Responsive Ad Slot

Inilah Lulusan Terbaik dalam Wisuda Unswagati Ke-46

Tidak ada komentar

Sabtu, 07 Januari 2017

Unswagati, setaranews.com – Wisuda Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) ke-46 yang dilaksanakan pada sabtu (7/1), dengan jumlah wisudawan 350 lulusan ini dikategorikan menjadi lulusan terbaik, lulusan termuda, lulusan tertua, lulusan berprestasi, dan lulusan tercepat.

Hal tersebut disampaikan oleh Jiharudin selaku staff humas Unswagati dalam press release yang mewakili seluruh civitas akademika. “secara khusus kami ucapkan, selamat kepada wisudawan yang telah meraih IPK tertinggi, wisudawan yang telah menyelesaikan studi tercepat, serta wisudawan yang lulus dengan usia termuda dan usia tertua.” Dalam pers realis (7/1).

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Sti Khumaya terkait kategori lulusan wisuda tahun ini “Terselenggaranya wisuda kali ini dilakukan dua hari berturut-turut, berikut juga dengan peraih kategori lulusan terbaik, masing-masing di umumkan dengan peraih yang berbeda.” ujarnya.

Berikut daftar nama wisudawan yang masuk dalam kategori seperti yang dikemukakan di atas:

Wisudawan dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi

Program Sarjana yaitu Andini Tresnaningsih, S.Pd. dari prodi Pendidikan Matematika, dengan IPK 3,70, Yudisium dengan Pujian (Cumlaude). Sedangkan untuk Program Magister yaitu Budi Santosa dari program Ilmu Administrasi dengan IPK 3,75 Yudisium dengan pujian (Cumlaude).

Wisudawan dengan masa studi tercepat

Program Sarjana (3 tahun, 9 bulan, 17 hari) yaitu Nina Amanda, dari Program Studi Akutansi Fakultas Ekonomi. Kemudian untuk Program Magister (1 tahun, 6 bulan, 23 hari) yaitu Rosidah dari Program Studi Ilmu Administrasi.

Wisudawan termuda

Program Sarjana dengan usia 20 tahun, 8 bulan, 15 hari yaitu Suci Amalia dari Program Studi Pendidikan Matematika (FKIP). Untuk program Magister dengan usia 24 tahun, 6 bulan, 11 hari yaitu Triana Justitia Mahardeka dari Program Studi Ilmu Hukum.

Wisudawan tertua

Program Sarjana dengan usia 45 tahun, 4 bulan, 4 hari yaitu Wiwin Winarsih Tjandrawan,  dari prodi pendidikan bahasa inggris FKIP. Sedangkan untuk program Magister dengan usia 51 tahun, 11 bulan, 17 hari yaitu Kursidi dari Prodi Ilmu Administrasi.

Lulusan dengan kategori wisudawan terbaik:

  1. Andini Tresnaningsih, S.Pd. (Pujian/Cumlaude) dari Program studi pendidikan matematika, FKIP

  2. Imas Amaliyah, S.Pd. (Pujian/Cumlaude) Program Studi Pendidikan Ekonomi, FKIP

  3. Agus Umar Akmad, S.Pd. (Pujian/Cumlaude) Program studi pendidikan Bahasa Inggris, FKIP

  4. Dadi Sutardi, S.P. (Pujian/Cumlaude) dari program studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian

  5. Naila Mufidah Efendy, S.I.Kom (Pujian/Cumlaude) dari program studi Ilmu Komunikasi, FISIP

  6. Bintang Nurmayana Satiyana Putri, S.E. (Sangat Memuaskan) program studi Manajemen, Fakultas Ekonomi

  7. Mega Dwi Uthami, S.T. (Sangat Memuaskan) program studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik

  8. Nanda Hermansyah, S.H. (Sangat Memuaskan) dari program prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum.

Wisuda ke-46, Unswagati Luluskan 700 Wisudawan

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon selenggarakan wisuda ke XLVI (46) di Ruang Auditorium Unswagati. Awal tahun ini Unswagati meluluskan 700 wisudawan, yang dilaksanakan pada 7-8 januari 2017.

Sidang senat yang dilaksanakan pada sabtu (7/1) telah melantik 350 wisudawan, terdiri dari 16 wisudawan program Magister Pascasarjana dan 334 program Sarjana. Sedangkan, untuk 350 wisudawan lainnya akan dilantik pada Minggu (8 /1).

“setiap tahun unswagati akan melakukan 3 kali wisuda, yaitu pada Januari, April, dan Agustus. Saat ini pendaftaran calon wisudawan dilakukan secara online, dan sudah diperogramkan setiap wisuda akan meluluskan 700 wisudawan.” Papar Siti khumayah selaku humas Unswagati saat ditemui di ruangannya, Sabtu (7/1)

Rochanda Wiradinata, selaku Rektor Unswagati atau yang akrab dengan panggilan Johan berharap lulusan Unswagati bisa mengimplemtasikan ilmunya dan dapat diserap di dunia luar sesuai basic pendidikannya.

“umumnya setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka ada yang kerja sesuai apa yang diminatinya, adapula yang melanjutkan ke jenjang berikutnya, dan juga yang bisa membuka lowongann kerja.” ujarnya saat di temui setaranews.com seusai penutupan sidang senat.

Lestarikan Budaya Cirebon, Klise Adakan Seminar Fotografi

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com – Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon yakni KLISE mengadakan seminar fotografi dengan tema “Fotografi dalam Pendokumentasian dan Pelestarian Budaya” di Gramedia Cipto lantai tiga pada Jumat (6/1). Seminar ini masih dalam rangkaian acara pameran fotografi dengan tema “Pelal: Ing Dalem Keraton Kanoman Nagari Caruban” yang telah berlangsung sejak tanggal 5-7 Januari mendatang.

KLISE pun mendatangkan dua orang pemateri yang kompeten dibidangnya yakni seorang Fotografer Budaya, Aat Fathurozak dan adik dari Sultan Kanoman XII, Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST., M.Hum.

Melalui tema tersebut, KLISE ingin menghadirkan bagaimana budaya dikemas dalam bingkai fotografi sebagai bentuk usaha melestarikan salah satu kebudayaan Cirebon,  Pelal atau yang biasa dikenal oleh masyarakat Cirebon sebagai Panjang Jimat.

“Untuk melihat budaya dari sisi fotografi seperti apa, lalu fungsi fotografi dalam budaya kan bisa sebagai pelestarian juga, dan bisa berdampak ke pariwisatanya,” ungkap Syarif Hidayat selaku Ketua Pelaksana pada Setaranews.com seusai acara berlangsung, Jumat (6/1).

Seminar tersebut digelar secara gratis dan terbuka untuk umum, dihadiri oleh kalangan mahasiswa dari beberapa Universitas di Cirebon seperti Unswagati, UNTAG dan IAIN Syekh Nurjati.

“Menarik seminarnya, apalagi anak-anak sekarang kan jarang mau tahu budaya, banyak manfaat yang bisa diambil lah,” ujar Firda Nafiyah, mahasiswi IAIN Syekh Nurjati yang menjadi salah satu peserta dalam seminar.

Dalam seminar pun, KLISE memperlihatkan video behind the scene pemotretan rangkaian panjang sebelum dan saat acara Pelal berlangsung.

KLISE Unswagati Kenalkan Budaya Cirebon Lewat Pameran

Tidak ada komentar

Jumat, 06 Januari 2017

Unswagati, Setaranews.com – Kelompok Studi Mahasiswa (KSM), Klise Unswagati Cirebon menggelar pameran fotografi di Gramedia Cipto lantai 3. Acara ini dilaksanakan selama tiga hari, dari Kamis hingga Sabtu (5-7/1).

Pameran tersebut diadakan dalam rangka kegiatan tahap pendidikan lanjutan atau pengukuhan anggota baru klise, dan dilaksanakan setiap kali angkatan.

Pameran yang bertajuk "PELAL Ing Dalem Keraton Kanoman Nagari Cirebon" tersebut menampilkan beragam foto kegiatan di Keraton Kanoman selama bulan mulud (Rabiul Awal), seperti mulai dari acara mipis, latihan gamelan, sampai gong sekati wangsul dan acara tumpengan.

Syarif Hidayat selaku ketua pelaksana, menyampaikan dipilihnya Keraton Kanoman dikarenakan acara di Keraton Kanoman banyak dan sesuai dengan yang sudah direncanakan yaitu foto story.

Selain acara pameran fotografi, ada berbagai acara lain diantaranya, seminar yang mengusung tema "fotografi dalam pendokumentasian dan pelestarian budaya" yang diisi oleh tiga Narasumber yaitu Aat Fathurozak (fotografer budaya), Drs. Dana Kartiman (Disporbudpar), dan Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST., M.Hum. (narasumber Keraton Kanoman), serta  ditutup dengan acara saresehan pada Sabtu (7/1).

"Tujuan dari pameran ini, kita pengen orang tau bahwa dibalik acara panjang jimat itu prosesnya panjang loh, banyak loh. Banyak orang yang belum tau yang dipake di acara panjang jimat itu kan banyak, prosesnya juga panjang kaya bikin nasi kuning itu kan ada prosesnya", ungkap Syarif Hidayat pada setaranews disela-sela acara, Kamis (5/1)

Pada kesempatan yang sama, salah satu pengunjung, Arur menganggap jika pameran ini memberikan pengetahuan lebih tentang budaya Cirebon "pamerannya bagus, yah dengan adanya pameran ini kita jadi tau gitu kalau di Cirebon itu ada adat panjang jimat. Memperkenalkan budaya yang ada di cirebon." ungkapnya. (Trusmiyanto)

FKIP Tetapkan Dekan Baru Periode 2017-2021

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd. terpilih kembali menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unswagati untuk periode 2017-2021. Acara pemilihan dekan berlangsung di Ruang Serbaguna FKIP pada Rabu (4/1).

Ketua Yayasan, Rektor beserta jajarannya, dan perwakilan dosen hingga perwakilan mahasiswa turut hadir dalam pemilihan dekan tersebut yang dimulai sejak pukul satu siang. “Dihadiri perwakilan dosen, perwakilan mahasiswa dan unsur pimpinan universitas,” ujar Ena Suhena Ketua Panitia Pemilihan Dekan FKIP.

Ena mengatakan, sebelumnya yang mencalonkan dekan hanya satu orang yakni Abdul Rozak, akan tetapi ada satu dosen lagi yaitu Iin Wariin yang juga Kepala Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ikut pula mencalonkan. “Tadinya satu, terus nambah lagi. Ya semuanya lolos,” katanya.

Pemilihan dekan ini dilakukan melalui pemungutan suara yang dipilih oleh senat fakultas sebanyak 19 orang. Perolehan suara yang didapat oleh Abdul Rozak sebanyak 13 suara, sedangkan Iin Wariin mendapatkan enam suara.

Lain kesempatan, Abdul Rozak memaparkan alasannya kenapa ia mencalonkan kembali karena FKIP harus dibina. “FKIP itu perlu dibina, yang empat tahun terakhir ini udah bagus, itu baru tahap awal,” jelas Abdul Rozak seusai acara pemilihan selesai.

Abdul Rozak juga memaparkan visinya yaitu membangun guru yang bermartabat, profesional dan kreatif. Ia juga menjelaskan dalam program kerjanya akan meningkatkan jumlah mahasiswa dan kinerja dosen.

“Ingin meningkatkan jumlah mahasiswa, karena secara nasional LPTK swasta itu turun karena terlalu banyak, itu yang pertama. Yang kedua kinerja seluruh dosen dan tenaga pendidik. Kemudian karya dosen, jurnal online kita akan pasang di web,” terangnya.

Ida Rosnidah Kembali Pimpin FE Empat Tahun Kedepan

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon telah menetapkan Ida Rosdinah kembali menjadi Dekan FE periode 2017-2021, dimana pada periode sebelumnya dia pernah menjabat sebagai Dekan. Pemilihan yang dilaksanakan pada Rabu (4/1) ini dilakukan secara aklamasi, sebab hanya ada satu calon yang mendaftar.

Saat ditemui Setaranews.com di ruangannya, Ida memaparkan visinya yaitu mewujudkan Fakultas Ekonomi yang bereputasi nasional, berjejaring global dan memberikan kontribusi yang bermakna. “Visi saya sejalan dengan visi universitas sebab fakultas merupakan bagian dari universitas,” ujarnya pada Kamis (5/1).

Lebih lanjut, Ida pun telah memiliki tujuh program kerja untuk memimpin FE empat tahun kedepan. Program kerja tersebut adalah peningkatkan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran, peningkatan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kualitas pengelolaan, peningkatan kualitas kegiatan mahasiswa, peningkatan kualitas sarana dan prasarana, peningkatan kualitas kerjasama dan kemitraan.

“Dari tujuh program kerja ini nanti akan di breakdown menjadi program operasional tahunan. Saya juga akan melanjutkan program kerja periode sebelumnya, seperti lalu pembinaan dosen dalam hal ini adalah peningkatan kualitas dosen melalui jabatan fungsional, harapannya ke depan bisa bertambah jumlah guru besar.” Tambahnya.

Harapan pun muncul dari Misbak selaku Ketua Panitia Pemilihan Dekan FE yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III, dia berharap dengan terpilih kembalinya Ida Rosnidah sebagai Dekan maka dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain.

“Agar ke depan Fakultas Ekonomi bisa ditingkatkan lagi agar dapat berjejaring nasional dan juga para alumni nantinya dapat berkualitas dan dapat bersaing dengan perguruan tinggi lainnya. Ya memiliki output yang bagus,” tuturnya pada Setaranews.com, Rabu (4/1).

Langkah Dewan Pers Untuk Perangi Media Palsu

Tidak ada komentar
Nasional, Setaranews.com – Di tengah maraknya media massa yang menyebarkan berita hoax, Dewan Pers akan menerapkan teknologi barcode kepada media-media yang sudah diverifikasi untuk memudahkan masyarakat membedakan media mainstream dengan media palsu.

"Nanti ada barcode-nya, bahwa media ini terpercaya, terverifikasi di Dewan Pers. Ini juga bertujuan meminimalisir masyarakat dirugikan oleh pemberitaan hoax," tutur Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo seperti yang dikutip dari ANTARA di Jakarta, Rabu (4/1).

Lanjut Yosep, ia menuturkan bahwa barcode tersebut akan dipasang pada media cetak maupun online, lalu nantinya dapat dipindai melalui telepon pintar yang terhubung langsung dengan data Dewan Pers.

"Jadi barcode itu bukan berbentuk yang garis-garis, tetapi kotak-kotak, yang menampilkan penanggung jawab media itu siapa, alamatnya di mana," katanya.

Ketua Dewan Pers yang akrab dipanggil Stanley ini menjelaskan bahwa sistem barcode merupakan hasil kerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) dan masih dalam tahap perancangan.

Langkah penerapan sistem barcode akan dilakukan secara bertahap mulai 9 Februari 2017 pada penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon, Maluku.

"Kalau berhasil, ini bisa menjadi cerita sukses ketika Indonesia menjadi tuan rumah World Press Freedom Day pada Mei 2017," kata Stanley.

*Tulisan ini dibuat dari berbagai sumber dengan sedikit tambahan

HMS Tetapkan Dhannar Sebagai Ketum Baru

Tidak ada komentar

Kamis, 05 Januari 2017

Unswagati, Setaranews.com - Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) telah melaksanakan Musyawarah Umum pada 3 Januari 2017 di lantai dua ruang kelas Fakultas Teknik. Musyawarah Umum ini telah menetapkan Dhannar Dhanialah sebagai Ketua Umum HMS yang baru untuk periode 2017-2018.

Pada saat diwawancarai oleh Setaranews.com melalui blackberry messenger, Dhannar mengungkapkan visinya yaitu menyatukan persepsi seluruh anggota dan merubah paradigma mahasiswa non ormawa bahwa organisasi itu penting. “Menyatukan persepsi seluruh anggota karena kalo udah 1 itu segala sesuatu akan terlaksana dan pastinya lancar, dan untuk program kerja pertama yang akan dilaksanakan yaitu kaderisasi dulu diantara anggotanya.” Ujarnya, Rabu (4/1)

Dhannar yang asli Cirebon ini memiliki motto hidup yaitu tujuan hidup hanya untuk mati tetapi bagaimana caranya jalan untuk mati tersebut dapat bermanfaat bagi manusia yang lain ."Rasa bangga itu pasti ada, namun saya tidak sangka dapat terpilih menjadi Ketua HMS ini, karena menurut saya segala sesuatu itu harus optimis dulu, masalah hasil itu urusan belakangan." tambahnya.

Musyawarah Umum merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Adanya acara ini bertujuan untuk memperbaiki AD-ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) dan pergantian ketua baru.

FT Telah Lakukan Pemilihan Dekan Baru

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Fakultas Teknik (FT) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) telah melakukan pemilihan dekan, Rabu (4/1) di Ruang Kelas Teknik. Dalam pemilihan tersebut telah terpilih Fatur Rohman sebagai Dekan Fakultas Teknik untuk periode 2017-2021.

Pemilihan dilakukan oleh senat fakultas dan disaksikan oleh civitas akademika lain, dengan jumlah suara pemilih tetap sembilan. Dalam perhitungan suara, Fatur Rohman mendapat enam suara, sedangkan calon nomor urut satu, Edy Rustandi mendapat tiga suara.

Tahap pemilihan dekan memakan waktu selama dua bulan, tetapi tertunda sebentar karena ada perubahan SK Rektor  “Perubahan ini saya tidak tahu kenapa, tapi yang jelas ada tiga tambahan tes lagi yaitu tes bebas narkoba, psikotes, dan rekam jejak,” ujar Arief Firmanto selaku Ketua Panitia Pemilihan Dekan Fakultas Teknik saat ditemui setaranews.com di ruangannya, Rabu (4/1).

Dalam kesempatan yang sama pula, Fatur Rohman yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Dekan I memaparkan visinya untuk memimpin Fakultas Teknik empat tahun mendatang yaitu Menjadikan fakultas teknik yang lebih kreatif dan bermartabat melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lebih berkarakter dan humanis serta mendukung proses perguruan tinggi negeri.

Lebih lanjut, Fatur menjelaskan jika dia akan meningkatkan sistem untuk kelas bilingual yang telah berjalan pada periode dekan sebelumnya. “Sudah punya masterplan, yaitu melanjutkan dan meningkatkan lagi kelas bilingual. Kami punya rencana akan membuat bilingual menjadi kelas internasional tapi kami menyiapkan dulu sumber daya manusia, sistem dan segala macamnya,” tuturnya seusai acara pemilihan dekan.

Berdasarkan SK Rektor, masa jabatan Dekan periode sebelumnya akan habis pada 5 Januari 2017.

Rektor Unswagati Ubah SK Soal Pemilihan Dekan

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Beberapa fakultas di Universitas Swadaya Gunung Jati hari ini (4/1) telah melakukan pemilihan dekan untuk periode 2017-2021, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Pemilihan dekan ini mengacu kepada Surat Keputusan (SK) Rektor yang mengalami perubahan. Sebelumnya pemilihan dekan mengacu kepada SK Rektor tahun 2014, namun pada 28 Desember lalu SK ini dirubah dikarenakan menyesuaikan sistem yang terbaru.

“Semula aturan yang dipakai tahun 2014 maka disesuaikan dulu dengan sistem yang terbaru maka keluarlah SK Rektor tahun 2016. Memang ada perubahan surat keputusan rektor tentang pengangkatan panitia karena menyesuaikan aturan yang berubah. Ini merupakan hasil konsultasi dari ahli hukum administrasi publik,” ujar Rochanda Wiradinata selaku Rektor Unswagati saat ditemui setaranews.com usai pemilihan dekan FKIP di Kampus II, Rabu (4/1).

Beberapa perubahan ini dapat dilihat dari syarat bagi yang ingin mendaftar sebagai dekan. Jika pada SK lama mengharuskan dekan yang ingin kembali menjabat harus mengundurkan diri terlebih dahulu, tetapi untuk SK tahun 2016 ini cukup dengan mengambil cuti bagi dekan yang kembali mencalonkan.

Selain perubahan tersebut, ada beberapa syarat yang juga dimunculkan oleh pihak Yayasan terkait kriteria calon dekan, yaitu diharuskan mengikuti tes psikotes, rekam jejak, dan tes narkoba.

“Kemudian ada syarat-syarat yang memang dimunculkan oleh yayasan, harus ada rekam jejak terkait professional, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela. Jadi seorang calon dekan harus memiliki empat syarat tadi. Tambahan-tambahan dari yayasan tidak masalah, kita coba mengakomodasi. Dan juga ada tambahan tes lagi yaitu tes psikotes dan tes narkoba,” tutupnya.

Dari Senang Berorganisasi, Hingga Pernah Jabat Wakil Rektor III

Tidak ada komentar

Rabu, 04 Januari 2017

Profil, Setaranews.com -  Dr.Ipik Permana., S.Ip., M.Si merupakan salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dosen yang telah mengajar di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) sejak tahun 1984 ini pernah mengenyam pendidikan S1 di Unswagati, lalu melanjutkan S2 di Universitas Padjajaran Bandung dan S3 di Universitas Pasundan Bandung.

Dosen yang memiliki hobi olahraga tenis ini, memaparkan jika semasa kuliah Ia cukup aktif dalam berorganisasi,  mulai dari staff di senat fakultas, wakil senat fakultas, hingga aktif di UKM Resimen mahasiswa (Menwa). Hingga saat ini Ia pun dipercaya untuk menjadi pembina teknis Menwa. Sebelumnya, Ipik pun pernah menjadi staff di bidang kemahasiswaan dan pernah menjabat sebagai Wakil Rektor III Unswagati.

“Dan akhirnya saya seneng di organisasi, Saya kira dengan organisasi banyak silahturahminya dan begitu penting berorganisasi menurut saya,” ujarnya kepada setaranews.com saat ditemui di perpustakan FISIP, Kamis (29/12)

Tidak hanya sibuk mengajar, rupanya Ayah tiga anak ini juga menjadi salah satu anggota dewan pengawas rumah sakit di Kecamatan Waled, serta membuka usaha travel umroh haji dan toko bangunan.

Ipik juga berpesan kepada para mahasiswa, agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh, lalu jangan sampai menjadi manusia yang instan dan suka berbohong. “Mahasiswa kan mudah mengunduh ilmu pengetahuan, tapi jangan sungkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Masalahnya sekarang dengan semakin mudahnya mereka mencari ilmu saya kira mereka susah sekali untuk mengapresiasikan, yang kedua jangan jadi generasi yang instan yang akan melahirkan generasi cengeng, dan yang terakhir menjadi manusia yang jujur,” tambahnya.

Dosen yang mengajar di pascasarjana ini pun megatakan, jika hambatan yang datang bukanlah masalah besar, justru setiap hambatan yang datang membuatnya semakin berpikir bijak dalam mengahadapi masalah. “Karena mengahadapi masalah itu adalah peluang, karena setiap masalah akan memberikan solusi kita percaya pada Allah SWT setiap masalah pasti ada hikmahnya,” pungkasnya,

Ipik pun begitu memperhatikan pendidikan setiap anaknya, terbukti dengan ketiga anaknya yang dimasukan ke sekolah berbasis Islam dari TK (Taman Kanak-kanak) hingga SD (Sekolah Dasar). Hal ini Ia lakukan supaya anak-anaknya memiliki pondasi agama yang kuat.

Opini: Membenarkan Pikiran Kita

Tidak ada komentar

Selasa, 03 Januari 2017

Opini, Setaranews.com - Pikiran dan perilaku kita, kata bijak bestari, terpengaruh oleh dua hal. Pertama adalah dengan siapa kita bergaul. Yang kedua mengenai buku apa yang kita baca.

Persoalan pertama tentu menyangkut begitu banyak aspek. Ada aspek pendikikan, ekonomi, bahkan juga strata sosial. Pergaulan yang terbatas tentunya akan mempengaruhi komunikasi, cara berpikir, dan cara menyelesaikan masalah. Sementara pergaulan yang luas, output yang dihasilkan adalah sebaliknya.

Pergaulan, dewasa ini, tidak tidak hanya dinilai dari lingkungan dimana kita tinggal, atau pun juga sekedar pada kawasan dimana kita bersekolah. Di era global ini, pergaulan juga dapat dipengaruhi oleh dunia maya, dunia internet yang konektivitasnya bahkan menjangkau dunia yang tak terjamah.

Tulisan ini akan mencoba membahas pengaruh pada pergaulan yang global, atau pergaulan internet. Hal ini dinilai penting karena hampir dari seluruh kegiatan kita saat ini, 70% nya dipengaruhi oleh pergaulan dunia maya. Dan parahnya, ternyata justru pergaulan yang dinilai modern tersebut yang membawa kita menuju kearah kesempitan berpikir serta ke kehidupan yang individualistis.

SISI NEGATIF PERGAULAN GLOBAL

Seorang filsuf kenamaan asal Slovenia, Slavoj Zizek dalam Is this digital democracy, or a new tyranny of cyberspace?, menyebut bahwa ada banyak penipuan dalam dunia maya. Hilangnya sifat kritis a la Marxis membuat siapa saja bisa merasa seolah setara dalam dunia maya. Singkatnya, dalam dunia maya, segalanya menyoal kekayaan, posisi sosial, kekuasaan atau kurang lebih itu, seperti terhapuskan.

Dunia maya berjalan seperti layaknya dunia biasa. Bedanya, dunia maya tidak dibangun dengan budaya dan tidak diatur oleh sistem sosial yang berlaku. Murid SD bisa berkomentar di kolom yang peruntukannya bagi dewasa. Ahli agama tanpa tedeng aling-aling berbusa-busa bicara hukum bahkan lebih nyaring dari Profesor hukum. Dan masih banyak lagi. Inilah kekacauan tipuan kesetaraan dalam dunia maya tersebut.

Selain tipuan kesataraan, Zizek juga menilai, ada banyak tipuan jati diri. Zizek mendefinisikan interface sebagai sebuah hubungan saya dengan yang lain tidak pernah tatap muka dan hanya sebatas dimediasi oleh mesin digital. Zizek bahkan merasa tidak pernah bisa yakin siapa mereka (kawan komunikasinya dalam dunia internet): mereka benar-benar memiliki cara menggambarkan diri mereka, apakah bahkan ada orang yang "nyata" di balik persona layar,  dunia maya hanya untuk multiplisitas orang.

Yang jahat berpenampilan seolah baik. Yang pemalu membuat citra seolah berani. Penyalahgunaannya kemudian, karena sadar bahwa dunia maya hanya permainan, seringkali muncul banyak informasi yang tersebar bebas tanpa tujuan yang jelas. Akhirnya, kejahatan menjadi lebih mulus dilancarkan. Informasi dengan tujuan adu domba, fitnah, dan opini sesat yang tak sempat dikritisi atau ditindaklanjuti seolah adalah kebenaran.

Zizek menyarankan untuk lebih hati-hati dalam menggunakan dunia maya. Zizek, dengan basis keilmuan psikoanalisis, menggambarkan bahwa “anda” bisa kehilangan “anda yang asli” dalam seperhitungan detik dan mengubah “anda” menjadi “diri yang lain”.

MULAILAH MEMBACA

Persoalan kedua adalah mengenai membaca buku. Dunia maya tentu memiliki sisi positif, meskipun sisi negatifnya tidak sedikit. Untuk menjaga nalar kritis kita tentu yang paling mungkin ditaruh harapan adalah buku.

Kita bisa mencermati gagasan tersebut dalam film Detachment yang dibintangi Adrien Brody. Brody, yang pada saat itu berperan sebagai guru, menjelaskan mengenai assimilate (percampuran budaya) dan ubiquitous (eksis dimanapun, dan dalam waktu yang sama). Pada dunia maya kedua hal itu benar-benar terjadi dan apabila tidak diimbangi maka akan merusak.

Brody, atau dalam film tersebut menjadi Henry Barthes, memotivasi muridnya untuk keluar dari ketidaksadaran. Dia mengajak untuk membaca buku dan memenuhi perpustakaan. Buku, atau lebih tepatnya kerajinan membaca,  baginya adalah benteng pertahanan terakhir. Dia ingin imajinasi kita muncul membangunkan hal-hal kritis untuk kemudian mengoreksi segala yang kita anggap selesai, utamanya yang kita yakini dalam pergaulan global via internet.

Brody tidak secara detail menjelaskan buku apa yang mesti kita baca. Intinya membaca referensi lain di luar yang ditawarkan. Dia, dalam film itu, hanya menyebut satu buku, yakni Novel George Orwell yang masyhur dengan judul 1984.

PENUTUP

Dari penjelasan di atas, kiranya kita bisa lebih dewasa dan bijak dalam menanggapi persoalan yang saat ini tengah menggempur kehidupan sosial kita. Kita tidak bisa menghindari dunia maya, tetapi kita bisa meminimalisir efek buruknya. Kita perlu mengoreksi banyak hal. Kita perlu teliti dalam memisahkan antara keshahihan dan kebenaran. Kembalilah membenarkan pikiran kita dengan membaca.

 

Oleh Bakhrul Amal, penulis adalah Dosen Ilmu Hukum UNUSIA Jakarta

Opini: Terjebak “in Bad Culture”

Tidak ada komentar

Senin, 02 Januari 2017

Opini, Setaranews.com - Saat ini persaingan ketat semakin terasa dengan adanya pasar bebas Asean memaksa pada setiap individu, khususnya di Indonesia untuk berbenah memperbaiki dan meningkatkan kompetensi diri. Banyak perusahaan yang mengeluh karena mendapatkan tim yang tidak berkarakter baik sehingga tidak sesuai harapan. Sering kali pada setiap perusahaan menginginkan perubahan pada sebuah environment baru namun sangat susah bisa diterima, hal tersebut dikarenakan environment tersebut terjebak “in bad culture”.

Menurut penulis ada beberapa hal yang menimbulkan bad character tersebut diantaranya adalah:

  1. Career stuck


Ini banyak terjadi pada perusahaan yang tidak menerapkan proses jenjang karir, tidak ada analysis position untuk jabatan-jabatan tertentu, berjalan apa adanya dan begitu-begitu saja, karyawan hanya menunaikan kewajiban absen masuk dan absen pulang, semua dianggap sama tidak ada kompetisi dan tidak ada prestasi, akibat hal tersebut karyawan jenuh dan akan mengalami stagnasi baik dari sisi motivasi maupun inovasi.

  1. Performa appraisal yang tidak benar


Saat penilaian kinerja tidak tepat maka yang akan terjadi biasanya adalah kesenjangan, membangun gosip dan viral, bahkan karyawan akan menganggap itu hanya sebuah basa-basi yang dilakukan HRD hanya untuk menghindari kewajiban memberikan hak-hak karyawan.

  1. Tidak open minded


Berpikir terbuka atas perubahan dan perbaikan begitulah seharusnya. Namun, tidak sedikit sebuah perusahaan baik karyawan maupun level pimpinan enggan menerima perubahan karena merasa benar, cukup dan menganggap bahwa itu adalah usaha paling optimal dari yang mereka miliki. Tidak bisa menerima orang-orang yang memiliki pemikiran kreatif dan menganggap momok justru menggiring individu atau organisasi terhadap kegagalan bersaing.

  1. Motif conflict of interest


Saat membawa kepentingan pribadi kedalam perusahaan, ini akan membangun konflik kepentingan yang pada akhirnya akan terjadi persaingan tidak sehat, membangun kebencian dan mematahkan semangat tim lainnya. Konflik kepentingan ini menjadi salah satu faktor yang membangun bad cultrure.

  1. Lazy


Malas! Ini adalah faktor yang bahaya, karena malas itu tidak ada obatnya, alasan malas bisa karena kepribadian atau karena akibat yang ditimbulkan. Saat sifat malas ini timbul dari pribadi maka bersiaplah perusahaan akan terus merugi, dan sebaiknya segera lakukan evaluasi.

  1. Distrust terhadap manajemen


Manajemen yang tidak menjalankan kaidah organisasi dengan benar ini rentan terhadap kepercayaan yang didapatkan dari karyawan. Kesulitan mengakomodir usulan dan kreativitas bawahan bahkan cenderung meremehkan sebetulnya sangat mengancam akan kehilangan kepercayaan dari karyawan. Komunikasi satu arah tanpa memperhatikan saran dan pendapat karyawan akan memicu mereka diam dan enggan untuk mengeluarkan ide-ide cemerlangnya.

Hal-hal tersebut diatas jika dibiarkan berlarut-larut akan membentuk bad character environment dan pada akhirnya akan hasil performance korporasi akan menurun sehingga sangat jauh untuk bisa bersaing secara global.

Sebuah tugas yang tidak mudah menyelesaikan ini dikarenakan berhubungan dengan masalah karakter individu. Pendidikan karakter itu dimulai dan didapatkan dari proses pendidikan mereka. Proses pendidikan ini menjadi kunci jika sebagai individu maupun organisasi berhasil dalam persaingan global. Pendidikan formal dan pendidikan informal sangat mempengaruhi sikap dan kemampuan serta keterampilan individu. Perusahaan yang cerdas akan terus membekali karyawannya dengan berbagai keterampilan baik hard skills maupun soft skills, sehingga dengan demikian tujuan perusahan bisa tercapai. Membekali diri dengan berbagai macam pengetahuan dan mengikuti sertifikasi kompetensi saat ini adalah salah satu jawaban yang tepat, sehingga mampu berkompetisi di kancah pasar bebas.

 

Penulis:

Yono Maulana S.Kom., MM., MPM.

Dosen Manajemen Unswagati dan Konsultan Manajemen

Senja Sastra, Ruang Apresiasi Sastra di Lingkup Unswagati

Tidak ada komentar
Profile, Setaranews.com - Pernah dengar nama Senja Sastra atau biasa disingkat Sentra? Itu merupakan nama sebuah komunitas sastra yang dinaungi oleh mahasiswa Diksatrasia (Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia) Unswagati (Universitas Swadaya Gunung Jati). Mereka membuka ruang untuk masyarakat yang mempunyai minat lebih pada sastra, khususnya mahasiswa.

Menurut Wahyudi, salah satu pengurus Senja Sastra, komunitas tersebut terbentuk karena ingin membuka sebuah ruang apresiasi untuk mahasiswa Unswagati yang berkompeten di dunia literasi khususnya kesusastraan.

"Berangkat dari ruang apresiasi kawan-kawan mahasiswa Unswagati, saya yakin banyak yang berkompeten di dalam dunia literasi, kesusastraan khususnya, dan gak ada ruang. Maka dengan kesadaran itu membentuk ruang apresiasi sastra," ungkapnya pada Setaranews.com di Kampus II Unswagati, Jumat (30/12).

Lebih lanjut menurut Wahyudi, selain hal-hal diatas ruang ini hadir sebagai apresiasi di luar kelas kuliah, karena membicarakan sastra tidak akan tuntas ketika dilakukan hanya dalam pembelajaran di kelas.

Sementara metode yang mereka pakai adalah dengan cara berdiskusi. Diskusi yang diadakan setiap dwi Jumat tersebut tidak hanya terbuka untuk mahasiswa Unswagati saja, tetapi mahasiswa umum, pelajar SMA/MAN, penulis, budayawan, dan wartawan Cirebon. Senja Sastra sendiri biasa melakukan diskusi di Kampus II Unswagati secara kondisional, bisa di lorong, halaman, tempat parkir atau trotoar.

Senja Sastra sudah terbentuk hampir tiga tahun, tepatnya pada tahun 2013. Uniknya nama Senja Sastra memiliki arti yakni diskusi di waktu senja. Nama "Senja" diambil karena diskusi yang dilakukan komunitas tersebut dilakukan di waktu sore, dalam arti lain senja. Sedangkan "Sastra" diambil karena pembahasan yang mereka diskusikan ruang lingkupnya seputar sastra.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews