Responsive Ad Slot

Resensi Buku: Buruh Bergerak Membangun Kelas Kesadaran

Tidak ada komentar

Rabu, 03 April 2013

Judul Buku       : Buruh Bergerak Membangun Kelas Kesadaran
Penulis             : Andito Suwigno
Penerbit           : Friedrich Ebert Stiftung
Tebal Buku      : 192 halaman
Jenis Cover      : Soft Cover
Kategori           : Motivasi kaum buruh
Resentator      : Santosa, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Akuntansi UNSWAGATI Cirebon

Bab 1 : Kerangka Berpikir
Seorang manusia dapat dikatakan dapat mencapai kemerdekaannya jika dia telah memiliki sebuah ideologi. Melalui ideology seorang manusia dapat memilih suatu pilihan yang dapat membantu jalan hidupnya untuk meraih kesejahteraan melalui beberapa tahapan, dan ideology itulah yang menjadi sebuah langkah awal dalam meraih kemerdekaan dan kesejahteraan.

Bab 2 : Nestapa Buruh
Buruh dianggap sebagai warga kelas dua, konsekuensi tersebut harus ditanggung oleh seorang buruh yang mengalami diskriminasi bukan hanya di tatatan ekonomi dan bisnis, namun juga berimbas pada hukum. Posisi tawar seorang buruh sangat lemah, banyak buruh yang diperlakukan sewenang-wenang oleh beberapa warga kelas atas, atau bahkan institusi negara.

Bab 3 : Buruh Terhegemoni
Kaum buruh sering kali tergemoni oleh beberapa factor, diantaranya karena perbedaan moral, sosial, bahasa, budaya, politik, melalui buku ini Andito Suwigno mencoba untuk menengahkan para kaum buruh yang belakangan terjadi di Indonesia.

Bab 4 : Buruh Borjuis
Adanya golongan kelas buruh yang tidak memperjuangkan kaumnya, mereka adalah kaki tangan kaum kapitalis yang berharap sesuatu kepada para pemegang kendali perusahaan. Bukan menjadi pioneer bagi ideology yang dianutnya, ideology yang memiliki posisi tawar untuk memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh.

Bab 5 : Nilai lebih Buruh kepemilikan Pribadi dan Ekonomi Kota
Buruh sebenarnya perlu untuk mendapatkan perhatian lebih dari para usahawan yang mempekerjakan mereka, walau bagaimanapun posisi sebagai buruh tentu tidak lepas dari pengaruhnya dalam operasional perusahaan.

Bab 6 : Kesadaran Buruh
Ada tiga pengaruh di dalam membangun kesadaran buruh agar mereka membangun posisi tawar dengan pemerintah, pengusaha, dan lingkungan masyarakat itu sendiri. Ruang, Ideologi, dan tindakan nyata yang harus dipelajari oleh buruh – agar dapat memahami dimana posisinya dalam berideologi, bersosial, dan berpolitik yang tentunya dapat membawa manfaat bagi dirinya dan kaum buruh pada umumnya.

Bab 7 : “Membunuh” Kelas Buruh
Melalui pendidikan, kemandirian kelas, dan membangun persatuan sesama buruh, kaum buruh dapat melakukan posisi tawar dengan permasalahan yang ada seperti harapan untuk mencapai kesejahteraan umum, dan hak-hak untuk memperoleh waktu istirahat dan bersama keluarga. Ketiga upaya tersebut dapat dioptimalkan dan cukup berpengaruh bagi kaum buruh itu sendiri.

Bab 8 : Unionisme
Belajar dari bung Karno saat upayanya dapat menggapai kemerdekaan. Di dalam buku ini, Andito Suwigno menawarkan beberapa tahapan yang perlu dicapai dan dilakukan oleh seorang buruh. Landasan konstitusional, pengorbanan, mengorganisir diri, dan komitmen dalam meraih tujuan transenden.

Buku tersebut direkomendasikan untuk para pencari kerja dan karyawan umum, yang seringkali bekerja dengan perjanjian kontrak kerja. Perlu dipahami bersama bahwa kerja dengan sistem kontrak tidak menjamin hidup Anda dapat bahagia, padahal Anda telah merencanakan masa depan dengan cukup matang. Lalu bagaimana jika Anda telah memiliki banyak tanggungan?

Melalui buku tersebut, Andito Suwigno menawarkan beberapa hal yang mesti dilakukan sebagai seorang buruh/karyawan. Agar perusahaan dapat menghormati dan menghargai keringat buruh dengan upah yang layak dan membantu mempersiapkan para karyawannya untuk lebih optimal dalam bekerja dan menempuh masa depannya.

 

Mahasiswa Hipmagro Unswagati Gelar Pelatihan untuk Desa Binaan

Tidak ada komentar

Selasa, 02 April 2013

Cirebon – SetaraNews.com: Mahasiswa dari Fakultas Pertanian Unswagati yang tergabung dalam Hipmagro Minggu (31/03) menggelar kegiatan yang bertajuk “Pelatihan Desa Binaan dalam Kemandirian Pembuatan Pupuk Organik”.  Acara yang diselenggarakan di desa Karang Jalak ini, mahasiswa dari Fakultas Pertanian – Unswagati melakukan pelatihan seperti; penanaman pada pot vertikultur, pembuatan pupuk organik, dan pembuatan lubang serapan biopori kepada mahasiswa program study agroteknologi.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pembekalan dan membina beberapa desa dikemudian hari, dimana desa Karang Jalak menjadi langkah awal kami serta menjadikan pekarangan rumah menjadi “dapur/supermarket” melalui metode vertikultur. Pelatihan ini juga turut menjelaskan bagaimana caranya membuat kompos dari limbah rumah tangga, dan teknik konservasi air, melalui lubang resapan biopori sebanyak 20 sampai 30 lubang.

Hipmagro Unswagati rencananya akan memberi hibah kepada masyarakat desa binaan, berupa; tanaman cabai, cesin, alat untuk membuat lubang biopori, rakvertikultur, dan pupuk organik. Kegiatan Hipmagro ini berpacu pada “Tri Dharma Perguruan Tinggi” yakni wujud pengabdian kepada masyarakat. Dalam hal ini, Nanda yang juga selaku ketua Hipmagro kepada SetaraNews menjelaskan; “Patokan kami salah satunya adalah dari tri dharma perguruan tinggi yang ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat.”


Rencananya Hipmagro Unswagati akan terus melakukan kegiatan ini secara berkelanjutan, hal itu ditegaskan oleh Dodi Budirokhman SP.M selaku Wakil Dekan tiga dalam sambutannya disela-sela kegiatan desa binaan “Kegiatan ini tak hanya sampai di sini tetapi nanti setelah pelatihan ke desa binaan, kita akan control tiga hari sekali dan setelah sukses di satu desa kita cari lagi desa yang akan di bina, agar kegiatan ini terus berkembang.”

 

 

 

Reporter : Ali

Editor : Santosa

Lahirnya ‘BEM Saingan’ Di Fakultas Ekonomi Unswagati Dipertanyakan

Tidak ada komentar
Cirebon - SetaraNews.com: Senin (01/04) kampus satu Unswagati dikejutkan dengan adanya isu BEM saingan atau dikenal dengan sebutan Learning Centre. Menanggapi hal itu Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unswagati mengadakan aksi di depan kantor rektorat Unswagati pagi tadi dengan membawa beberapa spanduk dan bendera, mereka malakukan aksi karena tidak setuju dengan adanya “BEM saingan” yang disebut dengan Learning Centre karena ini di anggap sebagai bentuk diskriminasi dalam organisasi di lingkungan intra kampus.
Selain itu, mereka melakukan aksi dikarenakan usulan mereka atas ketidak setujuannya dengan munculnya BEM saingan di Fakultas Ekonomi hingga saat ini tidak ditanggapi oleh pihak universitas.

Dalam orasinya mereka menuntut Wakil Rektor satu, Wakil Rektor dua dan Wakil Rektor tiga turun dari jabatannya. Saat diwawancarai oleh SetaraNews.com Ayu sebagai koordinator mengatakan “Kami menuntut wakil rektor satu, dua, dan tiga turun dari jabatanya.” Agar tidak menggangu kegiatan perkuliahan dan menjadi perhatian mahasiswa yang lain, pihak rektorat mengajak berdiskusi dengan para pendemo. Hingga berita ini turun, SetaraNews belum mendapatkan informasi mengenai status terakhir dari organisasi baru tersebut.

 

Reporter : Ali

Editor : Santosa
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews