Responsive Ad Slot

Rektor Tak Bisa Hadir, Pelantikan DPM-U Mundur

Tidak ada komentar

Sabtu, 31 Oktober 2015

Unswagati, Setaranews.com- Pelantikan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang direncanakan hari ini, Sabtu (31/10) diundur, Tertundanya acara tersebut dikarenakan Rektor danWakil Rektor III selaku bidang kemahasiswaan tidak bisa hadir jika pelantikan diadakan pada hari ini.

Alasan absen tersebut dikarenakan Warek III yang sedang melanjutkan studi S3-nya di Bandung pada Jumat dan Sabtu, sedangkan alasan dari Rektor sendiri kurang jelas. Selain itu, keterlambatan jadwal pelantikan juga dikarenakan Surat Keputusan yang belum turun.

Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa untuk sementara masih memikirkan jadwal pelantikan DPM-U, dikarenakan ada kendala waktu yang dihadapi untuk pelantikan ini mengingat pelantikan akan bentrok dengan jadwal Ujian Tengah Semester yang sedang dihadapi mahasiswa dalam waktu dekat, namun, Azis selaku ketua PPUM memastikan bahwa pelantikan DPM-U ini akan dilaksanakan paling lambat setelah UTS berakhir.

“Ya pokoknya saya perkirakan paling lambat setelah UTS selesai lah pelantikan sudah dilaksanakan.” Ujarnya mantap.

Mahasiswa Unswagati Galang Dana Korban Asap

Tidak ada komentar

Jumat, 30 Oktober 2015

Unswagati, Setaranews.com- Keluarga Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) bersatu melakukan penggalangan dana bagi korban asap di Sumatera dan Kalimantan pada Rabu (28/10) di ketiga Kampus Unswagati. Hal ini mendapatkan sambutan baik dari seluruh mahasiswa, dosen bahkan khalayak umum yang berada di  kampus Unswagati seperti petugas kebersihan hingga satpam pun ikut berpartisipasi. Sumbangsih ini bersifat sukarela namun besar atau kecil yang diberikan tentunya sangat berarti bagi saudara kita yang kini sedang berduka menjadi korban asap.

Seperti yang diungkapkan oleh Presiden Mahasiswa Unswagati, Ihsan menuturkan, “semoga pemerintah dapat mempertegas peraturan dengan adanya musibah ini” tuturnya. Dengan adanya korban yang semakin banyak berjatuhan terutama terserang gangguan pernafasan yang menyerang anak kecil serta balita dengan sistem kekebalannya yang belum optimal, jelas sangat perlu adanya ketegasan hukum mengingat bencana asap yang disebabkan pembakaran secara besar-besaran ini memerlukan waktu yang sangat panjang untuk memperbaiki keadaan menjadi pulih kembali. Dengan adanya musibah di tanah air, kita patut untuk introspeksi diri dan saling bahu membahu dalam mencari solusi atas peristiwa yang menimpa Indonesia saat ini.

 

Bangun Semangat Mahasiswa Melalui Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10), Keluarga Mahasiswa mengadakan kegiatan penggalangan dana bagi korban asap. Untuk mempersatukan kembali semangat para pemuda terutama Mahasiswa Unswagati, diadakan mimbar bebas di depan halaman parkir Kampus I Unswagati. Selain itu, ada tari topeng, puisi berantai, musik akustik, diskusi dengan dihadiri oleh seluruh perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Unswagati.

Selain dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, kegiatan yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa ini diharapkan akan terus berlanjut untuk kegiatan-kegiatan berikutntya agar Mahasiswa Unswagati bersatu. Ikatan yang dikoordinatori oleh Warsono (Mahasiswa FISIP) mendapatkan sambutan yang sangat baik terutama dari mahasiswa yang ikut berpartisipasi.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Mahasiswa Unswagati, Ihsan “meski dalam mempersiapkan kegiatan ini kurang dari sehari, namun dengan semangat para mahasiswa, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik” tuturnya. Isi dari diskusi yang telah dilaksanakan ternyata banyak memunculkan semangat baru dan inspirasi bagi semua mahasiswa. Sementara itu, kedepannya ikatan ini akan menjadi ruang publik sebagai sarana bagi mahasiswa dalam menampung aspirasi.

Duka Kita Untuk Etika Mahasiswa

Tidak ada komentar

Rabu, 28 Oktober 2015

SetaraNews-Opini, Mahasiswa merupakan salah satu komponen yang berada di lingkungan pendidikan tinggi, baik yang berbentuk universitas, institut, maupun akademik. Menyandang gelar mahasiswa merupakan sebuah kebanggan dan tantangan tersendiri bagi penyandangnya, betapa tidak peran mahasiswa sangat dibutuhkan bagi perubahan bangsa menuju perubahan yang lebih baik, serta dapat berperan dalam penyelesaian segala permasalahan yang dihadapi bangsa. Maka dari itu seorang mahasiswa harus peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitarnya.

Banyak yang beranggapan bahwa mahasiswa adalah cucu ilmu pengetahuan dan merupakan kaum intelektual. Disebutkan pula bahwa perguruan tinggi merupakan tempat dimana intelektual seorang mahasiswa diasah, dilatih, dan dikembangkan, sehingga melalui intelektual yang mereka miliki dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di sekitarnya.

Namun pengoptimalan intelektualitasnya harus pula diiringi dengan etika dan moral bagi seorang mahasiswa, karena dengan bersatunya intelektual, moral, dan etika akan menyatupadukan antara pikiran, hati, dan nuraninya sebagai manusia, yakni makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Akan tetapi sekarang ini nampaknya peranan moral dan etika sudah tidak menjadi hal yang dipentingkan lagi, dan terkesan berprinsip “semau gue”. Padahal dengan anggapan sebagai kaum intelektual seperti ini sudah seharusnya sebagai seorang mahasiswa harus cerdas pula dalam bertindak, sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Segala hal yang dilakukan pasti akan dipertanggungjawabkan, baik dengan diri sendiri maupun dengan masyarakat secara umum.

Akhir-akhir ini sering kita lihat beberapa oknum mahasiswa sering memasuki kawasan screen house Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati ketika kondisi pagar kala itu dalam keadaan terkunci. Kalangan oknum mahasiswa tersebut memasuki kawasan screen house dengan cara melompati pagar alias “ngancleng pager”, bak ninja yang ada pada film legenda Jepang.

Apakah layak seorang mahasiswa yang notabene adalah seorang intelektual untuk melakukan hal seperti itu ?. tentu tidak!. Kenapa ?. karena ketika tempat atau kawasan tersebut dalam keadaan terkunci, menandakan adanya larangan tidak boleh memasuki kawasan tersebut kecuali dengan membuka kuncinya. Lantas ketika pagar dilompati dan pintu sudah tidak dihormati, lalu apa fungsinya pintu ?. penulis yakini sebagai kalangan intelektual pasti mengerti fungsi dari pintu. Jelas ini duka pertama bagi moral dan etika oknum mahasiswa.

Tidak sampai disitu, oknum mahasiswa pun mencoret-coret tembok screen house dengan cat, dan plang besi dengan spidol permanent. Meski isi tulisan tersebut bermakna positif, namun penempatannya kurang tepat. Padahal untuk memberi ajakan positif dengan tulisan seperti itu, bisa digunakan sebuah media. Baik itu media poster atau bentuk kreatifitas lainnya tanpa harus mencoret-coret tembok maupun papan screen house. Penulis sangat meyakini oknum mahasiswa yang melakukan hal tersebut melakukan dengan sebuah kesengajaan, tanpa mereka pikir dengan sebuah perenungan yang positif mengenai nilai moral dan etika yang sudah dilakukan.

Apakah itu sebuah hal kecil ?. tentu tidak!. Karena kejadian buruk tersebut terjadi dengan sebuah kesengajaan di lingkungan pendidikannya. Sangat penulis sayangkan oknum mahasiswa yang notabene adalah kaum intelektual tanpa malu melakukan hal tersebut di lingkungan pendidikan tanpa berpikir etika dan moralnya yang dapat berakibat pada asumsi buruk mahasiswa lainnya. Jelas ini adalah duka kedua terhadap etika dan moral oknum mahasiswa.

Lantas ketika etika dan moral yang rendah, lalu apa gunanya sebuah intelektualitasnya ?. lantas kita dua kali berduka di screen house kawan-kawan. Mari kawan-kawan kita merenung untuk masa depan yang baik dan dapat memaksimalkan sisi intelektualitas yang dibarengi dengan etika dan moral, agar kita bisa lebih cerdas lagi dalam bertindak dan melakukan suatu hal. Dan terwujud insan mahasiswa yang terhormat dan bermartabat.

oleh :

(Mahasiswa Unswagati)

Keluarga Mahasiswa Unswagati Peringati Sumpah Pemuda

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Peringatan sumpah pemuda yang jatuh pada rabu besok (28/10) akan diadakan di halaman parkir kampus 1 Universitas Swadaya Gunung Jati pada pukul 16.00 s.d 23.00 WIB. Peringatan sumpah pemuda yang diusung dengan tema “Pemuda Indonesia Bersatulah” diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Unswagati.

Dalam acara ini akan ada tari topeng, mimbar bebas, puisi berantai, akustik, sharing, maupun penggalangan dana untuk korban asap, “tari topeng ini nanti diisi oleh UKM Seni dan Budaya dan mengenai sharing temanya yaitu kondisi yang sedang terjadi di Indonesia saat ini, kabut asap yang terjadi di Riau, dan rencananya ketika sharing juga akan diadakan api unggun" ujar Akhmad Fahrul Sonjaya selaku ketua pelaksana.

Penggalangan dana seharusnya dilaksanakan pada pagi tadi, namun karena terdapat beberapa kendala akhirnya ditunda, "awalnya rencana penggalangan dana itu pagi tadi, cuma karena ada beberapa kendala yang salah satunya yaitu kesibukan dari panitianya akhirnya acara ini ditunda, kelanjutan dari kegiatan penggalangan dana ini menunggu keputusan dari panitia yang lainnya entah dilaksanakan besok atau kapan" tambahnya.

Partai Pendidikan Layangkan Surat Press Releases

Tidak ada komentar

Minggu, 25 Oktober 2015

Unswagati, Setaranews.com - Partai Pendidikan layangkan surat Press Releases No.007/PP/Unswa/X/2015 terkait hasil perhitungan pemira yang disampaikan pada Sabtu 24 Oktober 2015 pukul 15.00 WIB.

Surat tersebut berisi pernyataan yakni Menerima hasil perhitungan surat suara pemira yang telah dilaksanakan pada 22 Oktober 2015 lalu. Pihaknya pun meminta maaf terkait penolakan surat suara pada hasil surat suara, dalam hal ini partai pendidikan tidak bermaksud mengacaukan pesta demokrasi mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, melainkan nmencoba mengkritisi kesalahan terkait hasil surat suara tersebut.

Terdapat selisih total antara Pemilih dengan Surat Suara. Hal tersebut terjadi di kampus 2, dimana total pemilih sebanyak 302, di kotak suara Legislatif hanya berjumlah 300 sedangkan Eksekutif berjumlah 301. Akan tetapi selisih tersebut dianggap hangus oleh PPUM.

Pihaknya sangat menyayangkan tidak adanya pertemuan khusus mengenai aturan untuk membahas persoalan yang lebih spesifik sebelum pemilihan, antara peserta Partai, Pihak Independen, PPUM, Panwaslu dan Wakil Rektor III selaku penengah. Namun PPUM menyatakan sah karena pelantikan Presma dan Wapresma tidak bisa diundur.

“Kami menganggap sia-sia jika dilakukan mediasi untuk membahas pemilihan ulang. Namun, itu menjadi gambaran kita bersama, bahwa seperti inilah gambaran Wajah Sakit Demokrasi Universitas Swadaya Gunung Jati.” Ujar Saeful Fatah selaku sekretaris Partai Pendidikan kepada Setaranews.com.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews