Responsive Ad Slot

Dikti Rilis Peringkat Perguruan tinggi, Unswagati Peringkat 656

Tidak ada komentar

Jumat, 05 Februari 2016

Unswagati,Setaranews.com- Rabu 3 Februari 2016, Kemenristek Dikti (Kementrian riset, teknologi dan direktorat pendidikan tinggi) secara resmi mengumumkan peringkat universitas terbaru edisi 2015. Kemendikti dalam hal ini menilai Perguruan tinggi dari kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas Manajemen, Kualitas kegiatan mahasiswa serta kualitas penelitian dan publikasi.

Di urutan pertama Dikti merilis  Institut Teknologi Bandung yang bercokol dengan skor kumulatif 3,743 di susul dengan Universitas Gajah Mada dengan skor kumulatif 3,690 lalu di ikuti Institut Pertanian Bogor dengan skor kumulatif 3,490. Universitas Indonesia ada di posisi empat dengan skor kumulatif 3,412 dan posisi lima di isi Institut Teknologi Surabaya yang mengumpulkan skor kumulatif 3,289. Lalu diperingkat berapakah Universitas Swadaya Gunung Jati?

Nyatanya Unswagati harus puas berada di posisi 656 dengan skor kumulatif 1,057. Jika di tilik dari masing-masing sub penilaian. Untuk kualitas SDM Unswagati mendapat nilai 1,69. Kualitas manajemen Unswagati diberi nilai 1.5. Kualitas penelitian dan publikasi mendapat nilai 0.3. Serta Unswagati di hadiahi nilai 0 untuk kualitas kegiatan mahasiswa.

Dari rilis peringkat diatas, ternyata di wilayah tiga Cirebon Unswagati tak lagi menjadi perguruan tinggi paling unggul. Sebab, setidaknya ada tiga Perguruan tinggi di wilayah Tiga Cirebon lain yang menduduki peringkat lebih tinggi dari Unswagati. Perguruan tinggi tersebut adalah Akademi Kebidanan Muhamadiyah Cirebon di posisi 292, Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon di posisi 305 dan Universitas Muhamadiyah Cirebon di posisi 517.

Kemendikti total menilai 3320 perguruan tinggi di Indonesia  baik negeri maupun swasta. Bersama SK menteri, peringkat ini di rilis di web kemendikti

Cirebon Bukan Kota Tilang

Tidak ada komentar
Opini-setaranews.com Akhir akhir ini media sosial di riuhkan dengan tagar Cirebon Kota Tilang. Kota yang sebelumnya dikenal sebagai kota udang ini tiba-tiba jadi sorotan publik. Hal ini terjadi lantaran tagar Cirebon Kota Tilang merangsek menjadi salah satu topik perbincangan yang betul betul marak di perbincangkan di modial sosial. Hal ini tentu menjadi pro kontra di kalangan publik. Termasuk publik Cirebon sendiri.

Sebetulnya ramai tagar Cirebon Kota Tilang ini dimunculkan oleh para pendatang yang kebetulan melintas kota udang ini, dan apesnya para pendatang ini menemui razia polisi yang banyak orang bilang ‘tidak wajar’. Loh kenapa tidak wajar? Sejumlah tagar di media sosial seperti twitter dan instagram menyebutkan bahwa, ada masyarakat  yang kena tilang lantaran platnya bernomer luar Cirebon, ada yang kena tilang sebab menaruh tas diantara kaki di motor matic. Ada juga yang kena tilang lantara menggendong tas dengan berat 4 kilo. Ada lagi yang karena barang bawaanya di ikat di jok bagian belakang lalu kena tilang. Dan sederet kasus lain yang membuat banyak netizen tergelitik.

Nah, ramainya tagar kota tilang kemudian sedikit banyak mengapungkan nama Cirebon ke permukaan. Banyak orang yang kemudian bertanya apa betul sebegitunya polisi di Cirebon? Sampai tutup pentil yang tidak ada atau karena tengok kanan kiri saat lampu merah dianggap kesalahan lalu lintas?

Sejumlah pertanyaan ini yang akhirnya harus di jawab segenap jajaran kepolisian di Cirebon entah Kota maupun Kabupaten. Atau mungkin Satlantas polres Cirebon Kota dan Kabupaten yang harus benar-benar mengklarifikasi. Apa sudah benar dan sesuai perundang-undangan kah yang dilakukan oknum polisi tersebut? Atau memang itu sebuah tindakan yang salah, yang dilakukan si oknum untuk menambah uang rokok?

Seperti yang penulis ungkapkan diatas, ketika tagar Cirebon Kota Tilang mencuat, polemik antara yang pro dan kontra pun juga ikut melambung, sebagian yang kontra beralasan, bahwa  terlalu jahat jika hanya karena oknum polisi yang menilang dengan konyol membuat satu kota di cap sebagai kota yang identik dengan tilang. Padahal sejak dari dulu Cirebon sudah kadung diketahui publik se-Indonesia dengan julukan Kota Udang ataupun Kota Wali, masyarakat Cirebon  sedari dulu juga sangat akrab dengan sebutan Cirebon Kota Berintan. Jangan hanya karena segelintir oknum membuat image yang sudah di bangun ini hilang begitu saja, berganti dengan julukan yang negatif.

Sedangkan yang pro degan tagar tersebut biasanya datang dari para korban yang punya pengalaman ‘dikerjai’ oleh oknum-oknum polisi tersebut. Mereka yang pro sampai membuat meme yang akhirnya meramaikan tagar Cirebon Kota Tilang.

Melihat ini penulis rasa ada sesuatu yang bagus dalam dinamika kebabsan berpendapat di masyarakat. Sebelum ini penulis tahu betul bagaimana banyak sekali orang terutama masyarakat Cirebon yang ingin menggaris bawahi kinerja kepolisian dalam hal razia kendaraan. Ini terbukti dengan besarnya arus di media sosial yang seakan ingin menunjukan bahwa banyak orang yang prihatin dengan situasi Cirebon saat ini.

Begini, penulis sebagai wagra Cirebon tahu betul di setiap harinya ada saja razia entah itu resmi, gabungan atau terkait tema-tema tertentu yang ada di wilayah Cirebon baik kotamadya maupun kabupaten. Tidak salah memang menggelar razia semacam itu, namun yang penulis sesalkan adalah mengapa dibanyak razia justru menyebabkan kemacetan? Di daerah pegambiran Kota Cirebon misalnya, jika ada razia kendaraan di daerah itu dan itu dilakukan pada pagi hari, maka sudah hal lumrah jika ruas jalan pegambiran menjadi macet. Padahal itu terjadi di jam rawan, artinya di jam yang sedang ramai-ramainya dilewati anak sekolah dan para pegawai. Pada akhirnya timbulah pertanyaan dari penulis, bukan kah tugas Polantas salah satunya melerai kemacetan? Mengapa justru membuat kemacetan?

Beberapa pihak menyatakan bahwa banyaknya gelar operasi razia adaah sebuah bentuk antisipasi dari maraknya teror geng motor yang kerap terjadi beberapa waktu belakangan. Ada juga yang bilang sebab Cirebon tengah di sorot karena belakangan banyak pelaku terorisme yang berasal dari daerah paling barat di Jawa Barat tersebut. Jika memang alasanya begitu, penulis rasa geng motor selama ini lebih bertindak di malam hari, sedangkan razia biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. Ini berarti polisi dan geng motor tidak berjodoh, dan soal terorisme, penulis rasa pelaku terorisme tidak akan banyak bepergian, fakta yang didapat dimasyarakat juga demikian. Selama ini rata-rata terduga atau tersangka teroris di kenal di masyarakat sebagai orang yang tertutup. Jadi, penulis rasa dua hal diatas tidak terlalu kuat untuk jadi alasan maraknya razia, ingat masyarakat juga punya hak kenyamanan untuk berkendara. Penulis berani bertaruh sekalipun pengendara memiliki surat lengkap dan memenuhi tatacara berkendara yang benar, tetap saja tidak nyaman ketika harus diberentikan apalagi dengan intensitas yang sering.

Lalu yang membuat penulis tidak habis pikir adalah, mengapa orang yang menggendong tas seberat empat kiloditilang, menaruhnya di antara kaki juga ditilang, dan mengikatnya di jok motor belakang juga ditilang? Jika begitu berarti perundang-undagan kita tidak membolehkan seseorang membawa tas dengan posisi ditaruh dimana pun. Lalu bagaimana dengan tukang pos yang setiap hari membawa gembolan besar di jok belakang? Kena tilang juga kah?

Ini kita belum bicara soal polantas yang terkadang mahir bermain’petak umpet’ untuk kemudian tiba-tiba hadir di depan pelanggar. Belum bicara juga soal pos-pos polisi yang dibanyak sudut kota tidak berpenghuni. Atau kita juga belum bicara soal aksi suap yang pastinya selalu mewarnai operasi lalulintas. Bukan kah aksi suap atau istilah bapak polisinya ‘titip’ itu bukan lagi sebuah hal yang tabu untuk di bicarakan gamblang di masyarakat. Penulis yakin Kapolres, Kapolda sampai Kapolri pasti tahu soal ada oknum polantas yang kerap menjadi ‘tempat penitipan uang tilang’, lalu kenapa tidak di tindak padahal aksi ini sudah menjadi lumrah dimasyarakat. Jika tidak tahu, maka patut dipertanyakan ada tidaknya evaluasi di tubuh kepolisian kita. jika alasanya tidak ada laporan dari masyarakat, berarti kepolisian kita menunggu bola untuk sebuah penilaian terhadap instansi sendiri. pun kalau ada laporan penulis ragu apakah si oknum benar-benar ditindak atau tidak.

Penulis rasa semua ini memang tidak melulu salah sang penegak hukum. Pengguna jalan juga nakal. Masih banyak pengendara yang tak punya SIM dan STNK, banyak pula yang tak pakai helm sampai melawan arus. Ini tentu harus ditindak. Hanya saja yang ingin penulis tekankan disini adalah tindaklah pengendara sesuai perundang-undangan. Kita semua tidak tahu ada di pasal berapa tak punya tutup pentil adalah sebuah pelanggaran lalu lintas, kita juga tidak mengerti berapa berat maksimal barang yang boleh dbawa oleh pengendara sepeda motor. Itu artinya perlu ada edukasi semisal penyuluhan pada masyarakat agar paham dan kemudian patuh pada aturan lalu lintas. Karena dewasa ini banyak orang bisa berkendara tapi tak banyak yang bisa berlalulintas. penyuluhan juga dapat menjadi sebuah pencegahan tindak kekerasan yang dilakukan geng motor yang makin hari makin alay. Ini yang harus di galakan sekarang. Agar tidak ada lagi tagar-tagar yang bersifat negatif pada institusi kepolisian kita.

Akhirnya apakah tepat sebutan Cirebon Kota Tilang? Teman penulis pernah bercerita, ketika dirinya mudik dari Jakarta menuju Kabupaten Cirebon sepanjang jalan dirinya sama sekali tidak bertemu dengan operasi razia kendaraan bermotor. Hingga ia masuk Kabupaten Cirebon dari mulai masuk gapura selamat datang Kabupaten sampai berhenti di rumah, terhitung ada empat gelaran razia operasi kendaraan bermotor yang ia lintasi sepanjang Kabupaten dan Kota Cirebon! (Cirebon memiliki Kota dan Kabupaten. Kota Cirebon terletak di tengah-tengah Kabupaten Cirebon)

Dengan cerita dari teman penulis tadi, biar pembaca yang menyimpulkan bagaimana maraknya operasi razia di wilayah Cirebon. Penulis harap dengan maraknya tagar Ciebon Kota Tilang seharusnya bisa jadi bahan evaluasi untuk segenap instansi dan masyarakat agar pandangan masyarakat luar Cirebon menjadi kembali baik, Kota Bekasi ketika mendapat bully di media sosial beberapa waktu lalu kini mulai berbenah, Cirebon?

Jika semua sudah ter evaluasi dengan baik. Lalu ada perubahan yang nyata yang dirasakan oleh masyarakat Cirebon maupun luar Cirebon, barulah kita bisa bilang bahwa memang Cirebon bukan kota tilang.

 

Penulis Muhamad Wildan (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Tingkat empat Unswagati)

Ini Alasan Kenapa Jalan Terusan Pemuda Kerap Banjir

Tidak ada komentar

Kamis, 04 Februari 2016

Cirebon, Setaranews.com- Banjir yang kerap kali terjadi di jalan terusan pemuda bila hujan deras melanda wilayah Cirebon disebabkan karena ruang saluran air yang berada di bawah jalan by pass terlalu sempit dan perlu dilakukan pelebaran saluran air. Pemerintah Kota Cirebon telah mengupayakan untuk membenahi saluran air tersebut namun saat ini masih dalam proses perizinan kepada Pemerintah Pusat.

Menurut Tri Sunu, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Kota Cirebon, pelebaran saluran air di bawah jalan by pass menjadi agenda prioritas tahun ini, namun masih terkendala izin dari Pemerintah Pusat karena dana yang dibutuhkan sangat besar yaitu diperkirakan mencapai 1,5 miliar, “Crossing jalan by pass yang jadi masalah, crossing-nya kecil jadi harus diperbesar, cuma masalahnya diperizinan, tapi tahun ini lagi proses,” jelasnya.

Dana yang dianggarkan tersebut dibutuhkan untuk koordinasi dengan pihak yang terlibat dalam proyek ini, “Untuk renovasi butuh izin ke pusat untuk bongkar jalan, kaitannya banyak, dengan polisi, karena itu kan memutus jalan negara yang merupakan lintas perekonomian nasional makanya dibutuhkan dana yang besar untuk koordinasi yang panjang,” tambahnya.

Pembenahan ini sudah lama diupayakan namun selalu diundur karena proses perijinan yang lama sehingga menangani permasalahan di tempat yang lain terlebih dahulu, “Proses perizinan lama jadi mengurus yang lain dulu, kemarin menangani yang lebih prioritas dulu, menangani Perumnas, alhamdulillah sekarang Perumnas sudah aman,” ujarnya.

Selain terkait saluran air yang sempit, penyebab genangan air di jalan terusan pemuda yaitu sampah, kurangnya resapan air, dan penyempitan sungai akibat pembangunan.

 

Jika Terbukti, Dekan FE Bakal Tindak Tegas Oknum Pengawas yang Terima Suap

Tidak ada komentar

Rabu, 03 Februari 2016

Unswagati, Setaranews.com- Isu suap pengawas yang terjadi di Fakultas Ekonomi baru-baru ini membuat dekan ekonomi Ida Rosida angkat bicara, di temui di ruanganya Ida menuturkan bahwa baru tahu jika di fakultas yang ia pimpin ada kasus suap pengawas seperti itu.

“Ini saya juga baru tau ada kejadian seperti ini, saya terima kasih sekali ada yang kasih tau ini. nanti ini akan kami evaluasi” ungkap Dekan FE

Lebih lanjut dirinya ingin menelusuri lebih lanjut. Apakah kejadian ini melibatkan semua pengawas atau hanya oknum-oknum saja. dirinya juga ingin tahu sejak kapan praktek suap ini berlangsung.

“Tapi, saya kan mesti tau apakah kejadian sep[erti ini hanya di semester ini atau kah sudah sejak lama ada yang seperti ini” katanya

Ida menuturkan jika terbukti pihaknya akan menindak tegas oknum-oknum pengawas yang menerima suap ini. Dirinya akan memberhintak mereka yang terlibat.

“Kalau memang  terbukti akan kita berentikan sebagai pengawas” tegas Ida

Terakhir, Dekan FE juga ingin menuturkan bahwa dia percaya jika masih banyak pengawas-pengawas yang menjalankan amanah dengan baik. Sambil menyodorkan berita acara UTS Ia menunjukan laporan pengawas yang menulis peserta ujian yang mencontek.

“Tapi yang jelas mereka mereka yang mengawas dengan jujur ya tidak bakal kita berentikan, karena memang maksud dia ingin mengabdi ke fakultas” tandasnya

 

 

 

Dies Natalis PPMI Ke-23 Ajang Pers Mahasiswa Berhimpun Lawan Penindasan

Tidak ada komentar

Selasa, 02 Februari 2016

Semarang, Setaranews.com-Rangkaian acara dies natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang ke 23 tahun berakhir hari ini, Senin (1/2) dengan agenda fieldtrip Semarang.

Acara yang dihelat di Universitas Muhamadiyah Semarang ini dimulai pada Jumat (29/1) dengan agenda pembukaan acara dan diskusi bersama seputar kebebasan berekspresi di kalangan pers mahasiswa.

Hari berikutnya, Sabtu (30/1) acara dilanjut Seminar Nasional dengan tema "Pembungkaman Pers di Era Demokrasi" dan evaluasi PPMI kota dan nasional selama tiga bulan. Selanjutnya ada acara yang diisi dengan hiburan musik oleh peserta. ini merupakan kegiatan kedua setelah kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada pagi hingga sore.

Terdapat empat pelatihan pada pagi tadi yakni media, advokasi, investigasi dan journalism. Acara yang diikuti sebanyak kurang lebih 300 peserta dari seluruh Indonesia ini menumbuhkan harapan untuk para aktivis pers mahasiswa untuk bersatu melawan ketidakadilan, pengekangan dan pembungkaman yang terjadi kepada pers mahasiswa.

"Ini adalah ajang untuk berhimpun, berjejaring dan menyatukan kekuatan perlawanan untuk melawan segala penindasan yang terjadi contohnya pengekangan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat oleh mahasiswa dan khususnya pers mahasiswa. Selain itu wadah  ini kita sebagai pers selain mengawal isu dalam kampus juga mengawal isu-isu kerakyatan baik itu gerakan buruh, petani dan gerkan mahasiswa." Ujar Adlun salah satu peserta acara dari Ambon.

Wisata Kuliner : Sate Kalong

Tidak ada komentar

Senin, 01 Februari 2016

Cirebon, Setaranews.com- Siapa yang tidak kenal dengan istilah “sate kalong”, hampir semua orang mengetahui sate ini namun sebagian orang salah mengartikan karena kalong sendiri yang berarti hewan kelelawar sehingga orang-orang berfikir bahwa sate kalong adalah sate kelelawar padahal sate kalong merupakan daging kerbau. Dinamakan sate kalong karena berjualan sore hingga malam hari seperti kalong (red: kelelawar).

Seperti yang diungkapkan oleh Didi, penjual sate kalong, “Sebenarnya ini bukan dari kelelawar tapi karena bukanya dari sore sampai malam, jadi kaya kalong” ujarnya.

Sate kalong terdiri dari 2 rasa ada rasa manis dan asin. Rasa asin diperoleh menggunakan dengkil dan otot daging kerbau, sementara rasa manis diperoleh dengan menggunakan daging kerbau. Bumbu yang digunakan adalah campuran antara oncom dan kacang yang dipadukan dengan kuah kari dari dengkil kerbau. Sebelum dijadikan sate, baik sate kalong yang manis dan yang asin direbus selama dua jam sehingga tercipta sate kalong dengan tekstur yang empuk.

Harga yang terjangkau dengan lokasi penjualan yang strategis (red: pasar kanoman) membuat sate kalong ini cepat habis sebelum tengah malam, “Biasanya sih buka sekitar jam 17:00 sampai tengah malem, tapi kadang jam 19:00 juga udah habis” tutupnya.

LDK, Proker Terdekat BEM FE

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Kepengurusan BEM Fakultas Ekonomi tahun 2016 dimulai dengan diadakannya open recruitment yang saat ini baru sampai pada tahap seleksi yang tak lama lagi akan diumumkan, lalu dilanjutkan dengan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

Jamaludin selaku Gubernur BEM FE menjelaskan mengenai Proker (Program Kerja) dan memaparkan tentang visi misi yang kedepannya akan diambil untuk Proker, “Sebelum ke program kerja kami punya visi misi, visi kami yaitu untuk menciptakan banyaknya mahasiswa yang unggul dengan mengedepankan tri darma perguruan tinggi  jadi ada tiga item yang dominan, artinya menjadikan BEM FE yang unggul, mengedepankan tri darma perguruan tinggi dan pengabdian terhadap Fakultas Ekonomi dan disitu kami jabarkan  ke misi yang merupakan perwujudan dari visi kami" tuturnya.

"Adapun program kerja, karena program kerja kami berbasis perguruan tinggi seperti  pengabdian masyarakat, penelitian dan pendidikan, kami juga mengadakan program kerja yang mencangkup hal itu, contohnya seperti seminar-seminar nasional dan penelitian seperti saat ini di Cirebon sendiri banyak sekali pembangunan gedung seperti hotel dan dampaknya untuk masyarakat itu apa,” tambahnya.

Program kerja terdekat yang akan diadakan yaitu LDK yang akan dilaksanakan pada awal Februari. Sementara untuk Proker andalannya untuk saat ini adalah seminar nasional.

Jamaludin mengharapkan program kerja yang telah disusun dapat bermanfaat untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi.

Hal Biasa Banjir Depan Kampus III

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Setiap kali hujan deras turun, jalan terusan pemuda yang merupakan jalan depan Kampus III Unswagati selalu terjadi banjir yang cukup tinggi. Hal ini seperti sudah menjadi sesuatu yang biasa. Banjir yang ada bisa sampai menenggelamkan ban sepeda motor.

Menurut salah satu dosen prodi Bahasa Inggris yang ditemui pada Kamis (27/01) oleh Setaranews, “Namanya juga lagi musim hujan, bukan hanya banjir di jalan depan kampus saja kan,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai harapannya kepada Pemerintah beliau menyatakan, “Ya harapannya sih jangan sampai ada banjir, dulu pernah kalau banjir sampai motor engga kelihatan, itu banjir di depan fakultas kedokteran, tapi masalah banjir kan masalah pembangunan, kita mau protes juga ke pemerintah, engga bisa protes ke universitas," tutupnya.

Memberi Sumbangan pada Pengemis, Layak atau Tidak?

Tidak ada komentar

Minggu, 31 Januari 2016

Apa yang ada dipikiran Anda ketika melihat pengemis dan gelandangan dititik keramaian jalan raya? Apa yang Anda lakukan saat para pengemis berusaha meminta-minta beberapa rupiah dari saku Anda? Bagaimana perasaan Anda saat menatap pengemis tersebut? Apakah Anda akan langsung memberinya atau menghiraukannya?

Mendengar kata pengemis, yang terlintas dipikiran kita tidak lain adalah seorang fakir miskin, namun fakir miskin tidak semuanya pengemis dan gelandangan. Fakir miskin disini maksudnya seorang yang luar biasa tidak mampu baik fisik maupun materi apalagi pendidikan, tidak berpenghasilan, serta tak cukup memiliki tempat tinggal. Sebagian besar pengemis dan gelandangan mereka hanya tinggal beralaskan tanah dan beratapkan langit. Dibawah kolong jembatan atau didepan emperan toko saat malam dan terkadang hidup mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sambil terus mengemis menyusuri jalan. Pengemis sering sekali mudah kita temui di pasar, rumah ibadah, sekolah, kampus, tempat wisata, terminal, sepanjang jalan lampu lalu lintas, terutama di pusat keramaian. Usia pengemis pun beragam, mulai dari anak kecil sampai lanjut usia yang sudah tua renta, bahkan anak bayi pun sering diajak orang tuanya saat mengemis, sebagai modus untuk mengharap belas kasihan, selain itu kekurangan fisik yang cacat juga sering dijadikan tameng agar diberi sumbangan berupa uang. Terkadang seorang yang mempunyai fisik sehat bugar, usia produktif tak malu untuk mengemis di jalanan. Alasan mereka mengemis agar dapat menyambung hidup mereka juga memenuhi kebutuhan, bisa dikatakan orang yang mengemis yang sering kita lihat merupakan orang yang perlu dibantu.

Namun bagaimana jadinya apabila pengemis ini malah dijadikan sebuah profesi? Lebih parah lagi dijadikan sebuah bisnis baru yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung-jawab. Masih layak kah mereka diberi sumbangan? Dewasa ini banyak sekali berita yang mengabarkan mengenai modus penipuan sebagai pengemis. Memang, memberi sumbangan pada seorang yang membutuhkan merupakan sebuah kebaikan, lebih baik tangan diatas daripada dibawah. Tapi bagaimana jadinya apabila kita memberi kebaikan pada pengemis yang justru menipu kita? Dizaman sekarang untuk dapat bertahan hidup tidak lah mudah, sulitnya mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan menjadi alasan untuk berprofesi sebagai pengemis ditengah masyarakat yang kompleks. Namun menjadi pengemis juga disebabkan mental rapuh karena malas dan lebih enak meminta-minta. Seorang yang dengan sengaja berprofesi sebagai pengemis nyatanya mereka bukanlah fakir miskin, mereka memiliki rumah layak huni. Bahkan ada disuatu desa masih di pulau Jawa, desa tersebut terkenal dengan sebutan ‘Desa Pengemis’. Karena sebagian besar penduduk disana tiap keluarga berprofesi pengemis, biasanya mereka berangkat dari desa saat pagi dan mengemis di keramaian sudut kota hingga malam lalu kembali ke desa. Profesi pengemis dianggap sebuah pekerjaan karena penghasilan dari mengemis kadang sangat mencukupi, mereka tidak perlu capek bekerja keras tapi mendapatkan uang yang relatif banyak.

Lebih ironisnya lagi pengemis selain dijadikan sebuah profesi, bahkan dijadikan lahan bisnis. Banyak oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan anak-anak jalanan yang masih kecil menyuruh mereka untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari hasil mengemis, kemudian uang tersebut diserahkan pada boss mereka yang nantinya akan dibagi hasil. Mereka dipaksa melakukan itu tiap hari kalau tidak akan diancam.

Lalu bagaimana peran pemerintah? Bagaimana dengan pasal 34 ayat 1 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”? Apakah sejauh ini mereka sudah cukup baik mengatasi permasalahan tersebut? Ada baiknya dalam hal ini pemerintah berperan aktif mencari solusi mengatasi pengemis dan gelandangan ini. Bukan hanya menangkap mereka di jalanan lalu menggiringnya ke panti sosial, tetapi juga memberikan pendidikan pada mereka agar berhenti mengemis, dan mengajarkan keterampilan agar setelah mereka keluar memiliki skill yang nantinya bisa bermanfaat entah sebagai pekerja atau berwirausaha.

Banyak yang berpendapat bahwa sebaiknya kita tak usah memberi sumbangan pada pengemis, karena itu akan semakin memanjakan mental mereka. Seharusnya mereka berupaya mencari nafkah bukan dengan mengemis. Setelah tahu bahwa banyak modus penipuan pengemis, tapi tak bisa membedakan mana pengemis sungguhan dan yang tidak. Kita juga harus cerdas mengamati agar tidak menjadi korban modus, semakin kita sering memanjakan mereka dengan memberi uang akan semakin banyak pengemis berkeliaran. Sebenarnya ada cara lain untuk kita bisa beramal, tak hanya memberi sumbangan pada pengemis. Bisa saja melakukan kebaikan pada orang terdekat terlebih dahulu. Atau memberi santunan pada yang terkena musibah.

Namun disisi lain masih banyak pengemis yang benar-benar tidak berdaya yang sangat butuh uluran tangan dan bantuan kita. Terkadang disinilah dilema kita sedang diuji. Apakah kita akan memberinya atau tidak. Lalu apakah masih layak memberi sumbangan pada pengemis?

 

Oleh :

REIVA NOVIANTI

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unswagati - Semester 7
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews