Responsive Ad Slot

Proyek Chevron Diduga Sudah 'Disetting'

Tidak ada komentar

Jumat, 31 Januari 2014

Kuningan - SetaraNews.com, Perpindahan pengelolaan hutan yang tadinya dikelola oleh pihak Perhutani, menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai, disinyalir adalah bagian dari rencana masuknya Chevron corporation ke desa Palutungan.




"Kami berpikir, bahwa itu semua sudah di setting. Toh buktinya, pihak pemerintah daerah Kuningan saja baru tahu, sedangkan ini semua berjalan dari tahun 2011." ujar Zaki seorang warga setempat kepada SetaraNews Kamis (30/1).

Pada awal tahun 2013, pihak Chevron melaksanakan sosialisasi bersama pihak masyarakat dan didampingi oleh pihak Pemprov Jawa Barat. Soasialisasi dilakukan sebanyak dua kali pada tahun lalu. Sosialisasi itu sendiri berujung dengan tolakan dari pihak masyarakat.

"Peraturan yang pemerintah buat itu tidak menguntungkan kami, tapi malah menguntungkan mereka. Seolah-olah pemerintah membuat jalur yang mulus bagi mereka. Jalur mulus itu akan kami rusak dan hambat." ujar Oki.




Pemprov Jabar berasumsi bahwa pembuatan proyek gheotermal oleh Chevron corporation menguntungkan pemerintah. Adanya Chevron corporation juga membantu masyarakat, dengan alasan menambah lahan untuk bekerja.

"Jika semua itu menguntungkan, kenapa tidak di kelola oleh Pertamina?" tambah Oki.

Oki menuturkan, pemerintah menjawab itu semua dengan jawaban yang kurang masuk akal. Pemerintah tidak melimpahkan ini semua kepada Pertamina, karena pemerintah tidak memiliki dana yang cukup besar. Itu semua mereka ucapkan pada saat sosialisai Pemprov Jabar kepada masyarakat secara langsung.

"Pertamina itu banyak duit, bohong kalau mereka tidak punya duit." pungkas Oki.

 

Warga Kesal Tidak Boleh Mengelola Lahan Sekitar Proyek Chevron

Tidak ada komentar
Kuningan - SetaraNews.com, Warga desa Palutungan, dan desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kuningan  Jawa Barat kesal tidak diperbolehkan untuk mengelola lahan pertanian di area kaki gunung Ciremai yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian mereka.

"Mereka (pihak TNGC Taman Nasional Gunung Cirebon) tidak mengizinkan kami masuk untuk mengelola, tapi babi yang merusak di izinkan. Sungguh ironis." ujar Oki kepada SetaraNews (30/1).

Menurut Oki, pada zaman kolonial Belanda hingga ke orde lama warga masih bisa mengelola. Namun pada zaman orba semua diambil alih oleh pihak perhutani dan kami warga harus membayar, namun warga masih bisa mengelola.

"Kenapa sejak tahun 2004, pada saat beralih menjadi taman nasional gunung ciremai (TNGC) kami tidak diperbolehkan sama sekali. Ada warga yang mengambil ranting saja dihukum 8 bulan." tambah Oki.

Pemerintah provinsi Jawa Barat sendiri telah menyepakati kerja sama dengan Chevron Corporation pada tahun 2006 lalu untuk pembangunan Gheotermal (tenaga listrik dari panas bumi) di wilayah Jawa Barat.

Menurut Oki, Pemerintah Propinsi beralasan semua itu demi masyarakat setempat. Karena masyarakat setempat yang ekonominya kurang bisa di atasi, dan sangat menguntungkan.

"Ini semua pembohongan. Masyarakat di desa kami hidup lebih dari berkecukupan. Bahkan pada zaman moneter pun kami tidak merasa kesulitan. Jika harus beli motor tanpa mengangsur. Tapi secara tunai." pungkas Oki.

Masyarakat Khawatir dengan Proyek Chevron di Kuningan

Tidak ada komentar

Kamis, 30 Januari 2014

Kuningan - SetaraNews.com,  Masyarakat di sekitar lokasi mega proyek Chevron yang berada di desa Palutungan dan Cisanta, mengkhawatirkan tentang dampak lingkungan di wilayahnya.

Menurut Oki, jika Chevron Corporation telah menguasai gunung Ciremai, maka dampaknya bukan hanya dirasakan oleh masyarakat desa Cisantana saja. Namun dampaknya akan menyebar luas di wilayah lain.

"Permasalahan ini harus dihadapi bersama. Sembilan kecamatan akan lenyap, bila chevron ada di desa kami" ujar Oki kepada SetaraNews (30/1).

Lebih lanjut Oki menuturkan, selain lenyapnya tempat tinggal masyarakat, dampak yang lainnya pasti akan menyusul. Seperti kerusakan alam dan kegiatan perekonomian masyarakat sekitar.

Kerusakan yang paling vital, yakni ditariknya fluida (cairan) dari bumi yang akan membawa campuran gas, diantaranya; karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), metana (CH4) dan amonia (NH3). Pencemaran-pencemara­n ini jika dilepas yang akan ikut memiliki andil pada pemanasan global.

Pembangunan gheotermal ini juga dapat merusak stabilitas tanah. Tanah untuk bercocok tanam masyarakat setempat pun akan amblas.

Kekhawatiran akan akibat dari mega proyek Chevron bukan hanya dari Oki, warga lain seperti Leo juga ikut mengkhawatirkan tentang dampak lingkungan tersebut.

"Jika tanah amblas, di mana kami akan bercocok tanam? Lalu jika air dan udara tercemari racun, maka kami berternak di mana? Bertanggung jawabkah mereka?" Ujar bapak Leo saat ditemui di rumahnya (29/1).

"Kami tidak tinggal diam, kami mencari informasi. Berkaca dari Freeport, untuk meminta 1,5% saja sangat sulit. Dan jangan lupa, gunung Ciremai adalah sumber air bersih di wil III Cirebon. Jadi kami tidak akan tinggal diam." pungkas Oki.

Chevron Ingin Kuasai Ciremai, Warga Menolak

Tidak ada komentar


Kuningan - SetaraNews.com, Chevron corporation yang merupakan perusahaan terbesar yang bergerak dalam bidang minyak dan gas di Indonesia [dari data SKK Migas, Kamis (10/10/2013)] ini, ingin kuasai sektor bisnis hulu minyak, dan gas di provinsi Jawa Barat.


Terbukti dengan sudah dikuasainya lima gunung, untuk menjalankan rencana mereka. Lima gunung tersebut diantaranya; Gunung Patuha, Gunung Gede, Gunung Salak, Gunung Pangrango, dan Gunung Halimun. Kelima gunung tersebut berhasil dikuasai oleh Chevron hanya dalam kurun waktu lima tahun sejak 2009 silam, dan rencananya perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat ini akan ada tujuh gunung lagi yang akan dikuasai wilayah Jawa Barat.


Dari tujuh gunung yang mereka targetkan, tinggal beberapa gunung yang belum mereka kuasai. Yaitu Gunung Ciremai dan Gunung Papandayan. Rencananya di tahun 2014 ini, tepatnya pada bulan Juni gunung tertinggi di Jawa Barat (Ciremai) akan mereka tundukan.

Terkait dari rencana tersebut, masyarakat  di sekitar area rencana pembangunan proyek Chevron menolak.

"Mereka menjanjikan kami segala hal, apa lagi dalam bentuk listrik. Tapi jika listrik dipenuhi, lalu kita masyarakat mau di buang kemana?" Ujar Oki saat ditemui SetaraNews, hari ini Kamis (30/1) di dusun Pajambon desa Cisantana, kecamatan Cigugur kabupaten Kuningan.

Masyarakat menolak bukan tanpa alasan. Datangnya Chevron Corporation yang membutuhkan lahan begitu luas, serta dikhawatirkan akan adanya dampak yang tidak baik bagi lingkungan tempat tinggal mereka.

"Kami sangat menolak jika perusahaan itu ada disini, dan ini bukan permasalahan desa kami saja, tetapi juga akan berimbas di wilayah tiga Cirebon pasti terkena dampaknya." pungkas Oki.

Jelang Semester Genap, Belum Ada Info Beasiswa

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Bagi mahasiswa yang tengah menunggu kabar tentang beasiswa nampaknya harus bersabar terlebih dahulu. Pasalnya di awal tahun 2014 dan juga menatap semester genap mendatang ini belum ada beasiswa yang bisa diajukan.

Menurut staf Wakil Rektor III Unswagati, Sofyan saat di temui SetaraNews kemarin, mengutarakan bahwa hingga saat ini belum ada informasi beasiswa dari instansi mana pun, menurutnya tawaran beasiswa biasanya hadir saat bulan Maret atau April.

“Kalau sekarang belum ada informasi tentang beasiswa, biasanya beasiswa tuh mulai banyak sekitar bulan Maret atau April”. Ujarnya pada Selasa (28/1) kemarin.

Beasiswa dari pihak Kampus Unswagati sendiri juga belum bisa didapat informasinya, padahal beberapa fakultas sebentar lagi akan memasuki semester genap.

“Sama, dari kampus juga belum ada informasi apa-apa mengenai beasiswa.” tutup Sofyan

 

Dana Bantuan Pengembangan Situ Pajaten Sering Dipotong

Tidak ada komentar

Rabu, 29 Januari 2014

Cirebon – SetaraNews.com, Bantuan yang ditujukan kepada para pengelola Situ Pajaten sering dipotong oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab disesalkan warga.

Seperti bantuan dari gubernur dan dinas-dinas yang terkait, dan PNPM, di desa Cikalahang ini. Karena dari dana bantuan tersebutlah yang dijadikan sumber utama dalam memanfaatkan dan mengembangkan wisata Situ Pajaten.

Dari dana 1 milyar yang diberikan oleh gubernur, yang mereka terima hanya sebesar Rp900.000.000,- ditambah lagi dengan dana dari PNPM yang harusnya mereka terima Rp40.000.000 namun yang mereka terima hanya sebesar Rp28.000.000.

Mereka berharap agar pemerintah dapat secara tulus membantu pengembangan wisata lokal di desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon yang memiliki banyak potensi tanpa melakukan potongan apapun.

“Saya berharap dana yang kami ajukan kepada pihak terkait, atau pihak-pihak yang ingin memberikan kami bantuan, tidak dipotong oleh pihak-pihak yang tidak bertangung jawab. Hal seperti itu jangan dijadikan budaya." keluh salah satu sumber SetaraNews (28/1) yang juga merupakan warga sekitar.

Terlepas dari adanya potongan (dugaan korupsi) tersebut, mereka optimis di tahun 2015 atau 2016 Situ Pajaten bakal menjadi tempat wisata yang sangat terpandang, dan menarik untuk dikunjungi oleh banyak wisatawan.

"Dengan adanya tujuan penyempurnaan tempat wisata ini, kami harap dengan banyaknya hal yang seperti itu, kesadaran dalam membangun tetap menjadi tujuan karang taruna dan masyarakat setempat." pungkasnya.

27 Tahun Perjalanan Pembangunan Situ Pejaten

Tidak ada komentar

Cirebon – SetaraNews.com, Sisa galian golongan C (galian pasir, batu kapur, batu padas) yang dikelola oleh karang taruna setempat ini, memiliki beberapa keluhan. namun itu bukan menjadi hambatan bagi mereka.


"Kami memulai ini semua dari tahun 1987, tanpa bantuan pemerintah. Baru pada tahun 2010 kami mendapat dana dari program desa peradaban yang diadakan oleh gubernur Jawa Barat, dan kami mengajukan beberapa bantuan ke dinas yang terkait yang berada di kabupaten Cirebon." ujar salah satu sumber SetaraNews (28/01).

Tidak adanya penghargaan dari kepala desa, sama sekali tidak membuat karang taruna dan masyarakat setempat menjadi putus asa. Itu semua dilakukan hanya untuk tujuan memperlihatkan kepada pemerintah tentang daya kreativitas masyarakat di desa Cikalahang.

"Sudah empat kali kepala desa berganti pun tidak ada sama sekali penghargaan bagi kami. Tapi anehnya, kepala desa malah meminta bagian dari hasil pengelolaan Situ Pajaten." sesalnya.

Di Cikalahang, Sisa Galian C Diubah Menjadi Objek Wisata

Tidak ada komentar
Cirebon – SetaraNews.com, Sisa galian pasir, batu kapur, dan batu padas yang seringkali ditinggalkan begitu saja oleh para penambang. Kini di sebuah daerah yang dikenal sebagai tempat wisata ikan bakar dan pusat penghasil batu alam dan batu hiasan yakni Cikalahang, telah memiliki sebuah tempat wisata baru.

Karang Taruna Parwita Sari yang berada di desa Cikalahang kabupaten cirebon, menyulap sisa lahan galian c (galian pasir, Batu Kapur, Batu Padas) menjadi tempat wisata yang bernama Situ Pejaten. Lahan yang memiliki luas sekitar 5,5 hektar ini dikelola dengan baik oleh karang taruna setempat, yang kurang lebih memiliki 900 jiwa.

Selain Situ Pejaten, ada beberapa macam tempat rekreasi di tempat wisata ini. Ada sebuah danau, outbound, kolam renang, bumi perkemahan, dan dua rumah penginapan yang siap menjamu wisatawan yang datang.

Pengelolaan tempat wisata ini sendiri merupakan pemberdayaan dari masyarakat sekitar yang peduli dengan potensi daerahnya. "Semua tempat yang ada disini kami kelola sendiri. Dengan modal awal yang kami kumpulkan dari tiap warga setempat." ujar bapak Sasuri selaku penggerak di desa tersebut saat ditemu oleh kepada SetaraNews pada (28/01).

Setiap tiga bulan sekali, karang taruna di desa Cikalahang ini berkumpul untuk menentukan progres ke depannya bagi tempat wisata yang mereka kelola tersebut. Bahkan sistem piket pun mereka terapkan, guna merawat dan menjaga area Situ Pajaten.

"Setelah berhasil kami ubah menjadi tempat wisata, uangnya kami kelola untuk pemberdayaan Situ Pajaten, dan sisanya kami bagi rata." tambah bapak yang telah memiliki dua anak ini.

Ada niatan dari Karang Taruna desa Cikalahang ini untuk mengelola limbah pabrik batu kapur, yang tidak jauh dari Situ Pajaten menjadi lahan pengahasilan tambahan bagi masyarakat setempat.

"Rencananya limbah itu akan dikelola menjadi semen. Masyarakat setempat sangat antusias, bahkan mereka turut membantu kami." pungkas Sasuri.

LPM Poros UAD Kunjungi LPM Setara

Tidak ada komentar

Selasa, 28 Januari 2014


Unswagati - SetaraNews.com, Senin (27/1) Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa Semua Tentang Rakyat (Setara) dikunjungi oleh anggota dari Lembaga Pers Mahasiswa Poros Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Usi dari divisi Pusat Penelitian dan Pengembangan Poros UAD menuturkan bahwa kunjungannya ini dalam rangka ingin tahu lebih banyak kegiatan di LPM Setara, yang merupakan salah satu pers mahasiswa di Cirebon yang cukup eksis di media online.

"Ingin tahu lebih banyak kegiatan LPM Setara, dan sekaligus ingin memasarkan majalah Poros." ujarnya.

Kunjungan LPM Poros ke LPM Setara merupakan pertama kalinya, dan rencananya akan mengunjungi ke LPM lainnya yang ada di Cirebon.

"Tahu LPM Setara dari internet, dan setelah ini kami ingin berkunjung ke LPM yang lain yang berada di Cirebon." tambahnya.

 

Banjir Indramayu, Mahasiswa Teknik Sipil Unswagati Kirim Sembako

Tidak ada komentar


Unswagati - SetaraNews.com, Bencana banjir yang melanda daerah Indramayu selama lebih dari satu minggu, menggerakkan hati mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati. Salah satunya mahasiswa dari Fakultas Teknik Sipil Unswagati, pada Minggu kemarin (26/1) mengirimkan bantuan sembako ke posko bantuan korban banjir di Indramayu.

Penggalangan dana yang dilakukan sejak hari jumat lalu ini telah berhasil mengumpulkan 50 dus mie instan, 30 dus air kemasan 300 ml, 5 karung beras, dan 5 karung pakaian layak pakai.

Ade selaku koordinator pengiriman bantuan dari mahasiswa Teknik Sipil ini menuturkan kepada SetaraNews bahwa, "Penggalangan kami lakukan sejak Jumat dan Sabtu lalu, dan bantuan rencananya akan kami kirim ke Posko di Indramayu." ujarnya.

Sebelumnya juga organisasi mahasiswa dari Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas, Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Suka Rela (KSR), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), dan Resimen Mahasiswa (Menwa), ikut menggalang dana dan mengirimkan bantuan ke korban banjir di Indramayu.

 

Seminggu Terendam, Korban Banjir Indramayu Minta Sumbangan

Tidak ada komentar

Minggu, 26 Januari 2014


Indramayu - SetaraNews.com, Seminggu ratusan rumah terendam banjir, korban banjir yang tinggal di kawasan Balongan Indramayu meminta-minta sumbangan di tengah-tengah jalan kepada para pengguna jalan yang lewat, Jumat (24/1).

Warga yang terkena banjir terpaksa meminta-minta kepada para pengguna jalan. Karena belum bisa mendapatkan penghasilan, lantaran lahan sawah dan empang mereka terendam banjir.

Menurut warga yang berada di Eretan Abdul, bantuan pemerintah belum juga turun. Warga hanya mengandalkan swasembada antar warga yang menggalang bantuan di daerahnya masing-masing.

"Bantuan pemerintah belum turun, ya warga inisiatif saja menggalang bantuan." tuturnya kepada SetaraNews Jumat (24/1).

Hingga saat ini Sabtu (25/1) warga yang berada di sekitar pengeboran PT. Pertamina EP, Balongan masih meminta-minta sumbangan ke pengguna jalan.

 

10 Detik, Unswagati Cirebon Diguncang Gempa

Tidak ada komentar
Unswagati - SetaraNews.com, Tiga kampus Universitas Swadaya Gunung Jati yang berada di Jalan Pemuda, Jalan Terusan Pemuda, dan Jalan Perjuangan diguncang gempa dengan intensitas ringan selama beberapa detik pada Sabtu siang (25/1) pukul 12:13 WIB.

"Kejadian itu saat saya sedang mengikuti seminar di Kampus 2, namun karena berlangsung singkat jadi tidak terlalu khawatir." ujar Maskeni dari mahasiswa Unswagati Cirebon Jurusan Pendidikan Ekonomi kepada SetaraNews.

Getaran gempa bumi bukan hanya dirasakan di Kampus II Unswagati, di Kampus III juga turut dirasakan oleh mahasiswa pendidikan bahasa Inggris, Fajri TS menuturkan bahwa getarannya berlangsung selama 10 detik.

"Saat itu saya sedang di dalam ruangan, lantas saya langsung keluar bersama teman-teman. Khawatir takut ada apa-apa." ungkapnya.

Hingga saat ini tidak ada laporan mengenai adanya kerusakan di Kampus Unswagati akibat gempa yang berpusat di 8.48 LS, 109.17 BT, 104 kilometer barat daya Kebumen, Jawa Tengah, dengan kedalaman 48 KM ini.

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews