Responsive Ad Slot

Gandrung Budaya (K)Pop Biar Dibilang ‘Kekinian’

Tidak ada komentar

Sabtu, 09 Januari 2016

Oleh Epri Fahmi Aziz
Saudaraku, sebangsa dan setanah air.  Saya lagi galau nih, maunya sih dalam kesempatan kali ini, saya bisa menceritakan keluh kesah yang mengganjal di benak dan hati saya, yang mebuat saya makan jadi tak teratur, mandi apalagi, sehari sekali juga udah untung banget.  Ceritanya mah  saya tuh mau ‘curhat’ tau.  Eh, eh nanti dulu, jangan salah pikir, curhatan saya kali ini bukan soal perkara yang selalu ngehits dibicarakan oleh kalangan muda mudi seperti kita, mulai dari fesbuk, twiter, instagram, bbm, sekolah, kampus, kos-kosan, kafe, pojok warung kopi sampe ke sudut wece, yaitu cinta.

Tau sendiri kan Cinta sekarang  juga mengalami pergesaran makna, bahkan dangkal, hanya direpresentasikan dengan sebuah kasih-sayang (katanya) dan diikat dengan sebuah tali yang sangat, ngat, ngat sakral, yang melambangkan gelar sebagai –kalo bahasa gaulnya –  pacar. Bukan seputar itu curhatan saya, walaupun ada sedikit pembahasan seputar cinta, ntar temen – temen tau sendiri deh cintanya seperti apa. Eh, ko jadi ngomongin soal cinte, gak bakal ada matinye, kata mandra sih begono. Sampe komputer ini jeblug juga gak bakalan ada endingnya, heehe.

Owh iya, sebelum saya curhat ke inti persoalan, alangkah lebih baiknya kalo kita plesbek dulu nih, tapi bukan untuk merenung apalagi sampe galau – galauan mengingat masa lalu yang bikin kita gagal move up, eh ngomongin cinta lagi, sory pemirsah.  Sejarah kan  telah membuktikan, bahwa culture (budaya) memiliki perananan penting dalam sebuah pencapaian peradaban suatu bangsa. Indonesia, negri saya tercinta – dan juga kalian (mungkin) - sebuah negri dibelahan timur dunia, memiliki culture yang begitu beraneka ragam loh. Negri yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawinya sampai dikenal dengan ‘samudra atlantik yang hilang’. Kita semua tau, rumusnya seperti itu.

Mengapa? Kita pasti mengakui negri ini memiliki keanegaraman yang sangat luar biasa, dimulai dari; alam, budaya, suku, ras, agama, bahasan dan prilaku masyarakatnya yang heterogen, pokoknya banyak banget deh.  Sejarah mencatat demikian, tapi itu hanya sebuah sejarah, sayangnya cuman tercatat di buku – buku pelajaran aja. Saya juga sering dengar,  dulu  pas jaman sekolah sampe sekarang, baca juga pernah, dan itu sangat sangat berguna buat saya, masuk ke otak saya, sangking masuknya sampe hafal diluar kepala. Akhirnya saya bisa ngisi jawaban soal – soal ujian dengan nilai yang sempurna. Hoo..rrreeeee!

Saudaraku, sebelum curhat saya terlalu jauh, kalian pasti punya pemikiran dan pendapat masing – masing nih terkait kebudayaan kita. Sebagai manusia –yang mengaku- moderen, gimana pandangan kalian? Biasa saja, memprihatinkan kah, atau tak terpikiran bahkan tak diperhatikan sama sekali? Kasian ya Indonesia kena PHP sampe baper yang berkepanjangan, ha..haa.  Temen – temen pasti tau kan kita sekarang – mau gak mau -  memasuki era globalisasi. Era ini semuanya ditandai dengan hal – hal yang semuanya itu berbau serba moderen.

Pakaian, hp, rumah, apa lagi, pasti banyak kan? Prilaku kita pun sama,  di tuntut (secara tidak langsung dipaksa) untuk mengikutinya. Akhirnya pergeseran nilai – nilai cultural, apalagi spritiual, tak bisa lagi kita bendung loh. Pada titik klimaks bahkan manusia moderen itu kaya binatang, banyak kasusunya, gak perlu diceritain, pasti udah pada tau.  percaya gak? Terserah sih, mau percaya atau gak, gak juga gak apa – apa. Aku mah apa atuh, makan, mandi, gosok gigi, ee juga dikampus. Sedih, ya, haha..ha.

Jadi gini asal muasalnya, kapitalisme dengan kekuatan capital (modal) menciptakan sebuah era yang disebut globalisasi. Dengan kekuatan modal itu bisa menciptakan pasar (teori ekonomi). Demi kepentingan untuk meraup keuntungan sebanyak – banyaknya, tentunya dengan mission imposiblnya untuk memporak – porandakan budaya kita yang agung nan luhur ini. Nah, makanya  sebagai pasar (karena penduduk kita banyak) – dengan berbagai komoditi khas modernitas –  kita digempur bertubi – tubi  dari segala lini sektor dengan prodak – prodak budaya modernnya. Prodaknya yaitu berupa industry budaya (media) yang mencipatakan apa itu yang dimaksud budaya pop.

Sampe sini, udah bisa di tangkap belum soal curhatan saya? Kalo gak didengerin saya mau pundung ah, gak mau dilanjut, ha.. haha. Tenang saya gak pundungan ko orangnya, sabar, tawakal, baik hati dan tidak sombong. Dilanjut ya curhatnya, boleh kan? Gak juga saya mau maksa. Kapitalisme itu emang pinter, bikin kita terpesona dan terlena.  Gampangnya sih gini, modenitas itu anak kandung dari kapitalisme, yang melahirkan anak cucu sampe cicit. Budaya pop (populer), yang akan menjadi fokus curhatan saya inilah salah satunya. Budaya pop tau? Pasti tau, paling tidak, pernah denger K-POP.  Ada yang suka K-POP atau drama korea, film, musik, sinetron, selfi, ngemall, shophing, nongkrong di kafe, pacaran? Pasti suka semua, saja juga suka, hahaha.

Nah itu semua merupakan budaya pop yang diciptakan oleh kapitalisme melalui modernitasnya. Makanya saya curhat, supaya kita bisa berbagi, dan bisa mengendalikan diri, supaya gak bablas, blas. Saat ini kita hidup dalam sebuah dunia yang penuh dengan identitas-identitas dari merek global. Hp pengennya yang bermerek, nongkrong ditempat yang bermerek, makanan minuman bermerek, sampe cinta pun kudu bermerek (pacaran).   Media massa inilah yang menjadi senjata utamanya, yang dimodali oleh perusahaan - perusahaan kapitalis tulen bertaraf global (multinasional). Akhrinya kita menjadi konsumen dari industri hiburan, kita jadi komoditas ekonomi, dan menjadi alat yang diperbudak oleh capital karena sekarang tolak ukur kita sebagai manusia moderen pasti berupa materi, yang melambang status, gaya hidup, tren, dan akhirnya jadi membudaya diantara kita semua.

Televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk pendapat umum, pola pikir, perilaku, dan kepribadian kita, temen – temen sadar gak?. Acara televisi itu mengusung nilai-nilai tertentu, kemudian nilai-nilai tersebut diadopsi oleh khalayak dan menjadi budaya yang berkembang dan menjadi tren diantara kita semua (masyarakat). Hal inilah yang dimaksud dengan budaya pop. Pengaruh media sangatlah dominan pada kehidupan kita, tingkah laku, sikap, gaya hidup kita, semuanya dipengeruhi, tanpa terkecuali.  Modernitas dengan membawa teknologi serta sarana dan prasarana, apabila kita tidak bisa mengontrol, maka akan tergoda, terbuai, terlena, dan lupa akan jati diri kita yang sebenarnya sebagai orang timur, yang terkenal dengan solidaritasnya, kepekaannya, kepintarannya, dan ‘keberadabannya’ dengan nilai – nilai luhur yang kita punya. Tau gak nilai luhur kita?  Coba pelajarin deh sejarah kebudayaan Indonesia;sosial,kultur,dan ekonomi. Kalau mau itu juga, gak juga gpp, saya sih gak rugi, gak ngeluarin modal ko, hehe.

Budaya pop itu memiliki berbagai dampak negative diantarnya  membuat kita jadi konsumtif, contohnya berbelanja, pacaran,nongkrong,  mendengarkan musik dan film cengeng dll.  Misalnya dalam dunia mahasiswa kekinian (masyarakat pada umumnya), lebih baik nongkrong sambil ngerumpi daripada diskusi, lebih seneng ngemall belanja yang gak – gak ketimbang beli buku, lebih asik bbman, twiteran, instgram ketimbang nulis.  Bener gak? Kalo salah maafin saya ya, please, heehe. Alhasil apa yang terjadi? Mental kita cengeng, moral kita rendah, individualistik, permisif, hedon, jauh terhadap nilai – nilai budaya, apalagi spiritual. Itu semua dampak negatif yang dibawa modernitas, selain mencari keuntungan karena kita memiliki penduduk yang luar biasa banyak dan konsumtif. Misi paling mengerikan dari kapitalisme itu menghancurkan pondasi  dari nilai – nilai luhur yang dimiliki oleh budaya kita. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan akan muncul fenomena kegalauan budaya pada tingkat individu dan tingkat sosial. Seperti yang sedang saya alami,  makanya saya curhat, karena saya lagi galau nich. Saya berfikir kalo terus – terusan kaya gini, gak bakalan ada lagi tuh manusia Indonesia,  adanya robot, mending robot sih , kalo zombi-zombi yang bermunculan kan ngeri. Hiiihhh, atut  gak sih, mengerikan.

Bagiamana ya cara membendungnya kawan - kawan? Menurut saya gampang ko, gak susah untuk membendung kapitalisme (barat), dengan gempuran budayanya. Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia Indonesia yang sadar dan cinta atas nilai – nilai luhur budaya dan spiritual kita. Cinta pada diri sendiri, cinta pada sesama, dan cinta pada Indonesia.  Kita ini merupakan ras paling istimewa loh  di dunia, makanya di bikin gak maju-maju, kalo maju Indonesia itu bisa jadi negara adidaya dari negara adidaya yang lainnya. Percaya gak? Peradaban dimulai dari negri kita, tidak bakal ada barat kalo belum ada timur. Budaya timur merupakan budaya yang paling luhur, tidak hanya untuk kita, sesama, Indonesia bahkan untuk dunia.

Jangan malu apalagi gengsi kalo kita dianggap tidak moderen – gak kekinian -  karena manusia moderen itu hakikatnya manusia yang tidak beradab. Sementara nilai cultur dan spiritual  kita itu mengajarkan kita jadi manusia yang bijak, bermoral dan spiritual, dan tentunya lebih beradab. Jangan malu jadi orang Indonesia justru harus bangga.  Ayo kawan, jangan muluk – muluk, cukup dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini. Kenali, pahami, rasakan, renungkan, dan kobarkan dalam hati, teriakan dalam dada, tekad kan dalam sanubari , katakan dengan lantang SAYA MANUSIA, MANUSIA INDONESIA. MANUSIA YANG PENUH RASA CINTA-KASIH UNTUK SESAMA, NUSANTARA DAN DUNIA. Ini curhatanku, curhatanmu? Sekian dulu, nanti dilanjut lagi ya, dadaaaahhhh.





Alam Tak Pernah Kehabisan Kata Untuk Di Ajak Bicara

Tidak ada komentar

Jumat, 08 Januari 2016

Biar aku selalu melihat tumpahan air di pelupukmu

Saat itu adalah puncak pendakianku menuju segara kesabaran yang telah lama dirindu

Aku ingat

Ketika menelaah disetiap tapakmu, langkahmu dan gerikmu

Kau tak akan pernah sadar

Bahwa langkahku sangat jauh berbeda dengan langkahmu

Bahwa kau tak pernah menorehkan pandangan di balik punggungmu

Bahwa kau tak pernah ingin tahu seberapa isi dibalik tas carrier punggungku

Bukan mengenai beratnya

Bukan

Sama sekali bukan

 

Inilah perjalanan bagaimana aku menelusuri isi di balik kepalamu

Kau sibuk melihat sesuatu yang ada di hadapanmu

Sedang aku menahan gunungan emosi yang bersemayam kokoh dilembah dada

Dan yang kurasa sepanjang perjalanan adalah

Bahwa kakiku terasa menari telanjang di atas panggung raya

Sambil di dekam perih oleh kerikil-kerikil tajam yang menganga

Dengan butiran nafas nan berair selalu menyapa

Puing-puing kelelahan hanyalah teman biasa

Lalu dihadapkan pula pada gradasi waktu yang tak henti untuk memangsa

Tapi biarlah, semesta selalu tak pernah kehabisan kata untuk diajak bicara

Biar sajak terlahir atas pedih dengan hamparan makna

Esok dan nanti ku kan tetap ke sini jua

 

 

Catatan Ciremai,17 Agustus 2014

Ini Dia Harga Baru BBM

Tidak ada komentar
Jakarta, Setaranews.com- Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) resmi diturunkan. Hal ini disampaikan menteri sekertaris negara Pramono Anung di Istana negara malam tadi. Terhitung sejak pukul 00.00 WIB sejumlah jenis bahan bakar mengalami penurunan harga.

“Hari ini secara resmi pemerintah mengumumkan rencana menurunkan harga BBM dengan ada beberapa hal, apa yang diumumkan (terkait harga BBM) adalah harga keekonomian," ujarnya seperti dikutip Antaranews.com.

Direktur utama Pertamina Dwi Soetjipto dalam kesempatan yang sama mengumumkan tarif BBM yang berlaku sekarang, "Kami sampaikan sesuai dengan harga keekonomisan harga solar turun dari Rp6.700 menjadi Rp5.650 per liter,"  Ujar Dwi.

Berikut harga BBM setelah mengalami penurunan : Harga Premium untuk Jawa, Madura dan Bali turun dari Rp. 7.400 menjadi Rp 7.150 perliter. Harga Solar untuk daerah Jawa, Madura dan Bali yang semula Rp 6.700 menjadi Rp 5.950 perliter (harga setelah ditambah potongan DKE). Sementara Pertalite turun dari semula Rp.8.250 menjadi Rp 7.900 per liter. Harga pertamax untuk DKI Jakarta dan Jawa Barat turun dari Rp 8.650 menjadi Rp 8.500, sedang harga pertamax untuk Jawa Tengah dan DIY turun dari semula Rp 8.750 menjadi Rp 8.600, untuk harga pertamax di Jawa Timur turun dari Rp 8.750 menjadi Rp 8.600.

 

Panitia Anggap Aneh Apatisme Dalam Debat Kandidat

Tidak ada komentar

Kamis, 07 Januari 2016

Cirebon, SetaraNews.com – Kurangnya antusias mahasiswa ekonomi pada debat kandidat antara calon ketua badan ekskutif mahasiswa (BEM) dan calon ketua himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) ekonomi membuat panitia merasa aneh, padahal panitia sendiri sudah mensosialisasikan kepada masing-masing ketua kelas.
“Itu aneh nya, saya juga masih kurang tau kendalanya apa tetapi saya sudah berusaha memberitahu kepada perwakilan kelas untuk dapat hadir di acara debat kandidat” ujar Muhammad saeful rahman panitia penyelenggara
Mahasiswa yang biasa di sapa ipul menambahkan jika panitia sudah berusaha memaksimalkan akan tetapi tetap saja masih ada kekurangan, “enggak terlalu maksimal lah, sudah berusaha untuk memaksimalkan tetap aja ada kekurangan”
Untuk pemilihan panitia sudah menginformasikan kepada masing-masing ketua kelas akan tetapi tetap saja tak ada tanggapan.
“Kita udah beritahukan pada perwakilan ketua kelas nya masing-masing, jadi beritahu lewat pesan singkat tapi tetep aja enggak ada tanggepan” tambahnya
Meski begitu acara debat kandidat ini berjalan dengan tertib walau kurang kondusif.

Kualitas Dosen Unswagati Buruk

Tidak ada komentar
Mahasiswa yang sejatinya memenuhi kewajibannya untuk membayar DPP dan SKS sebagai syarat (apabila mampu) ditetapkannya sebagai mahasiswa aktif sebuah Universitas. Bicara hak dan kewajiban tentunya pada prinsip yang berimbang, ketika kenyataannya antara hak dan kewajiban itu tidak selaras. Sebagai mahasiswa kita telah melakukan  kewajiban; membayar DPP dan SKS, tapi apakah kita mendapatkan hak kita sebagai mahasiswa? Lalu, apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa khususnya? Diam. Mungkin ini salah satu hal yang dialami oleh sekelompok mahasiswa atau mahasiswa pada umumnya. Angket dosen yang kenyataannya harus diisi oleh pendapat mahasiswa dijadikan alat untuk protes habis-habisan terhadap kinerja dosen selama satu semester.

Penulis menemukan satu kejanggalan, yang menurut penulis itu merupakan masalah. Dosen yang tugasnya mengajar dan mentransferkan ilmu untuk diimplementasikan mahasiswa, jangankan mengajar untuk memasuki kelas aja tidak. Anehnya lagi, dosen tersebut malah mengharuskan mahasiswanya untuk membeli buku sebagai bahan ajaran, “ngapain disuruh beli buku, toh dia ga’ pernah masuk, sayang uangnya”, ujar salah satu teman. Kenyataan lain berkata bahwa dosen tersebut memberikan pengajaran kilat, tujuh pertemuan itu diganti dengan waktu 15 menit saja ketika menjelang Ujian. Miris bukan? Tanggung jawab yang seharusnya memang dilaksanakan dengan baik nyatanya menjadi bahan permainan. Lalu, bagaimana mahasiswa bisa berkualitas, dalam segi pengajarannya saja tidak becus, apalagi dijadikan sebagai suri tauladan.

Disisi lain, beberapa dosen nampaknya menutupi kesalahan dosen yang satu ini. Salah seorang teman bahkan bercerita bahwa wali dosennya saja sampai berkata, “dia orang penting di sini”, lalu pertanyaannya, seberapa penting jabatan seseorang apakah akan mempengaruhi tingkat tanggung jawabnya? Penulis pribadi tak urus mau dia orang penting atau enggak, masalah kewajiban tetap tidak bisa dinomor duakan. Di sisi lain, ada dosen yang dianggap juga penting dalam satu jurusan tersebut, tapi ia masih bisa tanggung jawab, “ia, dosen yang lain masih minta kalau ada pergantian jadwal”, ujar teman yang lain.

Jadi memang di sini masalahnya bukan pada mahasiswanya itu sendiri, bisa jadi karena dosen dan atau pimpinan jurusan terlalu membiarkan sikap dosen tersebut sampai tidak adanya teguran terhadap dosen yang membiarkan mahasiswanya menunggu jadwal ujian dari pagi kenyataannya harus diganti jadwal menjadi esok harinya.

Beberapa permasalahan dan kritikan terhadap dosen yang dinilai mengabaikan tanggung jawabnya memang hanya jadi opini public saja. Bagaimana pun, angket yang seolah hanya berbentuk tulisan jika tidak ditindak lanjuti juga untuk apa menghabiskan waktu meminta mahasiswa yang tak pernah mendapatkan ilmu sedikit pun dari dosen yang bersangkutan untuk mengisi angket tak berguna itu? Bukankah seharusnya angket dosen adalah sebagai bagian dari evaluasi perjalanan satu semester? Beberapa semester penulis lalui dengan dosen yang sama, nyatanya tetap tidak ada pergantian untuk dosen dengan mata kuliah yang sama. Sampai kapan pembiaran ini akan berlanjut?

Ketika ditanya mengenai alasan dosen tersebut tidak masuk, teman lain memberikan pendapat bahwa, “saya sedang ada bimbingan, saya sedang ada di rumah sakit”, begitu seharusnya seorang intelek (manusia berpendidikan S2) memberikan jawaban terhadap seorang MAHAsiswa? Kaitannya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Di sini keadaan kampus kita sedang dihadapi isu penegerian yang tak pernah kunjung usai. Lihat saja di internal-nya sendiri. Seperti inikah kualitas dosen sebuah perguruan tinggi negeri? Memang, penulis akui, tidak adanya manusia yang sempurna bahkan untuk seorang dosen itu sendiri. Tentu ada beberapa hak preogatif yang akan menyelamatkan nyawa seorang dosen di satu universitas.

Jika kenyataannya dosen tersebut tidak pernah mengevaluasi dirinya sendiri, tidak pernah mendengarkan pendapat manusia, atau membiarkan sikapnya seperti itu, -mentang-mentang anak seorang petinggi universitas-, itukah yang dijadikan alasan kuat untuk berlaku seenaknya, wahai bapak dan ibu dosen yang terhormat. Adakah satu solusi agar kami nyaman di rumah sendiri? “Setidaknya kami minta diganti dosennya untuk semester depan”, kawan yang lain berpendapat.

Pasal 1: Dosen tidak pernah salah. Pasal 2: Jika dosen salah kembali ke Pasal 1. Inilah kondisi yang pantas untuk menggambarkan dosen yang bersangkutan.

”Disuruh beli buku tapi gak ngerti mau diisi apa. Pernah dilayangkan surat peringatan tapi tidak ada tanggapan”, pungkas seorang teman. Pembiaran seperti ini sebenarnya akan membuat mahasiswa memberikan opini-nya sendiri terhadap keseriusan kampus ini dalam memberikan kualitas yang baik. Seiring berjalannya waktu biaya kuliah semakin mahal dengan kualitas yang seperti ini, sebenarnya siapa yang patut disalahkan kemudian?

Opini ini ditulis sebagai bentuk otokritik penulis terhadap lembaga, Unswagati. Atas nama mahasiswa biasa penulis menyayangkan tidak adanya ketegasan terhadap dosen yang tidak bertanggung-jawab. Melakukan kritikan dalam bentuk tulisan mungkin salah satu langkah terakhir karena beberapa tindakan kami (pernah) tidak dihiraukan. Penulis berharap ini tidak dijadikan hal negatif untuk beberapa pihak. Kita bangun opini yang baik bersama-sama, di dalam maupun di luar kampus. Membentuk pola pikir mahasiswa ternyata bergantung pada beberapa hal termasuk lingkungan dan dosen sebagai salah satu pengajar.

Unswagati Hanya Fiktif Belaka

1 komentar

Rabu, 06 Januari 2016

Oleh Epri Fahmi Aziz


Semenjak beredarnya isu mengenai penegrian Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagi) – kalau tak salah sekitar 7 tahun yang lalu – nama Unswagati langsung melejit dan ngehits di wilayah Ciayumajakuning. Beriringan dengan isu  tersebut  lah Unswagati menjadi peguruan tinggi swasta yang ‘besar’ dan diminati masyarakat. Sehingga, membuat Unswagati menjadi  PTS  unggulan. Tak dipungkiri, hal itu berkat kontribusi dari  isu PTN sebagai  alat promosi yang berhasil membius si konsumen (masyarakat) agar meng-amini dan memakannya bulat – bulat. Strategi pemasaran yang efektif dan efisien. Berhasil dan tepat sasaran.

Keberhasilan alat promosi itu bisa dilihat dari tingkat kepercayaan masyarakat kepada Unswagati yang dianggap akan membawa ‘prestasi’ bagi anak-anaknya,  dengan penuh harapan ketika masuk  berubah jadi negri. Kemudian, hal itu membuat jumlah mahasiswa yang mendaftar ke Unswagati melonjak dengan tajam, bahkan sampai overload (melebihi kapasitas daya tampung). Bagi penulis, tak aneh apabila hal ini (sering) terjadi, karena memang kuantitas dinomor satukan ketimbang kualitas,  “Yang penting mah banyak konsumennya, supaya bisa meraih keuntungan sebanyak - banyaknya” celetuk seorang teman. Sangat wajar apabila  statement – statement negatif pun berkembang, ada yang bilang “Tidak memperdulikan bagaimana dampak dan risiko dari cara – cara yang dilakukan,” keluhnya. Bahkan ada yang nyinyir dan sinis (sangking kecewanya) menanggapi wacana yang beredar dengan mengatakan “Tampaknya,  watak kapitalistik sudah merasuki relung hati dan pikiran para pemangku kebijakan di Unswagati” pungkasnya.  Memang sangat mengerikan, apabila sebuah lembaga pendidikan memiliki watak kapitalistik, seperti apa jadinya output dari produk (mahasiswa) yang dikeluarkan Unswagati?

Penulis masih ingat betul – tiga tahun yang lalu-  salah satu elit  Unswagati yang dengan gegap gempita mengatakan   bahwa mengenai penegrian sedang dalam proses. “Proses terus, kapan jadinya?” celetuk lagi seorang teman. Aset – aset yang dimiliki Unswagati pun konon katanya telah di ’serahkan’ kepada pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk ditindak lanjuti. Dan selama proses tersebut, Unswagati dilarang untuk menambah asetnya. Ketika overload kuota, mau tak mau Unswagati pun menambah asetnya dengan membangun gedung baru. Pembangunan sudah dilakukan dua kali selama proses penegrian. Celetuka terus berdatangan, “Katanya gak boleh nambah asset, tapi pembangunan terus dilakukan, gimana sih!”. Dari statement yang berkembang itulah penulis mulai ragu dengan wacana penegrian.

Selama proses penegrian penulis terus  berusaha mencari tahu sejauh mana kebenaran prosesnya, alasan klasik pun selalu dilontarkan oleh  pihak Rektorat dan Yayasan, yaitu masih kurangnya lahan sebanyak 9 hektar (Unswagati baru memiliki 21 hektar), katanya pula Pemda atau Pemkot mau memberikan hibah untuk menutupi kekurang lahan tersebut. Tapi Pemd mendadak tidak jadi memberikan lahan, dan akhirnya Pemda atau Pemkot menjadi kambing hitam oleh pihak Rektorat atau Yayasan setiap mahasiswa mempertanyakan kembali soal penegirian. Sementara itu, konon lahan 19 (dari total 21 yang dimiliki) hektar berupa hibah dari Pemprov Jabar.  Seorang teman mempertanyakan “Apakah dokumen hibah sebagai bukti telah dihibahkan benar adanya?  Perasaan dari kapan juga alasannya itu – itu aja, apa itu yang dinamakan proses?” ungkapnya. Sepertinya celotehan – celoteh tersebut sampai terdengar ke telinga Gubernur Jabar. Sampai pada akhirnya - mungkin karena kekesalan Pemprov juga yang menganggap Unswagati tak serius mengurus soal penegrian -  tak jarang Gubernur Jabar melontarkan statement di media  “Saya akan membangun ITB di Cirebon apabila Unswagati tak serius,” tukasnya.    

Klimaks soal penegrian pun terjadi pada saat perayaan Diesnatalis Unswagati yang baru saja digelar beberapa minggu lalu. Gubernur pun dengan gagahnya memberikan bocoran bahwa ingin membangun ITB di Cirebon 2016 mendatang, karena tak mau lahan 19 hektar milik pemprov mubazir begitu saja. ‘Saya mau bangun ITB diluar daerah (DD) di Cirebon, dari pada lahan milik Pemrov mubazir,” ucapnya. Dari statement tersebut sudah jelas bahwa lahan yang semula diperuntukan untuk penegrian Unswagati dialihkan untuk pembangunan ITB, dengan alasan masih menunggu evaluasi dari pemerintah pusat mengenai kampus – kampus yang akan dinegrikan.

Tampaknya wacana yang berkembang di internal benar adanya, ada yang mengatakan dengan nada yang menggebu - gebu “Unswagati gak negri – negri ya karena dari Unswagatinya sendiri yang mempersulit dan berusaha mengulur waktu. Nunggu balik modal  dan untung banyak dulu,” pungkasnya. Jangan – jangan hal itu benar adanya, bahwasannya yang betul – betul  tak mau Unswagati menjadi negri itu adalah dari pihak civitas akademik  itu sendiri– tak terkecuali yayasan – yang saling tarik ulur kepentingan. Kalau ada keseriusan sudah dari dulu sebetulnya bisa jadi negri. Kalah dengan  Politeknik Indramayu dan Unsil yang baru kemarin sore menabuh genderang penegrian, malah lebih dulu mengibarkan bendera negrinya.  Menyalip Unswagati yang jauh lebih dulu dan lebih ‘akbar’ menggembar – gemborkan isu PTN. Tapi tak kunjung terlaksana. Miris. Dari tarik ulur kepentingan itu siapa yang dirugikan? Jelas mahasiswa lah yang langsung akan terkena dampaknya. Berapa ribu mahasiswa (dan orang tuanya) yang merasa dibohongi, dikecewakan?  Mahasiswa, bahkan masyarakat (orang tua mahasiswa) sebetulnya bisa menggunakan haknya untuk melakukan gugatan class action ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Kalau mau itu juga.

Penulis merasa tersinggung sebagai bagian dari Unswagati ketika mendengar Isu yang berkembang dimasyarakat, yang akhirnya  berbalik ibarat senjata makan tuan. “Boro – boro negri, ngurusin jadwal wisuda aja gak bisa,” sindir salah satu orang tua mahasiswa. Sebetulnya – apabila sadar – tidak penting itu mau negri atau tidak, yang lebih subtansi yaitu pembenahan kualitas dari semua aspek; manajemen, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan dengan buku-bukunya yang memadai, dosen dll.  Sekarang, lantas langkah apa yang akan dilakukan oleh Unswagati ketika  penegrian itu tidak jadi. Apakah ingin memperbaiki kualitas? Kualitas yang mana, seperti apa? jadwal wisuda saja sampai diundur. Sepele kelihatannya, justru dari hal yang dianggap sepele itu bisa terlihat ‘bobroknya’. Sangat tidak rasional apabila alasannya gara – gara mahasiswa libur. Aneh, Wisuda   masuk dalam jadwal kalender akademik, yang penyusunannya direncanakan jauh-jauh hari. Kok bisa diundur? Berangkat dari proses perencanaan saja tidak becus! Apalagi bicara soal eksekusi program?

Menyelenggarakan perayaan Diesnatalis yang kesannya hanya hura – hura dan tidak menyentuh pada  sbutansi aja bisa, seperti; lomba karoke, jalan sehat dan berbagai kegiatan lainnya. Kenapa  wisuda  gak bisa dan sampai di undur? Perayaan Diesnatalis pun sebetulnya penulis miris, karena tidak merepresentasikan sebuah lembaga pendidikan berupa Universitas. Mbo ya, perayaan Diesnatalis diwarnai dengan nuansa – nuansa budaya akademik yang lebih dominannya, seperti misalnya; Refleksi Unswagati,  perlombaan membuat karya tulis untuk dosen dan mahasiswa, diskusi publik, bedah buku dll. Apa itu dilakukan pada saat perayaan Diesnatalis? Jangankan dilakukan, terbesit dibenak saja sepertinya tidak. Kualitas macam apa?

Sudah bukan rahasia umum lagi soal pembangunan gedung baru yang sedang digarap  diwarnai dengan pro-kontra. Karena konstruksi yang digunakan jauh dari standar (gagal struktur), dan lebih parahnya lagi konon sampai ada penyalahgunaan wewenang dan anggaran. Apabila memang sampai terjadi hal semacam itu dilingkungan Universitas,  keterlaluan, dan tak pantas disebut sebagai lembaga pendidikan. Karena lembaga pendidikan sebenarnya sangat menjung – jung tinggi nilai – nilai moralitas dan integritas. Jangankan memproses atau memperjuangkan dengan penuh cinta-kasih untuk membawa Unswagati menuju negri, yang memang sudah menjdai program (katanya). Mengurus kalender akademik saja tak mampu, mengurus pembangunan agar terhindar dari budaya KKN saja tak becus. Apa itu yang dinamakan lembaga pendidikan? Apa itu yang dimaksud Kualitas? Memalukan dan menjijikan! Tampaknya, campur tangan Yayasan sudah terlalu jauh sampai ke ‘dapur’ Unswagati, akhirnya Rektor sebagai pucuk pimpinan hanya sebatas simbol, bahkan boneka! Malang sekali.

Dengan di bangunnya ITB di Cirebon 2016 mendatang, harapan Unswagati menjadi kampus negri di Ciayumajakuning pupuslah sudah. Embel - embel label 'menuju negri' dalam setiap promosinya hanyalah alat untuk menarik minat masyarakat, yang akhirnya dilanda kekecewaan yang luar biasa karena harapan 'menuju negri' tersebut tak kunjung datang, dan bahkan tak akan pernah datang. Pembohongan publik. Stop berharap. Tidak ada kata Unswagati menuju negri, itu hanya fiktif belaka.  Mahasiswanya pun (BEM, DPM, UKM ,) fiktif belaka, karena hanya diam saja melihat situasi dan kondisi seperti saat ini, sibuk dan asik dengan dunianya masing-masing (zona nyaman). Miris dan Memperihatinkan!

Tulisan ini merupakan bentuk cinta-kasih penulis terhadap kampus tercinta khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bentuk pengabdian yang bisa penulis lakukan. Mari kita membangun bersama Unswagati menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dan tentunya humanis. Dimana bisa menciptakan manusia – manusia handal, berintegritas dan bermoral. Apabila kondisinya masih seperti ini, dan terus dibiarkan begitu saja, cita – cita pada saat didirikian Yayasan dan membangun Unswagati untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat cuman sekedar mitos, dan akhirnya hanya fiktif belaka.  Hanya kesadaranlah sarat mutlak transformasi sosial; Unswagatyang lebih baik. Bukannya begitu wahai Unswagati? Cuci mukalah biar terlihat segar!

Puisi: Mendekap Penantian

Tidak ada komentar

Senin, 04 Januari 2016

Hai, seseorang yang tak ingin kusebutkan namanya

Kau yang tak ingin kuakui keberadaannya

Katamu indah

Mengikat dan melepas itu lumrah.

 

Hai, seseorang yang pernah bernama cinta

Jujur aku rindu memaksa bercerita

Walau kau lelah dan bosan: jangan

Walau kau benci cerita yang mengulang.

 

Hai, bolehkah aku memaksa bertemu

Meminta waktu bertegur sapa matamu

Kudengar itu angan-angan

Alasanku membenci sebuah pertemuan

 

Semalam aku mendekap bayangmu

Sebuah penantian kukatakan

Seolah kau hadir dan memeluk mimpi: bersamaku

Mimpi yang pernah kita bangun berdua

Bahwa perpisahan kau yakinkan tak pernah ada

 

Hai, dengarkan aku

Aku lupa berapa lama tak lagi cerita

Selalu kutuliskan sebuah perjanjian yang ada

Pada dinding yang terus diam tak menganggap

Kau yang seolah tak ingin kenal dan mengenal aku yang gagap.

 

Oleh: Luqyana Dahlia

 

Puisi: Tanpa Suara

Tidak ada komentar
Oleh: Jarot 'Gunati'

Dalam Kedinginan yang menusuk
Aku terbujur kaku oleh Keangkuhan

Melihat Hujan diselimuti kabut
Tak seorangpun tahu dalam kesunyianku

Aku ingin menghirup Nafasmu
Yang terkadang tersengal dalam bait-bait Kemunafikan
Aku mencintaimu tanpa suara
Tetesan Air Hujan mengingatkanku
Pada kesendirianku yang selalu menapaki jalan-jalan Penderitaan.

 

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews