Responsive Ad Slot

Terkait Pembongkaran DKC, Disporbudpar Lepas Tangan

Tidak ada komentar

Sabtu, 18 Oktober 2014

Cirebon, SetaraNews.com – Pembongkaran gedung  kantor Dewan Kesenian Cirebon (DKC) masih menjadi misteri. Pasalnya, belum ada kepastian yang jelas siapa yang membongkar dan apa penyebabnya. Dinas Pemuda, Olah raga, Kebudayan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon akhirnya angkat bicara. Disporbudpar sendiri merasa heran, dikarenakan pihaknya tidak tahu menahu kenapa dilakukan pembongkaran dan tidak  merasa untuk merekomendasikan.

“Kami tidak tahu menahu. Kami juga heran kenapa pemborong berani melakukan pembongkaran, dan apa alasan dan penyebabnya kami tidak mengerti, coba tanyakan ke PU.” Ujar Dede Wahidin selaku kepala sesi bina seni, film dan Bahasa dikantornya.

Anggota DKC dengan beberapa seniman dan sastrawan sebelumnya sudah membuat petisi dan melaporkan kejadian itu kepada Polres Cirebon Kota (Ciko) tapi belum bisa ditangani. Dikarnakan berkasnya yang belum lengkap, salah satunya terkait status gedung kantor DKC. Disatu sisi dibangun oleh Pemprov, satu sisi itu memang berdiri di atas tanah pemkot dan Pihak pemprov pun belum melakukan serah terima kepada pemkot.

“Ia itu dibangun oleh pemprov diatas tanah pemkot, Pemprov blum melakukan serah terima. Tapi secara pengelolaan memang dilakukan oleh kami” Tambah Dede.

Masih menurut Dede,  Dispodbupar sudah mengumpulkan para seniman, sastrawan dan budayawan untuk membicarakan keperluan apa saja yang dibutuhkan. Tapi tidak dalam rangka membicarakan gedung Kantor DKC, tapi soal perbaikan gedung seni Cirebon. Setelah perbaikan baru akan membicaran permasalahan pembongkaran kantor DKC untuk menemukan titik persoalan dan solusinya.

Inilah Kronologi Perusakan, Penjarahan dan Penggusuran Dewan Kesenian Cirebon

Tidak ada komentar
Selasa, 23 September 2014

  1. Pukul 10.00 WIB, Toton selaku penjaga gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang terbangun saat istirahat, dikarenakan munculnya suara gaduh yang timbul dari aktivitas pembongkaran Griya Dewan Kesenian Cirebon(Griya DKC). Pembongkaran ini dilakukan oleh Jujun, Yanto dan beberapa orang yang diidentifikasi sebagai pekerja Yanto.

  2. Karena merasa ada yang janggal, sekitar  pukul 11.00 WIB, Bung Toton kemudian  bertandang untuk menemui Adin selaku Kabid Kebudayaan Dinas Pemuda Olah Raga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar), untuk mengkonfirmasikan terkait pembongkaran Griya DKC. Saat ditemui, Adin sedang ada tamu dan menyuruh Toton menemui Dede  selaku Staf Disporabupdar yang sedang berada di gedung Nyi Mas Rarasantang.

  3. Sekitar Pukul 11.30 WIB, Dede ditemui Toton di sanggar Ponimin yang berada di sayap kanan Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang. Saat dimintai keterangan terkait pembongkaran tersebut, Dede mengaku tidak tahu-menahu.

  4. Barang-barang Griya DKC dibawa Jujun sekitar pukul 15.00 WIB. Jujun mengingatkan kepada Toton bahwa jika Alwy (Ketua Griya DKC) mencari barang-barang seperti buku, arsip, dan meja diamankan di rumahnya. Sedangkan rak buku ditinggal di lokasi pembangunan oleh jujun. menurut Toton rak buku kemungkinan dibawa pekerja bangunan bersama mebeler, kemudian sekitar pukul 17.00 WIB pembongkar serta Yanto cs membawa pulang mebeler dan rak buku.

  5. Hari pembongkaran pertama tersebut dilakukan sampai Selasa sore, sedangkan kondisi Griya DKC masih ada beberapa bangunan yang berdiri seperti genting, dan daun pintu.

  6. Toton memperkirakan bahwa Jujun adalah orang yang bertanggung jawab atas pembongkaran Griya DKC, termasuk para pekerja suruhan Jujun. Toton juga menyebut Yanto cs hanya tahu sekadar nama, sedangkan alamat rumahnya tidak tahu karena baru tahu dilokasi pembongkaran. Menurut Toton pekerja yang merenovasi gedung Nyi Mas Rarasantang kebanyakan  warga Ketanggungan Kabupaten Brebes Jawa Tengah, tapi para pekerja tidak ada kaitannya dengan Jujun danYanto Cs.

  7. Sejauh ini Toton tidak tahu motif Jujun membongkar Griya DKC dan mengamankan barang-barang di rumahnya.


Rabu, 24 September 2014

  1. Pembongkaran dilanjutkan sekitar pukul 09.00 WIB, menurut Tonton bangunan Griya DKC dihancurkan secara bertahap sampai rata.

  2. Husain selaku aktivis DKC langsung bertandang ke lokasi pembongkaran sekitar pukul 16.00 WIB, setelah mendengar adanya aktivitas pembongkaran Griya DKC. Sesampainya di lokasi, kondisi bangunan sudah rata dengan tanah dan masih ada pekerja yang beraktivitas.

  3. Para pekerja yang berjumlah empat orang dan tiga lainnya sedang mengambil dan mengumpulkan besi rangka bangunan ke mobil pikap. Setelah diklarifikasi, para pekerja mengaku berasal dari Ciledug Kabupaten Cirebon menjawab bahwa mereka hanya suruhan Yanto dan tidak tahu penanggung jawabnya.

  4. Sekitar pukul 16.30 WIB, Yanto datang ke lokasi untuk dimintai klarifikasi. Yanto mengaku berasal dari Jawa Tengah, namun sudah dua tahun menetap di Kalitanjung atau belakang SDN kalitanjung, Kota Cirebon.

  5. Yanto mengaku, bahwa para pekerja adalah suruhannya. Yanto juga mengungkapkan bahwa aktivitas pembongkaran Griya DKC berdasarkan instruksi Jujun dan sekaligus penanggungjawabnya. Yanto menyebut bahwa Jujun beralamat di Mandalangan, Kota Cirebon.

  6. Pukul 17.00 WIB selang beberapa jam setelah rombongan Yanto membawa pulang besi serta rangka bangunan. Datang pejabat Pemerintah Kota Cirebon yakni Ny. Kadini selaku Kabid Perlengkapan Kota Cirebon. Kedatangan Ny. Kadini bersama lima orang lainnya bermaksud untuk mencari tahu secara langsung aktivitas dan seluk beluk pembongkaran Griya DKC. Pihaknya mendapat informasi dan instruksi dari Kabag Humas Kota Cirebon, Sukmanjaya.

  7. Ny.kadini selaku Kepala Bidang Perlengkapan yang bertanggung jawab atas keberadaan aset pemerintah Kota Cirebon, mengaku tidak mendapat pemberitahuan terkait pembongkaran Griya DKC. Sehingga pihaknya berkomitmen untuk mencari siapa dalang dibalik pembongkaran Griya DKC tersebut.


Sabtu, 11 Oktober 2014

  1. Sampai hari Sabtu 11 Oktober 2014, Pemerintah Kota Cirebon, Disporbupdar Kota Cirebon dan Bidang Perlengkapan Kota Cirebon sebagai pemilik aset lalai dan melakukan pembiaran perusakan, penjarahan, dan penggusuran Griya Dewan Kesenian Kota Cirebon.

  2. Para pengurus DKC menyiapkan laporan pidana terkait perusakan, penjarahan, dan penggusuran Griya DKC.


Senin, 13 Oktober 2014

  1. Pada pukul 13.30 WIB, beberapa pengurus Dewan Kesenian Cirebon melaporkan tindak pidana perusakan, penjarahan, dan penggusuran Griya DKC yang terjadi pada tanggal 23-24 September 2014 ke polisi. Pihak Polres Kota (Kanit Reskrim, Kasat Reskrim, dan Staf unitya) menolak laporan pengurus DKC dengan dalih pelapor harus mendatangkan pelaku. Padahal, itu merupakan kewenangan polisi selaku Aparat penegak Hukum.

Kuasa Hukum DKC Laporkan Kasus Penjarahan Gedung

Tidak ada komentar
Cirebon, Setaranews.com –Pengurus DKC (Dewan Kesenian Cirebon) beserta seniman kota Cirebon menyambangi Polresta Cirebon, guna melaporkan kembali terkait pembongkaran dan penjarahan gedung DKC oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka beranggapan bahwa persoalan ini merupakan tugas polisi untuk mencari tahu motif kasus tersebut.

Laporan kali ini sudah diterima oleh reskrim polresta Cirebon, dan kasus tersebut sedang diproses. Apabila kasus ini dibiarkan maka langkah selanjutnya yang ditempuh oleh pihak DKC akan melapor pada mabes polri, Serta akan mengadvokasi dasar hukum polres Cirebon apabila tidak merespon, Sebab anggaran DKC ini juga berasal dari pemprov Jawa Barat dan dibiayai oleh negara.

“Karena kita tahu siapa pelakunya, sebagai penghormatan pada institusi hukum kita melapor terlebih dahulu pada polresta Cirebon. Kalau di polres tidak dilanjuti kita akan melapor ke mabes polri.” Ujar Mustolish Siradj sebagai kuasa hukum DKC yang ditemui SetaraNews pada sore (17/10) tadi.

Beliau juga mengajak agar pihak media turut mengawal kasus ini,  juga untuk mengetahui proses jalannnya kasus penjarahan gedung DKC.

“Mohon bantuan teman-teman media untuk mengawal proses kasus penjarahan gedung DKC ini” tandasnya.

 

Gerbang Lupa dikunci, Satu Motor Hilang

Tidak ada komentar

Jumat, 17 Oktober 2014

Setaranews.com – Rabu malam telah terjadi pencurian sepeda motor Vario dengan nomor plat E 4066 HI belokasi di Komplek Stadion Bima Jalan Cimandiri Cirebon. Peristiwa tersebut terjadi disalah satu tempat kost putri sekitar pukul 19.00 WIB.

“Usai Isya’ saya keluar kamar hendak memindahkan motor lebih ke depan dekat kamar, karena sebelumnya saya memarkir motor persis didekat gerbang kost, Namun saat saya keluar motor saya telah hilang, padahal saya telah mengunci ganda motornya,” Ujar Awit Megawati selaku pemilik motor yang juga tinggal di tempat kost tersebut.

Hal ini disebabkan karena gerbang kost tidak dikunci, dan saat itu penghuni kos tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing didalam kamar sehingga keadaan dihalaman kost lengang. “Sejak siang tadi saya melihat dua pemuda tidak dikenal yang bolak-balik mengendarai motor tengah memerhatikan kosan tersebut, tapi saya kira itu hanya penduduk sekitar yang sekedar lewat,” Tambah salah satu warga sekitar yang memperkuat dugaan bahwa kosan tersebut sebelumnya telah diintai.

Pembongkaran DKC Membuat Seniman Cirebon Geram

Tidak ada komentar

Kamis, 16 Oktober 2014

Cirebon-SetaraNews.com Pembongkaran Gedung Dewan Kesenian  Cirebon (DKC) pada tanggal 23-24 September oleh orang-orang yang tidak dikenal membuat sejumlah seniman Cirebon geram. Salah satunya, M. Khoirul Anwar mengungkapkan kegeramannya lewat petisi  berjudul “Pemkot Cirebon, Jangan Hancurkan Ruang Kebudayaan Kami!” .

M. Khoirul Anwar lewat petisinya mengatakan “Tragedi penghancuran kantor DKC tersebut benar-benar menusuk relung hati dan akal sehat semua makhluk berbudaya. Kantor DKC yang semestinya menjadi aset berharga pemerintah kota (pemkot) Cirebon ini justru menjadi korban dari pembongkaran bangunan secara liar layaknya lapak pedagang kaki lima di jalur-jalur pedestrian. Anehnya semua jajaran instansi yang berkaitan dengan kantor DKC seperti menutup mata atas tragika kebudayaan ini. Dari mulai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Cirebon, Dana Kartiman sampai H Yoyon Indrayana selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi Sumberdaya Manusia (DPUPESDM), semua terkesan saling lempar tanggungjawab ketika diminta klarifikasinya!”

“Tidak hanya gedung yang mereka bongkar, mereka juga menjarah semua aset yang ada di dalam gedung” ungkapnya ketika di temui setara sore tadi(15/10).

“Yang saya kecewa dari kejadian ini ,adanya pembiaran dari pihak-pihak terkait Khususnya Pemerintah Kota” Tambahnya.

Beliau juga menanyakan tentang pembongkaran itu lewat petisinya “Bagaimana mungkin kantor yang sudah mendapat perizinan serta pengesahan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2003 itu disepelekan sedemikian rupa? Kenapa tak ada satupun dari pegiat budaya dan pengurus kantor yang dikoordinasi sejak awal terkait penghancuran bangunan tersebut? Mengapa semua jajaran pemkot terkesan seperti menutup mata dan saling lempar tanggungjawab atas tragedi ini? Bukankah semestinya ada mekanisme formal yang mesti ditempuh sebelum merobohkan sebuah bangunan, bahkan yang ilegal sekalipun? Lalu mengapa kantor DKC yang legitimatif secara hukum harus dirobohkan? Bukankah di depan kantor tersebut berdiri tegak sebuah prasasti Griya DKC yang ditandatangani langsung oleh H. Memet Hamdan, SH, MSc (kepala Disbudpar Jabar saat itu)?” .

“kami juga sudah melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian ,tapi belum ada tanggapan karena dirasa berkas-berkas kami belum lengkap” tandasnya .

 

Kacau, Separuh dari Anggota DPR RI Dinilai Bermasalah

Tidak ada komentar

Rabu, 15 Oktober 2014

Jakarta - SetaraNews.com, Hampir separuh anggota DPR periode 2014-2019 yang baru dilantik dinilai memiliki rekam jejak yang bermasalah.  Penelusuran LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menunjukkan dari 560 anggota DPR, 242 orang diduga terlibat beragam kasus, mulai dari korupsi, pelanggaran HAM, hingga pelanggaran pemilu.  Untuk kasus korupsi, misalnya, Kontras mencatat ada 160 nama.

Menurut Chrisbiantoro, deputi bidang strategi Kontras,"Kami sudah melakukan validasi data dan data awal ini akan kami serahkan kepada pihak-pihak terkait untuk ditindaklanjuti," kata  di Jakarta, kemarin (14/10) seperti yang dikutip dari BBC.

Pihak-pihak yang dimaksud, antara lain Presiden terpilih Joko Widodo, polisi, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Chrisbiantoro mengaku optimistis data yang ia kumpulkan akan mendapat perhatian serius, meski ia memperkirakan prosedur pemeriksaan anggota DPR bukan hal yang mudah.

"Setidaknya data ini sudah kami ungkap dan kami juga yakin KPK juga punya datanya," kata Chrisbiantoro.

Perilaku pemilih  Dari 242 nama tersebut, 57 anggota berasal dari PDI Perjuangan, 44 orang dari Golkar, 37 orang dari Demokrat.  Kemudian, 24 anggota yang diduga berkasus dari Gerindra, 20 dari PPP, 18 orang dari PKS, 16 orang dari PAN, 11 orang dari PKB, dan 9 orang dari Nasdem.  Menanggapi data ini, politikus Golkar, Nurul Arifin, mengatakan prihatin.  Ia mengatakan perlu dilihat kembali standar moral dan hukum dalam sistem masuknya anggota DPR.

"Tapi kita juga perlu tahu, undang-undang memang tidak melarang orang-orang yang pernah berkasus untuk menjadi anggota DPR, asal hukumannya di bawah lima tahun," kata Nurul.

Di sisi lain perlu juga dilihat perilaku pemilih yang mendukung calon-calon yang diduga bermasalah. "Mengapa masyarakat masih juga memilih calon anggota DPR yang dianggap bermasalah?" kata Nurul.

"Ini menjadi tanggung jawab bersama kita," katanya. 'Seleksi ketat'  Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Hukum, Trimedya Panjaitan, mengatakan pihaknya sudah ketat dalam menyeleksi calon anggota legislatif tingkat pusat.  Seleksi caleg dengan melakukan psikotes, tes narkoba, kesehatan dan juga mencermati rekam jejak para calon.

"Tak ada partai lain yang melalukan psikotes terhadap caleg," kata Trimedya.

"Partai sudah sangat maksimal, tetapi kalau ada temuan Kontras seperti itu akan kami telusuri," katanya.  Ia menjelaskan PDI Perjuangan bersikap terbuka untuk menerima masukan seperti dari Kontras.

"Tapi kami juga mempertanyakan mengapa baru sekarang disampaikan dan bukan saat Daftar Calon Sementara ditetapkan, itu kan bisa jadi masukan," kata Trimedya.

Hampir separuh anggota DPR periode 2014-2019 yang baru dilantik dinilai memiliki rekam jejak yang bermasalah.


Penelusuran LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menunjukkan dari 560 anggota DPR, 242 orang diduga terlibat beragam kasus, mulai dari korupsi, pelanggaran HAM, hingga pelanggaran pemilu.

Untuk kasus korupsi, misalnya, Kontras mencatat ada 160 nama.

"Kami sudah melakukan validasi data dan data awal ini akan kami serahkan kepada pihak-pihak terkait untuk ditindaklanjuti," kata Chrisbiantoro, deputi bidang strategi Kontras, di Jakarta, hari Selasa (14/10).

Pihak-pihak yang dimaksud, antara lain Presiden terpilih Joko Widodo, polisi, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Chrisbiantoro mengaku optimistis data yang ia kumpulkan akan mendapat perhatian serius, meski ia memperkirakan prosedur pemeriksaan anggota DPR bukan hal yang mudah.

"Setidaknya data ini sudah kami ungkap dan kami juga yakin KPK juga punya datanya," kata Chrisbiantoro.

Dari 242 nama tersebut, 57 anggota berasal dari PDI Perjuangan, 44 orang dari Golkar, 37 orang dari Demokrat. Kemudian, 24 anggota yang diduga berkasus dari Gerindra, 20 dari PPP, 18 orang dari PKS, 16 orang dari PAN, 11 orang dari PKB, dan 9 orang dari Nasdem.

 

Ini Kata Rektor Soal Parkiran

Tidak ada komentar
Unswagati, Cirebon-SetaraNews.com Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Prof.Dr. Rochanda Wiradinata. MP angkat bicara soal polemik lahan parkir yang kini tengah hangat dikalangan mahasiswa Unswagati. Ditemui usai rapat di kampus III Unswagati pada (13/10) rektor yang belum menjabat setahun itu menuturkan banyak hal menyoal lahan parkir.  Rektor berujar bahwa pihak universitas telah bekerja keras memutus permasalahan lahan parkir meski menemui banyak kendala.

“Upaya universitas dari tiga bulan yang lalu sudah dilakukan dengan berbagai alternatif. Alternatif kerjasama dengan dishub ternyata tidak berhasil karena mereka juga keberatan memberikan lahan. Dengan lotte juga menolak tidak memberkan lahan dengan PU juga tidak berhasil” kata Rektor

Ia juga berujar bahwa bukan masalah jika mahasiswa jalan kaki dari kampus IV ke kmpus III untuk parkir motor. Menurutnya dibanyak kampus juga tidak ada tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk gedung fakultas.

“untuk sepeda motor bisa masuk lewat perjuangan kemudian mereka parkir untuk kuliah tinggal jalan berapa ratus meterlah kesini untuk jalan kaki saya kira tidak keberatan. Wajar dimanapun perguruan tinggi tidak ada yang taruh sepeda motor langsung masuk didepan pintu masuk kuliah itu tidak ada” tambahnya

Selain itu rektor yang akrab dipanggil dengan sebutan Prof.Djohan ini juga menjamin keamanan kendaraan yang diparkir di kampus IV. Dengan menambah tenaga keamanan.

“kami sudah menambah satpam untuk melakukan pengamanan jadi kita tidak diam. Kalau kita diam kita tidak memperhatikan ya wajar jika mahasiswa itu protes” Tandasnya

Mobil Bus Trans Unswagati, Solusi Kongkret Atasi Lahan Parkir

Tidak ada komentar

Selasa, 14 Oktober 2014

BERBICARA – Mengenai lahan, kampus Universitas Swadaya Gunung Jati memang luas. Sudah memiliki 20 hektar lebih yang mencakup empat kampus besarnya yang berada di wilayah kota Cirebon. Namun, tidak serta merta empat kampus tersebut berbentuk lahan kosong yang dijadikan tempat parkir belaka. Di dalamnya terdapat gedung-gedung tempat dimana sivitas akademika menjalankan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdiannya. Ke-empat kampus tersebut tentunya memiliki kapasitas tersendiri, bukan hanya untuk rombongan belajar (rombel) tetapi juga tempat parkir untuk para dosen, karyawan, dan mahasiswanya.

Penambahan jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya, memaksa lahan parkir agar diperluas. Namun kemampuan “finansial” yang tidak jelas akuntabilitasnya dan “keputusan politik” para pejabat kampus masih saja “lamban”. Jumlah mahasiswa Unswagati yang mencapai lebih dari 14.000 per Agustus 2014, tentunya menjadi beban tersendiri bagi Unswagati untuk menampung kendaraan yang dibawa oleh keluarga sivitas akademika Unswagati ke dalam kampus.

Jika ada 14.000 mahasiswa, dibagi empat saja akan mengahasilkan 3.500 mahasiswa untuk setiap kampusnya. Sehingga dapat dipatok kemungkinan kampus akan menampung sebanyak 3.500 kendaraan yang dibawa oleh mahasiswa. Jumlah tersebut tidak sedikit, dan tentunya pihak kampus harus mempersiapkannya secara matang untuk me-manage kendaraan yang akan masuk dari segi tata ruang, waktu, dan sistemnya.

Lalu Apa Solusi-nya?

Solusinya tinggal dua, penghuninya yang diatur atau lahan parkirnya yang diatur

Penulis mencoba memutar otak apa yang sebenarnya terjadi mengenai permasalahan ini. Kita tidak bisa menyalahkan kendaraan yang dibawa oleh mahasiswa Unswagati, dan kendaraan yang dibawa oleh dosen Unswagati. Kita juga tidak bisa menyalahkan pihak kampus yang “sudah terlanjur” menerima keluarga baru kita “mahasiswa baru” yang pada tahun ini bertambah sekitar 3.600 maba. Pembangunan yang tidak berkelanjutan, dan tata kelola ruangan yang tidak sistematis inilah yang menjadi buntut permasalahannya.

Mari kita tilik benang kusutnya satu persatu. Awalnya ada pemberitahuan dari pihak Dinas Perhubungan yang berada persis di samping Kampus III Unswagati yang melihat bahu jalan di Jalan Terusan Pemuda ini digunakan atau dipakai oleh mahasiswa untuk memarkirkan kendaraannya di jalanan. Tentunya ini salah, jalanan umum tidak digunakan untuk tempat parkir.

Namun mahasiswa juga tidak serta merta menggunakan jalanan tersebut untuk tempat parkir darurat mereka. Karena “kampus” sudah tidak lagi mampu menyediakan tempat parkirnya. Lantas menyikapi hal tersebut, Rektor dan beberapa mahasiswa pun merekomendasikan untuk mengalihkan tempat parkirnya di Kampus IV Unswagati khusus untuk mahasiswa yang berada di Kampus III Unswagati. Hal tersebut dijadikan solusi sementara untuk mengatasi melubernya tempat parkir.

Ingatlah rekan-rekan sekalian, Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak membahas tentang lahan parkir. Namun lebih menitik-beratkan pada pendidikannya, maka dari itulah saya mengajak untuk study banding apa yang terjadi pada kampus tetangga kita di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Bagaimana tentang sitem tata lokasi lahan parkirnya disana? Lalu bagaimana dengan kondisi lahan parkir kampus STAN di Tangerang? Jangan lupa agar lihat juga kawasan Kampus UI di Depok.

Jika sudah jalan-jalan ke kampus yang saya sebutkan di atas. Tentunya tidak jauh berbeda dengan kondisi kampus yang kita alami sekarang. Intinya, lokasi kelas untuk belajar akan berjauhan dengan tempat belajar. Tidak akan seperti yang kita rasakan, jarak parkir sangat dengan kelas. Hanya berjarak satu meter lokasi parkir dengan ruang kelas belajar kita.

Efeknya, setiap kita sedang belajar di kelas. Banyak polusi suara kendaraan yang dinyalakan oleh rekan dan sahabat kita dengan suara motornya yang khas, yang terkadang seperti sedang memamerkan motornya yang baru. Berbeda rasanya jika kita berada di kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara di Tangerang, polusi suara kendaraan tidak akan kita dengar. Karena lokasi parkir jauh dari kelas, begitulah hemat penulis ketika kampus telah didesain dengan sistem tertata dengan baik.

Pengamanan Jadi Nomor Satu

Rasanya jika membicarakan tentang “keamanan” kampus Unswagati belum mencapai ukuran standar kemanan, khususnya untuk mengatur sirkulasi kendaraan yang keluar dan masuk di dalam dan di luar kampus Unswagati. Kampus sudah selayaknya “mencatat” kendaraan yang masuk dan keluar, sama halnya dengan tempat parkir yang modern di tempat parkir toko swalayan dan pasar modern.

Perlu disediakan “tangan malaikat” semacam CCTV untuk merekam aktivitas keluar masuknya kendaraan. Sehingga siapapun pencurinya, dalam hitungan satu jam hingga satu bulan, aparat keamanan dapat menikam para pencuri yang selama ini berkeliaran di kota Cirebon.

Bus Trans Unswagati 1, 2, 3, dan 4?

Jika di Jakarta ada istilah Bus Trans Jakarta. Sama halnya di kampus-kampus modern, bus kampus selalu menjemput mahasiswa yang ingin masuk ke kampusnya. Lalu bagaimana dengan kampus Unswagati yang katanya sedang diproses menjadi Perguruan Tinggi Negeri ini? Unswagati setidaknya telah memiliki tiga unit bus, dua diantaranya milik Unswagati dan satu unit dari hibah Dinas Perhubungan, tentunya kita jarang melihat bus tersebut digunakan untuk fasilitas mahasiswa. Kecuali digunakan untuk keperluan kegiatan organisasi mahasiswa di kala sedang dibutuhkan.

Jika “pengertian antar sivitas akademika Unswagati” ini dijalankan dan “Bus Trans Unswagati” digulirkan. Tentu akan berefek pada penurunan penggunaan kendaraan yang selalu dibawa oleh mahasiswa dan dosen Unswagati.

Bagaimana Program Ini Dapat Berjalan Efektif?

Kita belum tahu jumlah persis mahasiswa yang selalu membawa kendaraan ke kampus. Kita juga belum tahu persis berapa jumlah frekuensi terbanyak asal tempat tinggal mahasiswa dan rute yang terbanyak dilalui mahasiswa, berikut waktu terbanyak yang selalu dilalui oleh mahasiswa menuju kampus Unswagati.

Ketika kita sudah tahu pada jam-jam berapa saja aktivitas kuliah mulai sibuk, dan rute mana saja yang terbanyak. Maka kita dapat jadwalkan ke-tiga bus ini akan bergerak untuk menuju ke kampus Utama, Kampus II, Kampus III, dan Kampus IV secara berurutan atau berbalik arah. Sehingga nantinya mahasiswa Unswagati yang ingin ikut dalam jalur Bus Trans Unswagati dapat belajar disiplin waktu untuk mengejar bus untuk sampai ke kampus.

Tentunya opini hanyalah sebuah aspirasi dari mahasiswa, ada pun realisasi dan bentuk solusi alternatif lainnya untuk permasalahan lahan parkir kampus kembali ke penyelenggara pendidikan Unswagati dan pihak Yayasan Unswagatinya. Mahasiswa dan dosen menunggu kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan lahan parkir di kampus. Semoga segera menemukan titik temunya.

Opini ini ditulis oleh Santosa, mahasiswa Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi Unswagati.

UKM Seni dan Budaya Adakan Audisi

Tidak ada komentar


Unswagati, Cirebon – SetaraNews.com, Unit kegiatan mahasiswa Seni dan Budaya (USB) mengadakan audisi, acara yang sedang berlangsung ini akan dilaksanakan selama tiga hari berturut - turut, dimulai dari tanggal 13-15 Oktober 2014, di aula grawidya sabha Unswagati Cirebon.


Dari 250 orang pendaftar, baru ada 128 orang lebih yang hadir untuk mengikuti audisi. Jumlah tersebut menunjukan adanya peningkatan.


Karena pada tahun lalu, hanya ada 100 orang lebih pendaftar dan hanya 80 orang yang mengikuti audisi."Pendaftar banyak, yang mengikuti audisi juga banyak, tapi kami akan memilah kembali. Karena ada beberapa aspek yang harus kami lihat" ujar Defa koordinator acara, saat di temui di aula grawidya sabhaAntusiasme peserta audisi pun sangat luar biasa, walaupun tujuan dari peserta audisi tidak semua sama.


"Banyak pesaing, persiapan sebelum audisi pun kurang. Akan tetapi saya percaya diri untuk mengikuti audisi ini." ujar salah satu peserta audisi.
Andri, salah satu pengurus UKM Seni dan Budaya pun angkat bicara mengenai audisi tahun ini. "Saya harap, mereka yang mengikuti audisi, bukan hanya mampu menonjolkan kemampuan individunya saja, akan tetapi di tahap-tahap audisi berikutnya mereka mampu memperlihatkan loyalitasnya untuk mengikuti audisi" ujarnya.




Dosen Boikot KBM, Mahasiswa Gelar Aksi

Tidak ada komentar
Unswagati, Cirebon – Setaranews.com (11/10) Beberapa Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) juga mahaiswa Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung (Unswagati),menggelar aksi pagi tadi tepat didepan gedung Fakultas Hukum kampus tiga Unswagati. Aksi yang diwarnai bakar ban ini adalah buntut dari kekecewaan mahasiswa terhadap absenya sejumlah dosen FISIP danFakultas Hukum dalam proses belajar mengajar pagi tadi.

Tidak masuknya sejumlah dosen dalam kegiatan belajar mengajar ditengarai sebagai bentuk protes tidak tersedianya lahan parkir bagi kendaraan roda empat dosen FISIP danFakultas Hukum.

Teo kordinator aksi pagi tadi menuturkan kekecewaanya terhadap sikap dosen yang memboikot dan mangkir saat waktu kegiatan belajar mengajar

“Karena dosen FISIP sama Hukun beserta jajaranya boikot, jadi tidak ada pelajaran hanya gara-gara parkiran” ujarnya.

Lebih lanjut Teo menuturkan jika sikap dosen yang mangkir tersebut tak ubahnya seperti anak kecil.

“Kita bayar kewajiban kita (SKS) tapi ko kenapa mereka sifatnya kaya anak kecil?” tambah Teo.

Sebelumnya beberapa hari lalu mahasiswa memblokade jalan dekat fakultas kedokteran kampus tiga Unswagati akibat kebijakan parkir.

 

Jorok, Kawasan Sungai Panembahan di penuhi sampah

Tidak ada komentar
[gallery]

Setaranews.com (13/10)  Jembatan Panembahan Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon dipenuhi sampah setiap harinya dikarenakan kesadaran masyarakat yang kurang terhadap lingkungan sekitar. Hal ini bisa memicu sumber penyakit dan banjir dilingkungan sekitarnya.

Menumbuhkan Rasa Sosial Lewat KBS

Tidak ada komentar

Senin, 13 Oktober 2014



Unswagati – SetaraNews.com, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perguruan dan Ilmu Pendidikan akan mengadakan acara Kemah Bakti Sosial (KBS) yang akan diselenggarakan pada 17 hingga 19 Oktober 2014. Acara tersebut rencananya akan dilaksanakan di Desa Cisantana, Bumi Perkemahan Ipukan, Kuningan.

Menurut Wakil Ketua BEM FKIP, “Acara ini bertujuan untuk mengimplementasikan Tri Dharma perguruan tinggi melalui pengabdian, jadi tanpa ada niat untuk menumbuhkan kesenjangan sosial antar mahasiswa satu dengan yang lainnya.” katanya Sabtu lalu (11/10/2014) seusai menghadiri technical meeting bertempat di Kampus 2 Unswagati Cirebon.

Senada dengan Waketu BEM FKIP, Ketua Pelaksana Acara Rezamika Qomara juga menginginkan agar out-put ini nantinya akan menghasilkan mahasiswa FKIP yang lebih menghargai lingkungan. "Tujuannya sih menjadikan mahasiswa untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat dan menghargai lingkungan." ujarnya.

Ia pun berharap agar peserta KBS tidak hanya mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan, tetapi juga akan menjadi lebih aktif dan peduli pada lingkungan. "Harapannya membuat mahasiswa menjadi aktif, peduli pada masyarakat dan menambah wawasan & ilmu pengetahuan", pungkasnya.

 

 

Komitmen Pendidikan

Tidak ada komentar



Oleh : Bakhrul Amal

 

Ruang pendidikan bukanlah selubung awan hitam yang membusukan. Tapi untuk beberapa saat, masyarakat kita sengaja disodorkan nuansa seperti itu. Menjatuhkan yang satu, menghakimi tanpa koreksi. Akhirnya, kejatuhan dari dahaga untuk menghina sampai menunggu penyerahan seolah seperti sebuah kepuasan.

Ruang pendidikan sejatinya menguangkan argumentasi sebagai nilai tukar. Opini non teoritisi dan tak sesuai rasio logis tidak bisa dijadikan dalih kebenaran, apalagi bila jelas dendam kepentingan sebagai pemantiknya. Anehnya, manusia-manusia begini bisa berkelindengan bebas dengan parlente di ruang pendidikan. Pada manusia ini, eloknya pendidikan tidak akan pernah kita temukan.

Suatu saat, dengan tergopoh-gopoh, nabi naik ke atas mimbar dan membacakan patah-patah kalimatnya yang terakhir. Nabi berteriak dengan mata yang sayu “....seorang Arab tidak memiliki kelebihan diatas non-Arab, dan seorang non-Arab tidak memiliki kelebihan diatas Arab...... Ingatlah, suatu hari kamu akan berhadapan dengan ALLAH dan mempertanggungjawabkan tindakan-tindakanmu. Karena itu, berhati-hatilah, jangan keluar dari jalan kebenaran setelah aku tiada.” Suasana hening, pendidikan sesungguhnya tengah dimulai dari kesadaran akan kehilangan sosok yang begitu baik.

Sesaat kemudian, seluruh umatnya dibuat tenang. Bahwa seluruh perkataannya itu “aku telah menyampaikan pesanMU kepada hambaMU.” Nabi pun mengakhiri pesannya, masuk ke rumah, untuk lalu tak keluar kembali. Mu dengan M besar itu dia sisakan pada hati dan pikiran pendengarnya, Membenahi umat.

Pendidikan itu menerangi yang gelap, Nabi tidak sedikitpun mengutuk. Nabi menyatukan dirinya dengan umatnya dan memberikan pendidikan. Tentunya dengan fakta yang utuh, bukan asumsi yang di skenario untuk memfitnah atau meng-kecilkan yang lain.

KOMITMEN

Komitmen adalah menerabas batas dan melampaui yang tak terlampaui, komitmen menuntut pelaku-pelaku yang berani, yang tak takut disuarakan miring. Komitmen adalah menaruh apa yang sudah dari awal hendak memang ditaruh disitu, dia tidak terkecoh dan fokus.

Namun, dunia pendidikan saat ini telah penuh intrik. Mereka yang dendam datang kembali dengan wajah-wajah haus kuasa yang siap meringkus yang benar.

Perjuangan demi kemajuan dinihilkan untuk dikesankan tak ada. Jatuh bangun dan keinginan peningkatan, hangus dibakar oleh monopoli kejam api kekalahan. Budaya ini malah seperti mengkonsumsi narkoba, yang latah dan nagih. Perilaku kebodohan tersambut dengan tepuk tangan dan hiruk pikuk penuh sorak sorai. Miris.

PENDIDIKAN dan KEBAIKAN

Institusi pendidikan itu bukan sebuah opera yang semuanya telah disusun dalam naskah. Institusi pendidikan didirikan dengan dasar filosofi dan pandangan hidup yang teramat kuat. Kesakralannya terletak dari kemadanian masyarakat lingkungan. Harusnya, kuasa berita merawatnya dan tidak dibodoh-bodohi oleh nalar gerombolan emosional ‘yang tiran’ layaknya pendudukan kolonial.

Apa yang sudah diraih institusi pendidikan bukanlah untuk kebanggaan pribadi tetapi untuk bersama. Apabila kemudian ada segelintir yang datang dengan karung siasat pendzholiman, pendidikan dengan imunitasnya seharusnya membaca hal itu dan mengacuhkannya. Bila perlu jangan diberikan tempat untuk menempelkan bokongnya di gedung suci nan keramat penuh ilmu.

Gandhi dahulu adalah seorang pengacara, beralih menjadi pejuang kemanusiaan. Dengan susah payah, hantaman bertubi-tubi hingga cacian, dia tak goyah. Dia katakan pendidikan mengajarkannya agar komitmen demi kebaikan. Dia kuat.

Mahasiswa letaknya bukan di pinggir tetapi di depan. Mahasiswa bukan konsumen isu, bukan juga penikmat kesakitan, apalagi pengantar chatering dari seseorang yang menuntunnya kerdil. Jadinya, tidak membakar dan mendobrak sesuatu seperti kuda yang ditarik oleh delman dengan tali yang panjang. Kebenaran itu yogiyanya merasuk dalam nurani.

Faal hamaha fujuroha wa taqwaha, kejahatan dan kebaikan itu memang diilhamkan, dalam As-Syams. Mereka yang menelanjangi komitmen dan bersembunyi dibalik apa yang ditaburnya adalah penjahat. Dan institusi pendidikan dengan komitmennya adalah yang harusnya beruntung dengan jalan yang baik.

BELAJAR DARI “FIVE MINARETS IN NEW YORK”

Lalu sebenarnya, bagaimanakah awalnya yang baik itu dikesankan buruk untuk menaikan yang buruk?

Hatta, berdiri tegak dengan telaten memasarkan koperasi. Tan Malaka tak patah arang demi kemandirian Indonesia sebagai bangsa. Soekarno dengan semangat persatuannya, melupakan penjara dan pengasingan, dia bangkit mewujudkan Indonesia. Itulah komitmen.

Kebencian itu lahir daripada akibat kejayaan masa lalu yang hilang terkikis oleh zaman. Bagaikan bom waktu yang terus menerus menyetel kondisi dan siap sampai kapanpun diledakan.

Film Five Minarets in New York mengajarkan kita untuk menolak itu. Seorang anak muda bernama Fyrat, diberi pendidikan untuk memupuk benci oleh kakeknya. Dalam benaknya selalu terpenuhi keinginan membunuh Hadji Gm. Pikiran itu datang karena bercak-bercak pembosokan kakekanya bahwa Hadji GM telah membunuh ayahnya yang bernama Eren Smail. Padahal itu tidak benar.

Suatu ketika Fyrat akhirnya bertemu dan bertatap muka hingga bahkan melewati hidup bersama Hadji Gm. Darisitulah, kebenaran yang benar muncul. Meskipun kemudian Hadji Gm tetap terbunuh oleh kakeknya, namun komitmen kebaikan merubah pandangan nista Fyrat terhadap Hadji Gm. Diantara darah dan tangisan kematian, Fyrat bersaksi bahwa Hadji Gm adalah orang yang terbaik, pemberi pendidikan terindah, yang pernah ia temui.

Meskipun hal itu keliru, nampaknya pertarungan bak mengadu domba di hutan itu masih juga laku di pasaran.  Tidak sedikit pendahuluan kakek Fyrat itu diterima tanpa kunyah. Pada titik itulah komitmen pendidikan kita hilang dan remote penggerak robot kebencian berfungsi.

Sejatinya, giringan layaknya kakek Fyrat itu memang selalu meletup-letup. Namun, yang diposisikan sebagai Fyrat janganlah mudah bertransaksi tanpa dasar yang jelas, apalagi non teorisi.

Komitmen pendidikan adalah pengujian nyata di ruang kelas yang paling bebas di alam raya, yaitu ruang akademik. Dimana disitu manusia dipertaruhkan hanya atas dasar argumentasinya. Pertemuan dan pertaruhan isi kepala pmenjadi keutamaan. Jangan menjadi umpan yang menelan mentah keseolahan nampak dari yang lurus dan yang haus. Untuk itulah sebenarnya kita berdidik intelektual.

 

*Penulis adalah peneliti di Satjipto Rahardjo Institute

 

 

 

 

 

 

 

 

Pementasan Teater UKM Seni Budaya Berlangsung Meriah

Tidak ada komentar

Minggu, 12 Oktober 2014

Unswagati, Cirebon – Setaranews.com (11/10) Unit Kegiatan Mahasiswa Seni dan Budaya Universitas swadaya gunung jati (Unswagati) adakan pementasan teater. Acara yang bertajuk " Sayang Ada Orang Lain" tersebut dilangsungkan pada Sabtu malam  di Aula Grawidyasabha Unswagati.

Selain anggota dan para alumni, acara ini dihadiri oleh banyak penonton yang sebagian besar mahasiswa Unswagati . Selain itu, terlihat pula beberapa penonton yang menikmati pementasan ini menggandeng pasanganya.

Sepanjang acara teater ini berjalan dengan  lancar, tepuk tangan penonton yang menikmati jalannya teater cukup meriah. Sesekali penonton dibuat tertawa oleh tingkah laku para pemain teater, penonton makin terpingkal ketika kholili (salah seorang pemeran) berhasil membawakan perannya sebagai penjual minyak.

Bukan hanya sukses pemain memerankan perannya. kemeriahan ini pun tercapai berkat penyuguhan musik pengiring yang mampu menghadirkan suasana teater semakin menarik.

Royhan salah seorang penonton sekaligus pecinta teater ini menilai pementasan sangat baik

“bagus, Ini saya yang kedua kali menonton teater yang disutradarai Ace Sucipto ini.” katanya

Senada dengan Rohyan, Naufal seorang mahasiswa Unswagati Fakultas Pertanian tingkat satu itu bahkan tertarik untuk bergabung dengan UKM Seni

“wah, bagus,lucu,Seru, ada pun nanti kalau ada pembukaan pendaftaran anggota, insyaallah saya akan ikut!” tuturnya.

 

 

Foto: Istimewa

Mapala Gunati Adakan Musyawarah Umum

Tidak ada komentar
Unswagati , Cirebon – SetaraNews.com  (11/10) Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Gunung Jati (Mapala Gunati) adakan Musyawarah Umum (MU), acara tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu pukul 15.49 WIB bertempat di Ruang  10 Fakultas Teknik Sipil.

Acara ini dihadiri oleh  perwakilan beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Unswagati  serta pihak Rektorat yang diwakili Wakil Rektor III, Ketua bagian Kemahasiswaan juga bagian Alumni.

Musyawarah berlangsung dengan lancar, Warsono selaku moderator sekaligus Formatur I membuka acara yang diawali dengan pembacaan surat Al-Fatikhah, menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan  pancasila serta Doso Kromo.

Sambutan pertama diwakili pihak rektorat yakni Dudung Hidayat, SH. MH.selaku Wakil Rektor III yang menilai UKM Mapala Gunati semakin dewasa saat ini. “UKM Mapala Gunati semakin dewasa pengurusnya, program kerjanya yang luar biasa ditengah keterbatasan dana dan biaya” Ungkapnya dalam mengisi sambutan.

Mapala Gunati tidak pernah menyerah dalam menjalankan kegiatan baik di dalam maupun di luar kampus,”Semoga Mapala Gunati lebih maju dan mampu menjalankan program-programnya.”Tambahnya.

Rian Gunawan selaku Ketua Umum Mapala Gunati periode 2013-2014 juga memberi sambutan sekaligus membuka acara MU tersebut.”Musyawarah Umum merupakan bagian program kerja kita, dalam kegiatan ini juga ada Pleno I terkait LPJ, Pleno II AD-ART, Pleno III adalah pemilihan umum serta nantinya Open Recruitment.”Tandasnya.

Dalam hal ini Rian Gunawan juga berpesan agar tetap mengharumkan nama almamater Unswagati dan Mapala Gunati agar tetap jaya.

Pada kesempatan ini juga Tumpas Febriyanto selaku Presiden Mahasiswa menyempatkan waktu untuk memberikan sambutan,”Semoga Mapala Gunati dapat memilih pemimpin yang berkarakter, profesional dan dapat mengayomi anggotanya. Serta kedepannya bisa merealisasi program kerja dan bermanfaat bagi kampus juga masyarakat.”
Setelah pembukaan acara tersebut, acara dilanjutkan sore hari hingga keesokannya yang langsung memilih ketua umum selanjutnya.


Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews