Responsive Ad Slot

Sukses Adalah Suatu Kebetulan...?

Tidak ada komentar

Sabtu, 11 April 2015

 

Jika flasback kebelakang dan kita kembali  dimana kita masih kecil, apa yang ada dipikiran sahabat semua jika ditanya kalau besar ingin menjadi apa? Pastilah kita yang dulu masih anak anak akan menjawab ingin jadi dokter,ingin jadi polisi dan lain lain. Namun seiring berkembang dan bartambahnya umur mungkin cita cita yang dulu pernah kita utarakan tidaklah sejalan dengan apa yang kita harapkan.

Cita cita yang dulu masih kecil kita impi impikan bahkan setelah sampai sarjana dan mempunyai predikat dan gelar, nyatanya juga tak sejalan dengan apa yang kita dapatkan di bangku sekolahan.

Ada cerita menarik dari sahabat saya, sebut saja si jojon, dan si jojon ini sahabat saya yang pintar baik dalam berteman dan dalam mengenyam bangku kulihan dan tak lepas dari itu bahwa cita cita yang si jojon dambakan adalah sebagai seorang rontgen di rumah sakit. Setelah gelar semua didapat dan seiring berjalan semua gelar tersebut kandas lantaran ilmu yang didapat selama 5 tahun harus keluar jalur menjadi salah satu pembisnis roti yang sukses.

Ini membuktikan bahwa, semua perjalanan yang telah kita buat dan kita susun sedemikian rupa namun terkadang tidak sesuai rencana dan bahkan ada hal yang besar sebenarnya menanti namun tidak kita ketahui. (rahasia Illahi). Jodoh maut dan rejeki semua sudah di gariskan oleh yang di Atas, namun kembali lagi kepada manusianya dalam berusaha dan menjalanin. Kita bisa ambil hikmah dari cerita di atas, bahwa kata TIDAK BISA hanya akan membuat kita terpuruk dan bayang bayang kegagalan akan selalu ada dan menghampiri, tapi justru sebaliknya sebenarnya dengan segala kekurangan pada diri kita ada satu RAHASIA atau SENJATA yang sebanarnya kita bisa pecahkan.(silahkan Anda tanya pada diri sendiri tentang rahasia tersebut).

 

Provinsi Belum Anggarkan Proses Penegrian Unswagati Tahun Ini

Tidak ada komentar
Unswagati-Setaranews.com Asa Universitas Swadaya Gunug Jati  (Unswagati) merubah status dari swasta menjadi negeri, nampaknya kembali harus tertahan. Hal itu dikarenakan Pemerintah Provinsi tahun ini  belum menganggarkan untuk proses penegrian.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor III Dudung Hidayat beberapa waktu lalu ketika Setara berhasil menemuinya di ruang kerjanya.

“kita tinggal berharap kembali lagi ke provinsi. Tetapi Provinsi taun ini menurut info belum menganggarkan, mungkin ditahun depan. Tapi kita berharap ada di anggaran perubahan nanti” kata Warek III itu.

Akan tetapi ketika ditanya soal keseriusan Universitas mengalihkan status menjadi negeri, Wakil Rektor yang juga mengajar di Fakultas Hukum itu pun menyebut jika SK penegrian Unswagati sebetunya sudah ada walaupun ditubuh Unswagati sendiri masih ada yang konra terhadap Penegrian Kampus yang berdiri tahun 1962 tersebut.

“Pak Dedi dan Pak Ian itu ke Jakarta ke biro hukum. SK kita itu udah ada, sk penegrian kan tinggal diserahkan disana. Di kapal waktu SBY terakhir bulan Oktober. Tetapi kita kan kekurangan di tanah.  Walaupun di kita sendiri masih ada pertentangan ada yang pingin ada yang ngga. tapi kan kita ga bisa menolak karena persyaratan kita sudah terlanjur masuk ke dikti” Tandasnya

 

Ambil Dana Calon Mahasiswa Baru, Perpustakaan Akan di Kembangkan

Tidak ada komentar

Rabu, 08 April 2015

Unswagati,Setaranews.com - Untuk meningkatkan mutu dan pelayanan di perpustakaan Universitas Swadaya Gunung Jati, Calon Mahasiswa Baru Tahun Ajaran 2015/2016 dikenakan dana perpustakaan senilai Rp. 150.000,-. Dana tersebut ditujukan untuk pembelian koleksi buku-buku baru dan peningkatan sarana dan prasarana demi kenyamanan mahasiswa.

Dalam satu tahun perpustakaan dapat menyediakan buku-buku sebanyak 600 hingga 800 buku-buku baru dengan 5 sampai 400 judul. Buku-buku tersebut bersumber dari dana mahasiswa baru, pemberian dari Pemkot Cirebon, Pemprov Jabar dan beberapa instalasi lain serta buku pengganti yang dihilangkan oleh mahasiswa.

Kepala Perpustakaan Kubeni, S.IP menuturkan pelayanan perpustakaan pun selalu ditingkatkan setiap tahunnya, Sejak 2010 perpustakaan mulai menggunakan program senayan dalam pengembalian, peminjaman, dan pencarian buku baik di perpustakaan universitas maupun fakultas. Beranjak tahun 2015, perpustakaan menerapkan layanan digital yang berisi e-book dan e-journal sehingga memudahkan mahasiswa untuk membacanya melalui sebuah program, beliau juga menilai pengunjung perpustakaan semakin meningkat dan menjadi sebuah kebutuhan.

“Yang saya lihat dan hitung peningkatan-peningkatan tiap tahun dari kunjungan mahasiswa semakin banyak itu artinya perpustakaan sudah sangat dibutuhkan mahasiswa. Mereka sudah melek informasi.” Tandasnya.

Peningkatan yang dilakukan pihak perpustakaan membuat animo mahasiswa dalam mengunjungi perpustakaan meningkat. Hal tersebut bisa dilihat dari laporan tahunan dengan hasil kalkulasi daftar pengunjung setiap harinya.

Namun pengembangan fasilitas dan program perputakaan Unswagati ini dinilai masih perlu dilengkapi dengan koleksi bukunya masih minim.

“Fasilitas dan pelayanan dari perpustakaan sendiri sudah cukup baik hanya saja koleksi—koleksi buku dari perpustakaan masih  kurang banyak.” Ujar Haikal salah seorang mahasiswa pengunjung perpustakaan saat mengunjungi perpustakaan tersebut (an/aw).

Pertanian Ekologis dan Mahasiswa

Tidak ada komentar
Setaranews.com - Dewasa ini krisis pangan menjadi isu yang selalu hangat untuk diperbincangkan oleh kalangan intelektual, khususnya untuk intelektualis pertanian. Krisis pangan yang terjadi Indonesia bukanlah perkara remeh yang hanya bisa diatasi oleh satu bagian stakeholder saja, melainkan permasalahan yang begitu kompleks. Namun krisis pangan ini juga terjadi di masa-masa terdahulu, bisa di katakan ini adalah masalah klasik yang menimpa negara berkembang, yang berimplikasi pada berbagai kebijakan, teknologi dan budaya dalam menghasilkan pangan yang lebih berorientasi pada hasil yang sebanyak –banyaknya, walau dengan inipun yang minim tanpa memperhatikan kaidah – kaidah ekologis.

Sebagai salah satu contoh adalah revolusi hijau yang terjadi pada masa Orba, dimana hasil pertanian dalam hal ini padi, sangat melimpah bahkan pernah di gadang – gadang sebagai peng-ekspor beras terbesar di dunia. Di balik semua prestasi gemilang yang diceritakan sejarah milik para pemenang itu, terdapat dampak – dampak negatif yang berimbas pada buruknya kualitas lingkungan. Tidak akan mudah untuk mengembalikan kualitas lingkungan. Karna permasalahan dasar berada pada masyarakat pertanian itu sendiri. Yaitu budaya ketergantungan untuk mengasilkan produk sebanyak – banyaknya dengan cara – cara yang sudah tidak modern lagi. Seperti penggunaan pestisida, pupuk kimia dan bahan- bahan yang bersifat destruktif terhadap keberlangsungan ekologis. Yang memprihatinkan adalah masyarakat pertanian tidak pernah tahu bahwa budaya bertani yang mereka lakukan setiap hari selalu merusak keberlangsungan ekologis.

Permasalahan  budaya bertani negatif ini semakin di dukung dengan berbagai masalah yang menuntut bertani demi memperoleh hasil sebanyak –banyaknya. Di era ini ada banyak sekali isu populis yang selalu menyudutkan petani untuk bertani dengan mengenyampingkan keberlanjutan ekologis, diantaranya adalah ledakan jumlah penduduk yang berimbas pada kebutuhan ruang tinggal. Lahan – lahan produktif pertanian kemudian di konversi menjadi komplek – komplek perumahan, industri dan kepentingan publik non pangan lainya. Sehingga ruang untuk menghasilkan pangan semakin sempit, kebutuhan masyarakat dunia akan pangan selalu meningkat sedangkan produksi pangan dunia selalu menurun. Pada ujungnya petani di tuntut menghalalkan cara apapun demi menghasilkan produk pertanian dengan lahan pertanian yang minim, maka demi menjawab tantangan krisis pangan dengan cara yang paling cepat adalah dengan menggunakan bahan – bahan tidak ramah lingkungan dalam budaya bertaninya.

Pertanian Ekologis

Pertanian Ekologis adalah budaya bercocok tanam yang berlandaskan kajian ekologis, dimana dalam proses budidaya tidak menggangu komponen ekologis bahakan menjadi pendukung dalam  keberlanjutan proses ekologis.

Di dalam alam terdapat komponen – komponen ekologis yang dapat kita bagi menjadi dua komponen Biotik (hidup) dan Abiotik (benda mati). Komponen biotik berisi mahluk hidup seperti tumbuhan, hewan, jamur, bakteri dan masih banyak lagi. Sedangkan komponen benda mati adalah tanah , udara, sinar matahari, suhu, kelembaban, air. Kedua komponen ini saling terkait sehingga membentuk rantai keseimbangan , yang kemudian memebentuk dunia yang ideal untuk tumbuh dan berkembang. Bila salah satu diantara keduanya mengalami gangguan maka rantai yang sudah di bangun milyaran tahun lamanya akan rusak, keseimbangan dan keberlajutan proses ekologis akan terganggu yang terjadi adalah kualitas lingkungan yang semakin buruk untuk di tinggali.

Jalan Keluar?

Ada jargon yang kurang tepat bagi petani “Pahlawan Pangan” bukan “Pahlawan Pangan dan Lingkungan”.  Tujuan bertani bukan saja untuk menjadi pahlawan pangan yang tujuanya mencukupi kebutuhan pasar akan pangan, namun presepsi utama lebih harus diarahkan pada titik keseimbangan antara mempertimbangkan kaidah ekologis dan menciptakan produksi bertani yang optimal. Pencapaian bertani yang berorientasi kearah perbaikan lingkungan dan hasil produksi yang optimal harus menjadi tanggung jawab bersama.

Mungkin merubah secara total bertani kearah ekologis tidak akan mudah. karena rintangan terbesar sendiri terdapat pada setiap individu untuk sadar terhadap pentingnya menjaga keberlangsungan proses ekologi. Jalan perubahan ini hanya bisa di capai hanya dengan dua jalan, yang pertama adalah gelombang besar secara serempak untuk merubah budaya bertani dan yang kedua adalah perencanaan yang mendasar, proses penyadaran dari tiap elemen yang lebih berujung tombak  pada proses mendidik kembali petani.  Prosesnya mungkin akan lambat menuju budaya bertani ekologis namun ini lebih efektif. Dan jalan yang saya pilih adalah yang kedua, karna kemerdekaan pikiran tiap individu lebih harus di utamakan dari pada paksaan, sehingga petani bisa terus berinovasi dalam bertaninya menuju pertanian yang ideal. Ada beberapa stake holder yang harus bertanggung jawab dalam mengarahkan pertanian kearah sana diantaranya adalah pemerintah (policy maker), Akademisi (Inovation Stock), dan Pihak Swasta (Capital).

Namun yang kemudian di sayangkan adalah pihak – pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini mengalami masa impotensi yang tak kunjung di obati. Ketumpulan pemerintah dalam kebijakannya, monopoli pihak swasta dan akademisis yang tidak bermoral, menjadi jalan berliku dan berbatu terjal kearah perubahan tersebut. Maka siapakah yang harus menyentuh ke dasar permasalahan ini??? Kita harus mencoba membuka kembali buku – buku mengenai makna dan peran mahasiwa dalam perubahan.

Peranan mahasiswa yang starategis sebagai kaum midlle class yang mampu terjun kebawah dan dapat menyentuh ke atas , sebagai kaum intelektual, sebagai agent of change, sebagai agent of control dan sebagai Iron stock. Begitu banyak embel – embel mulia yang melekat pada mahasiswa. Namun apakah mahasiswa mampu mewujudkan??? Saya fikir ini saatnya mahasiwa bergerak dalam suara yang sama, fikiran yang satu dan tindakan yang nyata.Mahasiwa harus terbebas dari belenggu tirani zaman yang melahirkan fikiran pragmatis. Egois dan individualis berlebihan harus di kikis dari sejak dalam fikiran, maka adillah sejak dalam fikiran.

Sudahi percaya pada agama tak bertuhan yang menelurkan budaya berperang, konsumeris, merusak, menindas dan menghisap. Mari menuju Budaya Pertanian yang ramah lingkungan dan menumbuhkan kesadaran untuk menjadi produktif.  Akhirnya disini mahasiswa menyadari bahwa perubahan kearah pertanian ekologis harus didasari dengan pendidikan yang mengakibatkan kesadaran kolektif dari tiap – tiap manusia. Agar sadar dan peduli untuk lebih mencintai ligkungannya bukan karena manusia bisa mengeruk sumber daya alam melainkan mencintai agar bisa menjaga kelestarian lingkungan. Kemudian hal ini yang disebut sebagai  peran mahasiswa terjun ke dalam masyarakat , yang dapat berperan aktif untuk melaksanakan proyek – proyek pendidikan. Sifat mahasiswa harus selalu kritis terhadap kondisi yang terjadi pada setiap detiknya sebagai peran aktif, dalam  pengawasan dan pembacaaan, sehingga dapat dievaluasi setiap tindakan perubahan dan melakukan penyadaran – penyadaran baik ke bawah atau ke atas.

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa indonesia berkembang menjadi manusia –manusia biasa. Menjadi pemuda – pemuda dan Pemudi – pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan manusia.”- Soe Hok Gie.

 

Oleh :

Saeful Fatah

Mahasiswa Pertanian

Fakultas Jangan Tebang Pilih Tentukan Beasiswa

Tidak ada komentar

Selasa, 07 April 2015

Unswagati-Setaranews.com Banyaknya beasiswa yang berseliweran dikampus terkadang tidak sampai ke telinga mahasiswa. Kurangnya informasi dari pihak fakultas untuk mahasiswa itu akhirnya menjadi sorotan Dudung Hidayat selaku Wakil Rektor III. Menurutnya fakultas terkadang tebang pilih dalam menentukan mahasiswa yang mendapat beasiswa.

“kita sudah ingatkan kepada para Wakil Dekan III nya kepada para kaur-kaurnya, kalau satu saja ada mahasiswa yang salah persyaratan. Maka semuanya akan gugur. Dan itu belum tentu taun depan kita dapat kesempatann yang sama . Langsung blacklist.  Nah itu kenapa kita rewel kepada fakultas. Kalau kita ga dapet rugi dong.  Karena yang dari kopertis itu untuk bantuan mahasiswa berprestasikan peraturanya.  kadang-kadang yang sudah dapet diikutkn lagi. Kan ga boleh. Apalagi ada yang belum habis program beasiswanya diikutkan lagi, karena yang berprestasi bukan Cuma yang kita kenal. Banyak yang berprestasi tapi tidak dekat dengan kita dan terlalu sibuk dengan kuliahnya yang seperti ini juga kan bisa diusulkan untuk medapat beaiswa” ungkap Warek III.

Dudungpun menghimbau pada fakultas untuk cepat mengumumkan informasi beasiswa ketika pihak fakultas mendapat informasi, agar tidak lagi ada mahasiswa berprestasi yang terlewat informasi tentang beasiswa.

“Karena kalau kita nanya ke mahasiswa lain misal FKIP jawabanya ga tau kalau ada beasiswa, ada yang IP 3,8 ga tau ada info beasiswa, makanya kepada para wadek yang fair, begitu kita mengumumkan tolong cepet tempel.”

Sumber yang samapun meminta agar fakultas tak melulu mengajukan nama yang sama untuk mendapat beasiswa berprestasi.

“Kalau yang sudah dapat ya sudah, biar apa, saya ingin kan biar ada kompetisi, berkompetisi dulu di fakultas, walaupun kadang juga kopertis kasih taunya mendadak tapi pasti di infokan ke fakultas” tandasnya.

LPM Setara Adakan Pelatihan Jurnalistik Selama Dua Hari

Tidak ada komentar

Senin, 06 April 2015

Unswagati-Setaranews.com (05/04) Lembaga Pers Mahasiswa Setara (LPMS) Universitas Swadaya Gunung Jati telah mengadakan Pelatihan Jurnalistik untuk pelajar SMA/SMK Sewilayah III Cirebon. Kegiatan ini diadakan selama dua hari sejak tanggal 4-5 April 2015 bertempat di gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Bahasa Inggris Kampus Unswagati III.

Kegiatan ini bertemakan "Kenali Jurnalistik untuk Membangun Kreativitas di Era Global ".  Acara ini bertujuan supaya  pelajar tingkat SMA dapat mengenal lebih dalam terkait pengetahuan dasar-dasar Ilmu Jurnalistik agar bisa  mengembangkan bakat, minat dan tentunya  mampu bersaing di Era Globalisasi dengan semakin majunya teknologi serta informasi yang semakin berkembang pesat.

Materi yang disampaikan diantaranya adalah dasa-dasar ilmu video grafi, pengenalan webmaster dan juga teori-teori Jurnalistik. Selain itu, teori yang disampaikan kemudian dipraktikkan dengan membentuk kelompok lalu dipresentasikan. Hal ini dilakukan supaya peserta mampu mengaplikasikan serta mengembangkan secara baik.

Pelatihan jurnalistik  yang dihadiri sekitar 60 pelajar SMA/SMK sederajat ini mendapatkan apresiasi positif oleh peserta, salah satunya adalah Nursali, siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Indramayu mengatakan, “Padahal ini pertama kalinya saya mengikuti Pelatihan Jurnalistik, tetapi ketika langsung dipraktekkan langsung cara meliput berita dengan membuat video sederhana, saya semakin tertarik untuk mengembangkannya.” Tuturnya kepada SetaraNews.

Setelah usainya kegiatan ini salah satu panitia menuturkan,”Melihat banyaknya peserta yang diluar target membuat kami sangat apresiasi dengan antusias semangat anak-anak. Dan diharapakan kegiatan ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya ,khususnya untuk tingkat SMA supaya memiliki pengetahuan dasar dan dapat mengembangkan Ilmu Jurnalistik.” Tutur Ari Putra Danianto Selaku Ketua Pelaksana.

 

Oleh : Nur Widodo

 

Pelatihan Jurnalistik SMA Se-wilayah III Cirebon

Tidak ada komentar

Minggu, 05 April 2015

Unswagati-Setaranews.com (05/04) Sejak kemarin, Lembaga Pers Mahasiswa Semua tentang Rakyat (LPM Setara) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon menyelenggarakan workshop jurnalistik dasar untuk Sekolah menengah atas (SMA) sewilayah tiga Cirebon.

Dalam workshop kali ini terdapat beberapa pelatihan yang dibawakan langsung oleh pemateri yang sudah ahli dibidangnya. Peserta workshop melebihi kuota yang ditetapkan panitia, sehingga menjadi nilai tambah dalam kegiatan ini.

Salah seorang peserta. Lia, mengaku senang bisa terlibat langsung dengan acara workshop yang diselenggarakan selama dua hari tersebut.

“lumayanlah, kita disini bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan lebih dari bidang jurnalistik. Selain itu, kita juga mendapatkan banyak teman baru dari luar sekolah kita. Bahkan sampai luar daerah sekolah kita” ujar Lia peserta asal MAN Ciledug kepada setaranews.

Selain peserta, adapula guru yang berkunjung ketempat workshop. Beliau mendukung kegiatan ini, sebab menurutnya siswa yang ikut kegiatan kali ini dapat menularkan ilmunya di sekolah.

“semoga siswa yang mengikuti pelatihan ini dapat ilmu yang bermanfaat untuk sekolahnya dalam bidang jurnalistik” harap fachri salah seorang guru SMK Wahidin Cirebon.

 

Oleh : Muhammad Syafiqur Rahman
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews