Responsive Ad Slot

Terkait Komitmen Tak Ikut "Nyapres" 2019, Ini Jawaban Masing-Masing Paslon

Tidak ada komentar

Sabtu, 14 Januari 2017

Nasional, Setaranews.com – Debat perdana Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta 2017 diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Jumat (13/01) di Hotel Bidakara, Jakarta. Debat perdana kali ini  berisikan rentetan pertanyaan dari masing-masing calon yang diajukan kepada calon lainnya. Menariknya, dipenghujung acara debat terdapat satu pertanyaan yang berasal dari moderator, Ira Koesno. Dia bertanya kepada seluruh calon terkait pencalonan presiden pada 2019 nanti.

“Apakah jika terpilih dalam Pilkada DKI Jakarta, tidak akan tergiur untuk maju sebagai Capres atau Cawapres di tahun 2019,” Tanya moderator kepada masing-masing calon, seperti dikutip melalui www.republika.co.id, Jumat (13/01).

Terkait pertanyaan tersebut, Pasangan Calon (Paslon) nomor urut tiga, Anis Baswedan dan Sandiaga Uno menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan masa jabatannya menjadi pemimpin DKI Jakarta.

“Saat kami mendapatkan tugas menjadi cagub DKI Jakarta maka ini adalah amanat untuk dituntaskan dan amanat dari Pak Prabowo dan Sohibul Iman adalah memimpin Jakarta tuntas 5 tahun,” jawabnya, seperti dikutip melalui www.tempo.com, Jumat (13/01).

Kemudian disusul oleh jawaban Paslon nomor urut satu, Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni mengungkapkan akan tujuan awalnya untuk maju sebagai calon pemimpin DKI Jakarta, “Saya pikir sudah jelas kami fokus strategi memenangkan Pilgub Jakarta dan kami mau didengar oleh rakyat bahwa program kami benar-benar jadi slousi bagi masyarakat Jakarta,” ungkap Agus, dikutip melalui www.tempo.com, Jumat (13/01).

Sementara itu, Paslon nomor urut dua Basuki Thajha Purnama alias Ahok hanya tertawa yang kemudian dijawab oleh wakilnya Djarot, “Kami ingin jadikan Jakarta Ibu Kota yang bisa dibanggakan Republik ini. Oleh karena itu pekerjaan belum selesai, kami ingin lima tahun lagi mengabdi untuk Jakarta," Pungkasnya seperti dikutip dari www.tempo.com, Jumat (13/01).

Kembali Terpilih, Ketua BEM-FT Akan Perbaiki Kinerja Kepengurusan

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM-FT) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, baru saja melakukan reshuffle kepengurusan dan telah menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dalam Musyawarah Besar (Mubes) Fakultas Teknik, Jumat (13/1) di ruang kelas Teknik Sipil.

BEM-FT yang dipimpin kembali oleh Alif Hamdilah P. telah melakukan evaluasi kerja dalam kepengurusannya dan akan melakukan perbaikan. “saya akui pada kepengurusan BEM-FT kemarin banyak sekali kekurangan, itu salah satu motivasi saya kenapa  ingin menjabat lagi yaitu untuk memperbaikinya, langkah selanjutnya adalah membangun hubungan ormawa atau internal BEM-FT dengan pihak dekanat, kemudian meningkatkan  kapasitas sumber daya manusia dengan banyak melakukan diskusi atau kajian-kajian yang nantinya mereka siap untuk fokus pada advokasi mahasiswa.” ujarnya saat ditemui setaranews.com disela-sela Mubes berlangsung, Jumat (13/1).

Selama ini peran BEM-FT belum dirasa ada perubahan yang signifikan terhadap kondisi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan mahasiswa fakultas teknik. Hal tersebut dikeluhkan oleh Deri Tadarus salah satu mahasiswa FT yang juga mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) dua tahun lalu, menurutnya kinerja BEM-FT saat ini belum dirasakan oleh kalangan mahasiswa dan Ia pun merasa kecewa terkait kegiatan KBS (Kemah Bakti Sosial) yang sampai saat ini belum terlaksana.

“Sebuah organisasi dikatakan sukses apabila bisa mencapai tujuannya, dengan merealisasikan program kerja yang direncanakan. Sangat disayangkan KBS Fakultas Teknik sendiri belum bisa dilaksanakan, kalaupun KBS tidak bisa dilaksanakan yang penting adalah esensiya bisa tersampaikan kepada mahasiswa baru. Esensi dari KBS itu apa?, kan bisa saja digantikan dengan kegiatan lain” Keluhnya.

Namun, saat setaranews.com menanyakan perihal pelaksanaan KBS kepada Ketua BEM-FT, Alif menjawab bahwasanya BEM-FT sudah mengadakan audiensi dengan Dekan sebelumnya, “kita sudah melakukan dialog dengan dekan, dan begitupun dengan teman-teman yang lain. Hanya saja tanggalnya belum kita tetapkan.” Jawabnya, Jumat (13/1).

Tidak hanya permasalahan KBS yang sampai saat ini belum terlaksana, melainkan Alif pun menyesali perihal kegiatan PKKMB-FT (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) yang dikendalikan oleh pihak fakultas, sedangkan hal ini tidak terjadi di fakultas lain.

Fakultas Teknik Telah Adakan Musyawarah Besar

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Fakultas Teknik (FT) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon telah melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes), yang melibatkan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), mahasiswa teknik, dan alumni pada jumat (13/1) di ruang kelas teknik sipil.

Tujuan diselenggarakannya mubes tersebut, sebagai upaya evaluasi Ormawa teknik untuk melakukan perubahan-perubahan pada kepengurusan berikutnya. Adapun rangkaian acaranya yaitu pembahasan regulasi aturan organisasi kemahasiswaan Fakultas Teknik dan laporan pertanggung jawaban dari BEM-FT, DPM-FT, dan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS).

Mubes yang bertemakan "Membangun Pola Pikir Yang Kritis dan Inovatf Serta Berintegritas Tinggi" ini diharapkan agar Ormawa yang ada di lingkungan FT mampu berjalan lebih baik lagi. “dilaksanakan setiap akhir periode kepengurusan DPM fakultas teknik, semoga ormawa bisa menjalankan sesuai dengan apa yang disepakati bersama untuk organisasi mahasiswa fakultas teknik lebih baik lagi.” ujar Lukman Nurkarim, selaku Ketua Pelaksana yang juga anggota Komisi IV DPM-FT yang menangani bagian aspirasi mahasiswa, Jumat (13/1).

Kegiatan yang dimulai pada pukul 14.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB, menghasilkan keputusan bahwa aturan organisasi kemahasiswaan Fakultas Teknik ditangguhkan sampai satu bulan setelah surat keputusan dekan turun untuk kepengurusan periode saat ini.

Maraknya Pungli, Walikota Cirebon Kukuhkan 65 Orang Pemberantasan Pungli

Tidak ada komentar

Jumat, 13 Januari 2017

Cirebon, Setaranews.com – Maraknya aksi pungutan liar atau dikenal pungli membuat pemerintah kota Cirebon melakukan tindakan tegas. Salah satunya, walikota Cirebon telah mengukuhkan 65 orang yang tergabung dalam tim unit pemberantasan pungli. Kepengerusannya berasal dari Instansi Pemerintah, Kedinasan terkait, Kepolisian, Satpol PP, Kejari dan Akademisi, telah dikukuhkan pada Jumat, 13 Januari 2017 di Ruang Adipura Balaikota Cirebon.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua DPRD, Forkopimda, Pimpinan Instansi Vertikal, Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Para Assisten dan Staf Ahli, para Kepala Perangkat Daerah, BUMD, Camat dan Lurah se-Kota Cirebon.

Sesuai dengan Keputusan Walikota Cirebon Nomor : 700/Kep.67-IRDA/2017, tanggal : 12 Januari 2017 dan berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 87 Tahun 2016 tentang satuan tugas sapu bersih pungutan liar dalam pasal 8 yang menyebutkan bahwa pemerintah daerah melaksanakan pemberantasan pungutan liar di lingkungan kerja masing-masing dengan membentuk unit pemberantasan pungli. Surat ketua pelaksana Satgas Saber Pungli Provinsi Jawa Barat Nomor : B/05/XI/2016/SATGAS SABER PUNGLI tanggal 25 November 2016 tentang pembentukan Satgas Saber Pungli Tingkat Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat.

“Dikukuhkannya Tim Saber Pungli atau Unit Pemberantasan Pungli Pemerintah Daerah Kota Cirebon bertujuan untuk mengatasi masalah pungli yang kini menjadi sorotan masyarakat,” ujar walikota Cirebon, Drs. Nasrudin Azis, SH dalam sambutannya dikutip dari laman resmi pemerintah kota Cirebon.

Lanjutnya, saber pungli merupakan upaya pencegahan yang efektif dalam mengendalikan pungutan liar atau dapat diminimalisir dan ditiadakan.

“Masalah saber pungli merupakan upaya pencegahan dari pemerintahan pusat kepada para pejabat atau para pelaksana pemerintah di seluruh daerah dan hal ini tentunya kita harus merespon positif dan semangat, dikarenakan hal ini merupakan cara efektif untuk mengendalikan pungutan liar atau dapat diminimalisir dan kalau perlu ditiadakan,” ujarnya lagi.

Kemudian Solusi dari pemerintah saat ini terkait pungli adalah akan melakukan sosialisasi melalui media termasuk menginformasikan besaran biaya dalam pengurusan apapun.

“Karena pungli juga timbul dari masyarakat yang tidak mau menunggu dan mengurus segala sesuatunya. Bukan hanya pegawainya yang disadarkan akan tetapi masyarakat pun perlu disadarkan juga,” tambahnya.

Adapun tugas yang diemban Unit Pemberantasan Pungli adalah sebagai berikut :

  1. Membangun sistem pencegahan dan pemberantasan pungli.

  2. Melakukan pengumpulan data dan informasi dari pihak terkait dengan menggunakan teknologi informasi.

  3. Mengkoordinasikan, Merencanakan, dan Melaksanakan operasi pemberantasan pungutan liar.

  4. Melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

  5. Memberikan rekomendasi kepada pimpinan untuk memberikan sanksi kepada pelaku pengutan liar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

  6. Monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pemberantasan pungutan liar pada pemerintah Kota Cirebon.


 

 

HMJM Siapkan Tiga Program Kerja Utama

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Terpilihnya Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati), Gugun Gunawan yang telah menang dalam Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas Ekonomi untuk Periode 2016/2017. Mahasiswa Jurusan Manajemen Semester III ini telah ditetapkan sebagai Ketua pada 27 Desember 2016 yang bertempat  di Auditorium Unswagati.

Gugun Gunawan telah mempersiapkan sederet Program Kerja HMJM yang akan dilaksanakan dalam kepengurusan yang dipimpin olehnya, diantaranya adalah Futsal Cup, Bisnis Plan, dan Kuliah Umum. Ketiga program ini menjadi program utama yang akan direalisasikan di samping program kerja lainnya yang akan diajukan dari aspirasi anggota."Saya optimis dengan kepengurusan sekarang sebab dari jumlah pengurus yang ada sudah memenuhi baik dari anggota baru ataupun anggota lama untuk berpartisipasi di dalamnya melanjutkan roda organisasi HMJM," ujarnya kepada setaranews.com pada Senin (09/01).

Selain itu pada akhir Januari mendatang akan ada proses lanjutan untuk Open Recruitmen bagi Calon Anggota baru HMJM untuk lebih menyempurnakan masa kepengurusannya. Gugun pun mempunyai strategi untuk lebih mengakrabkan dan menjaga hubungan antar anggota dengan cara berdiskusi rutin dengan membahas isu terkini bersama anggotanya.

“Beberapa masukan dari yang lain bahwa penilaian mereka terhadap anggota HMJM itu cenderung cuek, maka saya juga akan membiasakan anggota saya untuk lebih bersikap ramah kepada siapapun agar nilai kekeluargaan bisa tumbuh,” tutupnya.

Opini: Mengkritisi Penguasa Kampus

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Di jaman yang sudah tertumpuknya berbagai macam masalah, kejadian yang berangkat dari ketidakbernalaran, penindasan, sehingga berdampak terjadinya dehumanisasi. Degradasi kesadaran seakan mengikis sikap kritis serta sikap skeptis terhadap sesuatu. Manusia tidak hanya bereaksi dengan cara refleks layaknya binatang, tapi memilih, menguji, mengkaji dan mengujinya kembali sebelum melakukan tindakan. Ketika manusia menelan bulat-bulat apa yang didapatnya tanpa adanya proses dialek yang dinamis maka subjek tersebut hanya membuat alam ini sesak dengan keberadaannya.

Manusia bukan makhluk pasif, manusia dianugerahi kemampuan yang bisa merefleksikan semua kejadian (mengkaji) sebelum melakukan tindakan dan manusia dibekali kebebasan yang tentu tidak merenggut kebebasan orang lain. Semua dilakukan di dalam kerangka memanusiakan manusia. Manusia ditempa sesuai latar belakang dan lingkungan serta proses pendidikannya.

Paulo Freire mengutarakan bahwa pendidikan merupakan proses pembebasan, murid bukan bejana-bejana untuk menampung semua yang dikatakan pengajar. Dari pernyataan di atas kita sama-sama sadar dan mengamini kejadian tersebut masih berlangsung di sekitar kita. Pendidikan hanya rutinitas agar kita terlihat sama dengan yang lainnya karena pada dasarnya manusia tidak ingin terlihat berbeda.

Rutinitas yang dimaksud adalah proses pengisian bejana-bejana, mahasiswa diibaratkan sebagai bejana yang diisi oleh dosen. Ketika bejana terisi penuh oleh ‘air’ dari dosen dengan demikian mahasiswa menjiplak dari dosen, penulis menilai bahwa walaupun terjadi dialektika dalam proses transformasi ilmu pengetahuan, itu hanya sebatas dialektika semu karena kompetensi yang dihasilkan sama, tidak beranjak untuk mencari kebenaran lain.

Kalau di atas menulis tentang esensi dari kondisi ideal pendidikan, pertanyaannya bagaimana kita akan fokus terhadap akademis jika lembaga pendidikannya selalu bermasalah? kampus kita tercinta (katanya, semoga cintanya tak membutakan) banyak sekali hal-hal dalam pelayanan yang sangat kurang, sebagai contoh kecil adalah ribetnya mengakses informasi tentang kuliah, sarana prasarana dan tetek bengek lainnya.

Bagaimana kita sebagai insan akademika akan memikirkan hal yang lebih penting ketika hal remeh seperti itu saja masih saja menghambat? Sebenarnya masih banyak lagi yang mau penulis ungkap tentang kritik ini, tapi penulis lebih tertarik mengkaji akar dari permasalahan tersebut.

Ketika penyelenggara pendidikan menyamakan bahwa pendidikan adalah barang jual, serta mahasiswa adalah konsumen, sehingga mereka menekan biaya produksi untuk meraih keuntungan yang besar. Berarti semua sudah berada diambang ketidaknormalan. Jelas tercantum dalam tujuan berdirinya negara ini  yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa bukan meraup untung sebesar-besarnya.  Karena kalau ditilik dari permasalahan kampus ini, penulis berasumsi poros permasalahannya ada dikurangnya sumber dana untuk menunjang kegiatan perkuliahan. Jika penyataan penulis salah, wajar saja karena penulis tak mengetahui karena tak adanya transparansi yang digagas oleh pihak pengelola ke mahasiswa.

Tiap pergantian tahun akademik biaya masuk terus melonjak tapi keadaan masih sama, tak ada perubahan, yang mengeluh tetap mengeluh, yang untung tetap untung.

Manusia adalah makhluk yang berelasi dan disetiap relasi (apapun) selalu ada yang namanya kekuasaan. Kekuasaan adalah hal yang bisa mempengaruhi segala sesuatu, bisa menembus moral, ketidakbernalaran, kegilaan dan sebaliknya kekuasaan juga bisa menciptakan kondisi yang adil. Seolah-olah kekuasaan dipengaruhi oleh subjek yang mendudukinya, tapi sebenarnya kekuasaanlah yang mempengaruhi subjek, jika dibenturkan oleh permasalahan kampus kita, kekuasaanlah yang mempengaruhi kondisi saat ini.

Hal terbaik yang saat ini harus dilakukan adalah menjalankan fungsi sesuai koridor dan perannya masing-masing, mahasiswa dengan sikap kritisnya dan penguasa dengan sikap kebijaksanaannya serta tidak menggunakan logika bisnis. Bersatu dalam tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bingkai humanisme yang tidak adanya penghisapan dan penindasan didalamnya.

Penulis: Reja Fauzi

Diam Dalam Keabadian

Tidak ada komentar

Kamis, 12 Januari 2017

Aku berdiri


Kau suruh duduk


Aku bernyanyi


Kau paksa Aku meringkuk


Aku diam, Kau tampar

Aku berteriak


Kau paksa Aku menutup mulut


Aku berlari


Aku kau pasung kedua kaki


Aku diam, Kau hajar


Aku mengkritik


Kau sangka Aku mencemarkan nama baik


Aku meminta bantuan


Kau curigai penghasutan


Aku diam, Kau hantam


Aku bersiap melempar


Kau tuduh Aku makar


Aku melawan


Kau tak segan memenjarakan


Aku tuntut keadilan


Kau hina Aku dengan cengengesan


Aku meronta kemanusiaan


Kau pikir Aku Anti-Tuhan


Aku Diam, Kau tikam

Silahkan, kau tampar hajar


Silahkan, Kau tikam sampai terkapar


Silahkan, sesuka maumu


Silahkan, sampai lenyap hasratmu


 

Tak akan pernah mati,


Berapapun akan berganti


Tak akan sirna


Bilangan kata  terus berlipat ganda


Aku tetap diam


Tersisa kata  tak pernah padam


Aku diam


Dan, suara itu terus bersemayam


Dalam keabadian!

 

(Al-Aziz, Cirebon, 11 Januari 2017)

Jangan Ditinggalkan, Literasi Bagian Dari Suasana Kampus!

Tidak ada komentar

Rabu, 11 Januari 2017

Opini, Setaranews.com - Sedikit celoteh jika itu memang bebas dikumandangkan, walaupun pada dasarnya penulis ataupun anda tidak memiliki kebebasan yang absolut, namun kegelisahan sangat tidak enak untuk ditahan dan dipendam. Penulis mencoba mengutarakan apa yang penulis lihat dan dengar, selebihnya itu pengalaman yang penulis lalui. Benar salahnya, mari kita berdialektika, karena dari sudut pandang penulis dan anda akan banyak perbedaan.

Melihat kondisi kampus sekarang, khususnya di habitat Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang merupakan wahana pendidikan tinggi juga merupakan jenjang pendidikan tertinggi untuk membina dan membentuk kader-kader manusia yang mandiri dan produktif, untuk selanjutnya mengaplikasikan kemampuan dirinya di masyarakat. Dalam promosinya, kegiatan kampus menjadi daya tarik dan sekaligus menjadi proses peningkatan kualitas diri setiap pelakunya.

Ada beberapa kondisi yang menjadi perhatian penulis, di mana proses kegiatan belajar mengajar yang terkesan monoton, membentuk budaya baru apatisme dan kutu gadget, di mana civitas akademika berjalan masing-masing sesuai dengan sekedar tugasnya.

Kecenderungan dalam penerapan metode yang digunakan beberapa dosen belum se-efektif yang diharapkan sehingga belum menunjang perkembangan mahasiswa. Komunikasi searah di mana dosen menerangkan dan mahasiswa menerima, lalu tidak ada feedbeck atau kesempatan membela diri bagi kalangan yang lamban dalam menangkap materi. Sedangkan, sistemnya tidak bisa di tolelir, yang dibuktikan dengan ujian di kertas satu lembar. Perbedaan peran antara dosen sebagai pengajar dan mahasiswa yang diajar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi malah menjadi sekat dalam menghidupkan suasana yang harmonis dan dinamis. Di mana budaya literasi di luar kelas sudah jarang terjadi, sedangkan kegiatan belajar mengajar hanya diberikan berdasarkan SKS yang terbatas, dan fokus pada disiplin ilmu yang digelutinya.

Kemudian, kalangan intelektual yang mengemban peran penting tri dharma perguruan tinggi yang diiringi dengan kurikulum menjadi perhatian khusus yang kiranya perlu kita renungkan. Pergeseran proses KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang merupakan salah-satu bentuk impelementasi tri dharma perguruan tinggi hanya menjadi agenda tahunan, namun esensinya sangat belum tercapai.

Kondisi tersebut penulis pikir bukan jaminan setelah lulus bisa siap berbaur dan melebur dalam dinamika masyarakat. Kalangan middle class cendikiawan, katanya, penulis pikir perlu kerja keras lagi dalam menempa dirinya untuk bisa berada di tengah persoalan masyarakat sekaligus bisa menyelesaikan permasalahannya. Hal itu tentunya perlu didukung oleh lingkungan kampus yang mampu menempatkan kedudukannya sebagai laboratorium untuk berekspresi dan berkarya.

Peran penting perguruan tinggi harus kembali pada tujuan awalnya, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa atau dalam bahasa lain, proses pendidikan tinggi akan berdampak pada kehidupan masyarakat untuk menjadi lebih baik. Jika menurut Paulo Freire, pendidikan bertujuan untuk pembebasan, atau menurut Soedjatmoko pada tegurannya kepada pelaku yang mendapatkan kesempatan di bangku kuliah seharusnya menggunakan pengetahuannya untuk membantu menyelesaikan persoalan bangsa ini. Tak kalah penting pesan dari Kihajar Dewantara, setiap orang memposisikan dirinya sebagai insan yang berguna untuk orang lain.

Civitas akademika harus mampu menciptakan kondisi kampus yang mampu mewujudkan tujuan pendidikan sebagai bentuk eksistensi terhadap pengabdiannya, terintegrasinya wadah-wadah fungsional, diikuti oleh kesadaran mahasiswa akan perannya. Serta mahasiswa juga dosen sebagai pelaku pendidikan itu sendiri untuk sama-sama berdiskusi dalam ruang yang tidak terbatas sebagai kegiatan untuk menambah kapasitas ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan itu menjadi objek percobaannya.

Ketua Umum UKM Seni dan Budaya Resmi Dilantik

Tidak ada komentar

Selasa, 10 Januari 2017

Unswagati, Setaranews.com - Setelah terpilih sebagai Ketua Umum UKM Seni dan Budaya melalui Musyawarah Anggota yang digelar pada 2-4 Desember 2016 lalu, Mayiniko akhirnya resmi dilantik. Pelantikan dilakukan bersamaan dengan Serah Terima Jabatan (Sertijab) kepengurusan periode 2015-2016 kepada 2016-2017. Acara yang digelar di Auditorium Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) pada Senin (9/1) ini pun turut dihadiri oleh Rektor Unswagati Rochanda Wiradinata dan Wakil Rektor III Dudung Hidayat.

Niko, sapaan akrab Mayiniko, sudah memiliki berbagai program kerja yang akan direalisasikan selama setahun kedepan. Kepengurusan terpilih ini akan memfokuskan pada keempat bidang yang ada di dalam UKM Seni dan Budaya, yakni bidang tari, musik, paduan suara mahasiswa dan teater, sehingga nama UKM Seni dan Budaya tidak redup melalui karya-karya yang dihasilkan dari keempat bidang tersebut. Untuk mencapai tujuan organisasi, langkah yang dilakukan Niko adalah menekankan berbagai pelatihan untuk anggota.

“Lebih ke penekanan pelatihan dulu, lalu contoh lainnya itu seperti mengisi acara wisuda karena itu merupakan salah satu langkah menghidupkan nama UKM Seni dan Budaya di pihak kampus,” tutur Niko yang juga merupakan Mahasiswa Fakultas Pertanian.

Sementara itu, Rektor Unswagati mengatakan bahwa pihak Universitas akan siap membantu untuk pengadaan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan UKM Seni dan Budaya dalam berkesenian dan berkarya. Namun, Rektor pun menghimbau kepada organisasi mahasiswa yang ada dinaungan perguruan tinggi untuk tetap mengedepankan sisi edukatif dalam melakukan kegiatan.

“Kalau memang itu dibutuhkan dan betul bisa efektif serta membawa kegiatan menjadi lebih baik, saya siap dan menganjurkan kepada para wakil rektor untuk melakukan pengadaan sekaligus. Tapi, sifatnya karena kita adalah perguruan tinggi maka harus bersifat edukatif,” ujar Rektor Unswagati saat ditemui setaranews.com setelah memberikan sambutannya pada acara Sertijab UKM Seni dan Budaya, Senin (9/1).

Lebih lanjut, Rektor Unswagati berharap untuk setiap organisasi mahasiswa dapat mengendalikan setiap acara yang dilakukan Universitas, khususnya untuk UKM Seni dan Budaya yang memang dibutuhkan perannya pada banyak kegiatan, seperti kegiatan wisuda agar mahasiswanya sendiri yang andil dalam kegiatan tersebut. “Ya seperti wisuda, jadi wisuda itu nanti protokolernya nggak usah cari-cari yang lain seperti mc dan segala macam. Dilakukan oleh mahasiswa, ormawa bagiannya,” tutupnya.

Himaptika Segera Adakan GEMA ke-32

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himaptika) kembali mengadakan GEMA (Gebyar Matematika) yang ke 32. Acara ini akan dilaksanakan pada 15-28 Januari 2017 di Kampus II Unswagati. Tema acara kali ini diambil dari sebuah lingkaran yaitu “Sambungkan Jari-jari Potensi, Arahkan Pusat Prestasi dalam Putaran Kompetisi”.

Tujuan diadakannya GEMA adalah sebagai langkah promosi bagi Unswagati dan menjadi wadah penyaluran bakat. Adapun pendaftaran GEMA dibuka pada 24 November 2016 dan akan ditutup pada 15 Januari 2016. Tahun ini GEMA menambah satu lagi perlombaan yaitu LKTIM (Lomba Karya Tulis Ilmiah Matematika),

“Biasanya di GEMA hanya dua lomba yaitu olimpiade dan cerdas tangkas, tapi untuk sekarang kita mengusung lomba yang baru yaitu LKTIM yang diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat wilayah 3 Cirebon khususnya untuk Prodi Pendidikan Matematika ataupun Matematika murni berdasarkan ketentuan umum,” ujar Kristiyanti Manalu, selaku Ketua Pelaksana GEMA pada Setaranews.com, Kamis (5/1).

Sasaran peserta GEMA meliputi semua tingkatan dimulai dari SD, SMP, SMA/SMK, dan Mahasiswa. Khususnya pada tingkat SMA/SMK, GEMA berfungsi sebagai langkah promosi terhadap Unswagati, “Kita melihat dari tahun ke tahun menurun jumlah pendaftarnya jadi kita berusaha untuk meningkatkan pada tingkat SMA/SMK.” jelas Kristi.

Bagi mahasiswa Unswagati khususnya Prodi Pendidikan Matematika diwajibkan mengikuti olimpiade dan LKTIM, “Kami sudah mengirimkan surat untuk delegasi per kelas, tujuannya agar mengaktifkan mahasiswa dari Prodi Matematika sendiri.” tambahnya.

Biaya pendaftaran bagi lomba olimpiade yaitu Rp.45.000, sedangkan untuk cerdas tangkas yaitu Rp.90.000 per tim, dan untuk LKTIM yaitu Rp.40.000.

Himaptika mengharapkan setiap daerah yang meliputi Ciayumajakuning dapat berpartisipasi dalam perlombaan tersebut dan peserta lomba dapat meningkat dari tahun ke tahun, “Kita berusaha mengupayakan dari tahun ke tahun itu pesertanya meningkat, jadi kita menargetkan 110, untuk lomba cerdas tangkas menargetkan 30 tim, sedangkan untuk LKTIM kita targetkan 50 peserta.”  pungkasnya.

Rangkaian Proker HMJAK Setahun Kedepan

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com -  Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJAK) Fakultas Ekonomi Unswagati sudah menyiapkan berbagai macam program kerja untuk satu tahun kedepan dibawah pimpinan Ketua baru, Paris S.N yang terpilih melalui Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) pada 28 Desember 2016 lalu.

Program kerja yang dibuat termasuk pada program kerja jangka panjang. Adapun divisi yang Ada di HMJAK ini ialah P&K (Penalaran dan keilmuan) dengan prokernya Olimpiade Akuntansi dan Seminar Ekonomi. Divisi Kesejahteraan Mahasiswa dengan proker Fit and propper test, bazar buku, dan sarasehan.  Divisi Mikat (Minat dan Bakat) yaitu Accounting together. Divisi Hubungan Masyarakat dengan study banding, dan company visit. Lalu, Divisi kerohanian dengan prokernya yaitu penyembelihan hewan kurban, bakti sosial dan buka bersama, serta pengajian rutin setiap bulannya.

Dalam masa kepimpinannya, Paris berharap jika HMJAK kedepannya bisa lebih baik lagi. "kami berharap kedepan lebih baik, kami juga berharap dapat lebih mengayomi Mahasiswa. Saya sih sudah dua tahun disini, Kalo dari internalnya sendiri sih sudah bagus, soalnya kekeluargaannya lebih terasa." ujarnya kepada setaranews, Sabtu (07/01).

Yuk Simak Beberapa Proker dari BEM-U!

Tidak ada komentar

Senin, 09 Januari 2017

LogoUnswagati, Setaranews.com – Kepengurusan baru Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (BEM-U)  Cirebon baru saja terbentuk. Ketua dan Wakil Ketua terpilih periode 2017-2018 yakni Surya Oktaviandy Zebua dan Windy Nurrochmanto pun telah membentuk Kabinet Andhakara dengan sejumlah program kerja (proker) yang telah tersusun.

Proker terdekat dari BEM-U sendiri ialah mengadakan pelantikan untuk anggota, dimana ini sudah terlaksana pada hari Kamis (5/1), lalu nanti disusul dengan andhakara-camp dengan konsep team building antar anggota. Selanjutnya BEM-U akan mengadakan Rapat Kerja untuk membahas program kerja yang bersifat wajib secara lebih spesifik.

“Kita akan adakan rapat program kerja, karena ada program yang sifatnya wajib dijalankan, jika nanti ada tambahan proker pun akan dipaparkan oleh masing-masing kementerian dan juga memilah-memilih proker mana yang sesuai dengan visi misi dan sekiranya rasional dijalankan,” ujar Okta pada Setaranews.com di Sekretariat BEM-U, Kampus Utama Unswagati, Rabu (4/1).

Saat ditemui, Okta memaparkan beberapa proker wajib BEM-U yang telah tersusun antara lain pembentukan kelompok diskusi, pembentukan kelompok studi bahasa asing, komunitas tukar buku, PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni), silaturrahmi Ormawa, Unswagati merangkai cita dimana ada tiga aspek di dalamnya yakni kerohanian, jasmani dan keilmuan, serta masih banyak lagi.

"Saya berharap semua teman-teman bisa bekerja lebih profesional lagi, tahun sekarang kita coba bahwa BEM-U bukan hanya milik pengurusnya, tapi milik semua mahasiswa." harapnya.

Hilangkan Bekas Jerawat Dengan 5 Bahan Alami

Tidak ada komentar
Tips, Setaranews.com - Jerawat merupakan hal yang paling tidak disukai oleh banyak orang baik pria maupun wanita, karena jerawat bisa menurunkan kepercayaan diri seseorang. Jerawat bisa tumbuh dari beberapa faktor seperti faktor keterunan, faktor Make Up, bahkan jenis kulit pun ikut mempengaruhi.

Jerawat hilang, bukan berarti permasalahan selesai. Sebab, ketika timbul jerawat pasti akan ada bekas jerawat yang menempel di wajah, dan itu akan mengurangi rasa percaya diri kita untuk melakukan aktifitas apapun.

Mempunyai kulit mulus dan bersih tanpa bekas jerawat memang menjadi idaman. Beberapa orang rela mengeluarkan biaya mahal untuk perawatan atau membeli produk kosmetik demi menjadikan wajah senantiasa terlihat mulus.

Namun, ada beberapa cara alami yang dapat dicoba untuk menghilangkan bekas jerawat, dan cara ini tidak mengeluarkan biaya yang banyak. Penggunaan bahan alami yang tidak menimbulkan efek samping, bisa menjadi pilihan tepat bagi yang mempunyai masalah dengan bekas jerawat.

  1. Menggunakan madu dan putih telur


Untuk menghilangkan bekas jerawat yang membandel pada wajah, Anda dapat membuat ramuan masker putih telur dan juga madu. Penggunaan masker ini sebaiknya dilakukan sebelum tidur dan biarkan hingga semalaman, lalu cuci muka pada ke esokan paginya.

  1. Menggunakan Lidah Buaya


Lidah buaya biasanya dikenal dengan obat alami penumbuh dan penyubur rambut. Namun ternyata, lidah buaya juga dapat dijadikan sebagai obat alami untuk menghilangkan bekas jerawat. ambil gel lidah buaya kemudian oleskan pada bagian wajah yang terdapat bekas jerawatnya. Lakukan hal ini secara rutin setiap harinya, maka bekas jerawat Anda berangsur-angsur akan menghilang.

  1. Menggunakan Air Jeruk Nipis


Cara menghilangkan bekas jerawat secara alami dengan menggunakan jeruk nipis ini sama dengan yang lainnya, yaitu oleskan air perasan jeruk nipis pada wajah. Kemudian diamkan selama 10-15 menit lalu bilas dengan menggunakan air hangat.

  1. Menggunakan Bawang Putih


Untuk menghilangkan bekas jerawat yang ada pada wajah, Anda dapat menggunakan bawang putih. Caranya yaitu haluskan bawang putih kemudian oleskan pada wajah yang terdapat bekas jerawatnya.

  1. Menggunakan Minyak Zaitun


Minyak zaitun sudah terbukti mempunyai manfaat yang banyak untuk kecantikan atau kesehatan wajah, maka dari itu orang-orang sudah tidak ragu lagi untuk menggunakan minyak zaitun untuk mengatasi masalah jerawat dan menghilangkan bekas jerawat. Pemakaian ini dilakukan sebelum tidur sembari dipijat perlahan dan dicuci dengan air hangat. Lakukan perawatan ini secara rutin. (siska)

Hari Kedua Wisuda ke 46 Unswagati Umumkan Lulusan Terbaik

Tidak ada komentar

Minggu, 08 Januari 2017

Unswagati, setaranews.com – Wisuda Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) ke-46 telah selesai di laksanakan, setelah melantik 350 wisudawan/ti pada sabtu kemarin, hari ini kembali meluluskan dengan jumlah yang sama yaitu 350 lulusan terdiri dari 332 sarjana dan 18 magister.

Lulusan terbaik wisuda ke 46 unswagati 7-8 januari 2017, sebelumnya telah diumumkan pada sabtu (7/1), sisanya pada hari kedua minggu (8/1) di kampus utama unswagati Cirebon. Berikut adalah lulusan terbaik dari program sarjana dan magister pada wisuda ke 46 periode januari yang diumumkan pada hari kedua.

Dari pascasarjana yaitu Budi Santoso, M.Si. (3,73), Sri Ishana, M.H. (3,44), Ika Atikah, S.E. (3,53). Sedangkan untuk Program Sarjana yaitu Hidayat Ramadhan, S.P. (3,46), Insan Susila, S.Sos. (3,45), dan Hengki Setiawan, S.Pd. (3,38).

Para lulusan terbaik mendapatkan piagam penghargaan dan cinderamata dari Unswagati. Dalam sambutan Rektor Unswagati,  Prof Dr H Rochanda Wiradinata, MP menyampaikan bahwa kali ini Unswagati telah wisudawan/ti sebanyak 1.136 lulusan yang telah mengikuti proses pendidikan sesuai dengan regulasi yang ditentukan pemerintah.

"Setelah 700 lulusan di lantik pada 7-8 januari selebihnya akan diwisuda pada periode April yang akan datang." dalam sambutannya saat acara berlangsung (8/1) di aula kampus utama unswagati.

 

Banyaknya Penjual Dadakan Di Momen Wisuda Unswagati

Tidak ada komentar
Unswagati, setaranews.com – Wisuda Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) ke-46 di kampus utama unswagati Cirebon berlangsung pada 7-8 januari 2017 diwarnai dengan banyaknya pedagang yang berjualan di depan kampus dan sekitarnya.

Pedagang dadakan tersebut di sebabkan karena ramainya acara wisuda ke 46 yang diselenggarakan di auditorium kampus utama Unswagati. Mulai dari pedagang bunga sampai pedagang kaki lima berjejer padat di pinggir jalan pemuda Cirebon.

Lalu darimanakah asal pedagang bunga dadakan tersebut ? sedangkan penjual bunga di Cirebon saja menyuplai bunga dari luar kota. Ya, mayoritas pedagang berasal dari Bandung, mereka sengaja datang untuk berjualan bunga.

“Biasanya kami berjualan jauh, bahkan sampai ke lampung dalam acara yang sama seperti wisuda, untuk ke Cirebon sih dekat. Yang di jual seperti bunga mawar merah dan putuh, sekitar Rp.15.000-25.000 per buahnya.” Ujar umi enok (40), salah satu pedagang saat diwawancarai setaranews.com (8/1).

Hal serupa juga dilakukan oleh isma salah satu warga Cirebon, ia sudah berjualan sejak hari pertama.Karena tidak perlu perijinan dan tidak ada larangan dari pihak yang menangani, sehingga pedagangpun banyak yang membuka warung sementara dalam acara wisuda tersebut.

Di sisilain, saat wisuda sudah selesai, untuk jalan pemudapun mengalami kemacetan untuk beberapa saat.

Cerpen: Laila, Jangan Bersedih

Tidak ada komentar
Sastra, Setaranews.com - Terkadang memang benar adanya, patut diamini, ketika petuah sudah berucap. Ungkapan yang muncul bukan bualan apalagi janji busuk ala tokoh Sengkuni yang melegenda.  “Negara mana di dunia ini yang tidak memiliki watak imperialisme?“ begitulah bunyi pepatah asli dari negeri timur. Sampai pada akhirnya, penjajahan bukan lagi dilakukan antar bangsa-negara. Lebih merasuk, sampai pada jiwa raga generasi emasnya. Mereka senantiasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan. “Mau sampai kapan jiwamu tercabik, dan dirimu lara dirundung duka cita?” tanyaku geram.

Langit masih gelap, dimeriahkan dengan titik yang telihat gemerlap seolah tak ada jarak antara bintang dan lampu yang berserakan. Bulan? Hanya terdiam diri dan mempertontonkan sabitnya bak senyum melihat seorang teman yang masih murung, meringkuk mengenang masa lampau. “Lihatlah Laila, bulan pun menyeringai nyinyir melihat tingkah lakumu!” kembali Aku mengingatkan.

Tak mempan, semua ucapan yang seraya seperti sabitan pedang Umar pun tak digubrisnya.  Lambaian dedauan yang nyangkut dibatang – batang pohon memantul memberikan sayup – sayup keheningan. Aku sedikit memalingkan pandangan, menengadah kedepan. Selentingan bisikan datang, merasuk menjalar ke ubung – ubun, menembus akal. Dimana saja, yang katanya jaman modern, permasalahan yang dihadapi oleh manusia sama saja. Manusia yang dibesarkan dalam bingkai latar belakang historis pendahulunya. Sehingga, tak ada bedanya mau dimanapun kita hidup.

“Apa yang kau ucapkan barusan Pram?” Laila langsung tersentak meronta, beranjak dari mimpi gelapnya. Aku diam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaannya. “Cepat jelaskan padaku, Pram, apa maksudmu!” Melihat responku yang dingin sedingin malam, Laila kembali merebahkan sekujur tubuhnya. “Yasudah kalau tak mau,” Suasana semakin hening, bulan sudah terlihat bundar dan condong ke kanan. Tinggal setumpukan abu dari pembakaran unggun yang menghangatkan. Dengan sedikit tambahan energi dari secangkir kopi Nusantara yang Aku gengam. Menyeruputnya merupakan kewajiban agar lebih tenang dan menghelakan napas panjang.

Sarung yang menggantung dipundak, Aku selendangkan dileher. Kupluk yang sebelumnya hanya nempel di ujung tanduk kepala, Aku tarik sedikit sehingga menutupi daun telinga. Aku menoleh kebelakang, menarik selimut ala dataran tinggi untuk membelai menutupi badan Laila. “Terima kasih Pram,” ujarnya pelan. Aku sedikit membetulkan posisi duduk, bergeser ke belakang dan menyender pada badan pohon dibelakang layar. “Mau pikiran khayalanmu itu pergi ke tembok berlin atau tembok raksasa khas negeri Tirai Bambu, atau sekalipun ke padang pasirnya gurun Sahara, sama saja. Pada dasarnya mereka pun hidup merasakan kegundahan, sulit tidur lantaran beban duka yang mendalam. Terjerat kisah haru biru masa lalu.

“Siapa di dunia ini, atau diantara kita yang tidak pernah mengalami semua itu,” kataku sedikit menekankan. Persoalan dunia bergitu runyam, serunyam layar kaya. Rentetan peristiwa membuat semakin keruh, lebih keruh dari sungai yang dipenuhi kotoran pabrik. Terkadang lebih lucu, bahkan menjijikan. Ya, seperti apa yang mengjangkit dirimu Laila,” ucapku menyindir.

“Setidaknya Aku tidak sedang bersandiwara. Menutupi kesedihan dengan cengengesan. Bersikap seolah rendah hati padahal tirani. Bertindak sok tegas, padahal berwatak culas, buas! Menangkap dan mengasingkan mereka yang memberikan kritikan. Aku tidak sepicik Machiafelis itu.  Aku hanya sedang patah, ekspektasiku lenyap ke antah berantah!” Ucapnya menimpal.

Timpalan perkataan yang keluar dari rongga mulut Laila, itu hanya sebuah pembenaran. Seolah apa yang ia rasakan dan lakukan saat ini tak salah, wajar. Raganya ada bumi, entah pikirannya melayang sampai kemana, bisa jadi menyelami samudera kenangan, menapaki jejak – jajak waktu yang sudah lama berlalu “Kau terlalu sibuk dengan urusan masa lalumu, Laila! Hanya gara – gara urusan percintaan, kau uring – uringan. Jika terus seperti ini ketika ditempa masalah, niscaya kau akan tumbuh jadi generasi yang rapuh!” ucapku makin kesal mendengar omong kosong dari Laila.

Satuhal yang sampai ini masih Aku yakini sepenuh hati, tak ragu sedikitpun. Ketika ada seorang guru  memberikan wejangan bahwa mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya adalah tindakan bodoh dan gila. “Dengan sikap kegalauan yang berlebih mengenang sang pangeran yang telah usang, sama halnya kau membunuh semangatmu sendiri, memupuskan tekadmu, dan mengubur dalam – dalam masa depan yang belum terjadi,”

Kegalauan, keterpurukan, kesedihan yang sering menimpa kaum muda-mudi, menjadi fokus perhatianku. Gara- gara putus cinta, seolah harapan sirna. Galau tak ada ujung serasa menjadi fatwa yang harus dipatuhi. Kegembiraan dan kebahagiaan seolah tak ada arti. “Aku sendiri sebetulnya ingin keluar dari jeratan masa laluku! Tapi entah, bayang – bayang itu seolah mengikuti kemanapun Aku pergi. Seolah tak ada tempat bagiku untuk bersembunyi di dunia ini, Pram!”

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

“Kau kurang bersyukur, mengingkari kodratmu. Seolah – olah kau ingin memasukan kembali bayi kepada rahim ibunya, atau memasukan kembali air mata ke kelopaknya. Yang kau cemaskan sia – sia, seperti menumbuk tepung atau bisa jadi menggergaji serbuk kayu!”

Sejujurnya, dalam lubuk hati yang paling dalam, Aku mengagumi sosok Laila. Bagiku Ia bak intan permata yang dengan apapun takan pernah kujual, karena Ia tak ternilai. Matanya, tak akan kutukar walau dengan emas sebesar gunung Jaya Wijaya. Keelokan parasnya, walaupun dengan perak seluas Danau Toba, tak akan kuberikan. Budi-pekertinya yang luhur, walaupun dengan jaminan istana – istana yang menjulang tinggi, dengan untaian mutiara, secuilpun tak akan kuberikan kesempatan orang lain memilikinya. Begitulah Laila, sebetulnya Ia dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh. Hanya saja, Ia tak sadari itu semua. “Sayang kau tak memiliki kekuatan yang bisa mendengar bisikan suara hati manusia,” ujarku dalam relung jiwa.

Lalla mulai beranjak dari tidur panjang mengenang masa lalunya. Dengan tak canggung, Ia merebahkan kepalanya dipundak sebelah kiriku. “Lantas Aku harus gimana Pram, Aku percaya, Kau orang yang bisa menjadi obat penenangku,” ujarnya sedikit merayu.

Aku sedikit memejamkan mata, mencoba berpikir jernih, meminta pertolongan kepada semesta agar Aku bisa membuat Laila kembali riang gembira, menjadi Laila yang Aku kenal. Kemudian muncul pelbagai pikiran, bahwa  sangat disayangkan jika hidup hanya disibukan dengan urusan mengenang masa lalu. Tak ubahnya  memungut puing – puing bebangunan yang telah lapuk, sementara  istana megah yang ada di depan mata terabaikan begitu saja.

“Kau pergi ke paranormal untuk mengumpulkan semua jenis Jin yang sakti mandraguna dan bersatu dengan kekuatan manusia, kemudian ditugaskan untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu. Aku yakin, tidak akan pernah mampu,” Laila masih bersandar mendengar ceramahanku.

Menurutku, ditengah – tengah suasana malam yang begitu syahdu, dapat ditarik kesimpulan, dengan latar belakang persoalan yang dialami oleh Laila. Karena orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, waktu berjalan kedepan, dan segala sesuatu di dunia ini bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan.

“Laila, satu pintaku. Jangan bersedih, bergembiralah. Kau hidup di hari ini, bukan kemarin, bukan pula besok. Teruslah berjuang memaksimalkan hari yang sedang kau jalani, dan sambut mentari yang siap menuntunmu mengarungi samudera kehidupan. Sebagai penutup masa lalu, dan untuk menyongsong hari, Aku akan bacakan syair Kuno untuk Laila,” ucapku seraya memeluk tubuhnya.

Kutanamkan di dalamnya mutiara, hingga tiba saatnya ia dapat

menyinari tanpa mentari dan berjalan di malam hari tanpa rembulan

Karena kedua matanya ibarat sihir dan keningnya laksana pedang

buatan India

Milik Allah-lah setiap bulu mata, leher dan kulit yang indah mempesona,

“Thanks Pram, Kau pangeran yang selamai ini Aku nanti.”

“Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

 

Penulis: Al-Aziz
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews