Ke-XLVII

Tidak ada komentar

Sabtu, 15 April 2017

Unswagati, Setaranews.com - Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon adakan Wisuda ke-XLVII (47) di Auditorium Kampus Utama Unswagati. Wisuda Tahun Akademik 2016/2017 tersebut berlangsung pada Sabtu, 15 April 2017 dan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama yang berlangsung sejak pukul 07.30-11.00 WIB telah meluluskan sebanyak 348 wisudawan dan wisudawati.

Lulusan dalam Wisuda ke-47 dikategorikan menjadi empat jenis, yakni lulusan terbaik Dian Aviyanti (Fakultas Hukum/Ilmu Hukum), Winna Nur’afni (Fakultas Ekonomi/Akuntansi), Siti Namiatul M (FKIP/Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Sri Mulya (FKIP/Pendidikan Bahasa Inggris), Edward Wijaya (FISIP/Ilmu Komunikasi), Titin Nurhotimah (Fakultas Pertanian/Agroteknologi), Liani Dwi Utari (Fakultas Teknik/Teknik Sipil), Muh. Hashbi Trijati W. D. (Fakultas Kedokteran/Profesi Dokter).

Kemudian, lulusan termuda Putri Diah Pratiwi (FKIP/Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), lulusan tertua Iwan Radiawan (Fakultas Teknik/Teknik Sipil) dan lulusan tercepat Moh. Khory Alfarizi (Fakultas Ekonomi/Akuntansi).

Edward Wijaya, lulusan terbaik FISIP program studi Ilmu Komunikasi berikan pesan bagi mahasiswa yang masih aktif kuliah agar bisa menjadi seperti dirinya. "Terus semangat, kerjain tugas yang dikasih sama dosen, jangan jadi mahasiswa yang apatis belajar dengan giat tekun dan jangan terbawa oleh paradigma-paradigma yang salah dan ikuti semua aturan-aturan dikampus," ujarnya seusai acara.

Kemudian, acara wisuda akan dilanjut pada sesi kedua yang akan berlangsung sejak pukul 13.00-16.30 WIB di Auditorium Kampus Utama Unswagati, dan akan meluluskan 349 wisudawan dan wisudawati.

 

Berita Lainnya: Rektor: Wisuda Ke-47 Ini Istimewa

Rektor: Wisuda Ke-47 Ini Istimewa

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon kembali gelar Wisuda ke XLVII (47) di Ruang Auditorium Unswagati, pada Sabtu (15/4). Sidang terbuka wisuda juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Prof. Intan Ahmad Ph.D  yang mewakili Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Unswagati meluluskan 697 wisudawan yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama di mulai sejak pukul 07.30 WIB-11.00 WIB dengan meluluskan 348 wisudawan/wisudawati, dan sesi kedua dimulai sejak pukul 13.00 WIB-16.30 WIB nanti dengan meluluskan 349 wisudawan/wisudawati.

“Wisuda kali ini bisa dibilang istimewa, karena dihadiri pejabat publik. Wisuda adalah sebuah momen pelantikan bagi para lulusan, karena lulusan inilah yang menjadi faktor keberlanjutan bagi perguruan tinggi,” ujar Rektor Unswagati, Rochanda Wiradinata kepada rekan media saat konferensi pers di Ruang Rapat Rektor, Senin (15/4).

Jumlah lulusan untuk Fakultas Hukum sebanyak 24 wisudawan/wisudawati, Fakultas Ekonomi 54 wisudawan/wisudawati, FKIP 452 wisudawan/wisudawati, FISIP 20 wisudawan/wisudawati, Fakultas Pertanian 44 wisudawan/wisudawati, Fakultas Teknik 30 wisudawan/wisudawati, Fakultas Kedokteran 28 wisudawan/wisudawati, dan Program Pascasarjana sebanyak 45 wisudawan/wisudawati.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Intan Ahmad Ph.D menyampaikan kepada para wisudawan untuk siap dalam menghadapi tantangan setelah lulus dari perguruan tinggi, “Untuk sukses di masyarakat tidak ada rumusnya. Harus siap dengan tantangan di dunia nyata, kalau secara akademik kalian pasti sudah cukup yang diperoleh dari Unswagati,” ujarnya dalam sambutan.

Aksi Mega Proyek DAK 96 M Kembali Dibubarkan Kepolisian

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com – Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Cirebon kembali menyuarakan aspirasinya terkait polemik mega proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) 96 miliar dengan melakukan long march dari Kampus Utama Unswagati menuju Kejaksaan Negeri (Kejari) Cirebon.

Massa aksi masih dengan tuntutan yang sama yaitu menuntut pernyataan sikap Kejaksaan Negeri (Kejari) dalam mengawal kasus DAK 96 miliar yang saat ini belum diusut tuntas.

“Tujuan kita baik, kami meyakinkan kasus korupsi di Cirebon bukan hanya ini (kasus DAK, red) jadi kita hanya mempertanyakan kinerja dari Kejari ini selaku lembaga penegak hukum bagaimana kerjanya, sangat disayangkan sekali,” kata Temon perwakilan massa aksi yang ditemui setaranews.com, Kamis (13/4).

Aksi long march yang dilakukan mengalami chaos dengan aparat kepolisian, seperti halnya aksi ketika minggu lalu, dan pada akhirnya massa aksi tidak sempat menuju kantor Kejari. Pihak kepolisian mengklaim bahwasanya aksi tersebut telah menggangu ketertiban umum, sehingga mahasiswa dibawa menuju kantor Polres Cirebon Kota.

“Kita kepolisian punya wewenang untuk memberhentikan aksi apabila mengganggu ketertiban,” jelas Kapolresta Cirebon, Adi Vivid AB, di kantor Polres Cirebon Kota.

Kontra dengan statement yang dikeluarkan oleh Kapolresta Cirebon, Arif perwakilan massa aksi yang lain memaparkan bahwasanya aksi yang dilakukan tidak mengganggu ketertiban.

“Mereka (kepolisian, red) bilang bahwa massa aksi mengganggu ketertiban. Padahal tadi saya lihat lalu lintas tetap berjalan, tidak macet total dan barisan aksi tidak ada yang vandal dan ribut, aman terkendali,” paparnya.

Lebih lanjut, menurut Arif saat membubarkan massa aksi, kepolisian tidak melakukan negosiasi terlebih dahulu dan langsung melakukan penyerobotan dengan diikuti tindakan kekerasan serta pencidukan. “Tindakan dari kepolisian langsung serobot, tidak ada negosiasi, ada yang langsung dipukul, diludahi dan diomong kasar. Massa aksi dipukul mundur di Wahidin, setelah itu diangkut ke polres,” tutupnya. (Hashbi/Fiqih)

Massa Aksi Nilai Kepolisian Melakukan Tindakan Represif

Tidak ada komentar

Jumat, 14 April 2017

Cirebon, Setaranews.com –  Aparat Kepolisian Polres Cirebon Kota Kembali melakukan tindakan represifitas terhadap para demonstran, hal ini terjadi ketika Aliansi Mahasiswa Cirebon (AMC) tengah melakukan aksi demonstrasi pada Kamis 13 April 2017 yang menuntut Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk segera meningkatkan proses hukum atas dugaan korupsi Mega Proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) 96 Miliar dan segera memberikan progres hukumnya.

Hal itu disampaikan oleh Arif, salah satu peserta aksi yang menilai tindakan Kepolisian kepada massa seperti memukul, mengeluarkan kalimat kasar dan diludahi merupakan tindakan yang represif. "Menyampaikan pendapat di depan umum itu sudah dilindungi  konstitusi dan dijamin oleh UUD 1945. Dengan tindakan represif tersebut keploisian justru bertentangan dengan konstitusi dan menciderai pilar-pilar demokrasi. Wajar saja jika kami melawan. Karena memang kesewenang-wenangan yang kami lawan," tegas Arif kepada setaranews.com.

Arif pun menambahkan, bahwa aksi yang dilakukan sudah melalui Prosedur dan Tahapan (Protap) dari kepolisian. Menurutnya, pihak kepolisian hanya mencari-cari alasan untuk membubarkan aksi tersebut yang justru melanggar Protap dan konstitusi. Pada saat aksi berlangsung terjadi negoisasi antara aparat kepolisian dan massa aksi, namun tidak lama setelah negosiasi datang aparat kepolisian berseragam lengkap langsung membubarkan aksi unjuk rasa tersebut.

"Alasannya sangat klasik, yaitu mengganggu ketertiban umum. Padahal kami sudah tiga hari sebelumnya sudah mengirimkan surat pemberitahuan aksi.  Wajar saja kalau kemudian jalanan jadi ramai, dan tugas polisi ya memastikan agar lalu lintas tetap berjalan lancar, itulah fungsi dari pada adannya pemberitahuan aksi," pungkas Arif pasca aksi berlangsung.

Sebelumnya, massa aksi berkumpul di depan kampus satu Unswagati sebelum bergerak menuju  kantor Kejaksaan Negeri (Kejari), massa melakukan orasi dan bakar ban untuk menyuarakan aspirasi sekaligus mengajak mahasiswa untuk bergabung dalam barisan aksi. Kemudian setelah itu, massa aksi melakukan long march menuju kantor Kejari yang berada di Jl. Wahidin.

Sesampainya di Lampu Merah Gunung Sari, massa berhenti membentuk lingkaran sambil membakar ban dan melakukan berbagai orasi. “Api dari ban yang terbakar ini merupakan simbol amarah kami sebagai rakyat kota cirebon. Keringat kita tidak seberapa ketimbang keringat jutaan rakyat yang diperas dan dibajak uangnya,” teriak salah seorang orator tepat ditengah-tengah masa aksi.

Sampai berita ini diturunkan, pihak kepolisian tidak dapat dimintai keterangan.

 

 

Berita Lainnya: Lambat Menangani Dugaan Korupsi DAK 96 M, Aliansi Mahasiswa Kembali Sambangi Kejari Kota Cirebon 

 

Lambat Menangani Dugaan Korupsi DAK 96 M, Aliansi Mahasiswa Kembali Sambangi Kejari Kota Cirebon

1 komentar
Cirebon, Setaranews.com – Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Cirebon (AMC) kembali menyuarakan aspirasinya dengan melakukan Aksi Long March menuju  Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cirebon terkait dugaan korupsi mega proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) 96 Miliar yang sudah diduga adannya indikasi kerugian negara di dalamnya.

Sebelum menuju Kejari, massa aksi melakukan orasi dan membakar ban di depan Kampus Utama Unswagati untuk memberitahukan sekaligus mengajak mahasiswa untuk masuk dalam barisan aksi mengusut tuntas kasus DAK 96 M.


Hotman, salah seorang perwakilan Massa aksi menilai bahwasanya Kejari Kota  Cirebon lambat dalam penangananan kasus tersebut. Padahal sudah hampir sebulan Kejari memberikan pernyataan bahwasannya mega proyek tersebut diduga ada unsur - unsur merugikan keuangan negara. Dia pun mengatakan bahwa aksi ini untuk mengingatkan Kejari untuk meningkatkan proses hukum. Pasalnya, beberapa kasus koruspi di Kota Cirebon tidak sedikit berahir dengan ketidak jelasan. Jangan sampai  kasus mega proyek DAK 96 M pun mengalami hal yang sama.


“Kami nilai Kejari Kota Cirebon loyo dalam menegakkan hukum, maka dari itu kami mendesak Kejari untuk meningkatkan proses hukum  dalam menanggapi kasus mega proyek DAK 96 M yang sudah jelas adannya indikasi korupsi, dan kami juga menuntut Kejari untuk mentrasparansikan progres hukum terkait dugaan penyimpangan dalam proyek ini,” ungkapnya saat ditemui setaranews.com, Kamis (13/4).


Selain itu, Arif, yang juga salah satu massa aksi mengungkapkan bahwa Kejari harus sigap dalam melakukan proses hukum. Pasalnya, menurut dia, tidak ada alasan bagi Kejari untuk tidak menindaklanjuti yang dimana dalam pelaksanaan pembangunan Proyek tersebut Kejari pun bertindak sebagai Tim Pengawal Percepatan Pembangunan Daerah.


"Dari awal ikut kok jadi pengawal yang bertugas memastikan agar tidak terjadi pembangunan yang menabrak regulasi. Kalo diam saja, berarti Kejari sudah melanggar intruksi presiden dan juga bertentangan dengan konstitusi. Karena tugas pokok Kejari sesuai dengan amanahnya yaitu sebagai corong pemberantasan korupsi dan penegakan hukumnya, dan kami siap mengawalnya sampai tuntas" pungkasnya.


Massa aksi kembali membakar ban dan membentuk lingkaran besar tepat di perempatan lampu merah gunung sari dengan diiruingi  berbagai orasi yang diluapkan oleh massa aksi, hal ini kembali memicu aparat kepolisian untuk mengklaim bahwasannya massa aksi telah mengganggu ketertiban umum," Kita kepolisian punya wewenang untuk memberhentikan aksi apabila mengganggu ketertiban,” jelas Kapolresta Cirebon Adi Vivid AB, di kantor Polres Cirebon Kota.


Akhirnya massa aksi kembali diamankan oleh aparat kepolisian dan di bawa menuju Polres Kota Cirebon.


Berita lainnya: Penyimpangan DAK 96 M, Aliansi Mahasiswa Unswagati Lakukan Aksi

Rencana Yayasan Terkait Pembangunan Kampus Unswagati

Tidak ada komentar

Kamis, 13 April 2017

Unswagati, Setaranews.com - Pembangunan infrastruktur Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) sedang dalam proses pengerjaan. Berkualitasnya suatu kampus dilihat dari berbagai aspek, salah satunya pengembangan Sumber Daya Manusia yang baik, fasilitas perkuliahan yang lengkap, tenaga pengajar yang berkualitas, dan lingkungan kampus yang nyaman.

Proyek yang sedang digarap untuk tahun ini adalah pembangunan ruang kuliah di Kampus Utama Unswagati, yang rencananya September 2017  sudah selesai. Alokasi dana untuk pembangunan di Kampus Utama sebesar 12 Miliar rupiah, diantaranya 7 Miliar dari Mahasiswa dan sisanya dari kegiatan uang yayasan.

Tidak hanya pembangunan ruang kuliah, pihak Yayasan pun sedang membangun kantor khusus yayasan di Rusunawa Unswagati yang berada di Jalan Bypass Brigjen Dharsono Cirebon. Jika pembangunan di Kampus utama sudah rampung, maka akan dilanjut dengan pembangunan kampus  IV untuk Fakultas Kedokteran dan Kampus II yang berada di Jalan Perjuangan.

"Meskipun faktor cuaca yang kurang mendukung dalam pembangunan kali ini, tetapi tidak menyurutkan semangat para pekerja untuk terus mengerjakan proyek ini. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang dalam pembangunan ini, karena itu kan lahannya juga tidak terlalu padat,jadi tidak butuh waktu lama. Tapi kalau dilihat dari segi kualitas, sudah bagus kok," ujar Suherli selaku Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSGJ) kepada setaranews.com pada Senin (10/04).

Pihak Yayasan pun mengharapkan pada 2020 sudah memiliki tanah 20 hektar. “Semoga ke depan kami dapat mengembangkan lahan yang 20 hektar yang akan kami siapkan, kemudian akan dibuat Sekolah Tinggi namun tetap di bawah yayasan. Tahun 2020 paling tidak kita sudah punya tanah terhampar supaya tidak tercecer lagi dan koordinasinya mudah,” tambahnya. (Riska)

 

Kedatangan Wagub Jabar, Mahasiswa Unswagati Gelar Aksi

Tidak ada komentar

Rabu, 12 April 2017

Unswagati, Setaranews.com - Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon gelar aksi terkait kedatangan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar di Kampus utama Unswagati pada Selasa (11/4). Kedatangan Dedi yang dirasa mahasiswa sangat mendadak ini mengundang pertanyaan dan kecurigaan besar. Mahasiswa beranggapan bahwa kedatangan Dedi Mizwar hanya untuk mencari dukungan terkait rencana pencalonannya di Pilgub Jabar 2018.

”beliau kesini tanpa ada pemberitahuan dan wacana apapun. Kami tidak ingin kampus kami di politisir karena tahun ini adalah tahun riskan, tahun politik. Untuk itu tidak mungkin seorang pejabat daerah datang ke Unswagati tanpa ada maksud dan tujuan”. Ujar Ilham salah satu masa aksi.

Mahasiswa mendesak Dedi Mizwar untuk memberikan penjelasan terkait tujuan kedatangannya. “Kami selaku mahasiswa unswagati meminta Bapak. Dedi Mizwar mengklarifikasi terkait kedatangannya di Unswagati. Kami selaku mahasiswa berhak tahu tujuan Bapak Dedi Mizwar datang ke Unswagati untuk apa, hanya itu”. Lanjutnya

Namun, keinginan mahasiswa untuk mempertanyakan hal tersebut tidak ditanggapi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat dan mendapatkan hadangan dari petugas keamanan kampus. Masa aksipun membubarkan diri selepas Dedi Mizwar meninggalkan Unswagati. (Felis)
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews