Responsive Ad Slot

Pembentukan UKM HIPMI PT Unswagati Masih Dalam Proses

Tidak ada komentar

Sabtu, 27 April 2013

Unswagati - SetaraNews.com, Sabtu (27/04) pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa  Himpunan Pengusaha Muda Indonesia  Perguruan Tinggi  Universitas Swadaya Gunung Jati  masih dalam proses.

Salah satu koordinator Pembentukan HIPMI PT Unswagati, Megi dari Fakultas Ekonomi - Jurusan Manajemen mengungkapkan kepada SetaraNews melalui sambungan telepon (26/04) bahwa, "Pembentukan HIPMI PT Unswagati masih belum terbentuk, tetapi masih dalam proses pembentukan untuk menjadi UKM HIPMI PT."

Pihaknya mengajak kepada seluruh mahasiswa dari tiap fakultas untuk bergabung demi pembentukan HIPMI PT Unswagati. Hingga saat ini, ada 13 mahasiswa yang telah bergabung. Beberapa diantaranya dari mahasiswa FKIP (Fakultas Perguruan dan Ilmu Pendidikan), FE (Fakultas Ekonomi) dan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik).

Rencananya akan digelar kembali tahap pertemuan ke-II pada tanggal 15 Mei 2013 di kampus 1 Unswagati. Bagi yang berminat untuk bergabung, dapat menghubungi Megi di nomor telepon 0852241755893.

 

Reporter  :  Santosa

Himajemen Unswagati Buka Pelatihan & Pengembangan Kepemimpinan

Tidak ada komentar

Kamis, 25 April 2013

Unswagati - SetaraNews.com, Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Himajemen rencananya akan mengadakan acara pelatihan dan pengembangan kepemimpinan untuk pengurus serta para mahasiswa jurusan manajemen. Pelatihan ini bertujuan untuk kaderisasi pengurus dan anggota baru  serta mengembangkan karakter pemimpin kepada para mahasiswa fakultas ekonomi jurusan manajemen.

”Tujuan kami mengadakan acara ini, kami ingin melakukan kaderisasi pengurus dan anggota baru Himajemen” ujar R. Iman Alamsyah selaku ketua pelaksana Pelatihan & Pengembangan Kepemimpinan kepada SetaraNews.com rabu (24/04).

Acara ini akan dijadwalkan pada hari jum’at hingga sabtu, tanggal 26 – 28 April 2013, bertempat di Pondok Fauzi daerah Kuningan. Pembicara yang  hadir wakil dekan III dan para alumni Himajemen sendiri. Acara tersebut juga dapat diikuti oleh para mahasiswa manejemen dengan biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000,00. Hingga sekarang pendaftaran masih dibuka hingga tanggal 26 April nanti.

 

Reporter : Hari

Editor        : Santosa

Pendidikan Tak Mendidik

Tidak ada komentar

Rabu, 24 April 2013

Oleh : M. Khoirul Anwar KH

Kapitalisme global memang sedang menggejala pada abad 21 ini. Ini diakibatkan oleh, diantaranya, tumbangnya rezim komunisme-sosialisme di belantara dunia. Sampai dikatakan, bahwa manusia abad ini akan tergiring untuk mengakui satu kekuatan tunggal: kapital/modal,  kata Francis Fukuyama. Jika memang demikian, apakah putusan ini mutlak akan mengenai seluruh manusia, lembaga atau sektor hidup lainnya?

Ada banyak uraian yang bisa dijelaskan di sini. Ia bisa dimulai dari arah yang sepersusu-sekandung dengan kapital, yakni pasar. Sebab bicara kapital berarti bicara masalah keuntungan dan kerugian. Maka tak diragukan lagi jika sisi ini menemui gejalanya paling awal. Ekonomi-pasar kita telah tersusup sindrom kapitalistik yang menggurita. Ini tidaklah mengernyitkan dahi, lantaran memang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keduanya memang seurat-senadi.

Gurita Kapitalisme

Tapi ada yang mengkhawatirkan ketika kapitalisme-global juga menusuk aspek hidup lain manusia. Politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, atau bahkan agama, misalnya. Maka bisa dipastikan dunia ini tinggal menunggu penguapannya saja yang paling tragis. Sayang, asumsi ini sekarang memang sedang berjalan dan terus menunjukkan bukti. Dalam politik kita lazim mendengar istilah money politic; isinya adalah jual-beli kekuasaan sebelum dimulainya pesta kemenangan. Tidak pandang ideologi, aliansi politik maupun agamanya. Yang jelas, fenomena demikian sedah menjadi fakta yang wajar dan biasa. Kapitalisme juga telah merambah alam politik, ringkasnya.

Beralih ke hukum. Pada awalnya kata ini begitu jumawa dan enak di dengar serta dirasa. Sebab ia menawarkan tegaknya keadilan serta kedaulatan manusia dalam hubungannya dengan tata norma sosial. Plato, Bapak filsafat Yunani itu sampai merangkumnya dalam sebuah magnum opus, Republik, yang fenomenal itu. Tapi, lambat laun, seiring menangnya kapitalisme-glabal, fungsi dan arah hukum berbelok drastis. Hukum bukan lagi sang judgement yang dapat menjamin keadilan dan kedaulatan. Hukum bahkan saat ini hanya bermutasi menjadi ajang untuk menindas dan memeras. Hukum dijadikan sebagai alat dagang. Sampai-sampai ada parodi satir yang mengatakan, term kaidah hukum sekarang adalah: pasal apa, berani berapa? Itulah fakta paling memilukan tentang dunia hukum kita kini.

Kebudayaan bagaimana? Belum lama ini menteri kebudayaan menelurkan gagasannya yang kontroversial. Gagasan itu menyentuh sub-vital yang sangat oposisionis antar dunia seni-budaya dengan ekonomi. “Apakah karya seni-budaya bisa menjadi komoditas layak jual, untuk membantu mensubsidi pemasukan Negara?”, kata menteri itu pada suatu waktu. Ini tentu konyol, selain mencerminkan keserakahan sang menteri tersebut. Masalahnya bukan bisa atu tidaknya dijual, tapi kesenian adalah bagian dari karya yang modal utamanya adalah idealisme, spiritual dan imajinasi yang sakral. Lalu apakah pantas dihadapkan dengan pasar yang jelas bernuansa profan?

Bukannya orang-orang seperti Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, Acep Zamzam Noor, serta seniman lain tak mampu “menjual” karya-karyanya. Tapi memang sedari awal mereka tidak mau. Ini mungkin bisa menemukan titik singkarutnya pada peristiwa polemik-kebudayaan tahun 66 yang mendakwahkan tentang arti serta tujuan kesenian. Seni untuk seni (manifest kebudayaan) atau seni untuk rakyat (Lekra), bisa menjadi padanannya. Intinya ialah, kebudayaan memang telah terkontaminsai oleh berbagai isu kepentingan, termasuk tujuan kapital di dalamnya.

Kapitalisme Pendidikan

Yang terakhir, ini mungkin yang paling disayangkan, ketika kapital juga telah menerobos sum-sum sistem pendidikan. Pendidikan yang awalnya berorientasi suci dan membebaskan, harus bertabrakan dengan kotornya kepentinan dan uang (kapital). Pendidikan yang sering didaku sebagai agen perubahan demi memajukan, bagaimana mungkin harus berubah kelamin menjadi tempat tukar menukar keuntungan (dagang?). Bahkan lebih parah,  sebab jika di pasar kita dapat melakukan tawar-menawar, tapi di lembaga pendidikan tidak.

Tuduhan ini bukan isapan jempol semata. Ia fakta yang merealita. Ia terbukti adanya. Di mana saja, kapan saja. Tidak peduli lembaga pendidikan itu (sekolah) berasaskan sekular atau religius (agama-Islam), semua terkena dampratnya. Dulu yang terjadi hanya politisasi pendidikan yang dampaknya hanya menyentuh kebijakan-kebijakan timpang, sekarang lebih dari itu: kapitalisasi pendidikan! Kapitalisasi yang dampaknya bukan satu sisi kebijakan timpang, tapi menyeluruh pada sektor yang lebih kompleks: pembodohan siswa, pemerasan terhadap wali siswa, penodaan lembaga sekolah dan bengkoknya orientasi dasar pendidikan.

Hal ini bisa dirunut buktinya dari mulai maraknya (terutama di saat mau ujian dan penerimaan siswa baru) praktik diskriminatif penerimaan siswa baru, pungutan liar (terutama bagi RSBI), melonjaknya SPP bulanan/semester (utamanya swasta), korupsi dana pendidikan dari pusat hingga daerah, sampai jauhnya kebijakan pemerintah (Depdiknas dan Disdik) yang memihak rakyat kecil. Yang paling kentara mungkin menyangkut poin kedua. Betapa tidak? Setahun melewati satu jenjang kelas, telah berapa banyak pungutan liar yang telah mencekik kita dari segala arah. Dengan berbagai modus, hal ini diaplikasikan. Mulai dari yang memakai kedok studi tour, dana pembangunan gedung yang tak pernah ada wujudnya, buku LKS/diktat yang berganti-ganti, denda keterlambatan, hingga ancaman tak naik kelas karena tidak ikut ujian akibat belum lunasnya pembayaran. Itu semua berkaitan dengan uang yang sarat dengan manipulasi dan tarikan kepentingan. Yang paling menyakitkan dari keganasan sekolah mungkin ketika ujian hendak digelar.

Tentu kita sering mendengar pengumuman demikian: ”Ujian bisa diikuti hanya bagi siswa yang telah MELUNASI pembayaran bla bla bla!”. Ini belum seberapa, ada yang lebih tak manusiawi dan penulis alami sendiri ketika masih duduk di bangku SLTA. ”Tak ada uang, tak ada ujian!”, kata salah seorang panitia ujian. Ungkapan ini mungkin baginya adalah hal wajar, tapi bagi penulis lebih kejam daripada rentenir paling sadis sekalipun. Bagaimana tidak? Dalam transaksi jual beli maupun hutang piutang (bahkan yang sedikit berbau ribawi), kita sebagai pembeli masih diperkenankan untuk melakukan tawar menawar dengan si penjual. Tapi ini tidak berlaku di sekolah! Apalagi ketika hendak ujian. Inilah ”pemerasan” berbentuk kebijakan dan peraturan pendidikan!

Sejujurnya, masih banyak gerundelan lain berkaitan dengan kepincangan lembaga bernama sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Tapi atas dasar keyakinan bahwa itu tak etis untuk dibeberkan, penulis urungkan untuk menjelaskan secara lebih detail. Cukuplah hal-ikhwal yang begitu kasat mata saja. Dan, ini yang penting, praduga di atas bukan berarti penulis benci dengan institusi sekolah. Penulis tetap cinta, sungguh amat mencintai sekolah, tapi rasa cinta itu penulis ekspresikan dengan cara yang lain. Yakni dengan kritik yang konstruktif. Tujuannya tentu agar institusi ini terus dapat mengevaluasi diri demi perbaikan di masa mendatang. Sebab siapa lagi yang bakal peduli jika bukan kita sendiri? Juga, kapan lagi kita mengamalkan ujar Al Qur’an untuk saling kritik dan koreksi, jika tak mulai dari hal yang remeh dan dari saat ini? Tawashow bil haqqi wa tawashow bi shobr, saling mengingatkanlah kalian tentang kebenaran dan kesabaran, kata Tuhan dalam surat al-Ashr. Bagaimana? Wallahu A’lam.      

M. Khoirul Anwar KH
Mahasiswa Cirebon


Artikel ini dimuat di Harian Kabar Cirebon. Edisi: 2011. Kliping tak terlacak.

 

Buku Pegangan Dosen dan Ketidakseriusan Unswagati

Tidak ada komentar

Selasa, 23 April 2013

Oleh : Moh. Nazmudin

MEMASUKI perkuliahan semester delapan di Universitas Swadaya Gunung Jati penulis masih berkewajiban untuk menyelesaikan dua SKS matakuliah pilihan dan enam SKS skripsi dengan total beban sebanyak delapanm SKS, penulis kira tidak akan menemui praktek jual beli buku lagi di tingkat empat ini. Namun ternyata penulis salah.

Dua SKS mata kuliah pilihan yang penulis ambil adalah sesuai dengan rekomendasi dosen wali saat kontrak SKS berlangsung. Prosedur perekomendasian tersebut disesuaikan dengan hasil rapat Prodi yang menyesuaikan kapasitas dosen yang tersedia  dengan jumlah kelas rombongan belajar di prodi tersebut. Sehingga MK (Mata Kuliah) Pilihan penulis menjadi sebut saja MK A.  Dan di MK pilihan A itulah penulis kembali menemukan praktek jual beli buku.

Buku pegangan yang ditawarkan dosen tersebut seharga 30 ribu rupiah dengan tebal sekitar 40 halaman dengan sistem print disebelah sisi kertas saja. Lengkap dengan jilid biasa yang menggunakan lakban hitam di salah satu sisi buku sebagai perekatnya. Dahi penulis berkerut saat melihat bentuk buku tersebut terlebih tidak ditemukan sumber rujukan pengambilan isi buku tersebut dari mana . Penulis melakukan check disuatu situs untuk mencari arti kata buku. Penulis dapati buku lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong; kitab.

Di dalam buku Pedoman Buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan UNSWAGATI TA 2009/2010 halaman 4 disebutkan:

“Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati mempunyai tujuan untuk;

  1. Menyiapkan peserta didik yang cerdas dan berdaya saing melalui pendidikan dan pengajaran yang berkuliatas”


Dan juga pada halaman 3 di buku yang sama, tertulis:

“Misi Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) adalah sebagai berikut:

.... 3. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas”

Setelah puas membaca dengan teknik scanning terhadap buku pegangan yang baru saja penulis dapati tersebut, ini menumbulkan beberapa pertanyaan.

Pertama, apakah ada praktek jual beli yang serupa di prodi lain?. Kedua, apakah pihak dalam kampus UNSWAGATI tahu tentang praktik jual beli di lingkungan kampus? Dan apa reaksinya?

Pelegalan Jual Beli Buku Pegangan

Penulis berandai-andai, andai jual-beli buku pegangan yang dilakukan oleh seorang dosen di lingkungan kampus Unswagati dilegalkan, pasti sangat wow sekali. Bukan saja akan mengubah suasana kegiatan perkuliahan tetapi akan mengubah suasana akademisi kampus secara keseluruhan.

Pertama, pelegalan transaksi ini akan melahirkan juga aturan ketat mengenai standar buku yang beredar di kalangan akademisi kampus. Kedua, pelegalan jual-beli buku pegangan ini akan menghadirkan nuansa positif bagi kalangan dosen dan staff.  Bayangkan saja, jika dosen A dan dosen B menulis tentang suatu materi ajar yang serupa, dan ternyata buku dosen A lebih baik dari segi mutu dan tampilan daripada karya dosen B, maka bukan tidak mungkin akan menghadirkan persaingan yang sangat ketat dalam hal menerbitkan buku khususnya di lingkungan kampus Unswagati.

Ketiga, dari segi bisnis ini sangat baik, jika memang sudah ada aturan ketat tentang standardisasi buku pegangan dan banyak dosen yang ingin menerbitkan bukunya, sungguh sangat menjanjikan bagi kampus Unswagati untuk mempunyai percetakan dan penerbit sendiri.

Keempat, hal ini akan membuat suasana akademisi kampus kian maju dan hal ini bisa dijadikan sebagai upaya untuk menggaungkan nama kampus ke kancah nasional bahkan internasioanl. Hal ini bisa direalisasikan jika buku tersebut mempunyai kualitas sangat baik yang mana akan dijadikan referensi suatu bentuk karya ilmiah, bisa berupa jurnal, skripsi, tesis, disertasi dan bahkan karya ilmiah internasioanl.

Kurang Serius

Melihat transaksi jual beli buku pegangan yang tak berstandar ini tetap berlangsung membuat penulis berfikir tentang ketidak-seriusan pihak kampus dalam merealisasikan misi dan tujuan kampus Unswagati seperti yang dikutip diatas. Penulis berfikir bahwa baik pihak kampus tahu atau tidak tahu mengenai hal ini, sebaiknya pihak kampus memberikan semacam pelatihan bagi para dosen yang ingin menulis dan menerbitkan buku pegangannya sendiri. Kenapa memberikan pelatihan menulis buku untuk kalangan dosen itu penting? Ini untuk menanggulangi transaksi buku pegangan yang kurang baik mutunya seperti diatas.

Membiarkan keberlangsungan transaksi jual beli buku tak berstandar seperti diatas berarti tidak serius dan lebih kepada tidak menjalankan misi dan tujuan Unswagati secara serius.

Dalam kasus ini, walau sebagian mahasiswa Unswagati bisa dikatakan sebagai dewasa muda yang bisa membedakan mana benar-salah, namun praktik jual beli buku tak berstandar itu seolah-olah bentuk pembenaran pihak kampus Unswagati bahwa buku pegangan boleh tidak perlu menggunakan referensi. Dan dengan kata lain hal ini menegaskan bahwa budaya akademisi tidak perlu dipraktekan. Dan tidak menutup kemungkinan hal ini menjadikan misi dan tujuan Unswagati belum tercapai dalam upaya menyiapkan peserta didik yang cerdas dan berdaya saing melalui pendidikan dan pengajaran yang berkuliatas, dan menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas.

 

Moh. Nazmudin

Mahasiswa Unswagati Cirebon

Excuse-Moi, Indonesia!

Tidak ada komentar
Oleh : M. Khoirul Anwar KH

Setiap kali membincang Indonesia, entah kenapa, ingatan saya senantiasa tertuju pada Margareta Astaman. Bukan pada Ir. Soekarno, Mohamad Hatta, Sutan Sjahrir, M. Yamin, Tan Malaka, Semaun maupun bapak pendiri republik yang lainnya.

Margie, begitu sebutan akrab dara manis itu, adalah seorang gadis Indonesia-Tionghoa yang pernah menimba ilmu di Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Ia lahir dan hidup dengan jiwa, pikiran dan habitus orang Indonesia. Meski secara fisik mungkin tidak. Sejak dari pergaulannya yang intensif dengan warga Singapura itulah, Margie dihadapkan pada dilema rasial-kebangsaan yang berkepanjangan. Dilema antara mempertahankan menjadi Indonesia, atau justru berpura-pura –meski sangat enggan- terpaksa menjadi China.

Ini bisa kita jumpai di salah satu buku “curhat” terbarunya, Excuse-Moi[1] (Penerbit Buku Kompas, 2011). Buku dengan kemasan teen-lit yang menukik dan menggelitik ini benar-benar menggedor-gedor kepala saya selama beberapa hari. Lantaran, kita dapat melihat betapa Nasionalisme yang tak dipahami dengan khidmat itu sesungguhnya menyimpan trauma sosial dan katarsis identifikasi. Nasionalisme kerap membuat kita buta dan tuli.

Membaca buku Excuse-Moi, saya tertawa, tersedu sekaligus malu. Bagaimana tidak? Dengan entengnya Margie “menelanjangi” semua ambiguitas kita sebagai ras, bangsa, negara dan lebih jauh lagi sebagai manusia. Margie dengan santai mengudar (hampir) semua hal yang kita anggap tabu selama ini. Baginya yang tabu tidak untuk disembunyikan, tapi untuk ditafakuri agar nantinya dapat tercipta alternatif-alternatif baru dalam memandangnya. Karena sejatinya, tak ada satupun rumusan yang baku dan permanen di dunia ini. Termasuk rumusan mengenai ras, kebangsaan dan agama.

Salah satu hal ultrasensitif yang kental dikuliti Margie adalah masalah ras atau etnisitas. Bagi Margie, klasifikasi tentang ras hanya berpotensi menimbulkan kekacauan paradigma berpikir kita dalam melihat dan mengidentifikasi jati diri seseorang. Di samping sudah jadul dan tak relevan, pembahasan ras, diakui atau tidak, tak dapat membuahkan nilai positif apapun.

Karena jati diri, ekspektasi dan naluri manusia sudah cukup dilacak dari koordinat geografik di mana si manusia itu berada. Meskipun rasnya -maaf- China, jika tinggalnya di Indonesia, tentu akan memiliki kecenderungan berpikir, sense dan adati seperti halnya pribumi Indonesia. Bahkan, Margie dengan terang-terangan menolak ketika sang ibu mengajaknya untuk tinggal kembali di bumi leluhurnya. Jangankan tinggal di bumi nenek moyang, untuk sekadar menyukai makanan khas China maupun tradisi Barongsai-nya pun ia enggan. Ia lebih mememilih Indonesia sebagai rumah tanah tumpah darahnya.

Dan sungguh, masih banyak Margie-Margie lain yang bertebaran di sekeliling kita. Mereka-mereka yang meskipun secara biologis berdarah Tionghoa, tapi tak mampu berbahasa Hokkian, tak sanggup menikmati lagu Mandarin dan menganggap China sebagai negeri asing. Lantaran jauh di pedalaman nuraninya telah tertancap sang Saka dan butir-butir bait Pancasila. Indonesia telah mengurat-menadi di sekujur aliran darah dan jiwanya.

Meski ternyata perjalanan untuk menjadi Indonesia tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi untuk konteks masyarakat Tionghoa sebagai pendatang. Kita tentu ingat bagaimana dulu Pramoedya Ananta Toer pernah dijeruji besi hanya lantaran menulis Hoakiu Indonesia –esai panjang yang berisi pembelaan terhadap minoritas Tionghoa. Pram dituduh berkhianat dengan cara menjual negara ke RRC. Ketika itu Menteri Luar Negeri Soebandrio sedang bermusuhan dengan RRC. Ide buku itu berangkat dari penindasan terhadap warga Tionghoa lantaran lahirnya PP No. 10 tahun 1958 yang berisi pelarangan warga Tionghoa berdagang di desa-desa.

Kita juga mafhum, betapa dulu Sang Demonstran Soe Hok Gie lebih memilih masuk LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) daripada harus masuk pada organisasi yang kental mengusung ras dan agama sebagai tema utamanya. Padahal salah satu program unggulan LPKB adalah dengan menggalakan asimilasi kawin-campur. Terkait dengan hal ini, almarhum sejarawan sekaligus salah seorang penanda tangan manifesto LPKB, Ong Hok Ham, berkomentar: Gie adalah tipe manusia eternal oppositionist yang tak tahan berhadapan dengan estabilishment.[2] Dari sini bisa dilihat betapa semangat Nasionalisme telah merasuki sekujur pikiran Gie mengalahkan identitas-ego-rasialnya. Tapi toh tetap, Gie senantiasa mendapat teror dan sinisme dari mereka yang mengaku pribumi Indonesia.

Memang tak dipungkiri angin segar reformasi telah membawa perubahan signifikan bagi semua ketimpangan itu. Apalagi sejak republik ini diampu oleh kyai multikultur almarhum Abdurrahman Wahid. Banyak perombakan radikal yang melabrak pasal-pasal yang mendeskriditkan warga Tionghoa. Dari segi legal formal, kita memang telah banyak berubah. Tapi perubahan ini belum meresap ke sikap moral dan mental. Trauma itu seperti tak mau hilang dari dalam bawah sadar kita. Trauma yang menyekat-nyekat ruang pikir kita bahwa “saya” dan “anda” berbeda. Ada semacam phobia turunan yang selalu menancapkan kuda-kuda pertahanan diri (self-defense) tiap kali berhadapan dengan orang yang bukan bagian dari kita (the others).

Gundah inilah yang juga dirasakan oleh Margie sepanjang pertautannya dengan masyarakat pribumi. Saya sampai menangis ketika Margie minta pengertian: terimalah kami sebagai bagian masyarakat secara utuh. Sungguh kami telah memilih untuk berada di sini (hlm: 41). Margie menginginkan kita cukup melebur jadi satu ras saja: ras Indonesia. Tapi saya lebih dari itu, marilah kita melebur hanya dalam satu ras saja: ras manusia.

Begitu juga, nasionalisme seturut Margie sangat realistis dan segar –betapapun ia kerap dikecewakan oleh kata itu. Nasionalisme bukan sekadar upacara bendera secara rutin, hormat pada sang saka maupun menghapal secara mentah bait-bait Pancasila. Tapi lebih dari itu, rasa cinta yang kelewat sangat pada bangsanya hingga ia tak mampu mendefenisikannya dengan kata-kata. Nasionalisme tak senantiasa sejalan dengan rasionalisme, katanya (hlm: 25).

* * *

Kenapa saya berpanjang lebar menjadikan Margie sebagai cerminan? Karena saya yakin, mengutip Mohammad Iqbal, karakter adalah kekuatan tak terlihat yang menentukan nasib suatu bangsa. Dan karakter yang kuat mustahil ada dalam kelompok mayoritas. Karakter adalah kekuatan. Semakin banyak ia dibagikan, semakin lemahlah ia. Margie, seturut saya adalah alegori dari kekuatan itu. Bukan saya, anda maupun kita. Tapi mereka. Saudara kita etnis Tionghoa.

Dan saya buktikan sendiri kebenaran pernyataan itu. Berbulan-bulan saya coba hidup di tengah-tengah komunitas Tionghoa, bergumul dengan tradisi yang meliputinya dan coba melepaskan semua syak-wasangka (praduga) saya selama ini. Hasilnya, saya sungguh malu menjadi pribumi Indonesia. Saya justru banyak belajar ke-Indonesia-an pada mereka yang “bukan asli” Indonesia. Kita perlu belajar tentang Indonesia pada Margie!

Tapi bukan latar belakang maupun figur Margie itu sendiri yang penting. Melainkan, substansi  dan posisi simbolisnya. Darinya-lah saya mendapatkan spirit dan elan vital tentang menjadi Indonesia yang sebenarnya. Indonesia yang dilihat dari kacamata minoritas nan tertindas. Nasionalisme yang bergerak dengan lajur yang tak umum, tak tertib, riuh, dan problematik. Margie adalah personifikasi manusia adab milenium yang kerap mengunyah sakitnya memahami tentang apa arti Nasionalisme. Apa arti menjadi Indonesia.

Seperti pribahasa usang yang berkata: banyak jalan menuju Roma, saya juga percaya, jalan untuk memahami dan menjadi Indonesia tak hanya satu dan seragam. Jika jalan yang harus saya tempuh justru harus menjadi “orang lain” dulu sebelum menjadi Indonesia, kenapa tidak? Bukankah, kadang kita perlu mengambil jarak dulu untuk bisa mengenali dengan jernih dan objektif seseorang yang sedang kita cintai?

Maka jika Tetralogi Laskar Pelangi telah berhasil membuka mata berjuta-juta rakyat Indonesia tentang musykilnya pendidikan di pelosok-pelosok daerah, bolehlah jika Excuse-Moi ini saya katakan telah berhasil menyibak hati juga pikiran saya dan teman-teman tentang bagaimana menjadi Indonesia yang sesungguhnya. Saking gandrungnya pada buku ini, saya mewajibkan pada teman-teman diskusi di fakultas untuk menjadikannya sebagai buku wajib memahami Indonesia dan Nasionalisme. Bahkan kami menahbiskan diri sebagai komunitas Excuse-Moi. Ini mungkin lebay, tapi begitulah adanya.

Apapun itu, dari semua hal segar yang Margie suntikkan pada kesadaran batin masyarakat Indonesia ini, saya masih mengendus secuil ganjalan. Yaitu: Margie lupa nasionaliseme yang hanya berdasar pada batasan teritori belaka hanya akan menyeragamkan kita pada satu titik yang menjenuhkan. Nasionalisme yang terjebak pada frase “Tunggal” dan kurang memaknai ke“Bhineka”an.

Kita masih harus menghayati kredo Bhineka Tunggal Ika. Kita masih perlu Jawa yang melahirkan Borobudur. Kita perlu Bali dengan Kecaknya. Riau dengan Zapinnya. Aceh dengan Seudati. Atau “China” dengan Barongsainya, yang dari semua itu kita mampu melihat bianglala budaya dari seluruh penjuru Nusantara. Kita masih butuh “ras(isme)” –dengan konotasi positif.  Jadi biarlah kita berbeda. Berbeda yang sehat tentunya. Mengutip kata seorang penulis: Indonesia pasti lebih indah jika kaum (maaf) peranakan maupun kaum pribumi dapat duduk di satu meja makan, menyantap hidangan dengan porsi yang sama, sambil bersenda gurau memakai bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Bukankah, beda itu sexy?

Oleh karena itu, izinkanlah saya berucap, dengan nada sedikit bercanda: Excuse-Moi, Margie! Excuse-Moi Indonesia!

Judul Buku   : Excuse-Moi

Penulis         : Margareta Astaman

Penerbit       : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit :  Januari 2011.

 






[1] Kata Excuse-Moi adalah “asimilasi” antara bahasa Inggris dan China yang berarti: permisi. Ini adalah “permainan” kata yang dipakai oleh Margareta untuk judul bukunya. Karena dia menganggap tema yang akan diusung dalam bukunya begitu sensitif, maka ia memakai kata Permisi untuk mengawalinya.

[2] Di sini Gie dinilai kurang menghargai pluralitas kultur yang menjunjung akan pentingnya keberagaman etnis, termasuk etnis Tionghoa. Saat itu ada salah satu organisasi Tionghoa yang menjadi “rival ideologis” LPKB, yaitu Baperki. Pada intinya Baperki tetap menganggap penting sebuah keberagaman etnik. Bahkan mereka berpendapat biarlah komunitas Tionghoa menjadi entitas etnis tersendiri yang menyamai etnis Jawa, Sunda, dan lain sebagainya. Untuk mengulik ulasan lebih mendalam kenapa Gie lebih memilih LPKB, bisa dibaca pada pengantar Daniel Dhakidae untuk buku Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, cet ke-8).

 

M. Khoirul Anwar KH

Opini resensi ini saya tulis pula di Blog : http://khoirul-anwar23.blogspot.com

 

 

Himapemi Unswagati Gelar Pelatihan Kader Kepemimpinan

Tidak ada komentar

Senin, 22 April 2013

Kuningan - SetaraNews.com, Minggu (21/4) Himapemi (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi) Unswagati melaksanakan "Pelatihan Kader Kepemimpinan (PKK)" pada hari sabtu hingga minggu (20-21/4) di Bumi Perkemahan yang berada di desa Kaduela, kecamatan Pesawahan, kabupaten Kuningan.

Acara yang diikuti oleh 63 peserta dan 30 panitia ini berjalan dengan cukup baik. Wakil Dekan III FKIP Unswagati, Drs. Jimmy Hasoloan MM., menuturkan bahwa, "Dengan diadakannya kegiatan ini peserta diharapkan ada bukti laporan lisan maupun tulisan dalam diri masing-masing." sesaat sebelum pemberangkatan menuju perkemahan.

Selain itu diharapkan mahasiswa bisa membentuk karakter sesuai dengan tema kegiatan yakni, 'Membentuk SDM (Sumber Daya Manusia yang Berdedikasi dan Berkarakter'. Kepala Program Studi Jurusan Pendidikan Ekonomi, Enceng Yana, S.Pd., M.Pd., menuturkan bahwa, "Kami akan memantau acara ini, apakah luar biasa atau biasa saja." saat pembukaan acara PKK.

Menurut pemateri, Suwarn­o Adikarya saat mengisi materi di kegiatan PKK menjelaskan tentang pentingnya figur kepemimpinan yang meliputi hal yang berkaitan dengan kejujuran, tawakal, kredibilitas, kapasitas dan wibawa. Pemimpin­ itu juga siap menjdi pelayan, pengayom serta pendukung masyarakat, lanjutnya pria yang masih menjabat sebagai Kepala Desa Kaduela tersebut.

Menidaklanjuti banyaknya problematika di Indonesia, Ateng Kurnia selaku pemateri ke dua menuturkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam) namun dijuluki sebagai negara 1001 bencana, "Kalau para pemimpin di negeri kita ini bertaqwa, niscaya Allah akan turunkn hikmah" tuturnya. Beliau­ juga berpesan agar jangan sampai memiliki sifat represif dan mudah terprovokasi. "Kita (muslim) itu banyak dan berpotensi" tegasnya.

Sesaat sebelum acara penutupan, Saiful Rahman selaku Ketua Pelaksana acara PKK menuturkan bahwa, "Mahasiswa mempnyai ciri khas tersendiri dalam organisasi, sebagai generasi baru (kader) diharapkan mampu; kreatif, inovatif, dan aktif, bukan eksistensinya­." Ketua Umum Himapemi, Dimas S. Wibowo mengatakan, " Semoga dengan adanya kegiatan PKK, Himapemi dapat dibanggakan oleh fakultas." dilanjut dengan menutup kegiatan PKK.

Dari pantauan SetaraNews.com peserta  merasa puas dengan kegiatan tersebut karena menurutnya bisa membimbing untuk lebih baik lagi dalam berorganisasi dan banyak materi tentang kepemimpinan yang bisa diperoleh."Walaupu­n melelahkan, tetapi seru." tutur Nindy. Mereka juga merasa senang karena bisa lebih akrab dengan teman-teman dan lebih mengerti tentang organisasi beserta kepemimpinan menurut Iffah saat diwawancarai oleh SetaraNews.com (21/4).

 

Reporter : Ade
Editor       : Santosa

Foto          : Dok. Himapemi - Sugeng P.

 

HIPMI Isi Materi Talk Show CCEF Di Unswagati

Tidak ada komentar

Minggu, 21 April 2013

Unswagati - SetaraNews.com, Sabtu (20/04) Learning Centre selenggarakan acara seminar dan talk show bersama HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) di Aula kampus satu Unswagati. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian penutup kegiatan Cirebon Creative Economy Fair.


Seminar tersebut diisi oleh praktisi yang sudah berpengalaman terjun langsung di dunia usaha, seperti dari @wandyrustandi dan Andi Nata. Mereka adalah pengusaha yang masih muda namun sudah memiliki banyak pengalaman di dunia wirausaha. Sebelumnya, perwakilan dari Dekan Fakultas Ekonomi - Unswagati, Dr. Hj. Ida Rosnidah, SE., MM., Ak., juga turut mengisi materi mengenai ekonomi kreatif dilihat dari sisi akademis. Beliau menuturkan bahwa, "Ekonomi kreatif sangat positif bagi pembangunan citra dan identitas suatu bangsa. Peranan ekonomi kreatif juga dapat menyerap tenaga kerja, dan menambah pendapatan."


Andi Nata menjelaskan bahwa, "Sebelum kita terjun ke dunia usaha, apapun itu yang terpenting adalah visi, misi, target hidup yang ingin kita capai. Jangan takut gagal, dalam berwirausaha. Karena tidak semua usaha akan berakhir dengan kegagalan." tegasnya. Di sela-sela acara aktor komedian dari StandUp Cirebon, @Yudha_khan beraksi dengan menghibur peserta seminar.


Di akhir acara HIPMI PT Jabar (Perguruan Tinggi Jawa Barat) mengajak peserta seminar untuk ikut dalam pertemuan dan forum mahasiswa se-Cirebon untuk berkumpul mencari solusi bagaimana menghadapi tantangan berwirausaha di Hotel Jamrud senin (22/04). Nampak antuasias mahasiswa untuk ikut acara tersebut, terbukti tiket yang hanya tersedia 50 tiket gratis tersebut habis kurang dari satu menit saat pembagian.


Acara CCEF yang dilangsungkan sejak hari kamis hingga sabtu (18-20/04) tersebut, diisi oleh beberapa pertunjukan yang menarik. Ketua penyelenggara acara CCEF, Hendra Setiawan dari mahasiswa jurusan Ekonomi Manajemen menuturkan bahwa, "Acara tersebut merupakan wahana untuk mendorong mahasiswa berperan serta dalam menciptakan lapangan kerja, salah satunya seperti yang terdapat di depan kampus terdapat beberapa stan UKM (Usaha Kecil Menengah) yang digalang oleh beberapa mahasiswa." Acara yang terselenggara berkat kerjasama; Bank Indonesia, @AboutCirebon, Wardah Cosmetic, Batik Trusmi, dan Cirebon FM ini juga turut mendatangkan Komunitas Reptil, Perguruan Silat Pondok Padjajaran, dan Komunitas Atletis Binaragawan Central GYM.


 


Reporter : Hari


Editor       : Santosa


 

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews