Responsive Ad Slot

Rekayasa Sistem Moneterisme

Tidak ada komentar

Minggu, 17 Februari 2013

Oleh : Kurniawan T Arief

Nilai-nilai sosial masyarakat kita, yang dimanifestasikan dalam simbol – simbol konflik seperti perang yang tak pernah berkesudahan, korupsi, hukum sewenang-wenang, strata sosial, takhayul yang tak masuk akal, perusakan lingkungan, dan kelas penguasa yang semena-mena, acuh, dan hanya berorientasi pada laba; adalah hasil keacuhan kolektif terhadap dua wawasan paling mendasar mengenai kenyataan nilai sosial sebuah masyarakat madani. Yakni munculnya aspek simbiotik dari hukum alam, dan dehumanisasi pola penguasaan sumber daya melalui legitimasi lembaga-lembaga politik.

Sifat realita yang secara alami selalu tumbuh dalam sistem tersebut, apakah itu ilmu pengetahuan, masyarakat, teknologi, filsafat, atau ciptaan apapun tentu saja jika tidak dihambat oleh sistem saat ini, dipastikan akan terus menerus mengalami perkembangan dan semakin dapat menghantarkan kepada orientasi kesejahteraan, dan kemanusiaan tidak lagi berada di posisi sekunder dibawah orientasi laba atau profit yang dibentuk culture materialisme tersebut.

Apa yang saat ini kita anggap biasa, seperti komunikasi modern dan transportasi, dulu tidak bisa dibayangkan oleh orang di masa lalu. Begitu juga masa depan yang akan memiliki teknologi, kesadaran, dan struktur sosial yang tentu saja tidak bisa dipahami oleh kita, generasi yang hidup di saat sekarang.

Perkembangan ini tidak akan pernah berhenti, untuk terus berjalan dalam pertumbuhan dan kemajuan yang hebat. Kita terus menerus berkembang dan membentuk dinamisasi peradaban. Kita telah berkembang dari alkemi ke kimia, dari alam yang geosentris ke heliosentris, dari yang dulu meyakini bahwa setan adalah penyebab penyakit hingga berkembang ke pengobatan modern, dari era pemburu ke era pengumpul, ke revolusi agraris hingga revolusi industri, itu yang harus kita sadari atas simbiotik dari hukum alam.

Sistem Sengaja Membuat Manusia Berada Di Tahap Statis

Kenyataan bahwa sistem terus tumbuh dan berkembang. Mengisyaratkan bahwa kita harus membuka diri terhadap informasi baru, setiap waktu, bahkan jika itu mengancam sistem kepercayaan dan identitas kita pun harus berani untuk mengambil resiko itu, karena kemajuan tanpa mempertaruhkan pada sesuatu nilai yang penting tidak akan dapat menghasilkan sesuatu apapun selain stagnasi.

Sayangnya, masyarakat saat ini gagal memahami itu, dan institusi-institusi mapan yang terbentuk oleh sistem moneterisme terus menerus menggagalkan pertumbuhan tersebut, dengan melestarikan berbagai struktur sosial yang kadaluarsa dengan melakukan pendekatan militer hingga ekspansi ekonomi, sosial dan budaya dalam rangkaian skema globalisasi.

Di saat yang sama, masyarakat takut pada perubahan. Karena mereka dikondisikan untuk memiliki identitas statis, terjerat dan lemah.  Dengan berbagai skema penjajahan modern melalui mekanisme industriasasi human and nature resources untuk memperoleh laba sebesar-besarnya (kapitalisme) yang sebenarnya memiliki kelemahan pada sistemnya sendiri yang selalu memprasyaratkan perkembangan kepada devaluasi nilai barang dan jasa serta ketergantungan akut manusia kepada produk-produk yang dihasilkan atas biaya operasional yang terendah bahkan cenderung tidak memanusiakan.

Materialisme Intelektual

Kecenderungan untuk melawan perubahan, dan mempertahankan lembaga yang ada, demi identitas, kenyamanan, kekuasaan dan laba tidak akan dapat bertahan lama dan hanya akan menghasilkan ketidakseimbangan, perpecahan, distorsi, bahkan kehancuran.

Kenyataannya, tidak ada manusia pintar, karena hanya soal waktu sebelum ide-ide mereka diperbarui, berubah, atau terhapus. Kecenderungan ketika seseorang berpegang pada sebuah sistem keyakinan yang cenderung sporadik, akhirnya menutup manusia dari segala informasi baru yang memungkinkan terjadinya proses transformasi, hal ini tidak lebih dari sebuah bentuk "materialisme intelektual".

Sistem saat ini, terkondisikan agar tetap melestarikan materialisme tersebut. Tidak hanya dengan struktur yang melestarikan kepentingan dan kebebasan individu yang bersifat atomis, tapi juga melalui orang-orang dengan jumlah tak terhitung yang dikondisikan secara membabi-buta untuk menjunjung struktur ini. Sebuah struktur korup yang melegitimasi budaya apolitis dan apatis,  sehingga mereka mengangkat diri mereka sendiri sebagai legion pembela status quo. Karena mereka akan saling mengontrol, dengan memboikot siapapun yang tidak sesuai norma yang menurut mereka harus dipertahankan.

Sudah saatnya untuk berubah

Puncak dari revolusi adalah revolusi kesadaran. Tiba saatnya bagi sistem sosial baru yang dapat kita capai sekarang ini melalui berbagai pola pikir, tindakan dan inovasi berdasarkan  penolakan terhadap bobroknya sistem yang mengikutsertakan kebangkrutan, kemiskinan dan kemelaratan sebagai bagian dari siklus naturalnya.

Sistem saat ini, moneterisme adalah produk dari sebuah masa lalu. Dimana kelangkaan adalah sebuah kenyataan yang direkayasa untuk dapat mencapai grafik perolehan profit yang terus naik dan bertumbuh. Tentunya, profit tersebut hanya dikuasai oleh sebagian kecil dari sebagian besar populasi.

Sepanjang catatan literaturnya, sejarah hanya akan mencatat tentang negara besar yang merebut tanah sebuah negara yang kecil dan lemah, dengan  menggunakan kekuatan dan kekerasan. Sejarah hanya akan mencatat perilaku korup sepanjang masa,

Saat ini, di zaman teknologi, hal itu sudah tidak relevan lagi di masyarakat. Hilang bersama perilaku menyimpang yang ditimbulkan dan seharusnya dapat berganti kepada revolusi kesadaran yang berusaha melawan dan menolak kepada sistem yang memperbudak kita dalam norma-norma yang menolak nilai kemanusiaan dibawah nilai profit industri.

Saat itulah dimana seluruh bangsa bekerjasama. Setiap orang bahu membahu demi kebaikan seluruh umat manusia, dan tanpa ada yang tertindas dibawah lainnya. Tanpa strata sosial, baik itu dalam elitisme teknis, atau elitisme jenis apapun. Semua dihapus dari muka bumi. Kesadaran inilah yang menyatukan dan mengarahkan langkah kita, kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah yang sedang terjadi dalam sistem kita. Kesadaran bahwa ini harus dilawan secara bersama-sama dan ditopang oleh persatuan. Hal ini diantaranya dapat dilawan dengan kesadaran kolektif yang terus menerus berdaya upaya di bidang ekonomi yang berorientasi kepada aspek sumber daya, pendidikan yang berorientasi tidak kepada pemenuhan industrialisasi global, dan pembangunan yang tidak beriorientasi kepada kebijakan politik kekuasaan yang korup, dan kesemua ini harus dimulai dari entitas kaum intelegensia di Perguruan Tinggi yang memiliki banyak stok Human Resources produktif.

 

Kurniawan T Arief

Mahasiswa Faperta Unswagati Cirebon
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews