Responsive Ad Slot

Opini: Rebutan Kursi Kosong

Tidak ada komentar

Sabtu, 26 November 2016

Setaranews.com - Tentu semua orang tahu apa itu kursi. Ya, sebuah benda yang memiliki fungsi sebagai tempat duduk. Namun, kursi yang penulis maksud bukan kursi seperti itu, bukan yang ada di setiap rumah, di dalam kelas atau di warung nasi pinggir jalan. Kursi yang jadi rebutan ini bukan kursi yang diperebutkan anak kecil saat bermain. Kursi yang penulis maksud adalah kursi pemerintahan yang jadi rebutan bagi pemegang kepentingan, entah kepentingan positif atau negatif untuk memimpin sebuah wilayah.

Kursi ini diperebutkan pada saat pemilihan umum, mulai dari tingkat desa, daerah, sampai pemilihan setingkat presiden. Nah, saat ini sedang hangat-hangatnya proses dinamika pemilihan kepala daerah ibu kota Indonesia, ditambah lagi dengan kasus yang menimpa salah satu calon Gubernur yang menambah panas dalam proses pemilihan tersebut. Sama hangatnya pula dengan proses dinamika pemilihan calon presiden dan wakil presiden mahasiswa,

Tidak jauh berbeda dengan pemilihan umum tingkat desa (kepala desa), daerah (walikota/bupati/gubernur) maupun nasional (presiden), pemilihan umum pimpinan BEM Unswagati atau yang biasa disebut pemira (Pemilihan Mahasiswa Raya) pun sama, baik dari tahapan pendaftaran partai serta calon presiden dan wakilnya yang diusung oleh partai.

Miniatur negara ini sudah seharusnya memiliki sikap demokrasi yang baik apalagi dalam lingkup mahasiswa yang menyandang kaum intelektual tinggi, khususnya dalam pemira. Dalam pelaksanaannya, masih banyak kemungkinan pelanggaran yang dilakukan, mulai dari prosesnya sampai setelah terpilihnya sosok yang duduk di kursi kosong itu. Hal yang sering terjadi biasanya kecurangan pada saat kempanye, bukannya mengampanyekan calon yang diusungnya dengan penjelasan visi dan misi melainkan mengampanyekan calon lain dengan berkomentar buruk. Itu sudah jelas tidak cocok dilakukan oleh kaum intelektual. Lalu kampanye yang dilakukan di masa tenang yang memang sudah tidak diperbolehkan berkampanye, itu juga sering dijadikan kesempatan. Bahkan dilapangan pada saat hari pemilihan pun masih dimanfaatkan untuk berkampanye dan disertai paksaan ancaman pula. Campur tangan pihak dosen dan rektoratpun tidak luput dalam proses itu, karena tidak ingin dengan adanya pemimpin yang memiliki integritas tinggi yang mampu memberikan tekanan dan menuntut hak-hak rakyatnya pada rektorat sehingga ikut serta mengkotori demokrasi, belum lagi kecurangan dalam surat suara yang dilakukan dan itu semua sering terjadi. Memang hal itu mungkin dilakukan secara tidak sadar, namun kalian (mahasiswa)  jika melakukan itu artinya mencederai nilai demokrasi yang sering kalian tuntut. Hanya demi mendapatkan kursi kosong semua usaha haram dihalalkan. Kalau caranya memperebutkan kursi kosong sudah seperti itu, jika sudah terpilih mau jadi apa miniatur Negara ini?

Setelah selesai proses pemilihan yang diakhiri dengan dilantiknya sosok presiden dan wakil pesiden BEM UNSWAGATI, memang dinamika mulai dingin. Umbaran janji yang mereka koarkan pada masa kampanye memang 50:50, tidak tahu dijalani atau diingkari. Seharusnya langsung menjalani program yang sudah menjadi janji, berkunjung ke miniatur Negara lain cukup dilakukan sekali atau dua kali, itu juga hanya untuk melihat dan mengetahui, sehingga dapat memperbaiki diri dalam memimpin Negara ini. Memimpin sebuah miniatur Negara yang harus memperhatikan ribuan rakyat tak berdosa memanglah sulit tapi itu sudah menjadi tanggungjawab yang harus dilakoni. Itu baru lingkup miniatur atau Negara kecil bukan memimpin Indonesia dengan ratusan juta rakyatnya.

Berharap pemilu tahun ini bersih dari kecurangan dan benar-benar menjalankan demokrasi yang sesungguhnya. Dan pemimpin yang terpilih benar menjalankan visi dan misi yang sudah dijanjikan. Ingat kalian adalah mahasiswa yang menyandang kata maha didepan kata siswa, merupakan agen perubahan untuk bangsa. Memundak beban yang besar dalam pembangunan bangsa. Kalau kecurangan dilakukan dari dini itu sudah menjadi gambaran masa depan buruk akan bangsa ini. Mahasiswa memiliki derajat yang paling tinggi, maka itu manfaatkan pesta demokrasi ini sebagai pembelajaran agar tidak terjadi perselisihan dan tetap menghargai keputusan yang sudah disepakati. Kalian adalah jawaban bagaimana nasib Negara ini dimasa yang akan datang.

SALAM MAHASISWA!!!

 

Oleh AMK, Sarjana Ekonomi yang Belum Diwisuda

Penjelasan Dana Kampanye Partai Dalam PUM

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com -  Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) yang akan diselenggarakan pada senin 28 November 2016 mendatang , membuat setiap partainya mengampanyekan setiap calon yang diusungnya melalui berbagai media seperti pamflet, spanduk maupun selembaran yang disebar di seluruh kampus.

Terkait kampanye yang dilakukan, sumber dana yang dikeluarkan dari setiap partainya berasal dari pihak internal partai itu sendiri.

Seperti yang dipaparkan oleh ketua dari Partai PDAM (Partai Damai Amanah Mahasiswa) Fiqri Taufiq yang menjelaskan sumber dana berasal dari swadaya anggota partai. ”Karena tahun ini tidak ada anggaran dari universitas jadi untuk anggaran kampanye itu sendiri tidak dibatasi, hanya saja sumber anggaran tersebut tidak boleh didapat melalui pihak universitas baik dosen ataupun pejabat kampus  dan juga pemerintahan. Kita boleh menggunakan anggaran melalui simpatisan maupun secara swadaya dari partai sendiri, untuk simpatisan itu seperti teman yang mau ngasih spanduk atau pamflet untuk kampanye, dan untuk swadaya itu seikhlasnya yang ingin patungan," tuturnya melalui pesan singkat Blackberry Messenger, (25/11).

Bernada sama, Siggit Prili Fathurrohman ketua Partai SEMAR (Semangat Mahasiswa Pergerakan) memaparkan sumber dana kampanye yang dilakukan. ”Terkait anggaran Partai SEMAR tidak pernah mendapatkan anggaran untuk kampanye dari lembaga ataupun PPUM, adapun banyaknya pamflet yang terpampang di lingkungan Unswagati itu dan besarnya spanduk yang membentang selama kampanye itu didapat dari donasi dan iuran yang diberikan dari anggota dan partisipan Partai SEMAR," jelasnya melalui pesan singkat Blackberry (25/11).

Bambang Hermanto selaku ketua Partai KITA (Kaum Intelektual Muda) memiliki pendapat yang sama terkait sumber dana kampanye. "Bahwa dana kampanye itu didapat dari 2 hal yaitu, sumbangan atau simpatisan dan patungan seikhlasnya dari setiap anggota partai KITA sendiri," terangnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Sampai berita ini diturunkan, dua partai pengusung yaitu Partai Garuda Merah dan Partai Persatuan Mahasiswa Untuk Demokrasi (PAUD) belum memberikan keterangan terkait sumber dana kampanye untuk calon yang diusung.

 

PPUM: Sumber Dana Kampanye Telah Diatur

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Menjelang pesta demokrasi mahasiswa yang biasa dikenal Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) banyak dilakukan kampanye oleh partai dan calon yang diusungnya. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kampanye yang dilakukan para calon ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) tahun ini terlihat lebih ‘wow’.

Hal tersebut terlihat dari banyaknya spanduk, sticker, poster maupun selembaran lainnya yang menjadi media untuk berkampanye dari masing-masing calon ketua dan wakil ketua yang diusung.

Terkait dana kampanye, Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) sudah mengaturnya bahwa sumber dana kampanye berasal dari peserta pemilu secara individual, sumbangan yang sah berdasarkan Peraturan Perundang-undangan, dan sumbangan perseorangan.

"PPUM tidak memberi dana untuk para calon, itu sumber dananya sudah diatur dan dilaporkan juga. PPUM hanya mendapatkan dana dari universitas hanya untuk pembiayaan jalannya kegiatan Pemira saja," tukas Muslih Ketua PPUM, Jumat (25/11).

Respon tentang kampanye yang dilakukan oleh para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Unswagati, datang dari salah satu mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Nurmaliyah. Ia mempertanyakan dana yang dipakai untuk kampanye berasal darimana.“Tahun ini kampanyenya banyak uang ya, pakainya spanduk yang besar-besar dan bagi-bagi sticker. Nggak tau tuh dananya dari mana,” ujar Mahasiswa FKIP tingkat empat itu.

Opini: Mengevaluasi Kondisi Kampus

Tidak ada komentar
Opini, Setaranews.com - Kampus bukan miniatur negara, tapi kampus adalah sumber inspirasi di mana  negara akan mengadopsi suatu tatanan, dari yang struktur sampai dengan yang sosial. Artinya, tata cara kehidupan kampus harusnya lebih maju dibanding tata cara kehidupan bernegara.

Pada titik itulah kita bersepakat, karena kampus adalah ruang para kaum terpelajar. Di mana bermacam-macam ide dan gagasan tumpah ruah. Bahkan, kampus ada pada titik puncak di mana ketika orang ingin cerdas hanya butuh sebuah kemauan.

Tapi sayang, suasana demikian tak dapat kita tuai. Kampus saat ini seperti menjadi sumber bagaimana kebodohan terus diproduksi. Hal demikian terditeksi dari argumen-argumen yang saat ini telah  menjadi suasana. Dan sialnya, suasana itu kini membeku menjadi batu.

Sungguh, tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa demokrasi yang saat ini dikelola kampus adalah demokrasi murahan yang diadopsi dari pemilihan pilkada. Dimana jargon dan baliho tampak sama; berjejer memenuhui wajah kampus dengan penyanggah yang morat marit.

Penampakan itu lebih terasa sebagai polusi dibanding sebagai simbol kecerdasaan kaum terpelajar. Oleh sebab itu, pada momentum inilah mestinya nalar kampus perlu diperiksa. Dengan titik berangkat, ada perjalanan mundur yang saat ini sedang ditempuh.

Suasana di kampus hari-hari ini seperti layaknya kaum fundamentalis melawan hukum evolusi, tak masuk akal tapi terus dilawannya. Hal ini bukan tanpa konsekuensi, yang paling mudah dirasakan adalah kehancuran visi individu-individu yang ada di dalamnya, mahasiswa.

Bagaimana mungkin individu-individu di dalam kampus akan mengatahui kondisi rill politik -  demokrasi di kemudian hari, jika apa yang dikerjakan hari-hari ini adalah apa yang diadopsi pada level yang sama. Artinya, selama ini ada yang absen dalam proses berpikir kita yaitu analisis —yang tajam terhadap yang rill. Apalagi membicarakan sesuatu yang abstrak. Imajinasi kita lumpuh. Karena tak bisa membayangkan sesuatu yang baru di dalam kehidupan kampus.

Pengadoptasian tersebut adalah sinyal bahwa kampus selama ini telah gagal membuka jalan baru. Jalan yang seharusnya menjadi kemungkinan di kemudian hari, yaitu jalan menyusuri peradaban politik – demokrasi yang jauh lebih bermutu.

Harus ada evalusi dan refleksi untuk mengubah arus tersebut.  Ini demi kelangsungan intelektualitas yang menjadi cermin kehidupan kampus. Kampus tak bisa dikelola oleh semacam grombolan yang beringas. Jika ada persoalan yang didahulukan adalah otot bukan otak.

Kampus sebagai identitas teritinggi dengan MAHA-nya tak boleh tergelincir pada suanana tersebut, hanya karena dia berani dan banyak lantas manjadi simbol kekuatan. Seperti kondisi rill politik – demokrasi yang saat ini berlangsung.

Kampus adalah ruang dimana individu-individu yang ingin melibatkan diri, yang mewakili dirinya sendiri. Tak mewakili atas nama kelompok dan  ideloginya. Untuk terus bertransaksi satu sama lain dengan mata uang yang sama yaitu, kecerdasaan. Bukan kekuatan.

Apabila jika ditarik pada kondisi politik – demokrasi peradaban Yunani, pemilihan seorang walikota hanya butuh diundi. Karena pada kondisi saat  itu sangat memungkinkan bahwa siapapun nanti yang akan terpilih, demokrasi akan tetap memproduksi keadilan.

Artinya, kampus sebagai ruang indvidu-individu cerdas, tak selayaknya memiliki ambisi terhadap kekuasaan. Karena pada dasarnya demokrasi bukan ruang untuk mencari orang yang terbaik, melainkan sebagai ruang untuk hidup bersama.

Di mana ruang hidup bersama itu terus mencapai konsensus dan kehormatanya sebagai mahasiswa. Bisa memperolah haknya untuk tumbuh sesuai yang diinginkannya dengan fasiltas-fasilitas yang harus diperolehnya, seperti ruang-ruang akademik, ruang-ruang kreatifitas dan seni. Ruang yang seharunsya bisa ditransaksikan secara bermutu. Ruang dimana ide dan gagasan bisa berselancar dengan luas. Bukan ditransaksikan melalui  intrik.  Ruang yang penuh dengan kepungan grombolan yang hipokrit.

Untuk itu, harus ada jalan ketiga untuk bisa melawan arus itu. Hal yang paling memungkinkan adalah membuka diskursus-diskursus dan ruang-ruang wacana dengan kedispilinan akademik yang ketat. Hal demikian untuk memperoleh sumber kelimuan yang bermutu. Bukan sumber yang asal bunyi.

Karena jika dibiarkan,  bukan tidak mungkin kondisi di masa depan akan lebih buruk dari saat ini. Bukan hanya bagi kampus, tapi juga bagi kehidupan bernegara di masa depan. Posisi demikian adalah bentuk perlawanan terhadap suasana. Bukan terhadap orang.

Penulis: Kris Herwandi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tak Ada Koordinasi, Kandidat Nomor 3 Meminta Maaf

Tidak ada komentar

Jumat, 25 November 2016

Unswagati, Setaranews.com - Kampanye yang dilakukan oleh Partai Amanah Untuk Demokrasi (PAUD) tepat didepan Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM-FKIP), Rabu (23/11) lalu yang sempat menuai keluhan dari mahasiswa karena mengganggu kondusifitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan dijustifikasi oleh mahasiswanya sebagai acara yang dilakukan oleh BEM FKIP. Hal itu akhirnya dibantah oleh pihak BEM-FKIP dengan mengeluarkan Press Release melalui Biro Hubungan Komunikasi Ormawa Fakultas kepada setaranews.com untuk tidak menjustifikasi.

(Baca: http://www.setaranews.com/klarifikasi-bem-fkip-soal-kampanye-di-kampus-ii-unswagati.html).

Surya Oktaviandi Zebua selaku calon ketua BEM Unswagati yang diusung oleh Partai PAUD mengatakan bahwasanya sudah meminta izin kepada pihak dekanat untuk melakukan kampanye di kampus dua Unswagati. "Awalnya memang tidak diperbolehkan untuk melakukan kampanye disaat kegiatan KBM dilaksanakan di kampus dua karena belum meminta izin ke dekanat, tapi kemudian dari partai mengirimkan surat permohonan izin ke dekanat dan kemudian diberikan izin oleh dekanat," katanya kepada setaranews.com melalui pesan singkat Blackberry Messenger (BBM), Jumat (25/11).

Tak sampai disitu, Okta, sapaan akrab calon ketua BEM Universitas nomer urut tiga, meminta maaf kepada pihak yang merasa dirugikan atas kampanye yang dilakukannya. "Jika diperkenankan menggunakan hak jawab saya, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan dalam hal ini. Kegiatan kampanye yang berlangsung selama 4 hari ini memang sangat mengganggu kondusifitas KBM, mulai dari acara musik yang mengedepankan kreatifitas, penyebaran pamflet disembarang tempat dan masuk ke kelas-kelas disaat kegiatan KBM berlangsung, mohon dimaklumi," tuturnya

Soal Kampanye tersebut, pihak Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) melalui Agus Darmawan, menanggapi bahwasannya Panwaslu sendiri belum menerima laporan akan hal tersebut. "Kami sendiri belum mendapat laporan tentang kampanye yang dilakukan di kampus dua. Dan jika kami ingin menindaklanjuti, kami tidak bisa karena kegiatan tersebut sudah dilakukan rabu lalu dan kami sendiri tidak terjun langsung ke lapangan," ujar Ketua Panwaslu kepada Setaranews.com, Jumat (25/11). (Awank/Hashbi)

PUM Tak Wajibkan Bawa KTM

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com - Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) yang menjadi kegiatan rutin tahunan untuk memilih ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) akan kembali diadakan pada Senin (28/11). Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) yang menjadi penyelenggara kegiatan PUM telah menyiapkan tiga Tempat Pemungutan Suara (TPS) di tiga kampus Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon.

Tahun ini, PPUM berharap agar mahasiswa Unswagati dapat memberikan suaranya dalam PUM nanti. Mahasiswa yang boleh berpartisipasi merupakan mahasiswa aktif dari tingkat satu sampai tingkat empat dengan dibuktikan oleh Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).

Namun, karena banyak mahasiswa yang belum mendapatkan KTM maka tidak menjadi barang wajib untuk dibawa. PPUM telah menyiapkan daftar Data Pemilih Tetap (DPT) sehingga mahasiswa yang termasuk DPT dapat menyuarakan aspirasinya tanpa membawa KTM. “Melihat dari tahun kemarin, partisipasi mahasiswa dalam memilih itu kurang karena mungkin kendala belum punya KTM. Sehingga tahun ini kita tidak ingin mempersulit,” ujar Muslih ketua PPUM Unswagati kepada setaranews.com, Jumat (25/11).

Mahasiswa dapat langsung menuju ke TPS yang telah ditentukan lalu menyebutkan nama jelas serta Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) kepada panitia. Dengan kemudahan tersebut diharapkan tingkat partisipasi mahasiswa pun meningkat dalam Pemira tahun ini. TPS sendiri dibuka pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. (Anisa)

Klarifikasi BEM FKIP Soal Kampanye di Kampus II Unswagati

1 komentar
Unswagati, Setaranews.com – Tim Sukses dari Partai PAUD nomor urut 5 berkampanye perihal Capresma dan Cawapresmanya dengan nomor urut 3 yang diselenggarakan di depan halaman sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM FKIP) Unswagati pada Rabu (23/11).

Kampanye yang dilakukan melalui kegiatan konser musik yang dilakukan selama kegiatan perkuliahan berjalan. Kegiatan tersebut mendapat banyak keluhan dari pihak kampus karena mengganggu aktivitas perkuliahan. Selain itu, pihak kampus menilai kegiatan tersebut diselenggarakan oleh pengurus BEM FKIP Unswagati, karena lokasinya berada di depan halaman sekretariat BEM FKIP Unswagati.

Dalam hal ini, pihak BEM FKIP mengklarifikasi kebenaran terkait kegiatan kampanye dalam bentuk acara musik yang diadakan di depan halaman sekretariat BEM FKIP bukan kegiatan yang diselenggarakan oleh pihaknya.

“Saya tidak tahu mengenai kegiatan konser musik tersebut, dan itu sama sekali bukan pengurus BEM yang mengadakan kegiatan itu, saya mohon kepada segenap dosen untuk tidak menjustifikasi kegiatan tersebut adalah kegiatan BEM,” jelas M. Zaiim Muhtadi selaku Ketua BEM FKIP.

 

*Prees release yang dibuat oleh BEM FKIP melalui Biro Hubungan Komunikasi Ormawa Fakultas

Puisi: Ayah...

Tidak ada komentar

Kamis, 24 November 2016

Dia yang selalu berikan cintanya
Dia yang selalu berikan nasehatnya
Dia yang selalu berikan kasih sayangnya
Padaku...

Dia juga yang mengajarkanku banyak hal
Dia juga yang mengingatkanku untuk selalu berbuat kebaikan

Kini kehangatannya tak bisa lagi ku rasakan
Dia telah pergi beberapa tahun yang lalu
Andai waktu dapat ku ulang
Aku ingin habiskan banyak waktu dengan dia
Ya, dia yang ku sebut Ayah...

Penulis: Hashbi Isma Rabbani, Mahasiswa FISIP Unswagati

Progress PPUM Seminggu Menjelang PUM

Tidak ada komentar

Rabu, 23 November 2016

Unswagati, SetaraNews.com – Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon tengah melaksanakan persiapan untuk Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) yang akan dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) pada Senin 28 November 2016 mendatang.

Sejak tahap per tahap terlaksana, dari 10-15 pendaftaran partai, hanya ada 5 partai yang masuk setelah memenuhi syarat, yakni PDAM (Partai Damai Amanah Mahasiswa), Semar (Semangat Mahasiswa Pergerakan), Garuda Merah, KITA (Kaum Intelektual Muda), dan PAUD (Partai Persatuan Mahasiswa Untuk Demokrasi). Lantas pada 15 November pun langsung di verifikasi dan kelima partai tersebut lolos menjadi Peserta Pemilu. Kemudian, pada esoknya, 16-19 November, PPUM membuka pendaftaran calon Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) beserta wakilnya.

Terpilihlah 4 pasang calon yakni, yang berada di nomor urut pertama, M. Akmal Yidissalam dan Rifqi Aziz Al Wakidi (Partai Semar), disusul Neng Selajatri dan Syahrial Fauzian (PDAM), lalu ketiga, Surya Oktaviandy Zebua dan Windy Nurrochmanto (PAUD) dan yang terakhir Hasan Basrie dan Ajie Ibrahim Muttaqien (Partai KITA).

"Dan dari ke empat calon tersebut kita verifikasi dan keempat calon ini lolos verifikasi dan akan menjadi peserta pemilu yang akan dilaksakan pada hari Senin, 28 November nanti,” tutur Muslih selaku Ketua PPUM saat ditemui oleh Setaranews.com, Senin (21/11).

Dan pada 22-23 November akan diadakan sosialisasi dengan cara mendatangi tiap-tiap kelas, bentuknya berupa ajakan agar bisa menyuarakan hak pilihnya, serta berupa pamflet agar semua mahasiswa tahu dan ikut berpartisipasi.

"Untuk mekanisme sama saja dengan tahun lalu, mungkin bedanya hanya di bagian mencontreng (ceklis) bukan di coblos," tutupnya. (Hikmah)

 

Editor: Fiqih Dwi H.

Indahnya Kebun Bawang di Majalengka

Tidak ada komentar

Oprec UKM Seni dan Budaya, Capai 80 Orang Pendaftar

Tidak ada komentar
Unswagati, SetaraNews.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni dan Budaya Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon melaksanakan open recruitment (oprec) untuk anggota baru yang dimulai sejak 21 November-24 November 2016 di Aula Kampus Utama Unswagati.

UKM Seni dan Budaya sendiri adalah wadah untuk pengembangan bakat dalam merawat kesenian dan kebudayaan, yang berada di lingkungan pendidikan Kampus Unswagati. Untuk tahun 2016 ini, peserta yang mendaftar mencapai 80 orang, banyaknya peminat yang ingin bergabung menjadi motivasi tersendiri bagi UKM Seni dan Budaya untuk tetap berkiprah di bidangnya.

Beberapa bidang yang di kembangkan di UKM Seni dan Budaya antara lain tari, paduan suara, musik, dan teater. Tahap yang harus dilalui bagi calon anggota baru dalam proses open recruitment dimuai dari penampilan minat dan bakat para peserta, dan mewawancarai peserta untuk mengetahui lebih jauh potensi para calon anggota, untuk kemudian akan diarahkan dan diserap di bidang yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

“Parameter atau poin yang kita nilai dari proses rekruitmen ini, untuk musik misalnya skill memainkan alat musik, paduan suara dari kepekaannya terhadap not, untuk tari dari kelemasan badannya lues dan sebagainya, kemudian untuk teater dinilai dari pendalaman memerankan seorang tokoh.” Ucap Nur Ahmad Akbar (Cotog) selaku Ketua Pelaksana pada Setaranews.com disela-sela acara, Selasa (22/11).

Tidak hanya itu, dari rangkaian proses open recruitment ini, ada perbedaan dari konsep taun lalu dan sekarang, kali ini panitia menambahkan acara flash mob sebagai hiburan untuk akhir agenda pada Kamis nanti. “Saya harap temen-temen baru bisa terus semangat dan jangan putus asa, kita belajar bareng dari nol dengan bersama-sama.” tutupnya.

Editor: Fiqih Dwi H.

Cara Sederhana Agar Ginjal Tetap Sehat

Tidak ada komentar

Selasa, 22 November 2016

Kesehatan, Setaranews.com - Kebanyakan orang tidak begitu memperhatikan kesehatan ginjalnya, padahal ginjal merupakan organ tubuh yang amat penting. Ginjal bertugas untuk membuang limbah dan cairan berlebih dalam tubuh, mengatur garam, kadar asam, hingga menjaga tekanan darah. Namun, seringkali kurang diperhatikan kesehatannya seperti gaya hidup kita yang terlalu banyak mengkonsumsi minuman berperisa dibandingkan dengan mengkonsumsi air putih. Umumnya penderita gagal ginjal tidak menyadari bahwa ginjalnya mengalami gangguan karena gejalanya yang sukar dipahami. Dari kasus yang sering terjadi, orang baru sadar menderita gangguan ginjal ketika tingkat kerusakan ginjal sudah mencapai 90%. Maka dari itu perlu kita ketahui cara untuk mencegah hal tersebut dengan cara-cara sederhana, seperti:

  1. Konsumsi Air Putih


Kebiasaan buruk dengan minum minuman bersoda atau kopi yang terlalu sering harus diimbangi dengan konsumsi air putih secara maksimal setiap hari  karena air putih  sangat membantu dalam proses penyaringan yang terjadi dalam ginjal

2. Kontrol Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi dan diabetes adalah dua penyebab utama terjadinya penyakit ginjal. Seperti kita ketahui ginjal merupakan organ vaskular yang berarti didalamnya terdapat banyak pembuluh darah.Bila ada penyakit terkait pembuluh darah yakni tekanan darah tinggi dan diabetes bisa merusak ginjal

3. Pemeriksaan Kondisi Ginjal

Pemeriksaan secara fisik perlu dilakukan .Ada baiknya jika anda memeriksakan ginjal anda secara jangka waktu tahunan dengan cara tes darah atau tes urine untuik mengetahui perkembangan kesehatan ginjal anda.

4. Menjaga Berat Badan

Sudah idealkah berat badan anda. Menjaga berat badan merupakan salah satu aspek penting menjaga ginjal  tetap sehat. Saat tubuh gemuk, ini artinya ginjal perlu bekerja lebih keras untuk menyaring racun. Sebaiknya biasakan pula pola hidup sehat dengan berolahraga.

5.Berhenti Merokok

Berhenti merokok memang sulit namun bisa anda coba secara perlahan untuk mengkonsumsinya. Sebab dengan merokok sama saja membuat tekanan darah tinggi dan mengurangi kinerja ginjal anda.

 

Hipmagri Adakan Acara Tahunan LKMM

Tidak ada komentar
Unswagati, SetaraNews.com – Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Hipmagri) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon mengadakan acara Latihan Kepemimpinan Manajerial Mahasiswa (LKMM) dengan tema “Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan yang Humanis, Kreatif dan Bersinegris” pada 19-20 November 2016 di GT Kampus 2 Unswagati.

Acara tersebut dilaksanakan setiap tahun, yang bertujuan agar menumbuhkan solidaritas sesama mahasiswa agribisnis. LKMM sendiri berlangsung selama dua hari yang hanya diikuti oleh sebelas peserta. Lalu diisi dengan serangkaian kegiatan yang menyenangkan tapi tetap bersifat edukatif, diantaranya adalah pemaparan tentang kepemimpinan, kewirausahaan, keprofesian, dan team building serta dimeriahkan dengan games dan proses pembuatan produk kewirausahaan yakni jahe instan.

“Senang ada acara pelatihan seperti ini, bermanfaat banget buat nambah pengetahuan dan biar nanti bisa diterapkan kalo bikin produk.” ucap salah satu peserta, Anwar disela-sela acara pada Setaranews.com, Sabtu (19/11).

Selaku Ketua Pelaksana Ahmad Maulani pun merasa senang meski jumlah peserta tidak sesuai seperti yang diharapkan. “Ya walau jumlah pesertanya tidak seperti yang diharapkan, tapi mereka tetap terlihat semangat dan penuh antusias terhadap acara ini.” paparnya.

Kemudian, Ahmad berharap tahun depan peserta LKMM bisa lebih banyak lagi. “Harapannya semoga tahun depan pesertanya bisa lebih banyak lagi, acaranya lebih meriah, dan tujuan dari acaranya bisa tersampaikan.” tutupnya. (Riska)

Editor: Fiqih Dwi H.

Opini: Pewarta Pembawa Berita Bukan Pembawa Petaka!

Tidak ada komentar

Senin, 21 November 2016

Opini, Setaranews.com - Berita adalah laporan peristiwa (fakta) yang aktual (terkini), menarik dan penting. Ada juga yang mengartikan berita sebagai informasi terbaru yang disajikan dalam pembacaan atau penulisan yang jelas, aktual dan menarik. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berita diartikan sebagai cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Fakta adalah peristiwa yang benar-benar ada atau terjadi.

Berita sendiri berupa fakta dengan kenyataan yang benar-benar terjadi. Pembawa berita disebut juga dengan pewarta. Banyak segilintir oknum yang anti dengan pewarta alasannya beragam, karena mereka takut apa yang akan dipublish pewarta membawa dampak yang buruk bagi mereka. Sejatinya apa yang pewarta kerjakan pada dasarnya mulia, mereka memberikan informasi segala peristiwa berdasarkan fakta (jika medianya idealis dan tidak memiliki kepentingan). Lantas mengapa ada beberapa oknum yang melabelkan pewarta adalah pembawa petaka? padahal semua akan baik-baik saja ketika yang bersangkutan berbicara sesuai kenyataan yang ada pada saat pewarta menggelintirkan berbagai macam pertanyaan, serta tidak merasa dirugikan atas segala hal yang diberitakan oleh pewarta. Jika yang bersangkutan atau dalam hal ini bisa disebut sebagai narasumber merasa dirugikan artinya ada yang salah dalam diri narasumber tersebut, atau bisa saja dia takut apabila fakta yang akan diungkapkan justru  membuka aib mereka yang sebenarnya.

Tahukah anda? Laporan terbaru Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan  (UNESCO) menyebutkan seorang wartawan tewas dibunuh setiap 4,5 hari di seluruh dunia. Laporan Direktur Jenderal UNESCO pada 2 November 2016 menyatakan, sejak satu dekade lalu ada 827 wartawan tewas saat bertugas. Menurut laporan yang bertajuk Journalists and the Danger of Impunity, daerah yang paling parah adalah negara Arab, termasuk Suriah, Yaman, dan Libya. Amerika Latin adalah benua kedua paling parah. (sumber: https://dunia.tempo.co/read/news/2016/11/02/117817095/unesco-setiap-4-5-hari-1-wartawan-tewas-dibunuh)

Pewarta memiliki kode etik jurnalis yang harus dijunjung tinggi sebagai pegangan dalam melakukan tugasnya. Pewarta dilindungi oleh undang-undang di dalam negeri maupun oleh undang-undang internasional. Pewarta adalah profesi yang menjunjung tinggi nilai-nilai keakuratan. Setiap pemberitaan yang ditulis sesuai dengan informasi yang dikatakan oleh narasumber (seharusnya), bukan berlandaskan opini si pewarta. Pewarta yang baik seharusnya berpegang pada kode etik bukan hanya mementingkan naiknya rating lembaga yang menaunginya.

Penulis sedih jika melihat segelintir orang yang menutup diri untuk pewarta baik yang sedang mencari berita ataupun yang menjauhi karena berprofesi sebagai pewarta. Sekali lagi, penulis tegaskan bahwa pewarta bukan tukang mencari kesalahan orang lain, pewarta juga bukan pembawa petaka tetapi pewarta adalah manusia yang diciptakan Tuhan untuk mencari fakta dan informasi untuk mengubah mindset dan pola pikir manusia-manusia yang lain.

Penulis: Silvia

Mahasiswa Fakultas Ekonomi

7 Langkah Mudah Melepas Kutukan Sumber Daya, Demi Membesarkan Bangsa

Tidak ada komentar
Tentang Bisnis Industri Hulu Migas

Setaranews.com - Menjadi suatu hal yang menarik untuk diperbincangkan ketika Kementrian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM)merilis  tren produksi positif dialami Pertamina sejak tahun 2003 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata (Capital Average Gross Ratio/CAGR) mencapai 3,1% dari level produksi 95,6 ribu barrel per hari (MBOPD) di 2003 menjadi 102,2 MBOPD di 2006. Ini merupakan rekor tertinggi. Namun,  masih dibawah Chevron dan Total Indonesia untuk gas. Apanya yang menarik? Fakta yang dirilis sendiri oleh Pertamina yaitu salah satu yang mempengaruhi tren positif terebut dikarenakan adanya peningkatan produksi di blok Cepu, yang memang Pertamina memiliki ‘jatah’ untuk mengelola sampai memproduksi minyak di blok teresbut. Kalau semua blok dikuasai dan dikelola Pertamina bagaimana produktifitasnya dan dampaknya bagi perekonomian? Jawab sendiri!  Yang jelas, Pertamina harus ektra ‘banting tulang’ agar dapat bersaing dengan perusahaan swasta (multinasional) lain dalam hal bisnis industri hulu migas.

Tumbuh kembangnya industri ekstraktif (minyak dan gas bumi ) ini tak dipungkiri sangat berpengaruh terhadap laju perekonomian. Juga merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar  APBN. Akhirnya, - dan mungkin selalu jadi kebijakan - Pemerintah terus menggenjot produktifitasnya, dengan cara membuka kran investasi disektor migas (padat modal). Karena memang seperti yang diungkapkan Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK MIGAS) Iklim investasi disektor hulu migas masih minim, minat investor masih rendah, perlu stimulus – stimulus untuk memancing investor menanamkan modalnya. Padahal Indonesia bakal terus menjadi sasaran ‘empuk’ investor, karena peluang dan potensi SDA yang terkubur di perut buminya, serta  manusianya yang terkenal ramah dan ‘murah’. Memang sejarah membuktikan kita terlalu ramah, pada Kolonial sekalipun!

Tingginya ketergantungan atas bisnis hulu migas masih berlangsung –sekaligus pada perusahaan – perusahaanya-  mengingat migas masih menjadi sumber energi utama, hari ini dan mungkin esok nanti. Lantas apa yang akan terjadi dengan gempuran investasi di kemudian hari?  Realitas hari ini, di negara penghasil migas,  berbagai  cara telah diupayakan untuk bisa melawan kutukan sumber daya alam (tak perlu dijelaskan lagi soal kutukan ini), salah satunya dengan program transparansi dan akuntabilitas, kebjikan publik, meminimalisir praktik KKN dan mafia migas, serta  pengalokasian perekenomian yang tepat guna. Tidak sedikit organisasi (LSM dan NGO) yang mengkampanyekan program tersebut, termasuk Pemerintah yang juga ikut  latah. Akan menjadi pembahasan panjang lebar jika mendiskusikan soal program tersebut, apalagi soal praktik nekolim melalui Seven Sister dan lembaga keuangannya, tentu menjadi perdebatan panjang dan sengit pastinya. Pokok permasalahannya, tampaknya kita semua luput dari hal yang paling mendasar , yaitu nilai tambah dari eksplorasi dan eksploitasi bisnis hulu migas yang  kita tidak miliki serta pengelolaannya yang masih bergantung pada perusahaan multinasional. Dengan hanya  kecipratan dari bagi hasil migasnya (kontrak kerja sama) saja sudah riang gembira, disitu terkadang penulis merasa sedih. Ini realitas yang mungkin terkadang terlupakan, atau dlupakan bisa jadi. Bagaimana menurut Anda, sepakat atau tidak?

Solusi yang Ditawarkan

Memang menjadi simalakama bagi Pemerintah, disatu sisi membutuhkan investasi sebagai penopang ekonomi terutama disektor migas. Karena memang bisnis hulu migas  memiliki multiplayer effect yang bisa menggerakan roda perekonomian (karena ketergantungannya tadi). Di sisi lain, pemerintah, mungkin kita semua sebagai warga Negara harus (dipaksa) merelakan isi perut bumi pertiwinya di kuras habis – habisan. Akan tetapi, tidak akan menjadi simalakama jika menyiapkan beberapa langkah, stimulus dan kebijakan, bahkan bisa melepas kutukan itu sendiri dimasa yang akan datang, berikut 7 langkah  solusinya . Pertama, ketergantungan atas sektor bisnis hulu migas sebagai penopang perekonomian sedikit demi sedikit mulai diminimalisir, dengan menggenjot sektor  lainnya seperti jasa, manufaktur dan pariwisata untuk produktifitas ekonomi yang berkelanjutan. Kedua, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) difokuskan pada pemberdayaan sumber daya yang ada, baik manusia maupun sumber daya alam, melalui program beasiswa pendidikan dan wadah untuk mengimplementasikan ilmunya. Dengan tujuan  masyarakat bisa berdaya guna, bisa lebih maju dan kompetitif. Ketiga, menyisihkan anggaran dari hasil bisnis migas untuk inovasi teknologi dibidang energi baru  terbarukan (Ranaweble Energy). Sumber energi terbarukan tersebut berserekan, tinggal mau atau tidak memanfaatkannya.

 Keempat, mendorong produktifitas tenaga kerja agar bisa menghasilkan inovasi – inovasi teknologi, khusunya disektor  bisnis hulu migas . Kelima, Investasi pada padat karya – tidak melulu pada padat modal -  mulai digerakan, agar bermunculan industri  – industri dalam negri  yang kompeten, dan menciptakan peradaban  maju sehingga dapat bersaing dengan Negara adidaya lainnya. Keenam, investasi di sektor ini bisa tetap dijalankan sepenuhnya, asalkan memenuhi prinsip keadilan, kemanusiaan, demokratis dan tentunya bermanfaat bagi nusa bangsa. Saat ini bagaimana? Memang tidak dipungkiri sektor migas berkontribusi besar bagi pembangunan. Akan lebih berkontribusi jika menggunakan cara Terahir ini, mungkin akan  sulit dilakukan dan bakal mendapat perlawanan dari berbagai penjuru, yaitu melakukan naionalisasi aset atas bisnis hulu migas. Hasilnya Pertamina sendiri telah merilisnya diatas , produktifitas melonjak derastis .  Beberapa solusi ini penulis tawarkan bukan sebagai ajang hardik menghardik atau saling menyalahkan. Melainkan sebatas kewajiban sebagai warga negara, dan tentunya menjadi tanggung jawab moral sebagai insan akademis. Perlu diyakini, Nusantara  berpeluang besar menjadi negara adi daya dan bangsa besar, sumber energi untuk menggerakan roda perekonomian ada disiini, entah yang konvensional atau terbarukan. Hasil tambang lainnya juga masih melimpah, yang oleh negara maju dimanfaatkan untuk mempertahankan hegemoni peradaban, ekonomi dan politiknya hingga detik ini. “We Are The Real United Kingdom”.  Semoga dengan melepas kutukan sumber daya alam, keadilan ekonomi dan kedaulatan bangsa atas sumber daya alamnya bisa tercapai.  Pada akhirnya, penulis yakin betul  industri hulu migas ini bisa benar – benar membesarkan bangsa. Betul atau tidak? Silahkan menyimpulkannya masing – masing!

 

Sumber Referensi

 http://www.pertamina.com/news-room/siaran-pers/produksi-migas-pertamina-hingga-juli-capai-640-ribu-boepd/

http://esdm.go.id/berita/40-migas/2766-pertamina-mencapai-rekor-tertinggi-produksi-migas.html

https://humasskkmigas.wordpress.com/2016/09/30/implementasi-teknologi-yang-tepat-akan-meningkatkan-efisiensi-dan-efektivitas-bisnis-hulu-migas/

Internasional Global Justice (IGJ)

 

Oleh: Epri Fahmi Aziz

Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati) Cirebon

 

*Tulisan ini termasuk 20 besar finalis dalam kompetisi yang digelar SKK MIGAS dengan tajuk "Membesarkan Bangsa Bersama Industri Hulu Migas" 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews