Responsive Ad Slot

Proklamasi di Cirebon Timbul Karena Kebimbangan Sukarno

Tidak ada komentar

Jumat, 16 Agustus 2013

“Sebenarnya kalau tidak dipaksa oleh kelompok pemuda kita, ya enggak akan ada proklamasi. Sukarno masih menunggu janji Jepang memberikan kemerdekaan buat kita. Nah, kita (kelompok pemuda) di daerah enggak mau itu. Kita mau merdeka sendiri, bukan dikasih sama Jepang.” tutur (alm) Soeganda bersemangat sambil agak tersengal nafasnya.

Cirebon, SetaraNews.com - Proklamasi di Cirebon lebih cepat dua hari sebelum proklamasi yang dikumandangkan oleh sukarno dan Hatta. Menurut Soeganda, kala itu Sukarno baru datang dari Saigon

“Seingat saya, sebenarnya yang diminta membacakan proklamasi di Jakarta itu adalah Bung Sjahrir, tapi dia menolak dan menganjurkan Sukarno yang membacakan. Tapi, ternyata Sukarno berbeda pendapat dengan kelompok muda. Nah, kelompok pemuda di Cirebon akhirnya memutuskan untuk lebih dulu merdeka dan membacakan teks proklamasi.”

Menurut (alm) Des Alwi, anak angkat Sjahrir seperti yang kami kutip dari Majalah Tempo, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya.

Penyusunan teks proklamasi ini, antara lain, melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dikerjakan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.

Des hanya mengingat sebaris teks proklamasi versi kelompok gerakan bawah tanah: ”Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.”

Selain mempersiapkan proklamasi, Sjahrir dengan semangat tinggi mengerahkan massa menyebarkan ”virus” proklamasi. Stasiun Gambir dijadikan arena untuk berdemonstrasi. Stasiun radio dan kantor polisi militer pun sempat akan diduduki. Kala itu, Des dan sekelompok mahasiswa bergerak hendak membajak stasiun radio Hoosoo Kyoku di Gambir agar teks proklamasi tersebar. Usaha tersebut gagal karena Kenpeitai menjaga rapat stasiun radio tersebut.

Tapi simpul-simpul gerakan bawah tanah terus bergerak cepat, menderu-deru dari satu kota ke kota lain, menyampaikan pesan Sjahrir. Dan keinginan Sjahrir agar proklamasi Indonesia segera didengungkan itu pun sampai di Cirebon.

Berbeda dengan (alm) Des Alwi, menurut Soeganda ada permintaan dari Bung Sjahrir agar proklamasi Cirebon ditunda dulu sambil membujuk Sukarno agar mau membacakan proklamasi. Ketika itu, Sukarno tengah diculik oleh kelompok pemuda ke daerah Rengasdengklok, Karawang.

“Tapi sayang, kurir yang menyampaikan pesan tersebut telat datang karena jaman dahulu belum ada telepon seperti sekarang, apalagi radio. Bisa-bisa ditembak Jepang.” ujarnya.

Peran Bung Sjahrir Dalam Proklamasi di Cirebon

Tidak ada komentar

Kamis, 15 Agustus 2013

Cirebon, SetaraNews.com - Menurut buku yang ditulis oleh Rudolf Mrazek berjudul Sjahrir, Bung Sjahrir mengatakan teks proklamasinya diketik sepanjang 300 kata.

Teks itu bukan berarti anti-Jepang atau anti-Belanda. ”Pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain,” kata Sjahrir seperti ditulis dalam buku Mrazek. Sjahrir pun mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Selain itu, menurut (alm) Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang sebagian besar merupakan Kader sosialis, dan sejak dahulu Cirebon dikenal sebagai basis kota kader sosialis yang lumayan banyak.

Penyusunan teks proklamasi ini, seperti yang pernah dimuat di Majalah Tempo antara lain, melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dikerjakan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.

Des hanya mengingat sebaris teks proklamasi versi kelompok gerakan bawah tanah: ”Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.”

Selain mempersiapkan proklamasi, Sjahrir dengan semangat tinggi mengerahkan massa menyebarkan ”virus” proklamasi. Stasiun Gambir dijadikan arena untuk berdemonstrasi. Stasiun radio dan kantor polisi militer pun sempat akan diduduki. Kala itu, Des dan sekelompok mahasiswa bergerak hendak membajak stasiun radio Hoosoo Kyoku di Gambir agar teks proklamasi tersebar. Usaha tersebut gagal karena Kenpeitai menjaga rapat stasiun radio tersebut.

Tapi simpul-simpul gerakan bawah tanah terus bergerak cepat, menderu-deru dari satu kota ke kota lain, menyampaikan pesan Sjahrir. Dan keinginan Sjahrir agar proklamasi Indonesia segera didengungkan itu pun sampai di Cirebon.

15 Agustus 1945, di Tugu itu Proklamasi Pertama Kali Dibacakan di Cirebon

Tidak ada komentar
SONY DSC

Cirebon, SetaraNews.com - Sekilas, bagi anda yang pertama kali berkunjung ke kota Cirebon dan apabila melewati tugu tersebut ada sesuatu yang tampak aneh. Betapa tidak terlihat aneh, ada sebuah tugu pensil yang tingginya tak kurang dari enam meter berdiri di tengah-tengah simpang jalan protokol yang merupakan arus padat lalu lintas.

Tapi, siapa yang menyangka kalau di tugu itu puluhan tahun silam pernah menjadi tempat lahir pertama kali Republik ini berdiri.

Saksi Republik Ini Berdiri

Tak banyak yang tahu, bahwa tugu berbentuk pensil yang terletak di alun-alun kejaksan Kota Cirebon dan setiap hari dilalui itu adalah sebuah monumen amat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tugu itu dibuat untuk menandai bahwa proklamasi kemerdekaan pernah dikumandangkan di tempat itu, dua hari lebih awal dari proklamasi yang dikumandangkan oleh Sukarno dan Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No 56.

68 tahun yang lalu, pada tanggal 15 Agustus 1945 teks proklamasi dibacakan di tempat itu. Sejak tahun 2010 silam, kami telah menelusuri ke pusat arsip daerah dan mendatangi beberapa orang saksi yang menyaksikan pembacaan proklamasi itu langsung.  Namun sayang, teks tersebut hilang dan tak diketahui keberadaannya sampai sekarang.

Saksi Hidup yang Telah Tiada

Suganda (82) -saat ini beliau sudah tiada-  salah seorang saksi hidup yang menghadiri proklamasi tersebut menuturkan bahwa ketika itu jumlah orang yang hadir sekitar 150 sampai 200 orang.

“Orang yang membacakan teks itu kepala Rumah Sakit Kesambi -nama Rumah Sakit Gunung Jati di jaman pra kemerdekaan-, (alm) Dokter Sudarsono -ayah Dr Juwono Sudarsono- namanya.” ujarnya kepada SetaraNews yang kami wawancarai di bulan Agustus tahun 2010 silam.

“Saya ketika itu hadir sebagai tentara pelajar. Saat itu, saya mendengar kabar dari senior bahwa Jepang telah kalah perang. Saat itu banyak warga yang keluar rumah dan berkumpul di jalanan sepanjang palimanan (rumahnya) menuju ke Kota (Cirebon). Merinding kalau ingat masa itu. Rakyat terlihat gembira sekaligus gelisah. Kelompok pemuda takut setelah Jepang kalah Belanda akan datang lagi.” Terangnya.

Proklamasi Cirebon Akibat Kecewa Dengan Sukarno

Proklamasi ini lebih cepat dua hari sebelum proklamasi yang dikumandangkan oleh sukarno dan Hatta. Menurut Soeganda, kala itu Sukarno baru datang dari Saigon

“Sebenarnya kalau tidak dipaksa oleh kelompok pemuda kita, ya enggak akan ada proklamasi. Sukarno masih menunggu janji Jepang memberikan kemerdekaan buat kita. Nah, kita (kelompok pemuda) di daerah enggak mau itu. Kita mau merdeka sendiri, bukan dikasih sama Jepang.” terangnya bersemangat sambil agak tersengal nafasnya.

“Seingat saya, sebenarnya yang diminta membacakan proklamasi di Jakarta itu adalah Bung Sjahrir, tapi dia menolak dan menganjurkan Sukarno yang membacakan. Tapi, ternyata Sukarno berbeda pendapat dengan kelompok muda. Nah, kelompok pemuda di Cirebon akhirnya memutuskan untuk lebih dulu merdeka dan membacakan teks proklamasi.”
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews